Between Love & Friendship [Chapter 2]

request between love and friendship

Title                       :  Between Love & Friendship

Author                  : @ulfahanum1 (DreamGirl)

Main cast             :

  • Zhang Yi Xing a.k.a Lay
  • Im Yoon A
  • Xi Lu Han

Support Cast      :

  • Kim Kibum a.k.a Key

Rating                   : T

Genre                   : Romance , Friendship, sad

COVER BY KEYUNGE ART

Length                  : Chaptered

Disclaimer           : FF kali ini menceritakan kisah persahabatan beberapa orang yang berujung dengan cinta pada sahabatnya itu. Bahkan dua namja itu rela relain berbuat apapun demi mendapatkan hati sang yeoja. Namun sayangnya, yeoja itu lebih memilih persahabatan. Yeoja itu ga mau persahabatannya tiba tiba pecah begitu aja karena cinta. Yeoja itu tanpa sepengetahuan dua sahabat namjanya itu udah mempunyai namjachingu. Dan salah satu dari dua namja sahabat yeoja itu ada yang meninggal karena penyakitnya. Nah, dari pada author banyak ngebacot disini. Mending langsung baca aja ya ni FF. Cekidoooottt…

*\(^o^)/*

Luhan Pov

Aku terduduk lemas ditaman dekat dengan Apartementku sambil memandang kelangit yang sudah berubah menjadi gelap gulita. Hatiku benar benar bimbang saat ini.

“Apa yang harus kuperbuat? “ lirihku pelan. Aku melirik sekilas jam tangan yang melilit tanganku. Sekarang sudah larut malam. Aku lebih memilih untuk kembali ke Apartement. Sepertinya Yoona dan Lay sudah terlelap tidur.

Baru saja aku memasuki Apartementku, aku sudah bisa melihat dua orang tengah tertidur disofa. Mereka menungguku? Aku berjalan menghampiri Lay dan Yoona yang terlelap tidur. Aku mengelus kepala Yoona pelan dan mengangkatnya kekamarku. Biarlah untuk malam ini dia tidur dikamarku. Untuk esok, aku tidak akan membiarkannya.

“Jalja Yoona-ya.” Ujarku dan menyelimutinya dengan selimut yang berwarna coklat itu.

Aku kembali kesofa melirik Lay sekilas. Aku harus berbuat apa? Menggendong Lay juga kekamarnya? Gila! Benar benar gila! Aku tidak sekuat itu untuk bisa menggendongnya. Dan, malam ini aku akan tidur dimana? Di sofa? Dilantai? Hah. Sial.

“Lay… Ireona.” Aku menggoyangkan sedikit badan Lay. Haha, dan syukurnya dia terbangun dari tidurnya dengan mata yang sedikit sembab.

“Uh? Eh? Ah, Lulu….” Gumamnya pelan dan mengusap wajahnya pelan.

“Hmm. Malam ini aku tidur denganmu. Kajja.” Ajakku dengan sedikit ketus karena hal tadi. Aku berjalan lebih dahulu dibanding Lay. Rasa bersalah karena tadi ada, namun aku terlalu malas untuk mengatakannya pada Lay.

Bruuuk! Aku menghempaskan badanku tepat diatas tempat tidur Lay. Lay mendengus pelan diambang pintu. Sepertinya dia tidak suka jika harus sekamar denganku. Sudahlah, aku sedang malas untuk berdebat dengannya.

“Lu….” Ujar Lay pelan.

“Hm. Wae? “ tanyaku sinis.

“Kau ingin menemaniku minum teh ? “ tawarnya padaku. Aku tertegun. Teh? Ditengah malam seperti ini dia menginginkanku untuk menemaninya minum teh? Baiklah, tidak salah jugakan jika aku menemaninya. Aku beranjak dari ranjang dan beralih kearahnya. Dia tersenyum kearahku yang memperlihatkan dimple dipipinya itu.

“Geurae. “ jawabku dingin dan juga ketus.

“Gomawo Lu.” Serunya dan lagi lagi tersenyum.

“Berhentilah tersenyum seperti itu! Itu membuatku resah” bentakku dan memukul pergelangan tangannya. Tidak, sebenarnya aku senang melihatnya tersenyum kepadaku. Asalkan dia tidak marah lagi kepadaku. Tapi egoku berkata lain.

***

Aku duduk diruang makan sembari menunggu Lay mempersiapkan dua cangkir  teh hangat untuk kami berdua. Mataku terus tertuju pada sosoknya.

“Apa masih lama? “ gerutuku dan menyandarkan badanku diatas meja. Tiba-tiba saja Lay datang. Dia menyerahkan secangkir teh kearahku. Sekilas aku hirup aroma dari teh yang dia serahkan ini. Terasa wangi dan menggelitik hidungku. Ingin rasanya aku langsung menyeruput teh ini, tapi teh ini masih terlalu panas.

“……..” Diam. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Sesekali aku meniup pelan teh milikku ini.

“…..” Lay menatapku sekilas dan langsung berpaling menuju cangkirnya lagi.

“Wae? Kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?” tanyaku blak blakan. Lay menggeleng pelan dan menyeruput teh panasnya.

“Sepertinya kau menyukai Yoona.” Ujarku pada Lay.

“Tidak. Kupikir kau yang menyukai Yoona.” Sahut Lay dan tersenyum tipis kepadaku.

“Tidak.” Elakku. Kuhabiskan teh panasku dengan satu seruputan. PRAK! Kuhempaskan kasar cangkir teh ku tadi. Lay tersentak kaget.

“Gwenchana? Apa teh itu tidak panas? Apa lidahmu tidak terbakar? “ tanyanya padaku.

“Cepat habiskan teh mu itu. Aku mengantuk. Aku butuh tidur. Aku tidak ingin lingkaran hitam ini semakin menjadi jadi.” Seruku pada Lay dan pergi meninggalkan Lay sendiri diruang makan.

‘Aaah, panas! Luhan babo! Kenapa aku bisa meminum teh panas ini? Aah, lidahku…. Appo…’ batinku sambil menahan kesakitan.

Aku berjalan kekamar Lay dan menghempaskan badanku diatas ranjang Lay yang empuk ini. Kurubah posisiku menjadi membelakangi Lay saat Lay masuk kedalam kamar dan ikut merebahkan dirinya diatas ranjang.

“Jalja…” ujar Lay lembut.

“Eoh.” Jawabku sedikit ketus.

***

Aku menggelinjang tak karuan diatas tempat tidur. Perlahan kubuka mataku, kulirik Lay yang ada disebelahku. Dia masih tertidur. Sepertinya dia kelelahan karena kemarin pergi entah kemana bersama Yoona.

“Hoaaaaaaam…..” kurenggangkan badanku dan kulakukan sedikit peregangan.

Tunggu, bau apa ini? Kenapa begitu harum? Siapa yang memasak? Apa Lay? Tapi Lay ada disini bersamaku. Sepertinya aku melupakan sosok Yoona.

“Aigoo..Dia disini.” Ujarku dan langsung berlari keluar kamar Lay dengan wajah yang acak acakan. Benar saja, Yoona dengan celemek yang digantung dilehernya ia memasak didapur. Dia benar benar terlihat cantik saat seperti itu, suatu saat nanti dia akan menjadi calon Eomma yang baik.

“Selamat pagi Yoon.” Sapaku padanya dan memberikan sebuah rangkulan hangat dari belakang.

“Eoh? YA! Kau mengagetkanku..” sentak Yoona dan melirikku sekilas. Aku hanya bisa terkekeh pelan.

“Apa yang kau lakukan dipagi hari? “ tanyaku padanya.

“Apa jam 10 masih bisa dibilang pagi LUHAN? “ tanya Yoona dengan sedikit penekanan pada namaku.

“Ahahaha. Molla. Mungkin saja.” Jawabku dan tergelak, begitu juga dengan Yoona.

“Dimana Yixing? Dia belum bangun? “ tanyanya lagi.

“Hmm.” Jawabku dan duduk dimeja makan menunggu sarapan yang dibuatnya untuk kami.

Aku menyandarkan kepalaku kemeja makan, kegiatan yang selalu kulakukan saat menunggu Lay memasak untukku. Tapi kali ini terasa lain, bukan seorang namja yang memasak untukku melainkan seorang yeoja yang kusukai sejak dulu. Kulirik sekilas Yoona yang masih sibuk menyiapkan makanan. Aku hanya mampu tersenyum tipis dari balik belakang badannya.

“…..” aku tersentak kaget saat kurasakan tepukan hangat dari seseorang. Lay, ternyata dia sudah bangun dan sekarang ikut menghempaskan badannya dikursi sebelahku.

“kau sudah bangun? “ tanyaku sedikit ketus.

“Hmm.” Jawabnya pelan dan memutar sedikit lehernya. Sedikit perenggangan mungkin?

“Cha… Ini diaa…” ujar Yoona dan membalikkan badannya.

“Oh? Kau sudah bangun Yixing? Bagaimana dengan tidurmu? Dan juga lukamu..” tanya Yoona pada Lay. Aku mendesah pelan. Lagi lagi, aku akan tersingkirkan jika seperti ini.

“Ne. Tidurku biasa saja. Mungkin sedikit tidak nyaman karena adanya dia disampingku. Lukaku sudah sembuh. Hanya sedikit luka kecil tidak usah dipermasalahkan.” Jawab Lay dan memandangku seakan akan tahu arti dari desahan kecilku tadi.

“kajja. Ayo makan.” Ajakku mengalihkan pembicaraan.

“Ne.” jawab Lay dan Yoona serempak.

Akhirnya, kami bertigapun makan masakan yang dimasak oleh Yoona. Walapun tidak seenak masakan Lay, aku tetap menghargainya. Aku juga bingung, apa Lay itu seharusnya dilahirkan sebagai yeoja atau namja? Ah, ani. Lupakan. Yang terpenting perutku terisi.

Luhan Pov End

Author Pov

Hari sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Tapi Lay, Yoona dan Luhan masih bersiap siap diApartement. Seperti biasanya, diantara mereka bertiga Laylah yang paling lambat.

“Apa masih lama? “ gerutu Yoona diambang pintu kamar Lay yang sekarang menata rambutnya.

“Chakaman.” Sahut Lay tanpa mengalihkan pandangannya dari depan kaca.

“Ppalli..” teriak Yoona sedikit keras.

“Tsk.” Decak Lay kesal dan berjalan menuju Yoona dengan wajah masam.

“Kau ini.” Ketus Lay dan mengajak Yoona agar segera keluar dari Apartement.

Luhan? Dia sudah daluan keparkiran mobil. Luhan harus memanaskan motor sport miliknya dan mobil Lay.

“…..” Yoona diam tak bergeming mengikuti langkah Lay dari belakang.

“Yoona-ya, esok aku akan kembali ke Rumah Sakit untuk Chek Up.” Kata pertama yang diutarakan Lay pada Yoona.

“Ne? kau ingin aku menemanimu?” tanya Yoona dengan wajah sedikit cemas.

“Ani. Tinggalah bersama Luhan. Dan mungkin aku akan menginap dirumahku.” Sambung Lay dan menghembuskan nafasnya pelan.

“Tidak bisakah aku ikut bersamamu? “ mohon Yoona pada Lay.

“Tidak.” Geleng Lay dengan cepat sembari mengacak rambut Yoona pelan.

“Kajja. Luhan sudah menunggu kita.” Ajak Lay dan menarik lengan Yoona untuk segera menghampiri Luhan yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka berdua.

Lay pergi dengan mobilnya sendiri sedangkan Yoona pergi bersama dengan Luhan menggunakan motor sport milik Luhan. Yoona masih termenung memikirkan kata kata Lay yang selalu membuatnya cemas.

‘Tidak bisakah aku ikut?’ batin Yoona dalam hati dan memperat pelukannya dipinggang Luhan.

‘Aku benar benar khawatir dengan Yixing.’ Lirih Yoona lagi dengan air mata yang mulai tergenang.

Ya, sejak dulu Yoonalah yang paling mengkhawatiri Lay hanya karena Yoona takut Lay akan terluka suatu saat nanti dan pergi dari sisi Yoona. Walaupun Yoona lebih tua dibanding Lay 1 tahun, Yoona merasa bahwa Lay lah yang lebih memiliki sikap tua dibanding dirinya. Lay lah yang selalu mengasihi Yoona dengan sepenuh hatinya. Diantara Lay, Luhan dan Yoona hanya Yoona dan Luhan yang kelahiran 90 sedangkan Lay kelahiran 91. Ibaratnya Lay adalah seorang maknae diantara mereka yang harus disayangi dan dijagai.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Luhan dan Yoonapun sampai diparkiran kampus dengan diiringi mobil Lay dibelakangnya. Seperti biasa, suara teriakan yeoja sudah mulai terdengar. Yoona meniup poninya dan berjalan mendekati Lay.

“Na Ka.” Pamit Yoona pada Lay dan Luhan.

“Wae? Kita pergi bersama saja.” Ajak Lay pada Yoona.

“Aishhi, apa kau tidak lihat yeoja yeoja itu? Mereka bisa bisa memakanku jika aku tetap berada disekitar kalian.” Rutuk Yoona.

“Tapi mereka tahu kalau kau adalah chinguku, aah bukan. Melainkan sahabatku.” Balas Lay.

“hah, biarkan aku bebas dari tatapan kejam itu.” Jawab Yoona dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Lay dan Luhan yang sekarang sudah mulai dikerubuti oleh para yeoja yeoja.

Yoona berjalan dengan santainya menuju ruangan kelas dimana ia akan kuliah. Tapi tiba-tiba saja dia menangkap sosok yang baru baru ini dia kenali. Ya, siapa lagi jika bukan namja yang kemarin hari mengantarkannya pulang, Key. Key tengah duduk manis dikantin dengan tangan yang sibuk membalik balikkan halaman buku.

“Annyeonghaseyo.” Sapa Yoona dan duduk disebelah Key.

“Eoh? Annyeonghaseyo.” Balas Key dan sedikit membungkukkan badannya pada Yoona.

“Apa yang kau lakukan disini seorang diri? “ tanya Yoona pada Key.

“Menunggumu.” Jawab Key singkat namun dapat membuat Yoona terkejut.

“Haha. Kau benar benar lucu.” Sahut Yoona dan tergelak.

“….” Hanya senyuman tipis yang dilayangkan Key pada Yoona.

Key dan Yoona akhirnya berbincang bincang dikantin. Yoona tak henti hentinya tersenyum saat bersama Key. Ada sesuatu yang menjanggal dihati Yoona saat ini, sesuatu yang tidak pernah dirasakannya saat bersama atau disekitar namja lainnya seperti Lay dan Luhan. Hati Yoona berdegup tak karuan saat matanya bertatapan dengan manik mata Key yang indah itu.

“Sampai bertemu lain waktu.” Pamit Yoona pada Key.

“Ne.” jawab Key. Yoona melangkah maju pergi dari tatapan Key.

“Bisakah kita pergi sepulang kuliah nanti? “ tanya Key pada Yoona. Yoona menghentikan langkahnya dan menatap balik Key.

“Tentu. “ jawab Yoona singkat dan melemparkan senyuman tipis kearah Key.

Seoul, 17.00 PM

Kota Seoul sekarang sudah berubah menjadi sedikit sepi dan warna awanpun sudah semakin menguning. Yoona berjalan pelan menyelusuri lorong kampus mencari sosok yang tadi sempat bertemu dengannya. Jalan Yoona terhenti seketika saat menyadari dua orang namja tengan mengikutinya.

“Wae? “ tanya Yoona pada Luhan dan juga Lay.

“Kau akan kemana? “ ujar Luhan pada Yoona.

“Kalian pulang saja dahulu. Aku ada janji dengan seseorang.” Suruh Yoona dan kembali melanjutkan jalannya.

“apa kami bisa ikut? “ tanya Luhan lagi.

“Tidak.” Jawab Yoona singkat.

“Wae?” rengek Lay dari belakang dan segera menyusul Yoona yang sudah dahulu berjalan.

“Aku akan pergi dengan seorang namja. Jadi tidak usah ikut aku. Untuk sekali ini biarkan aku pergi. J-E-B-A-L! “ sahut Yoona dan mempercepat jalannya.

“Geurae! Ka! KA! “ teriak Luhan dengan lantang karena terlalu kesal kepada Yoona. Luhan menahan langkah Lay dan membiarkan Yoona pergi menemui seseorang namja yang akan pergi bersamanya itu.

“Neo ..Wae geuraeyo? “ tanya Lay sedikit bingung.

“Biarkan dia pergi. Hah.” Decak Luhan kesal.

“Eoh.” Lirih Lay pelan. Sebenarnya, didalam lubuk hati yang paling dalam Luhan dan Lay sama sama tidak ikhlas membiarkan Yoona pergi bersama seoraang namja yang entah bagaimana sifatnya.

“Bagaimana kalau kita pergi bermain? “ ajak Luhan.

“Oddi? “ tanya Lay sedikit bingung.

“Amusement Park.” Sahut Luhan dengan seukiran senyuman tipis. Lay mengeluh pelan,baru kali ini dia diajak seorang namja ke Amusement Park.

“Geurae.” Jawab Lay pasrah.

Lay dan Luhan benar benar pergi ke Amusement Park berduaan. Menghabiskan waktu bersama hingga malam menjelang. Mereka terus sibuk memainkan semua permainan yang ada. Berteriak heboh kesana kemari seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Singgah ke toko Ice Cream membeli Ice Cream dan memakannya ditempat yang sejuk dan sedikit dingin karena angin sore yang bertiupan.

“Hahaha. Ini sungguh menyenangkan.” Seru Luhan dengan semangat sambil menyuapkan sesendok Ice Cream kedalam mulutnya.

“Ne.” jawab Lay dengan diiringi senyuman khas miliknya.

“Kita seperti anak kembar.” Seru Luhan lagi membuat Lay sedikit bingung.

“Lihat pakaian dan tas kita.” Seru Luhan. Lay melirik tas dan pakaiannya. Dia hanya bisa tersenyum tipis dan melanjutkan kegiatannya menghabiska ice cream yang masih bersisa itu.

Ya, bisa diumpamakan Lay dan Luhan seperti anak kembar. Baju yang mereka kenakan sama persis begitu juga dengan tasnya, hanya berbeda warna saja.

“Cham, dua hari lagi Yoona akan ulang tahun. Kau ingat bukan? “ ujar Lay mengingatkan Luhan.

“Maja.” Jawab Luhan dengan antusias.

“Kau sudah menyiapkan sebuah kado untuknya?” tanya Lay.

“Belum. Bagaimana denganmu? “ tanya Luhan balik.

“Geurae. Kalau begitu bagaimana kalau kita singgah terlebih dahulu ke Mall membeli kado untuknya.” Tawar Lay pada Luhan.

“Joha, kajja. Hari sudah semakin larut. Aku takut dia akan sendirian di Apartement.” Ajak Luhan dengan sedikit semangat.

Author Pov End

Yoona Pov

Ini sedikit mencanggungkan. Berjalan berduaan bersama seorang namja tampan yang sedari tadi menggenggam tanganku erat tidak memperdulikan bagaiman situasi jantungku saat ini. Segores senyuman terus terukir dibibirku. Ini kali pertama aku berjalan berduaan bersama namja. Bisakah aku sebut ini kencan?

“Yoona-ya, Apa kau lelah? “ tanyanya padaku tiba-tiba.

“Tidak.” Jawabku jujur. Bagaimana bisa aku lelah jika aku sedang berjalan bersamanya? Namja yang entah sejak kapan kutafsirkan kalau aku menyukainya.

“Jeongmal? Jika lelah mari berhenti disana.” Ajaknya lagi. Aku mengangguk pelan. Badanku mengikuti badannya dari belakang.

Aku duduk disebelahnya disebuah kursi kayu panjang yang ada di Han River ini. Menakjubkan. Ketika malam sudah menjelma seperti ini, pemandangan Han River bisa dikatakan lebih dari menakjubkan dan mengagumkan. Aku menghirup pelan oksigen dan menutup mataku. Jujur, tidak ada rasa lelah sedikitpun bagiku kali ini. Walaupun sudah hampir 2 jam aku jalan jalan bersama Key, namja yang ada disampingku saat ini aku tidak merasa bosan dan lelah sedikitpun.

“Yeoppo? “ bisiknya padaku pelan.

“Ne.” jawabku setenang mungkin.

“Yoona-ya, kau ingin kado apa dariku? “ tanyanya.

“Mwo? “ tanyaku ulang.

“……” dia tersenyum tipis kearahku.

“Lusa. “ kata kata singkat yang bisa membuat hatiku tertohok. Lusa, ulang tahunku.

“Kau tidak lupa dengan ulang tahunmu sendirikan? “ tanyanya lagi. Aku terdiam.

“……” aku menundukkan kepalaku. Otakku berpikir keras, bagaimana bisa Key tahu segala yang bersangkutan denganku?

“Kenapa hanya diam? “ serunya sedikit kesal.

“Ani. Aku ingat! Tidak usah memberiku kado. Aku senang jika seseorang hanya mengucapkan kata kata.” Jawabku padanya.

“Jinjja? Kalau begitu aku akan menjadi orang yang pertama mengucapkannya padamu. Aku berjanji.” Balasnya.

“N..Ne..” jawabku gugup.

“Kau kedinginan? “ dengan sedikit tergesa gesa dia berusaha membuka jacket yang digunakannya dan memakaikannya kepadaku. Malu.

“Go…gomawoyo Key-shi.” Ujarku dengan wajah yang memerah.

‘Jantungku, kumohon berhentilah berdegup kencang!’ batinku.

“Ayo pulang.” Ajaknya dan menarik lenganku dengan lembut. Sekarang aku yakin, perasaan ini memang benar. Rasa suka.

“Ne.” jawabku.

Key menyerahkan sebuah helm kearahku. Dengan senang hati aku menerimanya dan langsung mencoba memakainya. Tapi, kali ini lebih terasa sulit untuk memakainya.

“Huuh..” keluhku karena helm ini masih belum terpasang dengan sempurnanya.

“Aigooo.” Ujar Key dan memasangkan helmku dengan tiba tiba. Deeg! Lagi! Entah untuk keberapa kalinya jantungkun berdetak lebih cepat, apalagi disituasi yang seperti ini.

“Kajja.” Ajaknya dan menyuruhku untuk segera naik kemotor sportnya itu.

Aku mengalungkan kedua tanganku diperut Key. Ini sedikit memalukan, tapi apa boleh buat? Aku tidak ingin terjatuh dari motornya. Aah, wajahku serasa memanas.

“Key-shi, tolong antarkan aku kerumah sahabatku.” Pintaku pada Key dengan suara yang dikeraskan.

“Arrasso. Oddieyo? “ tanya Key dan tetap konsen dengan mengemudinya.

“Beberapa meter dari SM Entertaiment. Turunkan saja di sana.” Jawabku dengan suara keras.

“Ne. “ jawab Key dan kembali melanjutkan perjalanan.

Beberapa saat setelah itu, akhirnya aku dan Key sampai didekat gedung SM Entertaiment salah satu Entertaiment di Korea yang sangat terkenal. Aku membungkuk sopan kepada Key dan menatap motor Key yang semakin lama semakin jauh dari pandanganku.

Dengan lemas aku berjalan menuju Apartement Luhan dan Lay yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Gedung SM. Sekitaran 10 meter. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan sesekali mengusap lembut permukaan kulitku yang sudah mulai merinding kedinginan.

“Hahahaha…” suara tawa yang tak asing lagi bagiku membuatku seketika mengalihkan pandanganku kepada sosok dua orang namja yang sedang tergelak bersama dengan tangan yang dipenuhi belanjaan.

“Lu….” Belum sempat aku memanggil nama Luhan, mereka terus berjalan dan tidak menghiraukan akan keberadaanku dibelakang sini.

“Yixing-ah.” Seruku lagi. Lay menoleh kebelakang. Tawanya tadi seketika terhenti saat melihatku. Mimik wajahnyapun ikut beganti.

“Oh. Yoon.” Sahut Lay dingin. Aku memperpendek jarakku dengan mereka. Belanjaan yang mereka bawa itu kulirik sekilas. Hanya ada beberapa helai pakaian pria didalamnya.

“Kalian belanja? “ tanyaku sedikit berbasa-basi.

“Ne.” jawab Lay singkat dan padat.

“Geurae…” lirihku pelan dan menundukkan wajahku tak mau memperlihatkan raut kesedihanku kepada namja yang ada didepanku saat ini.

“Kajja. Diluar dingin Yixing-ah.” Ajak Luhan pada Lay dan menarik lengan Lay agar segera masuk kedalam Apartement.

‘Dia tidak mengajakku..’ batinku sedikit iba dengan sikap sahabatku sendiri.

“Kenapa mereka seperti itu kepadaku? Apa mereka marah kepadaku karena tadi sore? Hah…” keluhku pelan dan langsung mengikuti langkah Lay dan Luhan dari belakang.

Perasaanku semakin tak enak saat melihat Luhan yang awalnya berbincang bincang dengan Lay didapur terhenti saat menyadari keberadaanku.

“Lulu-ya, neo wae geurae? Kenapa saat ada aku kau berhenti bicara? Kau marah kepadaku? Mian. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal ataupun marah. Neodo Lay.” Ujarku dengan suara sedikit serak.

“Na? Na wae? “ balas Lay sedikit bingung.

“Anio. Geunyang… ani.” Jawab Luhan dan beranjak dari dapur. Meninggalkan aku dan Lay didapur. Aku menatap punggung Luhan yang sudah menghilang dari penglihatanku. Lay melemparkan senyum pahitnya kearahku. Lay sama seperti Luhan, dia juga akan pergi beranjak dari dapur menuju kamar.

“Chansimanyo…” tahanku pada Lay saat Lay berjalan tepat disebalahku.

“Hm? Wae? “ sahut Lay sedikit tenang.

“Antarkan aku pulang.” Pintaku pada Lay. Lay membelalakkan matanya seketika.

“Jigeumnyo? “ tanya Lay memastikan.

“Ne. Aku akan berkemas sekarang juga.” Ujarku pada Lay setenang mungkin padahal didalam hatiku, aku sedikit sedih dengan permintaanku. Aku masih ingin tinggal disini dan mengurusi kedua sahabat kecilku.

“Geundae….” Samar samar kudengar suara Lay yang berusaha mencegatku. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Aku ingin pulang dan menangis sekencang kencangnya dirumah. Kenapa selalu serumit ini? Setiap hari persahabatan kami bisa terbilang tidaklah lancar. Kemarin, Luhan marah kepadaku sama seperti sekarang ini. Melelahkan.

Yoona Pov End

Lay Pov

Aku berjalan tergesa gesa menuju kamarku untuk menemui Luhan. Aku harus memberitahu hal ini kepadanya.

“Xiao Lu.. Gawat! “ teriakku pada Luhan yang sedang sibuk memainkan PSPnya.

“Aah, wae? “ tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.

“Yoona memintaku untuk mengantarkannya pulang. Ottokhe? “ tanyaku sedikit kewalahan.

“Gwenchana. Antarkan saja. Kita bisa menyusun rencananya lagi. Lagian dia tidak tahu bahwa kantong plastik tadi ada kadonya.” Jawab Luhan dengan enteng.

“Jinjjayo? Apa aku harus mengantarkannya sekarang juga? Geurae. Na Ka.” Ujarku berpamitan kepada Luhan yang masih sibuk dengan PSPnya.

Aku berjalan keluar dari kamarku beralih menuju kamar Luhan yang ditepati Yoona. Dari kejauhan sudah bisa kudengar suara Yoona yang menarik nafasnya pelan. Hah, sepertinya rencanaku dan juga Luhan akan sia-sia.

“Kajja.” Ajaknya. Kulirik sekilas matanya yang sudah berlinang. Sebegitu sedihkah dia dengan sikap Luhan yang hanya bergurau dan mengerjainya? Apa dia akan seperti itu juga jika aku melakukan hal seperti Luhan kepadanya?

“……” diam. Hanya itu yang bisa kami lakukan berdua, suasana ini sedikit canggung. Kurasakan tangan kecil Yoona menggenggam tanganku. Hangat. Kugoreskan sedikit senyuman untuknya. Anggap saja sebagai pelipur lara untuknya.

***

Sesampainya didepan rumah Yoona, Yoona bergegas keluar dari mobilku dan berpamitan denganku.

“Gomawoyo.” Lirihnya pelan dengan wajah suram.

“Ne. Jaljayo Yoona.” Sahutku dan melambaikan tanganku kearahnya yang tidak digubrisnya karena dia sudah langsung masuk kedalam kediamannya.

Aku menghempaskan badanku kesandaran mobil. Tiba-tiba saja semuanya terasa sakit. Apa penyakitku kembali kambuh? Aku hanya bisa meringis kesakitan. Aku tidak tahan lagi. Aku harus segera pulang kerumah bukan ke Apartement. Tempat yang satu satunya aman bagiku sekarang ini adalah Rumahku. Aku mengeluarkan ponselku dan langsung mencari kontak seseorang yang bisa menenangkanku saat ini, Eommaku.

“Yeoboseyo..” suara lembut beliau terdengar jelas digendang telingaku.

“Eomma….” Lirihku pelan dan menggigit ujung bibirku.

“Ne. Besok jangan lupa ne? “ ujar beliau mengingatkanku untuk esok ke Rumah sakit.

“Eoh Eomma. Na Jigeum…” ujarku dan tidak melanjutkan perkataanku.

“Waeyo? “ tanya beliau dengan lembut.

“Aku akan pulang ke rumah sekarang Eomma. Tunggu aku.” Jawabku dan langsung mengakhiri panggilanku.

Dengan kepala yang bertambah pusing, aku langsung menancap gas mobilku menuju kediamanku yang sesungguhnya. Luhan? Ini sudah larut malam dan dia pasti sudah tertidur pulas. Aku tidak akan memberi tahunya bahwa aku pulang kerumah malam ini. Mungkin, lusa aku akan menjelaskannya padanya.

***

Ting..Tong..

Suara bel yang nyaring semakin membuatku lemah tak berdaya. Ya, sekarang aku sudah ada didepan pintu rumahku. Dan tidak biasanya, pintu rumahku terkunci. Walaupun malam hari, biasanya Eomma tidak akan pernah menguncinya karena ada satpam yang akan berjaga-jaga didepan sana.

CKLEK!

Pintu rumahku terbuka. Sosok yang taka sing lagi bagiku menyambutku dengan seukir senyuman hangat. Tidak, aku tidak ingin membuatnya menangis suatu saat nanti. Aku membalas senyumannya dan memeluknya singkat.

“Eomma… “ sapaku dengan lembut.

“Ne. Nae adeul.” Jawab Eommaku dengan suara yang paling kusukai.

“Eomma, kajja. Diluar dingin.” Ajakku dan merangkul hangat beliau agar segera masuk kedalam Rumah.

Aku dan Eomma berjalan bergandengan menuju kamarku dilantai dua. Eomma sedikit menepuk nepuk pundakku dan mendorong badanku agar segera masuk kedalam kamar.

“Eomma, bisakah kita kerumah sakit malam ini? “ ajakku pada beliau yang sudah hampir beranjak dari depan pintu kamarku. Dengan segera beliau membalikkan badannya.

“Waeyo? Kenapa sekarang? Kau sakit? “ tanya Eomma dengan cemas.

“Sedikit.” Jawabku bohong. Padahal sejujurnya, sakit ini sudah membuatku tak mampu berbuat apa apa. Tapi aku harus bersikap biasa saja didepan Eommaku.

“Geurae. Kita akan pergi sekarang juga. Eomma akan mengganti baju Eomma dahulu.” Seru Eomma sedikit kewalahan. Ya Tuhan, anak macam apa aku ini karena sudah membuat Eommaku takut dan kewalahan seperti ini?

Aku duduk diatas sofa sambil menunggu kedatangan Eommaku. Kututup mataku perlahan. Mataku benar benar terasa berat. Organ tubuhku, serasa tidak berfungsi.

***

Seoul, 07.30 AM (29 Mei 2013)

Suara suara gaduh membuatku bangun dari tidurku. Tunggu? Apa aku tertidur semalam? Bodoh! Tapi tunggu dulu, ini bukan kamarku. Ini rumah sakit. Ya, benar ini adalah rumah sakit dengan bauk khas obat obatan yang membuatku muak dan juga mual. Baju rumah sakit yang khas juga terpasang ditubuhku.

“Kau sudah bangun? “ tanya seseorang dari arah pintu.

“Ne Eomma. Bagaimana bisa….” Jawabku sedikit bingung.

“Tadi malam kau pingsan sayang, jadi Eomma menyuruh salah satu satpam kita mengangkatmu keatas mobil.” Jelas Eomma dengan tangan yang sibuk menuangkan air putih kedalam gelas.

“Minumlah.” Suruh Eomma dan menyerahakan gelas itu kearahku.

“Ne Eomma. Mian karena merepotkanmu Eomma.” Ujarku merasa bersalah karena telah merepotkannya.

“Stt… Jangan banyak bicara lagi.” tukas Eommaku dan duduk dikursi yang dekat dengan ranjangku ini.

Tiba tiba kurasakan sesuatu bergetar hebat diatas ranjangku ini. Sepertinya getaran ponsel seseorang. Apa ponsel milikku?

Drrrt…Drrrt…

Drrt…Drrtt…

Drrrt…Drrtt…

Drrrt…Drrtt….

Dengan sedikit kewalahan aku mencari ponsel yang kuyakini itu adalah milikku. Ah, ternyata ada dibawah bantal. Ada 4 pesan dari Luhan dari juga Yoona (?).

From     : Deer Lu Han

YA! ZHANG YIXING! Neo jigeum eodieyo? Kau tidak pulang semalaman? Kau menginap dirumahmu? Kau tega meninggalkanku sendirian diApartement Eoh? Kenapa tidak mengabariku kalau kau pulang? Kau ingin membuatku mati cemas?

Aku hanya bisa terkekeh pelan membaca pesan dari Luhan. Dia benar benar mengkhawatirkanku rupanya. Bukankah dia Hyung dan Chingu yang baik untukku?

From     : Deer Lu Han

YA! Kenapa tidak membalas pesanku? Kau masih tidur? Aku lapar~ . Cepat pulang dan masakkan sesuatu untukku Yixing-ah. Kau tidak kasihan kepadaku? Perutku sudah meronta meminta makanan. Ppalli! TT TT

Haha, ini sangat lucu sekaligus menyebalkan. Dia menyuruhku untuk pulang segera hanya karena dia lapar dan ingin aku memasak sesuatu untuknya? Haha! Shireo! Dia harus bisa hidup mandiri tanpa adanya aku.

From     : Deer Lu Han

Geurae. Joha. Aku memasak ramyun untuk makan pagi ini. Kau puas bukan? Cepat balas pesanku dan katakan bagaimana keadaanmu saat ini! Jangan membuatku semakin cemas! Geundae, sejujurnya… Hatiku sekarang ini merasa janggal. Aku merasa kau tidak baik baik saja saat ini. Jebal, balas pesanku segera. Katakan kepadaku kau baik baik saja. Setidaknya balas pesanku dengan sebuah kata singakat untuk memastikan. Seperti ‘Eoh’ mungkin.

“Hahahahaha. “ tawaku meledak seketika. Kenapa dia begitu menggemaskan? Hah, jika aku disana sekarang ini. Aku pasti akan mencubit pipinya yang lucu itu.

“Waeyo? “ tanya Eommaku.

“Eomma. Lihat.” Ujarku pada Eommaku dan memamerkan layar ponselku yang berisi pesan Luhan tadi.

“Aigoo. Cepat balas pesannya. Dia begitu mencemaskanmu.” Suruh Eommaku.

“Ne Eomma. Arrasso.” Jawabku dan dengan cepat aku membalas pesannya.

 

To           : Deer Lu Han

Eoh.

Sesuai dengan permintaannya, aku hanya membalas pesannya dengan kata singkat. Aku masih memegang perutku menahan tawaku. Tapi tidak setelah membaca pesan terakhir dari Yoona.

-TBC-

Note : Annyeonghaseyo. Author balik lagi dengan FF ‘Between Love & Friendship’. Mianhaeyo karena baru bisa ngepost. Ini dikarenakan imajinasi author yang lagi ga bisa dipancarkan. Terus belum lagi tugas author dan ulangan ulangan yang menumpuk. Mianhae, jeongmal mianhae. Nah, kira kira apa coba pesan yang dikirimin Yoona untuk Lay sampai sampai Laynya membeku seketika habis membaca pesan dari Yoona? Ayoo, yang tahu comment yaa. *^^* Be Good reader!

9 thoughts on “Between Love & Friendship [Chapter 2]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s