Story Of Peterbaek – Part 3

peterbaek coverfix

Story of Peterbaek

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun / Peterbaek
  • Park Minri

Other Cast :

  • Tinkerbell
  • Rabbion (kelinci)

Genre : Romance, Fantasy, Friendship

Rating : PG-13, Teen.

Length : Chapter

List: Part 1 | Part 2

Note : Diadaptasi dari cerita fantasi “Peterpan” dan “Tinkerbell”. Do not copycat without my permission! Selamat berimajinasi! Banyak tokoh yang didapatkan dari imajinasi author semata, seperti Rabbion, kelinci yang bisa bicara xD. Dan nama panggilan Baekhyun macam-macam, jd jangan bingung yaHAHA. Jangan lupa tinggalkan jejak, Makasih … ^0^/ (sorry for typo)

***

“Peterbaek! Peterbaek tidak boleh membawa manusia ke Neverland…”

***

“Baek, apakah menurutmu aku sudah gila karena baru saja punya keinginan bisa terbang sepertimu?” tanya Minri sambil mengemasi barang bawaan yang ia siapkan untuk pergi. Mengantarkan Baekhyun kembali ke tempat asalnya. Walaupun kecil kemungkinan tempat yang ia maksud itu ada.

Baekhyun sedang tengkurap di atas kasur gadis itu. Kedua tangannya menopang dagu. Sejak tadi ia hanya memperhatikan Minri membereskan barang-barangnya. Laki-laki itu mengerjap lucu saat ia memikirkan perkataan Minri barusan. Lalu bibirnya terangkat membentuk senyum simpul.

“Kau bisa kok,” ucap Baekhyun, membuat Minri menghentikan kegiatannya lantas menatap pria itu serius.

Sesaat kemudian Minri kembali menunduk, menutup resleting tasnya, menandakan bahwa ia baru saja selesai dengan pekerjaannya.

“Tidak mungkin! aku kan manusia,” lirih Minri.

Baekhyun bangkit dari kasur, lalu dengan tiba-tiba menarik lengan Minri, memintanya untuk berdiri. Minri terkesiap namun tetap mengikuti kehendak Baekhyun.

Minri mendadak merasa canggung ketika Baekhyun memegang kedua bahunya. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Ketampanan pria itu lagi-lagi menghipnotisnya. Dan jantungnya berulah lagi.

“Kau benar-benar ingin bisa terbang?” tanya Baekhyun. Sedikit menghancurkan fantasi Minri tentang ketampanan pria di depannya.

Lalu Minri mengangguk pelan.

“Tutuplah matamu,” ucap Baekhyun.

Minri menyimpan wajah pria itu sebagai memori terakhir sebelum ia memejamkan matanya lalu mengikuti apa yang dikatakan Baekhyun.

“Pikirkan hal yang paling membuatmu bahagia dan bayangkan bahwa kau sedang berada di udara lalu rentangkan kedua tanganmu.”

Diam-diam Baekhyun menabur bubuk peri di kaki gadis itu. Hanya sedikit. Sekedar membantu gadis itu. Sebagai pemula, tentu sulit melakukannya. Jika benar Minri punya memori tentang kebahagiaan yang begitu kuat, ia pasti bisa terbang meskipun sebentar, tidak seperti peri sesungguhnya. Bagaimanapun Minri tetaplah manusia. Baekhyun tahu itu.

Perlahan tubuh Minri terangkat ke atas, kakinya sudah tidak menapak di lantai lagi. Minri merasa tubuhnya lebih ringan. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mencoba membuka matanya. Dua detik yang mengagumkan sebelum ia menjerit dan lepas kendali.

“AAAAA!!”

Benar-benar tidak masuk akal. Minri merasakan tubuhnya tadi benar-benar melayang, ia pikir ia bisa menyentuh atap kamarnya sendiri. Tapi rasa keterkejutannya itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan ia sebaiknya siap-siap jatuh saja.

Minri menutup matanya rapat-rapat. Ia pasti jatuh, pikirnya.

Hap! Namun Minri segera membuka matanya ketika tubuhnya seperti ditangkap seseorang. Ternyata benar. Baekhyunlah yang menangkapnya hingga ia tidak perlu menderita patah tulang akibat ulahnya sendiri.

Sekarang Minri harus apa?

“Te-terimakasih sudah menyelamatkanku.” Minri mengerjap cepat.

“Kau harus membayarnya,” ucap Baekhyun sembari mendekatkan wajahnya.

CUP!

Bibir Baekhyun berhasil menyentuh bibir Minri. Hanya beberapa detik. Harusnya Minri marah. Harusnya gadis itu mendorong tubuh Baekhyun atau menampar wajah pria itu. Dia sudah bersikap kurang ajar. Mencuri ciumannya dua kali.

Harusnya semua itu bisa dilakukan Minri kalau ia tidak punya perasaan apapun pada Baekhyun. Tapi nyatanya, ia hanya bisa merona, menikmati suhu tubuhnya yang menghangat tiba-tiba.

Ya, kenyataan yang harus diterimanya bahwa ia sudah menyukai makhluk asing itu–seorang peterpan yang tidak diketahui asal-usulnya.

***

Setelah menempuh perjalanan cukup lama untuk sampai ke Jeju. Mereka melanjutkan naik bis. Tujuan mereka adalah sebuah hutan yang mempunyai nama cukup asing sehingga hanya beberapa penduduk saja yang mengetahuinya. Dan tentang hal mistis dalam hutan itu… tiada yang tahu. Atau mungkin memang tidak ada?

Selama di bis, Minri tidak tahu bahwa ia sempat tertidur di bahu Baekhyun. Bahkan Baekhyun bertindak sedikit lancang karena ia sudah mencium kening gadis itu. Baekhyun merasa ada sebuah ikatan yang tidak kasatmata antara dia dan Minri hingga ia menjadi tidak begitu antusias lagi dengan kepulangannya. Ia tidak ingin terpisah dengan gadis itu.

“Sudah sampai.”

Minri berdiri dari tempat duduknya. Gadis itu memakai tas ranselnya lalu akan melangkah pergi tapi tangan Baekhyun menahannya.

“Bersama-sama,” pinta Baekhyun.

Dan Minri mengabulkannya. Mereka berdua terus berpegangan tangan sampai turun dari bis. Tak lama bis itupun pergi, meninggalkan mereka berdua di jalan utama memasuki hutan.

Di depan mereka berdua terdapat banyak pohon yang sangat tinggi. Minri menatap pemandangan di depannya dengan pandangan menilai, sebelum akhirnya melangkahkan kaki memasuki area hutan.

Sepi.

Itulah yang mereka rasakan sekarang. Tidak ada suara keributan yang berarti. Saat ini yang bisa mereka adalah suara gesekan daun kering yang mereka injak dan ranting pohon yang ditiup angin. Minri mengeratkan pegangan tangannya pada Baekhyun ketika suara raungan yang terdengar sangat jauh tapi sangat menakutkan baginya.

“Tidak apa-apa. Aku akan melindungimu,” lirih Baekhyun.

Minri harus senang atau bagaimana?

Disaat seperti ini, disaat tidak ada orang lain lagi. Apa yang harus dilakukannya? Dia hanyalah seorang gadis biasa, yang meskipun tidak manja, dia pasti juga akan bisa menjadi penakut. Tapi sekarang, ada yang berjanji akan melindunginya. How lucky her!

Terus berjalan ke hutan terdalam. Minri yakin mereka tersesat. Dan soal jalan pulang… dia tidak tahu lagi. Entahlah, berdua bersama Baekhyun membuatnya merasa aman. Meskipun tubuh Baekhyun tidak setinggi Sehun, meskipun tubuh Baekhyun tidak sebesar Jong-In–Minri tetap merasa aman.

Baekhyun menarik napasnya dengan tiba-tiba, membuat Minri yakin ada sesuatu. Tanpa berpikir panjang Minri memeluk Baekhyun. Erat sekali. Tapi kemudian Baekhyun tertawa, sampai bahunya bergetar-getar.

“Baekhyun! Jangan bercanda! Aku takut sungguhan!”

Minri melepaskan pelukannya–merasa malu. Lalu memanyunkan bibirnya. Kesal.

“Iya, maaf…” Baekhyun mengacak rambut Minri pelan dengan tawa yang masih tertinggal. Sikapnya berubah, Baekhyun berubah manly. Dan semakin mempesona.

Minri kembali berjalan diikuti Baekhyun. Kali ini tidak berpegangan tangan.

“Itu, disana…”

Minri menatap dengan mulut yang setengah terbuka–air terjun yang cukup besar di hadapannya. Air terjun itu terhalang oleh jurang yang juga lumayan besar. Sepertinya mustahil kalau ingin ke air terjun itu. Dan Minri baru tersadar sesuatu. Tidak ada suara gemuruh air yang mengalir dari tempatnya berdiri sekarang. Minri mencoba bermain dengan logika. Kalaupun jurang itu berada di seberang, Minri pikir suaranya pasti terdengar. Lalu mengapa tidak ada suara apapun? Apa yang terjadi dengan hutan ini?

“Sudah sampai?”

Baekhyun melangkah lebih jauh, mendekati jurang membuat Minri sontak membulatkan matanya.  Mau apa dia?

“Baek jangan ke sana, bahaya!”

Baekhyun seperti tidak mendengar perkataan Minri. Ia terus melangkah maju. Tanpa Baekhyun tahu, Minri sudah mengepalkan tangannya yang tiba-tiba saja bergetar. Minri benar-benar cemas.

Minri merasa kakinya tertancap paku. Ia tidak bisa berpindah dari tempatnya berdiri. Baekhyun merentangkan tangannya sembari terus melangkah ke tepi jurang. Minri pikir Baekhyun sudah gila. Atau mungkin sedang kerasukan. Astaga! Minri benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Baekhyun.

Lalu Baekhyun menjatuhkan dirinya.

“Byun Baekhyun!!”

Jantung Minri sesaat berhenti berdetak. Degupan terakhir yang membuat dadanya sakit sungguhan.

Kenapa dia melompat? Dia bodoh atau apa?

Butuh dua detik untuk Minri mengembalikan kesadarannya dan mengetahui bahwa ia hanya sendiri. Dan itu semua benar-benar dua detik sebelum Minri mendengar suara seruan yang sangat tidak asing di telinganya.

Baekhyun naik ke permukaan lalu terbang bebas dengan sangat cepat.

Ah, Minri lupa bahwa Baekhyun bisa terbang. Ia tentu bisa menuju air terjun itu sendirian. Baekhyun tidak membutuhkan MInri lagi ya?

“Woohooo! Aku sudah lama tidak terbang bebas seperti ini!!”

Baekhyun mengelilingi aliran air di bawahnya. Terbang kesana kemari seperti anak burung yang baru saja bisa terbang. Wajahnya yang tampan itu tampak sangat bahagia. Bahkan senyumnya yang manis itu seakan membuat wajahnya bercahaya. Tidak manusiawi. Ah, Minri lupa Baekhyun memang bukan manusia.

Baekhyun sudah tidak membutuhkanku lagi. mungkin aku hanya mengantarnya sampai sini saja.

Minri berbalik, lalu berjalan dengan wajah menunduk. Ia akan pulang, meskipun ia sendiri tidak tahu jalan mana yang benar. Hutan sulit dikenali, semua pemandangan sama. Hanya ada pepohonan dan rumput liar.

Hembusan angin tiba-tiba melewatinya. Lalu Minri terkesiap ketika Baekhyun berada di depannya.

“Minri mau kemana?” tanya Baekhyun dengan bibir melengkung ke bawah.

Minri menangkap ekspresi sedih dari wajah Baekhyun. Kenapa Baekhyun harus bersedih? Dia sudah bisa pulang ke rumahnya, bertemu keluarga dan teman-temannya. Baekhyun harusnya senang.

“Pulang ke rumah. Kau sudah menemukan jalan sendiri untuk menuju ke Neverland. Jadi ku rasa kau sudah tidak membutuhkanku lagi.”

“Tidak! Baekhyun masih membutuhkan Minri.”

DEG!

Baekhyun masih membutuhkan Minri. Ulang Minri dalam hati.

Minri mengangkat wajahnya untuk menatap Baekhyun. Merasa terlalu percaya diri jika ia berasumsi bahwa Baekhyun membutuhkannya dalam arti lain. Bukan sebagai manusia yang membantunya menemukan jalan menuju rumahnya. Tapi sebagai Minri yang dibutuhkan Baekhyun untuk mengisi hari-harinya, untuk berada dalam hidupnya.

“Tidak. Kau bisa melakukan semuanya sendiri. Kau punya kekuatan lebih, tidak sepertiku.”

Berlawanan dengan hatinya. Bohong besar! Padahal Minri sungguh masih ingin bersama Baekhyun. Tapi ia harus pulang. Ia tidak bisa ikut Baekhyun ke Neverland. Ia manusia. Tempat tinggalnya adalah dunia manusia.

“Tapi setidaknya Minri harus melihat-lihat tempat tinggal Baekhyun, melihat Neverland,” ucap Baekhyun dengan nada memohon.

“…”

“Bagaimana? Minri mau ikut?”

Minri mengangguk pelan, membuat bibir Baekhyun melengkung ke atas secara otomatis. Seperti anak kecil yang baru mendapat tiket pergi ke Disneyland.

“Tapi–”

Minri memotong kalimatnya sendiri sambil mengarahkan pandangannya pada jurang yang memisah jalan menuju air terjun. Sekali lagi, Minri manusia biasa. Ia tidak bisa terbang sungguhan. Ia pikir waktu itu ia hanya beruntung bisa mencoba terbang dalam kamarnya sendiri.

“Aku bisa membantumu menyeberang,” ucap Baekhyun seolah bisa membaca pikiran Minri.

Dan belum sempat Minri berpikir lagi, Baekhyun sudah mengangkat tubuhnya. Bridal Style. Minri membulatkan matanya. Kaget sekaligus malu. Apa-apaan Baekhyun?!

Baekhyun baru akan melayangkan tubuhnya tapi Minri menghentikan Baekhyun dengan suaranya.

“Aku di belakang saja.”

Backhug.

Beruntung Baekhyun mengerti. Minri hanya tidak ingin Baekhyun melihat wajahnya yang merona karena terlalu dekat. Minri hanya tidak ingin terpaku terlalu lama pada wajah Baekhyun. Karena Minri tidak ingin merasa kehilangan, karena pada kenyataannya mereka akan berpisah. Tidak lama lagi.

Minri melingkarkan lengannya ke seputar leher Baekhyun. Aroma shampoo dari rambut Baekhyun menguar bersama tiupan angin yang masuk perlahan-lahan ke dalam indera penciuman Minri. Tubuh Baekhyun terasa hangat di tubuhnya.

Minri menatap air terjun yang semakin dekat, tapi sudah sedekat itu suara deru arus yang deras sama sekali tidak terdengar. Ini benar-benar aneh.

“Baek, kita akan kebasahan,” ucap Minri sambil memejamkan matanya.

Baekhyun hanya tersenyum tipis sambil mengucapkan satu kalimat magis. Lalu air terjun di depannya terbuka. Bayangkan saja pintu biasa dengan cat lukisan air terjun. Jadi semua hanya tipuan semata. Air terjun itu tidak nyata. Fungsinya hanya penghubung antara dunia manusia dan Neverland.

Sebelum menapakkan kaki di tanah, Baekhyun sempat berbisik. Mengatakan bahwa mereka berdua sudah tiba di tempat tujuan.

Minri hampir tidak percaya bahwa air terjun di depannya tidak bergerak. Hanya seperti lukisan besar yang sudah kusam dan berumur.

Minri turun dari gendongan Baekhyun. Mengintip pemandangan di dalam. Lalu aksi mengintipnya terganggu ketika pintu terbuka sepenuhnya. Minri disuguhkan dengan pemandangan menakjubkan. Sebuah hutan yang subur dengan berbagai tumbuhan bunga yang berwarna-warni juga tidak di temukan di dunia manusia.

Minri melangkahkan tungkai kakinya lebih ke dalam. Sempat berbalik dan melihat pintu yang ia masuki tadi perlahan menutup. Lalu beralih ke pemandangan di depannya lagi.

“Ini Neverland?” tanya Minri lebih pada diri sendiri.

Baekhyun terseyum senang melihat wajah kagum gadis itu akan sekelilingnya. Kemudian Baekhyun berpikir bahwa ia pernah seperti itu, ketika Minri membawanya jalan-jalan dan mereka makan es krim bersama.

“Peterbaeeeekkk!!”

Minri terkesiap saat seekor kelinci melompat ke arah Baekhyun, lalu disambut dan dipeluk Baekhyun penuh sayang. Tunggu! Kelinci itu baru saja bicara ya? Minri tidak salah dengar kan?

“Lama sekali kau tidak terlihat. Kemana saja? Tinkerbell mencarimu kemana-mana. Ia marah-marah karena kami tidak dapat menemukanmu,” ucap kelinci putih itu dengan lancarnya sambil menggerakkan kepalanya yang diusap Baekhyun.

Minri menepuk pipinya pelan (tentu saja tanpa sepengetahuan Baekhyun), ia pikir ia sedang bermimpi. Tapi kemudian tersadar ketika ia mencubit pipinya sendiri sampai terasa sakit.

“Aku tersesat Rabbion. Ah aku juga merindukan Tinkerbell. Dimana dia?”

“Mungkin sedang bermain-main di rumah pohon.”

Minri tidak begitu menangkap pembicaraan Baekhyun dan kelinci yang tadi disebut Baekhyun dengan nama Rabbion. Mereka menyebutkan kosakata asing yang sama sekali belum pernah di dengar Minri. Hingga Baekhyun tersadar bahwa ia sudah mengabaikan gadis di sampingnya.

“Peterbaek punya teman baru ya? Cantik sekali! Dari keluarga peri daerah mana? Aku belum pernah melihatnya dan… aku baru sadar kalau kalian berpakaian aneh.”

“Dia bukan peri, dia manusia. Tapi dia memang temanku.”

“Peterbaek! Peterbaek tidak boleh membawa manusia ke Neverland. Hal itu sama saja membocorkan rahasia Neverland. Kita bisa diburu manusia serakah. Dan kemudian dimanfaatkan.”

Minri mengerutkan kening. Kelinci itu terlalu banyak bicara dan terlalu cepat, membuat gigi-giginya yang imut itu bergerak-gerak cepat. Minri mencerna perkataan kelinci itu. Walaupun sebenarnya ia masih shock dengan adanya kelinci yang bisa bicara.

“Dia baik. Rabbion tidak perlu khawatir tentangnya. Dia tidak akan membicarakan rahasia Neverland kepada siapapun. Benar kan Minri?”

Minri mengangguk. Tapi tidak yakin. Ia tidak janji bahwa ia bisa berdiam diri saja melihat tempat seindah Neverland. Dan sepertinya orang pertama yang membuatnya tidak bisa menjaga rahasia adalah Sehun–kakak sepupunya.

“Sudah dulu ya, aku ingin mengajaknya berkeliling.”

Baekhyun mengakhiri percakapan yang disambut anggukan oleh kelinci putih itu. kelinci itu melompat ke bawah dan pergi ke semak-semak. Lalu menghilang.

Baekhyun melanjutkan langkahnya, sementara Minri mengekor di belakang. Matanya tidak bisa diam. Minri terus saja mencuri pandang kemanapun ia bisa, menangkap satu-per satu benda hidup ataupun mati yang kemudian ia simpan dalam memorinya.

“Baek, apa semua hewan disini bisa bicara?” tanya Minri sambil menatap beberapa kumpulan tupai yang seperti menonton mereka berdua dari atas pohon. Minri berasumsi bahwa tupai itu sedang berbisik-bisik–membicarakan mereka mungkin? Entahlah.

“Sepertinya begitu.”

Minri menyipitkan matanya saat sekumpulan serangga terbang menuju ke arahnya dengan bergerombol. Semakin serangga itu mendekat, semakin mereka tidak menyerupai serangga. Mereka punya kaki dan sayap yang berwarna-warni. Wajah mereka menyerupai manusia dengan telinga yang sedikit lebih panjang dan tajam.

Minri pernah menonton kartun dengan karakter seperti itu. Mereka peri? Teman Tinkerbell yang disebut-sebut Baekhyun tadi ya?

“Peterbaek! Kapan kau kembali?”

“Peterbaek tampan!”

“Hai peterbaek…”

“Baekhyun Byun…”

Suara cicitan para peri itu terdengar berisik. Mereka bicara hampir bersamaan. Kalau Minri tidak salah hitung mereka berjumlah sembilan. Mereka bergerumul di atas kepala Baekhyun lalu menarik-narik rambut Baekhyun pelan, membuat gaya rambut pria itu berubah menjadi spike. Baekhyun seperti baru saja kena setrum seperti di film-film. Minri nyaris menyemburkan tawanya.

Baekhyun menyapa mereka satu per satu sembari menghindar. Nama mereka semua aneh. Pinkies, Bluebble, Yelly, dan sisanya Minri belum bisa menangkap ke dalam memorinya.

Baekhyun tampak kegelian dengan kelakuan manis para peri itu. Apa mereka semua sedang memperebutkan Baekhyun? Apa di Neverland ada hubungan kekasih juga?

Arah pandangan Minri terus mengikuti para peri itu, sampai mereka berjejer di tanah. Sesaat berputar lalu berubah menjadi manusia, seukuran Minri.

Minri merapatkan tubuhnya ke belakang Baekhyun. Tangannya tanpa sadar mencengkram lengan baju Baekhyun. Mereka memang tidak menakutkan, tapi jumlah mereka yang banyak itu membuat Minri merasa seperti akan dikeroyok oleh para bidadari cantik. Ya, cantik.

Dan kalau pertanyaan Minri tadi tentang adanya hubungan kekasih di Neverland… sepertinya jawabannya adalah ya. Ada.

Mereka beralih menatap Minri, membuat Minri terasa diintimidasi. Seperti seorang penjahat yang akan diadili.

Baekhyun… katakan sesuatu… Minri takut.

Baekhyun mengulurkan salah satu lengannya melingkari punggung Minri. Merangkul Minri dengan hangat. Tangannya hangat sungguhan.

“Perkenalkan, dia temanku dari dunia manusia namanya Minri.”

Salah satu peri membulatkan matanya lalu mengayunkan tongkat ke wajah Minri, membuat Minri yakin bahwa sebentar lagi ia akan celaka.

Tapi Baekhyun melindunginya. Melindungi orang yang disayanginya. Menghadapkan tubuhnya pada Minri dan membelakangi para peri itu. Sekarang kedua lengannya melingkari tubuh Minri. Minri sempat melihat cahaya dari tongkat itu sebelum menunduk dalam, membuat kepalanya terbentur dada Baekhyun. Lalu mendengar Baekhyun meringis.

Meringis karena serangan peri tadi mengenai belakangnya. Hanya serangan kecil bagi Baekhyun karena ia lebih kuat dari para peri itu–tapi cukup membuat punggungnya panas.

“Baek-Byun menyingkir! Dia bukan teman. Kehadirannya adalah ancaman bagi Neverland!!”

Si peri yang berpakaian warna pink berteriak kesal pada Baekhyun. Kalau saja mereka tidak bergerak, Minri mungkin mereka adalah manekin yang biasa berdiri di depan toko-toko. Kulit mereka putih pucat seperti porselen, bibir merah muda dan wajah cantik. Semuanya alami. Minri pikir Baekhyun akan tertarik pada salah satu dari mereka.

Baekhyun kembali ke samping Minri. Hingga sekarang dengan jelas Minri bisa melihat raut wajah tidak suka dari para peri itu.

Apa sebegitu buruknya manusia di depan mereka? Apa manusia hanya ancaman yang merugikan bagi Neverland?

“Aku mohon, jangan ganggu dia. Dia tidak jahat. Dia bukan ingin menghancurkan Neverland. Aku yang mengajaknya kesini. Jadi hargai dia sebagai tamuku.”

Minri menoleh pada Baekhyun yang lagi-lagi melindunginya.

“Baek…” lirih Minri.

Baekhyun semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Minri, membuat gadis itu merasa hangat–lagi–hangat yang bahkan sampai mengalir ke seluruh tubuhnya.

“Tidak bisa! Dia tetap harus dimusnahkan!” teriak si biru berapi-api.

Di…musnahkan?

“Atau kita laporkan saja dia pada Neverlamighty–penguasa Neverland.” Sekarang yang kuning ikut bicara.

Beberapa bergerak ke arah Minri membuat gadis itu melangkah mundur dengan tangan yang masih bertautan dengan Baekhyun. Dan Baekhyun juga bingung harus melakukan apa. Kalau dia menyakiti para peri itu, dia pasti kena hukum. Jadi Baekhyun pun ikut melangkah mundur, berharap mereka bisa melarikan diri.

Baek… Minri ingin pulang.

Minri menjerit dalam hati. Wajahnya sudah pucat. Dan kehangatan dari tangan Baekhyun tidak mampu lagi membuatnya hangat, karena sekarang tangannya berkeringat dingin.

“Tunggu dulu!!”

Semua makhluk yang ada disana menoleh ke sumber suara. Ada satu makhluk baru lagi. Rambut blonde di gulung tinggi, pakaian warna hijau yang tampak seperti daun, serta sayap perak keabuan. Penampilannya tidak asing. Dia salah satu karakter kartun yang sering Minri tonton. Dia…

“Tink…” ucap Baekhyun pelan.

Ya, Tinkerbell. Sahabat baik Peterpan.

“Peterbaek tidak mungkin melakukan hal tanpa pertimbangan. Biarkan dia mengajak makhluk ini berkeliling. Kalau ada hal yang merugikan, Peterbaek pasti bertanggung jawab.”

Apakah dia baru saja membelaku?

“Tapi–”

“Pergilah…”

“Kalau sampai terjadi apa-apa, kau ikut bertanggung jawab Tink!”

Mereka akhirnya–mungkin–menyerah. Mendengus kesal lantas kembali mengepakkan sayap. Perlahan-lahan berubah lagi menjadi makhluk kecil yang manis, ya walaupun sikap mereka terhadap Minri tidak begitu manis.

Minri, Baekhyun dan Tinkerbell menatap kepergian para peri itu sampai benar-benar menghilang dari jarak pandangan mereka.

Tinkerbell menatap tautan tangan Baekhyun dan Minri dengan kening tajam dan mata menyipit. Mendecak sebal, lalu tiba-tiba memeluk Baekhyun, membuat tautan tangan Minri terlepas begitu saja.

“Peterbaek!! Aku merindukanmu…”

Panas. Sakit.

Benar. Matanya terasa panas melihat kedekatan Baekhyun dan sahabatnya itu. Dadanya terasa baru saja dipukul membuatnya hampir terkena serangan jantung.

Oh tidak! Minri harusnya berterimakasih pada Tinkerbell karena telah menyelamatkannya. Tapi Minri sadar akan sesuatu. Bahwa Tink tidak akan bersikap ramah padanya. karena Minri menyadari bahwa Tink tidak ingin Baekhyun dekat-dekat dengan wanita manapun.

“Tink! Aku juga merindukanmu, tapi lepas dulu, kau membuatku sesak.” Ucap Baekhyun sambil berusaha melepaskan pelukan yang terlalu erat dari peri hijau itu.

Dengan wajah yang tidak rela Tink melepaskan pelukannya. Lalu Baekhyun menarik Minri ke sampingnya lagi.

“Perkenalkan–”

“Aku sudah tahu. Ayo pulang! Aku baru saja memperbarui rumah pohonmu.”

Tink memotong ucapan Baekhyun dengan cepat. Lantas menarik tangan Baekhyun. Membawa laki-laki itu terbang rendah. Sepertinya kali ini Baekhyun tidak bisa menolak lagi. Baekhyun sempat berbalik pada Minri, melemparkan tatapan menyesalnya lalu melemparkan sesuatu seperti buah cherry dan kertas. Dan laki-laki itu benar-benar pergi, meninggalkan Minri di tengah hutan yang asing. Kemungkinan ada bahaya dimana-mana.

‘Ikuti jejak buah cherry maka kau akan menemukan rumah pohon Peterbaek.’

“Jadi sekarang aku harus berjalan kaki sendiri? Bagaimana kalau aku tersesat? Bagaimana kalau ada monster? Ck!

*** TBC ***

Yuhuu!! Sampe Neverland :3 bagaimana kisah petualangan Minri di negeri fantasi tersebut? Nantikan lanjutannya ‘-‘v hehee.. ditunggu komennya :3

(part 4 : last part)

56 thoughts on “Story Of Peterbaek – Part 3

  1. kasihannnn ><
    sempet ngakak geli wktu bayangin tinkerbell yg di tv tv itu gandengan sama baekhyun xD hahahha… tpi ini daebakk thor!!!

    next🙂

  2. Ping-balik: Story Of Peterbaek – Part 4 (End) | EXO Fanfiction World

  3. anyeong, waa daebak ,
    penasaran apa minri akan membocorkan rahasia itu pada sehun? ohh tidak takutnya sehun jadi ember,kekeke

    semangat untuk terus berkarya(nulis ff)
    @_@

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s