Truly I Love You (chapter 8a)

edit poster

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is  just a fiction😀

Chapter sebelumnya… [1] [2] [3] [4] [5][6][7]

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-chapter 8(a)-

-0-

“Sejauh apapun gadis itu berlari, pada akhirnya dia tetap akan kembali.”

 

Sehabis makan malam seperti biasa, sakura yang telah berhasil merengek pada D.O untuk mengajarinya membuat pr telah bersiap dengan segala peralatan belajarnya di ruang TV. Dia juga sudah membawa boneka beruangnya, takut kalau-kalau dia mengantuk nanti sehingga bisa langsung merebahkan diri di atas bonekanya.

D.O keluar dari kamarnya sesaat kemudian, sebenarnya ia sungguh tidak semangat untuk menghabiskan hari tersebut setelah pembicaraannya siang tadi dengan chen. Otaknya terlalu banyak berpikir dan itu membuatnya lelah. Terlalu banyak hal yang memang mengganggunya belakangan hari ini, dan dengan pengakuan chen tentang perasaannya siang tadi di sekolah, maka lengkap sudah kegundahannya.

D.O terlihat lebih diam, dan sedikit aneh. Itu yang sakura tangkap sejak makan malam bersama mereka tadi, D.O memang diam, D.O memang tak banyak bicara, tapi ada sesuatu yang membuatnya terlihat tak biasa malam itu. “kau baik-baik saja?” tanyanya begitu D.O mengambil tempat di hadapannya.

D.O melirik sekilas, dan mengangguk. “cepat saja kita mulai.”

Sungguh memang ada yang salah.

Sakura tak bisa berhenti menatap laki-laki yang tengah serius menuliskan beberapa formula di kertas coretan yang tadi di berikannya. D.O memang sedang tidak baik-baik saja. Memang sedang ada yang salah. Sakura menutup buku-buku di depannya dan menarik kertas yang tengah di tulis oleh D.O, “waeyo?” tanyanya langsung.

D.O yang sejak tadi sibuk menunduk menatap sakura, dia menghela nafasnya panjang. “eopseo.” Jawab D.O malas. Dia berusaha mengambil kertas dari tangan sakura namun sayangnya tak berhasil. “kalau kau sudah tidak mau dibantu, aku akan segera pergi tidur.”

“kau aneh sekali tahu. ada apa sebenarnya?”

D.O menghela nafasnya lagi, dia terlalu banyak mendesah hari ini. “tidak ada.”

Sakura diam, dan mendengus keras. Geram karena D.O masih saja tak mau bercerita padanya, sakura yakin memang ada sesuatu yang salah, sakura yakin D.O memang sedang tidak baik-baik saja. jangan Tanya kenapa sakura bisa seyakin itu, Karena dia hanya tahu dan dia hanya merasakannya. “aku akan mengambilkan minuman dulu di bawah.”

Tidak tahan dengan suasana yang begitu kaku, sakura memilih menghindar sebentar. Membiarkan D.O sendiri dan berpikir, dan mungkin itu bisa membuatnya bicara.

Sepeninggal sakura, D.O menarik nafasnya lagi dan menghembuskannya. Sejak menjejakkan kaki di rumah ini, dan melihat sakura menyambutnya saat pulang tadi, rasanya oksigen di sekitarnya berkurang banyak dan membuatnya tak henti-hentinya menarik nafas untuk memastikan setidaknya masih ada oksigen yang bisa di hirupnya. Terlalu banyak perasaan berkecamuk di dalam hatinya yang membuatnya memilih bungkam saat gadis itu bertanya tadi. D.O yakin sakura memang sudah merasa ada yang tidak beres, dan ketika gadis itu meminta penjelasan, dia sendiri bingung. D.O tahu banyak yang tidak beres, D.O tahu banyak yang begitu aneh, tapi semua itu lebih pada dirinya sendiri, atau mungkin bisa di bilang pada hatinya sendiri.

Sakura datang dengan dua mug di tangannya. Cokelat hangat kesukaannya. “aku bosan belajar. Anggap saja PR ku sudah selesai, yah.” Putus sakura begitu D.O menerima mug dari tangannya.

“menurutmu aku bagaimana, sakura?” Tanya D.O, pertanyaan mengejutkan yang membuat sakura menolehkan kepalanya tidak percaya.

D.O mengusap-usap mug di tangannya, dia tidak mengerti setan apa yang baru saja merasukinya dan membuatnya mengeluarkan pertanyaan yang begitu bodoh, yang ia yakini gadis di sebelahnya itu sudah mendengarnya karena sekarang ia tahu, dengan serius sakura sedang menatapanya tak percaya.

“kau serius bertanya hal itu padaku?” sakura balik bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang baru saja didengarnya tidak salah.

“lupakan saja.”

“mwoya, tidak bisa seperti itu. kau kan sudah bertanya, dan kalau memang benar kau bertanya begitu  padaku, maka aku benar-benar akan menjawabnya dengan jujur.”

D.O menghela nafasnya, meminum cokelat hangatnya, tanpa sedikitpun melirik ke sebelahnya. “lupakan saja.” ulangnya.

“kau itu menyebalkan. Kau itu pemarah. Kau itu tukang ngambek. Kau itu egois. Kau itu menjengkelkan. kau itu tidak pernah mengerti perasaan orang lain. Kau itu cuek. Kau itu dingin.” Tanpa menghindahkan perkataan D.O, sakura langsung mengutarakan pendapatnya.

Mendapat jawaban yang begitu tidak mengenakkan membuat D.O menoleh ke arah sakura. “aku belum selesai bicara, jadi jangan coba-coba memotong ucapanku.” Cegah sakura begitu dilihatnya D.O ingin membuka mulut.

“tapi, dengan semua sikap dan kepribadianmu yang selalu membuatku kesal bahkan kadang selalu membuatku ingin menangis, aku tetap tak ingin jauh darimu, aku merasa beruntung bisa mengenalmu, dan aku merasa sangat di berkati karena akulah orang yang ada disini. Aku tak peduli bagaimanapun sikapmu padaku karena aku hanya tak ingin jauh darimu. Jadi, kumohon biarkan aku selalu berada disini kyungsoo. Bersamamu.” Suaranya bergetar, sudah lama sekali memang sakura ingin mengatakan hal demikian pada D.O

D.O menatap gadis disebelahnya sebentar, “kau mau berjanji satu hal padaku?”

Sakura mengangguk.

“berjanji untuk tidak pergi dariku maka aku juga tidak akan pergi darimu.” Kali ini D.O mengusap lembut pipi sakura dengan telapak tangannya.

Perlakuan manis D.O membuat semburat merah muncul di pipi sakura, dia tak mampu menyembunyikan rasa senangnya, “aku berjanji.” Ujarnya.

“gadis pintar.” D.O menepuk puncak kepala sakura.

Cup~

Dengan gerakan cepat yang begitu tiba-tiba,sakura mencium pipi D.O

“kau belum menceritakan masalahmu, berjanjilah untuk langsung mengatakan segalanya kepadaku begitu kau siap untuk mengatakannya, karena aku akan selalu ada untuk mendengarkanmu. selamat malam, kyungsoo.”

Sakura harus menahan segala rasa malu akibat perbuatannya untuk menyelesaikan kalimatnya, di akhir kalimatnya dia bahkan sudah tidak mampu untuk melihat wajah D.O, setelah asal membereskan bukunya, sakura segera beranjak ke kamarnya dan langsung menguncinya dengan cepat.

Begitu terdengar suara pintu kamar sakura yang terkunci, D.O segera mengambil nafas banyak-banyak setelah selama beberapa saat lalu ia bahkan tak kuasa untuk bernafas. Tubuhnya langsung terasa lemas begitu aliran darah mulai kembali normal mengalir di dalam tubuhnya setelah beberapa saat yang lalu juga dirasanya banyak organ di dalam tubuhnya yang berhenti bekerja. D.O memegangi dadanya, jantungnya berdegup begitu kencang tak seperti biasa.

Sakura baru saja menciumnya, dan dia langsung merasa tak baik-baik saja.

-0-

Pagi hari D.O sarapan tanpa di temani sakura seperti biasanya, gadis itu sudah pergi sejak pagi-pagi sekali. Begitu kata ahjumma. Bagus juga, karena D.O juga merasa tidak siap kalau harus bertatap muka langsung pagi ini. sejak kejadian tak terduga semalam, dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Namun, di saat yang sama perasaan lega juga melingkupi hati D.O, mendengar janji sakura semalam yang tak akan pergi darinya, entah kenapa kegundahan yang mengganggunya kemarin berkurang banyak.

Di sekolah, hal yang sama pun terjadi pada sakura yang sejak pagi-pagi sekali sudah duduk manis di kelasnya. Dia tak bisa menahan senyuman yang terus saja menghiasi wajahnya, “kau salah makan ya?” Tanya eunyeol yang begitu sampai di kelas dan melihat sakura dengan sikapnya yang aneh.

Sakura menggeleng cepat. “aku sedang bahagia.”

“karena?”

“kyungsoo.”

Eunyeol diam dan tak bertanya kebih jauh lagi, sepotong nama itu sudah cukup mewakili segalanya. Eunyeol sudah sangat hafal kalau sakura akan dengan begitu mudah bahagia hanya karena D.O dan disaat yang kadang bersamaan juga bisa menjadi begitu bersedih karena orang yang sama pula.

Setelah jam pelajaran usai, anak-anak mulai memenuhi lapangan baseball. Laga baseball Sudah masuk babak perempat final dan apabila sore itu pertandingan di menangkan D.O dan timnya maka tiket ke semi final sudah pasti menjadi milik mereka. D.O meregangkan otot-ototnya di pinggir lapangan, tadi saat akan pergi ke lapangan sakura sudah menemuinya dan memberikannya beberapa ucapan penyemangat. D.O memang hanya membalasnya dengan anggukan singkat karena dia memang sedang terburu-buru. Tapi mungkin hanya beberapa orang yang menyadari kalau setelahnya D.O berjalan dengan senyuman kecil yang tersungging di bibirnya.

“wah daebak!! Ramai sekali penontonnya hyung! aku akan langsung kehilangan banyak penggemar kalau sampai kalah di pertandingan sore ini.” celetuk sehun saat sedang meregangkan otot juga dengan yang lain.

“dasar bocah! Jadi bagimu kemenangan di pertandingan ini hanya semata-mata agar kau tidak kehilangan penggemar, hah?” balas baekhyun sinis.

“aish, aniyo. Kenapa kau sensitif sekali. Oh iya, itu kotak makan dari siapa?” Tanya sehun kemudian begitu baekhyun membuka sebuah kotak makan siang yang sehun tahu bahwa itu bukan milik hyungnya tersebut.

Baekhyun tersenyum kecil. “tadi eunyeol-ssi memberikannya padaku, ya kuterima saja.”

Sehun terbatuk hebat setelahnya, “mwo? Gadis cerewet itu? dia memberikannya padamu? Kenapa bisa? Aish!”

“kenapa? Kau cemburu? mungkin dia salah satu penggemarku.”

Mendengar jawaban baekhyun, sehun hanya mampu memonyongkan bibirnya. ia memang tidak tertarik pada gadis cerewet dan susah di atur seperi cha eunyeol. Tapi mendengar baekhyun mendapat perhatian lebih dari gadis itu, entah kenapa sehun merasa tak rela.

-0-

Sakura mengelap lensa kameranya seperti biasa, eunyeol sudah berteriak-teriak sejak tadi memberikan semangat. Biasanya dia tak pernah sesemangat itu, banyak sekali orang yang memenuhi lapangan, membuat sakura sulit untuk mendapatkan posisi yang pas untuk mengambil gambar.

Pertandingan dimulai dan teriakan semakin membahana, sambil berusaha untuk mengambil gambar sakura tetap serius melihat pertandingan berjalan. D.O melakukan setiap pukulah dengan baik, kakinya memang sudah sembuh total dan bagi tim itu adalah sebuah angin segar.

Sehun melakukan pukulan dan kesempatan pertama meleset. “ya! Pabo!” teriak eunyeol dari pinggir lapangan, sehun menoleh, suasana di sana memang sedang sangat begitu ramai tapi entah bagaimana sehun dapat menangkap teriakan eunyeol.

Dari tempatnya berdiri, sehun menatap gadis yang baru saja berteriak bodoh padanya, dia menarik nafasnya panjang dan kembali bersiap untuk menerima bola kedua. Di pukulan kedua, sehun memukul bola teramat jauh, dan berhasil mencetak strike. Dia juga bisa melakukan home run dengan mudahnya. Setelah mencetak home run, sehun melihat lagi kearah eunyeol sayangnya gadis itu tengah terfokus pada pemukul selanjutnya. Baekhyun. “cih.” Cibirnya kesal.

Pertandingan selesai dengan kemenangan bagi tim D.O, pelatih memeluk satu persatu anak asuhnya dengan bangga. Babak semi final minggu depan akan di laksanakan di sekolah lawan, “aku benar-benar berharap tiket ke jepang itu adalah milik kita.” Ucap baekhyun kemudian di ikuti anggukan anggota tim yang lain.

“aku tak melihat chen sejak tadi, kemana dia?” Tanya sakura begitu ia selesai memasukkan kameranya ke dalam tas kecil hitamnya,

Eunyeol mengangkat bahunya, “mungkin sudah pulang terlebih dahulu,”

“eunyeol-ah, kau jadi kan menginap di rumah ku malam ini?”

Eunyeol menatap sakura ragu, “kau yakin D.O sunbae sudah mengijinkannya?”

“aku belum bilang apapun padanya, tapi tentu saja dia akan mengijinkannya, memangnya kenapa dia harus melarangnya?”

Eunyeol tersenyum canggung, sakura memang tidak tahu apa-apa soal kejadian kemarin, eunyeol juga sedikit menyesal pada kata-kata yang di ucapkannya, karena dia tidak seharusnya berkata demikian dan ikut campur terlalu jauh pada hubungan D.O dan sakura. apalagi, begitu keluar dan dia mendapati D.O tengah berdiri di depan pintu, eunyeol yakin kalau D.O sudah mendengar semua perkataannya.

“ya! Kenapa kau malah melamun seperti itu? kaja.” Sakura menarik lengan eunyeol untuk segera ke parkiran dan menemui Kim ahjussi yang sudah menunggu disana.

Begitu keluar dari lapangan, D.O tak mendapati sosok sakura dimanapun. Mungkin gadis itu langsung pulang. Pikirnya.

-0-

Sakura, Eunyeol dan Kang ahjumma sudah bersiap di dapur untuk menyiapkan makan malam, eunyeol benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana kakunya suasana nanti saat dia ikut makan malam bersama D.O dan sakura.

“sakura aku ke atas sebentar ya, aku lupa memberi tahu ibuku kalau aku akan menginap disini.” Kata eunyeol. Dia melepas apronnya. Sakura yang sedang sibuk memotong sayuran hanya mengangguk untuk menanggapi.

Beberapa saat kemudian, eunyeol menuruni tangga sekembalinya dia dari kamar sakura. dan saat dia mencapai ujung tangga, rasanya eunyeol ingin berlari untuk kembali naik dan bersembunyi di kamar sakura saat melihat sosok D.O di muka pintu, dan kekagetannya bertambah berkali-kali lipat begitu melihat sosok-sosok lain di belakang D.O, ada suho, kai, chanyeol, baekhyun, dan sehun.

“ya! Neo?! Kenapa ada disini?” walau bukan orang pertama yang melihat eunyeol, tapi sehun lah orang pertama yang memberikan respon atas keberadaan gadis itu.

Eunyeol tak mampu lagi melangkahkan kakinya, rasanya seluruh tubuhnya kaku. Dia sungguh menyesal pernah berurusan dengan sekelompok laki-laki di hadapannya.

“kyungsoo-ya? Wasseo?” sakura keluar dari dapur menyambut kepulangan D.O yang ternyata membawa serta teman-temannya, “wah kalian semua juga disini? Selamat datang.” ucapnya kemudian.

“kami akan mengadakan acara barbeque untuk merayakan kemenangan pertandingan tadi.” Sambung chanyeol, dia bersemangat sekali memang dengan ide untuk makam malam bersama seperti ini.

“jinjja? Wah kebetulan sekali, eunyeol juga sedang ku ajak menginap disini.”

D.O menoleh begitu mendengar apa yang di katakan sakura. gadis itu tidak bilang apa-apa terlebih dahulu padanya. Dilihatnya eunyeol juga hanya menunduk takut-takut. D.O tak menanggapi lebih lanjut, dia langsung beranjak naik ke kamarnya mengganti baju. Yang lainnya mengikuti, banyak yang harus mereka persiapkan untuk acara nanti malam.

“kalau kau tenang seperti ini, jadi lebih manis tahu.” bisik sehun saat dirinya berpapasan dengan eunyeol yang masih berdiri di ujung tangga.

Eunyeol hanya melirik sekilas, dia sedang malas menanggapi ucapan sehun. Ada banyak  hal yang berputar-putar di otaknya. Aku harus bicara pada D.O sunbae. Benaknya.

-0-

Kai, baekhyun, suho, dan chanyeol menyiapkan alat pemanggang di halaman belakang, sedangkan sehun dan D.O membantu sakura dan eunyeol untuk menata meja. Ahjumma juga ikut membantu, sakura dan eunyeol tadi juga sempat membuat salad yang cukup banyak untuk mengimbangi kadar daging yang mungkin saja akan sangat banyak mereka makan nanti.

Sehun membantu eunyeol memotong buah, dia sebenarnya sedang merasa begitu aneh karena eunyeol tak banyak bicara sejak tadi. Padahal kemarin gadis itu bahkan sangat berani membalas setiap perkataannya.

“kyungsoo, kau bisa tolong ambilkan minuman di kulkas? aku lupa membawanya tadi.” Pinta sakura, tanpa banyak bicara lagi. D.O langsung beranjak masuk ke dalam rumah.

Melihat D.O masuk, eunyeol melihat sebuah kesempatan bagus untuk berbicara berdua dengan laki-laki itu. dengan alasan ingin ke kamar mandi, eunyeol juga ikut masuk kedalam.

“s.s.sunbae..” panggil eunyeol saat D.O baru membuka kulkas, laki-laki itu menoleh sekilas. “ergh… itu.. aku.. aku ingin mengatakan beberapa hal padamu.”

“apa?” cuek D.O bertanya.

“ergh.. saat di ruangan waktu itu aku, saat aku keluar dari ruangan dan kau ada di depan pintu. Itu apa.. ehm apa kau mendengar perkataanku?”

“hm.”

“ah jeongmalyo? Itu aku sungguh tak bermaksud, erg itu aku hanya—“

“kau hanya ingin menyuarakan pendapatmu sebagai seorang teman kan? karena kau peduli padanya, betul tebakanku?”

D.O yang sejak tadi membelakangi eunyeol kali ini berbalik dan menatap gadis itu. eunyeol mengangguk.

“gomawo.”

“n.n.ne?”

“terima kasih karena kau sudah mau peduli padanya, terima kasih Karena kau sudah menganggapnya temanmu.”

D.O membawa botol minuman cola besar di tangannya dan beranjak. “geundae…” ujar eunyeol dan berhasil menahan langkah D.O, “apa sunbae, benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padanya?”

D.O kembali membalik langkahnya, “memiliki perasaan dalam bentuk apapun itu, kurasa itu bukanlah sesuatu yang harus kubagi denganmu, eunyeol-ssi.”

Eunyeol mengerjap beberapa kali, perkataan D.O sangat pelan namun juga begitu dalam dan menusuk. Eunyeol membungkuk dalam, “jeosonghamnida. Maaf atas kelancanganku, jeongmal jeosonghamnida.” Eunyeol menepuk jidatnya sendiri saat D.O sudah berada jauh di depannya.

“pabo. Argh, aku begitu penasaran dengan kisah mereka sampai menjadi begitu bodoh seperti ini.” eunyeol juga menggelengkan kepalanya kencang. Menyesali setiap perkataan yang beberapa saat yang lalu diutarakannya yang mungkin saja akan membuat D.O marah dan melarang sakura untuk berteman dengannya.

Perasaan dalam bentuk apapun itu. sepertinya memang begitu sulit untuk eunyeol mengerti.

Sepenjang acara barbeque matanya tak pernah lengah untuk memerhatikan D.O dan sakura, D.O akan dengan lembut menarik lengan sakura bila gadis itu terlalu dekat dengan pemanggang daging, membantu sakura menuangkan saus saat dilihatnya gadis itu mengalami sedikit kesulitan, dan menyerahkan tissue saat di sadarinya sakura tak bisa menjangkaunya.

Segala bentuk perhatian kecil yang mungkin saja luput dari setiap pasang mata disana, sayangnya tak bisa luput dari mata elang eunyeol. Dia bahkan sampai menahan senyumannya saat D.O mengelap ujung bibir sakura yang terkena noda saus.

 

“D.O sunbae punya caranya sendiri untuk menunjukkan perasaanya.” gumam eunyeol.

“mworago?” Tanya sakura yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendengar sedikit gumaman eunyeol.

Mereka sudah menyelesaikan acara barbeque sejak setengah jam yang lalu, laki-laki yang mengurus untuk membersihkan segalanya.

“ah.. oh.. ani, bukan apa-apa. Ehm, kau mencetak fotonya ya?” frame berwarna hitam dengan ukuran sedang memang langsung menjadi perhatian eunyeol begitu dia masuk ke kamar sakura.

“dia terlihat mengagumkan kan disana? Kurasa itu foto terbaiknya.”

Eunyeol mengangkat frame dengan foto D.O yang sedang menggunakan kostum baseballnya sambil membawa tongkat. “hati-hati dia melihat ini. nanti dia tahu kalau kau sering memotretnya diam-diam.”

Sakura merebahkan tubuhnya diranjang. “dia memang tahu. tapi, kurasa dia hanya menggertak di awal.”

Eunyeol tersenyum lagi. kisah pasangan ini memang begitu menggelikan. Batinnya.

-0-

Istirahat makan siang hanya digunakan sakura dan eunyeol untuk berdiam diri di kelas sambil melihat-lihat majalah fashion yang dibawa eunyeol pagi tadi. “pesta ulang tahun sekolah minggu depan, apa yang akan kau pakai nanti?” Tanya eunyeol dengan mata masih terfokus pada majalah di tangannya.

Sakura mengangkat bahunya. “molla.” Katanya lesu, awalnya dia begitu semangat dengan pesta tersebut karena menurut berita yang beredar akan diadakan pesta dansa juga. Namun, semangatnya luntur seketika saat beberapa hari yang lalu dia menanyakan apakah D.O akan pergi atau tidak dan dengan kejamnya D.O menjawab dengan jawaban yang mungkin memang hanya akan dikeluarkan olehnya.

“masih banyak hal yang bisa dilakukan daripada harus pergi ke acara bodoh seperti itu. aku tak suka acara seperti itu.”

“lalu kalau aku pergi maka?”

“maka kau adalah satu dari sekian banyak orang bodoh yang semangat sekali dengan acara yang hanya buang-buang waktu seperti itu.”

Bahunya langsung merosot ketika itu, dia langsung tidak berani bertanya lebih lanjut atau bahkan merengek seperti yang selalu di lakukannya. Sepertinya untuk yang kali ini D.O akan sulit untuk dibujuk.

“nanti pulang sekolah aku akan pergi membeli baju dengan ibuku, apa kau mau ikut?” tawar eunyeol.

Sakura yang masih ragu dengan keputusan akan pergi akan tidak malah semakin bingung mendengar tawaran eunyeol, karena sesungguhnya pergi berbelanja gaun terdengar begitu menyenangkan. “aku akan ijin dahulu pada kyungsoo.” Putusnya.

“kim ahjussiiii….” Teriak sakura dari kejauhan memanggil supirnya.

Kim ahjussi menoleh, “loh, tas anda kemana nona?” Tanyanya begitu melihat sakura tidak menggendol tas merahnya.

Sakura tersenyum ganjil, “hm aku akan pulang dengan eunyeol, jadi nanti katakan pada kyungsoo—“

“ahjussi mobilku tiba-tiba saja mogok.” Entah sejak kapan D.O sudah berdiri di sebelah sakura. gadis itu mengerjap kaget, yang hanya dibalas dengan lirikan kilas dari D.O, “tolong ahjussi hubungi montir untuk membawanya ke bengkel. Aku akan pulang dengan mobil ini.”

Saat D.O ingin masuk ke mobil sakura masih bergeming di tempatnya. “kau tidak mau pulang?”

Sakura menggeleng, “aku akan pulang bersama eunyeol.”

D.O mengangguk singkat. Dan masuk kedalam mobil di ikuti Kim ahjussi.

Saat mobil melaju keluar gerbang, sakura memonyongkan bibirnya. “dia bahkan tidak bertanya ‘kenapa’, dasar patung.” Ucap sakura. dia memutar-mutar cincin di jari manisnya. “kalau bunda mau pergi sama temennya, ayah pasti Tanya kemana.”

“kau bicara dengan bahasa apa?” eunyeol yang sejak tadi sudah berada dibelakang sakura tak sengaja mendengar gumaman gadis itu yang menggunakan bahasa yang tidak dimengertinya sama sekali.

“bahasa Indonesia.”

-0-

Sakura menenteng tas belanjaannya dengan takut-takut saat memasuki rumah. Dia tidak ingin D.O tahu kalau dia membeli gaun untuk pesta sekolah minggu depan. Mendengar pendapat laki-laki itu tentang pesta membuat sakura tidak mau dinilai D.O sebagai gadis bodoh yang begitu semangat dengan pesta. Walau pada kenyataannya, dia memang sesemangat itu.

Sambil mengendap-endap sakura berhasil mencapai lantai dua tanpa diketahui ahjumma yang sedang memasak di dapur, D.O sedang di kamarnya dan itu seperti sebuah keuntungan bagi sakura karena dia tidak harus bertemu D.O dengan tas belanjaan di tangannya.

“omo!” pekik sakura begitu kepala D.O muncul di pintu, laki-laki itu keluar tempat saat sakura baru akan meraih gagang pintu kamarnya.

Mendengar pekikan sakura, D.O mengerutkan keningnya bingung. Sakura berusaha untuk tersenyum walau malah terlihat seperti seringaian aneh. “hai kyungsoo.” Sapanya, dengan kantong belanjaan yang berusaha di sembunyikannya dibelakang tubuhnya.

D.O tidak membalas sapaan sakura, gerak-gerik gadis itu begitu aneh dengan sesuatu dibelakang tubuhnya. D.O memiringkan kepalanya berusaha melihat sesuatu yang ada di belakang sakura.

“aku masuk ya? Annyeong.” Sakura memiringkan tubuhnya saat akan masuk kedalam kekamarnya. Berusaha sebaik mungkin agar D.O tidak menyadari tas belanjaan yang sedang di sembunyikannya.

“gadis itu pulang belanja?” Tanya D.O pada dirinya sendiri. sekilas dia melihat kantong belanjaan di belakang tubuh sakura. D.O mengangkat bahunya, tidak ingin tahu lebih jauh.

Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan sakura ketika malam tiba. Sedang tidak ada PR yang harus dikerjakannya, begitupun dengan tugas. Dia keluar dari kamarnya dan melihat D.O sedang bermain playstasion seperti biasanya. Laki-laki itu begitu menyukai game.

Sakura menghempaskan tubuhnya di sebelah D.O, yang tidak terpengaruh sama sekali karena permainan yang sedang dimainkannya sedang seru-serunya. Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya dia harus menanyakan lagi mengenai minat D.O datang ke pesta, mungkin saja dia sudah berubah pikiran.

“kyungsoo-ya, kau benar-benar tak ada niatan untuk datang ke pesta sekolah minggu depan?” Tanya sakura dengan ragu, takut kalau-kalau D.O malah hanya akan mengacuhkannya seperti biasa.

Benar saja. matanya masih begitu fokus pada game dan juga stick yang dipegangnya, D.O sama sekali tak ada niatan untuk menanggapi ucapan sakura.

Sakura menghela nafasnya, selalu seperti ini. “aku akan datang.”

Gerakan tangan D.O yang tadi begitu lincah memencet setiap tombol di gagang sticknya tiba-tiba saja berhenti. Dia menoleh.

“kau mungkin menganggapku seperti orang bodoh tapi, kapan lagi aku bisa menikmati pesta seperti itu. jadi, aku hanya ingin bilang kalau aku akan pergi. Selamat malam, kyungsoo.”

Sakura sudah berjanji tidak akan memaksa D.O untuk pergi ke tempat yang memang tidak ingin di kunjunginya, dia hanya ingin mengatakan pada D.O kalau dia akan datang ke pesta itu. seberapa bodohnya pun pesta tersebut terlihat di mata D.O.

-0-

“wah kita bertemu lagi.” chen menghalangi jalan D.O saat laki-laki itu baru saja keluar dari kelasnya, sedang jam istirahat saat itu.

D.O yakin chen memang sengaja ingin bertemu dengannya, moodnya sedang tidak begitu bagus saat itu, dan bertemu dengan chen hanya akan membuat moodnya menjadi semakin buruk. D.O menghindar mencari jalan lain, tapi lagi-lagi chen menghalanginya.

“kita memang tidak berteman tapi bisakah kau menghargai orang yang ingin bersikap ramah padamu?”

“aku tidak suka basa-basi. Katakan saja apa maumu, dan biarkan aku lewat.”

Chen memutar bola matanya, dan tersenyum. “neo jinjja, ckckck.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“arasso, arasseo. Kau tahu pesta sekolah minggu depan kan? apa kau akan pergi?” Tanya chen.

“ani.”

“wae?”

“..”

Chen menghela nafasnya, “ah, kau kan benci menjelaskan sesuatu. Aku lupa.  Geundae, ayo datang ke pesta.”

D.O menatap chen dingin, “shirheo!” tanpa menunggu lama, D.O segera beranjak pergi.

Chen mencegatnya lagi, “sakura akan datang kan? dia tadi memberitahukannya padaku dengan begitu bersemangat. Kau sungguh tak tertarik datang, walau gadis itu ada disana?”

D.O melirik chen, “aku tidak peduli.”

“kalau begitu selama pesta nanti, sakura jadi milikku kan?”

Langkah D.O terhenti, dia sungguh sudah tidak ingin berada disana, menghirup oksigen yang sama dengan chen, namun entah kenapa langkahnya tiba-tiba saja berhenti. Terkadang otaknya dan tubuhnya memang sering berjalan tidak beriringan. D.O mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan nafasnya menjadi tidak teratur karena tiba-tiba saja jantungnya bekerja dengan begitu cepat.

Chen menyeringai kecil, dia melihat kepalan tangan D.O, dan gerak-gerik tubuhnya pun sedikit berubah. Bahkan dari belakang chen dengan jelas bisa merasakan perasaan cemburu itu. “berubah pikiran , kyungsoo-ssi?” chen melangkahkan kakinya, dia ingin melihat ekspresi wajah D.O saat itu.

“kau tidak akan membiarkanku memiliki sakura dengan begitu mudah kan?”

Chen sudah berdiri didepannya lagi, untungnya D.O sudah berhasil membuat ekspresi wajahnya kembali normal seperti biasa, datar dengan tatapan dinginnya. “mari kita buat pesta itu sebagai game pertama kita. Siapapun yang berhasil mengajak sakura berdansa adalah pemenangnya, 1-0 untuk game pertama. Heol?”

Chen mengulurkan tangannya, menanti tangan D.O untuk bersalaman menyetujui perkataannya.

Tatapan D.O masih dingin, dia melirik malas uluran tangan chen dan kembali menatap chen dengan tatapan yang lebih munusuk. Mungkin kalau tatapan bisa membunuh chen bisa saja dengan mudah terbunuh detik itu juga. “aku memang membencimu, tapi mendengar apa yang baru saja kau katakan, aku jadi semakin membencimu. Kau menjadikan sakura sebuah game murahan seperti idemu itu? seingatku, kemarin kau mengatakan kalau kau mencintainya. Jadi kau hanya menghargai gadis yang kau cintai dengan game kampungan, bernilai satu? Saat aku bermain, aku bahkan tidak pernah menganggap skor ‘satu’ adalah sebuah nilai. Bagiku sakura terlalu berharga jika dibandingkan dengan poin ‘satu’ yang kau katakan itu. kalau kau memang begitu ingin bermain-main, mainkan saja permainan bodohmu itu sendiri. aku-tidak-peduli. Permisi, Kim Jong Dae-ssi.”

Dengan sengaja D.O melanggar bahu chen saat dia beranjak. Chen menatap punggung D.O yang menjauh dengan tatapan tidak percaya. Dia tertawa sinis. “Do Kyung Soo, aku benar-benar membencimu.”

-0-

Sakura menarik dan menghembuskan nafasnya dalam dan teratur. Dia duduk di depan meja riasnya dengan perasaan yang begitu gugup. Ini akan jadi pesta pertama yang di hadirinya, dan rasanya sejak ia berdandan tadi dadanya terus saja derdetak aneh tak menentu. Sakura memeriksa kembali tatanan rambutnya yang ia tata tak begitu tinggi namun kelihatan manis dengan hiasan rambut yang sederhana, sakura juga tidak memoles wajahnya dengan make up yang berlebihan, gaun berwarna peach yang beberapa hari lalu dibelinya bersama eunyeol juga sudah melekat dengan pas di tubuhnya, badan sakura yang kecil jadi semakin menggemaskan dengan gaun sederhana dengan tali kecil yang memperlihatkan bahunya yang terbuka.

“apa terlalu terbuka ya?” tanyanya pada dirinya sendiri, saat membelinya sakura memang tidak memperhitungkannya terlebih dahulu.

Sakura menghela nafasnya lagi, dia menekan perutnya karena rasanya banyak sekali kupu-kupu yang tengah berterbangan disana. Setelah mendapat telepon dari Kim ahjussi yang mengatakan kalau mobil telah siap, sakura keluar dari kamarnya.

“oh?” begitu membuka pintu, dia langsung melihat D.O yang juga baru keluar dari kamarnya dengan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat begitu tampan.

D.O yang awalnya tidak ingin melihat sakura terpaksa harus pergi bersama dengan gadis itu, mengingat mobilnya yang mogok tempo hari masih ada di bengkel. D.O akhirnya memutuskan untuk pergi, walau dengan segala penolakan dari dalam dirinya sendiri tapi rasanya seperti mimpi buruk kalau dia membiarkan sakura pergi ke pesta sekolah itu sendiri.

Sakura menutup mulutnya tidak percaya, dia tersenyum bahagia, bukan hanya Karena D.O yang akhirnya memutuskan datang tapi juga karena malam itu, D.O terlihat begitu menawan dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya. Sakura bahkan lupa berkedip untuk beberapa saat.

“tuan muda dan nona, sepertinya Kim ahjussi sudah menunggu di bawah.” Tiba-tiba saja ahjumma datang dan menyadarkan sakura untuk mengambil nafasnya. Rasanya tadi persediaan oksigen menipis.

“oh ne ahjumma, kamsahamnida.”

Saat sakura akan melangkahkan kakinya dia berhenti sebentar untuk kembali menoleh ke arah D.O, “aku sungguh senang kau akhirnya memutuskan untuk datang.” katanya, dan mendahului untuk turun kebawah.

D.O melonggarkan dasinya yang dirasanya sejak tadi begitu mencekik. Dia juga mengambil nafas dalam-dalam. “kenapa tiba-tiba saja tadi otakku seakan berhenti bekerja?” gumamnya pada dirinya sendiri. mungkinkah sakura dan penampilannya malam itu yang membuat D.O tiba-tiba saja tak mampu berpikir dengan baik? D.O menggeleng, dia sungguh tidak mengerti.

Rasanya D.O ingin sekali mengutuk mobil mahalnya yang mogok di waktu yang sangat tidak tepat. D.O kembali melonggarkan dasinya, bersebelahan dengan sakura di mobil yang sama membuatnya sedikit tercekik.

“nona sakura, anda begitu cantik malam ini.” puji Kim ahjussi yang sedang sibuk menyetir di jok depan.

Sakura tersenyum malu mendengar pujian kim ahjussi. “kamsahamnida ahjussi.” Balasnya. Sakura melirik D.O yang hanya diam di sebelahnya, D.O terus saja menatap keluar jendela sejak tadi. Sakura menggigit bibirnya, ahjumma sudah memujinya tadi, ahjussi juga, sejujurnya sakura hanya begitu ingin mendengar pujian dari bibir D.O, sayangnya laki-laki itu bahkan tidak memiliki ketertarikan sama sekali untuk sekedar memandangnya. Sakura juga ikut memandang keluar jendela, pemandangan jalanan saat malam mungkin saja bisa sedikit menghiburnya.

D.O menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan, dia melirik sakura sebelum sepenuhnya memandangi gadis itu. dia begitu sempurna malam ini, puji D.O dalam hatinya. Untuk beberapa saat matanya terkunci memandangi gadis di sebelahnya, kim ahjussi yang tak sengaja melihat spion yang terpasang di atas dashboard mobil bahkan harus berusaha menahan senyumnya, melihat tingkah tuan mudanya.

“sakura-ya….” Panggil seseorang begitu sakura memasuki hall sekolah tempat diadakannya pesta.

D.O yang di sebelahnya juga ikutan menoleh ke asal suara dan mendapati eunyeol tengah berjalan kearah mereka. “woah.. kau cantik sekali, lihat kan gaun ini memang pas sekali dengan mu.”

Sakura mengusap lehernya salah tingkah, “ah kau terlalu berelebihan.”

“oh? Annyeonghaseyo sunbae, kukira kau tak akan datang, sakura bilang kan… auw!” eunyeol mengusap lengannya yang sakit karena cubitan sakura yang tiba-tiba, sakura menyipitkan matanya pada eunyeol, kode agar gadis itu tak bicara lebih jauh lagi.

Dengan cuek D.O hanya menatap kedua gadis itu secara bergantian, tidak tertarik untuk lebih lama berada disana, karena begitu melihat suho dan yang lainnya, D.O langsung beranjak dari tempatnya.

Saat D.O sudah menjauh, sakura menghembuskan nafas lega. “jangan sembarang bicara kalau didekatnya eunyeol-ah,”

Eunyeol meringis, “mian. Tapi, apa kau sadar kalau D.O sunbae begitu tampan malam ini? kalian terlihat begitu serasi saat tadi memasuki ruangan ini.”

Sakura melihat kearah D.O yang sudah berkumpul dengan teman-temannya, “hm, dia tampak sangat mengagumkan memang,”

Eunyeol menarik sakura ke tempat lain saat menyadari sakura seakan tak ingin berhenti memandangi D.O

“apa yang kau cari sehun-ah?”Tanya baekhyun yang melihat gerak-gerik sehun yang begitu aneh seperti sedang mencari sesuatu.

“eunyeol.”

“siapa? Eunyeol?” baekhyun mendekatkan kupingnya kearah sehun untuk memastikan karena tadi laki-laki itu bicara terlalu cepat.

Sehun yang menyadari ucapannya barusan cepat-cepat menggelang, “a.a.ani, bukan siapa-siapa. Kau salah dengar.” Sehun mengutukki kebodohannya sendiri, walau sebenarnya dia memang sedang mencari eunyeol yang tiba-tiba saja hilang dari pandangannya, namun dia tak ingin kalau hyung-hyungnya tahu, kalau seperti itu maka keadaan akan jadi berbalik nanti, dia yang akan jadi bahan ledekan, dan sehun benci hal itu.

“woh? Disana itu sakura noona?” matanya yang memang masih berusaha mencari eunyeol akhirnya menemukan gadis itu namun ia langsung terpana dengan orang di sebelah eunyeol yang sedang mengambil minuman.

Suho, kai, chanyeol, dan baekhyun mengikuti arah yang di tunjuk sehun. Dan sedetik kemudian mereka sama-sama berdecak kagum, “dia benar-benar sakura noona, hyung?” untuk memastikan sehun bertanya pada D.O yang berdiri dibelakangnya.

“hm.” Jawab D.O pendek.

“yeppo.” Puji sehun kemudian.

“siapa? Sakura? atau gadis yang disebelahnya?” kai menunjukan senyuman liciknya, sembari memandangi sehun.

Sehun mundur selangkah, dia benci senyuman licik kai, “jangan tersenyum seperti itu padaku. aku akan kesana ah.” Sehun tahu sebentar lagi akan bermunculan ledekan-ledekan dari mulut hyung-hyungnya dan dia memilih kabur sebelum itu semua terjadi.

“kurasa sehun kita sudah mulai jatuh cinta.” Komentar chanyeol diikuti tawa yang lainnya, mereka kemudian menyusul sehun menuju tempat sakura dan eunyeol berada.

Hanya tinggal suho dan D.O disana, sejak kedatangan D.O tadi suho sudah menangkap sikap D.O yang aneh, dia tahu D.O sangat tidak suka pesta, dan dia heran begitu melihat D.O datang tadi. Suho tak berniat untuk bertanya lebih jauh, dia mengajak D.O duduk di kursi-kursi di ujung ruangan.

Suho menyerahkan segelas cola pada D.O dan mengambil tempat di sebelahnya, “membosankan, bukan?” ujarnya sembari menyesap minumannya.

“hm.” D.O memutar-mutar jarinya di atas gelasnya.

Suho melihat sekeliling, sudah banyak yang mulai mencari-cari pasangan untuk berdansa, dilihatnya chanyeol dan baekhyun sedang mengobrol dengan pelatih baseball mereka yang ternyata datang ke pesta. Sehun dan kai sedang mengobrol dengan eunyeol, suho yakin kai berada disana memang sengaja untuk mengacaukan obrolan sehun. Jelas sekali sehun tertarik pada gadis itu, walau pertemuan pertama mereka sangat tidak wajar tapi sepertinya karena itulah eunyeol mampu menarik perhatiannya.

Suho tidak dapat menemukan sakura, dan ketika ia menajamkan matanya, disanalah sakura, bersama chen dan sedang mengobrol dengan lepasnya. Suho melirik D.O yang sejak tadi hanya menunduk, dia sungguh-sungguh tidak tertarik pada pesta tersebut sama sekali. Suho menyenggol D.O agar laki-laki itu mengikuti arah pandangnya. D.O menoleh dan dengan mudahnya dia mengerti apa yang dimaksud suho untuk dilihat. D.O hanya memandanginya dengan tatapan datarnya, dia menggenggam erat gelasnya, namun tidak lama setelah menghembuskan nafasnya pelan, ekspresinya kembali seperti biasa.

“kau tidak ingin melakukan sesuatu?” Tanya suho. Dia bingung kenapa D.O tak memberikan respon apapun setelahnya.

“memang aku harus melakukan apa?”

“kau……. sungguh-sungguh tidak punya perasaan apapun padanya? Kau tidak takut kalau suatu saat dia pergi?”

D.O diam, meneguk minumannya dengan gerakan lambat dan menghela nafasnya. “sejauh apapun dia pergi, dia tetap akan kembali padaku hyung. dan hal yang kau perlihatkan padaku memang sungguh tak membuatku terpengaruh.”

Suho mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud ucapan D.O barusan, dia melihat lagi kearah sakura dan chen yang masih di tempat yang sama.

“ruangan ini mulai panas, aku akan keluar sebentar mencari udara segar.”

D.O segera beranjak dari tempat duduknya. Berlalu kearah timur hall sekolah yang terhubung dengan akses menuju lapangan. Suho menghela nafasnya lagi, “kenapa dia tak pernah mau jujur dengan perasaannya?” gumamnya pada dirinya sendiri.

Ruangan mulai ramai, sebentar lagi kepala sekolah akan memberikan beberapa sambutan. Dan itu tandanya pesta dansa akan segera dimulai. Chen tak mampu mnyembunyikan senyum bahagianya sejak menjejakkan kaki di ruangan tersebut. sakura sejak tadi berada di sebelanya dan chen memang tak ingin hal lain lagi. “kau cantik sekali malam ini.” pujinya.

Sakura menoleh, lagi-lagi pipinya merona setiap ada yang memujinya. “ah kau berlebihan, semua gadis disini juga begitu cantik malam ini.”

“bagiku kau yang tercantik.”

“mwo?” chen berbicara begitu pelan tadi, sakura sampai harus mendekatkan wajahnya untuk dapat mendengarnya dengan baik.

Chen tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis di sebelahnya, wajah sakura hanya beberapa senti dari wajahnya. Begitu dekat sampai chen dapat merasakan hembusan nafas gadis itu. dia bahkan sulit untuk menelan ludahnya sendiri. chen tak berniat mengulangi perkataannya, dia malah mendekatkan wajahnya dan melihat sakura yang hanya diam, chen menganggap itu adalah sebuah kesempatan. Saat sepersekian detik lagi kesempatan emas itu digunakannya sebuah tangan tiba-tiba melingkar di bahu sakura, membuat gadis itu menjauh.

“kau disini noona? aku mencarimu, ada yang ingin kutunjukkan. Ayo.” Sehun menarik pelan tangan sakura,

Kesempatan sepersekian detik itu hilang seketika. Chen menghembuskan nafasnya, mengambil banyak-banyak oksigen dan menurunkan bahunya yang sejak tadi tegang. Sakura sudah hilang dari pandangannya, “ck, Oh Sehun.”

-0-

Bintang tak banyak malam itu. angin juga berhembus cukup kencang, sebentar lagi mungkin hujan akan turun. D.O menatap langit malam yang begitu sepi saat itu, hanya ada satu bintang yang sinarnya lebih terang dari bintang-bintang kecil lainnya. D.O sudah melonggarkan dasinya, membuka kancing teratas kemejanya, dan juga melepas kancing pada jasnya. Dia bukan tipe orang yang senang berpakaian formil seperti itu, rasanya seperti orang lain.

Keramaian terdengar dari dalam hall, D.O hanya tertawa kecil di sudut bibirnya. pesta bodoh yang diikuti oleh orang-orang bodoh. Pikirnya sarkastik. Tapi kemudian dia kembali tersenyum getir, karena dia juga termasuk kedalam kumpulan orang-orang bodoh tersebut. dia tak mengerti kenapa dia bisa memutuskan untuk datang ke pesta, ada perasaan tak tenang yang terus menggelayutinya saat terngiang ucapan chen tempo hari. Dia tak mengambil pusing semua celotehan laki-laki itu tapi sepotong kata dari chen yang mengatakan, “…sakura jadi milikku…” hanya sepotong kata itu dan otaknya jadi berkabut.

D.O berdecak pelan. Dia menurunkan lagi dasinya,

“kau disini?”

Menyadari ada yang bertanya padanya, D.O menoleh dan sakura sudah berada di sebelahnya. Tersenyum dengan lebarnya, dan terlihat begitu konyol.

D.O hanya memandangnya datar, sakura tersenyum lagi, dan kali ini terkesan di paksakan. “aku tadi mencari-carimu didalam, tapi kau tidak ada. Dan suho oppa bilang kau keluar, ternyata kau disini.” D.O memang tidak pernah bertanya, tapi seperti sebuah kebiasaan sakura tahu maksud tatapan datar laki-laki itu dan menjawab pertanyaan yang tersirat didalamnya.

D.O mengalihkan pandangannya lagi, lampu sorot menyoroti lapangan yang kosong. Dan tatapannya yang juga kosong memandangi lapangan tersebut. sakura menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya pelan, ia membenarkan posisi duduknya dan ikut memandangi lapangan baseball yang kosong.

“hatcih!” angin yang lumayan kencang berhembus, dan sakura langsung bersin karenanya.

D.O menoleh, dilihatnya sakura sedang menggosok-gosok hidungnya. D.O merogoh kantongnya dan mengeluarkan sapu tangan miliknya. “bersihkan dengan ini.” sarannya. Sakura menerima sapu tangan tersebut dan menuruti saran D.O

Saat sakura sedang menggosok hidungnya dengan sapu tangan yang diserahkannya tadi, D.O melirik bahu sakura yang terbuka, gaun yang dipakainya memang cantik, tapi dengan bagian bahu yang terlalu terbuka seperti itu, sejak pertama kali melihatnya, ia sudah tidak menyukainya.

D.O kemudian melepas jasnya,dan menyampirkannya pelan di bahu sakura. “kau bisa sakit dengan pakaian seperti itu.” katanya.

D.O menggulung lengan kemejanya, dan kembali menatap lurus ke lapangan.

“eunyeol yang memilihkan gaun ini untukku.” Ujar sakura, seraya merapatkan jas yang disampirkan D.O tadi.

“lain kali cari yang lebih tertutup.”

Sakura menatap D.O yang saat berkata tadi bahkan tak melihatnya. Dia tersenyum, walau terkesan cuek bukankah secara tersirat D.O baru saja menyuarakkan ketidaksetujuannya dengan pakaian sakura malam ini? walau pikiran itu hanya bayangannya, tapi sakura tetap senang.

“ne,” ucapnya pelan.

“tapi malam ini kau terlihat sangat berbeda. Kau Cantik.” Di kalimat terakhirnya D.O menoleh menatap sakura.

Angin malam bertiup lagi, sakura menatap D.O, mata mereka bertemu. Pujian itu akhirnya keluar, pujian yang paling ditunggunya, pujian yang paling dinantinya, pujian yang paling ingin didengarnya, akhirnya keluar dari mulut D.O

Sakura tak mampu melepaskan tatapannya dari D.O, matanya terkunci.

D.O berdehem kecil, dan segera mengalihkan tatapannya kearah lain sebelum ia dengan bodohnya melakukan hal lain.

“gomawo.”

-0-

“dia pergi saat aku ingin menciumnya, dia menolak saat kuajak berdansa, dan sekarang dia malah duduk diluar, rela di terpa angin dingin, bersama seorang D.O,”

Chen tertawa sinis.

Ditatapnya lagi pinggir lapangan yang terlihat remang karena pencahayaan yang sedikit itu. chen mendesah, “aku tak akan menyerah, bagaimanapun.”

-0-

 

TBC

Mianhaeeeeee karna ada beberapa alasan aku harus pecah partnya jadi dua bagian.. so sorry… em well, maaf telat post nya. Ada suatu hal yang ngebuat aku ga bisa nulis untuk beberapa saat, hehe but im ok now🙂 part B nya akan aku post secepat mungkin yang aku bisa.. sungguh! Janji! >w<  ya udah itu aja, kalian jangan marah yaaaa >//////< oh iya makasih banget buat komen-komennya, maaf ga bisa dibalesin satu-satu tapi aku baca semuanya kok, saranghaeeee~~ ^.^

 

 

 

 

190 thoughts on “Truly I Love You (chapter 8a)

  1. aku baca ini ditempat yg gak tepatttttt. aku gak bisa teriak2 wkwk wellllllll, banyak scene yg buat aku nahan napas dan deg deg.an kyungsoo yaaaaaa. wkwk sakura emng terlalu polos buat ngerti perasaan kyungsoo dan ktungsoo sendiri juga naif bgtttt wkkwwk aduh booo, sehun beneran sama eunyeoll greatttt

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s