A Goodbye

JONGIN

Title: A Goodbye | Author : Audeera | Cast : Kim Jong In & a Girl| Genre: Sad | Length: Oneshot| Rated: General | Author’s Note : This fiction belongs to Audeera except the cast. Happy reading and comments are so welcomed!

Backsound: 2pm – Suddenly

Kim Jong In memasukkan kancing terakhir pada jas hitam yang telah melekat sempurna di tubuhnya. Tampan. Bayangan cermin yang berada di hadapannya menampilkan seorang lelaki tampan dengan kemeja putih serta jas hitam yang menutupinya, meskipun bibirnya tidak menampilkan senyum sedikit pun.

Ketukan di pintu kamarnya mengalihkan pandangannya. Dapat ia lihat noona-nya yang berjalan menghampirinya dari cermin di hadapannya.

“Jangan memaksakan dirimu seperti ini,” ucapnya sambil ikut menatap bayangannya bersama Jong In yang sedang berdiri berdampingan. “Masih ada waktu untuk membatalkannya. Jangan menyakiti dirimu sendiri, Jong In-ah.”

Jong In menghadapkan tubuhnya pada Jung Ah lalu tersenyum tipis. “Noona, pasti saat ini aku terlihat menyedihkan bukan?” tanyanya yang membuat Jung Ah menarik Jong In ke pelukannya.

“Kau memang terlihat begitu menyedihkan. Maka dari itu batalkan lah rencana bodoh yang hanya akan membuat dirimu menjadi lebih menyedihkan.”

Jong In menggeleng pelan dari balik pelukan Jung Ah. “Aku sudah berjanji padanya. Lagipula, setidaknya..” Jong In melepaskan pelukannya pada Jung Ah sambil memegang kedua bahu kakak pertamanya itu.

“Aku tidak ingin terlihat lebih menyedihkan dengan menjadi pengecut, noona.”

~~~

“Kalian di perbolehkan untuk mencium pasangan kalian.”

Jong In ikut berdiri bersama para hadirin yang sedang bertepuk tangan melihat kebahagiaan pasangan suami istri itu. Dengan perlahan, ia menarik bibirnya untuk tersenyum meskipun hanya bertahan untuk sepersekian detik.

Noona-nya benar. Ia benar-benar terlihat menyedihkan saat ini.

Duduk seorang diri di antara kerumunan orang yang tidak ada satu pun ia kenal kecuali wanita yang sedang berbahagia bersama pria yang beberapa saat lalu telah resmi menjadi suaminya di altar sana. Wanita yang kepadanya ia berjanji untuk melupakannya dan membuka sebuah lembar baru, kehidupan baru yang seperti wanita itu lakukan.

Dia menundukkan kepalanya lalu berjalan dengan cepat meninggalkan gedung itu. Ia tidak sanggup. Ia memang terlihat menyedihkan, tetapi ia tidak mau gadis itu menyadarinya.

Tetes air mata yang ia tahan perlahan mulai membasahi wajahnya, tak peduli seberapa keras ia menahannya. Ia terus berjalan dengan wajah yang di tundukkan. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di tempat ini. Tempat yang menjadi saksi semuanya. Jong In membuka pintunya perlahan ketika ia menyadari bahwa pintu utama tidak dikunci sama sekali. Ia menatap sekekeling gedung hingga tanpa sadar seluruh memori itu dimainkan di otaknya bagaikan sebuah kaset yang diputar kembali.

Gedung Olahraga ini.

Dimana ia pertama kali melihatnya di bangku penonton.

Dimana ia mengajaknya berkenalan setelah pertandingan selesai.

Dimana ia menyatakan cintanya dengan memasukkan bola basket ke dalam ring untuk 100 kali tanpa henti.

Dimana gadis itu melepaskannya demi sebuah mimpi yang harus Jong In raih.

Jong In mengambil duduk di barisan pertama penonton. Menatap lapangan yang dulu dapat membuat gadis itu berteriak senang dari sini ketika ia mencetak poin dibawah sana. Atau ketika dengan gesitnya gadis itu berlari kecil dari bangku ini untuk memberikan sebotol minum untuknya.

Atau mungkin ketika gadis itu melepaskannya.

Kalimat-kalimat yang Jong In masih ingat dengan jelas. Percakapan terakhir yang mereka miliki pada musim gugur itu. Di gedung olahraga ini, tepatnya di tengah lapangan sana.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku, hm?”

“Maksudmu?”

“Mengenai kemampuan menarimu dan cita-citamu untuk menjadi seorang artis.”

“Darimana kau..”

“Apa karena aku mengatakan aku tidak menyukai artis begitu?”

“Aku hanya tidak mau kau menjadi tidak menyukaiku karena itu. Lagipula aku tidak begitu berbakat dalam menari.”

“Tapi kau menyukainya.”

“Tapi..”

“Kim Jong In, apa aku harus melepasmu?”

“Yak!”

“Pergilah. Berlatih dengan benar dan jadilah artis terhebat yang pernah aku kenal. Jangan jadikan aku atau hubungan ini sebagai alasan kau menolak agensi itu. Aku mohon.”

“Apa maksudmu kau melepasku? Begitu?”

“Aku tidak melepasmu. Anggap saja saat ini kau dapat terbang bebas sementara aku akan melihatmu bersinar di atas sana dari bawah sini. Hanya itu.”

Kalimat terakhir yang gadis itu ucapkan padanya. Ya, ia memang sudah jadi yang terbaik. Namanya langsung melejit begitu ia menampilkan penampilan debut pertamanya. Tapi ia salah. Gadis itu melepasnya. Tidak. Gadis itu tanpa sadar telah melepasnya ketika ia sedang bersinarnya di atas sana. Melepaskannya untuk sebuah kebahagiaan yang tak akan pernah ia  dapat beri kepadanya.

Jong In menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Seluruh tetes air mata yang sempat terhenti mulai tertumpahkan tanpa ampun. Ia tidak menangis ketika gadis itu melepasnya. Bahkan saat gadis itu mengikatkan janji pernikahan dengan pria lain. Karena ia benci untuk menjadi anak kecil yang hanya dapat menangis ketika barang berharganya direbut oleh orang lain. Tapi untuk kali ini, ia hanya ingin menangis dan mengeluarkan segala benalu yang tertanam secara egois di hatinya. Untuk pertama dan terakhir kalinya, ia ingin menangisi cerita yang berakhir dengan menyedihkan ini.

 

Dan gedung ini juga menjadi saksi,

Dimana ia juga melepaskan gadis itu sebagaimana gadis itu melepasnya.

The End.

~~~

Hello everyone….how was it? Lol it’s been really a long time.

Ga yakin banget apa ini bisa dibilang angst karena satu-satunya insipirasi cuma hidup yang tiba-tiba berubah jadi angst karena senior year and those worksheets J

So that’s why i’m waiting for ur comment, critic or whatever is that J

Hihi, see you on another fic!

15 thoughts on “A Goodbye

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s