Little things

download

Tittle : little things
Author : @ismimeey
Gendre : tentukan sendiri
lenght : oneshoot
Cast : – Do Kyungsoo
– Nara jaqueen
– Kai
– others

other ff :

https://exofanfictionworld.wordpress.com/2013/09/12/baekhee-series-jealously-baekhyun-editted/#more-5637

https://exofanfictionworld.wordpress.com/2013/09/06/another-series-meet-kai/#more-5466

https://exofanfictionworld.wordpress.com/2013/07/30/kais-t-shirt/

https://exofanfictionworld.wordpress.com/2013/07/21/baekhyuns-blonde-hair/

ini cerita selingan selagi cerita baekhee sama kaihyo yg lagi dalam proses pembuatan ….

Well, ini sebenernya ff yg udah pernah aku share sebelumnya. Dan itu udah lamaaa banget… tapi cast-nya niall one direction, maklum waktu itu aku masih labil dan menyukai semuaaanyya.. tapi kan sekarang aku lg mau nyoba setia sama exo.. lah kok jd curhat gini ya??

Nah kali ini aku ubah semuanya… latar, cast, dll..

Hope you enjoy🙂

Inspired by one direction’s song- little things

Her name

***

“umma, bisakah kau memberiku satu kotak bekal lagi?”, pinta seorang bocah kecil kepada ibunya yang sedang menyiapkan kotak bekal untuknya.

” astaga kyungsoo! Nafsu makan mu ini benar-benar mengerikan!” ibunya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tapi toh tetap menyiapkan apa yang anaknya minta. Ia tahu diusia kyungsoo yang baru menginjak angka 13 ia harus banyak mengkonsumsi asupan makanan yang bergizi untuk proses pertumbuhannya.

” gomawo umma ” kyungsoo tersenyum puas menerima pesanannya, yaitu dua kotak bekal makanan.

” hati-hati dijalan, love you ” ibu kyungsoo membungkuk dan mencium pipi anaknya yang membengkak karena nafsu makannya.

” love you too ” kyungsoo menunjukan senyumnya yang sangat menggemaskan. Ia siap memulai hari nya dipagi ini sebagai murid sekolah dasar. Sebenarnya ada alasan lain kenapa kyungsoo tampak lebih ceria dari biasanya.

-000-

sepulang sekolah, kyungsoo langsung melangkahkan kaki mungilnya kesuatu tempat dan bertemu dengan seseorang yang menjadi alasan kenapa ia sangat ceria hari ini.

” hai ” kyungsoo menyapa seorang gadis kecil yang sedang duduk diatas ayunan kayunya. Gadis itu hanya menolehkan kepalanya kesamping, tidak benar-benar menoleh kearah kyungsoo yang ada dibelakangnya.

” ini bekal mu “ ucap kyungsoo menyodorkan salah satu kotak bekalnya kepada gadis yang tengah duduk diayunan kayu dihadapannya . gadis dengan mata cokelatnya itu menyeringai sembari mengambil kotak bekal yang kyungsoo sodorkan padanya .

“kali ini aku mau punya mu juga “ sahut gadis itu dengan nada menantang. Kyungsoo terbelalak . ternyata nafsu makan gadis dihadapannya ini sama mengerikan dengan dirinya.

Kyungsoo menatap gadis itu dengan tatapan pasrahnya . “ aku belum makan “ sanggah kyungsoo seolah memberi penjelasan agar gadis itu mengerti.

“ sehabis ini aku berjanji akan memberitahukan namaku, asal kau berikan bekalmu yang itu juga .” gadis mungil itu seolah tidak mau tahu keadaan kyungsoo yang sangat keroncongan . sudah hampir 1 minggu kyungsoo membawa 2 kotak bekal , yang satu ia berikan kepada gadis dihadapannya dan yang satu lagi untuknya . hal itu ia lakukan demi mengetahui nama gadis kecil yang mampu menarik perhatiannya .
Kyungsoo memandangi kotak bekalnya dengan pasrah , dengan lemah ia memberikan kotak bekal itu kepada gadis kecil yang masih menunjukan senyum menantangnya .

“ ah kau benar-benar ingin tahu namaku rupanya. “ celoteh gadis itu menerima kotak bekal kyungsoo lagi.

“ kuhabiskan ini dulu baru aku beritahu namaku, oke! “ ucapnya yang terdengar seperti sebuah perintah. kyungsoo diam saja memandangi makanannya yang sudah masuk perut orang lain. Diam-diam ia menelan ludahnya, membayangkan kelezatan sandwich kesukaannya, ditambah lagi ekspresi nikmat yang ia lihat diwajah gadis dihadapannya ketika makanan itu terkoyak dimulut mungilnya.
“ ckck, ini untukmu . aku jadi tidak tega melihat wajah kelaparanmu. “ gadis itu memberi sebuah sandwich pada kyungsoo yang sepertinya akan mengeluarkan liurnya sebentar lagi. Kyungsoo berjengit gembira, langsung saja makanan itu habis ditelannya hanya dalam beberapa suap.
“ oh ya, namaku sebenarnya adalah mocca jaqueen , tapi kalau disini kau bisa memanggilku nara. Nara jaqueen, Hm..namaku memang terdengar aneh.”
Ya nama Nara memang terdengar asing bagi orang-orang korea pada umumnya, itu semua karena ayahnya memang bukan orang korea.
Kyungsoo tersenyum senang.

“ aku kyungsoo. Do Kyungsoo , dan namamu unik, seperti rasa kesukaan ku, mocca.. “

Nara hanya tersenyum mendengar penuturan jujur dari Kyungsoo.

Mocca, didalam kondisi tertentu ia bisa menyejukan serta menghangatkan. Dan seperti itulah mocca.

***

This litlle things

Pertemuan 2 tahun yang lalu ternyata membuat keduanya semakin dekat seperti sekarang. Ternyata rumah Nara tidak jauh dari rumahnya, hanya berjarak 1 blok. Kyungsoo orang yang menyenangkan dan sangat suka berbagi, kecuali berbagi makanan. Sampai sekarang ia juga masih bingung, kenapa Kyungsoo mau memberikannya bekal sekolah. Padahal kyungsoo sangat pelit dalam urusan makanan.
Kyungsoo sekarang juga sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang berusia 15 tahun, selama ini kyungsoo hanya mempunyai seorang teman yaitu Nara. Setiap hari biasanya ia habiskan didanau dekat komplek perumahan mereka.
Sepulang sekolah kyungsoo selalu mengajak Nara kesana walaupun mereka berbeda sekolah.
Didanau mereka biasanya berbaring menatap langit sore yang nampak dikota Daegu.

“ Nara …” panggil Kyungsoo. Ia menatap Nara yang tengah berbaring disampingnya. Dari tadi ia sibuk memandangi keindahan alam disekitarnya. Tapi panggilan kyungsoo membuatnya menoleh, menatap kyungsoo yang berjarak dekat saat ini.
“ matamu sangat indah, aku suka.” Puji Kyungsoo jujur. Ia memang sangat menyukai mata Nara yang berwarna cokelat itu. Entah mengapa saat menatap mata itu kyungsoo merasa tenang.
“ matamu juga. “ sahut Nara menampakan senyum manisnya, ketika ia tersenyum muncul lesung pipi yang membuat senyumnya benar-benar manis.
“ ah juga senyum mu, aku menyukainya.” Tambah kyungsoo . ia menatap wajah Nara sampai gadis itu salah tingkah sendiri.
“ ah sudah sore, lebih baik kita pulang.” Seru Nara dengan wajah yang memerah. Ia bangkit lantas menepuk daerah disekitar bokongnya sampai punggung, bermaksud menghilangkan debu dan rumput kering yang tersangkut disana.
“ baiklah, ayo.” Kyungsoo mengikuti apa yang Nara lakukan barusan lantas menggenggam tangan Nara yang sangat pas ditangannya. Seolah tangannya itu memang tercipta untuknya, untuk ia genggam.
Ditengah perjalanan pulang mereka dihadang oleh sekompok anak seusia mereka. Dan saat itu pula Kyungsoo mulai merasa kalau tangan Nara mendingin. Ia bisa merasakan basah dari tangan Nara.
“ hai Nara ! “ sapa seorang bocah laki-laki yang sepertinya adalah pemimpin dari anak-anak yang menghadang Nara dan Kyungsoo.
Bocah itu menyunggingkan seringaiannya yang membuat Nara bergidig ngeri. Bocah itu memisahkan tautan tangan Nara dan Kyungsoo. Kyungsoo juga merasa takut dan terancam, ia ingat pesan ibunya.Jangan pernah berkelahi.
“ apa maumu , kai? “ Tanya Nara dengan suara gemetarnya . ia meringis kala cengkraman kai dilengannya semakin menguat.
“ balas dendam tentu saja. Aku sudah memperingati mu kan? Tapi kau malah sengaja melawanku dengan melaporkan apa yang telah aku lakukan selama ini padamu kim seongsanim. Kau mau mati rupanya ! “ hardik kai dengan wajahnya yang sarat dengan emosi. Ia mendorong Nara hingga tersungkur dihadapannya. Tangan Nara berdarah. Ia tanpa sengaja tertusuk beling ketika kai mendorongnya. Telapak tangan Nara sedikit robek. Robekan itu membuat darah mengucur dari sana. Nara hanya bisa meringis ditengah tawa Kai dan teman-temannya. Sementara itu wajah kyungsoo Nampak memucat, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, lutut dan tubuhnya bergetar.Darah!! ia segera berlari dari sana, keringat dingin mengucur membasahi pelipisnya. Kyungsoo terengah, ia berhenti dipinggir jalan yang sedang sepi. Lututnya sudah bergetar hebat, kyungsoo menekuk lututnya dengan pandangan mata yang tidak focus.

“ darah..” Kyungsoo terus saja menggumankan kata itu. Bayangan darah yang sangat mengerikan bagi kyungsoo terus berputar dikepalanya. Membuat Kyungsoo ketakutan, sangat ketakutan.

-000-

“ kau kenapa sayang? “ ibu Kyungsoo menatap cemas anaknya yang memucat disertai keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.
Kyungsoo menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.
“ umma. Aku takut” gumam Kyungsoo, pandangannya masih tidak fokus. Ibu Kyungsoo langsung memeluk anaknya, pelukan yang terasa sangat melindungi. Membuat Kyungsoo merasa aman.
“ darah..” gumam Kyungsoo, ibunya langsung terbelalak. “ kau baik-baik saja? “ tanya sang ibu khawatir, ia langsung memeriksa tubuh anaknya. Takut jika Kyungsoo terluka.
“ aku melihat darah, umma! Nara berdarah…aku takut..” adu Kyungsoo ditengah isak tangisnya. Gurat khawatir itu kini berkurang dari wajah ibunya. Ia kembali memeluk Kyungsoo serta mengusap rambut anaknya itu dengan sayang sembari membisikan kata-kata yang bisa menenangkan buah hatinya.

***

This pain

Sudah 1 minggu sejak kejadian itu Nara menghilang. Ibu Kyungsoo mengatakan kalau Nara pergi ke kanada untuk bertemu dengan orang tuanya sekaligus mengurus kepindahan sekolah Nara. Nara ingin pindah sekolah, ia tidak mau terus-terusan dibully seperti ini. Selama di Daegu Nara tinggal dengan kakek dan neneknya , sedangkan ayah dan ibunya tinggal dikanada untuk mengurus bisnis fashion disana.
Dan hari ini Nara akan kembali ke Daegu lagi, ia memang ingin pindah sekolah tapi ia masih ingin menetap di Daegu. Nanti orang tuanya akan menyusul untuk mengurus kepindahan sekolah Nara, rencananya ia akan bersekolah disekolah Kyungsoo. Karena bisnis orang tuanya yang tidak bisa ditinggalkan, Nara akhirnya kembali ke Daegu bersama kakeknya. Kakeknya juga yang menemaninya ke kanada.
“ ah aku merindukan kyungsoo. Apa kabar ya bocah menyebalkan itu?” seru nara dalam hati , jujur ia agak kesal dengan kyungsoo yang meninggalkannya begitu saja saat ia dikeroyok oleh kai dan teman-temannya. Tapi ia juga tidak bisa menampik rasa rindunya, ternyata berpisah dengan kyungsoo selama 1 minggu membuat dirinya sangat ingin bertemu dengan kyungsoo saat ini.
“ ayo nara bantu kakek membawa kopermu ini. “ ucapan kakeknya seakan menyadarkan nara dari lamunannya. Ia mengangguk dan meraih koper ungunya. Mereka memang baru landing 10 menit yang lalu. nara melangkah dengan semangat, ia tidak sabar ingin bertemu kyungsoo. Ia rindu saat mereka memandang langit sore kota daegu yang sangat indah , melihat ke-pelit-an kyungsoo , senyumnya, tawanya, wajah konyolnya..ah ia merindukan semuanya !!
Kota daegu Nampak diguyur oleh hujan yang sangat deras. nara mendesah, kalau begini pasti akan sulit mendapat taksi.
“ tunggu kakek, nara ! kau ini cepat sekali..” seru sang kakek gemas. Cucunya sudah melesat secepat kilat meninggalkan kakeknya yang umurnya sudah lebih dari setengah abad.
“kek ayo..itu ada taksi !!” sahut nara . Ia berlari bermaksud menyebrang jalan. nara tidak menyadari sebuah mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Tubuh mungilnya terpelanting. Dan saat itu juga suara teriakan sang kakek menggema, ia melihat tubuh cucu nya yang mengeluarkan banyak darah..
“nara ..”

-000-

kyungsoo POV~

Sore ini tidak seperti sore-sore sebelumnya, dimana ada aku dan nara yang biasa menatap keindahan langit sore dikota daegu. Ia menghilang. Sejak kejadian dimana aku melihat darah ia tidak lagi menampakan batang hidungnya. Umma bilang dia sedang berkunjung menemui orang tuanya di kanada. Tapi sampai sekarang dia belum kembali.
Apa dia marah padaku karena aku meninggalkannya saat dia diganggu oleh teman-temannya? Sungguh, waktu itu aku sangat ingin menghajar wajah bocah yang ia panggil kai. Tapi melihat darah itu, focus ku jadi buyar. Aku takut..saat itu aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain berlari menjauh dari tempat dimana aku melihat darah. Menyebutkannya saja sudah membuat kepalaku pusing.
Tapi..merindukannya seperti ini sangat menyiksaku. Aku merindukan sorotan mata cokelatnya yang indah, yang mampu membuatku merasa tenang, lesung pipi pada senyumnya yang sangat aku sukai, serta tangannya yang terasa sangat pas saat ku genggam, juga suaranya yang membuatku nyaman berlama-lama berbincang dengannya. Apa dia tidak tahu kalau itu semua sangat menyiksaku? Rasanya seperti kau tidak bisa bernafas dengan benar saat oksigen disekitarmu terasa sangat menyejukkan dan saat kau tidak merasakan kenikmatan saat menyantap makanan yang paling kau sukai. Sangat menyiksa bukan?
Aku seperti mengalami ketergantungan atas dirinya, semua hal-hal sederhana didirinya yang mampu menyiksaku seperti ini. Hhh.. nara kapan kau kembali?
“ kau kenapa, kyungsoo? Akhir-akhir umma perhatikan kau selalu murung?” Tanya umma begitu aku sampai dirumah. Ah umma ku memang paling mengerti.
“ apa ini semua karena Nara?” Nah kubilang juga apa, dia memang sangat mengerti aku.
” umma, kapan dia akan kembali?” tanyaku sedih. Entah kenapa dadaku kini terasa sesak.
Umma memelukku, memberikan pelukan yang terasa sangat nyaman sekaligus melindungi. Ia mengelus kepalaku lembut.
“ bukankah umma sudah mengatakan padamu kalau Nara hanya pergi sementara untuk menjenguk orang tuanya d ikanada? Tenang saja, ia pasti akan kembali.” Ucap umma berusaha menenangkanku.
Aku menggeleng keras dipelukan umma ku. “ia tapi kapan umma?” tanyaku dengan nada putus asa.
“ kudengar dari ahjumma ahn ia kembali ke Daegu kemarin sore, mungkin saat ini ia sedang beristirahat dan baru akan menemui mu nanti.” Ujar umma ku. Seketika itu juga dadaku terasa sangat ringan. Sepertinya aku sudah bisa menghirup oksigen dengan benar.
“ aku akan kesana sekarang.” Seruku dengan semangat yang berkobar. Tanpa memperdulikan teriakan umma aku berlari keluar rumah menuju rumah nara. Benarkah ia sudah kembali? Apakah ia juga merindukan ku? Ah..
“ ahjumma!! Ahjumma ahn!!! “ aku mengetuk pintu rumah nara dengan brutal. Tapi rumahnya nampak begitu sepi. Sudah puluhan kali aku mengetuk pintu rumahnya serta menekan bell.
Harapanku hilang sudah, seperti debu yang tersapu dimusim kemarau. Rumah ini memang benar-benar kosong.Tubuhku jatuh didepan pintu rumahnya. Matahariku benar-benar hilang, tak terasa pipiku sudah basah. Entah mengapa aku merasa tidak akan bertemu nara lagi.

-000-

Sementara itu, disebuah ruangan dengan cat yang serba putih dan berbau khas obat-obatan yang sangat menyengat, seorang gadis yang tubuhnya tengah dipasang beberapa alat medis kini sedang berjuang memepertahankan hidupnya. Dokter yang menanganinya pun berusaha menyelamatkannya.
Orang tua nara, kakek dan neneknya kini sudah berada diluar ruangan tempat nara ditangani. Suasana mendung sepertinya tengah menyelimuti keluarga tersebut. Sedari tadi ibunya tak henti-henti menangis, ia tidak mau kehilangan hartanya yang paing berharga, yaitu nara.
Beberapa jam kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, ayah nara dan kakeknya langsung berdiri menghampiri dokter tersebut. Sementara nenek dan ibunya tengah tertidur karena kelelahan menangis.
“ bagaimana keadaan purti saya?” Tanya mark, ayah nara. Ia menatap dokter tersebut penuh harap.
Dokter itu menghela nafas sejenak dan menatap kedua pria dihadapannya dengan tatapan prihatin.
“ maaf..” dokter tersebut mengusap bahu mark, berusaha menguatkan. Satu kata yang diucapkan dokter itu bagaikan sambaran petir baginya, ia tahu pasti ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada putri kesayangannya.
“ putri anda mengalami kebutaan. Kornea matanya terluka dan menyebabkan ia buta. Maaf, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin.” Jelas dokter tersebut. Hati mark serasa mencelos, dunianya anaknya runtuh sudah.
“appa!!” mark memekik, ayahnya jatuh pingsan. Tak kuat mendengar jika cucunya tidak bisa melihat indahnya dunia ini lagi.

-000-

1 minggu kemudian, mark dan istrinya sudah berada dikamar rawat nara. Perban dimatanya akan segera dilepas. Nara Nampak sangat tidak sabar, senyum bahagianya sedari tadi terus merekah, membuat hati kedua orang tuanya teriris.
“ kau siap, nara?” Tanya sang dokter. Nara mengangguk dengan semangat, ia tidak sabar ingin keluar dari tempat memuakkan ini.
“ 1..2..3” mereka mulai menghitung bersama. Perban yang dililitkan di mata nara mulai dibuka secara perlahan. Kini tinggal dua buah kapas yang menempel disana. Dokter mulai membuka itu semua, orang tua nara menatapnya dengan jantung yang terus berpacu.
Nara mulai menggerakan kelopak matanya yang mungkin terasa agak berat. Ia mengerjap beberapa kali, wajahnya terlihat bingung. Senyum diwajahnya mulai luntur.
“ umma.. appa… tolong nyalakan lampunya. Gelap sekali.” Gumam nara.
Orang tuanya tidak tahu harus menjawab apa. Mereka terdiam beberapa saat sampai nara kembali bertanya. “umma.. appa cepat nyalakan!!” sentak nara.
“ lampunya sudah menyala.” Jawab ibu nara dengan suaranya yang mencicit. Dahi nara mengkerut makin dalam tapi didetik selanjutnya tubuh nara nampak menegang. Ia menggeleng keras beberapa kali, matanya mulai berkaca-kaca.
“ tidak..tidak mungkin..” desis nara. Air matanya mulai turun, dadanya terasa sesak. Dunianya benar-benar hancur sekarang. Tidak ada lagi yang tersisa.
Nara menjambak rambutnya dan berteriak frustasi. “ tidak ! aku tidak buta kan, umma ? cepat nyalakan lampunya umma! Cepat nyalakan !!”
Ibunya ikut menangis, ia mendekati nara dengan perlahan mencoba memeluk anak semata wayangnya itu.
“ nara..” desis ibunya, ia memeluk nara yang terus menjerit histeris. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada anaknya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya berusaha menenangkan dan mencoba memberi kekuatan pada nara.
Ternyata sebuah pelukan dari sang ibu tidak mampu membuat nara tenang. Nara makin menjadi-jadi dengan melempar semua benda yang berada disekelilingnya yang bisa ia raih. Semua orang yang ada diruangan itu ikut prihatin dan merasa kebingungan menghadapi nra. Akhirnya dokter pun mulai menyuntikkan bius pada nara. Dalam beberapa detik nara mulai tenang, ia tertidur diranjangnya dengan air matanya yang masih membekas dipipi.
Ibu nara menghampiri suaminya, ia memeluk mark dan menangis didadanya. Sebagai ibu ia juga bisa merasakan kesedihan yang saat ini dialami nara. Mark hanya bisa mengusap punggung istrinya, berusaha menguatkan.

-000-

Nara membuka kedua matanya perlahan, masih gelap. Padahal ia berharap kalau ini semua hanya mimpi buruk yang akan berakhir jika ia membuka matanya lagi. Ia tidak tahu apa salahnya sehingga tuhan menghukumnya seperti ini. Rasanya lebih baik mati dari pada tidak bisa melihat indahnya dunia ini lagi. Untuk apa hidup jika semuanya tidak berwarna, hanya ada hitam yang bisa nara lihat.
Tiba-tiba terlintas Kyungsoo dipikirannya, apakah bocah itu masih akan tetap mau berteman dengannya setelah tahu keadaannya yang seperti ini?
“ kenapa semua ini harus terjadi padaku?” desis nara. Air mata mengucur dari mata indahnya yang kini tidak bisa berfungsi dengan baik seperti dulu. Dadanya tiba-tiba merasa sesak, nara mencengkram dadanya dengan air matanya yang terus mengalir deras.
“ arrrghhhh…” nara berteriak frustasi –lagi-. Saat ini emosinya sulit ia kontrol. Nara kembali mengamuk, ia melempari semua barang yang bisa ia jangkau..
“ astaga..nara..” nenek nara langsung melihat keadaan cucunya begitu mendengar suara gaduh dari kamar rawat nara.
Dengan hati-hati neneknya mencoba menghampiri nara , menghindari barang-barang yang dilempar oleh cucu kesayangannya itu.
“ nara, tenanglah sayang..” neneknya memeluk tubuh cucunya dengan tangannya yang renta. Seketika itu juga tubuh nara yang menegang seketika itu juga melunak.
“halmeoni..” desis nara.
“ Ssshhh..mana cucu nenek yang selalu tegar? Ini hanya cobaan kecil yang tuhan berikan padamu agar kau bertambah kuat menjalani hidup ini. Ingat sayang.., kau masih punya orang-orang yang menyayangimu. Kau masih punya grandma, grandpa, umma dan appa .” Ucap nenek nara dengan suaranya yang lembut, setetes air mata meluncur kepipinya yang sudah tidak kencang lagi. Tapi ia berusaha menyembunyikannya.
“ tapi kenapa harus mataku ? kenapa, halmeoni? “ tubuh nara berguncang dipelukan neneknya.
“ kita bisa mencari donor mata untukmu sayang..” desis nenek nara tidak yakin. Dan entah mengapa berada dipelukan neneknya seperti ini membuat nara merasa tenang. Bahkan pelukan ibunya pun tak mampu meredakan emosi nara. Gadis itu memang terbiasa dengan neneknya.
“ kami menyayangimu nara.. jangan sedih lagi. Kau harus kuat dan sembuh, nanti kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu. Kau tidak rindu menyiram bunga dengan grandma mu ini? Atau kau tidak merindukan temanmu si gembul itu..hmm?” pertanyaan neneknya seperti sambaran petir bagi nara . kyungsoo .. ia bahkan sangat takut jika kyungsoo tidak mau menerima keadaannya yang seperti ini.
Akankah kyungso tetap mau berada disampingnya walaupun sekarang ia cacat?
-000-
1 minggu dirumah sakit lama-lama membuat nara jengah. Ia sangat ingin keluar dari tempat terkutuk ini. Dan akhirnya hari yang telah ia nantikan datang. Hari ini nara diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
Perkataan neneknya waktu itu sedikit banyak menguatkannya, nara tidak pernah mengamuk lagi seperti dulu. Emosinya sudah bisa ia kontol dengan baik
“ aku ingin ikut umma dan appa ke kanada. Aku tidak mau kembali ke daegu “, Ujar nara berusaha meyakinkan diri. Keluarganya dibuat tercengang untuk beberapa detik.
“ kenapa? Apa kau tidak mau bertemu dulu dengan temanmu kyungsoo?”, Tanya nenek nara ragu.
Nara hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“ baiklah, terserahmu saja. Nanti biar umma dan appa yang akan mengurus kepindahan sekolahmu.” Ujar mark. Ia mengusap rambut anaknya dan menuntun anak semata wayangnya itu menuju kursi roda. Dengan keadaan nara yang seperti ini pasti akan sulit baginya untuk berjalan sendiri. Ia masih butuh penyusuaian.
Mulai sekarang sepertinya nara harus bisa menata hidupnya dengan baik tanpa bocah bermata besar yang doyan makan itu.

-000-

‘cause there’ll be no sunlight if I lose you baby there’ll be no clear skies if I lose you baby. Just like the clouds my eyes will do the same . if you walk away every day it’ll rain’

Hari-hari ini sepulang sekolah seperti biasa kyungsoo langsung mengunjungi danau tempat favoritnya dengan nara . Sudah 2 minggu ini ia melakukan hal yang sama. Berharap gadis itu datang kesana, menemuinya lagi.
Langit sore dikota daegu yang seperti biasanya terlihat sangat indah, tak mampu membuat kyungsoo tertarik lagi. Sekarang kyungsoo lebih suka menyendiri sambil memandangi ketenangan air danau, sambil sesekali ia mengusap pipinya yang terasa basah. Ia bahkan tidak menyadari kapan air asin itu jatuh dari pelupuk matanya.
Ia tidak menyangka jika ia sudah sangat ketergantungan pada gadis itu.
“ akan kah kau kembali, nara?” desis kyungsoo dalam hati.
Ia menundukan kepalanya. Menatap kaki mungilnya, ingatannya seolah tertarik lagi dihari itu lagi.

‘flashback’

“ apa sekarang kita sudah resmi berteman?”, Tanya kyungsoo ragu pada nara yang sekarang sedang menyantap sebuah lollipop.
“mmm…” nara Nampak berpikir, hanya untuk mengerjai kyungsoo sebenarnya.
Ia melirik kyungsoo yang sekarang memasang tampang memohon.
“aku tidak tega melihat wajahmu yang memelas seperti itu. Hm baiklah kita berteman”, ucap nara akhirnya, ia menyodorkan kelingkingnya pada kyungsoo yang mentapnya penuh kebingungan.
“ ini adalah tanda kalau kita sudah resmi berteman”, jelas nara yang melihat wajah kebingungan kyungsoo.
kyungsoo hanya tersenyum dan segera mengaitkan kelingkingnya pada kelingking nara.
“ teman!” seru nara seraya menggoyangkan kelilingking mereka yang bertautan.
Kyungsoo tersenyum senang. “ya..teman!” kyungsoo ikutan berseru.
“mm.. karena kau adalah temanku, akan ku tunjukan tempat yang paling indah disini. Bagaimana?”, Tanya nara yang langsung disetujui oleh kyungso. Kemanapun gadis ini akan membawanya kyungsoo pasti bersedia.
Nara pun menggiring kyungsoo keluar dari tempat persembunyiannya –tempat berayunan tadi-. Tempat itu terletak disebuah pekarangan yang cukup luas.
Didepan pekarangan tersebut tergeletak sebuah sepeda yang ternyata milik nara.
“ ayo naik ! “ ujar nara. kyungsoo hanya bisa menurut.
Nara mulai mengayuh sepedanya santai, sambil mengajak kyungsoo bersenandung lagu anak-anak tk

‘are you sleeping are you sleeping brother john brother john, morning bells are ringing morning bells are ringing. Ding dong ding’

Kyungsoo dan nara tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan. Tapi yang jelas, kyungsoo merasa nyaman bersama gadis ini.
Tempat yang mereka tuju adalah sebuah danau yang tidak jauh dari kompleks perumahan mereka berdua.
Nara mengajak kyungsoo berbaring diatas rumput yang nampak menguning. Dan dari situlah dia baru sadar kalau langit kota daegu ternyata seindah ini.
Kyungsoo menoleh kearah nara , menatap wajah manisnya. Sangat menyejukan.


Nara berdiri dibalkon kamarnya, entah mengapa udara dikanada tak sesegar udara di daegu . padahal sudah 4 tahun ia menetap dikanada. Tetap saja ia belum sepenuhnya terbiasa disini. Kenangannya selama di daegu sangat sulit ia hapus dari ingatannya. 4 tahun , selama itu ia masih saja teringat dengan bocah yang satu-satunya mau menjadi temannya.
“ apakah kau masih mengingatku, kyungsoo?”, gumam nara. Ia berbalik badan dan mengambil tongkat yang selama ini membantunya berjalan.
Diam dirumah seperti ini membuat nara bosan. Selama ini dia memang mengikuti program homeschooling dan dengan bantuan buku dengan menggunakan huruf braille.
Tapi rencananya, tahun ini nara ingin duduk dibangku sekolah sama dengan remaja-remaja lainnya. Ia mengambil jurusan sastra inggris di university of Toronto . karena disana tersedia kelas untuk anak berkebutuhan khusus seperti nara.
Dan hari ini adalah hari pertama ia masuk di universitas tersebut. nara sudah siap dengan jeans hitam dan t-shirt putih yang ia balut dengan cardigan hitam. Nara memang sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Ia tidak mau menyusahkan orang-orang disekitarnya.
“ kau sudah siap sayang?”, Tanya ayah nara yang sudah siap mengantarnya dihari pertama tahun ajaran baru. Nara berjalan dengan perlahan dengan bantuan tongkatnya, ia menarik sebuah bangku lantas berbaur bersama keluarganya yang sedang sarapan.
“ tentu saja aku siap”, jawab nara dengan senyum meyakinkan. Ia meraba meja makan dan mengambil selembar roti, mengolesinya dengan selai. Ia memang mengalami kemajuan pesat selama 4 tahun ini.
“ ayo appa, aku sudah siap”, nara mengakhiri acara sarapannya dengan menengguk segelas susu cokelat kesukaannya.
“ umma, halmeoni dan abeoji aku berangkat dulu ya, do’akan aku agar hari ini berjalan lancar”, ujar nara. Tanpa diminta pun semua keluarganya juga akan selalu mendoakan yang terbaik untuk nara. Ibu nara, kakek dan neneknya mencium pipi nara sebelum gadis itu berangkat keuniversitasnya. Yah..semoga hari ini berjalan lancar
-000-
Suasana di university of Toronto hari ini bisa dibilang penuh sesak. Dihari pertama masuk sekolah para mahasiswa disana sudah kelihatan sibuk. Nara harus berjalan sangat hati-hati, beruntung ia ditemani oleh ayahnya sampai dikelas pertamanya hari ini. Semua murid dikelas Nara memang mengalami keterbatasan yang sama dengannya. Dan karena itu Nara tersadar, ia bukan satu-satunya orang yang paling menderita didunia ini.
Kelas pertama nara berjalan dengan lancar. Sebenarnya tadi, ia tidak benar-benar belajar. Dihari pertama hanya pengenalan beberapa dosen yang akan mengajar serta pembagian urutan kelas untuk kedepannya. Dan sekarang semua mahasiswa di universitas tersebut diijinkan berkeliling melihat-lihat sekolah baru mereka.
“ maaf”, ujar Nara panic begitu ia menabrak seseorang. Ia meraba-raba lantai tempatnya berpijak. Tongkatnya terjatuh saat ia menabrak orang tersebut.
“ ah iya. Aku yang minta maaf. Dan ini tongkatmu”, ujar orang tersebut. nara tersenyum sembari menerima tongkatnya.
“ anyway kau mau kemana? Sepertinya kau terlihat kebingungan”, terka orang tadi. Nara mengangguk. Ia belum terbiasa dengan lingkungan disini, jadi bagaimana bisa ia bergerak dengan benar.
“ entahlah.. aku benar-benar bingung. Ini hari pertamaku disini”, jawab Nara seadanya.
Orang tadi mengangguk dan menawarkan diri untuk membantu nara, ia benar-benar tidak tega melihat seorang gadis dengan keterbatasannya ditempat seramai ini.
“ oh ya! Namamu siapa?”,
“ aku mocca jaquen, tapi orang-orang biasa memanggil ku nara “
“hah???” orang tadi hanya bisa menatapnya bingung. Nama lengkap Mocca jaqueen dan dipanggil nara, sungguh aneh.

“hmm.. ayah ku memang berasal dari sini tapi ibuku asli orang korea maka dari itu aku punya 2 nama sekaligus.. uhmm terdengar aneh memang..”
“ ah nama mu unik seperti rasa kesukaanku, mocca”, tanggap orang tadi tanpa menghiraukan . Detik itu juga nara merasakan seperti dejavu. Ingatannya seolah tertarik dalam kejadian beberapa tahun yang lalu.

“ oh ya, namaku sebenarnya adalah mocca jaqueen , tapi kalau disini kau bisa memanggilku nara. Nara jaqueen, Hm..namaku memang terdengar aneh.”

“ aku do kyungsoo. dan namamu unik, seperti rasa kesukaanku. Mocca”

-000-

“hmm.. tempat ini lumayan bagus”, ujar orang tadi. Ia membantu Nara duduk disalah satu bench yang ada ditaman kampus.
“ biar ku deskripsikan tempat ini. Mmm ada beberapa pohon besar yang tumbuh disini. Makanya udara disini sangat asri. Dan juga beberapa jenis bunga yang ditata pada sudut-sudut tertentu disini. Yang jelas tempat ini lumayan indah”
“ thanks, aku bisa membayangkan bagaimana tempat ini. Hmm.. andai saja aku bisa melihat lagi” ujar Nara melirih diakhir kalimatnya.
“ aku ingin bertanya tapi sebelumnya aku minta maaf. Apa yang menyebabkan mu menjadi seperti ini?”
“ kecelakaan. Kecelakaan 4 tahun yang lalu, saat aku dan kakek ku baru pulang ke daegu. Dulu aku tinggal disana, tapi karena keadaan ku yang seperti ini aku memutuskan untuk tinggal disini bersama keluargaku” jelas nara. Orang itu hanya mengangguk. Ia Nampak mengamati nara dengan teliti. Orang itu Nampak tersenyum manis. Ia mengusap punggung nara lembut.
“ kau gadis yang kuat”
Nara hanya tersenyum mendengarnya. Gadis yang kuat. Hah .. ia juga berharap bisa begitu. Hanya saja dalam beberapa hal Nara tidak bisa menjadi gadis yang kuat.. bahkan ia masih sering menangis jika mengingat si bocah gembul itu. Ah memikirkannya membuat Nara tersiksa lagi dan lagi.
“ngomomong-ngomong,,, aku juga merupakan orang korea.. anyeonghasseo nara, bangapseumnida..”

*****
Kyungsoo POV
Entahlah.. rasanya nyawaku telah kembali lagi. Dadaku saat ini benar-benar terasa ringan. Tak kusangka aku bisa bertemu lagi dengannya. Dengan gadis yang mampu menyiksa batinku selama 4 tahun
Tapi begitu melihat keadaannya sekarang, hatiku serasa teriris, bahkan aku tidak ada disampingnya saat ia terpuruk. Ah teman macam apa aku ini. Benar-benar tidak berguna. Dan melihatnya seperti ini lebih menyakitkan dari apapun.
“ awww..” desisku ketika tubuhku tersungkur ketanah.
“lain kali perhatikan langkahmu, nerd! ” seru seseorang yang tadi mendorong bahuku secara sengaja. Dia tertawa bersama teman-temannya meninggalkanku yang masih tersungkur ditanah
“ apa kau baik-baik saja?” seru gadis yang selama beberapa hari ini selalu bersamaku. Sayangnya aku belum memberitahunya tentang identitasku yang sebenarnya.. Mm aku hanya belum siap mengatakannya.
“ya.. aku baik-baik saja” jawabku asal. Aku melirik siku ku yang ternyata berdarah. Darah?? Tubuhku seketika itu juga bergetar, rasanya keringat ku mengucur dengan deras. Luka kecil ini menghasilkan darah yang sangat banyak, tidak berhenti mengalir. Rasanya otak ku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku takut… lututku serasa melemas. Dan seketika itu juga semuanya serasa gelap.

-000-

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Sampai penglihatanku serasa normal lagi
“ bagaimana keadaanmu, kyungsoo?”
Tubuhku menegang.. bagaimana ia bisa tahu?
“ kenapa ? kau kaget?” tanyanya dengan nada sinis
“ dari mana kau tahu?” aku mengacuhkan pertanyaannya.
“ dari petugas kesehatan yang membawamu kesini” jawabnya dengan satu tarikan nafas pendek. Aku ikutan menghela nafas, ia berbalik badan membuka pintu ruang kesehatan. Dengan segera aku turun dari ranjang dan mencegahnya.
“ Nara.. kumohon dengarkan aku dulu” ujarku menggenggam pergelangan tangannnya. Dia menghentakkan tangannya.
Aku meringis melihat lukaku yang ternyata sudah diperban.
“aku membencimu, kyungsoo!” serunya. Aku melihatnya yang menunduk, ia mengangkat wajahnya perlahan. Aku tersentak melihat wajahnya yang basah. Aku menarik pundaknya dan memeluk tubuhnya yang berguncang. Aroma buah strawberry langsung menyeruak begitu kepalanya menempel didaguku.
“ mianhae..” desis ku ditelinganya. Ia tidak memberontak, bisa kurasakan sekarang dadaku basah karena air matanya.
“ nara ..aku hanya belum siap untuk memberitahumu siapa aku yang sebenarnya. Maafkan aku membuatmu tahu dengan cara yang seperti ini. Maafkan aku..” jelasku. Ia masih tidak bereaksi apa-apa.
“kau tidak tahu, kyungsoo.. aku..sangat merindukanmu. Dan kau malah—“
“ sttt.. aku minta maaf Nara. Asal kautahu aku juga sangat sangat merindukanmu. Rasanya sangat menyenangkan bisa memelukmu seperti ini lagi, hmm kau sudah besar rupanya” aku memotong ucapan nara. Ia terbelalak dan melepaskan pelukan ku begitu saja.
“ maksudmu apa hah?” aku terkekeh melihat ekspresi kesalnya, ah sudah sangat lama tidak melihatnya seperti ini. Benar-benar menyenangkan.
“ ah kau ini sensitif sekali ! aku lapar, ayo temani aku makan !” seruku lantas menuntunnya berjalan.

-00-

Sekarang kami sudah berada ditaman kampus. Tempat yang akhir-akhir ini sering aku kunjungi bersama Nara.
“ masih tetap sandwich. Enak!” komentar Nara, ketika makanan yang aku suapkan padanya habis. Aku mengamati wajahnya. Senyumnya masih sangat manis seperti dulu dan matanya juga tetap indah. Hanya saja kedua mata itu tidak bisa berfungsi dengan baik sekarang.
“ apa itu juga buatan ibumu? Mm rasanya sedikit berbeda dengan dulu”
Aku terdiam mendengar ucapan Nara. Didetik selanjutnya aku menarik nafas dan mulai bercerita tentang kehidupanku selama ini.
“ umma sudah meninggal 1 tahun yang lalu.” Aku menarik nafasku lagi, mencoba untuk tidak mengeluarkan setetes air mata.
“ 2 tahun setelah kau pergi umma menikah lagi. Aku sangat tidak menyukai orang asing yang masuk dalam kehidupan ku secara tiba-tiba. Dan akhirnya aku memilih tinggal bersama appa disini. Dan 2 tahun setelah itu, aku mendapat kabar kalau umma telah..meninggal. lelaki itu menyiksanya sampai umma mengalami pendarahan hebat.”
Kembali ku tarik nafasku. Kali ini tangan ku sudah mengepal, menurutku terkurung dipenjara tidak setimpal dengan apa yang telah ia lakukan pada umma ku. Bukan kah nyawa harus dibayar dengan nyawa? Ah.. tapi memang dunia ini pernah adil padaku?
Nara meraba sesuatu dihadapannya, ia mencari pundak ku lantas mengusapnya dengan perlahan, mencoba menguatkan. Kematian umma dan melihat orang yang kusayang berada dalam keada seperti ini, dunia memang benar-benar tidak adil!
Tak terasa pipiku sudah basah, hatiku sangat teriris melihat nara seperti ini dan mengingat betapa menyedihkannya hidupku. Matanya tidak bisa focus menatapku, terang saja, ia hanya bias melihat warna hitam sekarang. Tuhaaan… kenapa kau memberikan cobaan seberat ini padanya?
“ nara..” aku kembali mendekap tubuhnya. Air mataku kembali tumpah. Sial ! susah sekali menahan air asin ini!
“ maaf kan aku kyungsoo.. aku bukan teman yang baik. Aku tidak ada saat kau membutuh kan ku. Aku benar-benar merasa tidak berguna sekarang. Waktu itu aku takut kau tidak mau berteman dengan ku lagi karena keadaan ku yang seperti ini. Aku minta maaf kyungsoo..” jelas Nara dengan suaranya yang bergetar.
Aku melepaskan pelukan ku. Menatap nara tidak percaya. Begitukah pikirannya padaku selama ini? Apa ia tidak bisa melihat ketulusan ku?
“nara..dengarkan aku baik-baik! Aku tidak pernah perduli bagaimana keadaanmu dulu dan sekarang, bagiku kau tetap wanita yang paling sempurna setelah ibuku didunia ini. Kau satu-satunya wanita yang membuatku tidak bisa menatap wanita lain selain mu, satu-satunya wanita yang membuatku hampir gila karena perasaan rindu. Aku mencintai mu nara.. tidak kah kau mengerti itu ?” ujar ku dengan lantang. Ku lihat air mata nara yang terus mengalir.
“ mianhae.. mianhae.. mianhae kyungsoo” katanya sesenggukan. Tangan ku terulur mengusap pipinya yang basah.
“ aku juga mencintai mu kyungsoo “ ucapnya dengan suara yang mencicit. Aku terbelalak mendengar kata-kata itu terucap dari mulutnya. Kuraih tubuh nara dalam dekapan ku.
“ nara, gomawo..”

****
Sacrifice

3 bulan berlalu setelah hari yang bisa dibilang sangat membahagia kan bagi keduanya. Selama itu juga keduanya selalu bersama kemanapun mereka pergi. Seperti sore ini, mereka memutuskan untuk pergi ketaman kota.
“ biar kudeskripsikan tempat ini. Hm.. tempat ini seperti tempat favorit kita di daegu. Ada danau buatan disini, pohon yang juga menjulang tinggi. Serta rumput-rumput yang nampak menguning”, jelas kyungsoo yang tengah duduk disamping nara. Matanya terus bergerak menelusuri pemandangan disekitar yang sangat indah.
“ andai saja aku bisa melihat, pasti setiap kita pergi kau tidak perlu repot mendeskripsikan seperti apa tempatnya. Hhh..” keluh nara. Kyungsoo menghela nafasnya lantas menggenggam tangan Nara. Tangannya masih sama seperti dulu. Terasa sangat pas ketika kyungsoo genggam.
“ aku bersedia melakukannya setiap saat. Dan aku juga tidak merasa direpotkan” jelas kyungsoo. Ia menyenderkan kepala nara dibahunya, mencium puncak kepala nara beberapa kali, meresapi wangi strawberry yang menjadi wangi favoritnya sekarang.
“ tidak hanya itu kyungsoo.. aku juga sangat ingin melihat wajah mu. Bertahun-tahun kita tidak bertemu dan hanya dapat mendengar suaramu itu benar-benar sangat menyiksa. Aku ingin melihat pertumbuhan mu menjadi seorang pria berusia 19 tahun” hati kyungsoo serasa tertohok mendengar penuturan gadisnya.
Nara memilih diam dan menenggelamkan wajahnya dibahu kyungsoo setelah mengungkapkan keluh kesahnya. Nara benar-benar sangat ingin bisa melihat lagi seperti dulu. Selama ini ia danlekuarganya selalu berusaha menemukan seseorang yang rela mendonorkan matanya pada nara. Tapi sampai sekarang mereka belum mendapatkannya.
“ tenang saja.. kau pasti dapat melihat dunia ini lagi.” Hibur kyungsoo yang sama sekali tidak memberikan efek apa-apa pada nara.
-000-
“ kau tunggu disini dulu, jangan kemana-mana.” Seru kyungsoo. Nara hanya bisa mengangguk. Ia memutuskan untuk menunggu kyungsoo dipinggir jalan. Malam ini jalanan sangat sepi, maklum saja dimusim dingin seperti ini orang-orang pasti malas untuk keluar dari rumah.
“ serahkan tas mu !” sentak seseorang. Tubuh nara menegang, seketika itu juga nara mendekap tasnya erat.
“cepat serahkan tas mu sebelum aku bertindak kasar!” sentak orang itu lagi. Nara menggeleng keras.
“ sudah habisi saja! Wanita buta sepertidia memangnya bisa apa?” usul temannya. Dua orang pria setengah baya yang berbadan besar it uterus membuat nara ketakutan.
“ ah kau terlalu bertele-tele!”
Braakkk.. tubuh nara seperti terpelanting, orang itu menampar pipinya dengan amat sangat kencang sampai membuat nara tersungkur dan berdarah.
Kyungsoo sudah berada didekat nara , ia menyaksikan semuanya. Darah.. kyungsoo melihat darah yang menetes dari sudut bibir nara. Sementara dua orang pria itu tertawa puas.
“ bagaimana kalau kita bermain-main dulu dengan gadis ini.. mm lumayan juga”
Rahang kyungsoo mengeras seiring dengan lututnya yang bergetar. Minuman yang berada ditangannya terjatuh.. kyungsoo Nampak menggeleng beberapa kali. Ia tidak mau kejadian seperti dulu terulang lagi. Kaliini ia harus bisa menangkis rasa takutnya.
“lepaskan gadisku!” teriak kyungsoo akhirnya. Ia berusaha memberanikan diri. Dua orang pria tadi tertawa.
“ ow.. dasar remaja. Kau bisa apa anak manis? Ayo lawan aku” tantang salah satu pria itu. kyungsoo melangkah mendekati mereka dengan lututnya yang bergetar. Lama ia tidak melakukan apapun, ia hanya melihat nara dan kedua orang pria brengsek itu secara bergantian.
Buk!! satu tinjuan mengenai perut kyungsoo. Kyungsoo memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri.
“ kau terlalu lama bermain-main anak manis. Sepertinya sebuah pisau bisa membungkam mu!”
Salah satu dari pria itu mengeluarkan sebuah pisau. “ tidak!! “ jerit nara . Ia mencoba bangkit dan merangkak mencari keberadaan kyungsoo.
“ diam kau!” pria itu kembali mendorong nara hingga kepala gadis itu terbentur sebuah batu yang berada dipinggir jalan tersebut. Kepala nara mengeluarkan darah, ia merasakan kepalanya berputar-putar dan rasa sakit yang luar biasa.
“ naraaaa!!” teriak kyungsoo seketika. Kyungsoo bangkit dan mencoba membalas pria tadi, tapi sayang tenaganya tak cukup kuat untuk melawan mereka.
“ mati kau!” pria tadi menusuk perut kyungsoo dengan pisaunya.
“ kau kelewatan! ayo kabur!” dua orang pria tadi kabur meninggalkan kyungsoo dan nara yang terluka.
Kyungsoo meringis merasakan sakit yang amat sangat diperutnya. Darah terus mengucur dari beberapa sumber luka, termasuk luka tusukan itu. Darah tersebut seperti tidak bisa dihentikan.
“ kyungsoo..” nara merangkak mencari kyungsoo ditengah rasa sakit yang bersumber dari kepalanya. Akhirnya nara menemukan kyungsoo , ia bisa merasakan kalau sekujur tubuh kyungsoo basah karena darah.
“ TOLOOONG!!! TOLONG!! “ teriak nara histeris. Dari tadi ia terus menangis sembari berteriak minta tolong. Teriakan nara mengecil seiring kepalanya yang terasa terus berputar. Dan akhirnya nara pingsan.
***
Nara mengerjapkan kedua matanya perlahan. Pelan-pelan ia bisa melihat semua keluarganya yang menatapnya dengan berbagai ekspresi.
“ umma, appa ,,,” desis nara tidak percaya..warna itu datang lagi, ia bisa melihat banyak warna.
“ aku bisa melihat ! “ seru nara bahagia . ia melihat sekelilingnya. Banyak warna yang bisa ia lihat sekarang. Nara menangis tidak percaya.
“ aku bisa melihat! Umma, apaa aku bisa melihat!” seru nara bahagia. Orang tuanya memeluk nara.
“ ya selamat sayang” seru ibunya dengan mata yang berkaca-kaca.
“ tunggu.. tapi siapa yang mendonorkan mata ini?” Tanya nara kemudian. Ia mengernyit ketika kedua orang tuanya bungkam dan tidak menjawab apa-apa.
“ jawab aku, umma! appa!” cecar nara. Ia merasa ada yang tidak beres disini.
“ kyungsoo…” gumam ibunya. Nara terbelalak mendengar jawaban ibunya.
“ apa maksud umma? Cepat katakan!” teriak nara histeris. Dadanya Nampak naik turun.
“ kyungsoo..yang mendonorkan matanya padamu.”
Nara mematung. Ia menggeleng tidak percaya. “ bohong!! Umma pasti bohong kan? Tidaaakk..!umma pasti bohong..umma bohong!” teriak nara histeris. Ia menarik-narik rambutnya sendiri.. nara merasa marah..bingung..takut dan juga kecewa.

***

Darah pada seorang penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal. Proses pembekuan darah pada seorang penderita hemofilia tidak secepat dan sebanyak orang lain yang normal. Ia akan lebih banyak membutuhkan waktu untuk proses pembekuan darahnya.
Dan kyungsoo terkena hemophilia. dan itu juga yang menjadi alasan kenapa ia sangat takut dengan darah. Malam itu, kyungsoo tidak dapat tertolong lagi . ia mengalami pendarahan hebat akibat seluruh lukanya. kyungsoo hanya berpesan jika matanya ingin ia donorkan kepada nara.
Hemophilia, itu juga yang menjadi alasan kenapa kyungsoo tidak pernah mau berkelahi dan alasan kyungsoo dan ibunya pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

nara masih berada di makam kyungsoo, ia tidak berhenti menangis sambil memeluk nisan kuburan kyungsoo. Kepergian kyungsoo yang seperti ini sangat melukai batinnya.

‘ jangan menangis lagi. Aku akan bahagia disisi tuhan jika kau kembali tersenyum, dan aku senang mataku bisa melengkapi kesempurnaan mu lagi. Selamat tinggal nara, aku menyayangimu’

…………………………………………

end
.
.
.

.
.
.
.
.

apa kabar receeeeehhh? maaf ya kalo ceritanya maksain dan banyak typo-nya T.T but please don’t forget to leave your comment

gomawo ^^

26 thoughts on “Little things

  1. wah g biasanya nc author bkin ff yg sad gni…
    but ok! tetep bagus spertiii biasa🙂
    lnjut terus berkarya ya…
    tetap smangattt😀

  2. Admin kenapa nyebelin banget!!!!! Aku sampe nangis baca ff buatan admin ceritanya dalemmmmmmm banget aku bener-bener sampe nangis bacanya ini bacanya neomu daebakkkkk buat yg lain ya min tentang D.O hahahaha good job😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s