Story Of Peterbaek – Part 2

peterbaek coverfix

Story of Peterbaek

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun / Peterbaek
  • Park Minri

Other Cast :

  • Oh Sehun
  • Kim Jong-In / Kai

Genre : Romance, Fantasy, Friendship

Rating : PG-13, Teen.

Length : Chapter

Note : Diadaptasi dari cerita fantasi “Peterpan” dan “Tinkerbell”. Do not copycat without my permission! Selamat berimajinasi! Cast sewaktu-waktu bisa bertambah. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Makasih … ^0^/

***

Read: Part 1

“Minri-ya, sebaiknya kau pikirkan cara mengembalikan Baekhyun ke dunianya, secepatnya, kalau tidak ingin hidupmu terganggu.”

***

Minri sedang mengerjakan tugasnya di ruang tengah. Gadis itu meyalakan televisi namun tidak menontonnya. Ia hanya merasa sendirian jika tidak ada suara lain.

“Minri-ya…” panggil Baekhyun pelan.

“AAAAA!” jerit Minri tiba-tiba, membuat Baekhyun ikut terkesiap.

“Kau suka sekali ya berteriak,” komentar Baekhyun lantas duduk di depan gadis itu. Kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Kau saja yang suka datang tiba-tiba. Bagaimana aku tidak berteriak? Untung saja aku tidak punya riwayat penyakit jantung,” jelas Minri. Gadis itu kembali fokus pada bukunya, membuatnya punya alasan untuk tidak menatap Baekhyun.

Lalu mereka berdua diam. Kembali menyisakan suara yang berasal dari televisi saja. Minri berhenti menulis. Ia yang merasa diperhatikan, lantas mendongak. Dan ternyata benar! Baekhyun sedang menatapnya.

Sementara Baekhyun tidak merasa malu ketika ia tertangkap basah sedang menatap Minri. Ia bahkan menambahkan senyuman pada bibirnya.

“Kau tidak punya kerjaan lain ya?”

Selain menatapku dengan cara seperti itu, sambung Minri dalam hati.

“Tidak banyak yang bisa ku kerjakan disini.”

“Kalau begitu bernyanyi saja,” ucap Minri iseng.

Baekhyun menegakkan duduknya, membuat Minri yakin bahwa pria itu benar-benar akan melakukannya. Hey, Minri hanya bercanda. Tapi apakah benar Baekhyun bisa bernyanyi? Minri jadi penasaran.

“Kau benar ingin melakukannya?” tanya Minri sembari mematikan televisi.

Baekhyun mengangguk pelan, entah mengapa tampak sangat menggemaskan. Minri sudah lupa bahwa ia ingin menjaga jarak dengan pria itu. Minri percaya Baekhyun tidak akan melakukan hal yang merugikan untuknya. Baekhyun terlalu baik baginya.

Nal annahaejwo…

Geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajyo…

(Bawalah aku…

Ketempat kau berada, bawa aku bersamamu…)

Minri menutup bukunya. Kali ini memfokuskan dirinya mendengarkan suara pria itu. Luar biasa indah! Ia tidak menyangka bahwa suara Baekhyun akan terdengar seindah itu. Bahkan tanpa iringan musik apapun.

“Kau suka?” tanya Baekhyun ketika ia menyelesaikan lagunya.

Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lewat mulutnya.

***

Minri sedang berdiri di balkon kamarnya. Menatap langit malam yang penuh bintang. Cukup heran karena malam itu banyak sekali bintang, tidak seperti biasanya.

Gadis itu menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Sejuk. Tapi cukup berbahaya jika ia berada terlalu lama disana.

Baekhyun tidur di ruang tamu. Sehun tidak bisa membiarkan orang lain tidur di kamarnya. Bukan karena ia tidak percaya pada Baekhyun, tapi ia hanya tidak ingin Baekhyun harus tidur di kamarnya yang berantakan.

“Hai Minri-ya,” sapa Baekhyun yang sedang melayang di luar jendela.

Kalau saja Minri lupa bahwa tadi itu suara Baekhyun, ia pasti akan berteriak lagi dan menyangka Baekhyun adalah hantu. Sedikit menyeramkan. Eh, jangan sampai ada orang lain yang melihat Baekhyun seperti itu.

“Sini!” Minri melambaikan tangannya, memanggil Baekhyun agar pria itu mendekat. Kemudian Baekhyun turun dan menapakkan kakinya di balkon kamar Minri.

“Jangan sampai ada orang lain yang melihat kau terbang, kau bisa membahayakan nyawamu sendiri Baekhyun-ah,” ucap Minri memperingatkan. Tidak merasa canggung ketika bicara dalam bahasa informal.

Mianhaeyo.”

“Sepertinya kau harus belajar menjadi manusia,” usul Minri.

“Boleh.  Kau bisa mengajarkanku kalau begitu,” ucap Baekhyun dengan nada bahagia yang kentara.

“Kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu. Sebisa mungkin.”

“Bagaimana kalau ada orang yang mengganggumu? Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.”

Minri membuang mukanya ke arah lain. Diam-diam tersenyum. Entah mengapa terasa begitu menyenangkan saat pria itu menaruh perhatian lebih padanya. Pria itu ingin  melindunginya dengan cara apapun yang ia bisa.

“Aku bisa menjaga diriku. Lihat, aku baik-baik saja bahkan sebelum kau datang. Sudah tenang saja.”

“Apa aku juga tidak boleh terbang?” tanya Baekhyun sedikit tidak terima.

“Tentu saja! Kau pikir manusia mana yang bisa terbang?”

Minri membenarkan posisi bersandarnya di balkon, menegakkan punggungnya, mencari tempat ternyaman untuk bersandar.

“Tapi kalau saat bersamamu boleh kan?”

Baekhyun mengangkat rambut gadis itu dengan kedua tangannya, membuat rambut gadis itu acak-acakan. Dengan cepat ia terbang ke dalam kamar Minri.

“YAK! Aku belum selesai, Peterpan!!”

Minri masuk ke kamarnya dan mengejar Baekhyun. Sedikit lebih sulit karena pria itu lebih cepat darinya dan dengan kaki yang tidak menapak di lantai.

“Kejar aku!” Baekhyun meleletkan lidahnya membuat Minri semakin kesal.

“Lihat saja, aku akan menangkapmu!”

Minri naik ke atas tempat tidurnya. Melompat-lompat. Berusaha menggapai Baekhyun yang melayang di udara. Gadis itu meraih bantal besarnya lantas melemparkan pada Baekhyun. Ia tertawa gelak saat benda empuk itu tepat mengenai wajah Baekhyun.

Baekhyun terhuyung namun tidak jatuh. Ia melemparkan kembali bantal yang dilempar Minri. Ia pun tertawa saat Minri jatuh di tempat tidurnya sendiri karena berusaha menghindar.

Akhirnya, mereka perang bantal. Menimbulkan keributan di malam itu. Mereka berdua lupa bahwa kamar Sehun ada di sebelah kamar Minri. Dan Sehun pasti terganggu dengan keributan yang mereka ciptakan.

Minri menarik ujung baju Baekhyun membuat pria itu kehilangan keseimbangan lalu… jatuh di atas tubuhnya! Kasur Minri sedikit berdecit akibat mereka berdua jatuh secara mendadak.

Minri membulatkan matanya, jelas-jelas terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Baekhyun yang berada di atasnya masih belum beranjak. Posisi mereka berdua sungguh tidak mengenakkan.

Mestinya Minri bisa mendorong pria itu menjauh. Mestinya mereka bisa melakukan hal lain dari pada terus-terusan saling menatap bodoh dengan posisi seperti itu. Minri sedikit menyalahkan saraf sensorinya yang sama sekali tidak bekerja.

I love you, Minri-ya…”

Belum sempat Minri mencerna kata-kata Baekhyun, pria itu sudah menempelkan bibirnya pada bibir Minri, membuat gadis itu merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ciuman itu tidak berlangsung sama, tapi sukses membuat kecanggungan di antara mereka berdua.

Dan bodohnya Minri tidak menolak perlakuan Baekhyun.

“HEY APA YANG KALIAN… eh, apa yang baru saja terjadi?”

Sehun mengedarkan pandangannya ke semua sisi kamar Minri. Berantakan sekali! Bantal bertebaran dimana-mana dan selimut yang ada di kasur Minri sudah tidak berbentuk lagi.

“K-kami hanya sedikit bermain-main,” jawab Minri dengan tergagap.

Entah sejak kapan Baekhyun sudah turun dari tempat tidurnya. Ia berdiri di tepi ranjang dengan wajah santainya. Polos tanpa dosa, seperti tidak terjadi apa-apa.

“Aish! Kalian benar-benar mengganggu tahu. Dan coba lihat ini sudah jam berapa?! Makhluk asing, sebaiknya kau keluar dan tidur.”

“Ya, aku akan tidur. Selamat malam….”

Baekhyun keluar kamar Minri, kali ini hanya berjalan kaki. Sepertinya ia mulai mengabulkan permintaan Minri untuk bersikap seperti manusia.

“Aku juga sudah mengantuk,” sahut Minri cepat, lantas memungut bantalnya yang teronggok di lantai.

“Bagus!”

Sehun baru akan keluar kamar, tapi kemudian ia berhenti di perbatasan pintu kamar Minri.

“Minri-ya, sebaiknya kau pikirkan cara mengembalikan Baekhyun ke dunianya, secepatnya kalau tidak ingin hidupmu terganggu.”

Sehun menutup pintu kamar Minri. Menyisakan gadis itu sendirian di dalam kamarnya. Minri berdiri sambil memeluk bantalnya. Sehun benar, pikirnya. Baekhyun tidak mungkin terus-terusan tinggal di tempat tinggalnya karena Baekhyun pasti juga punya keluarga di dunianya. Baekhyun pasti ingin bertemu dengan teman-temannya. Tapi, apakah itu berarti Minri tidak bisa bertemu Baekhyun lagi?

Tiba-tiba Minri tidak rela kalau Baekhyun pergi.

Argh! Dia tidak boleh egois.

Minri melompat ke atas tempat tidurnya lantas memejamkan mata. Apa yang bisa dilakukannya untuk membantu pria itu?

***

Pagi hari di hari minggu.

Minri mengeliatkan tubuhnya saat merasakan matahari menyusup lewat celah jendelanya yang terbuka. Kicauan merdu suara burung seakan membangunkannya. Ia melirik jam dindingnya sejenak sebelum menarik selimutnya lagi sampai ke atas kepalanya. Ia bisa tidur lebih lama lagi berhubung hari ini adalah hari minggu.

Neol chajaganda cheuogi bonaen tinkerbell,

Ttaranasetdeon neverland, geu gose naega neowa barabomyeon utgo isseo

Nan yeongwonhan neoui peterpan,

Geu sigane meomchun ne namja,

Sotuljiman neomu saranghaetdon nau neogo danyeoga…

(Terbang bersama Tinkerbell akan ku temui dirimu

Di Neverland bersama semua kenangan ini

Di tempat itu, dimana kita bisa kembali saling memandang dan tersenyum,

Aku akan menjadi Peterpanmu, lelaki yang berhenti di tengah waktu,

Aku akan selalu bersamamu dan selalu mencintaimu, meski canggung kadang menyapaku…)

Minri menurunkan selimutnya sampai pinggang. Tiba-tiba kehilangan rasa kantuknya saat mendengar suara merdu seorang pria yang persis sama seperti tadi malam–suara Baekhyun. Kemudian tanpa sadar mengklaim suara itu sebagai suara favoritnya.

Minri beranjak dari tempat tidurnya. Meninggalkan selimutnya begitu saja dalam keadaan acak-acakan. Ia membuka pintu kamar lantas berdiri di perbatasan. Menatap Baekhyun yang sedang asik mengelap permukaan kaca meja sambil terus bersenandung.

Apa yang sedang dilakukannya?  Membersihkan rumah?

Minri mulai menebak-nebak.

Minri tidak menyapa atau bertanya. Ia hanya berdiri sembari memperhatikan gerak-gerik Baekhyun hingga tidak terasa beberapa menit berlalu.

“Eh Minri-ya, kau sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak? Apakah aku membangunkanmu atau mengganggu tidurmu?”

Minri terkesiap saat Baekhyun menyadari kehadirannya dan bertanya padanya dengan pertanyaan beruntun.

Aniyo…” jawab Minri bersama dengan gelengan pelan kepalanya.

“Apa hari ini kau sibuk?” tanya Baekhyun.

“Tidak. Memangnya kenapa?”

“Kalau begitu kau bisa mengajakku berkeliling. Aku ingin melihat tempat-tempat yang indah di dunia manusia. Kau mau menunjukkannya padaku?” pinta Baekhyun dengan senyuman manisnya.

Oh baiklah, dia tidak bisa menolak.

Sure,” jawab Minri sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya. Tanpa sengaja melewati cermin di depan lemarinya. Ia membelalakan matanya.

Jadi seperti inikah wajahnya tadi? Dengan rambut yang acak-acakan yang lebih mirip sapu ijuk. Aish! Kenapa ia tidak sadar tadi? Lalu kenapa pula Baekhyun seperti tidak mempermasalahkan apapun dengan penampilannya?

“Huh… lain kali aku akan hati-hati. Aku tidak ingin berpenampilan memalukan di depan pria itu.”

Tapi mengapa ia harus seperti itu? Apa ada yang salah dengan dirinya sekarang?

***

Baekhyun memandangi etalase-etalase yang berada di depan toko. Mengagumi beberapa benda yang menarik perhatiannya. Sementara gadis di sampingnya hanya sibuk dengan kamera SLR yang sengaja di bawanya untuk memotret objek yang dia suka.

Keduanya tidak bicara. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Minri mengangkat kameranya. Tanpa sengaja mengarah pada Baekhyun, lantas memotretnya tanpa Baekhyun tahu. Gadis itu berhenti melangkah, menatap hasil jepretannya. Entah mengapa objek yang baru saja di potretnya itu terlihat sangat mengagumkan.

Baekhyun ikut berhenti saat menyadari bahwa Minri sudah tidak berada di sampingnya lagi. Pria itu menghampiri Minri yang masih menatap benda canggih miliknya.

“Minri-ya, kajja!

Minri  refleks menekan tombol keluar dari preview hasil fotonya. Seperti takut tertangkap basah tengah ketahuan memandangi foto pria itu. Belum sempat ia menenangkan dirinya, Baekhyun lebih dulu menarik tangannya membuat jantungnya bekerja ekstra, terdengar berisik di telinganya sendiri.

Gadis itu hanya menurut kemana Baekhyun menuntunnya. Konsentrasinya sudah berkurang lima puluh persen akibat kontak fisik yang dilakukan pria itu padanya.

Kemudian mereka berdua duduk di bangku taman pusat kota. Sekeliling mereka berupa bunga-bunga segar yang baru saja bermekaran. Minri tertarik pada objek itu.

“Tunggu sebentar,” ucap Baekhyun. Tanpa menunggu jawaban gadis itu Baekhyun pergi.

Tidak lama kemudian, Baekhyun kembali dengan membawa dua buah bungkusan es krim rasa coklat. Kemudian menyodorkan salah satu kepada Minri. Gadis itu menyambutnya lalu mengucapkan terimakasih.

“Kau suka?” tanya Baekhyun dengan mulut penuh. Bahkan di sekitar bibirnya ada noda-noda coklat dari es krim yang dimakannya. Kekanak-kanakan juga menggemaskan.

“Hmm.” Minri hanya mengangguk sebagai jawaban.  “Darimana kau tahu kalau aku suka es krim?” tanya Minri kemudian.

“Ku lihat di kulkas banyak sekali persediaan es krim,” jawab Baekhyun sambil terkekeh.

Minri menoleh pada Baekhyun. Mendapati sekitar bibir pria itu ada noda es krim. Tanpa sadar ia tertawa pelan. Wajahnya jadi lucu sekali, pikir Minri.

Eum?” Baekhyun balas menatap Minri sembari mengerutkan kening. Dia pikir ada yang salah dengan wajahnya hingga gadis itu menertawakannya seperti itu.

Minri menyelesaikan makan es krimnya. Membuang stick es krim itu di tempat sampah terdekat. Kemudian gadis itu merogoh saku celananya, mengambil bungkusan tisu yang selalu di bawanya kemana-mana.

“Mulutmu belepotan sekali.” Minri menyodorkan tisu itu, tapi Baekhyun justru mengangkat kedua tangannya yang cukup kotor, secara tidak langsung mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukannya sendiri. Pria itu hanya memajukan wajahnya sembari tersenyum, sarat akan dia perlu pertolongan Minri untuk membersihkannya.

“Aish! Manja sekali,” keluh Minri. Namun tetap melakukannya.

Baekhyun memandangi Minri yang berada di depannya cukup lama hingga Minri menyadarinya. Gadis itu segera menjauh.

Sial! Dia baru saja teringat ciuman tadi malam, membuat jantungnya lagi-lagi berulah.

***

“Baekhyun hentikan!” desis Minri dengan nada tajam.

Saat ini mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Baekhyun asik bicara pada seekor kelinci yang berada dalam kandang.

Rupanya Minri salah besar karena sudah membawa Baekhyun ke tempat seperti ini. Kebun Binatang. Sejak tadi Baekhyun menyapa dengan senang ke arah hewan-hewan yang berada dalam kandangnya. Seperti orang yang kurang waras.

Baekhyun bahkan bicara dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti Minri. Minri tahu kalau Baekhyun bukan manusia. Tapi apakah mungkin hewan-hewan itu bisa diajak bicara?

Persetan dengan semua itu! Minri merasa malu.

“Baek, aku pulang.”

Minri melenggang menjauh dari Baekhyun yang masih bicara serius dengan kelinci itu. Hingga beberapa menit berlalu, Minri merasa ada yang menyenggol lengannya.

“Rabbion itu ingin dikeluarkan dari kandangnya Minri, dia merasa tidak bebas,” ucap Baekhyun.

Apa itu Rabbion? Minri bahkan tidak tanya apapun tentang apa yang dibicarakan Baekhyun pada hewan yang Minri sebut sebagai kelinci itu.

“Terserah apa katamu Baekhyun! Aku-ingin-pulang-sekarang.”

“Minri…” Baekhyun memegang tangan Minri dan memasang wajah memelas. Ck! Apa lagi ini?!

“Aku mohon… bantu aku mengeluarkannya.”

“Baekhyun! Ini kebun binatang, dan apa kau tahu hewan yang berada dalam sini pasti hewan langka. Mereka akan dilestarikan disini. Bagaimana mungkin aku akan diperbolehkan membawa kelinci itu keluar dari sini. Mohon mengerti!”

Minri meninggikan bicara membuat Baekhyun mundur satu langkah dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu hanya diam sambil menatap Minri dengan wajahnya yang memelas. Oh Tidak! Minri pasti luluh dengan wajah itu. Jangan lagi Baekhyun!!

“Wah wah, ada apa disini? Sepasang kekasih sedang bertengkar?”

Seorang laki-laki yang dikenal Minri tiba-tiba menghampiri mereka berdua dengan tatapan menggoda, sementara Minri yang memang sedang kesal hanya membalas tatapan itu dengan matanya yang tajam, seolah memancarkan laser.

“Diamlah Kim Jong-In!” bukannya saling menyapa karena bertemu di tempat umum, Minri justru mengomeli Jong-In atau sering dipanggil Kai itu.

“Harusnya kalian membicarakan baik-baik di tempat romantis, bukan di tempat macam ini.”

Kai sungguh mengabaikan kekesalan Minri. Seakan ia mengerti bahwa Minri marah karena kekasihnya, lalu menjalar pada Kai yang baru datang dan tidak salah apa-apa.

Minri semakin geram dengan Kai yang benar-benar berpikiran bahwa mereka adalah pasangan kekasih. Abaikan perasaan lain bahwa ia suka disebut seperti itu. Sekarang dia sedang kesal pada Peterpan yang sudah mempermalukannya itu. Tatapannya pada Kai seakan bicara ‘Diam kau kalau tidak ingin ku lempar ke dalam kandang serigala’.

“Apa yang kau lakukan disini Jong-In?”

Minri memutar bola matanya malas karena Kai tidak kunjung pergi. OH! Minri baru sadar, ini kebun binatang. Dan apa yang membuat Kai–laki-laki pecinta basket itu ke sini?

“Kebun binatang ini milik ayahku, aku hanya disuruh memeriksa.”

“Milikmu?” Baekhyun menyahut. Matanya berbinar seakan lampu baru saja menyala di samping kepalanya.

“Ayahku,” koreksi Kai.

“Kalau begitu boleh aku minta tolong padamu?” Baekhyun kembali bicara.

Mereka bahkan belum berkenalan, tapi Baekhyun bisa selancar itu bicara pada Kai. Dan tidak seperti sebelumnya Baekhyun menatap Kai dengan wajahnya yang dingin, kali ini Baekhyun tampak lebih ramah.

“Tolong apa? Membuat kalian berbaikan?” tanya Kai dengan senyum, kali ini lebih tulus.

“Itu salah satunya.”

Wajah Minri bersemu merah, efek dari ucapan Baekhyun.

“Tapi ada satu lagi.”

Dan Minri rasa ia tahu apa yang diinginkan Baekhyun dari Kai.

***

Minri melirik Baekhyun dengan ekor matanya. Laki-laki itu tampak senang dengan seekor kelinci yang berada di gendongannya.

Ya, dia berhasil mengeluarkan kelinci, Ra.. Ra.. apa yang disebut Baekhyun tadi?

“Rabbion…” panggil Baekhyun pada kelinci digendongannya dan mengusap kepala kelinci itu dengan sayang.

Nah, maksud Minri itu.

“Kau senang?” tanya Minri. Ia sudah tidak marah lagi. Kekesalannya menguap entah kemana setelah melihat Baekhyun sesenang itu. Ia benar-benar menyayangi hewan yang berada dalam pelukannya itu.

Baekhyun tidak menjawab, tapi kepalanya mengangguk antusias. Seperti anak anjing yang baru dapat teman untuk bermain.

Diam-diam Minri tersenyum. Betapa menggemaskan laki-laki disampingnya itu, betapa manis wajahnya itu, dan tingkahnya begitu lucu, membuat Minri semakin suka.

Tunggu, tunggu! Suka?!

“Minri sudah tidak marah lagi kan?”

“Ya, lain kali jangan seperti itu lagi.”

“Jong-In ternyata baik ya,” ucap Baekhyun, kemudian mengalihkan wajahnya menatap Minri dengan lensa matanya yang hijau.

“Ya begitulah,” jawab Minri sekenanya. “Ayo pulang!” ajak Minri.

“Tunggu… aku ingin melepaskan Rabbion di taman yang tadi kita datangi. Boleh ya?” pinta Baekhyun.

“Ya, kau boleh.”

Sejak kapan Minri tidak bisa menolak keinginan Baekhyun. Wajah memohon dari laki-laki itu benar-benar meluluh lantakkan hatinya, membuatnya tidak bisa mengatakan hal lain selain ‘Ya’.

***

Keesokan harinya.

Minri sedang duduk di depan komputernya. Sesekali mengarahkan scroll mouse ke bawah. Membaca artikel di salah satu situs dengan seksama. Gadis itu beberapa kali mengetikkan kata kunci yang sama, Peterpan. Namun tidak banyak informasi yang ia inginkan. Hanya beberapa artikel sinopsis film, serta info dari dunia fantasi yang tidak dapat diterima secara gamblang oleh pikirannya.

Sebagian mengatakan bahwa Peterpan itu nyata adanya sejak zaman dulu. Sebagian lagi berkata bahwa itu hanyalah fantasi. Minri tentu saja harus percaya bahwa mereka benar-benar ada karena Baekhyun lah bukti nyatanya.

Minri mencari informasi yang lebih banyak tentang mereka, tentang tempat tinggal mereka. Karena mulai saat ini, gadis itu memutuskan untuk membantu Baekhyun kembali ke tempat asalnya. Meskipun dalam hati kecilnya ada rasa tidak rela membiarkan laki-laki itu pulang.

Tempat-tempat yang digambarkan di layar benar-benar indah. Sulit mendefinisikan betapa indahnya tempat itu. Namun sekali lagi, Minri tidak bisa mempercayainya begitu saja. Err, dia rasa dia harus berdiskusi dengan Baekhyun tentang hal ini.

Minri beranjak dari tempat duduknya. Membiarkan komputernya tetap menyala. Gadis itu berjalan menuju dapur, mengambil sekaleng minuman dingin beserta snack kesukaannya.

“Minri-ya…”

Hmm?

Minri seperti sudah kebal dengan kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba. Pria itu membuatnya terbiasa dengan kehadirannya yang mendadak seperti itu.

“Aku bosan,” keluh Baekhyun sembari memberengutkan wajahnya.

“Ah! Ikut aku! Ada yang ingin ku tanyakan padamu.”

Baekhyun mengekor di belakang Minri. Permintaan gadis itu membuatnya penasaran. Hingga mereka tiba di kamar Minri. Gadis itu menarik satu kursi yang terletak di depan meja rias–meja yang paling jarang dipakainya–lalu meletakkannya disamping kursi yang sudah terlebih dahulu ada di depan meja komputer.

“Duduklah,” pinta Minri.

Baekhyun duduk dan memandangi layar monitor dengan wajah bingung.

Minri sibuk mengarahkan kursor ke halaman-halaman artikel yang tadi sudah dibukanya. Tangan gadis itu dengan cekatan menekan keyboard untuk mengetik kata kunci lagi, lalu beralih ke tab lain sementara menunggu loading.

“Apa kau kenal tempat ini?” tanya Minri. Ia menunjuk salah satu tempat yang tampak seperti hutan, tapi lebih bersih dan banyak warna.

“Seperti Neverland,” jawab Baekhyun sekenanya.

“Benarkah??” seru gadis itu dengan nada sedikit tidak percaya. “Disini dikatakan bahwa tempat itu tidak disebutkan dalam peta, tapi ada di sebelah timur bagian dunia.”

Minri mengklik lagi beberapa gambar yang sejenis.

“Tapi tidak mungkin kau bisa tersesat sejauh ini,” gumam Minri dengan nada putus asa.

“Air terjun,” ucap Baekhyun.

Mwo?”

Minri tampak bingung dengan perkataan Baekhyun barusan. Pria itu terfokus pada satu objek gambar yang terletak di pojok kanan layar monitor.

“Seingatku air terjun bisa mengantarkan kita ke Neverland.”

“Kenapa kau tidak bilang dari kemarin??!!”

“Aku pikir kau belum mau menolongku, maaf…” Baekhyun menunduk dengan wajah sedih, membuat Minri merasa bersalah karena sudah membentak Baekhyun meski bukan bentakan yang kasar.

Minri membaca tulisan kecil yang ada di bawah gambar. Sebuah informasi yang menyampaikan bahwa tempat itu melewati hutan terdalam di pulau Jeju. Astaga! Memangnya ada tempat seperti itu? Keraguan kembali menyergapi gadis itu.

“Baekhyun-ah, kau ingin pulang?”

“Kau bisa mengantarku kembali? Wah! Tentu saja!”

Minri memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Harusnya jangan sekarang, ia belum siap membiarkan Baekhyun pulang. Tapi jawaban Baekhyun atas pertanyaannya membuatnya harus melakukan hal itu. Ia akan menjadi orang jahat jika berbohong pada Baekhyun.

Minri menoleh ke arah Baekhyun yang sudah lebih dulu menatapnya. Gadis itu tersenyum dengan berat, membuat Baekhyun menyadari satu hal. Ada yang salah dengan gadis itu, wajahnya yang cantik itu tampak sedang bersedih.

*** TBC ***

Naaah gimana? Hppft xD ini udah berusaha nyari waktu buat publish… kayaknya publishnya kecepetan ya(??) huahaa.. salahkan byunbaek yang terus muter2 dikepala saya hingga ide ini bisa rada lancar ._.v

Next?

Comment Juseyo :3 Thanks!! See ya~

62 thoughts on “Story Of Peterbaek – Part 2

  1. Hahaaa pertama taama seribu jempol buat kak riim, feelnya dapet bangeeet apalagi aku suka bnget lagunya exo yg peterpan jdi sambil baca sambil puterin lagunyaa,
    Keduaa aku mau cerita ajaib, kan aku baca ini smbil muterin lagunya itu, entah kenapa timing lagunya pas banget sama scene di ffnya *apakahinitakdir ._. *suarageludug
    Hahaa*abaikan
    Ketigaa aku selaluu suka tulisannya kak riim T_T, dan aku lupa mau ngomong apa lagi pdhal tadi bnyk bnget yg mau diomongin, hehe udah sip mending aku lanjut bacaaa
    Smngat menlis trus kaariiimmm<3

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s