Bingo! Team (Part 3)

Author: Mingi Kumiko

Cast:

  • Byun Baek Hyun
  • Han Yeon Sung
  • Kim Da Ran
  • Song Yoon Kyung
  • Park Na Chan

Genre: friendship, school life, romance, etc.

Rating: PG-15

Summary:

Han Yeon Sung, seorang anggota dari Bingo! Team. Sebuah kelompok pertemanan yang sangat menjaga solidaritas. Kelompok tersebut memiliki sebuah peraturan yang unik, yaitu dilarang berpacaran dengan mantan sesama anggota Bingo! Team.

Namun suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda tampan dan Yeonsung pun jatuh cinta. Tanpa ia tahu sebelumnya, pemuda itu adalah mantan dari salah satu anggota Bingo! Team.

Mampukah Yeon-sung menyembunyikan hubungannya dengan pemuda itu dari anggota Bingo! Team lainnya?

Part 1 | Part 2

bingo2

Hari ini, Yeonsung sama sekali tak terlihat. Baekhyun terus saja memandang nanar bangku di mana Yeonsung biasanya duduk, di pojok kanan kelas.

Masa hanya karena itu dia sampai nggak masuk, sudah sebenci itu kah denganku? Baekhyun terus menggumam cemas.

Bel istirahat berdentang, Baekhyun keluar kelas dengan langkah sempoyongan dan sama sekali tak bersemangat. Ia masih ingat betapa perihnya kemarin malam. Apabila kekasihnya itu tak dimaafkan oleh kedua sahabat karibnya. Serasa ia adalah penyebab semua kekacauan ini.

Ia menengok segala arah, entahlah apa tujuannya. Hanya ingin menghilangkan rasa bosan. Tak sengaja saat ia menoleh ke halaman sekolah, dilihatnya seorang gadis berdiri tegak di depan tiang bendera dengan posisi hormat.

Apa benar itu Yeonsung? Masa iya?! Baekhyun terus membatin dan ragu-ragu dengan penglihatannya. Ini bukan saatnya untuk ragu-ragu, dengan cepat Baekhyun menghampiri gadis yang ia sangka Yeonsung itu.

“Yeonsung-ah…” panggil Baekhyun dari belakang. Gadis yang merasa terpanggil itupun membalikkan badan. Benar, itu Yeonsung.

“Baekhyun…” balas yang dipanggil itu kelewat lirih, seakan ragu untuk membalas panggilan.

“Kau terlambat?” tanya Baekhyun.

“Seperti yang kaulihat.” jawab Yeonsung jutek.

“Kau tidak apa-apa, hari ini panas sekali, dan sejak tadi kau berdiri.”

“Aku tidak apa-apa. Cepat pergi!” usir Yeonsung dengan nada yang lagi-lagi membuat Baekhyun khawatir. Tak biasanya Yeonsung berbicara pelan, walaupun ia sebenarnya pendiam.

“Kauharus selesai hormat pada bendera ini. Nanti kaukelelahan!” cegah Baekhyun.

“Ini hukumanku. Lagian, aku sanggup, kok!” sanggah Yeonsung yang masih saja ngeyel.

“Kaumasih marah padaku?” tanya Baekhyun sambil menatap Yeonsung dengan pandangan memohon. Namun yang ditanyai hanya diam. Baekhyunpun merasa sangat sedih.

Yang bisa ia lakukan saat ini hanya menuruti perintah Yeonsung. Pergi dari hadapannya. Baekhyun berbalik dan mulai menjauh.

BRUGG!

Terdengar suara yang demikian itu saat Baekhyun berjalan, ia menoleh ke belakang. Dilihat lah Yeonsung yang sudah ambruk di depan tiang bendera. Dengan cepat semua murid yang melihat Yeonsung yang tengah pingsan itu mengerumuninya. Baekhyun berlari sekuat tenaga untuk segera menghampiri Yeonsung.

“Yeonsung-ah!” pekik Baekhyun karena khawatir.

“Biar aku yang bawa di ke UKS.” kata Baekhyun dan segera mengangkat tubuh Yeonsung ke punggungnya dengan bantuan beberapa teman Yeonsung.

Sesampainya di UKS, langsung lah Baekhyun rebahkan tubuh Yeonsung ke kasur. Ia biarkan Yeonsung beristirahat. Lamapun tak apa, asal ia tak akan sakit. Sambil menunggu Yeonsung bangun, ia duduk di sebelah kanan ranjang UKS.

Baekhyun pandangi dengan terus-menerus wajah kekasihnya yang tengah tertidur itu. Ia genggam erat-erat tangan Yeonsung dan ikut memejamkan mata. Baekhyunpun ikut tertidur.

Di sisi lain..

Pelajaran hari ini terlihat membosankan untuk Daran. Selain ia tak suka dengan gurunya, pikirannya juga tengah kalut karena peristiwa semalam. Ia sangat merasa bersalah pada Baekhyun dan Yeonsung. Tak sepatutnya ia memusuhi mereka.

Tapi pendapatnya berlawanan dengan sang kapten, Song Yoon Kyung. Ia tetap tak mau menerima Yeonsung. Entah apa yang telah membuat Yoonkyung mendadak berhati sekeras batu.

“Aku ingin keluar dari Bingo! Team.” kata Daran pada Yoonkyung spontan.

“Apa maksudmu?!” heran Yoonkyung atas ucapan Daran.

“Aku yang salah, aku juga sudah memberitahumu. Tapi kautetap tak mau menerima Yeonsung menjadi teman kita lagi. Aku tidak suka, aku tetap mau berteman dengan Yeonsung yang baik, daripada terus bersama kapten egois sepertimu.” papar Daran yang tak sanggup bersikap munafik.

“Jadi, sekarang kaumalah berpihak padanya dan mau meninggalkanku?”

“YOONKYUNG! DARAN! Berhenti di situ dan silahkan keluar dari pelajaranku!” bentak Goo sonsaengnim yang sangat marah akibat kegaduhan yang dibuat Yoonkyung dan Daran. Mereka berduapun keluar sesuai perintah Goo sonsaengnim dengan wajah yang tidak ikhlas.

“Ini gara-gara kau!” omel Yoonkyung pada Daran, namun tak digubris sama sekali olehnya. Keberadaan Yoonkyung benar-benar seperti angin baginya. Daran sudah malas beradu mulut dengan ‘Ratu Ego’ itu.

“Jadi sekarang ini maumu, berdiam-diaman denganku. Baik!” celoteh Yoonkyung.

“Ada apa denganmu, kenapa hanya karena masalah ini kausegitu bencinya dengan Yeonsung? Dia baik dan tidak menganggu. Kenapa kau tak bisa memaafkannya?

“Tentang peraturan Bingo! Team? Lupakanlah saja, anggap itu tidak pernah berlaku! Tidak semua hubungan berakhir disebabkan oleh lelaki yang menghianati wanita. Contohnya aku, aku yang bersalah hingga Baekhyun muak. Tolong paham, semua manusia pasti juga punya kesalahan. Tapi mereka juga pasti punya kesempatan untuk memperbaikinya!” jelas Daran dengan emosi yang meluap-luap untuk menyadarkan Yoonkyung.

Yoonkyung mendengar dan mencerna kalimat per kalimat yang dilontarkan Daran. Setelah itu, ia berdiri dan menghampiri Daran yang langsung duduk setelah mengutarakan semua ganjalan di hatinya.

Yoonkyung mengulurkan tangannya untuk digapai oleh Daran. Ia tersenyum, begitu juga dengan Daran. Ia memeluk Daran dengan erat.

“Kau sahabatku, Daran. Maafkan aku,” ucap Yoonkyung dengan air mata yang melinang di pipinya.

“Tidak apa-apa, Yoonkyung…”

***

Yeonsung tersadar dari pingsannya yang cukup lama. Perlahan-lahan ia membuka mata yang berat itu. Dirasakannya berat di tangan kanannya, iapun menoleh, dan betapa terkejutnya ia. Dilihatnya Baekhyun yang tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam tangannya erat. Perlahan-lahan ia berusaha melepaskan genggaman itu. Namun ternyata pergerakan itu disadari Baekhyun dan membuatnya bagun.

“Eh, kau sudah siuman, ya?” tanya Baekhyun dengan tersenyum.

“Iya.” jawab Yeonsung singkat dan tanpa menoleh pada Baekhyun.

“Apa kaumasih marah padaku? Yeonsung-ah, aku sudah bicara pada mereka, tapi….”

“Sudahlah, jangan bicara tentang hal itu!” sahut Yeonsung saat Baekhyun belum selesai bicara.

“Aku bahkan ingin menghapusmu dari memoriku,” kata Yeonsung dan tetap sama sekali tak menghadap pada Baekhyun.

Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang merengkuh lengan Yeonsung, ia merasa geli. Terbesit rasa curiga di benaknya, Yeonsungpun menoleh. Dan iapun terkejut, bagaimana tidak? Didapati Baekhyun yang kini tepat berbaring di kasur –yang sama dengannya– dengan posisi miring –menghadap pada tubuh Yeonsung–

Baekhyun tak perduli kalau-kalau nanti Yeonsung akan menendangnya hingga jatuh dari kasur, atau mungkin berteriak sekencang-kencangnya, kemudian semua murid menghajarnya sampai mampus karena dituduh telah melakukan pelecehan.

Deru nafas Baekhyun jelas bisa dirasakan oleh leher Yeonsung –ia merasakan geli–

“Aku merindukanmu,” bisik Baekhyun di telinga Yeonsung sambil mengeratkan rengkuhannya.

“Aku juga.” balas Yeonsung dengan suara yang pelan. Kemudian, dengan lembut Baekhyun membuat badan Yeonsung berputar sembilah puluh derajat menjadi mengarah menghadap persis di wajah Baekhyun.

“Boleh aku menciummu?” tanya Baekhyun. Namun tanpa mengangguk atau memberi tahu kalau menyetujuinya, Yeonsung yang duluan mendekatkan dan memiringkan wajahnya untuk mencium Baekhyun. Keduanya sama-sama melumat bibir yang mereka ciumi itu, hingga gigi mereka bergesekan, rasanya sama seperti ciuman pertama mereka.

Lepas beberapa detik setelah ciuman itu, Yeonsungpun melepaskannya, mengingat pasokan oksigennya tak mencukupi untuk melanjutkan ciuman tersebut.

“Itu ciuman terakhir dariku. Sepertinya, kita lebih baik tak usah bersama lagi.” kata Yeonsung, dan –tentu saja– membuat Baekhyun terkejut.

“Tapi kenapa?” tanya Baekhyun, matanyapun berkaca-kaca. Ia ingin menangis, namun air matanya tertahan.

“Teman baik dan kekasih, dua-duanya berharga untukku. Tapi, jika salah satu menyayangiku, namun satunya lagi membenciku karena aku lebih memberatsebelahkan pada satu pihak, lebih baik aku tak bersama keduanya.” ujar Yeonsung dengan linangan air mata yang memecah.

“Ba.. baik, kalau itu yang kaumau. Paksaan juga tidak akan berguna, ‘kan? Kita akhiri saja.”

“Terima kasih. Aku akan tetap menyayangimu,” ucap Yeonsung memeluk Baekhyun, walaupun mereka tetap dalam keadaan berbaring di tempat tidur.

***

Baekhyun mendaratkan tubuhnya di sofa empuk kamarnya. Ia sandarkan tubuhnya, menatap langit-langit dinding, menggembungkan pipinya dan menghembuskan nafas panjang. Ia meraih ponselnya, kemudian mengetik sebuah pesan untuk Daran dan Yoonkyung.

To:

Daran (xxxxxxxxxxx)
Yoonkyung (xxxxxxxxxxx)

Aku sudah putus dengan Yeonsung. Tolong berteman dengannya lagi. Terima kasih.

Begitulah pesan yang tertera saat ia mengetik, kemudian ia kirim pesan itu.

 Di sisi lain..

Tidur Daran terusik oleh suara handphone-nya yang berisik. Dibukanya pesan itu, ternyata dari Baekhyun.

From: Baekhyun (xxxxxxxxxxx)

Aku sudah putus dengan Yeonsung. Tolong berteman dengannya lagi. Terima kasih.

Matanya terbelalak membaca pesan itu. Di saat ia dan Yoonkyung sudah setuju untuk menghapus aturan bodoh yang sudah lama mereka buat, kenapa Yeonsung dan Baekhyun malah putus?

Mampus! Ini nggak boleh terjadi! rutuknya sambil bergegas menuju kamar mandi untuk menemui Yoonkyung. Membicarakan perihal pesan yang diterimanya barusan.

Seusai mandi, ia segera mencari baju untuk ia pakai ke rumah. Ribet sekali, kemana-mana harus tetap fashionable, walau saat sedang menghadapi situasi genting seperti ini.

 

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Siapa, kalau perempuan langsung masuk saja!” kata Daran sambil memasang kancing baju.

Dilihatlah Yoonkyung yang membuka pintu. “Yoonkyung, aku baru saja mau ke rumahmu.” kata Daran seraya memasang pita kupu-kupu di rambutnya.

“Halah, aku tahu dirimu. Walaupun sedang kritis, fashion adalah yang nomor satu.” cibir Yoonkyung. “Daripada kau, dalam situasi genting seperti ini masih sempat-sempatnya mencela kepribadian orang!” Daran menyanggah dengan cibiran yang tak kalah menggelitik.

“Maaf, maaf.. Aduh, ini sumpah aku bingung. Beneran itu Yeonsung dan Baekhyun putus?” bingung Yoonkyung. Terlihat jelas di raut wajahnya.

“Mangkannya, kita harus buat mereka balikan. Ini salah kita!” Daran berinisiatf.

“Iya, apa sekarang kita harus menemui Baekhyun untuk bicara masalah ini?”

“Ya, harus! Palliwa!” setelah ajakan Yoonkyung itu, ia dan Daran segera berlari menuju halaman depan. Mengambil mobil dan segera bergegas ke rumah Baekhyun.

Sesampainya di tempat tujuan, segeralah Daran mengetuk pintu rumah bercat jingga itu. Kemudian pintu itu terbuka, Baekhyun sendiri lah yang membuka pintu itu. Terlihat jelas kondisi Baekhyun yang sedikit berantakan; rambut yang sama sekali belum disisir, mata sayu, baju lungset, lesu pula.

“Astaga, Baekie..” gumam Daran.

“Kalian, ada apa? Aku sudah putus, lho. Sudah puas ‘kan?” ucap Baekhyun kemudian melempar tatapan sara.

“Bukan, bukan itu.. Tolong biarkan kami menjelaskan.” sergah Yoonkyung.

“Ya, cepat. Sebentar lagi aku mau mandi. Kalian datang jadi tidak jadi begini!”

“Maaf, maaf. Baekhyun, gara-gara kami kau jadi putus dengan Yeonsung. Kau masih cinta dengan Yeonsung  tidak, sih?” tanya Daran.

“YA CINTA BANGET LAH, MASIH TANYA!!!” pekik Baekhyun gak woles.

“Iya, iya.. Kami sudah hapus aturan bodoh itu. Kami akan biarkan kau berpacaran dengannya, dan kami juga akan berteman lagi.”

“TELAT!” balas Baekhyun yang lagi-lagi memekik.

“Tidak akan terlambat, kami yang akan bicara.”

“Sumpah ya?”

“Iya, kami sungguhan, kok.”

“Aku tunggu janji kalian. Kalau sudah beres telpon saja aku. Sekarang, mau menunggu aku selesai mandi atau pulang saja?”

“Kami mau pulang saja. Terima kasih atas waktunya.”

“Oke. Bye!” ucap Baekhyun kemudian menutup pintu dengan sedikit kasar.

WOLES, WOYY!” teriak Daran yang agak tidak terima karena Baekhyun menutup pintu keras-keras.

“Sabar.. sabar.. Maklum saja, pasti dia sudah ilfeel sama kita. Kita kan yang membuat dia putus dengan Yeonsung. Kau kan tahu sendiri betapa Baekhyun suka padanya.”

“Terus, masalah Yeonsung bagaimana?” tanya Daran. “Kalau itu… Besok pulang sekolah saja bagaimana? Kalau sekarang, seingatku dia ada les piano atau apalah itu.” jawab Yoonkyung. “Iya, sih. Ya sudah.”

***

Esoknya, Yeonsung pun masuk sekolah dengan normal. Tidak terlambat. Kepagian malah. Namun tetap, sikapnya pada Baekhyun tidak berubah, tak acuh seperti teman sekelas yang tak pernah berkenalan.

Yoonkyung dan Daran PHP, ih! Mana, Yeonsung tetap bersikap dingin begitu! geram Baekhyun –yang sedari tadi memandangi Yeonsung dari kejauhan– dalam hati.

Bel pulang berbunyi, tanpa melakukan sesuatu yang lain, Yeonsung pun langsung pulang dengan tangan yang ia cengkramkan pada tali tasnya. Baekhyun pun mengikutinya dari belakang.

Yeonsung semakin mempercepat langkahnya, ia sadar kalau Baekhyun mengikutinya dari belakang. Namun ia berusaha tak perduli dan enggan menoleh.

Namun ada waktunya ia tak kuat menahan rasa risihnya. Yeonsung berhenti kemudian berteriak, “BERHENTI MENGIKUTIKU!” Seketika Baekhyun tergagap-gagap mendengar bentakan kejam dari Yeonsung. Ia pun berhenti sesuai dengan perintah Yeonsung.

Setelah merasa Baekhyun telah berhenti mengikutinya, ia melanjutkan langkahnya. Namun mendadak ia berhenti kembali saat ia melihat dua gadis di hadapannya.

“Kalian…” gumamnya lirih.

“Ya, ini kami.” balas mereka. Yeonsung ingin berbalik, namun dilihatnya Baekhyun yang tetap berdiri tegak di belakangnya.

Dua pihak yang sedang gencar-gencarnya ia pikirkan,

Dua pihak yang telah membuat hatinya terluka,

Kini tengah mengapitnya,

Membuat dadanya makin sesak.

Seketika ia pusing, pandangannya mulai kabur, dan semuanya… gelap! Yeonsung pingsan.

“YEONSUNG-AH!” teriak Baekhyun yang terkejut karena Yeonsung pingsan mendadak.

“Apa yang terjadi dengannya, kenapa bisa begini?” tanya Yoonkyung yang panik.

“Cepat bawa dia untuk beristirahat!” pekik Daran yang tak kalah paniknya.

“Mau dibawa ke mana dia? Rumahku atau rumahnya masih jauh juga dari sini.”

“Ah, rumah bibiku saja. Di sana, nomor 20!”

“Bolehkah?”

“Tentu. Cepat, nanti dia kenapa-napa lagi.” dan setelah itu, Baekhyun langsung menyungging Yeonsung ke punggungnya.

Mereka pun sampai di rumah Nyonya Hong, bibinya Daran. Daran mengetuk pintu dengan sangat tak beraturan, tak ada halus-halusnya sama sekali. Pintu pun terbuka, dan Nyonya Hong sendiri yang membukanya.

“Daran, ada apa, kenapa tergopoh-gopoh seperti ini?” tanya bibinya Daran.

“Bibi, temanku pingsan. Pinjam kamarnya boleh ya? Aku khawatir sekali!” jelas Daran.

“O iya, boleh. Cepat bawa dia masuk!” Nyonya Hong mempersilahkan. Lantas, Baekhyun pun dengan cepat berlari masuk menuju kamar mana pun yang pertama kali ia lihat. Ia pun membaringkan tubuh Yeonsung di kasur yang diketahui kamar milik sepupu Daran.

Yoonkyung dan Daran pun ikut masuk, dan tetap tak melepas wajah khawatir mereka terhadap Yeonsung. Terlihat Baekhyun yang tengah membelai lembut pipi Yeonsung dengan jari telunjuknya.

“Dia pingsan itu kenapa? Masa belum makan?” tanya Yoonkyung.

“Setahuku, saat istirahat dia ke kantin, kok!” sahut Baekhyun.

“Mungkin karena dia banyak pikiran.” Daran berpendapat.

“Saat mengetahui aku berjalan mengikutinya, ia biasa saja, namun setelah kalian datang, kemudian ia berbalik dan melihatku. Aku sekilas menatap wajahnya sangat takut dan bingung. pucat pasi, pula!” terang Baekhyun.

“Ya, kita lah sumber rasa sakitnya. Kita telah jahat padanya.” ucap Daran.

“Maaf, ini semua salahku. Aku yang membuat dia begini karena aturan bodoh itu!”

“Sudahlah, kau salahkan dirimu di situasi seperti ini juga tidak akan membantu.” titah Baekhyun.

Yeonsung pingsan lama sekali, hingga membuat kawan-kawannya itu sedikit lelah untuk menunggunya siuman.

“Yeonsung, cepatlah siuman..” bisik Baekhyun lembut sambil menggerakkan lengan Yeonsung pelan. “Yeonsung, kalau kau siuman, kami janji, kita akan rukun seperti dulu.” timpal Yoonkyung. Namun tetap, Yeonsung tak kunjung bangun.

Sepuluh menit berlalu, kondisi dalam kamar masih tetap sunyi.

“Bolehkah aku menekan hidungnya, kalau dia tidak bisa bernapas kan pasti dia bangun,” ujar Baekhyun yang curiga Yeonsung pura-pura pingsan.

“Kau jangan aneh-aneh, kalau sudah waktunya, dia pasti bangun, kok!”

“Tapi kalau aku menekan hidungnya, ia akan lebih cepat bangun!”

“Ya… terserah saja sih, tapi kalau dia yang protes karena kesakitan, kau yang tanggung jawab kan pasti?”

“Tentu saja.”

Setelah perdebatan singkat itu, Baekhyun lantas menekan hidung Yeonsung kuat-kuat, menariknya ke atas, hingga tidak tersisa celah untuk Yeonsung bernafas. Terasa hidung Yeonsung melakukan pergerakan kecil, matanya berkedap-kedip. Kemudian batuk.

“Sudahlah, tidak usah berpura-pura lagi…” cibir Baekhyun. Mendengar omongan dengan nada pedas seperti itu dari Baekhyun, Yeonsung pun dengan ragu membuka matanya.

“Akhirnya kau bangun juga,” ucap Baekhyun sambil tersenyum.

“Ih, senyumanmu menyebalkan!” protes Yeonsung dengan raut wajah cemberut.

“Kau benar tadi pura-pura pingsan saja kan?” tanya Baekhyun.

“Tidak! Aku tadi beneran pingsan, kok. Tapi saat kau berlarian sambil menggendongku, aku tidak nyaman kemudian tak sengaja bangun. Aku malas saja memberitahumu.”

“Kau mulai nakal ya…”

“Ya, maafkan aku. Tak akan kuulangi lagi.” kata Yeonsung seperti asal-asalan berucap.

Yeonsung sama sekali tak menoleh, walaupun ia tahu benar kalau Daran dan Yoonkyung ada di sebelahnya. Ya, yang ada di otaknya, mereka berdua masih belum puas melampiaskan kebencian keduanya pada dirinya. Tapi bodohnya Yeonsung, ia tahu persis ini adalah rumah bibinya Daran, kalau Daran masih membencinya, mana mungkin ia mau perduli dengan Yeonsung yang tadi pingsan?

“Yeonsung-ah, mari kita berteman lagi! Kami sadar sudah salah.” kata Yoonkyung yang memecah keheningan ruang kamar sepupunya Daran ini.

“Benarkah? Bukannya kalian sudah membuangku seperti sampah?” balas Yeonsung.

“Maaf soal itu, aku yang bodoh di masa lalu, aku tidak pernah mau memaafkan kesalahan orang lain. Aku memang salah,” titah Yoonkyung yang terus menyesali perbuatannya.

Yeonsung tetap diam setelah Yoonkyung menyelesaikan ucapannya. Bisa dibilang, ia masih belum bisa mencerna kata per kata yang dilontarkan Yoonkyung. Melihat Yeonsung yang tetap saja diam, Baekhyun pun tak kuasa dan langsung meraih tangannya untuk digenggam.

“Dan kita akan tetap bisa berpacaran, sayang…” ucap Baekhyun kemudian tersenyum. Yeonsung menatap Baekhyun lekat-lekat, seketika ekspresinya berubah menjadi terharu. Matanya berkaca-kaca, kemudian ia memeluk Baekhyun dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di area dada Baekhyun sambil menangis. Ia sama sekali tak bicara. Menangis, hanya itu yang ingin ia lakukan sekarang.

Baekhyun mengelus pundaknya pelan, mungkin saja dengan hal itu, Yeonsung bisa merasa tenang.

“Aku merasa ini terlalu kejam, kenapa aku harus sesedih ini?” rutuknya dalam pelukan Baekhyun.

“Yeonsung….” gumam Yoonkyung dan Daran kemudian mendekat dan mendekap Yeonsung dari belakang.

“Kau mau kan berteman lagi dengan kami?” tanya Daran. Reaksinya singkat, Yeonsung mengangguk.

– END –

22 thoughts on “Bingo! Team (Part 3)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s