Pouring Rain

| Title : Pouring Rain | Author : Seo Yuri (@Angrybird_Baby) |

| Main Cast : ♪ Lay EXO-M|

|  Ficlet, Fluff, G, 880 words |

Matanya sibuk memilah, antara jalan dan langit−sesekali melirik jam yang terasa sangat lambat. Ia mendesah, lalu memainkan kakinya yang menggantung diantara tempat duduk halte, sepi. Langit mendung, tapi tidak hujan. Ini jam sibuk, tapi tidak ramai. Hari ini aneh, itu yang dipikirkannya.

Perlahan-lahan, kepalanya muncul menatap langit untuk memastikan hujan akan turun atau tidak. Nampaknya cuaca sedang bermain petak umpet dengannya beberapa hari ini. Selalu mendung tapi tidak hujan, sejak beberapa hari yang lalu−tepatnya 3 hari yang lalu−ia menunggu hujan seperti menunggu kekasihnya yang kini entah sudah sampai dimana.

Jika kau pikir dia seorang gadis aneh yang bergitu menggemari hujan, maka kau salah. Tidak, dia bukan penggila hujan, ia juga sudah cukup dewasa untuk tahu bermain-main dengan hujan itu tidak baik. Jika bukan karena ia tak sengaja melontarkan pertanyaan bodoh pada kekasihnya, mungkin ia tak akan seperti sekarang. Gadis bodoh penunggu hujan.

Memangnya ada alasan yang lebih logis demi mengingatkan Yixing pada ulangtahunnya sendiri hingga ia harus menghabiskan sepanjang waktu hanya untuk menunggu hujan, meski pun lelaki pelupa itu menghilang dihari ulangtahunnya?

Menyebalkan memang, tapi ia berusaha tetap tenang menghadapi kekasihnya yang pelupa itu. Yixing memang pelupa, yah begitu pelupa hingga terkadang ia lupa jadwalnya besok atau kalau tidak yah ia lupa membawa baju ganti untuk kemah 3 hari 2 malamnya.

Sekali lagi, ia mendongak menatap langit lalu secara ajaib setitik air jatuh didekat hidungnya, satu lagi dimata dan ia hampir-hampir tak bisa bernafas, terlalu kaget.

Oh my god, honey, apa yang harus aku lakukan padamu? Kau bahkan tidak ingat ulangtahunmu sendiri.”

Ia mengerjap, sekali lagi hingga ia tersadar dan cepat-cepat memeriksa jam. 5.30 p.m. Great. Bus Yixing sampai setengah jam lagi.

Segera, kaki mungilnya beralih menapaki trotoar dan berlari menelusuri toko disepanjang jalan. Matanya menangkap bayangan toko kue dan ia tak bisa lagi mengulur waktu lebih lama hingga tubuhnya berpindah ke dalam toko.

“Hmmm, mungkin jika kau berdiri ditengah hujan dan menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Ah, jangan lupakan kuenya.”

Hujan mengalir dengan deras diluar sana, seolah sedang balas dendam dengan mendung tak beralasan beberapa hari lalu. Meski secara harafiah hujan selalu membuat orang-orang menghindar, maka menghidari hujan seakan tak ada didalam kamus hidupnya. Dibanding menghindar, ia malah membeli jas hujan.

“…jas hujan, ah benar, jangan lupa memakai jas hujan. Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu? Haha, aku hanya bercanda. Memangnya, siapa orang bodoh yang akan melakukan hal itu.”

Yixing muncul beberapa saat kemudian, berlari kecil demi menghindari hujan, tapi ia tak melihat siapa pun di halte. Ia baru saja hendak pulang ketika tiba-tiba seseorang berlari cepat ke arah halte, dengan jas hujan bening dan poni yang basah. Ditangannya ada kue yang dibungkus plastik, lalu lilin dengan angka 23, tentunya dengan payung kecil diatasnya.

Yixing bertanya-tanya dalam hati siapa orang bodoh yang rela berlarian ditengah hujan seperti ini. Tapi tak butuh waktu yang lama untuknya menyadari siapa sosok dihadapannya hingga kakinya bergerak cepat menembus hujan.

“Honey, what are you doing in the rain?”

Tangannya masih memegang kue lalu entah bagaimana air menciprat hingga menembus bagian luar kue dan lilinnya mati. Matanya mendelik ke arah Yixing lalu beralih ke kue, kembali ke Yixing dan berbalik lagi, begitu panik.

“Kenapa kau malah bermain hujan disini? Lalu ini apa? Kenapa kau membeli kue tart? Jika kau lapar aku akan membelikanmu makanan, kau tidak perlu melakukan ini aku hanya—“

“Itu… ulangtahun…”

Ia kehabisan kata-kata, tentu saja, bagaimana caranya berhadapan dengan orang pelupa seperti Yixing, ia hampir lupa.

“Ulang tahun? Kau ulang tahun hari ini? Kenapa tidak memberitahuku, aku bisa membelikan kue untukmu. Kau tidak perlu berlarian ditengah hujan seperti ini, bagaimana kalau kau sakit?

“Yixing… aku… itu… hujan… kuenya…” menaikkan intonasi, mengeraskan suara, tapi tetap saja suaranya teredam dengan hujan−ditambah ocehan Yixing yang tak ada habis-habisnya.

Honey, kenapa kau diam saja? Kau kedingingan? Oh, tidak. Lihat, wajahmu sudah pucat.”

Ia menggeleng, sekali lagi mencoba menjelaskan pada Yixing maksud dari tindakannya kali ini. Tapi meski pun ia sudah berkata dengan keras, suaranya masih teredam, udara sangat dingin hingga ia pun tak lagi mampu mengeluarkan kata-kata dari bibir yang bergetar.

Terakhir yang ia tahu, kakinya berjinjit lalu ia tak peduli lagi dengan kue yang jatuh beramburan dijalan. Yang pasti tangan bebasnya digunakan untuk menarik Yixing mendekat lalu Yixing membelalakan mata dan beberapa saat kemudian semua terjadi begitu saja.

“Tapi jika kau benar-benar akan melakukannya, kupikir akan lebih baik lagi kalau kau menciumku. Haha, lihatlah wajahmu sudah semerah tomat. Sudah-sudah, lupakan saja, lagipula aku ada kemah 3 hari 2 malam dari tanggal 7.”

Tumitnya kembali menyentuh bumi dan wajahnya yang malu-malu pun tak lagi berani menatap Yixing, begitu pula sebaliknya. Baru setelah sebuah bus menghampiri halte dan orang-orang keluar dari dalamnya, mereka segera tersadar kemudian cepat-cepat berlari mencari perlindungan dari hujan.

Mungkin ini bukan ulangtahun terbaiknya.

Yixing berbisik, “Kau tidak perlu melakukan itu,” sambil menggaruk tengkuk dengan sebelah tangannya yang bebas−satunya lagi digunakan mereka untuk bergenggaman.

Jeda sejenak, sebelum, “Sudah lewat 3 hari,” akhirnya Yixing ingat dan ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa senangnya.

Kakinya berhenti berlari hingga Yixing berada beberapa langkah didepannya. Saat Yixing berbalik dengan wajah yang penuh air hujan, ia menarik jaket Yixing mendekat dan menciumnya, lembut dan dalam.

Setelah beberapa saat, ia baru melepaskan genggamannya pada jaket Yixing dan berbisik seperti, “Jika ini bisa membuatmu ingat, maka tidak ada kata terlambat.” Dan Yixing hampir pingsan dibuatnya.

Tapi percayalah, hari ini indah.

———end

7 thoughts on “Pouring Rain

  1. wooaahhhh great bgt tu pasangan..
    punya cowo kek gtu udh aku jitak tiap hr he he tp INI mlh jd sisi so sweetnya haha daebak—–><
    keep writing^^

  2. akhhh😄
    XingXing aja lupa, tpi pacarnya bisa inget setiap keinginan Yi Xing dan langsung dipraktekin~
    Apapula itu baru ingat setelah di cium,,,*gk nyante* coba sini aku cium ^3^
    nice ff thor b(‘__’)d akhirnya Lay kebagian ff fluff

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s