Bingo! Team (Part 2)

bingo2

Author: Mingi Kumiko

Cast:

  • Byun Baek Hyun
  • Han Yeon Sung
  • Kim Da Ran
  • Song Yoon Kyung
  • Park Na Chan

Genre: friendship, school life, romance, etc.

Rating: PG-15

Part 1

Summary:

Han Yeon Sung, seorang anggota dari Bingo! Team. Sebuah kelompok pertemanan yang sangat menjaga solidaritas. Kelompok tersebut memiliki sebuah peraturan yang unik, yaitu dilarang berpacaran dengan mantan sesama anggota Bingo! Team.

Namun suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda tampan dan Yeonsung pun jatuh cinta. Tanpa ia tahu sebelumnya, pemuda itu adalah mantan dari salah satu anggota Bingo! Team.

Mampukah Yeon-sung menyembunyikan hubungannya dengan pemuda itu dari anggota Bingo! Team lainnya?

.

.

“Nama asliku Byun Baekhyun, hehehe.. Jauh dari nama Inggrisku yang keren ya?” Frans yang kini Yeonsung ketahui bernama asli Byun Baek Hyun itu terkekeh sekali lagi.

Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! jerit Yeonsung dalam hatinya yang masih terkejut. Bagaimana bisa, lelaki yang kini mulai ia sukai ternyata adalah lelaki yang paling harus dihindari olehnya karena peraturan yang tertera jelas di Bingo! Team.

Yeonsung mundur perlahan dari hadapan Baekhyun kemudian berlari kencang meninggalkannya.

“Hey, kau kenapa? Rotimu tertinggal!” pekik Baekhyun ditujukan untuk Yeonsung yang menurutnya bersikap aneh. Baekhyunpun memutuskan mengejar Yeonsung yang berlari itu.

Ditengoknya kelas, dugaan pertama di mana Yeonsung berada. Ternyata benar, ia tetap duduk di sisi paling ujung.

“Kau kenapa, kok mendadak lari meninggalkanku?” heran Baekhyun.

“PERGI, JANGAN DEKAT-DEKAT! DASAR PENGHIANAT!” ejek Yeonsung dan terus saja berusaha menghindar dari Baekhyun.

“Penghianat? Maksudnya apa? Tolong, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu.”

“Kau… kau itu mantannya Daran, ‘kan? Kaupergi meninggalkannya ke luar negeri tanpa memberinya kabar. Lelaki apa macam apa kau itu, huh?!”

“Kaukenal dengannya? Atau jangan-jangan kau adalah… anggota dari kelompok bodoh itu?”

“Kau mencela Bingo! Team bodoh?” seketika Yeonsung menaikkan kadar emosinya. Mana mungkin ia terima seseorang menghina Bingo! Team yang sangat ia sayangi?

“Ya, dengan tegas aku bilang Bingo! Team itu bodoh. Bahkan SANGAT BODOH!” tegas Baekhyun.

“Atas dasar apa kaubilang begitu? Kenapa kaujahat sekali?!”

Bingo! Team yang jahat, manusia macam apa yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, padahal belum tentu mantan pacar mereka yang bersalah,”

“Maksudmu?”

“Perlukah aku menjabarkan keburukan Kim Da Ran? Tidak penting sekali!”

“Jadi kau merasa ini bukan salahmu?”

“Tentu saja bukan,”

“TUTUP MULUTMU DAN JANGAN DEKATI AKU LAGI MULAI SEKARANG!” sahut Yeonsung tanpa memperdulikan pembelaan diri Baekhyun.

“Kau… kenapa?”

“Cepat pergi!”

Nada keras Yeonsung yang mengisyaratkan pengusiran itu ditelan mentah-mentah oleh Baekhyun. Hatinya sakit, seperti tersayat sembiri.

***

Lagi-lagi Bingo! Team yang memuakkan itu, kenapa harus Yeonsung, gadis yang menarik perhatianku namun sangat sulit didapatkan? Padahal selangkah lagi aku akan mengambil hatinya! Baekhyun mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

Kejadian kemarin benar-benar tak bisa ia lupakan, dendamnya semakin lekat terasa untuk Bingo! Team yang ia anggap konyol itu.

Aku tak akan menyerah, aku percaya diri Yeonsung juga menyukaiku. Persetan dengan statusku yang mantannya Kim Da Ran. tekad Baekhyun sudah bulat, ia akan tetap berusaha mendapatkan Yeonsung.

Jam pulang sekolah menjadi waktunya untuk menjalankan misinya. Harus berhasil! hanya itu yang ada di otaknya.

Kelas sudah sepi, Baekhyunpun berjalan ke sudut kelas –menghampiri Yeonsung.

Ehemmm..” Baekhyun mengeraskan dehemannya dan membuat Yeonsung mendongak.

“Apa?” tegur Yeonsung dengan pandangan datar. Setelah teguran itu, Baekhyunpun duduk di sebelah bangku Yeonsung.

“Aku tahu, kau tak suka dengan ini. Jangan berdusta!” ucap Baekhyun.

“Tidak, Bingo! Team itu teman-temanku, mana mungkin aku melanggar aturan.”

“Bahkan untuk orang yang tidak bersalah?”

“Kau itu salah. Mana sopan meninggalkan wanita yang mencintaimu tanpa izin dahulu.”

“AKU MUAK DENGAN DARAN. AKU MUAK DENGAN SIKAPNYA. CENTIL, MEMUJI LELAKI LAIN TEPAT DI HADAPANKU, BAHKAN MEMBANDING-BANDINGKANKU DENGAN PRIA TENAR DI SEKOLAH. LELAKI MANA YANG BISA KUAT DENGAN WANITA SEPERTI ITU, HUH?!” amarah Baekhyun bergejolak seketika. Inilah yang ia takutkan dari kemarin –ketika ia tak sanggup menahan emosinya saat mengulas lagi sebab ia meninggalkan Daran.

“Baekhyun…. separah itu? Jadi kau tidak sejahat yang aku…” Yeonsung tersendat-sendat untuk menimpali penjelasan Baekhyun.

“Aku sudah bilang, aku tak mungkin meninggalkan wanita tanpa alasan yang keterlaluan.”

“Maaf…” tangis Yeonsung pecah. Menyesali kebodohannya yang terlalu patuh pada aturan yang sekarang ia anggap konyol. Dengan cepat Baekhyun langsung mendekap erat Yeonsung.

Setelah beberapa saat berselang, ketika dirasakan Yeonsung sudah bisa lebih tenang, dilepaskanlah pelukan erat itu oleh Baekhyun. Baekhyun semakin maju dan mendekati Yeonsung. Ia melewati garis batas kursi yang ia duduki, jadilah kini ia duduk pada pangkuan Yeonsung, di atas paha berlapiskan rok berwarna hitam tersebut.

Kesepuluh ruas jari Baekhyun menggeladik untuk mengisi sela-sela jemari tangan gadis yang ada di hadapannya itu. Yeosung semakin memundurkan wajahnya hingga berbentur pelan pada dinding, ia tak bisa lagi menghindar. Ia tak mampu lagi mengerling untuk menghindari tatapan Baekhyun yang sangat dalam padanya.

“Jadilah milikku,” tukas Baekhyun yang kemudian menangkap bibir bagian atas Yeonsung dengan kedua bibirnya. Dikuncilah Yeonsung dengan ciuman itu. Baekhyun melumat bibir Yeonsung hingga gigi mereka saling bergesekan.

Yeonsung mengendurkan bibirnya untuk menghentikan ciuman itu. Baekhyun membuka matanya sambil tersenyum, ia puas.

“Apa tidak apa-apa kalau melanggar aturan?” tanya Yeonsung ragu.

“Dalam waktu dekat ini, aku akan menemui Daran dan Yoonkyung.”

“Bibirku jadi kaku,” rutuk Yeonsung.

“Ahhh, itu kan sentuhan manis dariku, santailah!”

“Enak saja kalau bicara, begini-begini aku masih polos, tahu!”

“Iya… Ya sudah, ayo pulang! Aku akan mengantarmu.” ajak Baekhyun dan langsung merangkul pundak Yeonsung.

“Apa sih rangkul-rangkul, tanganmu berat tahu!” tegur Yeonsung yang lantas melepaskan rangkulan Baekhyun dari punggungnya.

“Ya kan aku pacarmu. Masa tidak boleh, sih?”

“Sudah cukup ya aku melanggar prinsip kesucian dengan ciuman barusan, jangan lakukan skinship berlebihan lagi. Kita belum pantas melakukan hal itu,”

“Gadis yang polos… ya sudah, ayo!” jadilah kini Baekhyun berjalan berdampingan dengan Yeonsung. Ya, hanya berjalan berdampingan.

Sesampainya mereka di parkiran sepeda, Baekhyun langsung menghampiri sepedanya dan mengangkat jagrak.

“Kauganti sepeda lagi?” tanya Yeonsung heran.

“O, ini… sengaja, untuk memboncengmu di depan.” jawab Baekhyun lalu menyeringai.

“Segitunya kauakan menyiapkan ini?”

“Sudahlah, jangan dipikir… Cepat naik!”

“Oke.”

Baekhyun mengayuh sepeda dengan Yeonsung yang berada tepat di depannya. Memandang lurus dengan wajah tanpa ekspresi, dasar Yeonsung, dia memang kurang paham cara melakukan kekasih dengan benar!

“Hey, bicaralah! Krik krik banget tahu!” rutuk Baekhyun pada Yeonsung.

“Bukankah dari dulu aku memang pendiam?” sahut Yeonsung santai.

“Menjadi ramai untuk pacar sendiri apa susahnya sih?”

“Iya iya, sebentar… aku akan cari bahan pembicaraan dulu,” ucap Yeonsung kemudian terhenyak dalam diam sambil berpikir.

“Ah, aku punya pertanyaan!” seru Yeonsung dengan wajah sumringah.

“Apa?” tanya Baekhyun dengan tetap mengayuh sepedanya.

“Sekarang, hubunganmu dengan Daran bagaimana?”

“Huh! Kenapa kaumalah melontarkan pertanyaan aneh seperti itu?”

“Sudah, jangan banyak menyanggah. Jawab saja masa susah?!”

“Oke. Sekarang seperti tidak pernah kenal dengannya.”

“Berdamailah dengannya!”

“Aku tidak salah, kok!”

“Tapi mendiamkan orang yang pernah berhubungan dengan kita itu tidak baik, loh!”

“Baik, gadis bidadariku… Tapi lain kali,”

“Dasar!”

“Kekeke…”

Baekhyun belok kiri sesuai rute menuju rumah Yeonsung itu.

“Kita sudah sampai, sayang…” kata Baekhyun saat tiba di rumah Yeonsung.

Iddih, memanggil dengan nama normal saja, aku risih!” protes Yeonsung dengan panggilan Baekhyun barusan.

“Lha, kan kaupacarku, Yeonsung-ah,” sanggah Baekhyun.

“Ya tapi, kalau akunya tidak suka bagaimana?”

“Ah, iya… iya… tak akan kupanggil seperti itu.”

“Terima kasih. Mau mampir?” tawar Yeonsung.

“Kalau nanti sore saja bagaimana?”

“Tapi nanti ibuku tidak ada.”

“Terus?? Kaucuriga kalau aku akan melakukan hal yang aneh-aneh, begitu?”

“Euh, bukan begitu… Hanya…”

“Yeonsung, walaupun aku pernah tinggal di luar negeri yang, yah… kautahu sendiri lah seperti apa, tapi masalah adat, aku masih ketimur-timuran, kali!”

“Iya, maaf… Ya sudahlah, kalaumau main, ya main saja. Aku tinggal bukakan pintu.”

“Siip! Sampai jumpa nanti, hehe.”

“Hati-hati kalau mengayuh, minggir lah kalau ada semut -_-”

Sore hari…

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Yeonsung yang sedang berada di ruang tengah –untuk menonton TVpun segera berlari terbirit-birit membukakan pintu.

Setelah dibuka, dilihatlah Baekhyun dengan dandanan rapi berdiri sambil tersenyum manis.

“Haiii,” sapanya canggung pada Yeonsung.

“O, kamu ternyata,” balas Yeonsung mengangguk paham. Sumpah, ini kenapa jadi tak berkutik begini? batin Yeonsung menggerutu.

Sudah sekitar 5 menit mereka berdiri berhadapan tanpa saling bicara. Jangankan mengeluarkan satu kata, saling menatap matapun mereka tidak sama sekali.

Tiba-tiba Baekhyun mengayunkan satu langkah, meraih pundak Yeonsung dan menimpali bibir Yeonsung, ia majukan sedikit bibir itu kemudian langsung ia lepas tanpa perlu mendapatkan balasan dulu dari Yeonsung.

“Baekhyun-ah!” bentak Yeonsung setelah Baekhyun melepaskan ciumannya dan langsung memegangi nanar bibirnya. Ia masih terkejut.

“Habis, daripada kita cuma diam, mending kaukucium, bukankah wanita suka dicium?” balas Baekhyun santai.

“Siapa bilang? Yang benar itu lelaki suka mencium!”

“Ah sudahlah! Aku boleh masuk tidak?”

“Ya, masuklah.” pandangan Yeonsung langsung berubah menjadi jengkel. Mana dia terima, seseorang yang suka bermain dengan bibirnya.

Merekapun duduk di sofa, dan kemudian berdiam-diaman –lagi.

“Yeonsung-ah, ajak aku bicara atau kauakan kucium lagi!” ancam Baekhyun yang tak kuat berdiam-diaman dengan pacar sendiri.

Lha, kenapa sekarang jadi aku yang disalahkan?” Yeonsung mendadak geram.

“Hmmmm, kalau boleh aku tahu, sebelumnya kau pernah punya pacar tidak, sih?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

“Kau pacar pertamaku.” jawabnya.

“Iya? Waaah, bisa jadi aku ini yang paling berkesan lho! Kekeke…”

“Ya, semoga saja.”

“Tapi aku curiga, kau tidak pernah berpacaran… Jangan-jangan kau ini lesbi ya? Kau kan mesra sekali dengan Nachan!”

“Bodoh, aku tetap suka boyband yang personelnya ganteng-ganteng, tahu!”

“Jangan suka boyband, aku lebih tampan dari mereka…” (Baek, elu kan boyband juga -_-)

“Iya, iya… kausangat tampan, aku saja terpesona.”

“Hehe, terima kasih.”

Kemudian, hening lagi.

“YEONSUNG!!! KENAPA TERUS SAJA HENING??!!” Baekhyun memekik frustasi.

“Aduh, maaf. Hari ini tak ada pengalaman menarik, jadi aku diam terus. Kaubicara saja, akan aku tanggapi, kok. Mau minum? Biar aku buatkan.”

“Boleh, yang mengandung unsur jeruknya ada, tidak?”

“Tenang… akan aku buat, tunggu ya!”

Setelah membuat minuman jeruk itu, Yeonsungpun bergegas kembali ke ruang tengah. Ia pandangi Baekhyun sejenak dari kejauhan. Aku beruntung memilikinya.. gumam Yeonsung kemudian tersenyum.

Chagi-ya… ini!” ucap Yeonsung sambil menyodorkan segelas minuman berwarna oranye itu.

“Tumben panggil seperti itu, tadi marah…” tanya Baekhyun yang heran dengan tingkah gadisnya itu.

Emmmm, mumpung pacar sendiri,”

“Dari drama-drama yang kulihat di TV, perempuan itu suka sekali dicium, apalagi kalau bibirnya dilumat-lumat. Tapi kok kamu tidak, sih?” tanya Baekhyun heran.

“Bicara macam apa kau ini? Seorang gadis harusnya jual mahal. Tidak ada ya namanya menyerahkan semuanya pada lelaki!”

“Tapi kalau menyerahkan padaku pasti mau, ‘kan?” goda Baekhyun, kemudian ia semakin mendekatkan tubuhnya dengan Yeonsung. Ia tersenyum sebelah bibir. Yeonsung makin terjorok ke ujung sofa, takut dengan Baekhyun akan berbuat aneh-aneh, sama dengan apa yang sedari tadi ia khawatirkan.

“Ciuman ketiga kita, jadinya bagaimana ya?” ucap Baekhyun.

“Entahlah, mau apa kau, huh??!!” tegur Yeonsung memberi tatapan mautnya.

“Menjauh atau kupukul remote TV??!!” ancam Yeonsung dengan kejamnya, ia mencengkram remote sebagai senjatanya. Baekhyunpun mundur perlahan dan menghindari tubuh Yeonsung.

Fuuuhhh..” Yeonsung menghela nafas lega.

“Itu tadi bukan benar-benar ingin menciummu, hanya ingin menggoda.”

Hassshh, apapun itu, jangan lakukan lagi!”

“Ampuuunn..”

“Sudahlah, lanjutkan nonton TVnya.” sergah Yeonsung, namun secara mendadak ia menggenggam tangan Baekhyun erat. Kemudian menidurkan kepalanya di pundak Baekhyun.

“Aku mencintaimu, tapi… temanku melarang. Terkadang aku bingung, keduanya sama-sama tak ingin kutinggalkan,” ucap Yeonsung mengeluh.

“Kalau menurut hatimu bagaimana? Ikut aturan atau bersamaku?” balas Baekhyun.

“Baekhyun-ah, aku sudah terlanjur jadi pacarmu, aku juga sangat menyukaimu…”

“Syukurlah, kausabar saja, ada waktu ketika mereka akan sadar kalau aturan itu terlalu memaksa.”

Di sisi lain…

“Dari tadi tidak diangkat, ke mana sih Yeonsung itu?” rutuk Yoonkyung pada Daran yang tengah menyetir mobil untuk menuju rumah Yeonsung. Mereka berniat mengajaknya jalan-jalan sore.

“Ya sudah, mungkin karena dia tahu kita akan datang, Yeonsung sedang bersiap-siap. Mandi mungkin,” kata Daran menenangkan Yoonkyung.

“Kautahu, aku rindu sekali dengan Yeonsung. Entahlah, tapi sikapnya akhir-akhir ini berubah. Jarang ikut kalau kita ada janjian, sekalinya ketemu saja, wajahnya gelisah. Aku khawatir dengannya, hal apa yang sedang ia sembunyikan?” oceh Yoonkyung.

“Iya, mangkannya, sore ini juga kita tanyakan. Apa gunanya bersahabat jika salah satu dari kita menyembunyikan masalah?”

“Ya sudah, percepat laju mobilmu.”

“Siiaaap!”

Sesampainya mereka di depan rumah Yeonsung, Daran dan Yoonkyungpun mengayunkan langkah ke depan untuk menjumpai kawannya, Han Yeon Sung.

Tok! tok! tok!

Daran mengetuk pintu rumah Yeonsung. Berkali-kali ia mengetuk, namun tak ada keadaan pintu dibukakan.

.

.

Tok! tok! tok!

Terdengar ketukan pintu dari luar dan membuyarkan obrolan hangat Baekhyun dan Yeonsung.

“Siapa yang datang?” tanya Baekhyun. “Nggak tahu.” tukas Yeonsung. Kemudian ia menengok jendela, dilihatnya dua gadis remaja tengah berdiri di depan pintu sambil terus mengetuknya. Yeonsungpun panik dan memberi tahu pada Baekhyun kalau kedua temannya datang.

“Bagaimana ini, apa kausembunyi saja?” tawar Yeonsung.

“Tidak akan, ini saatnya, aku akan memberi tahu mereka.”

“Tapi, Baekie…” Yeonsung tersendat untuk melanjutkan perkataannya.

“Kauikuti saja, kalaupun harus berpisah… Ah, sudah! Jangan pikirkan yang aneh-aneh dulu, aku akan menghadapinya.” api semangat berkobar di jiwa Baekhyun, dengan langkah pasti, ia maju dan membuka pintu.

“Selamat sore,” Baekhyun mengucapkan salam pada kedua kawan Yeonsung. Seketika mata Yoonkyung dan Daran terbelalak tatkala melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka.

“Byun Baek Hyun?!” desis Daran.

“Han Yeon Sung, apa maksud dari semua ini?!” bentak Yoonkyung tegas pada Yeonsung yang berada di tepat di belakang Baekhyun.

“Aku sudah berpacaran dengannya,” jawab Yeonsung sangat takut.

“KAU MELANGGAR ATURAN??!!” pekik Daran yang murka.

“Maaf, tapi aku sangat menyukainya…”

“Begitu, kau… TIDAK USAH JADI TEMAN KAMI LAGI, SAMPAH!!!” gigi Yoonkyung bergemerutuk menandakan kemarahannya, wajahnyapun menjadi merah padam. Sama pula halnya dengan Daran.

“Yoonkyung, Daran, dengarkan aku dulu!” pekik Yeonsung saat kedua temannya mulai menghindar. Ia ingin mengejar, tapi Baekhyun dengan kuat mengekang.

“Kenapa aku tidak diperbolehkan?” tanya Yeonsung.

“Ini salahku, biar aku yang buat mereka memaafkanmu. Aku janji!”

“Kau selalu saja berjanji. Berjanji akan menemui Daran, membuat ia sadar bahwa yang salah adalah dia, dan lainnya. Tapi mana, kapan kaulakukan hal itu?? Tidak pernah, Baekhyun! Aku… aku malas denganmu, kau pulang saja!”

BRAK!

Yeonsung membanting pintu sekeras-kerasnya, kemudian menguncinya rapat-rapat. Tak mengizinkan Baekhyun masuk dan hanya ingin bertemankan oleh kesedihannya.

Sayang! Sayang! Buka pintunya, aku minta maaf, aku akan buktikan!” teriak Baekhyun dan berharap Yeonsung akan merespon teriakannya itu.

Tapi hasilnya nihil, 30 menit sudah Baekhyun menunggu, berharap agar Yeonsung membukakan pintu, namun tak kunjung dibukakan. Jadilah, Baekhyun pulang dengan raut kecewa.

***

Malamnya, Yeonsung yang hatinya terasa tersayat sembiri masih saja melinangkan air mata di pipi bulatnya itu. Aku mencintai Baekhyun, tapi aku juga menyayangi Daran dan Yoonkyung. Kenapa aku tak bisa berpihak pada keduanya? Aaaah, sial! gerutu Yeonsung dalam hatinya, kemudian melempar guling ke dinding.

Berkali-kali sudah ia mencoba menelpon Daran dan Yoonkyung –tentu saja- untuk minta maaf.

Bip.. Bip.. Bip..

Terdengar ponsel yang sedari tadi ada di sebelahnya bergetar. Dengan terkesiap ia meraih ponselnya, ia yang mengira ponselnya berbunyi karena Daran atau Yoonkyung yang menghubunginya, untuk bicara dan memaafkannya. Ternyata ia salah, panggilan itu dari Baekhyun. Hatinya kecewa, apa yang ia harapkan sedari tadi tak terkabul jua.

Dengan sedikit emosi, ia tekan dengan kuat tombol pada ponselnya dan mengalihkan panggilan dari Baekhyun.

Di sisi lain…

Panggilan dariku dialihkan? Aissh! geram Baekhyun kemudian menendang meja belajarnya.

“Tak bisa ditunda lagi, hari ini juga aku akan menemui Daran dan Yoonkyung!” tekad Baekhyun sudah bulat, mana mau ia terus-terusan dicueki oleh gadis yang sangat ia cintai?

Baekhyun tahu sekali, kalau malam minggu begini, Bingo! Team selalu pergi ke sebuah kafe untuk makan malam, tapi yang ia sayangkan, Bingo! Team selalu bergonta-ganti tempat makan malamnya. Ia bingung, apa harus menelpon Daran untuk mengetahui di mana keberadaan mereka atau tidak. Karena hanya itu satu-satunya cara agar dia tahu di mana sekarang Daran dan Yoonkyung berada –untuk bisa menjelaskan alasan mengapa ia meninggalkan Daran. Agar juga ia bisa memiliki Yeonsung kembali.

Ia raih ponselnya dan segera mencari nama Daran di daftar kontaknya. Ia berharap, Daran belum mengganti nomor ponselnya. Mengingat sudah lebih dari setahun Baekhyun tak berkomunikasi dengan Daran.

Tut.. tut.. tut..

Panggilannya tersambung, ada sedikit perasaan lega melintas di benaknya.

Di sisi lain..

Ponsel Daran bergetar cukup lama, pertanda adanya panggilan masuk. Ia tengok siapa yang menelpon itu, dan ternyata Baekhyun.

“Kenapa tak kunjung diangkat?” tanya Yoonkyung yang duduk di sebelahnya sambil menikmati pasta yang baru saja ia pesan.

“Dari Baekhyun, malas sekali.” jawab Daran kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan melanjutkan menyantap makan malamnya. Tapi Yoonkyung segera menelan pasta yang ia kunyah dan menekan tombol hijau pada ponsel Daran.

“Kau angkat, hey! Jangan, dong!” kata Daran tak menyetujui apa yang Yoonkyung lakukan.

“Sudahlah, menurut saja!” balas Yoonkyung ketus. Daranpun hanya bisa menurut dengan ekspresi sebal.

“Halo, ada perlu apa mendadak menelpon?” sahut Yoonkyung garang pada Baekhyun, lawan bicaranya di telepon.

“…”

“Ingin bicara dengan kami?”

“…”

“Kalau aku tak mau memberitahukan keberadaanku, bagaimana?”

“…”

Calm down, boy.. jangan pakai emosi seperti itu. Aku ada di Ve Pasuta. Tahu, ‘kan?”

“…”

“Ya, cepat!”

Sesaat setelah itu, Yoonkyungpun memutus obrolannya di telepon dengan Baekhyun.

“Dia bilang apa saja?” tanya Daran.

“Maunya sih ke mari, ingin bicara. Paling juga tentang sampah itu.” jawab Yoonkyung.

“Sampah, siapa maksudmu?” Daran terheran-heran dengan kalimat yang Yoonkyung lontarkan.

“Siapa lagi kalau bukan Han Yeon Sung?!”

HUSSSH! Bicara macam apa kau ini, menghina orang seenaknya sendiri,” tegur Daran.

“Orang yang melanggar peraturan itu sampah. Mengerti kau?!” sanggah Yoonkyung yang kekeuh tak ingin kalah.

“Tapi kan, walau begitu…. Ah, sudahlah! Bingung juga aku mau melanjutkannya bagaimana.”

Beberapa saat kemudian, saat keheningan terjadi di antara Yoonkyung dan Daran karena tak punya bahan pembicaraan, datanglah Baekhyun dengan nafas yang tersenggal-senggal.

“Daran! Yoonkyung!” panggil Baekhyun.

“Kauhabis ikut lomba marathon di mana? Keringat bercucuran, ngos-ngosan pula!” cibir Yoonkyung yang merasa keadaan Baekhyun saat ini sangat lucu.

“Aku ingin kalian bersatu kembali, bersama Yeonsung!” ucap Baekhyun yang langsung menjurus ke inti tanpa perlu menggunakan basa-basi.

“Eh? Bicara apa kau ini? Bingo! Team tak pernah mentolerir anggota yang kurang ajar seperti gadismu itu.”

“Tapi itu terlalu konyol. Kenapa tak diperbolehkan berpacaran dengan mantan teman sendiri. Apa yang salah, huh?!” Baekhyun mengerang kesal.

“Asal kautahu, mantan itu menyebalkan. Mereka penghianat, meninggalkan gadis begitu saja.” terang Yoonkyung.

“Penghianat? Kalau begitu, keluarkan saja Kim Da Ran dari grup bodoh ini. Dia yang salah, hingga aku muak dan meninggalkannya.”

“Kenapa jadi menyalahkanku?!” sahut Daran tak terima. Iapun menatap Baekhyun sangat lekat, memberikan ekspresi mengejeknya.

Seketika wajah Baekhyun berubah. Berubah menjadi merah. Giginya bergemerutuk dan ingin sekali menampar pipi Daran dengan keras.

“Itu lah kau, selalu menyalahkan orang lain atas keburukan nasibmu sendiri. Harusnya kaukoreksi diri! Kau tak tahu betapa menyebalkannya dirimu ketika kita masih berpacaran?

“Kau itu selalu cari perhatian pada setiap lelaki tampan, kecentilan. Padahal tepat di sampingmu ada aku, pacarmu. Kau juga diam-diam menyukai Oh Sehun dan memberi memberi coklat valentine pada Lee Hongbin, ‘kan?

“Jika kaupikir dengan logika, apa masih mau aku menerimamu dengan keadaan yang seperti itu? Bodoh!” jelas Baekhyun dengan penuh emosi saat menjabarkan alasan mengapa ia meninggalkan Daran.

Bumi seakan berguncang di hati Daran, baginya ini bukan sekedar hembusan angin musim semi. Tapi sebuah aib melakukan yang telah diumbar Baekhyun. Ia baru sadar, betapa ia sangat mengecewakan Baekhyun di masa-masa mereka masih bersama. Ia menunduk. Menunduk karena malu. Ia tak ingin siapapun melihat wajahnya.

“Oke, Yeonsung memang salah karena sudah melanggar aturan. Tapi itu karena aku, aku yang memaksanya.” lanjut Baekhyun melengkapi penjelasannya.

“Daran, apa itu benar?” tanya Yoonkyung.

“Maafkan aku, semuanya,” ucapnya dengan terisak.

“Jadi bagaimana, apa kalian mau memaafkan Yeonsung?” tanya Baekhyun.

Diam beberapa menit, Yoonkyung berpikir, menopang dagunya dengan telunjuk dan ibu jarinya. Setelah jeda yang cukup lama itu, Yoonkyungpun membuka suara.

“TIDAK! ia tetap salah karena melanggar aturan. Ayo, Daran, kita jauhi lelaki pemaksa ini!” kata Yoonkyung dan langsung menarik tangan Daran untuk mengajaknya pergi.

“KALIAN BERDUA MEMANG, GADIS YANG JAHAT!!!” pekik Baekhyun mencerca Yoonkyung dan Daran. Sia-sia sudah usahanya. Berlari sekencang-kencangnya dari rumah menuju Ve Pasuta hanya untuk meminta maaf, tapi yang ia dapat, hanya penolakan yang menyakitkan.

To be continue…

13 thoughts on “Bingo! Team (Part 2)

  1. Ping-balik: Bingo! Team | Fingers Dancing

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s