Posted in Baek Hyun, Chan Yeol, Chapter, Chen, Comedy, D.O, EXO-K, EXO-M, friendship, Kai, Kris, Lay, Lu Han, Romance, Se Hun, Suho, TAO, tiramizhu, Xiu Min

Be Idol-Chapter 6: First Day in Jeju

|| Author: Han Yoo Na & Seo Yuri ||

|| Main Cast: ♪ Lee Ji Hyun  (OC) || ♪ Jang Gyu Ri (OC) || ♪ Kim Chae Ri (OC)|| ♪ EXO members||

|| ♪ Other Cast ||

|| Genre: Romance, Friendship, Comedy(gak yakin juga nih), Absurd ||

|| Lenght: Chapter || Rating: General ||

Disclaimer : This fiction based on my imagination. Everyone have their own imagination and also have their own way to apply it. So, don’t ever BASHING!!! This Fiction is MINE. Don’t COPY PASTE it without my PERMISSION!!!

Disclaimer(again??): OC punya author! EXO dkk punya SM, punya dirinya sendiri, dan punya emak bapaknya *ya iyalah* Ingat, karakter para cast di ff ini cuma REKAYASA AUTHOR BELAKA!! So don’t take it seriously ok?? ^^

Warning: Typo, gaje

Cerita Sebelumnya

Sebelumnya di Part 5, van Suho didatangi sama 2 motor bebek yang berisi 3 ekor (manusia apa hewan?) manusia (oh, manusia) yang tingkat ke absurd-annya masih diragukan. Apakah akan melebihi main cast kita? Ataukah mereka lebih waras sedikit? Tapi kayaknya sih gak mungkin ngelebihin, setara sih mungkin iya. Eniwei, daripada banyak bacot lagi. Mari kita samperin langsung ke TKP. Ngomong-ngomong ini mau opening FF atau opening acara OVJ ya?

Abaikan saja~

***

Si helm yang udah gak pakai helm setengah berbalik, lalu secara dramatis dia bilang, “Kalau mau lewat, langkahi dulu kami.”

Eehh, buset. Ini maksudnya ngajak perang ya? Kira-kira itulah arti tatapan yahud Chen ke Chaeri yang bikin Chaeri malu-malu kucing. Salting gitu deh~

Sementara Jihyun geleng-geleng dan menggunakan kesempatan emas ini buat deket-deket ke Suho terus dia pura-pura sembunyi dibelakang Suho. Alasannya sih, “Oppa, atut.” Padahal sebenarnya cuma alibinya doang. Ingat. Ini cuma ALIBI. *kamera zoom in zoom out* *hidung kembang kempis* Biasa, ini yang dinamakan mencari kesempatan didalam ancaman. Dan kalau mau berguru silahkan hubungi Jihyun. Tapi author gak tanggung ya kalau ntar habis pulang berguru sama Jihyun, gilanya Jihyun nular. Iihh~

“Lu kira penyakit, thor? Bisa nular.”

Ya siapa tau aja kan. Kan selain gila lu juga kena rabies. Lah? Apa hubungannya ya?

Sedangkan Chanyeol tenggelam dengan dunianya sama Sora, mereka berdua malah saling gombal-gembalan. Hobi banget ya sama yang gembel-gembelan. Author jadi ingat masa lalu. Eehh?

“Bapak lu tukang malakin orang, ya?”

“Kok tau sih?”

“Soalnya, lu udah malakin hati gua.”

Cihhh~ Gombal-gembelnya kagak kreatif banget. Masa yang ditanyain bapak mulu, sekali-kali kek nanyain tetangga, ato nanyain author gitu biar author senang.

Disampingnya ada Yong Mi yang lagi akting. Lagi, thor? Iya, dia akting lagi. Tapi sekarang bukan pingsan lagi, akting ketakutan aja, kayak yang dilakukan Jihyun loh. Cihhh~ kalian sama saja.

Saeri juga yang biasanya kalem, agak diam gitu, sengaja geser sedikit demi sedikit mendekati Baekhyun. Sekedar pemberitahuan, sejujurnya Saeri ini naksir berat sama Baekhyun. Beratnya ngalahin gajah lagi gendong babi cuyyyy. Menurut Saeri, Baekhyun itu imut kayak marmut. Jadi pas ada kesempatan langka kayak gini, dia gak mau ketinggalan. Emangnya cuma Sora dan Yong Mi yang bisa curi-curi kesempatan? Gua juga bisa.

Kalau Gyuri? Itu anak menghilang bak ditelan mulut buaya, perasaan sedetik yang lalu Kris masih liat Gyuri berdiri tepat dibelakangnya sambil ngedumel gak jelas, kok sekarang tak berwujud gini ya? Jangan-jangan yang tadi berdiri dibelakang Kris itu bukan Gyuri, jangan-jangan itu mahluk halus yang lagi menjelma jadi Gyuri. Jangan-jangan—

“STOP, gua disini thor, disisi van yang lain. Cukup narasi berlebihannya. Sekarang giliran gua yang beraksi.” Serah lu lah, Gyu. Serah lu. Bebas mah.

Si helm yang sekarang tak berhelm—eehh, ribet amet ngomongnya ya. Manggil nama aja napa. Eehh, helm, nama lu siapa?

“Ntar, thor. Bentar juga bakal aku kenalin. Sabar.”

Oke, sippp. Di tunggu ya. Jangan lama-lama.

Pokoknya si helm yang gak pakai helm lagi akhirnya berbalik dengan sempurna. Tepat ketika ia berbalik dan tersenyum penuh arti, sepatu berwarna pink-pink bin unyu melayang tepat mengenai wajahnya. Seolah-olah sengaja di set slow motion, lagu cinta satu malam yang tadi di request Chaeri terdengar lalu si coklat dan si hitam membuka mulutnya dengan lebar kemudian berteriak seperti tante-tante yang kemalingan dipasar malam.

“Aaahhhhh—MAMPUS.” Awalnya sih enak, akhirnya bikin ngenes. Nyesek. Teman dilemparin sepatu bukannya ditolongin malah diteriakin mampus. Udah gitu ketawanya kenceng banget.

Si helm yang udah gak pakai helm pun tetap berusaha stay cool  sambil niupin poninya yang sedikit kotor. Padahal dalem hati udah nangis kejer-kejer pengen cekek dua temannya yang tak setia kawan itu. Terus dia senyum dikit yang bikin cewe dibalik semak-semak tiba-tiba berteriak lalu berlari. Author speechless. Itu cewek ngapain disemak-semak? Ngintip? Ternyata sejak tadi ada yang ngintipin mereka. Pantesan perasaan author daritadi gak enak. Ternyata ada cast gelap, tukang intip, imigran gelap, penyu—

Thor. Udah, lanjut aja napa.

Oke, lanjut.

“Ada yang ngelunjak ternyata.”  Tangannya diusap-usap kewajah, sementara matanya mensortir satu per satu muka makhluk gaib dihadapannya.

Tak ada yang mencurigakan. Siapa sih yang rela ngelemparin muka aku pakai sepatu. Tega amet sih. Aku nangis nih.

Lah? Masa gitu aja nangis sih?

“Udah thor. Lu diam aja. Bentar lagi dialog gua.” -.- Serah lu, Gyu. Serah lu.

Si helm yang gak pakai helm lagi pun berjongkok lalu ngambil sepatu yang jatuh didepannya, setelah itu dia senyum lagi, terus bilang, “Siapa pemilik sepatu ini?” tanyanya pelan sambil berdiri terus nunjukin sepatunya. Udah gitu dengan oonnya dia cium tuh sepatu. Katanya sih pengen ngelacak bau si pelempar. Lu kira anjing? Sadar woiiii, lu bukan anjing. Lu tuh si helm.

“Aku manusia, thor. Manusia bukan helm.” Author pura-pura gak denger. Lanjut!

Tak ada jawaban. Semua masih diam. Akhirnya si helm (yang ngakunya manusia) kembali berkata dengan keras, “INI PUNYA SIAPA?” kamera zoom in zoom out seakan-akan mukanya ganteng. Cihhh~ tapi emang ganteng sih. Sayang dia helm. *Aku manusia author*

“Aku.” Ada suara yang mengaku. Tapi siapa? Suho gerak-gerakin kepalanya coba buat cari sumber suara. Tapi gagal, nasibnya sebagai orang kaya yang pendek ngebuat dia gak bisa nemuin suara misterius itu. Betewe, Suho kan kaya. Kok gak beli obat peninggi badan aja sih?

“Kagak bisa, thor. Itu sudah kodratnya.” Author mangut-mangut seakan ngerti, padahal dalem hati nanya, ‘Kodrat itu apa ya?’ tapi eniwei, yang sabar ya, Suho. Semua akan indah pada waktunya.

Chanyeol tak mau ketinggalan. Anak itu mana mau ketinggalan coba? Orang kelahi ditepi sungai aja dia ikutan. Ikutan nonton maksudnya, sekalian bantu sorakin juga. Ampe bantu nyeburin orang ke kolam aja pernah. Gak tau deh tu anak maunya apa. Mata belonya yang mampu nyaingin mata DO *DO: kok gua?* melihat satu persatu orang, sampai dia ngeliat ada satu orang yang mencurigakan.

Sepatu pink terus sepatunya tinggal satu. Pasti dia. Akhirnya dia menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit yang tanpa sadar diikuti oleh orang disampingnya. Ceritanya ngompakin gitu, tapi kok jatuhnya kayak anak TK yang baru belajar baris-berbaris, ya? Author bingung. Jangan-jangan mereka ini anak TK yang bertubuh jumbo kali ya?

“Serah lu, thor. Serah lu. Gua kagak peduli. Yang penting nih ya, GILIRAN GUA KAPAN???” Ya ampun Gyu, santai aja napa. Tuh, mereka udah ngebentuk jalan kok buat lu. Tenang aja. Mulai sekarang author nyerahin segala penderitaan main cast FF ini ke lu.

#GR: amit-amit, amit-amit*

Si helm yang udah gak pakai helm itu langsung ngebulatin matanya seakan-akan bisa ngalahin DO *DO: gua lagi?* terus tangannya terangkat nunjuk Gyuri lalu dia ngomong, “Kamu…”

Sementara Gyuri melipat tangannya didepan dada dan tersenyum sinis. Sedangkan yang lain secara ajaib memisahkan diri diujung maut dan berdiskusi.

“Mereka bakal kelahi?”

“Gak mungkin lah Lay. Masa iya, cowok lawan cewek.”

“Tapi Xiumin hyung, Gyuri kan kuat. Dia aja pernah ngalahin gua.”

“Itu sih lu yang cari masalah, Sehun.”

“Tapi Kris ge, coba liat deh. Mata cowok itu ngeri. Bulat gitu kayak mata DO.”

“Eehh, kok mata gua dibawa-bawa sih? Nyari masalah ya lu Chen?”

“Gyuri emang kuat, tapi masa iya dia berani lawan 3 cowok sekaligus.”

“Bener tuh Eonnie, gua setuju.”

“Gua juga setuju sama Jihyun.”

“Eehh, Baek. Ngapain lu ikut-ikut Chaeri?”

“Udah-udah, jangan kelahi dong.”

“Benar kata Luhan, mending kita liat aja apa yang bakal terjadi.”

“Terus kalau mereka beneran kelahi, kita harus ngelerai.”

“Kok gak diliatin aja sih Luhan ge? Kan Seru.”

“Kai -.-“

Akhirnya setelah diskusi tak penting, mereka pun memutuskan untuk kembali fokus pada Gyuri dengan 3 cowok misterius dihadapan mereka.

Keduanya masih bersitengang. Gyuri masih seyum sinis, sementara si helm tak berhelm itu masih aja nunjuk-nunjuk Gyuri sambil liat-liatan sama 2 temannya.

“Psst~ Eonnie, kalau mereka beneran kelahi gimana?” bisik Chaeri khawatir sedangkan Jihyun menggeleng pasrah. Sekedar pemberitahuan, Jihyun pasrah bukan gara-gara Gyuri yang kelihatan mau kelahi. Tapi dia pasrah gara-gara gak bisa deket sama Suho. Ceritanya pas mereka geser ke kiri, dia kepisah gitu sama Suho, terus dengan tak tau diri, Chanyeol berdiri didepan Jihyun, memblokir jalannya buat pedekate sama Suho. Akhirnya Jihyun galau.

Si helm itu masih menunjuk Gyuri dengan sebelah tangan, sementara Gyuri berkata, “Oraemanitta…” dengan aksen Busan yang kental. Kok Busan? Mana author tau. Nanya aja sama Gyuri.

2 teman si helm pun memutuskan untuk berjalan menghampiri si helm lalu menepuk pundaknya pelan. “Kau senang? Dia benar-benar kembali.” Ujar si hitam. Sementara si coklat hanya tersenyum kecil.

Lalu si helm itu pun berjalan mendekati Gyuri dengan perlahan, sedangkan Gyuri kembali berkata, “Kau sama sekali tak berubah, Jang Gyu Bin.”

Senyum si helm yang dipanggil Jang Gyu Bin oleh Gyuri pun merekah. Ia kemudian berlari cepat lalu memeluk Gyuri erat sementara mulutnya berkata, “Noona.”

Sedangkan Suho dkk hanya bisa cengo melihat pemandangan langka didepannya. Mereka gak peduli lagi tadi Gyuri ngomongnya pakai aku-kamu, mereka gak heboh minta ditraktir sama Gyuri. Bahkan Jihyun berkata dalam hati, ‘Gua pasti lagi mimpi.’

Singkat cerita ternyata Gyubin adalah adik kembaran Gyuri. Dan Gyubin ini juga ternyata adalah JG yang sempat jadi bahan perbincangan antara Jihyun sama Chaeri.

“Kecewa gua. Padahal kan ceritanya mau minta PJ.” Jihyun monyongin mulutnya yang makin ngebuat dia mirip kodok, sementara Chaeri menggeleng pelan dan berkata, “Jangan kecewa dulu Eonnie, kan masih ada Seung Won. Siapa tau itu yang pacar Gyuri Eonnie.”

“Bener juga. Aduh, kalau urusan beginian aja lu pintar ya, Ri.” Jihyun berkata seolah dirinya paling pinter, padahal nih ya, biangnya ke oonan kan dia. *JH: ehem*

“Gyu, kok lu gak pernah kasih tau ke kita sih kalau lu punya kembaran?” Tanya Kai penasaran. Sementara yang lain mendekat kearah Gyuri meminta penjelasan.

“Emangnya penting ya buat diomongin?” Ujar Gyuri selo kayak dipantai sementara matanya terus menerus natap 3 orang idiot yang sekarang berhaha-hehe ria. Kesambet kali, ya?

Park Jiho, Lee Chi Hoon, Park Tae Jun aka Jang Gyubin

“Woiiii, Noona gua pulang woiiiii… Noona gua pulang.” Ujar Gyubin senang pakai acara goncang-goncang badan si coklat yang setelah diusut namanya Lee Chi Hoon. Terus sebelah tangannya menabok bahu si hitam yang namanya gak lebih hitam dari Park Ji Ho.

“Adik lu kayaknya seneng banget ya. Ampe ngerusuh kayak gitu.” Ujar Chanyeol yang secara ajaib muncul dihadapan Gyuri. Gyuri bingung, tadi nih orang nyebelin tingkat akut. Sekarang tiba-tiba nongol terus nyengir lebar. Dikira giginya bagus apa.

Eeehh, Gyuri, giginya emang bagus.

“Gua tau, thor.”

Pokoknya Gyuri makin galau. Padahal dia gak mau ngeliat muka Chanyeol dulu. Setidaknya dia mau nenangin perasaannya dulu. Cieee~ Gyuri galau.

“Diam lu, thor.”

Gyuri kalau galau jadi jelek deh. Makin mirip sama monster. *GR: ehem* akhirnya cengiran Chanyeol yang udah aduhai silau mamen dibalas Gyuri dengan kejutekan ala preman kelas ikan asin.

“Bukan urusan lu.”

Chanyeol terpaku. Dia masih nyengir. Tapi beneran dia terdiam, dia bahkan lupa bernafas selama beberapa detik.(Ah~ lebay) Dia kan niatnya baik nih. Cuman mau ikut nimbrung soalnya mulutnya gatal mau ngomong. Lah? Kok Gyuri malah sewot? Salahnya apa coba? Terus kenapa tiba-tiba ada angin sepoi-sepoi yang datang terus mendramatisir keadaan kayak gini? Kan biasa dipilem kartun paporit author, kalau ada yang terpaku sering keluar angin (maksud lu kentut?) sepoi-sepoi gitu. Katanya sih biar feel-nya dapet. Tapi kok bisa pas banget ya anginnya muncul pas Chanyeol terpaku? Ini bukan kartun, kan?

Setelah dicek, ternyata kakek-kakek gaul yang tadi buka lagu beralih profesi sebagai jasa kipas-kipasan. Good job, kek. Gua suka gaya lu.

Si kakek nyengir terus nampilin giginya yang menguning. Kayaknya si kakek lupa caranya gosok gigi. Ya sudah, abaikan saja si kakek dengan gigi kuningnya. Ngomong-ngomong itu seriusan kuning beneran? Itu bukan emas ya? (thor…)

“Widih~ enak ya punya kembaran. Gua juga pengen tuh punya kembaran.” Kata Baekhyun yang sebenarnya bermaksud menarik perhatian Chaeri yang berdiri disamping. Tapi tiba-tiba Chanyeol malah ikut nimbrung setelah dijutekin sama Gyuri.

“Lu kan emang punya kembaran, Baek.” Ujarnya sok tau sementara Baekhyun mengernyit heran. Heran gua, masa iya gua gak tau gua punya kembaran. Terus kok dia tau gua punya kembaran.

Penasaran. Akhirnya Baekhyun bilang, “Siapa kembaran gua?”

Chanyeol tersenyum penuh arti terus nunjuk dirinya sendiri. Maksudnya kembaran Baekhyun itu lu, Yeol?

“Widih~ najis punya kembaran kayak lu.” Baekhyun sadis ya. Terlalu sadis caramu~

“Lu lupa? Dulu kan semua pada bilang kita kembar.”

“Eehh? Seriusan? Kok gua gak tau?”

“Ingat-ingat deh, dulukan pas kita lagi di kereta, kita main-main ampe mukul-mukul gitu.” Chanyeol mulai bercerita, sedangkan Baekhyun hanya angguk-angguk lalu nambahin “terus” diakhir kalimat.

“Waktu itu gua berdiri, terus lu dorong gua ampe pantat gua nempel sama jendela. Terus muka lu muncul di jendela sebelah. Semua orang di kereta langsung bilang kita kembar woiiiii. Ingat kagak?”

Whut? Jadi maksud lu kembaran Baekhyun itu pan—

“Jangan dibilang, thor.”

—tat. Oppzzz, ampun Baek. Lu telat si interupsinya, keceplosan deh.

Baekhyun keki. Udah tadi dia cemburu liat kedekatan Chen sama Chaeri, terus sekarang dikecengin ama sohibnya, malah semuanya ngakak lagi. Akhirnya dia langsung jalan kearah van dan duduk didalam. Gak mau keluar lagi. Baekhyun murka.

Sementara Gyuri hampirin Gyubin dkk terus suruh mereka nuntun jalan van Suho ke resort. Awalnya Gyubin gak mau, tapi begitu Gyuri dijadiin sandera, akhirnya dia mau. Maksud sandera disini itu, Gyuri harus ikut mereka naik motor bebek. Biasa, katanya udah kangen, jadi gak boleh jauh-jauh. Cihhh~

Singkat cerita akhirnya mereka sampai diresort kecil Gyuri didekat pantai. Segala ‘wow’, ‘wih’, ‘wos-wes’ pun diutarakan begitu mereka masuk kedalamnya.

Bangunannya masih ala-ala tradisional. Nilai sejarahnya masih tinggi, arsitekturnya juga bagus, sayang tempatnya kecil terus sinar matahari susah didapatkan, soalnya bulan kemarin diseberang sana buka resort besar yang menjulang tinggi kayak KrisYeol. Akhirnya, resort mini keluarga Gyuri agak gelap gitu. Gelap-gelapan ya. Iiihh~ serem dong kalau malam.

Disamping resort juga ada peternakan yang isinya domba semua.

“Gyu, kok lu gak bilang sih kalau lu melihara domba.” Tanya Jihyun yang diangguk-anggukin sama Chaeri.

“Ga penting.” Singkat, padat, dan yang jelas bikin nyesek. Kayaknya Gyuri masih belum sembuh dari syndrome ke bad mood-annya, makanya dia jadi sensi banget. Dimaklumi ya.

Gyubin lari mendekati Gyuri, lalu dia gandeng tangan Gyuri terus lari lagi ninggalin Jihyun sama Chaeri yang masih ada di kandang domba. Sementara yang lain mencar. Ada yang keliling resort, ada yang liat-liat domba bareng Jihyun sama Chaeri terus lari lagi gak tau kemana, ada yang main pentak umpat. Terus ada juga Tao yang sekarang sibuk jalan-jalan sendirian dipantai. *Uhukpandauhukjalanuhuksendirianuhukdipantaiuhuk*

Noona, Seung Won pulang.” Ujar Gyubin sok asik pas mereka udah jauh. Sementara Gyuri kelihatan gak senang. Seung Won itu siapa sih, Gyu?

“Lu serius mau tau, thor?”

Ho’oh.

“Kepo lu.”

Gyuri emang lagi sensi. 1 pelajaran untuk semua orang, jikalau Gyuri lagi sensi, jangan diganggu. Kalau tetap diganggu, itu sama saja artinya dengan mencari uang dikandang buaya.

Disisi lain, para cowo yang tiba-tiba berkumpul (minus Tao yang lagi dipantai) plus GU secara ajaib disambut sama seorang tante-tante cantik yang kalau senyum silau cuyyy.

Diliat dari tampangnya sih kayaknya ini orang yang punya tempat deh. Berarti emaknya Gyuri dong? Kok gak mirip? Gak mirip gimana, thor?

Ya gak mirip. Gyuri kan masem mulu tuh, ini kok emaknya senyum-senyum? Gak salah masuk rumah, kan?

“Selamat datang.” Ujar tante-tante itu bersahabat, sementara yang lain cuma bisa membungkuk hormat sambil senyum kikuk. Mereka saling lirik seakan-akan sedang berbicara lewat mata. Lirikan matamu~

Itu siapa?

Gua kagak tau, Xiumin hyung.

Gua sama kayak Lay, gua juga kagak tau.

Manusia bukan?

Ya manusia lah, Chen. Masa jin.

Oppa, takut.

Jangan takut Sora. Ada oppa disini.

Eehh, tolongin gua. Ada yang pingsan disini.

Biarin aja, disiram pakai air juga pasti bakal bangun.

Eehh, Saeri kejam amet sih.

Tapi ciyus, itu siapa?

Kris ge, jangan tarik-tarik celana gua. Hampir melorot nih.

Oppzz, sorry.

Seakan mengerti dengan lirikan maut penuh kebingungan dari 13 manusia absurd dihadapannya, tante-tante itu pun bilang, “Kalian temannya Gyuri, ya? Aku Eomma-nya Gyuri. Tadi Gyubin bilang Gyuri bakal pulang bawa teman.”

Tapi gak sebanyak ini juga kali. Ah elah, ini mah namanya pemerasan. Mau ngerusuh ya? Ujar Eomma Gyuri dalam hati. Ya iyalah dalem hati, mukanya aja masih senyum, mana tega coba Eomma Gyuri ngomong kayak gitu didepan mereka.

Ah elah, kalau kayak gini baru author percaya kalau itu emaknya Gyuri. Mirip, ngomongnya agak sadis.

Tiba-tiba Gyubin sama Gyuri muncul dari balik semak-semak dinding. Dinding? Gyuri sama Gyubin keluar dari dinding? Gimana caranya? Emangnya Gyuri itu jelmaan setan dipilem horor yang author nonton. Yang bisa keluar dari dinding itu loh.

“Jangan lebay, thor. Rumah gua tuh canggih. Walaupun tradisional, tapi canggih. Biar gak ada penyusup, rumah gua banyak perangkapnya. Salah satunya ini.”

Wah~ ciyus? Miapa?

“Kakek gua dulu mantan tentara cuyyy. Ini namanya tak tik main petak umpat. Bangunannya sengaja dibuat pas masa penjajahan Jepang di Indonesia.”

Keren deh resortnya. Betewe itu nama tak tiknya kok kayak nama permainan ya? Jelek amet. Kagak ada yang lebih kreatif? Terus-terus itu apa hubungannya penjajahan di Indonesia sama bangunan kakek Gyuri? Emang sejak kapan Indonesia pindah ke Jeju? Elu lagi mimpi ya, Gyu?

“Nah, itu dia. Gua juga pengen nanya itu dari dulu.”

Tapi eniwei, kapan-kapan author mampir ya.

“Buat lu 100x lipat lebih mahal.”

Ini namanya pemerasan.

Eomma-ya.” Panggil Gyuri pelan dengan aksen Busan yang kental. Lalu seakan-akan disetting kayak cerita dalam drama ketika ibu dan anak yang terpisah setelah sekian tahun akhirnya bertemu, kakek-kakek gaul datang lagi bawa pentungan. Buat apa coba?

“Gua mau numpang eksis.”

Astajim, kirain mau buka musik lagi. Ternyata mau numpang eksis. Cihhh~ abaikan saja.

Gyuri sama Eommanya masih bertatapan lama seakan-akan sedang melepas rindu, mereka semakin dekat, semakin dekat, dekat, dekat dan tiba-tiba Chanyeol berjalan ketengah lalu dengan oonnya dia bertanya, “WC dimana, ya?”

Sementara itu, Jihyun sama Chaeri masih betah dikandang domba. Gak tau deh tuh 2 bocah mau ngapain.

Eonnie masuk yuk.” Ajak Chaeri sambil narik-narik tangan Jihyun. Sementara Jihyun masang pose lagi mikir, “Sabar gua lagi mikir.”

Jihyun, kalau mau mikir milih tempatnya yang lebih strategis dikit dong. Masa mikirnya dikandang domba? Gak ada tempat yang lebih elit apa? Misalnya ikutan Tao jalan-jalan ke pantai kek.

“Bentar, thor. Gua lagi mikir. JG itu Gyubin. Terus Gyubin itu adik Gyuri. Padahal kemarin isi suratnya gombal-gembel semua sampai-sampai kita salah paham.”

Chaeri angguk-angguk kayak lagi didiskotik, terus Jihyun menambahkan, “Terus Seung Won itu siapa? Apa iya dia pacar Gyuri? Kok dia gak pernah ngirim surat? Namanya juga baru muncul sekali. Tapi kok kayaknya si Gyubin heboh banget pas Seung Won pulang. Jadi Seung Won itu siapa?”

Emang penting ya buat dipikirin? Author bingung, Jihyun ini kayaknya hobi banget ngurusin masalah orang lain. Masalah kejiwaannya aja belum beres. Sekarang malah ngurusin Gyuri. Alamak~

“Author diam deh, ini beneran lagi mikir nih.”

Iya deh, author diam. Tapi kalau author diam yang ngelanjutin FF ini siapa?

“Ah iya, ya udah deh, gak usah diam.”

Sementara Jihyun lagi mencoba buat mikir keras tapi jatohnya malah kekerasan dalam rumah  tangga, Chaeri kebosanan setengah hidup. Dia nyerah, dia paling gak bisa disuruh mikir. Daripada sok mikir kayak Jihyun baikan dia cari sesuatu buat ganjal perutnya yang udah ngedemo harga BBM.

Kepalanya gerak-gerak, muter-muter gitu kayak hantu ampe tiba-tiba matanya bertemu dengan seseorang yang kayaknya dia kenal.

“Eehh, eonnie. Lihat deh, itu Gyubin, bukan?”

Jihyun noleh dengan cepat, terus dia angguk-angguk dan narik Chaeri buat hampirin Gyubin. Daripada mikir keras yang jatohnya malah bikin galau, baikan langsung nanya aja ke target sasaran. Ide bagus, Hyun. Gua akui kali ini lu agak pinter.

Tapi aneh. Gyubin yang dilihat Jihyun sama Chaeri agak beda dari Gyubin yang tadi. Yang ini rambutnya ditata agak berantakkan terus warna coklat, kalo yang tadi agak berantakkan juga si ya, tapi warna rambutnya hitam.

Mungkin dia baru bangun tidur. Itu yang dipikirkan Jihyun. Oon emang, mereka baru sampai, masa iya Gyubin langsung tidur terus bangun lagi terus jalan-jalan keluar gitu, terus ini warna rambutnya berubah lohhh, masa iya gara-gara tidur warna rambut bisa berubah gitu. Dasar oon.

“Eehh, Gyubin ya?” sapa Jihyun sok asyik. Sok-sokan aje lu, Hyun. Paling juga mau pedekate lu.

JH: “hehe… keliatan ya thor?”

Suho lu kemanain?

“Ciyusan deh, elu Gyubin, bukan?” ternyata selain gila Jihyun ini punya bakat ngeles kayak bajaj, hmmm mungkin dulu sebenarnya Jihyun mantan supir bajaj.

Jihyun udah nanya buat yang kedua kalinya, tapi orang yang ditanyain cuma nampangin muka bego minta ditabok. Bayangin deh kalo sekarang yang diposisi Jihyun itu Gyuri, author ga yakin tuh orang bakal selamat. Tapi tunggu, masa iya si Gyuri tega sama adiknya sendiri.

“Woiiii, orang nanya itu dijawab, bukan diliatin.” Mana pandangannya bukan ke gua lagi. Itu Jihyun, dengan nasibnya yang ngenes. Di Seoul kasih tak sampainya pada Suho sudah cukup tragis, sekarang di Jeju juga sama. Minta hati buat diperhatiin, yang ada malah dicuekin. Sabar ya, Hyun. Orang sabar jidatnya lebar~

“Woiiiiiiiiiiiiii” teriak Jihyun pakai tangan seolah-olah tangannya itu mic. Jihyun pls, kapan si gila lu sembuh? Heran gua ama lu.

“Udah thor, gua lagi ga mood berantem ama lu, besok aje ya kita kelapangan kampung sebelah.”

“Oke deh, tapi kita ngapain dulu dikampung sebelah?”

“Kita nangkap belut aje gimana?”

“Oke la kalo begitu, lu yang nangkep, author bantu doa. Siip?”

JH: Zzzzz~

“Kamuuuuu” akhirnya setelah 7 hari 7 malam (lebay deh) si orang yang mirip Gyubin buka mulut, tapi anehnya dia bukan jawab pertanyaan Jihyun. Jangan kan jawab, ngeliat aja kayaknya enggak. Yang ada tuh bocah ngeliatin Chaeri yang lagi nyari makanan dijalanan. Pakai acara korek-korek tanah lagi. Sadar Ri, lu itu manusia bukan ayam. Dibilangin kok ga ngerti-ngerti.

Mungkin Gyubin kira Chaeri itu bukan manusia. Mungkin Gyubin kira Chaeri itu anak ayamnya yang dulu pernah ilang. Mungkin, kemungkinan itu selalu ada.

“Seung Won”

Belum sempat Jihyun nanya buat kesekian kalinya, suara gaib seseorang mengacaukan segalanya. Seolah sengaja diset slow motion, Jihyun ngibas rambutnya dengan pelan pas kena muka Gyubin. Ngibas sekali gak cukup buat Jihyun, akhirnya dia ngibas sekitar errr 5 kali mungkin, seolah dia keren. Ciihhhh. Hasilnya rambut Jihyun dipenuhi dengan iler-iler punya Gyubin yang iyuwww~ pokoknya ini yang dinamakan mencari kesialan dibalik kesombongan. Jangan ditiru dirumah ya ^^

Mungkin hari ini bukanlah hari terbaiknya Jihyun, meski tadi enak-enakan pedekate sama Suho, nyatanya kasih Jihyun pada Suho tetap tak tersampaikan. Nyatanya setelah menempuh perjalanan jauh ke Jeju, Jihyun mempermalukan dirinya sendiri dengan nyium kaca mobil dihadapan Suho. Dan sekarang ketika Jihyun noleh, untuk kesekian kalinya, Jihyun mempermalukan dirinya dihadapan orang.

“HUWAAAAAAAAA HANTUUUUUUUU!!!!” teriaknya dengan mata melotot, hidung kembang kempis, kamera zoom in zoom out.

Malu-maluin asli. Tapi bentar, looohhhh, ini apaan? Author gak ganti genre. Ciyusan deh, kok tiba-tiba hantu si? Mentang-mentang author kepikiran buat FF horor. Tapi gak gini juga ceritanya. Jihyun kok lu bisa liat hantu si? Kan author belum ganti genre. Jangan-jangan lu punya six sence ya?

JH: “t-thhorrr, it-itu Gyubin ada 2… Gyubin ada 2… huwaaaa hantu” *JH pingsan*

Ternyata tersangka utama yang ngebuat Jihyun teriak nyaingin high note-nya Chen itu Gyubin yang ada 2. Tunggu bentar. Itu kok Gyubin ada 2? *ikutan noleh*

*nelen ludah* itu yang dibelakang beneran Gyubin. Yang depan juga Gyubin. Gyubin ada 2, kalo yang didepan itu Gyubin, terus yang dibelakang itu…. siapa dong? *author ikutan pingsan*

—oooOoooOooo—

Gyuri duduk dikursi panjang, sebelahnya ada Gyubin terus ada satu lagi yang mirip Gyubin yang dikirain hantu ama Jihyun, yang ampe pingsan itu loh. *author mengingatkan* *JH datang bawa pentungan*

Depannya ada banyak orang, itu beneran banyak lohhh, errrr mungkin ada 17 orang. Bayangin aja ya 17 orang tambah 3 orang itu berarti ada 20 orang disatu ruangan. Sesak ndak tuh?

“Ciyusan deh, Gyu. Sekarang lu jelasin ke kita semua. Ini sebenarnya ada apaan? Kok Jihyun bisa pingsan kayak gini?” Suho nanya selaku orang paling unyu kalau menurut Jihyun yang lagi pingsan. Apa hubungannya coba?

Gyuri kesel, disisi lain dia khawatir sama Jihyun yang tadi pingsan terus abis liat Suho yang ngerawat dia jadi pingsan lagi. Meski pun Gyuri yakin sebenarnya Jihyun udah sadar dan pasti lagi ngelancarin aksi mencuri kesempatan didalam kesesakan, Gyuri tetap aja khawatir, meskipun dia preman, meskipun dia terkesan cuek bebek, Gyuri tetap cewek yang rapuh dan tak berdaya menghadapi segala cobaan yang Tuhan berikan kepadanya (thor…) intinya dia tetap khawatir sama temennya.

Gimana kalo Jihyun ternyata beneran pingsan terus gak bangun-bangun lagi? Kan gawat, ntar kalo Gyuri yang jadi tersangka utamanya gimana?

Rada oon emang, pas kejadian itu kan Gyuri ga disana, gimana ceritanya Gyuri jadi tersangka? Biarlah, sepertinya main cast di epep ini emang oon semua, mungkin hanya author yang agak pintar. Agak loh ya. Yang protes ke laut aje. *nyengir lebar*

“Kok diam sih? Jawab dong.” Sekarang Chanyeol ikutan bersuara. Mau gak mau pun harus mau, akhirnya Gyuri bersuara.

“Errr itu… sebenarnya gua kembaran Sulli, eeehhhh BUKAN BUKAN GUA KEMBARAN KRYSTAL, EEHHH, KOK NASKAHNYA SALAH SIH, INI SEBENARNYA GUA ANAK SIAPA? ”

Ternyata selain galau, sepertinya ada sesuatu yang salah sama otak Gyuri, mungkin kekangenannya terhadap kampung halaman membuat dia jadi gila, atau mungkin ini pengaruh terlalu banyak bergaul sama Jihyun. Ya, mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini.

“Sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya dia itu benar-benar Gyubin *nunjuk Gyubin asli* terus yang ini *nunjuk orang yang mirip Gyubin* namanya Seung Won adik kembaran gua sama Gyubin.”

Jang Seung Won, Jang Gyu Bin

Whut? Lu kembar 3? Seriusan lu, Gyu?” Chen teriak paling heboh berasa baru denger berita kalo Korea utara sama Korea selatan bakal damai, sementara Jihyun yang tadi masih tiduran berasa kayak dirumah sendiri tiba-tiba bangkit dari kubur sambil melotot.

“Santai aja kali. Cihhhh” yaelah, masih sempat aja Gyuri jutekin orang. Oke, ternyata Gyuri emang kembar 3, sosok yang tadi Jihyun kirain hantu adalah Gyubin yang asli *yang rambutnya hitam itu lohhh*, sementara yang satu lagi yang rambutnya warna coklat itu namanya Seung Won. Kesimpulannya nih ya…

“Kalo ini Gyubin *nunjuk Gyubin* terus ini Seung Won *nunjuk Seung Won* selama ini gua gosipin siapa?” Tanya Jihyun yang malah ngebuat orang makin bingung. Nih ya Hyun author bilangin. Lu cuman bergosip sama Chaeri doang, ngapain lu nanya-nanya ke orang lain, mereka gak bakal ngerti lu ngomong apa.

“Oh iya, ya. Chaeri mana? Chaeri mana?”

Chaeri muncul bak pahlawan bertopeng. “Eonnie kenapa?”

“Ini loh, Ri. Ternyata ini yang namanya Seung Won *nunjuk Seung Won*”

“Eehh, kok mirip sama Gyubin? Jadi yang pacarnya Gyuri eonnie itu yang ini ya, eon?” tanya Chaeri dengan oonnya.

Jihyun frustasi, ngomong sama Chaeri justru ngebuat dia makin pusing, berasa mau pingsan lagi dia. Tapi apa daya, ngeliat Suho dihadapannya ngebuat Jihyun cepat-cepat ngurungin niatnya buat pingsan, masa iya dia pingsan dihadapan sang pujangga hati yang aduhai silau mamen. Tengsin gila.

“Ehm… bukan, Ri. Ternyata Seung Won ini juga kembaran Gyuri, makanya mirip sama Gyubin.” Jelas Jihyun rada bete.

Chaeri angguk-angguk berasa lagi didiskotik, “Ooohhh, terus kalo Seung Won juga kembaran Gyuri eonnie, pacarnya Gyuri eonnie siapa dong?”

“Hah? Pacar? Siapa yang punya pacar? Noona punya pacar? Kok ga cerita-cerita si sama Gyubin. Jadi selama ini noona anggap Gyubin apa? Jawab Noona, jawab!” Gyubin lebay dan errr rada alay mungkin. Sepertinya Gyubin ini korban sinetron. -.-

Sekarang semua mata diruangan itu yang tadi merhatiin Jihyun-Chaeri seketika ngeliatin Gyuri lagi. Ya ampun, ini semua gara-gara Chaeri.

“Gyuri punya pacar? Gak salah tuh?”

“Hahaha… bener kata Chen, gak mungkin Gyuri punya pacar. Lagian siapa yang mau sama Gyuri, cewek preman gitu.” Chanyeol ikutan ngatain Gyuri. Mana ketawanya kuat lagi.

Kalau soal ngata-ngatain si Chanyeol mana mau ketinggalan. Biasanya disituasi kayak gini Baek pasti ikutan ngatain Gyuri. Tapi apa daya, kegalauan dan kegundahan hatinya membungkam mulutnya rapat-rapat. Yang bisa Baekhyun lakuin sekarang cuma meratapi nasib one sided love-nya sama Chaeri sambil ngeliatin si doi diam-diam. Sabar ya Baek, author ikut prihatin. Sabar, pasti lu bisa nemuin cewek yang lebih baik dari Chaeri. Sabar ne.

Ternyata gak cuma Baek yang meratapi nasib one sided love-nya, nyatanya Gyuri yang biasanya bengis cuma bisa diam dingata-ngatain sama duo ChanChen.

Sakit emang. Kalau Chen yang ngata-ngatain Gyuri si biasa, tuh anak kapan si gak ngata-ngatain Gyuri, meski udah diancam, Chen tetap aja ngeganggu Gyuri. Mungkin jika suatu saat nanti Chen berhenti ganggu Gyuri, itu artinya ada seseorang yang nyamar jadi Chen, karena Chen gak mungkin melakukan hal itu -.-

Tapi ini beda kasus, ini Chanyeol lohhhh, CHANYEOL PUJAAN HATI GYURI YANG RESE TAPI UNYUNYA MINTA DITABOK.

Gyuri mikir dalam hati, mungkin emang benar sampai kapan pun gak bakal ada cowok yang mau sama dia. Mungkin emang Chanyeol gak tertarik sama sekali sama Gyuri. Mungkin ini emang udah waktunya buat nerima kenyataan kalau sampai kapan pun kisahnya sama Chanyeol gak bakal berakhir bahagia. Tapi apa salah Gyuri memendam perasaan ini? Emangnya salah kalau Gyuri sudah terlanjur sayang sama Chanyeol? Meski Gyuri tau si doi sudah suka sama cewe lain *lirik papan seluncuran Dora* Gyuri gak berharap banyak kok, dia cuma mau suka sama Chanyeol, suka ngeliat Chanyeol ketawa, suka dengerin lawakannya Chanyeol yang meskipun sering dijutekin sama dia. Walaupun Gyuri sering kasar sama Chanyeol, sebenarnya itu cuma alibinya Gyuri aja biar gak ada yang sadar kalau Gyuri suka sama Chanyeol. Dan sepertinya rencana Gyuri berhasil, buktinya sampai sekarang gak ada yang sadar kalau Gyuri suka sama Chanyeol.

“Hahaha~ Gyuri si preman Jeju, kok diam aje si lu? Ga seru tahu kalo lu diam kayak gini.” Itu Chanyeol yang belum puas ngecengin anak orang, belum puas ngebuat Gyuri ngebungkam kayak sekarang.

Gyuri senyum gak kayak biasanya, sampai membuat 17 orang disana + Gyubin dan Seung Won speechless. Belum pernah mereka liat Gyuri kayak gini, tadi diam sekarang tiba-tiba senyum. Emang si ini bukan pertama kalinya Gyuri senyum, tapi rasanya ada yang beda gitu sama senyum Gyuri hari ini, seperti senyum kekecewaan.

Geurae, aku memang gak punya pacar. Kayak kata Chanyeol sunbae, gak mungkin lah ada cowok yang mau sama aku. Gak mungkin dan mungkin… *senyum tanda menyerah* gak bakal ada. Oh ya satu hal lagi, disini ada banyak kamar, kalian bebas pilih kamar kosong, tadi aku sudah kasih tahu eomma. Gyubin, Seung Won kalian kasih tahu mereka ya kamarnya dimana-mana aja.”

Setelah itu Gyuri bangkit dari duduknya terus jalan kearah pintu. Semua orang disana masih aja kebingungan, mereka benar-bener gak ngerti. Sebenarnya Gyuri kenapa? Kok jadi aneh gini? Gyuri emang absurd, itu rahasia umum tapi gak kayak gini juga kali.

Tiba-tiba Gyuri berhenti jalan terus tanpa balik dia bilang, “Kami dari Busan, jadi ngomongnya lebih sering pakai aksen Busan. Kalau dirumah aku gak bisa pakai bahasa lu-gua. Kalau aku pakai bahasa itu, bisa disuruh puasa sama appa. Jadi jangan salahkan aku kalo aku ngomong pakai aku-kamu. Jangan minta traktir atau apapun. Dan juga… *senyum dikit* jangan ganggu aku hari ini. Selamat bersenang-senang.”

Sungguh demi apapun didunia, Jihyun gak suka Gyuri yang kayak gini. Gyuri yang jadi banyak ngomong tapi absurd pake banget. Terus apa tadi Gyuri bilang? Jangan ganggu dia? Terus gimana nasib Jihyun sama Chaeri? Masa iya mereka harus bagi kamar sama GU? Kan ceritanya Jihyun-Chaeri mau merasakan yang namanya tidur dikamar Gyuri. Kalo sudah kayak gini, gimana ceritanya? Gyuri-ah, sebenarnya lu kenapa?

—oooOoooOooo—

“Si Gyuri kenapa sih? Kesambet kali, ya?” author heran, dari sebelum berangkat sampai udah sampai pun Chen selalu bilang kalau Gyuri kesambet. Emangnya ga ada bahasa yang lebih bagus ya daripada kesambet? Kesetanan kek?

“Gak tahu, gua juga bingung. Tapi kok gua jadi berasa bersalah, ya? Tadi kan pas ngomong dia ngungkit-ngungkit nama gua. Aduh kok jadi kayak gini sih? Padahal kan lu juga ikutan, kok cuma nama gua yang disebut? Apa omongan gua terlalu menyakiti hatinya kali, ya?” itu Chanyeol yang akhirnya sadar kalau dia sudah salah. Makanya Yeol, lain kali kalau mau ngatain orang liat sikon dulu, jangan langsung nancap gas aje.

Gak jauh dari sana ada Gyubin yang lagi nganterin anak-anak cowo melihat-lihat kamar, sementara Seung Won kebagian anterin anak-anak cewe. Alasannya si, “Aku mau memastikan sesuatu dulu.” Gak tahu deh itu omongan maksudnya apaan, memastikan sesuatu kok harus anterin anak-anak cewe? Jangan-jangan Seung Won naksir salah satu dari anak-anak cewek kali ya?

“Pokoknya nanti elu harus minta maap sama si Gyuri, gua gak mau tahu. Eeehhh, bentar-bentar, kok tinggal kita bertiga sama Gyuri ver cowo?” Chen lihat kebelakang, baru nyadar kalo temen-temennya udah hilang bak ditelan bumi. Sekarang disana cuman tinggal dia, Chanyeol, Baekhyun sama Gyubin. Author makin heran sama Chen. Selain suka bilang Gyuri kesambet, dia juga gak tau diri. Padahal yang paling sering ngecengin Gyuri kan dia, tapi dia sendiri gak pernah minta maap sama Gyuri. Sekali kena Chanyeol langsung disuruh minta maap. Ampun deh~ sebenarnya mau lu apa si Chen? Mau author cium baru bisa puas? O.o

“Semuanya sudah kebagian kamar, tinggal kita aja. Lu si daritadi ngomong mulu. Udah ah, gua mau disini aja.” Ujar Baek agak males. Begitu matanya menangkap ada satu kamar yang masih kosong. Dia langsung masuk kedalam, nutup pintu terus mengabaikan Chanyeol yang udah ketuk-ketuk pintu, ngerengek biar bisa sekamar sama Baekhyun.

“Baek, buka pintunya, katanya mau sekamar. Katanya nanti kita mau main monopoli sambil colek-colekan muka. Ini kok main tinggal aja sih? Ah payah, Baek kenapa si Chen, kok hari ini juga ane—lho? Chen mana? Kok ilang? Kenapa semua ilang?” tanya Chanyeol frustasi begitu cuman melihat Gyubin didepannya. Cuma Gyubin dan Chen hilang. Jangan-jangan Chen itu ninja bisa hilang, atau dia itu ternyata keturunan Harry Potter yang bisa menggunakan sihir lalu hilang pakai gas penghilang. Lho? Itu Spongebob apa Harry Potter? Entahlah, author juga bingung sendiri.

“Errr… Temanmu yang tadi ngomong udah masuk ke kamar disebelah kanan. Sekarang tinggal kamu aja. Kamu mau dikamar yang mana? Cuma tinggal 2 kamar dilantai ini. Mau yang mana?” tanya Gyubin sopan, tapi mendengar kata-kata aku-kamunya Gyubin membuat Chanyeol nahan diri buat gak minta Gyubin traktir.

Apa daya, telingannya yang lebar sudah terlanjur sensitif sama kata-kata aku-kamu, jadi setiap kali ada yang ngomong pakai aku-kamu, radarnya langsung berfungsi. Bahkan nih ya, anak-anak ditengah jalan yang ngomong pakai aku-kamu aja langsung disamperin sama Chanyeol terus minta traktir deh. Itu anak kecil loh… anak kecil. Untung aja eomma anak itu datang, akhirnya rencana Yeol minta ditraktir gagal deh.

“Oohhh, kalo gitu ak—eehh gua yang disini aja deh. Hehe…”

Gyubin angguk-angguk, terus bukain pintu, setelah Chanyeol masuk kedalam, Gyubin pergi. Kamarnya lumayan luas buat satu orang, meski dari luar resort ini masih gaya-gaya tradisional, ternyata diluar dugaan dalamnya gak kayak gitu. Ruangan ini didominasi sama cat putih, terus ada jendela besar yang langsung tertuju sama pantai. Bener deh demi apapun, pemandangannya bagus banget.

Baru aja Yeol mau rebahan dikasur, tiba-tiba ada yang ketuk pintu terus muncul muka Gyubin dibalik pintu.

“Eeehh, itu… malam ini bisa gak aku tidur disini?”

—oooOoooOooo—

Eoonie serius mau tidur disini?” tanya Chaeri begitu masuk ke kamar besar yang didominasi warna kuning kemasan. Bukannya Chaeri takut sama warna kuning, dia gak mules atau jadi pengen muntah kok gara-gara lihat warna kuning. Hanya saja Chaeri yang meskipun agak –maaf sebelumnya- bloon masih ada sisi positifnya. Chaeri cukup baik, cukup berpikir panjang untuk gak merepotkan orang lain, sebut saja bunga, eehh, maksudnya Seung Won yang rela mengorbankan kamarnya gara-gara Gyuri gak mau bagi kamarnya buat duo HyunRi. Lagipula, kamar buat anak-anak cewe udah abis dipakai sama GU yang sok-sokan tidur sendiri-sendiri.

“Palingan juga nanti jadi kumpul di kamar Sora lalu mulai ngegosipin orang deh.” Itu yang diomongin sama Jihyun pas Saeri merebut kamarnya.

Jihyun pribadi sih ogah satu kamar sama GU, jadi daripada mikirin Saeri yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamar yang seharusnya punya Jihyun-Chaeri ataupun mikirin Gyuri yang masih gak mau diganggu, mending dia tidur dikamar Seung Won aja lah. Lumayan, kamarnya gede cuyyyy.

“Serius dong, lagian dianya gak merasa keberatan. Bener gak, Seung Won?” tanya Jihyun sama Seung Won yang entah kenapa sedari tadi pandangannya ke arah Chaeri mulu. Jangan-jangan Seung Won ini naksir sama Chaeri kali ya. Eccciiieee Chaeri ada yang naksir niee *cuit-cuit* Ah, enaknya jadi Chaeri, udah ngebuat anak orang galau *lirik Baek* sekarang di Jeju malah ada yang suka sama dia lagi.

“Iya gapapa kok. Santai aja lagi. Nanti aku bisa tidur dikamar Gyubin. Selamat bersenang-senang ya, anggap aja kamar sendiri. Eehh, ngomong-ngomong nama kamu siapa, ya?” tanya Seung Won sama Chaeri yang masih cengo liat kamar Seung Won.

Wajar aja sih kalau Chaeri cengo. Jangankan Chaeri, Jihyun aja ikutan cengo. Bayangin aja ya, kamar ini dicat pakai warna kuning keemasan, terus didalamnya banyak banget barang-barang antik, keliatan berkelas banget. Ada lemari besar, TV besar dengan layar tipis, AC, terus banyak lagi deh. Gak nyangka, ternyata ada kamar yang sebegitu bagus di resort yang sebenarnya cukup kecil ini.

Chaeri jadi penasaran sama kamar Gyuri, kamar adiknya aja WOW kayak gini, kira-kira kamar Gyuri kayak gimana, ya? Apa bakal lebih WOW dari ini?

“Hello~ kok diam aja sih?” Seung Won mengibaskan tangannya didepan Chaeri yang membuat Chaeri kaget sampai mundur beberapa langkah dengan mulut ternganga. Untung aja disana gak ada nyamuk. Kalau ada kan bahaya, bisa-bisa nyamuknya kira mulut Chaeri itu sarangnya -.-

Seung Won cuma bisa senyum melihat kelakuan Chaeri yang menurut dia gemesin kayak permen kapas. Eeerrr, author jadi kepingin deh. Eniwei akhirnya setelah sejam (lebay) kemudian Chaeri pun jawab, “Oohh, nama gua Kim Chaeri, hehe”

Setelah Seung Won tahu nama Chaeri akhirnya dengan mengabaikan Jihyun yang udah siap-siap memperkenalkan diri cuma bisa senyum terus pamit diri, sementara tiba-tiba kakek gaul secara random muncul bawa kipas angin. Ceritanya mau ngipasin Jihyun yang lagi esmosi. Bayangin aja ya, Jihyun daritadi dicuekin, terus-terus tadi sebenarnya Jihyun udah sok pakai acara membersihkan tenggorokan, ceritanya sih buat mendramatisir keadaan. Tapi kok si Seung Won malah kabur, kesannya kayak Seung Won itu takut sama Jihyun. Panas woiiii, gua dicuekin lagiiiiiii….

—oooOoooOooo—

Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam ketika 19 anak manusia + appa, eomma sama halmonie Gyuri dan pastinya minus Gyuri berkumpul dimeja makan. Sebenarnya gak semuanya di satu meja makan sih. Namanya juga resort, tempat makannya agak mirip restoran kecil gitu jadi banyak mejanya.

Apalah daya ketika perut berucap, namanya juga anak manusia, sekali makan semangat 45, mereka bahkan lupa kalau si pemilik rumah *Gyuri* gak ada disekitar mereka. Yang mereka hebohin bukan masalah Gyuri yang kalo kata Chen si kesambet, atau maksa Chanyeol untuk minta maap, sama kayak yang tadi Chen lakukan pada Chanyeol. Mereka malah heboh siapa makan ini? Siapa makan itu? Siapa makan siapa? Tanpa peduli Gyuri menghilang bak ditelan buaya semenjak kejadian beberapa saat yang lalu.

Baekhyun yang pertama selesai dan langsung pamit ke kamar, sementara suasana ricuh masih mengerubungi ruang makan. Setelah semuanya selesai berebut makanan yang jatohnya kayak anak SD lagi tawuran, mereka balik ke kamar masing-masing buat istirahat. Perjalanan 9 jam dari Seoul benar-benar menguras tenaga mereka. Padahal biasanya jam segini Jihyun masih betah nonton pilem telenovela paporitnya, Chaeri masih diteleponin sama oppa-nya, TaoRis masih main basket, XiuHan main bola sambil diliatin sama Hun, ChanChen paling diwarnet, kalo KaiLay si lagi latihan, DO lagi masak dan Suho yang nyicipin masakannya sementara GU shopping. Tapi berbeda dengan hari ini, mereka yang biasanya hyper jadi gak bersemangat gini. Mungkin tenaganya abis buat rebutan makanan, atau mungkin mereka kekenyangan. Ya, mungkin saja.

Akhirnya malam pertama mereka di Jeju dilewatkan mereka dengan beristirahat dikamar masing-masing. Sementara dikamar lantai bawah tepatnya yang ada dipojok, ada Gyuri yang lagi menghela nafas sambil melihat ke arah pantai. Ngenes… nes… nes… Emang benar kata orang-orang, orang galau suka dipojokan, buktinya Gyuri. Pas banget, suasana hatinya yang lagi gak menentu ditambah posisi kamarnya yang berada dipojokan. Mungkin ini yang dinamakan takdir.

—oooOoooOooo—

“Eehh, elu seriusan mau tidur sama gua? Gua kalo tidur suka nendang lohhh.” tekan Chanyeol sebelum Gyubin tidur disampingnya.

Menelan ludahnya kasar, akhirnya Gyubin jawab, “Gapapa kok, aku tidur juga suka nendang. Hehe”

Chanyeol angguk-angguk terus entah mengapa tiba-tiba pandangannya beralih ke arah Gyubin. Diliatnya Gyubin dari bawah sampai atas, pakai acara angguk-angguk lagi. Lu kira lagi dangdutan?

Rambut disisir rapi, pakai baju tidur bermotif bunga-bunga warna biru sedangkan Chanyeol sendiri pakai baju kaos tanpa lengan, rambut juga acak-acaan. Pokoknya mereka itu kalau dibandingkan kayak kue putri salju sama bakwan. Perumpaannya gak enak didengar emang, tapi lumayan kok buat isi perut. Hehe

Chanyeol gak nyangka. Ternyata Gyubin walau dari luar kelihatan alim, tidurnya gak beraturan juga ya. Eehh, tapi tiba-tiba seakan tersadar akan sesuatu, Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya seolah-olah dia ganteng. Cihhhh…

Setelah dipikir-pikir, Gyubin gak alim-alim amet kok, terbukti dari acara penyegatan yang dilakukan Gyubin dkk tadi sore. Mungkin emang tampangnya meyakinkan, tapi hati manusia siapa yang bisa nebak coba. Chanyeol jadi ingat semboyan yang sering dibilang Hyerin noona pas dia baru gabung dulu.

“Wajah bisa menipu.”

Meski pun Chanyeol gak ngerti apa maksud Hyerin noona bilang semboyan itu ke dia, setidaknya dalam situasi dan kondisi kayak gini, dia bisa pakai semboyannya.

Sebenarnya sih kalo kata author itu simple aja. Wajah bisa menipu, Hyerin emang sengaja bilang gitu ke Chanyeol. Lebih tepatnya sih semboyan itu emang diperuntukkan buat Chanyeol. Lihat aja deh muka Chanyeol, kalau dia diam, serius banget, keren, cool, pokoknya ganteng TO THE MAX  lah, pokoknya selama dia gak nyengir bodoh. Tapi coba bandingkan sama kelakuan dia setiap harinya. Bagaikan langit dan bumi. Wajah memang bisa menipu.

“Ya udah deh, emangnya kenapa sama kamar lu? Kok ga dipakai?” Chanyeol bertanya sambil menggeser tubuhnya dengan malas ke sebelah kiri kasur.

“Dipakai sama Seung Won.”

Chanyeol angguk-angguk lagi terus melihat tepat ke arah Gyubin yang sekarang lagi nepuk-nepuk bantal, bersiap-siap buat tidur. “Emangnya kenapa kalo dipakai sama Seung Won? Kan kalian bisa tidur berdua.”

“Ga bisa. Seung Won kebiasaan tidur sendiri. Kalau pun kami sekamar, aku pasti jadinya tidur dilantai. Jadi lebih baik aku tidur disini saja.”

Sesungguhnya alasan utama Gyubin tidur disini bukanlah Seung Won. Seung Won emang mengambil alih kamarnya gara-gara kamar Seung Won dikasih ke RiHyun. Tapi rasa penasarannya sama kehidupan Gyuri di Seoul jadi satu-satunya alasan terbesar dia tidur dikamar ini. Bukannya masih ada kamar yang lain? Kok malah tidur sama Chanyeol? Dia gak takut apa kalau tiba-tiba Chanyeol ngajak main monopoli, pakai acara colek-colekan lagi.

Sebenarnya Gyubin takut, dia bahkan sudah menyiapkan beberapa alasan yang bisa membuat dia gak main monopoli sama Chanyeol.

“Errr, aku gak bisa main monopoli.” Atau “Aku phobia sama monopoli, jadi pliss jangan main monopoli dihadapan aku.”, bisa juga “Kamu pikir kamu bisa beli harga diri aku pakai uang monopoli?”

Kekhawatiran dan kebodohan yang datang silih berganti mengalahkan empat musim yang selalu berganti setiap tahunnya, meski Gyubin bilang harga dirinya gak bisa dibeli yang jatohnya malah menjatuhkan harga dirinya sendiri, Gyubin gak peduli. Yang terpenting adalah dia bisa terbebas dari adengan colek-mencolek itu.

Keberanian yang dibangunnya sejak sebelum makan malam sampai saat ini pun semuanya demi Gyuri yang manggil Chanyeol dengan embel-embel sunbae, siapa tau aja Chanyeol itu lumayan deket sama Gyuri. Semoga aja gitu. Semoga aja pengorbanan Gyubin gak sia-sia. T.T

“Eehhhh, jogi, itu… Noona, Hyung ini apanya Noona, ya?” ujar Gyubin memulai percakapan. Tapi pertanyaannya itu malah membuat Chanyeol salah paham. Dia mengira Gyubin menyangka kalau dia itu pacarnya Gyuri.

“Bukan-bukan, lu jangan salah sangka dulu sama gua. Gua sama Gyuri cuma temen kok, gak lebih. Tenang aja, gua juga udah punya gebetan. Hehe”

Gyubin senyum, entah mengapa pengakuan Chanyeol buat dia jadi seneng dan juga lega. Sebagai saudara kembar yang –katanya– deket banget sama Gyuri, Gyubin merasa harus mengetahui hubungan Gyuri dengan teman-temannya, kehidupan Gyuri selama di Seoul bahkan dalam urusan asmara sekali pun. Soalnya Gyuri agak tertutup kalau menyangkut masalah asmara.

“Bukan, bukan itu maksud aku. Ehhmm, kok noona manggil hyung, sunbae?” ralat Gyubin masih dengan senyum yang mengembang. Masih bisa senyum, ya? Mungkin Gyubin lupa soal colek-mencolek itu.

“Oohhhh, itu gua satu sekolah sama Gyuri, gua sunbaenya disekolah. Mungkin sudah kebiasaan, jadi Gyuri suka manggil sunbae, padahal yang lain manggil oppa aja. Hehe.”

Gyubin angguk-angguk lagi. Kayaknya temen Gyuri yang satu ini gak seburuk yang dia pikirkan. Mungkin ini sudah waktunya Gyubin untuk melupakan masalah colek-mencolek yang sejujurnya membuat Gyubin merinding sampai sekarang.

Tapi tetap pada tujuan utama, Gyubin tetap penasaran sama kehidupan Gyuri di Seoul. Dia pengen tahu banyak soal noona tercintanya. Sebagai adik yang unyu dan baik, Gyubin mau tahu apa aja yang terjadi sama Gyuri di Seoul, apa Gyuri banyak berubah?

“Menurut Hyung, Noona itu orangnya kayak gimana?”

Chanyeol menoleh sejenak ke arah Gyubin sebelum menjawab, “Gyuri, ya? Mmmm… Bentar ya gua mikir dulu. Ehmmm, sebenarnya Gyuri itu orangnya baik, dia pernah nolongin hoobae yang diganggu sunbae. Tapi kadang rada nyebelin soalnya dianya jutek, disekolah banyak yang gak suka lohhhh sama Gyuri terutama yang nakal-nakal. Soalnya menurut mereka Gyuri itu terlalu banyak gaya, cari perhatian dan suka mencampuri urusan orang lain. Padahal gua yakin sebenarnya Gyuri itu gak berniat kayak gitu. Meski pun Gyuri preman Jeju yang gak segan-segan mukul orang, tetap aja Gyuri ada sisi baiknya. Pasti Gyuri punya alasan tersendiri sampai dia mau berurusan sama cowok yang gak kalah preman dari dia. Kalau dibandingkan nih ya, Gyuri itu kayak Kris hyung ver cewe lah. Cool cuyyyy, walau kadang agak absurd juga sih.” jelas Chanyeol panjang lebar.

Disebelahnya Gyubin cuma bisa masang senyum kecil sambil menghela nafas. “Aku senang. Ternyata noona punya temen yang benar-benar perhatian sama dia.”

Chanyeol memasang tampang tak mengerti, “Hah? Siapa?”

“Ya, Hyung lah. Siapa lagi coba?”

“GUA? Gak salah lu? Haha…” Chanyeol berujar tak percaya. Sejak kapan Chanyeol perhatian sama Gyuri? Kalau sama Sora sih iya.

Gyubin menggeleng, “Aku yakin sama penilaian aku. Kalau hyung gak perhatian sama noona gak mungkin hyung tahu banyak tentang noona.

“Ya itu kan gara-gara kami sekolah ditempat yang sama. Jadi wajar lah.”

“Mungkin saja. Tapi aku tetap yakin sama penilaian aku. Orang yang cuma saling mengenal gak bakalan menyimpan rasa percaya seperti yang hyung lakuin sama noona. Hyung yang bilang sendiri kalau hyung yakin noona gak berniat kayak gitu. Hyung yakin sama noona. Itu artinya hyung sudah mengenal noona lebih dari orang lain, makanya hyung bisa begitu yakin.”

“Masa, sih?” Chanyeol masih saja tidak mempercayai apa yang Gyubin katakan. Dia perhatian sama Gyuri? Sejak kapan? Mungkin dia emang sering melihat Gyuri disekolah, tapi itu juga mereka ketemunya gak sengaja kok, kayak pas diruang nari. Tapi kalau masalah perhatian kayaknya masih terlalu jauh deh.

“Sekarang aku tanya sama hyung. Kenapa hyung bisa sebegitu yakin kalau noona itu baik, meskipun banyak yang bilang kalau noona itu gak baik?”

Chanyeol diam. Dia mikir, tapi tetap gak bisa nemuin jawabannya. Bener deh, Chanyeol berasa lagi disidang aja. Kok Chanyeol jadi gugup gini, ya?

“Ah, molla” jawabnya pada akhirnya.

Gyubin cuma tersenyum melihat Chanyeol yang mulai frustasi, lalu melihat langit-langit kamar yang jelas berbeda banget sama kamarnya. “Aku senang noona pulang, aku senang noona bawa teman yang banyak. Aku senang karena noona punya teman-teman yang baik. Tapi… kenapa setelah semua hal-hal baik datang,  noona sama sekali gak berubah?”

Chanyeol menoleh dengan cepat ke arah Gyubin sambil memandang tak mengerti.

Noona sama sekali gak berubah. Masih jutek dan bersikap acuh tak acuh. Masih dingin dan mungkin menyebalkan. Mungkin… luka itu memang belum sepenuhnya sembuh.”

“Bentar-bentar, maksud lu apaan? Gua gak ngerti.”

“Noona sejak kecil harus merasakan yang namanya kerasnya hidup. Nyari uang sendiri buat sekolah, buat jajan, gak ada waktu sama sekali buat main. Masa kecil noona terbuang, bisa dibilang noona itu mengalami hal yang dinamakan MKKB (Masa Kecil Kurang Bermain), jadinya noona gak minat buat main lagi, soalnya menurut dia sudah gak jaman lagi main kayak anak kecil. Banyangin aja ya hyung, dulu pas aku ajak noona main pasti akhirnya malah main lari-larian. Itu main juga sih sebenarnya, tapi bagi noona itu bukan main. Bagi noona yang emang berbakat dibidang lari, bermain sama aku itu ibaratkan latihan sendiri. Bahkan saking seringnya noona latihan, lawan aku yang pakai sepeda aja aku-nya kalah lohhh. Ya walaupun sebenarnya aku nyuri ke warung bentar sih hehe. Tapi bukan itu masalahnya, yang pasti noona itu berbakat banget. Kan hyung tahu sendiri, noona dapat beasiswa gara-gara dia jago lari. Ya meski pun harus dipaksa jadi ketua osis sih. Walaupun noona ogah buat ikut yang begituan, demi beasiswa akhirnya noona setuju-setuju aja. Kalau kata noona, ‘Lumayan bisa meringakan beban orang tua.’ Baikkan Gyuri noona.”

Chanyeol gak nyangka. Ternyata Gyuri gitu-gitu punya otak yang bisa diacungin jempol juga ya. Gyuri punya otak yang bisa diajak untuk mikir panjang, bisa dibilang masa mudanya di gunakannya buat mengubah masa depannya yang semula masih abu-abu menjadi cerah, ada pelanginya lagi. Pinter-pinter, pantes aja jadi ketua osis.

Udah itu niat baiknya meringankan beban orang tua benar-benar membuat Chanyeol tersentuh. Meski pun dari segi umur, tentunya Chanyeol lebih besar dan harusnya bisa berpikir lebih dewasa dari Gyuri. Nyatanya Gyuri punya pemikiran yang lebih baik dari dia. Ibaratkan buah, pemikiran Gyuri itu kayak durian yang udah matang, udah siap makan + enak gitu, sedangkan punya Chanyeol, boro-boro matang, berbuah aja belum. Ngenes banget gak sih?

Tapi bentar deh, ada sesuatu yang membuat Chanyeol gak ngerti. “Bukannya kalian punya resort? Kok Gyuri harus nyari uang sendiri buat sekolah? Seharusnya dengan resort ini, kalian bisa hidup dengan baik, kan?”

Gyubin menekuk wajah sampai gak berbentuk lagi, lalu menghela nafas berat. “Sesuatu telah terjadi. Hyung pasti tahu kan kalo noona itu bisa nari balet? *Yeol angguk-angguk* dulu keluarga kami itu damai sejahtera, tapi semua itu berubah semenjak negara api menyerang, eeehhhh… bukan, maksudnya semuanya berubah semenjak segerombolan domba itu menghilang. Keluarga kami bangkrut, noona harus keluar dari kursus balet padahal itu satu-satunya ketertarikan terbesar noona pada saat itu. Mungkin sejak itu lah, noona mulai menutup diri. Noona gak seceria dulu lagi. Pokoknya berubah banget.”

Chanyeol ingat, hari itu dia ngeliat Gyuri nari balet dan menurut dia kemampuan balet Gyuri itu gak bisa dianggap remeh. Ternyata Gyuri pernah kursus balet. Tapi emangnya apa yang terjadi? Kok Gyuri harus dikeluarkan dari kursus balet? Emangnya ada apa?

Seakan bisa membaca pikiran Chanyeol bagaikan Chaeri di Chapter 5, Gyubin melanjutkan ceritanya, “Dari kami kembar 3, Noona itu anak tertua. Dan sebagai anak tertua dikeluarga, noona harus bantu appa cari uang buat bayar hutang. Seharusnya aku bisa bantu, tapi waktu itu aku masih terlalu kecil buat memahami semua yang terjadi. Mungkin aku memang gak seperti noona yang dituntut untuk menjadi dewasa sebelum saatnya, jadi aku egois sampai menyerahkan semua tanggung jawab itu pada noona. Aku yang terlalu takut untuk mengakui kesalahan sampai-sampai noona harus terus-menerus disalahkan dan hidup dipenuhi oleh kesalahan yang gak dia buat. Sedangkan Seung Won, dia memang jarang pulang kerumah, paling beberapa tahun baru pulang sekali, soalnya dia sering berpergian temenin halmonie.”

Seandainya bencana itu gak terjadi, seandainya hari itu aku denger kata-kata noona, pasti semua ini gak bakal terjadi. Pasti noona bakal tumbuh sebagai cewek cantik yang anggun. Pasti kehidupan noona gak bakal sesulit sekarang.”

“Errr, kalau boleh tau, emangnya bencana apa yang terjadi?” sebenarnya Chanyeol gak begitu ngerti sih apa yang diomongin sama Gyubin. Meski pun Gyubin sudah ngomong panjang lebar, entah mengapa bukannya inti dari omongan Gyubin yang bisa disimpulkan, tapi justru menyimpulkan kalau Gyubin ini orangnya lebay.

“Pliss deh ya, ngomongnya biasa aja kali. Lu itu lebay banget.” Ingin rasanya Chanyeol bilang kayak gitu. Tapi gak tega juga sih. Kasihan. Tiba-tiba Chanyeol membayangkan dirinya lagi ngomong panjang lebar sambil ketawa-ketawa absurd lalu dari ujung ruangan Gyubin suruh dia diam. Kan malu.

Gyubin senyum dikit, lalu melanjutkan ceritanya. “Meskipun kami kembar 3,*Ho’oh* tapi aku lebih dekat sama noona karena Seung Won jarang ada dirumah.*iya, gua udah tahu. Terus?* Waktu kecil, aku sama noona sering banget main ditaman belakang, itulohhh yang dekat kandang domba.*Lha? Kok mainnya dikandang domba sih?*  Nah waktu itu aku naka,l maksa masuk ke kandang domba tetangga. Padahal niatnya cuma main-main, tapi malah jadi masalah besar. Sebenarnya noona sudah melarang aku main kesana. Tapi aku aja yang gak dengerin.*Lu sih jadi anak kecil kok nakal banget, minta dijewer, ya?* Akhirnya aku sama noona masuk kedalam dan lupa kunci pintu depan sampai-sampai semua domba tetangga pada kabur. *Kok lupa, sih? Gawat dong? Terus-terus gimana? Aduh berasa lagi jadi penggembala nih.* Ahjussi marah gara-gara dombanya hilang semua dan minta tanggung jawab sama appa. *Tanggung jawab? Lu kira hamilin anak orang?* Ya gitu deh, demi bayar utang yang banyak itu, appa harus menjual barang-barangnya, eomma jual perhiasan dan noona harus berhenti kursus. Meski pun kami punya resort, tapi kami gak mungkin ngejual resort karena ini satu-satunya peninggalan dari harabeoji *Ohhh, gitu*

“Aku benar-benar menyesal sekarang. *Yaiyalah, gua aja turut menyesal atas hidup lu.* Apalagi ngeliat noona yang sekarang kayak gini. Kehidupan kami yang sulit mengubah noona yang dulu manis dan penuh aegyo jadi kayak sekarang. Andai saja semua itu gak terjadi, pasti noona bakal manis banget, penuh dengan aegyo dan pastinya cantik. Meskipun dari luar noona kelihatan kuat dan tegar, aku tahu kalo sebenarnya noona itu rapuh. Dulu pas kecil noona itu cengeng lohhh. Tapi akhir-akhir ini aku jarang liat noona nangis, mungkin noona sengaja menyembunyikan kesedihannya dari aku. Sejujurnya pas noona ke Seoul, aku rada gak setuju, tapi begitu melihat noona dapat banyak teman baik kayak kalian aku jadi tenang. Terima kasih, Hyung. Terima kasih sudah jadi teman yang baik buat noona.”

Chanyeol cuma bisa nyengir dengar ucapan Gyubin. Meskipun dari tadi ngerecohin Gyubin pakai acara menyela setiap Gyubin cerita, tetap aja dia merasa seneng sekaligus bangga dibilang kayak gitu sama Gyubin.

“Hehe, santai aja kali.”

Tapi entah mengapa mendengar kisah Gyuri yang mungkin sedikit dilebih-lebihkan sama Gyubin membuat dia jadi tersentuh. Ternyata kehidupan Gyuri tidak sebagus kelihatannya. Ternyata ada cerita dibalik kejutekkan dan segala kebengisannya.

Tapi mengingat Gyubin pernah mengatakan “Andai saja semua itu gak terjadi, pasti noona bakal manis banget, penuh dengan aegyo dan pastinya cantik.” Seketika membuat dia merinding. Entah gimana ceritanya, bukan Gyuri yang manis nan cantik yang muncul dipikirannya. Yang ada gambaran banci-banci dengan dandanan menor memenuhi otaknya. Sumpah demi apapun, itu pemikiran paling mengerikan yang pernah dipikirkan Chanyeol. Dalam hati ia bersyukur Gyuri jutek seperti sekarang. Ada-ada aje lu Yeol.

Hhhh~

Akhirnya setelah semua cast di epep ini tidur gara-gara kecapean, author juga mau pamit undur diri walaupun epep ini harus di akhiri dengan hal yang absurd-absurd lagi. Eniwei, makasih lohhh buat para reader yang udah mau baca epep ini meski absurd pake banget. Comment sangat dibutuhkan. Hehe, jadi jangan lupa RLC ya. *asap* *UhukUhukUhuk* JH: SIAPA YANG MAIN PETASAN DI KAMAR GUA?*

With Love,

 

Han Yoo Na & Seo Yuri

Iklan

Penulis:

I know I'm not a good writer... But i will try my best to make you enjoy with my story... =)

10 thoughts on “Be Idol-Chapter 6: First Day in Jeju

  1. ngenes sama gyuri sama baekhyun.. feelnya ff ini dapet banget. semuanya semacem jadi satu(?) makin demen ngewaiting ini ff jadinya:p okeee next chap jan lama, harus panjang, bikin jadi lebih penasaran(apresiasi) wakakak. you are the best thor!! hwaiting:D

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s