Do Man Cry? [Chapter 9] (END)

Do Man Cry

Tittle        : Do Man Cry?

Author    : Mayha Kang

Main Cast :
Choi Sulli f(x)
Oh Sehun (EXO-K)

Support Cast :
Jung Jessica (SNSD)
Hwang Miyoung/Tiffany (SNSD)
Park Chanyeol (EXO-K)
and others

Length    : Chapter

Genre      : Sad, Angst

Inspirated by Davichi’s Song “Do Man Cry”

Happy Reading!

“Apakah laki-laki juga menangis?”

“Apakah mereka juga merasa sakit ketika mereka putus cinta?”

“Apakah mereka menangis ketika mereka sangat merindukan seseorang?”

>>> Do Man Cry? <<<

Sulli melangkah turun dari taxi yang ditumpanginya. Iris kecoklatannya memandang gedung putih yang berdiri kokoh di hadapannya. Dia menarik napas panjang sembari mengeratkan genggamannya pada bekal makan yang dibawanya.

“Choi Sulli, mulai hari ini tidak akan ada lagi air mata, arraseo!” Batinnya bersama dengan hembusan napas yang keluar dari mulutnya.

Sulli sudah mulai merubah pikirannya. Menangis tidak akan gunanya lagi. Tuhan masih memberinya kesempatan bersama Sehun dan dia ingin memberi yang terbaik untuknya. Dia pun berjalan memasuki gedung itu dengan senyum yang terus memancar di wajahnya.

Sebelum masuk ke kamar rawat Sehun, Sulli kembali menarik napas dan menghembuskannya. Dia merasa gugup, pasalnya sejak pertengkaran yang terjadi kemarin mereka belum berkomunikasi satu sama lain. Apalagi saat itu Sulli sendiri yang memutuskan untuk pergi. Dia merasa cukup malu berhadapan dengan Sehun.

Pintu pun telah terbuka, memberi celah bagi Sulli untuk mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Sehun yang sepertinya masih bergelut dengan mimpi indahnya. Sulli mengendap-endap masuk menghampiri Sehun. Dia hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan kekasihnya yang memang memiliki kebiasaan susah bangun pagi.

Sulli berdecak kesal, “Huh! Padahal matahari pagi sangat bagus untuknya. Kenapa dia malah tidur?” Gerutunya sambil meletakkan bekal makanan yang dibawanya di atas meja.

Dia hendak membangunkan Sehun. Dia tidak ingin Sehun menyiakan-menyiakan sinar hangat dari sang mentari yang dapat menyehatkan tubuhnya. Dielusnya lembut bahu pria itu agar terbangun.

“Sehun, ireona! ini sudah pagi,” ucapnya lembut.

Sehun belum juga bangun. Sulli kembali mengulangi ucapannya dan meraih tangan Sehun. Dingin. Sulli tertegun. Ada sesuatu yang ganjil pada Sehun dan dia baru menyadarinya. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya. Dia mengguncang-guncang tubuh Sehun, namun tak ada respon sedikit pun.

“Sehun, ireona! Yaa ireona!” Pekiknya mulai panik.

Pandangannya langsung tertuju pada tombol darurat di sampingnya. Tombol yang memang diperuntukkan untuk memanggil dokter. Sulli menekannya berkali-kali, karena terlanjur panik dia langsung berlari keluar mencari sosok dokter yang dapat menolong Sehun. Belum jauh dia berlari tampak seorang dokter beserta beberapa perawat menghampirinya.

“Dokter, tolong Sehun! Jebalyo! Bangunkan dia!” Pekiknya.

“Iya, akan segera saya tolong. Tapi anda tenang dulu,” gumam dokter itu.

Sulli hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Mereka kemudian bergegas menuju kamar rawat Sehun.

“Maaf, anda harus menunggu di luar,” ujar salah satu perawat saat Sulli hendak masuk mengikuti sang dokter.

“Baiklah, akan ku lakukan apa yang kalian mau, tapi ku mohon selamatkan Sehun. Jebalyo!” Tutur Sulli dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Ne, kami akan berusaha semaksimal mungkin,” kata suster itu kemudian menutup rapat pintu kamar rawat Sehun.

Tinggallah Sulli seorang diri di luar. Tanpa sadar butir-butir air jatuh dari kelopak matanya. Terdapat beberapa bangku kosong di sana, namun dia lebih memilih menghempaskan tubuhnya ke lantai. Menyandarkan tubuhnya di dinding keras nan dingin. Dia memeluk kedua lutunya dan membenamkan wajahnya yang telah basah karena air mata.

“Berhentilah menangis! Jangan jadi gadis cengeng!”

Ucapan Sehun kembali terngiang di kepala Sulli. Bagi seorang gadis cengeng sepertinya memang sangat sulit membendung air matanya. Dia lalu mengangkat wajahnya, dengan sigap menyeka air matanya. Dia tidak boleh menangis. Tidak boleh lagi ada air mata. Dia harus tegar, demi Sehun.

****

Chanyeol, Jessica, dan Tiffany segera turun dari mobil dan menghambur masuk ke gedung rumah sakit. Setelah mendapat telepon dari Sulli mereka langsung menghentikan segala aktivitas dan melesat ke sana.

Sesampainya di depan kamar rawat Sehun, mereka melihat sosok Sulli yang termenung lemas di lantai. Meski tidak ada butiran air yang menggenangi matanya, tetapi tatapannya kosong. Hampa. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan mereka. Dengan napas yang masih memburu, Chanyeol menghampiri Sulli.

Neo gwaenchana?” Gumamnya sambil ikut menjongkok di samping Sulli, memegang bahu gadis itu hingga membuatnya terkesiap.

“Kalian sudah datang rupanya,” kata Sulli menatap mereka bergantian, “Nan gwaenchana,” jawabnya sembari tersenyum seadanya pada Chanyeol.

Tubuh Sulli sangat lemas saat itu. Saat berusaha bangkit, dia hampir terjatuh kembali. Untungnya ada Chanyeol yang dengan sigap menopang tubuhnya. Tiffany juga ikut mendekatinya.

“Kau sangat lemas, apa kau sudah makan?” Tanya Tiffany cemas sambil memegang dahi Sulli, takut jika adiknya itu sakit.

Sulli menggeleng pelan, “Belum, tapi aku tidak apa-apa Eonnie. Percayalah padaku!”

Desahan panjang terdengar dari Tiffany. Dia lalu menatap Chanyeol yang berdiri di belakang memegangi tubuh Sulli. Chanyeol menganggukan kepala, menyaratkan pada Tiffany untuk percaya pada Sulli. Meski dipaksa makan, Sulli juga pasti tidak mau. Selezat apapun makanan, pasti akan sulit tertelan jika sedang cemas memikirkan orang yang disayangi.

“Baiklah, tapi kau jangan duduk di sini, kau bisa sakit nanti,” ujar Chanyeol, dia berjalan menuntun di Sulli di salah satu bangku.

Belum cukup semenit Sulli duduk di bangku itu, pintu kamar rawat Sehun terbuka. Sosok dokter pun muncul dari balik pintu itu. Dengan raut wajah yang sedikit murung tentu akan membuat mereka semakin panik dan gelisah. Serentak mereka semua menghampiri sang dokter.

“Paman, bagaimana keadaan Sehun?” Tanya Jessica yang merupakan keponakan dari dokter itu.

Sang dokter hanya menghela napas menatap Jessica, “Kita perlu bicara. Ikutlah ke ruanganku!”

Jessica pun segera mengikuti pamannya menuju ruangan yang dimaksud, tetapi Sulli segera mencegatnya.

Jamkanmanyo! Tidak bisakah anda bicara di sini saja? Aku…aku pacar Sehun, jadi aku juga berhak tau kondisinya,” kata Sulli, dia lalu menatap penuh harap pada Jessica, “Eonnie jabalyo! Aku juga sangat cemas pada Sehun.”

Cukup lama Jessica terdiam. Sulli benar. Dia juga berhak tahu kondisi Sehun. Apalagi di antara mereka sudah pasti dia yang paling mencemaskan Sehun.

“Sulli benar paman. Mereka semua berhak tau kondisi Sehun. Mereka semua ada di sini karena mencemaskannya, jadi bisakah paman bicara di sini saja,” tutur Jessica.

Dokter itu menghela napas. Namun, akhirnya dia mau membuka mulut di hadapan mereka semua. Dia lalu menjelaskan bahwa kondisi Sehun semakin memburuk. Sebenarnya sejak kembali ke rumah sakit kondisi kesehatannya sudah buruk. Penyakitnya semakin parah. Virus-virus kanker yang ada di tubuhnya berkembang semakin pesat. Tetapi, Sehun memohon pada dokter agar tidak memberi tahukannya pada yang lain.

“Sudah sangat kecil harapan baginya untuk sembuh. Kemungkinan besar dia tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama,” jelasnya.

Bagaikan samurai tajam yang menusuk dada Sulli. Sakit. Sangat sakit ia rasakan saat mendengar penjelasan dokter barusan. Kebahagiaannya bersama Sehun terasa begitu singkat. Dia menggigit bibirnya kuat, berusaha menahan tangisnya. Chanyeol menatapnya sendu.

“Sulli’ah,” gumam Chanyeol pelan.

Sulli menoleh pada Chanyeol. Berusaha tersenyum, namun sulit. Tetapi, dia ingin memperlihatkan pada semuanya bahwa dia bukanlah gadis lemah. Dia adalah gadis yang kuat, yang di inginkan oleh Sehun.

Nan..nan gwanchana,” ucapnya dengan suara yang bergetar.

Mereka hanya terdiam menatap sendu pada Sulli. Mereka tahu Sulli sedang tidak baik-baik saja. Dia hanya berusaha bersikap kuat di depan mereka.

“Aku ingin melihat keadaan Sehun. Bolehkah aku masuk?” Gumam Sulli pada sang dokter.

Sang dokter tersenyum dan mengangguk. Dia pun memberi jalan bagi Sulli untuk masuk ke dalam kamar rawat Sehun. Sedangkan Jessica, Tiffany, dan Chanyeol lebih memilih untuk menunggu di luar saja. Membiarkan Sulli berduaan dengan Sehun.

Sulli melangkah pelan mendekati Sehun yang masih terbaring kaku di ranjangnya. Berbagai peralatan medis kini telah terpasang rapi di tubuhnya. Sulli lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang itu. Digenggamnya tangan Sehun yang masih terasa dingin, namun tidak sedingin tadi. Mengelus lembut pucuk kepalanya, berharap agar dia segera membuka matanya.

“Sehun, ini aku, Sulli. Aku…aku tau kau baik-baik saja. Aku tau itu karena aku percaya padamu. Kau pasti sembuh,” tuturnya masih berusaha menahan tangisnya.

Hening. Tidak ada respon dari Sehun. Tentu saja, karena sampai saat ini dia belum sadarkan diri. Hanya dentuman bunyi yang berasal dari alat pendeteksi jantung yang terletak di samping Sehun. Sulli benci mendengar bunyi itu. Dia takut jika tiba-tiba benda itu berbunyi panjang tak berjeda.

Dia semakin mengeratkan jemarinya pada jemari Sehun. Membenamkan wajahnya di samping tangan Sehun. Tiba-tiba dia merasa jemarin Sehun sedikit bergerak. Dia segera mengangkat wajahnya menatap Sehun. Seberkas rasa lega menghapus kecemasannya saat menyaksikan Sehun yang perlahan membuka matanya. Meski tidak terbuka lebar, namun Sulli tahu Sehun sedang menatapnya. Kedua ujung bibir Sulli tertarik hingga membentuk senyum indah yang dipersembahkan untuk Sehun.

Sehun mengangkat tangannya pelan. Menyentuh wajah gadis manis yang duduk di sampingnya itu. Gadis yang selalu berada di sisinya untuk memberi kehangatan baginya.

Mi..an..hae..” gumam Sehun pelan.

Aniyo, kau tidak perlu minta maaf padaku,” ucap Sulli.

Air mata Sulli terus memaksa untuk jatuh, tetapi dia berusaha menahannya dengan menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia tidak boleh menangis. Sehun tidak boleh melihat air matanya. Dia lalu menghela napas panjang, dan kembali tersenyum pada Sehun. Tersenyum meski hatinya begitu sakit. Menjadi kuat memang bukanlah hal yang mudah.

“Menangislah! Maaf sudah membuatmu susah,” kata Sehun, “Tapi…berjanjilah padaku, ketika kau menangis di saat itu pula kau perlahan merelakanku pergi.”

Bibir Sulli bergetar hebat karena menahan tangisnya. Tidak ada kata yang dapat terucap darinya. Terlalu sulit baginya untuk merelakan Sehun pergi. Pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi. Bulir-bulir air mulai berjatuhan dari kelopak mata Sulli. Tangisnya terus memaksa untuk keluar. Dia pun membenamkan wajahnya di dada Sehun. Menumpahkan semua air matanya di sana.

Neo..neo..nappeun hiks.. namja.. hiks..” isak Sulli semakin membenamkan wajahnya, “Hiks.. kalau kau pergi, lalu bagaimana denganku? Aku tidak bisa jika tidak ada kau, Sehun.. hiks..hiks..”

Sehun mengelus kepala Sulli yang masih menangis di dadanya. Dia bisa merasakan bajunya yang basah akibat air mata Sulli yang tak henti-hentinya keluar. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia tidak ingin membuat Sulli semakin sedih, tetapi dia juga sudah tidak sanggup melawan penyakitnya. Takdir memang kejam pada mereka.

Beberapa menit telah berlalu. Sulli masih terisak di atas dada Sehun. Dia masih bisa merasakan detak jantung Sehun. Namun, sungguh sulit bahkan tak terbayangkan olehnya jika detak jantung yang ia rasakan itu tiba-tiba berhenti. Dia bahkan tidak berani membayangkannya. Mengapa di saat mereka mulai merajut kebahagiaan penyakit Sehun menjadi semakin parah. Yah, takdir mereka memang sangat menyakitkan.

****

Siang mulai menua. Sulli masih setia di bangkunya sembari memandang matahari senja melalui jendela yang ada di sampingnya. Jam sekolah telah berakhir beberapa menit yang lalu, tetapi dia masih merasa berat untuk beranjak dari kursinya. Chanyeol, sang sahabat sejak tadi memandangnya dari sudut kelas. Dia enggan meninggalkan Sulli sendirian dengan kondisi yang sangat rapuh. Dia tampak seperti boneka, sangat kaku sekaligus lusuh. Jiwanya melayang entah ke mana. Chanyeol pun berjalan menghampirinya.

“Sulli, ayo kita pulang! Ini sudah sangat sore,” ucapnya lembut sembari memegang bahu Sulli.

Dengan pelan Sulli menyingkirkan tangan Chanyeol dari bahunya kemudian menggeleng pelan. Sikapnya itu jelas membuat Chanyeol mendesah panjang.

“Sampai kapan kau mau seperti ini?” Kata Chanyeol tegas, namun tidak ada respon dari Sulli.

Chanyeol kembali mendesah, “Berhentilah menyiksa Sehun! Relakan dia pergi. Sudah cukup lama dia menahan rasa sakitnya demi bersamamu. Dia sudah terlalu lelah untuk terus melawan penyakitnya.”

“Bagaimana bisa aku merelakannya sementara aku sangat mencintainya? Dia satu-satunya namja yang bisa ku cintai dengan tulus,” erang Sulli, “Kau…kau tidak mengerti perasaanku, kau tidak merasakan sakit yang ku rasakan! Makanya kau bisa berkata seperti itu!”

Chanyeol terdiam sejenak. Dia mulai kehabisan kesabaran menghadapi sikap Sulli.

“Baiklah, lakukan sesukamu! Tapi, jika memang kau sangat mencintainya, buat dia pergi dengan bahagia. Bukan pergi dengan melihat air matamu, tapi pergi dengan melihat senyum tulusmu,” tutur Chanyeol.

Dia lalu melangkahkan kakinya keluar kelas. Dia kesal dengan sikap Sulli yang keras kepala. Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan Sulli sepenuhnya. Merelakan kepergian orang yang sangat dicintai memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kalimat-kalimat yang dilontarkan Chanyeol berhasil membuat Sulli tertegun. Sulli mulai berpikir jika semua orang nampak menyerah dan putus asa. Mereka seakan telah merelakan Sehun pergi untuk selamanya. Mungkin bagi mereka itu hal yang tidak begitu sulit, tetapi baginya itu sangatlah sulit. Membayangkannya pun dia tidak berani.

Sulli membenamkan wajahnya di atas meja. Kini dia sendirian di dalam kelas, merasa sangat sepi dan hampa. Mungkin itu pula yang akan dirasakannya ketika Sehun benar-benar telah pergi meninggalkannya. Butir-butir air kembali menetes dari matanya, membuatnya kembali terisak. Dia lalu memejamkan matanya hingga akhirnya terlelap.

Waktu terus berputar dan tak terasa Sulli telah terlelap sejam lamanya. Dia tiba-tiba terbangun dan bisa merasakan matanya yang sembab. Dia telah membuang banyak waktunya termenung di sekolah. Terbukti seharian ini tidak ada satupun pelajaran yang masuk ke otaknya. Dia juga belum membesuk Sehun. Entah mengapa dia merasa takut, dirinya tidak siap menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia lalu menyambar tasnya dan bergegas pulang.

Hari mulai gelap. Kerlap-kerlip lampu jalan mulai menerangi kota. Sulli melangkahkan kaki lemas melewati gerbang sekolah. Tiba-tiba dia mendengar derap langkah kaki, seperti ada seseorang yang berlari di belakangnya. Dia segera membalikkan badan dan brrruuuukkkk!!

Sulli tidak dapat menopang tubuhnya yang sepertinya telah tertabrak oleh seseorang. Dia  terjatuh cukup keras ke tanah.

Aakhh…” pekiknya.

Neo gwaenchana?” Pria yang telah menabrak Sulli segera menghampiri Sulli dengan napas yang memburu.

Na…nan gwaenchana,” ucap Sulli sambil berusaha bangkit.

“Lututmu berdarah!” Pekik pria itu, “Jeongmal mianhae.”

Sulli hanya menggeleng menyaratkan bahwa dia tidak apa-apa. Pria itu turut membantunya bangkit. Tetapi, pria itu tiba-tiba menarik Sulli ke salah satu sudut pagar sekolah. Pria itu membungkam mulut Sulli dari belakang. Sulli sempat panik. Namun, kepanikannya meredam saat menyaksikan sekelompok pemuda melintas di depannya. Mereka terlihat seperti sedang mengejar sesuatu.

Sulli langsung menarik kesimpulan bahwa orang yang mereka kejar tidak lain adalah pria yang tengah membungkam mulutnya. Untungnya pemuda-pemuda itu tidak melihat mereka dan berlalu pergi.

Terdengar helaan napas panjang dari pria itu. Dia juga segera menyingkirkan tangannya dari mulut Sulli.

“Aku benar-benar minta maaf padamu. Dan juga terima kasih karena sudah mau diam saat pria-pria tadi lewat,” tutur pria itu.

Sulli hanya menatapnya datar kemudian  beranjak pergi dari tempatnya dengan kaki pincang. Biarlah pria itu menilai dirinya sombong, pasalnya saat ini dia merasa sangat sulit tersenyum. Bahkan hanya untuk memperlihatkan senyum masamnya.

Pria itu segera berlari menyusul Sulli.

“Lututmu terluka cukup parah. Biarkan aku mengobatinya dulu. Bagaimana pun juga kau terluka karenaku,” tuturnya.

“Tidak usah,” balas Sulli yang masih terus berjalan.

Pria itu kemudian berdiri di hadapan Sulli untuk menghalangi jalannya.

“Aku tidak bisa membiarkanmu pulang dengan lutut yang berlumuran darah seperti itu. Aku ini pria yang bertanggungjawab. Kebetulan rumahku tidak jauh dari sini, kita bisa mengobati lukamu di sana,” jelas pria itu ramah.

Tanpa menunggu respon dari Sulli, pria itu lansung menjongkok membelakangi Sulli.

“Naiklah ke punggungku! Aku akan merengekmu sampai di rumahku,” pinta pria itu sembari tersenyum ke arah Sulli.

Melihat senyum pria itu membuat Sulli kembali teringat pada Sehun. Dia rindu dengan masa-masa indah bersama Sehun. Dan jika Sehun benar-benar pergi meninggalkannya, kepada siapa lagi dia bisa mengukir kenangan-kenangan indah dalam hidupnya? Dirinya tidak sanggup mencintai orang lain selain Sehun.

Butir-butir air kembali menetes dari mata Sulli. Membuat pria itu terkejut.

“Kau…kau kenapa? Apa aku salah bicara?” Tanya pria itu.

Sulli menggeleng pelan dan segera menyeka air matanya. Entah apa yang dipikirkannya, dia pun naik ke punggung pria yang tidak dikenalinya itu. Pria itu pun berjalan sambil merengek Sulli di punggungnya dengan setumpuk rasa bingung.

“Siapa namamu?” Tanya pria itu di sela-sela perjalanan.

“Sulli,” ucap Sulli singkat.

“Namaku Xi Luhan, kau bisa memanggilku Luhan,” balas pria itu.

Pria yang ternyata bernama Luhan itu bisa merasakan Sulli yang menganggukkan kepalanya. Sulli melingkarkan tangannya dengan erat di pundak Luhan. Sehingga Luhan bisa merasakan hangat tubuh gadis itu.

Mereka pun akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup sederhana. Dengan masih merengek Sulli, Luhan berusaha membuka pagar rumahnya. Sesampainya di dalam, dia mendudukkan Sulli di salah satu kursi.

“Kau tunggu di sini, aku ambilkan obat luka dulu,” pinta Luhan.

Sulli memandang ke sekeliling rumah itu. Rumah yang cukup kecil dan nampaknya sudah tua. Tidak ada satupun foto maupun hiasan dinding yang terpajang. Suasana sepi nan hening begitu terasa di rumah itu.

“Maaf, rumahku kecil dan jelek,” suara Luhan tiba-tiba memecah keheningan. Dia telah kembali dengan membawa obat serta plaster luka.

Aniyo,” gumam Sulli pelan.

Luhan segera mengobati luka di lutut Sulli dengan penuh kehati-hatian.

“Kau tinggal dengan siapa di sini?” tanya Sulli memulai pembicaraan.

“Aku tinggal sendirian. Dulu aku tinggal bersama Ibuku, tapi dua bulan yang lalu dia meninggal,” jelas Luhan yang masih fokus mengobati luka Sulli.

“Ma…maaf, aku tidak bermaksud-”

Gwaenchana,” potong Luhan sembari tersenyum pada Sulli, “Mmmm…apa aku boleh bertanya padamu?”

“Kau mau tanya apa?”

“Kenapa tadi kau menangis?” Tanya Luhan.

Sulli terdiam sambil menundukkan kepalanya. Luhan yang menykaksikan wajah gadis itu yang kembali murung menjadi merasa bersalah.

“Ma…maaf, aku seharusnya tidak bertanya seperti itu,” kata Luhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kau sayangi?” Sulli tiba-tiba angkat suara.

Ne?” Luhan bingung mendengar pertanyaan Sulli, namun dia tiba-tiba mengerti maksud dari pertanyaan itu.

Aaahh..” seru Luhan.

Dia kemudian duduk di samping Sulli.

“Kematian yang paling menyakitkan bagi manusia bukan hanya kematian dirinya saja, tapi juga kematian orang dicintainya. Sepeninggal Ibuku, aku sangat terpukul. Tapi, aku tidak ingin mengecewakan Ibuku. Aku berusaha membuat hidupku jadi lebih baik agar Ibuku senang melihatku dari atas sana.”

Sulli tertegun mendengar ucapan Luhan. Dia kembali teringat pada ucapan Chanyeol di sekolah tadi. Dia merasa dirinya sudah sangat egois. Dirinya terus memaksa Sehun untuk tidak meninggalkannya, padahal dia sudah sangat lelah melawan penyakitnya.

Ponsel Sulli tiba-tiba berdering dan nama Tiffany-lah yang tertera di layar. Perasaan resah mulai berkecamuk dalam hati Sulli. Sepengetahuannya, Tiffany sedang berada di rumah sakit bersama Jessica untuk menemani Sehun. Lalu untuk apa Tiffany menelponnya, namun dia sangat berharap kakaknya itu tidak membawa berita buruk untuknya.

Yeo…yeoboseyo.. Eonnie, wae?” Sahut Sulli.

Yaa Sulli, kau di mana? Seharian ini kau belum menjenguk Sehun. Tidakkah ini keterlaluan?” Celoteh Tiffany dari seberang telpon.

Sulli hanya terdiam.

“Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi selanjunya. Dokter juga sudah tidak bisa menjamin kondisi Sehun. Bagaimana kalau dia…”

Tiffany terdiam. Bibirnya sulit melanjutkan perkataan yang Sulli sudah ketahui maksudnya. Dapat ia dengar isak tangis Sulli.

“Datanglah ke sini! Kau harus selalu ada di sisinya, dia sangat membutuhkanmu sekarang,” Tiffany terdiam sejenak seraya mendesah panjang, “Buat dia pergi dengan bahagia. Izinkan dia melihat senyummu yang terakhir kalinya.”

Sambungan telpon pun putus. Ucapan Tiffany berhasil membuat tangis Sulli semakin pecah. Tidak peduli dengan Luhan yang berada di sampingnya, dia terus menangis meluapkan kesedihannya.

Melihat kondisi Sulli, Luhan akhirnya mengerti apa yang membuat gadis itu menangis. Yah, gadis itu sedang berusaha merelakan kepergian seseorang yang mungkin sangat dicintainya.

“Merelakan kepergian seseorang yang sangat dicintai memang tidak mudah, sangat sulit dan sangat menyakitkan. Tapi, jika kau terus menahannya itu hanya akan membuat orang yang kau cintai semakin menderita. Cinta tidak selalu ditakdirkan untuk bersama. Tidak selalu berakhir dengan bahagia. Tuhan sudah punya rencana yang lebih baik untukmu,” tutur Luhan.

Tangis Sulli semakin pecahnya. Kini dia mengakui dirinya sangatlah egois. Dia harus bisa mengantar kepergian Sehun dengan membuatnya bahagia. Pergi dengan tenang dan damai.

“Antar aku ke rumah sakit sekarang. Ku mohon!” Isaknya.

Luhan tersenyum, “Dengan senang hati nona.”

Mereka pun segera melesat ke rumah sakit dengan menggunakan motor Luhan.

****

Sesampainya di rumah sakit, Sulli segera turun dari motor Luhan. Tangisnya belum juga reda. Dia hendak berlari masuk ke dalam rumah sakit, tetapi Luhan menarik tangannya.

Jamkanmanyo!” Pekiknya.

Luhan melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. Dia tersenyum memandang wajah Sulli yang telah basah  digenangi air mata. Dia lalu menyeka lembut bulir-bulir air itu.

“Jangan biarkan dia melihat air matamu! Tersenyumlah di depannya meski hatimu sakit,” pinta Luhan.

Sulli mentap lekat iris kecoklatan pria di depannya itu, “Siapa kau sebenarnya?”

“Aku? Mmmm...” Luhan bertingkah sepeti sedang berpikir, “Mungkin seseorang yang pernah bertemu dengan kekasihmu,” ucapnya kembali memperlihatkan senyumannya.

Ucapan Luhan jelas membuat Sulli kebingungan.

“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Sehun sedang menunggumu, cepatlah datang padanya!” Kata Luhan sambil memutar badan Sulli hingga membelakanginya.

“Dan ingat, tetaplah tersenyum. Sehun bilang kau cantik saat tersenyum,” bisik Luhan kemudian beranjak pergi meninggalkan Sulli.

Sulli berbalik menatap Luhan, namun pria itu telah melangkah jauh meninggalkannya. Dia menatap punggung Luhan hingga sosoknya menghilang dari pandangannya. Apa yang dikatakan Luhan persis dengan apa yang dikatakan Chanyeol. Mungkin hanya itu cara yang bisa Sulli lakukan untuk membahagiakan Sehun. Dia pun menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Dia lalu melangkah setengah berlari menuju kamar rawat Sehun.

Di depan kamar rawat Sehun telah berdiri Tiffany bersama Chanyeol. Rasa lega segera menghapus keresahan mereka melihat kedatangan Sulli. Mereka pun bergegas menghampirinya.

“Kau dari mana saja?” Pekik Tiffany sedikit emosi.

“Sudahlah, Noona, yang penting dia sudah datang,” Chanyeol berusaha meredam emosi Tiffany.

Ibu Sehun mendekati Sulli yang hanya diam menunduk, “Masuklah! Sehun sedang menunggumu,” pintanya lembut.

Ne Eomoni.

Sulli kemudian melangkah masuk ke dalam ruang rawat. Dilihatnya Sehun yang tebaring lemas dengan berhiaskan peralatan medis yang tertata rapi di tubuhnya. Jessica yang saat itu tengah duduk di samping Sehun segera mendekati Sulli yang masih berpijak di depan pintu.

Jessica tersenyum hangat, “Gomawo, sudah mau datang. Sehun sudah menunggumu sejak tadi. Tetaplah berada di sisinya. Dia membutuhkanmu, Sulli.”

Sulli menatap sendu pada Jessica. Dia tahu dibalik senyum Jessica tersirat kesedihan yang sangat mendalam. Dia langsung memeluk erat Jessica.

Eonnie, bisakah aku melewati semua ini?” Bisiknya dipelukan Jessica.

“Kau gadis yang kuat dan tegar. Aku yakin kau bisa melewatinya,” kata Jessica.

Jessica mengelus lembut lengan Sulli seraya tersenyum. Dia kemudian keluar dari ruangan itu. Memberi kesempatan bagi Sulli untuk berdua dengan Sehun.

Perlahan Sulli menghampiri Sehun. Melihat kedatangan orang yang sangat ia cintai, Sehun tersenyum lembut. Dia lalu menggenggam tangan Sulli yang kini telah duduk di sampingnya.

Gomapta…Sulli,” ucapnya lemas.

“Maaf, tadi aku menyelesaikan tugas piket di sekolah, jadi baru bisa datang sekarang,” bohong Sulli.

Meski kondisi gadis itu sangat rapuh, namun dia berusaha keras untuk tersenyum di hadapan Sehun. Dia lalu mengelus wajah Sehun.

“Apa kau sudah merasa baikan?” Tanyanya lembut.

Sehun mengangguk pelan. Sulli lalu mengecup dahi pria itu, kemudian tersenyum memandangnya.

“Sulli’ah,” gumam Sehun.

Eoh?”

“Aku mengantuk. Bolehkah aku tidur dipangkuanmu?”

Permintaan Sehun kembali membuat dada Sulli sesak. Apakah sudah sampai pada waktunya? Apakah sudah saatnya bagi Sehun untuk pergi? Segela pikiran buruk mengarui lautan pikirannya, tetapi dia berusaha untuk tetap tersenyum.

“Tunta saja,” ucapnya.

Dia pun naik ke ranjang rawat Sehun dan membantu pria itu berbaring dipangkuannya. Kini Sehun telah berada di posisi yang menurutnya sangat nyaman, meski rasa sakit telah menyelimuti seluruh tubuhnya. Sulli membelai lembut pucuk kepala Sehun.

“Sulli, kau sangat cantik,” gumam Sehun.

Sulli kembali memaksakan senyumnya, “Tentu saja, kau tidak mungkin memintaku jadi pacarmu kalau aku tidak cantik.”

Sehun tersenyum. Sebelah tangannya memegang wajah Sulli.

“Tapi, maaf, aku tidak bisa menjadi pacar yang baik untukmu. Aku sudah membuat air mata jatuh begitu banyak,” lanjutnya.

Sulli segera menggeleng dan menggenggam tangan Sehun yang tengah menyentuh wajahnya, “Tidak, kau adalah pacar yang sangat baik. Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku. Di sampingmu aku merasa bahagia.”

Sehun terdiam mendengar ucapan Sulli. Mereka terdiam cukup lama, mengundang suasana hening nan pilu.

“Sulli’ah,” Sehun kembali angkat suara.

Eoh?

“Apa kau akan marah padaku kalau aku tertidur dan tidak bangun lagi?” Tanya Sehun.

Bagaikan anak panah yang tiba-tiba menancap dada Sulli, sangat sakit mendengar Sehun berkata seperti itu. Tetapi, Sulli telah sadar. Tetap bertahan dengan penyakit yang begitu ganas mungkin bukanlah jalan terbaik bagi Sehun. Itu hanya akan menambah penderitaannya. Sebagai tanda cintanya yang mendalam, Sulli memang harus merelakannya pergi.

“Apa kau sangat lelah?” Tanyanya.

Sehun hanya terdiam. Dia tidak ingin membuat Sulli sedih dengan mengatakan dia sudah sangat lelah menghadapi penyakitnya. Melihat Sehun yang tidak merespon, Sulli mendesah. Dia kembali memaksakan seulas senyum di wajahnya.

“Tidurlah! Nan…nan gwaenchana. Aku…aku tidak akan marah padamu,” pinta Sulli dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Kau harus tegar, kau gadis yang kuat. Aku yakin kau bisa melewati semua ini,” tutur Sehun.

Setetes air mata jatuh dari kelopak mata Sulli. Dia buru-buru menyeka dan memalingkan wajahnya dari Sehun yang masih terbaring di pangkuannya.

“Meski ragaku tidak lagi di sisimu, tapi aku akan selalu ada di hatimu. Takdir memang memisahkan cinta kita, tapi aku sangat bahagia karena pergi dengan membawa cinta ini. Kau adalah gadis terakhir di hati sekaligus hidupku. Nan jeongmal saranghae, Sulli.”

Sulli menggigit bibirnya kuat-kuat. Wajahnya tak mampu lagi tersenyum.

“Tidurlah! Nan…gwaenchana,” ucapnya lirih.

Sehun tersenyum sambil memegangi wajah Sulli. Dia perlahan memejamkan matanya.

“Sehun’ah!” Pekik Sulli.

Hampir saja kelopak mata Sehun tertutup rapat, namun ketika mendengar pekikan Sulli dia kembali terjaga.

Wae?” ucapnya lemas.

Sulli menggenggam tangan Sehun yang tengah memegangi wajahnya, “Nado…nado saranghae, jeongmal saranghae.

Sehun kembali tersenyum, namun dia sudah terlalu lelah.

Mi…an…hae…

Mata Sehun perlahan menutup. Sulli bisa merasakan tangan Sehun yang tiba-tiba melemas. Beberapa menit kemudian alat pendeteksi detak jantung yang tergeletak di samping ranjang berbunyi panjang tak berjeda. Garis panjang terpampang jelas pada layar monitornya.

Air mata yang sejak tadi tertahankan akhirnya jatuh berderai membasahi wajah Sulli. Sehun telah pergi meninggalkannya untuk selamanya dan tak akan pernah kembali lagi bersamanya. Meski begitu, penderitaan Sehun atas penyakitnya akhirnya berakhir.

Nado…mianhae,” isak Sulli, “Semoga tempatmu indah di sana. Aku akan selalu mendoakanmu di sini. Saranghae, Sehun.”

Mereka telah terpisahkan oleh takdir. Namun, jejak cinta mereka akan selalu membekas  di dasar hati keduanya. Terukir indah dalam kenangan yang tidak akan pernah pudar.

END_

Author’s note :

Pertama dan yg terutama sy sgt ingin mengucapkn prmintaan maaf yg sebesar2’y pada chingu’deul skalian yg mngkin telah berlumut nunggu ni chapter publish.. Dan jg ats kehendak Tuhan, ff ini berakhir tidak bahagia karena memang dri awal ff ini sudah bergenre sad😦 Mungkn bnyk readers yg kecewa dengan ending dri ff ini, tp sy sdh memaksimalkan kemampuan sy untk mnyelsesaikan ff ini..

Terima kasih yg sbesar2’y buat para readers yg selalu setia ngikutin dan rcl ff ini dri first chap smpe last chap. Dan jg trima kasih buat siders yg blum jg taubat, stidak’y sy mnghormati klian krn tlah mau meluangkn wktu mmbca ff ini.. Tp alangkah  baik’y jika kalian sedikit mninggalkan jejak ^^

Buat kak Mey, terima kasih atas cover buatan’y ^^ tnpa cover luar biasa bgus buatan kk, ff ini tdk mngkn bs publish..

Ff ini mrupakan ff multichapter sy yg kedua setelah “Oppa, Give Me Your Love!“.. Sy ckup puas dgn semakin bnyk’y readers baik hati yg mndkung sy dlam pmbuatan ff ini..

Sekali lagi trima ksih untuk semua’y.. Tetap tunggu karya2 ffku para chingudeul yg baik hati ^^ Gamsahamnidaaaaa *Big Bow*

For my lovely readers keep RCL, no bashing and plagiarism! Okay ^_~

>>> Temukan fanfic lainnya disini!

51 thoughts on “Do Man Cry? [Chapter 9] (END)

  1. Anyyeong thor aku readers baru disni ^^ huaaa aku sedih banget baca fanfiction ini TT^TT ceritanya nyentuh banget thor,dabeakk,fanfictionya baguss banget,aku tunggu fanfiction selanjutnya hehehe😀

  2. Oooh thor sukanya aku sm ff inii tipe aku banget yg sedih sedih ginii huuu *crying violently* good job thor banyakin bikin yg genre ginian yaah ^^

    • Selingkuhan’y sehun chingu😄 khekhe
      Sbnar’y aku sngaja mnculin luhan buat prsiapan sequel.. tp mngkn blum bs aku rmpungin skrg -,- d’tunggu aja yah chingu yg baik hti ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s