If Tomorrow…

kai if tomorrow

 

 

:: IF TOMORROW… ::

 

 

 

AUTHOR : shineshen (@shineshen97)

 

INSPIRATOR STORY : dzaakiy (she’s my bestfriend since JHS ^^)

 

 

CAST :

A Girl (you can imagine as yourself ^^)

-Kim Jongin as Kai (EXO-K)

 

OTHER CAST : Maybe any cameo ^^

 

GENRE : Fantasy, Romance, Tragedy, Friendship

 

RATED : PG-15

 

LENGTH : Oneshot with random plot (5.896 words.. Long story, isn’t it?)

 

DISCLAIMER :

Seperti yang sudah author ketik diatas, ide ff ini sepenuhnya milik @dzaakiy ^^ Author selaku yang kepo sama kelanjutan cerita ini, memutuskan buat bikin first quotes sama storyline-nya ^^

 

Oiya ada tambahan nih. Buat yang merasa pernah komen di ff author tapi belum baca balesannya, author minta maaf buat keterlambatan balesnya. Jujur kemaren author sedang hiatus panjang, jadi lama gak buka WP.

Tapi author usahain akan selalu balas komentar itu kok 😉

Meskipun terlambat, but it’s better than I don’t reply it, right? 😉

Terimakasih pengertiannya 🙂

 

 

Disini, semua pake POV-nya A Girl ^^

Okeh? ^^

 

 

 

***

Bila esok aku sudah tak mampu memegang janjiku untuk mengingatmu, kuharap kau masih memegang janjimu. Ingatlah aku seumur hidupmu, Kai.

 

***

 

 

 

 

The story will be begins…

 

 

Pagi masih belum sempurna saat aku membuka mata. Rasa pening yang aneh masih terus menyerang kepalaku tanpa ampun. Beberapa kalipun aku terpaksa mengerjapkan mata, saat mata ini begitu banyak melihat bintang-bintang maya mengaburkan pandanganku.

 

 

 

“Sudah, jangan raba terus perbanmu.” Protes namja itu sambil duduk di hadapanku, membuat gerakanku yang sedang meraba benda asing yang melingkari kepalaku ini terhenti. Aku menatapnya aneh.

“Kenapa?”

“Tanganmu tidak higienis. Nanti lukamu tidak sembuh-sembuh.”

 

Oh, ayolah. Kutahu namja ini sedang berusaha melucu. Namun anehnya aku hanya terdiam linglung menatapnya. Membuat ia akhirnya tersadar jika leluconnya itu sama sekali tidak lucu.

Tidak seperti biasanya.

Oke, aku merasa aneh semenjak kecelakaan itu menimpaku.

 

Tidak lucu, ya…?

 

“Apa?” ulangku.

Namja di hadapanku tersentak dari posisinya yang semula menunduk. Kini ia menatapku terperangah.

“Apa?” tanyanya balik.

Aku mengerutkan keningku bingung. “Bukankah tadi kau berbisik sesuatu. Aku mendengarmu, tapi kurang jelas. Bisa kau ulangi?”

 

Namja itu balik mengerutkan kening. “Aku? Aku tidak berkata apapun padamu,”

Aku membulatkan mata. “Tapi tadi aku…”

“Sudahlah lupakan saja. Mungkin kau salah dengar.” Ucapnya sambil tersenyum samar padaku sebelum mulai menyeruput minuman pesanannya.

Aku hanya bisa terdiam dan menyimpan protes itu dalam hati. Bertanya-tanya dengan bingung mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

 

Bukankah tadi aku mendengar suara itu dengan jelas?

 

Sejak tadi aku menelusuri jalanan ini dengan pandangan tertunduk. Menatap ujung sepatuku yang terus saja menendang kerikil kecil yang berserakan sepanjang jalan. Aku dalam perjalanan pulang sekarang, namun rasanya sama sekali tak seperti yang aku harapkan saat pelajaran Fisika tadi.

 

 

“Ayolah, kau jahat sekali. Masa kau tega membiarkan aku pulang sendiri?”

 

“Tapi aku ada latihan basket hari ini.”

 

“Kai-ya… Kau tega sekali padaku…”

 

“Yak, uljima!”

 

“Siapa yang menangis? Aku tidak menangis. Aku hanya sebal padamu.”

 

 

Bayangan kejadian sebelum pulang tadi masih terus kuingat dengan jelas. Saat aku meminta Kai pulang bersama, namun ia menolak dengan alasan ingin latihan basket. Dan jujur, hal itulah yang membuatku murung sekarang. Entah sejak kapan, aku merasa tak terbiasa jika pulang tanpa Kai. Mendengar ocehannya sepanjang jalan, setidaknya itu lebih menghibur daripada hanya berteman angin seperti ini.

 

Langkahku tiba-tiba terhenti. Bukan tanpa sebab. Perlahan rasa sakit yang paling kubenci itu muncul kembali. Aku memegang kepalaku erat, mencoba menepis rasa sakit itu, namun yang ada rasa sakit itu malah semakin besar. Tanpa sadar airmataku meleleh. Ingin rasanya aku menjerit namun tak ada suara yang bisa keluar dari pita suaraku sekarang.

Sakit kepalaku kali ini jauh lebih kuat dari yang aku rasakan sebelumnya. Rasanya ada suatu rasa sakit asing yang menyerang kepalaku secara ganda. Aku tak tahu kenapa bisa begitu. Mungkinkah ada kesalahan dengan kepalaku selepas kecelakaan itu?

 

Aku merasakan tubuhku terhuyung jatuh diatas debu. Tanganku masih memegang kepalaku erat. Airmata semakin deras mengaliri wajahku. Selalu begini jika aku tak bisa menahan sebuah rasa sakit.

Sejujurnya aku membenci semua kelemahan ini, semua yang menyebabkan aku terlalu mudah untuk meneteskan airmata. Namun tak ada yang bisa kulakukan selain menikmatinya dengan tangisan tanpa suara.

 

Tanpa kutahu apa itu, kudengar suara riuh berdengung memenuhi telingaku. Aku mencoba mengerjapkan mata dan melihat sekitarku. Merasa aneh dan ketakutan saat kulihat tak ada siapapun di sekitarku saat ini. Semuanya semakin terasa aneh. Aku mencoba berpikir lebih jauh lagi, namun aku tak bisa. Saat kurasakan ada cairan yang mengalir di kedua lubang hidungku, aku tak mengingat lagi apa yang terjadi.

 

 

Aku terbius oleh rasa sakit itu, dan kini aku juga terbangun oleh rasa sakit itu. Rasa sakit itu benar-benar membuatku muak. Kecelakaan itu sudah cukup lama berlalu, namun entah kenapa masih saja meninggalkan rasa sakit yang menyiksa di kepalaku.

 

Hal yang pertama kali kulihat adalah suasana kamarku yang nyaman. Beberapa lama saat kemudian aku baru tersadar dan terbangun kaget, mengapa aku sudah berada dalam ruangan ini. Dengan pakaian yang sudah berganti pula.

 

Ceklek!

 

Aku otomatis menoleh ke arah pintu kamarku yang baru saja terbuka. Kulihat Kai berdiri disana dengan raut terkejutnya saat melihatku. Oh ya, dan jangan lupa. Aku juga melihat ada perban yang membungkus hidungnya.

Aku hampir tertawa melihat Kai ada dalam keadaan seperti itu.

Oh, baiklah, aku teman yang jahat.

 

“Kai, hidungmu kenapa?” tanyaku padanya, mencoba basa-basi menyembunyikan tawaku dalam bentuk seulas senyum yang bercampur dengan ekspresi kaget.

“Kau ini jauh lebih sakit dariku. Kenapa malah kau yang menanyakan keadaanku?” balas Kai berlebihan sambil menghampiriku. “Maaf, aku tak menemanimu pulang sore itu. Eomma-mu bilang, kau datang dalam kondisi setengah sadar. Bahkan setelah kau sampai depan rumah, kau langsung jatuh pingsan,”

 

Keningku berkerut setelah mendengar penjelasannya. “Apa? Aku pingsan di depan rumah?”

Kai mengangguk. “Ne. Bajumu kotor sekali, dan kau mimisan.”

 

Aku merasa semakin aneh dengan diriku sendiri. Apa yang terjadi padaku? Bukankah seingatku, aku pingsan di tengah jalan? Kenapa aku bisa pulang sendiri ke rumah?

 

“Kau mimisan. Hehe, kau sama denganku.” Ujarnya memecah lamunanku. Aku langsung menatapnya saat ia tepat sekali sedang menunjuk hidungnya yang dibalut perban.

“Hidungmu kenapa?” tanyaku lagi.

“Kemarin…” Kai cemberut saat akan mengatakan alasan dibalik hidung berbalut perbannya itu. “Aigoo, tapi berjanjilah kau tidak akan menertawakanku.”

“Ne. Aku berjanji.” Ucapku patuh sambil sedikit memutar mataku.

“Arasseo,” sahutnya. “Uhm, jadi… Kemarin saat berlatih basket… Hidungku terkena bola basket. Lalu aku mimisan, dan aku juga sempat pingsan sampai-sampai harus dibawa ke klinik sekolah…”

Aku membulatkan mataku. Mencoba menepati janji agar tidak tertawa. Aku juga membulatkan mulutku agar ia tidak curiga jika aku sungguh ingin tertawa mendengar cerita polosnya itu.

 

“Aigoo…” ucapku sambil tetap mempertahankan ekspresi terkejutku. “Kai, kupikir kau itu jago bermain basket…”

“Yak!” Kai memelototiku. Aku tak tahan lagi menahan tawa melihat reaksinya yang seperti itu.

“Kenapa kau tertawa? Kau pikir ini lucu?” protesnya sambil menuding kembali hidungnya. Aku menggelengkan kepala sambil terus mencoba menghentikan tawaku.

“Aniya… Lalu bagaimana reaksi teman-temanmu?” tanyaku di sela tawa.

Kai kembali cemberut. “Mereka semua langsung mengerubungiku. Suara mereka berdengung di telingaku. Kepalaku yang sakit bertambah sakit saat mendengar mereka. Aigoo, kejadian yang buruk.”

 

Aku tertegun sesaat setelah mendengar penjelasan Kai. Tawaku yang berhenti seketika pun membuat Kai menatapku aneh.

Suara riuh?

Apakah itu sama dengan apa yang kudengar?

 

“Apa? Kau serius?” Tanya Kai, entah sudah yang keberapa kalinya kini, setelah aku menjelaskan panjang lebar tentang apa yang aku alami saat pulang sekolah tempo hari. Saat aku mimisan dan pingsan di tengah jalan. Setidaknya itulah hal terakhir yang kuingat.

 

Aku mengangguk yakin.

 

Tapi Kai justru menggeleng. “Tidak, itu hanya perasaanmu saja.”

 

“Tidak, Kai. Aku benar-benar tak melihat siapapun disana. Tapi suara-suara itu begitu jelas di telingaku. Aku merasa seperti bisa merasakan apa yang kau rasakan, Kai…”

 

Oke, kurasa pikiranku mulai tak stabil sekarang.

 

“Oh, sudahlah… Aku tak tahu mengapa semenjak kecelakaan itu, kau menjadi aneh.” Sahutnya sambil beranjak pergi meninggalkanku.

Untuk sesaat aku kembali hanya berani menatap sepatuku. Aku tak berani menatapnya. Karena aku tahu dia sedang menganggapku aneh sekarang.

Karena aku bisa merasakannya.

 

Aku tak menjawab kata-kata Kai. Aku sedih mendengar semua kata-kata yang keluar dari bibirnya saat ini.

 

Ayolah, lihat aku. Aku ingin kau melihat mataku saat kau berbicara denganku. Aku serius kali ini.

 

Kudengar lagi suara itu, walau samar, tapi kutahu itu suara Kai.

Suara yang hanya ia ucapkan dalam hatinya, namun entah kenapa aku bisa mendengarnya layaknya ia sedang berbicara padaku.

 

Aku menuruti apa yang ia katakan dalam hatinya untukku. Perlahan aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Membalas tatapannya yang tak lagi sama dengan saat ia pertama kali menyambut kedatanganku di tempat ini.

 

“Maafkan aku.” Sahutnya pelan. Aku mengerutkan kening mendengar apa yang malah ia katakan saat aku menatapnya.

“Maaf?”

“Maaf karena aku sudah menganggapmu aneh. Kita masih bersahabat, kan?” sahut Kai sambil tersenyum tipis.

Aku membalas senyumnya tipis juga. “Tentu saja. Kita sudah bersahabat semenjak aku dilahirkan lebih lambat sehari dibandingkan kau.”

Ia melempar senyumnya lagi padaku. Ia dengan cepat berbalik dan melangkah meninggalkanku, bahkan sebelum aku sempat membalas senyum keduanya itu. Aku hanya bisa tersenyum disaksikan oleh punggungnya yang berjalan menjauh.

Membuatku tersenyum pada udara kosong.

 

“Nanti kau pulang sendiri dulu, ne?” sahut Kai saat pelajaran Sejarah baru saja berakhir. Ia langsung berjalan menuju kursiku, mengatakan itu, lalu mengacak-acak poniku sambil tertawa jahil.

Oh, perbanku sudah dilepas semenjak 5 hari yang lalu. Jadi dia sudah bebas mengacak-acak rambutku lagi sekarang.

Aku mendengus setelah ia pergi dari mejaku. Meniup poniku yang berantakan dengan asal, lalu melanjutkan merapikan mejaku yang tadi sempat tertunda akibat kedatangan Kai.

 

“Memangnya kau mau kemana?” aku bertanya padanya dari mejaku, sedikit berteriak supaya ia bisa mendengar suaraku dari mejanya.

“Apa?” ulangnya. Oh, ini tidak akan berhasil.

 

“Kau mau latihan basket lagi hari ini? Memangnya hidungmu sudah sembuh?” tanyaku dengan sedikit unsur meledek di ujung kalimat.

“Yak!” balasnya. “Aniya. Aku ada urusan dengan seorang teman. Kalau kau menungguku, kau akan terlambat pulang.”

Aku mengangguk tanda mengerti.

 

Usai berbicara dengannya, aku tak langsung membalikkan posisi dudukku semula. Aku masih memandangnya sedikit, memandangnya yang kini sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa menyadari jika aku sedang memperhatikannya.

Aku mencoba mencari jawaban yang ia sembunyikan dariku dalam hatinya. Aku mencoba membacanya, namun aku tak berhasil. Penglihatanku terhadap dirinya masih kosong. Aku yakin sebenarnya aku bisa melihatnya, tapi sepertinya bukan ini waktunya.

 

Dan seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku mempunyai bakat kini.

Bakat yang entah kenapa hanya bisa kurasakan pada Kai.

Membaca hatinya, dan tahu tentang apa yang ia alami walau pada nyatanya ia tidak sedang bersamaku.

Karena aku bisa merasakannya.

 

Karena sixthsense ini hanya berlaku pada Kai.

 

Sudah hampir setengah jam aku menunggu bus di halte ini. Namun sialnya sejak tadi tak ada satu kendaraan umum pun yang melewati jalan ini. Sialnya lagi aku hanya sendirian di halte ini. Tadi memang aku pulang seperempat jam lebih lambat dibanding jam pulang anak-anak lain karena kewajiban piket kebersihan di kelas. Tapi tak kusangka, aku juga merasa aneh, mengapa perbedaan waktu sesingkat itu bisa berdampak sebesar ini. Hanya sosokku lah yang duduk menunggu bus di tempat ini.

 

Aku mengeluh bosan, lalu tiba-tiba teringat sebuah novel yang baru saja aku pinjam dari salah satu teman sekelasku hari ini. Aku membuka tasku untuk mengambil novel itu, saat tanganku malah menemukan sebuah benda asing di dalam tasku.

Tanganku malah tergerak mengeluarkan benda itu, lalu terkesiap saat melihat i-Pod milik Kai ada ditanganku sekarang. Ingatanku memutar secara otomatis, dan akhirnya menemukan jawaban saat aku ingat aku lupa mengembalikan benda itu pada Kai saat istirahat tadi.

Tak menunggu waktu lama, aku membiarkan kakiku membawa langkahku kembali ke sekolah. Sejenak aku terhenti ragu di gerbang, memandang suasana sekolah yang sudah tampak sangat sepi sekarang. Hari ini memang tak ada jadwal evening class ataupun jadwal ekstrakurikuler. Semua murid langsung buru-buru pulang saat bel berbunyi tadi.

Lagi-lagi aku memandang ragu. Bahkan penjaga sekolah pun tak kulihat di pos jaga.

 

Entah mendapat dorongan dari mana, aku tahu-tahu sudah melangkah melewati gerbang. Berjalan masuk ke pekarangan sekolah, lurus terus melewati lobi koridor, sampai tiba di lapangan utama. Kepalaku menoleh melihat keadaan sekitar, mencoba mencari sosok Kai. Lagi-lagi instingku bekerja. Walaupun aku tak tahu Kai dimana sekarang, aku pun belum menemukannya, tapi instingku mengatakan Kai masih ada di sekolah ini. Instingku menyuruhku melangkah sesuka hati. Membawa naluriku bekerja.

Jadi aku membiarkan itu sekarang. Langkahku secara otomatis terbawa menuju taman yang ada disisi selatan lapangan utama ini. Anehnya, semakin lama aku melangkah aku merasakan ada sesuatu perasaan aneh yang semakin menyesakkanku.

 

Hatiku membisikkan nama Kai berulang-ulang. Namun langkahku tetap berjalan.

 

 

Instingku bekerja lagi. Kali ini ia memintaku untuk menoleh ke arah kiri. Aku mengikutinya, lagi-lagi tanpa curiga. Dan saat itulah hatiku serasa pecah saat melihat objek yang berjarak 100 meter dariku.

 

Aku melihat Kai.

Tidak, dia tidak sendiri.

Dia bersama seorang gadis.

Barambut panjang.

Gadis dengan fisik sempurna. Salah satu yang paling diinginkan oleh para murid namja yang ada di sekolah ini.

Mungkin termasuk Kai.

 

Aku tahu dari mana?

Bukan, aku tak bisa membaca perasaan Kai saat ini. Sungguh tabirku tertutup gelap saat melihat Kai ada bersama gadis itu.

 

Aku tahu itu karena…

Karena aku melihat Kai sedang mencium gadis itu disana.

 

Hatiku serasa terbakar melihatnya.

Kai pasti menginginkan gadis itu.

Dia memang tak pernah bercerita apa-apa padaku soal gadis itu. Bahkan sejak kecil pun, ia tak pernah memberitahuku jika ada satu orang gadis yang ia suka. Selama ini ia hanya memberikan pandangan padaku bahwa satu-satunya gadis yang ia izinkan berada dekat dengannya adalah diriku. Hanya diriku. Membuat aku pun memandang bahwa Kai adalah satu-satunya namja yang bisa dekat denganku.

Aku juga tak tahu pasti kapan perasaan ingin memiliki secara sepihak itu mulai tumbuh. Aku tak pernah merasakannya dengan pasti. Ironisnya kini rasa sakit itu benar-benar terasa. Menusuk dan sesak sampai ke jantung.

 

Langkahku membeku. Lidahku kelu. Aku tak tahu harus berbuat apa saat melihat Kai dan gadis itu. Tidak, mereka pasti sudah berpacaran lama. Dan itu Kai lakukan di belakangku, karena aku sendiri pun tak pernah curiga jika Kai sudah memiliki pacar.

Kalau aku tahu, aku pasti sudah hancur sebelum hari ini.

 

Aku mencintaimu, Soojeon.

 

Langkahku sudah bersiap berbalik saat kudengar bisikan itu lagi. Suara Kai. Aku sangat mengenal suaranya. Hatiku sakit. Aku tak kuat lagi untuk menahan airmata. Sakit ini bahkan terasa jauh lebih sakit daripada sakit kepala yang memuakkan itu.

Aku menangis dalam diam. Suara Kai terngiang terus dalam kepalaku. Pengakuan bahwa ia  mencintai Soojeon. Semakin mengingatnya, hatiku semakin sakit. Aku menekan dadaku dengan airmata yang terus mengalir. Kupercepat langkahku menuju gerbang. Mencoba berlari, berusaha sekuat yang aku bisa. Aku ingin cepat sampai ke rumah sekarang. Aku ingin menangis di bawah bantal, caraku menangis jika aku merasa sakit.

 

Aku tahu mengapa hatiku sakit.

Karena aku mencintai Kai.

Lebih dari perasaan seorang sahabat yang seharusnya.

 

Hari selanjutnya, aku tak masuk sekolah selama 2 hari atas alasan sakit. Eomma mengizinkan karena memang melihat keadaanku yang seperti orang sakit. Siapapun yang bisa melihatku sekarang pasti juga menganggap aku sedang sakit. Wajahku selalu pucat dan murung di setiap detik.

 

Aku masuk sekolah kembali di hari Kamis. Hari yang sebelumnya menjadi hari kesukaanku. Aku masuk kelas dan melewati meja Kai. Kai menyapaku seperti biasa, namun aku tak membalasnya. Ia menunjukkan wajah cemas saat menyadari seberapa pucat dan murungnya wajahku. Ia menghampiriku dan bertanya banyak padaku. Biasanya aku tak tahan untuk menjawab semua pertanyaan berantainya itu. Namun entah kenapa rasanya mulutku masih terkunci semenjak kejadian itu. Terlebih pada Kai.

Aku hanya melirik Kai sebentar lalu melanjutkannya dengan menelungkupkan wajah diatas meja. Kai merasa semakin cemas padaku. Aku bisa mendengar suara hatinya. Sebenarnya aku tak tega. Hampir saja aku menjawabnya, saat bayangan kejadian tempo hari kembali melintas di kepalaku. Ingatan saat aku melihat Kai mencium Soojeon. Hatiku sakit lagi, dan berakhir dengan perasaan benci yang aku rasakan pada Kai. Membuat niat baikku untuk membalas kecemasan Kai luntur seketika.

 

Bel masuk berbunyi, dan Kai belum mendapatkan respon apapun dariku. Ia berjalan sedih ke mejanya, sedangkan aku hanya bisa mengintip dari celah lenganku yang sedang menekuk. Hatiku ikut bersedih melihat ia murung selepas dari mejaku. Tapi hatiku kembali kecewa saat kembali mengingat kesalahannya.

Aku tak suka Kai menyembunyikan kenyataan dariku bahwa sebenarnya ia sudah berpacaran dengan Soojeon. Walau aku tahu, kenyataannya aku pasti sakit hati juga andaikan ia bilang jujur padaku. Tapi setidaknya, itu tak membuatku merasa dikhianati dari belakang. Diberi harapan palsu selama ini. Akankah Kai tak sadar jika selama ini aku menyukainya? Walau terkadang ia menyebalkan?

 

Sepanjang jam pelajaran aku terus menelungkupkan wajah diatas meja. Guru yang mengajar beberapa kali bertanya tentang keadaanku, begitupun dengan beberapa teman yang berinisiatif mengajakku ke klinik sekolah. Semuanya aku jawab tanpa kata-kata. Aku hanya menggelengkan kepala pada mereka.

Kurasakan Kai juga berkali-kali mencuri pandang cemas padaku. Terlebih lagi ia tahu jika pasti ada sesuatu yang membuatku marah padanya seperti ini. Namun sayangnya sejak tadi ia tak menemukan jawabannya.

Kutahu juga gara-gara aku, Kai menjadi tak fokus juga dengan pelajaran hari ini.

 

Pulang sekolah, eomma menjemputku dengan mobil appa. Aku hanya menunduk saat eomma sempat berbincang sebentar dengan Kai. Kai berbincang riang dengan eomma, seakan-akan hubunganku dengannya baik-baik saja hari ini. Kai menyembunyikan kenyataan bahwa aku sama sekali tak mengucapkan kata padanya seharian ini. Bahkan saat aku akan beranjak pergi, Kai sempat mengacak rambutku seperti biasa sambil berpesan agar aku cepat sembuh.

 

Aku merindukan suaramu, Park Minchan…

 

Aku terkesiap dalam hati saat mendengar Kai berbicara dalam hatinya untukku. Namun lagi-lagi ego-ku mengalahkan keinginan baikku untuk membalas sikap Kai. Aku hanya terdiam dengan pandangan tertunduk sampai aku benar-benar pergi.

Dan aku tahu saat Kai memandangku dengan sedih sampai aku menghilang dari pandangannya.

 

Sudah lebih dari 2 bulan ini aku dan Kai saling diam, seakan-akan kami tak pernah saling mengenal. Kami masih sering bertemu tatap secara tak sengaja. Dan aku selalu bisa menangkap cara pandangnya yang berbeda saat ia memandang mataku. Aku tak tahu itu apa. Entah mengapa akhir-akhir ini aku seakan semakin jauh dari kekuatan sixthsense-ku, semakin aku jauh dari Kai.

Banyak juga teman-teman yang mempertanyakan mengapa kami tak pernah terlihat bersama-sama lagi. Namun semuanya kujawab dengan gelengan dan senyum, siapapun pasti tahu jika itu adalah isyarat bahwa aku ingin menyembunyikan masalahku dengan Kai. Sedangkan aku juga tahu, mereka tak mungkin mau bertanya pada Kai.

Ada alasan lain dibalik itu semua. Aku adalah orang yang ada di belakang Kai sekarang, jadi aku bisa tahu apa yang teman lain bicarakan di belakang Kai. Semua teman kami protes soal Soojeon, gadis yang selalu dekat –dan semakin dekat— dengan Kai setiap harinya. Terlebih semenjak aku tak pernah bersama-sama Kai lagi.

Banyak yang lebih setuju jika Kai bersamaku. Soojeon gadis yang dianggap menyebalkan bagi sebagian besar murid perempuan.

 

 

“Kai, aku harus bicara sesuatu padamu.”

 

Siang itu kulihat Kai sedang bermain basket sendirian di tengah lapangan. Tak ada siapapun yang menemaninya, termasuk Soojeon.

Kai menoleh padaku dengan pandangan tertegun, sepertinya nyaris tak percaya jika pada akhirnya aku mau juga berbicara lagi dengannya.

 

“Kukira kau…”

 

“Ini penting, Kai-ya.” Ulangku. Aku maju beberapa langkah mendekatinya, dan ia masih saja memandangku tak percaya.

 

Aku menghela napas sejenak.

“Kai-ya. Kau masih ingat soal sixthsense yang pernah kuceritakan padamu?”

 

Kai memandangku. Mengangguk ragu.

“Apa… Sikapmu kemarin ada hubungannya dengan…”

 

“Jawabannya adalah iya.” Potongku. Kai terhenyak.

 

“Tapi kenapa…”

 

“Bukan itu masalahnya sekarang.” Sahutku. “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu tentang kekasihmu… Kwon Soojeon.”

 

Kai terkesiap.

“Kau… Tahu…”

 

“Kau ceroboh menyembunyikan rahasia itu dariku, Kai-ya.” Sahutku sambil tersenyum palsu. “Lagipula sekarang siapa yang tak tahu jika Soojeon adalah kekasihmu? Semua orang yang bisa melihat pasti tahu itu. Cara kau dekat dengannya… Berbeda dengan cara… Kau dekat denganku… Dulu.”

 

Kai mematung saat aku menyuarakan kalimat itu secara terputus-putus. Aku tersenyum sedih.

“Lupakan.” Sahutku sambil tersenyum padanya. “Bukan itu tema kita sekarang. Ada hal yang jauh lebih penting untuk kuberitahu padamu,”

 

“Apa?” tanyanya.

 

“Untuk minggu ini, aku minta kau menjaga Soojeon. Jangan pernah membiarkan ia pergi ke daerah Hongdae untuk minggu ini… Karena jika kau membiarkannya…” aku memutus kalimatku sejenak, menghela napas lagi.

“Karena jika kau membiarkannya, ia akan… Mengalami kecelakaan.” Sahutku. “Dan dia… Dia tidak bisa tertolong…”

 

“Cukup, Park Minchan.” Sahut Kai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah tadi ia sudah terdiam cukup lama. “Hentikan imajinasimu yang aneh-aneh itu. Kau…”

“Kau masih menganggapku aneh? Kau masih pikir aku mengada-ada?” tanyaku serak. Kai menatapku yang sudah hampir menangis.

“Sampai kapan kau tidak percaya pada kata-kataku? Sampai kapan, eoh? Kau…”

 

“Aku mengenalmu sejak kecil, Minchan-ah…” potong Kai. “Dan sejak kecil kau belum pernah bertingkah seaneh ini. Aku percaya jika kau anak normal, sama sepertiku. Tapi entah mengapa setelah kecelakaan itu… Kau…”

“Berubah menjadi aneh?” potongku balik. Menghapus kasar airmata yang menggenang di pelupuk mataku.

“Ne! Kuakui aku memang banyak merasakan hal aneh semenjak aku mengalami kecelakaan itu. Mungkin kau sudah jenuh mendengarnya, tapi aku benar-benar merasakan sixthsense itu ada pada diriku sekarang.”

 

“Anehnya adalah, kau hanya memiliki sixthsense itu untuk hal yang berkaitan denganku. Benar, kan?” sahut Kai datar.

 

Aku memandang Kai dengan nanar. Aku yakin wajahku sudah memerah sekarang.

“Jadi kau mau menunggu takdir, huh? Arasseo, tunggulah takdir itu! Tapi ingat, jangan pernah menyesal nanti. Jangan pernah bilang bahwa aku belum memperingatkanmu.”

 

Aku menghapus sekali lagi airmata yang kali ini sudah meleleh melewati pipiku. Kai hanya bisa memandangiku, sampai aku berbalik dan benar-benar pergi dari hadapannya.

 

 

Semenjak itu pula aku tak pernah lagi berbicara dengan Kai. Bahkan kali ini lebih parah daripada sebelumnya. Bukan saja aku yang mendiamkan Kai, tapi Kai juga mendiamkanku. Ia selalu mengalihkan wajahnya saat matanya tak sengaja bertemu sesaat dengan mataku. Begitupula denganku. Sikap Kai yang seperti itu lama-lama membuatku gerah juga.

Walau sebenarnya aku sedih.

Aku sakit Kai memperlakukanku seperti itu. Layaknya ia melupakan semua kenangan kami yang tumbuh bersama sepanjang usia kami.

 

 

Sore ini aku melangkahkan kaki ringan menuju rumah Soojeon yang memang hanya terletak beberapa blok dari rumahku. Sebelum masuk ke pakarangan rumahnya, sejenak aku terdiam memandangi rumahnya.

Seorang ahjumma membukakan pintu setelah aku memencet bel beberapa kali sebelumnya. Aku membungkuk hormat dan tersenyum ramah, kutahu ia adalah eomma Soojeon.

 

“Jeogiyo, ahjumma. Soojeon ada di rumah?” tanyaku sopan.

“Jeoseonghamnida. Soojeon sedang ada keperluan dengan eonni-nya. Nona ini siapa? Ada pesan saja?” balas ahjumma itu. Aku tersenyum walau berusaha menyembunyikan sebersit firasat kuat yang membuat keningku sedikit berkerut.

“Jeoseonghamnida, ahjumma. Kalau boleh tahu, Soojeon sedang pergi kemana?” tanyaku lagi, memastikan bahwa firasatku salah.

“Soojeon dan eonni-nya sedang pergi ke Hongdae.” Jawaban ahjumma itu membuat hatiku mencelos seketika.

Aku tertegun di depan eomma Soojeon itu, membuatnya sedikit khawatir dengan reaksiku.

“Memangnya ada apa, Nona?” Tanya eomma Soojeon dengan raut khawatir.

Aku menggeleng sambil mencoba tersenyum. “Ah, aniyo. Kalau begitu saya permisi dulu. Kamsahamnida.”

 

Selesai dari rumah Soojeon saku mencoba berpikikir keras dimana keberadaan Kai. Aku tak tahu dan entah mengapa tak bisa menebak dimana dia berada sekarang. Kepalaku sampai sakit karena memaksakan instingku bekerja.

Langkahku terhenti saat kepalaku sakit lagi. Aku pusing. Aku memegangi kepalaku sambil menundukkannya sejenak, saat tiba-tiba aku menapat seberkas firasat yang seakan menunjukkan padaku dimana Kai berada sekarang.

Kutegakkan kepalaku lagi dan aku mencoba mengingat jalan menuju tempat itu. Perlahan langkahku yang sedikit tergesa ini menemukan tujannya. Aku kenal tempat ini sebelumnya. Kai pernah membawaku kesini. Hanya untuk membuang-buang waktu berhargaku demi menontonnya bermain basket bersama beberapa teman di team basket sekolah.

 

Rasanya aku ingin tersenyum kecil sangat mengingat semua itu lagi. Betapa aku merindukan saat-saat itu. Kai tak pernah tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.

Langkahku semakin cepat saat suara anak laki-laki mulai bisa kudengar dari kejauhan sana. Teriakan-teriakan mereka yang penuh semangat saat mereka bermain basket. Persis seperti yang pernah kudengar dulu.

 

“Kai!!” panggilku pada sosok namja yang sedang memegang bola basket itu. Gerakan lay-up Kai terhenti. Ia menatapku, begitupun dengan kawannya yang lain. Mereka tampak sedikit tak menyangka aku hadir tiba-tiba disana.

“Kai, kita harus bicara! Ini penting!” tegasku lagi.

Sejenak Kai melempar pandang pada kawannya yang lain. Mereka semua memberi isyarat pada Kai jika ada baiknya untuk memenuhi permintaanku. Akhirnya setelah lama menimbang-nimbang, Kai memutuskan untuk mengoper bola basket pada salah satu kawannya dan berjalan menghampiriku sambil menyeka peluhnya.

 

“Ada apa?” Tanya Kai dingin.

Aku menghela napas mendengar nada bicaranya yang seperti itu.

“Aku tahu kau masih marah padaku, Kai. Tapi kumohon, kali ini kau dengarkan aku. Kau harus cepat bertindak. Aku sayang padamu, Kai. Aku tak mau kau menyesal…”

 

Kai menatapku tanpa arti, lalu tersenyum miring.

“Dengarkan apa lagi?”

 

“Aku baru saja pergi ke rumah Soojeon beberapa saat yang lalu. Dan kau tahu? Eomma-nya bilang bahwa hari ini Soojeon dan eonni-nya sedang pergi ke Hongdae. Kau tidak menepati apa yang sudah kukatakan padamu, Kai.” Ujarku.

Kawan Kai yang lain terlihat bingung mendengarkan percakapan kami berdua. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bertanya.

 

“Aku tahu hari ini ia pergi ke Hongdae bersama Yuri noona.” Sahutnya ringan. Aku terkesiap dan mengepalkan tanganku diam-diam.

“Kenapa kau tidak mencegahnya?” tanyaku parau.

“Semua yang kau lihat itu hanya firasatmu,” jawab Kai. “Lagipula apa hakku melarangnya pergi?”

 

Aku marah pada Kai sekarang. Benar-benar marah. Aku bersiap menumpahkan amarahku pada Kai, saat tiba-tiba suara dering ponsel Kai memecah ketegangan antara kami.

 

“Yoboseyo?” sapa Kai. “Ne, ahjumma?”

 

Beberapa detik kemudian, firasatku menjadi nyata.

Kai tertegun mendengar kalimat-kalimat pilu yang diucapkan oleh eomma Soojeon yang ada di seberang sana. Aku menggigit bibirku, menahan rasa kecewaku pada diriku sendiri, mengapa aku bahkan tak bisa memaksa Kai untuk menyusul Soojeon pergi ke Hongdae. Atau malah menahan Soojeon untuk pergi kesana. Aku merasa gagal dan tak berguna memilki sixthsense ini.

 

Yang bisa kurasakan selanjutnya adalah saat Kai menubruk bahuku ketika ia berlari pergi. Membuatku sedikit terhuyung. Ia tak berhenti untuk meminta maaf padaku, juga untuk menjawab panggilan kawan-kawannya yang memanggilnya bersahut-sahutan. Mereka juga ikut berlari menyusul Kai. Membuat selanjutnya tinggal aku yang berdiri sendirian disini. Meruntuki kebodohanku.

Aku tak tahu, sudah keberapa kalinya kini aku menyesali mengapa aku harus mendapat sixthsense ini…

 

Gaun hitamku melambai ringan tertiup angin yang berhembus di tanah lapang kompleks pemakaman. Aku mengangkat kepalaku yang tertunduk sedari tadi. Menatap miris beberapa orang yang masih tersisa setelah upacara pemakaman Soojeon. Termasuk Kai. Ia masih berdiri di posisinya semula.

Aku menghela napas. Aku melangkah mendekati Kai. Menyentuh pelan bahunya yang terlapisi kemeja hitam polos. Aku tahu ia merasakan kedatanganku, namun ia tak menoleh. Pandangannya masih terfokus pada nisan yang melukiskan nama Kwon Soojeon di dekatnya.

 

“Jangan merasa bersalah lagi. Ini bukan kesalahanmu, Kai.” Ujarku menghibur Kai.  Kurasakan bahu Kai semakin melunglai.

“Tapi kau benar. Aku tak menjaganya dengan baik.” Balasnya datar.

“Mungkin ini sudah takdir. Kepergian Soojeon bukan salahmu. Percayalah padaku.” Hiburku lagi.

“Bagaimana mungkin?” balasnya sarkatis. Ia memandangku sekilas sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi.

Lagi-lagi aku sendiri. Aku menghela napas melihat kelakuan Kai. Memandang punggungnya yang semakin menjauh…

 

Aku terbangun dengan banjir keringat yang membasahi seluruh tubuhku. Napasku memburu dan rambutku acak-acakan. Aku sedikit bersyukur karena aku sedang sendirian di rumah sekarang. Kalau tidak, sejak tadi eomma pasti sudah mendengar teriakan-teriakanku akibat mimpi buruk tadi.

Orang yang pertama muncul di pikiranku adalah Kai. Dia yang muncul di mimpi burukku tadi. Setelah berbulan-bulan lamanya aku sudah tak pernah dihantui sixthsense itu lagi, entah kenapa tadi mimpi buruk itu malah mendatangiku.

 

 

Aku masih terengah-engah setelah sampai juga ke stasiun ini dalam waktu yang bahkan kurang dari seperempat jam. Sambil menarik koperku, aku berjalan cepat menerobos kerumunan orang-orang. Untuk pertama kalinya lagi setelah lama tak menggunakannya, instingku kembali bekerja untuk membawa langkahku menemukan Kai. Kutahu Kai masih ada disini. Ia belum berangkat. Jadwal keberangkatan terdekat menuju Daegu masih 10 menit lagi.

 

Aku menghempaskan diri di sebuah kursi, disamping seorang namja yang sudah menunggu duluan. Ia masih sama seperti biasanya. Aku begitu merindukannya, semenjak kami benar-benar tak bisa dekat lagi seperti dulu. Bahkan kami melalui pesta kelulusan dengan begitu saja. Tidak terasa seru bagiku karena pesta itu sama sekali tak seperti harapanku dengannya dulu.

 

“Kau sedang menunggu kereta juga?” tanyaku sambil menyikut pelan namja itu.

Namja itu menoleh, ia tampak kaget karena menemukan aku sedang duduk disampingnya sekarang. Terbukti karena ia langsung melepas headset-nya begitu melihatku.

“Minchan?!”

 

Aku tersenyum membalasnya. Aku meletakkan tiketku di sebelah tiketnya yang ada diantara posisi duduk kami sekarang.

“Ne. Kau mau pergi kemana, eoh? Jahat, kau bahkan tak mau mengangkat panggilanku tadi. Padahal niatku mau pamit padamu. Tapi ternyata kita malah bertemu disini,” candaku.

 

Kai tampak sedikit gugup. “Uhm… Aku mau pergi ke Daegu. Aku akan melanjutkan kuliah ke universitas yang ada disana,”

“Jinjja?” tanyaku. “Wah, aku juga mau pergi ke Daegu. Tapi tujuan kita kesana berbeda, Kai. Kalau aku ingin berkunjung ke rumah sepupuku.”

“Keretamu berangkat pukul berapa?” Tanya Kai.

“Masih 2 jam lagi.” jawabku.

“Kenapa kau sudah buru-buru datang kesini?” Tanya Kai lagi.

“Kenapa? Tidak boleh?” tanyaku balik sambil mehrong padanya.

Kai tertawa. Diam-diam aku lega saat melihatnya sudah bisa tertawa lagi, semenjak kematian Soojeon.

“Ini bukan gara-gara sixthsense-mu lagi, kan?”

 

Aku balas tertawa. “Aniya. Enak saja kau. Sekarang aku sudah tak memilikinya lagi, jadi kau tak perlu khawatir.”

Bohong.

 

Sixthsense-mu hilang begitu saja?” Tanya Kai lagi.

Aku hanya mengangguk sambil mengecek waktu melalui jam tanganku. Tepat saat itu juga, terdengar suara klakson kereta. Aku tersenyum kecil sambil meraih salah satu tiket yang ada diantara kami.

 

“Ini sudah waktumu untuk berangkat, ya?” tanyaku sambil bangkit dari duduk.

Kai ikut bangkit dari duduk lalu mengangguk. Ia mengambil tiket yang tersisa diatas kursi.

“Ne, kalau begitu aku mau ke toilet dulu,” pamitku. “Annyeong, Kai-ya.”

 

“Chankkanman!” tahan Kai sambil memegang pergelangan tanganku. Aku berbalik, baru saja hendak bertanya ada apa. Namun aku tercekat saat tiba-tiba Kai memelukku.

Ia memelukku lama. Pikiranku blank. Aku hanya bisa menatap kosong tiket yang ada di tanganku dari balik punggung Kai.

Jantungku berdebar. Aku tahu ini tak normal. Bisa kurasakan dengan jelas bahwa aku masih menyukai Kai seperti dulu. Tiba-tiba aku merasakan ada air yang memaksa ingin keluar dari kedua mataku. Hatiku miris mengingat pilihan apa yang akan kuambil sebentar lagi.

Aku akan meninggalkan Kai. Mungkin selamanya. Aku tak tahu.

Hatiku sakit mengingat pilihan itu.

Namun itu adalah sebuah pilihan yang harus dipilih. Meskipun itu tak adil untuk diriku sendiri. Yang ada dipikiranku hanya Kai. Aku tak mau melihatnya terluka. Akan kulakukan apapun untuk melindungi namja yang aku cintai secara rahasia ini.

 

 

Aku bahkan tak tahu masih bisa mengingatmu sampai besok ataukah tidak, Kai… Tapi bolehkah aku meminta satu hal padamu? Bila esok aku sudah tak mampu memegang janjiku untuk mengingatmu, tapi kuharap kau masih memegang janjimu. Ingatlah aku seumur hidupmu, Kai. Bantulah aku jika suatu hari nanti aku kembali bertemu denganmu tanpa seberkas ingatanpun mengenai dirimu…

 

 

“Aku pasti akan merindukanmu,” sahut Kai. “Berjanjilah, saat di Daegu nanti kau akan bertemu lagi denganku. Jangan pulang sebelum kau bertemu denganku disana, oke?”

Aku terdiam tanpa bisa membalas ucapan janji Kai. Ingin aku membuka suaraku, namun Kai sudah melepaskan pelukannya padaku. Ia menatapku, ia melihat aku menangis, dan ia menghapus airmataku dengan ibu jarinya.

“Uljima…” sahut Kai dengan senyum di wajahnya.

 

Klakson kereta berbunyi sekali lagi. Aku cepat-cepat tersadar dan tersenyum pada Kai.

“Yak, sudah sana. Nanti kau ketinggalan kereta.” Sahutku.

Kai tersenyum padaku. “Yaksok, ne?”

Aku hanya bisa tersenyum, lagi-lagi aku tak berani berjanji. Namun Kai sepertinya tak menyadari jawabanku itu. Ia akhirnya pergi, setelah sebelumnya mengacak-acak poniku lagi seperti dulu.

Ia masih memandangku dari jauh. Aku hanya bisa melambai dan juga cepat-cepat berjalan menuju arah yang lain.

 

Maafkan aku, Kai. Bahkan di detik-detik terakhir pertemuan kita ini, aku masih saja berbohong padamu…

 

 

After 3 years…

 

 

 

Sekali lagi Kai merobek lembaran notesnya dan meremas kertas penuh coretan itu. Ia membuangnya asal ke tempat sampah, lalu mengoreskan coretan lain diatas lembaran lain yang masih bersih. Berulang seperti itu terus, sampai akhirnya ia merasa jenuh juga.

 

“Yak!!”

 

Seorang gadis berteriak saat langkahnya tak sengaja tersandung kaki kanan Kai yang terjulur keluar meja. Gadis itu terhuyung jatuh, dan Kai cepat-cepat bangkit untuk menolong gadis itu.

 

“Jeoseonghamnida.” Kai meminta maaf sambil membantu gadis itu berdiri. Beruntung tak ada lembaran kertas yang sedang dipegang gadis itu, jadi tak ada barang berantakan yang ada disekitar mereka saat gadis itu terjatuh.

“Gwenchanayo.” Balas gadis itu lalu membalikkan tubuhnya.

Kai tertegun begitu melihat wajah gadis itu. Gadis yang selama bertahun-tahun ini menjadi beban pikirannya, karena rasa khawatir dan rasa rindu yang amat besar selama ini telah bercampur menjadi satu untuk gadis itu.

Gadis yang selama ini lelah ia cari namun belum juga ada hasil. Tapi sekarang gadis itu sudah berdiri di hadapannya, walau Kai meragu apakah benar ini adalah gadis yang selama ini ia cari.

 

“Minchan?” Tanya Kai speechless.

Gadis itu balas menatap Kai. Ia mengerutkan keningnya. “Maaf. Apa aku mengenalmu sebelumnya? Benar aku Minchan, Park Minchan. Tapi aku adalah mahasisiwi baru di kampus ini. Rasanya aku belum berkenalan denganmu…”

Kai tercengang mendengar kata-kata Minchan. “Apa kau bercanda? Minchan-ah, kau tidak lucu! Apa kau sejahat itu, melupakan aku? Aku Kai, sahabatmu sejak kecil!”

Gadis itu bertambah bingung. “Kai?”

 

Kai menggelengkan kepalanya frustasi. “Apa kau amnesia, huh?”

 

Gadis itu terkesiap mendengar ucapan Kai. Sorot matanya berubah sendu, ia sedikit menundukkan kepalanya.

“Ne. Mungkin benar kita pernah saling mengenal dulu. Tapi, kau benar… Aku… Tiga tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan, dan aku… Aku kehilangan ingatanku,”

 

Kai tertegun. Seberkas ingatan kembali tersusun acak di kepalanya.

“Kau sengaja menukar tiketmu dengan tiketku.” Sahut Kai menyadari semuanya. “Itu membuat jadwal keretamu berangkat lebih awal karena kau menggunakan tiketku, dan aku ditolak masuk ke kereta karena setelah dicek petugas, jadwal yang ada di tiketku baru akan berangkat 2 jam setelahnya. Dan itu membuat keretamu yang mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu harusnya menimpaku, tapi kau lebih memilih mengorbankan dirimu sendiri. Kau bohong soal sixthsense-mu waktu itu. Kau bilang kau sudah kehilangannya, tapi harusnya aku tak percaya. Kau datang kesana hari itu, pasti karena dorongan dari sixthsense itu. Kau ingin membuatku terhindar dari kecelakaan itu. ”

 

Gadis itu terdiam. Sungguh ia tak mengerti apa yang sejak tadi Kai bicarakan. Sebagai respon, ia hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.

“Maaf, aku tak mengerti apa maksudmu. Kau membuatku bingung. Permisi.”

Gadis itu melangkah pergi.

 

“Chankkanman!” tahan Kai.

Langkah gadis itu terhenti, walau ia tak menoleh.

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Aku ingin minta maaf padamu. Aku akan lega telah mengatakannya, walau mungkin kau tak bisa mengingat itu.”

 

Gadis itu masih terdiam.

 

“Maafkan aku karena lagi-lagi tak berhasil menjaga gadis yang aku sayangi.” Sahut Kai, membuat hati gadis itu mencelos tiba-tiba.

“Dulu aku pernah kehilangan Soojeon, karena kebodohanku yang tak mau mendengarkan perkataanmu. Setelah itu aku tak pernah mau kehilanganmu, karena aku baru sadar setelah itu, kau adalah gadis kedua yang aku sayangi seperti aku menyayangi Soojeon.” Ujar Kai. “Tapi lagi-lagi aku juga kehilanganmu. Maaf, aku bukan namja yang baik. Aku bahkan baru berani mengatakannya sekarang. Maaf…”

 

Gadis itu menghela napasnya. Ia menoleh memandang Kai, lalu mencoba tersenyum. Dalam hati ia mencoba memahami mengapa jantungnya berdegup diatas normal saat mendengar kata-kata namja itu. Ia seakan pernah merasakan rasa itu sebelumnya. Namun ia sendiri menyesali, mengapa memorinya tak bisa membantunya menemukan jawaban.

 

“Maafkan aku, Kai. Tapi aku benar-benar tak bisa mengingatmu.” Sahut gadis itu, membuat Kai menelan kekecewaan.

“Tapi aku berjanji,” lanjut gadis itu. “Aku akan terus berusaha untuk mengingat itu semua. Kelas Statistik, besok pagi pukul 8. Kau bisa membantuku?”

 

 

 

 

 

—END—

 

 

 

 

Halo readers! ^^

Oneshot ini lumayan panjang kan, ya?

Haha, itung-itung buat bayaran(?) lah ya karena udah lama banget author hiatus dan gak publish ff 😀

Sebenernya ff ini dan ff lain yang author publish setelah hiatus ini udah jadi agak lama, tapi baru di posting sekarang, haha ._.v

Ff aku yang lain mengantri ya posting nya ^^ yang jelas aku punya beberapa stok ff yang udah jadi, hohoho ^^

 

Oiya, mengenai plot yang dipakai di ff ini, beneran ramdom kan? -.-“

Author juga gatau kenapa kejadian demi kejadian bisa loncat-loncat gitu waktunya(?), aduh random banget -.-

Buat yang masih kurang ngerti ama jalan ceritanya, boleh tanya di kolom komentar deh 🙂

 

Buat Rachmawati Dzakiy Malikah, ini adalah pengembangan dari ide ff mu yang dulu sempat terbengkalai itu, hahah ‘-‘)/

 

Buat ff selanjutnya, monggo ditunggu aja ya 😀

Rencana selanjutnya, aku bakal pake cast Luhan 😀

Penasaran?

 

Kutunggu komentarmuuuuuuu *-*)/

 

79 thoughts on “If Tomorrow…

  1. dhea~~ inget aku ga? aku gadis kkk

    nangis aku dhe baca ceritanya seriusan sampe kebawa nyesek T___T keren sumpah, heart-touched banget ffnya>< apalagi pas bagian si minchannya lupa ingatan, dan kai ngomong kalo minchan nukerin tiketnya. sumpah, mau nangis lagi bacanya kkk

    aku mau baca after three years mu dulu ya~~ pyong!

    • halo gadis ^^
      ini beneran gadis? Gadis Aprilianti, temen SMP? 😮
      aaaaaaa…. gadis, gak nyangka bakal ketemu disini ;_;
      makasih udah berkunjung , makasih ;_;

      ahahahaha, makasih ya ini dibilang keren 😳
      iya itu… itu menurut aku juga scene paling nyesek ;_;

      okeh, sip 😉
      makasih ya gadis, udah baca dan komen 🙂

    • chingu maaf aku baru bales.. kemaren habis hiatus lama banget, gara2 UAS -.-

      huaaaaa…. sequel? again?
      kenapa banyak readers yg minta sequel? padahal authornya lg males bikin cerita panjang2 ini -.-
      jadi merasa bersalah 😦

      miaaaaaaan chinguuuuuu 😦
      tapi makasih ya udah berkunjung ^^

  2. Sedih deh ah… sediiiihhhh… TT.TT
    Klo ad dposisi minchan senep amat thor…

    Tp keren bgt… ^-^d
    Semoga kedepannya makin baik… amiiinnn
    Sukses truss !!!!

    • halo ^^

      ah iya, disini aku masih bisa bawain nuansa dark angst(?) buat ceritanya..
      iya, kasian minchan nya 😦
      dia berkorban, tp sayangnya kai telat nyadarin itu 😦

      hohoho, wah terimakasih ^^
      hohoho, amin 🙂

      terimakasih diah 🙂

    • halo ^^

      aaaaaa~ beneran nih feel nya kerasa? sampe shock gitu 😀
      iya huhu, itu sedih bgt.. walau gak aku deskripsikan secara jelas, hoho 😀

      okeh, dilanjut 😀

      terimakasih ya 🙂

  3. Ping-balik: Sleep Well, My Star… | EXO Fanfiction World

  4. Author Keren bngt bngt, feel.a dpt bngt smpe mewek baca.a T.T
    cast.a biasku lg #gananya
    ditunggu cerita ff lain.a yg cetar membahana 😀

    • halo ^^

      aaaaa~~~ terimakasih ^^
      syukurlah kalo feel nya beneran dapet 😀
      mian ya kalo sampe bikin nangis 😦

      hoho, samaaaaaa kai juga bias aku 😀

      okeh, ditunggu ya ff angst nya lagi 😀
      terimakasih 🙂

  5. ;;AAAAAAA;; dhea ini beneran keren loh … Aku suka bngt, maaf yah the cursed school nya kegeser (?) kkk~

    Akhirnya aku punya wktu buat baca ff, dan pertama kali lngsung inget kamu *acieeee kkk~

    Buat aku oneshot segini gak cukup.. Yg aku sayangkan, kenapa gak dibuat multichapter dhe ?? Kan biar setiap detail ceritanya bisa dijelasin gitu.. Oneshot gini gak kenyang (?) tp malah bikin reader *macam aku* penasaran tingkat akhir :3

    Komenku berbelit-belit ya.. Pokoknya ff ini keren, bagus, dan sesuai bngt sma harapan aku skrang.. Tapi sayang ini ff oneshot, gimana kalo km buat versi multichapternya?? Kan soojeon juga jd gak numpang nama aja hehehe~ biar semuanya lebih detail gitu.. Pasti gak kalah bagus dari the cursed school 🙂

    Hehe itu cuma permintaan aku sih sbnernya,, cepet posting ff km yg lain ya.. Nanti kabari aku *apa?* kkk~
    Fighting!! Fighting!!!

    • halo shintia ^^

      aaaaaaa~~ terimakasih :3
      ahahaha, iya gapapa kegeser 😀
      kan sama2 ff aku(?) 😀

      ahaha, makasih yg pertama diinget langsung ff aku :3

      ahaha, aigoo multichapter ya ._.
      ohoho, aduh harus aku pikirin dulu yah idenya gimana :3
      soalnya kan konfliknya harus banyak tuh, biar seru(?) 😀
      tapi syukur deh kalo ff ini ternyata memenuhi harapan kamu 🙂

      haha, iya sip ^^
      aku kabarin ntar kalo ff yg lain udh posting, tp ntar yah, setelah hari senen/selasa, yg jelas minggu ini kok 😀
      tadinya mau aku posting hr ini, tp besok aku lg gak bisa online, ntar komenan gak cepet kebales, huhu 😦

      okeh shintia, terimakasih banyak yaa 😉

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s