The Difference [Chapter 4]

fanfiction 32

 

Title: The Difference [Chapter 4]

Author : J.A.Y

Main Cast:

1.       Kai EXO

2.       Han Hyena (OC)

Support Cast:

1.       Chanyeol EXO

2.       Sehun EXO

3.       Kris EXO

4.       Kim Myung Soo

Genre: Fantasy, sad, romance, angst, drama

Rating: PG-17

Length: Chapter

Disclaimer: The storyline pure is mine. Just is mine! So, don’t copy-paste and don’t be plagiarism!!

Chapter sebelumnya >> Teaser | Prolog | Chapter 1 | chapter 2 | Chapter 3A | Chapter 3B |

 

—The Difference—

Ia berdiri ditepi sungai. Memandang pantulan dirinya bersama bulan purnama yang terlihat berbeda. Ia merasakan dirinya yang dingin dan kosong. Tatapan matanya juga terlihat berbeda. Ia tidak ingat siapa dirinya. Yang paling ia ingat adalah ketika matanya terbuka dan gelap, ia memikirkan suatu tempat dan saat itu juga dirinya langsung berpindah tempat.

Kejadian gila dan aneh.

Ia terus memandang pantulan dirinya dipermukaan air yang terlihat tenang. Berusaha mengingat-ingat jati dirinya. Memandang langit yang terlihat bersih. Kulitnya masih bisa merasakan tiupan angin malam yang menerpa. Rasanya seperti hidup. Dingin dan lembab.

Myung Soo memejamkan matanya. Berfikir tentang apa yang harus ia lakukan setelah ini. Setidaknya hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengetahui siapa dirinya.

“aww!”

Myung Soo menoleh begitu saja. Ia menaikkan alisnya dan menciptakan kerutan tipis didahinya. Myung Soo mengikuti asal sumber suara aneh itu. Ia hanya mengikuti nalurinya. Semakin dekat hidungnya bisa mencium bau yang begitu membuat Myung Soo merasa lain. Bau yang sepertinya manis dan menyegarkan. Pekat dan merah. Semakin dekat warna matanya juga semakin berubah. Merah dan tajam.

Myung Soo mengeluarkan seringaiannya. Ia tersenyum saat melihat darah yang mengalir dari wanita yang berada 20 kaki darinya. Myung Soo ingin merasakannya. Ia haus. Kerongkongannya kering dan panas.

Darah itu seperti menarik Myung Soo agar lebih mendekat. Seperti memiliki magnet yang kuat. Myung Soo melangkah lebih dekat.

Gadis itu masih membersihkan kerikil kecil yang menempel disekitar lututnya. Ia meniupkan angin kecil pada lututnya agar tidak terlalu sakit. Tapi bayangan hitam yang seakan berjalan diatas tanah semakin mendekat kearahnya. Semakin besar bayangan itu menutupi dirinya. Gadis itu mendongakkan kepalanya tinggi. Seseorang berdiri didekatnya dengan senyum lain.

Myung Soo menekuk lututnya didepan gadis itu. Matanya tidak lepas dari lutut yang berlumuran darah itu. Myung Soo memejamkan matanya sedikit lama hingga membuat gadis itu mengernyit bingung. Sampai ahkirnya kedua mata itu membulat terkejut saat Myung Soo membuka matanya. Myung Soo langsung menatap gadis itu tajam dan menarik rambut yang panjang itu begitu saja.

Gadis itu hampir menjerit. Tapi tatapan Myung Soo seakan melumpuhkan saraf-saraf tubuhnya. Dan detik itu juga, Myung Soo melakukan apa yang harusnya ia lakukan sejak tadi.

Mendapatkan makanannya.

—The Difference—

Sementara di tempat lain,

Sudut bibir Jongin sudah berdarah dan lebam. Ia merasakan rasa lain dimulutnya. Darahnya sendiri. Tubuhnya dihempaskan oleh Kris ke sudut tembok. Bahkan jika diteliti, tembok itu memiliki sedikit keretakan dipermukaannya.

“kau bodoh!!” Kris beralih mencengkram leher Jongin begitu erat. Jongin merasakan tenggorokannya seperti terbakar. Rasanya sangat panas.

“aku—akan—mencarinya—lagi” ucap Jongin susah payah.

“kau fikir itu mudah! Dia memiliki kekuatan yang sama dengan dirimu Jongin!”

Kris merasa jengah. Ia melepaskan cengkaraman tangannya begitu saja dari leher Jongin. Nafasnya terdengar memburu. Kris sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia pergi begitu saja dan mencari tempat agar ia bisa melampiaskan kemarahannya. Kris tidak yakin—jika ia masih berada ditempat itu—ia masih bisa menjaga kehidupan saudaranya.

Luhan yang tadinya hanya melihat pertengkaran kecil saudaranya—bangun dari duduknya. Ia menaruh rubik mainannya diatas meja. Luhan menghampiri Jongin yang terduduk tidak berdaya dengan banyak noda darah di bajunya.

Pria itu diam tanpa ekspresi. Ia membantu Jongin berdiri dan membawanya keluar dari ruangan yang gelap dan tua itu.

Sedangkan Chanyeol, pria itu tersenyum miring. Alis Baekhyun bersatu saat melihat ekspresi aneh Chanyeol.

“ada apa dengan mu?”

“tidak apa-apa”

Setelah itu Chanyeol pergi meninggalkan Baekhyun yang masih menaruh curiga pada pria bertubuh tinggi itu. Seharusnya Chanyeol peduli, bukan memberikan senyuman yang aneh seperti itu. Senyumnya seperti senyum lega atau senyum kesenangan yang sedang melihat rivalnya kalah.

Baekhyun juga tidak terlalu mengerti. Menyimpulkan itu sama seperti menyimpan pikiran negatif dikepalanya. Tentang Chanyeol kepada Jongin.

—The Difference—

Malam yang masih terasa sama dari malam yang sebelumnya. Gumpalan salju masih menumpuk disetiap bahu jalan. Hyena melihat etalase setiap bangunan kecil dari kaca jendela yang transparan. Pantulan dirinya juga terlihat tipis dari jendela itu. Hyena menaruh kepalanya bersandar pada jendela itu. Ia duduk di barisan paling belakang di sudut kanan.

Gadis itu terlihat begitu kelelahan. Entah kenapa. Hanya saja Hyena merasa lebih lelah hari ini. Tidak ada yang berbeda dengan hari sebelumnya.

Ia menghela nafas kecil dan mengeluarkan buku kecil dari dalam tasnya. Membaca catatan-catatan singkat yang ia dapatkan saat dikampus hari ini. Hanya sekedar untuk mengisi waktu kosongnya. Setidaknya ia bisa mengusir rasa kebosanan itu dengan membaca buku sampai dipemberhentian bus yang berikutnya.

Hyena menganalisa setiap kata yang ia baca dengan matanya. Setiap kata dan kalimat. Sampai ia hampir membaca satu lembar buku catatannya. Ia berdecak pelan. Tidak biasanya ia merasa sulit seperti ini. Ia tidak bisa faham dengan apa yang ia catat di buku.

Hyena menutup bukunya dan memasukkannya lagi kedalam tas. Percuma dipakasakan. Lebih baik ia membacanya ketika dirumah nanti.

Hyena kembali melihat jalanan yang basah karena salju. Salju itu seperti menjadi bingkai perjalannya yang terkesan datar.

“kau harus mencoba membuka diri dengan dunia luar Hyena-a”

Ia menghela nafas kecil.

Membuka diri?—batinnya.

“aku menyukai mu Hyena”

“jangan menolakku. Aku mohon”

“tetaplah bersamaku dan aku akan melindungi mu”

Jongin.

Mengingat nama itu membuat Hyena membayangkan wajah pria itu. Hampir seharian ini ia tidak bertemu dengan Jongin. Kecuali tadi pagi tentunya.

Biasanya Jongin selalu ada jika Hyena sedang sendiri. Pria itu selalu muncul tiba-tiba. Sama seperti angin. Tapi harusnya ini lebih baik. Setidaknya ia tidak perlu merasa berat hati jika berada disamping Jongin.

Hyena bangun dari duduknya sambil menyampirkan tas ke bahu kanannya. Ia turun di halte tempat ia biasa turun setiap malam. Saat pintu bus terbuka, udara dingin langsung menerpa wajahnya. Membuat kulitnya begitu dingin dan lembab.

Ditempat lain,,,

Jongin sedang membersihkan sisa darah yang hampir mengering diwajahnya. Pipi dan sudut bibirnya lebam. Betapa hancurnya wajah pria itu.

“siapa gadis itu?” tanya Luhan yang sedang bersandar pada pintu kamar mandi.

Jongin melirik Luhan dari kaca kamar mandi yang berukuran besar, “kenapa?”

“aku hanya ingin tahu”

Jongin mematikan keran air. Suasana berubah begitu tenang didalam ruangan itu. Terdengar suara tetesan air yang menetes dari ujung keran air. Suara yang seperti terpantul didalam gua.

“kau ingat kata-kata ku? Bagaimana pun juga kau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang ku lakukan pada Jaena” Badan Luhan tegap. Ia ingin pergi. Tapi sebelum tubuh Luhan benar-benar keluar dari dalam kamar mandi, pria itu diam diambang pintu.

“sekeras apapun kau mempertahankannya. Tapi kalian tetap berbeda” sambung Luhan. Setelahnya Luhan menutup pintu dan membiarkan Jongin sendiri.

Jongin menatap tajam pantulan dirinya didepan cermin. Ia tahu. Sejak awal memang Jongin sudah tahu. Tapi apa mereka tidak pernah berfikir sebelumnya. Jika Jongin bisa memilih, ia juga tidak akan membiarkan perasaannya berkembang dengan cepat terhadap Hyena.

Siapa yang tahu?

Jongin menghela nafas beratnya. Bukan karena lelah atau merasa kecewa. Ia hanya ingin membuang beban yang berat didalam pikirannya. Berfikir tentang rencana selanjutnya. Ia bisa membelakangi urusan Hyena. Saat ini Myung Soo yang utama.

Ya, ia harus mencari Myung Soo terlebih dahulu. Mengetahui keberadaannya pria itu.

Astaga.

Ini hampir membuat kepala Jongin ingin meledak. Didalam tubuh Myung Soo ada darah Jongin. Itu berarti di dalam tubuh Myung Soo juga ada darah keluarga dan juga saudaranya. Dan kesimpulan ahkirnya adalah Myung Soo juga sudah menjadi saudara murninya—saudara sedarah.

—The Difference—

Hyena menaruh gelas susunya saat mendengar suara mesin motor yang berhenti didepan rumahnya. Gadis itu dengan rasa penasarannya—menyibakkan kain berwarna biru muda yang menutupi jendela transparannya.

Jongin.

Pria itu datang lagi.

Hyena mengambil tas dan menyampirkannya sambil berjalan keluar rumah. Ia menutup pintu dengan rapat dan menghampiri Jongin.

“cepat naik” ucap Jongin. Ia berbicara tanpa membuka kaca helmnya terlebih dahulu. Jongin menyalakan lagi mesin motornya.

“Jongin-a” Hyena menahan tangan Jongin dan membuat pria itu mengernyit didalam helm putihnya.

“mulai besok, jangan mengantarku lagi”

Jongin baru akan bertanya kenapa, tapi gadis itu tersenyum kecil dan segera naik keatas motornya. Itu membuat mau tak mau Jongin harus menjalankan motornya atau mereka akan terlambat.

—Korea university—

Jongin memberhentikan motornya di tepat disudut tempat parkir. Dan saat itulah Hyena turun. Saat Jongin mematikan mesin motornya.

Hyena merapikan sedikit rambutnya yang berantakan. Jongin memperhatikannya. Memperhatikan Hyena dan ingin bertanya pada gadis itu. Kenapa Hyena melarang untuk mengantarnya?

“hyena”

“ya?”

“aku akan tetap mengantar mu besok”

Hyena tersenyum kecil, “tidak apa Jongin. Aku bisa sendiri”

Jongin melepas helmnya dan itu membuat Hyena sedikit terkejut.

“aku tidak bisa membiarkan mu sendirian. Aku sudah bilang—“

“Jongin?” Hyena menahan ucapan Jongin yang belum terselesaikan, “wajah mu” sambungnya.

Tangan Hyena terangkat dan ingin menyentuh luka itu. Tapi dengan cepat Jongin menahannya.

“ini tidak apa-apa Hyena-a. Aku baik-baik saja” sergah Jongin.

“kau berkelahi?”

Jongin sedikit tersenyum, “aku laki-laki”

Sikap Jongin berubah canggung. Ia turun dari motornya dan berdeham kearah lain, “kau akan terlambat nanti”

Jongin menarik tangan Hyena agar bisa berjalan bersama dengannya. Hyena tentu saja akan mengikuti pria itu. Akan tetapi pandangannya belum beralih sama sekali dari wajah Jongin yang dipenuhi luka lebam. Saat Jongin hampir melewati gedung fakultasnya, Hyena menghentikan langkah laki-laki itu.

Tangan Hyena beralih ke lengan Jongin dan membawa pria itu masuk kedalam gedung.

“dimana ruang kesehatannya?” tanya Hyena sambil mencari-cari ruangan itu.

“untuk apa?” tanya Jongin. Tapi sepertinya Hyena masih belum ingin menjawab saat ini.

“itu dia” Hyena tersenyum kecil saat melihat papan nama ruangan yang tergantung diatas pintu. Papan nama itu menunjukkan bahwa itu adalah ruangan kesehatan. Dengan cepat Hyena membawa Jongin masuk kedalamnya.

“siapa yang bertugas hari ini?” tanya Hyena pada Jongin yang masih terlihat bingung.

“siapa?”

“yang berjaga diruang kesehatan ini. Kemana mereka?”

“kau membawa ku kemari untuk mencari mereka?”

Kening Hyena berkerut tipis. Ia menuntun laki-laki itu untuk duduk di salah satu tempat tidur rawat yang berada disana. Gadis itu terlihat sibuk mencari sesuatu. Ia membuka lemari kecil yang isinya beberapa jenis obat-obatan.

“kau mencari apa?” tanya Jongin.

Tidak lama Hyena mengeluarkan kotak kecil dari dalam lemari itu. Ia membuka kotak itu seraya menghampiri Jongin yang masih terlihat bingung.

“kau calon dokter, harusnya kau lebih tau daripada aku”

Hyena dengan cepat menuang alkohol diatas gumpalan kapas ditangannya. Ia langsung menempelkan kapas itu tepat pada luka Jongin. Tidak ada reaksi sama sekali dari Jongin. Tidak ada ringisan kesakitan atau apapun. Pria itu hanya diam dengan datarnya melihat Hyena.

“tidak sakit?”

Jongin menggelengkan kepalanya dan membuat Hyena bingung. Lalu mata Hyena beralih pada luka goresan kecil di rahang Jongin. Luka itu masih berwarna merah dan terbuka. Hyena membersihkan luka itu hati-hati sambil sesekali melihat reaksi Jongin. Masih sama seperti yang tadi. Jongin tidak bereaksi sama sekali.

Harusnya ada kepekaan disana.

“Jongin, kau baik-baik saja?”

“aku baik”

Hyena menurunkan tangannya dari wajah Jongin. Ia meneliti pria itu.

“jangan berhenti”

Hyena justru terlihat bingung.

Jongin tersenyum kecil dan mengangkat tangan Hyena. Menuntun tangan itu agar kembali membersihkan lukanya. Hyena kembali menggerakan tangannya. Mempertemukan kapas basahnya dengan permukaan kulit Jongin. Gerakannya begitu hati-hati dan teliti. Sesekali Hyena juga melirik sekilas kemata Jongin.

Karena terlalu serius Hyena tidak sadar jika Jongin terus memperhatikan wajahnya dari tadi. Jongin memperhatikan dengan baik garis wajah itu. Bulu mata yang lentik dan panjang, iris mata yang hitam, dan alis yang kecoklatan.

Sesekali Hyena—tanpa sadar mempersempit jarak wajahnya dengan Jongin. Setiap kali wajah itu mendekat—tangan Jongin ingin sesekali mempertahankan jarak wajah Hyena. Merasakan adanya deru nafas yang hangat di wajahnya.

Saat Hyena mengobati pelipis Jongin—tanpa sadar iris matanya tepat melihat iris kehitaman Jongin. Saat itu juga tangan Hyena berhenti bergerak. Hyena melihat jelas iris kehitaman itu, bahkan juga pupil mata Jongin.

Bisa Jongin melakukannya sekarang?

Ia sangat ingin menyentuh bibir tipis itu.

Jongin memberanikan dirinya mempersempit jaraknya dengan Hyena. Laki-laki itu bisa melihat mata Hyena yang mulai terpejam. Itu tandanya Hyena tidak menolaknya.

Tangan Jongin terangkat menangkup wajah Hyena. Menahannya dikedua sisi  rahang gadis itu. Hingga tanpa ragu lagi—Jongin bisa menyentuh benda lembut itu. Jongin awalnya tidak berani bergerak lebih dulu. Laki-laki itu diam menanti reaksi yang Hyena berikan.

Hyena menahan nafasnya. Dan saat itu juga, Jongin mulai melakukan satu lumatan kecil dibibirnya. Benar-benar lembut dan penuh kehati-hatian. Hyena memejamkan matanya begitu rapat saat Jongin semakin memiringkan kepalanya.

Tidak ada tuntutan dari sebelumnya. Kali ini Jongin melakukannya dengan perasaan yang mendasar.

Jauhi Jongin. Kau harus menjauhinya.

Hyena—dengan tiba-tiba memutuskan pertautannya dari bibir Jongin.

“maaf” ucapnya pelan.

Hyena segera beranjak dan pergi keluar. Meninggalkan Jongin yang memandang punggungnya sampai menghilang. Jongin meremas kain putih ditangannya. Matanya juga ikut terpejam.

“jangan menjauhi ku Hyena”

Hyena segera berlari menjauh. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa memberikan kesempatan pada Jongin? Tangannya terangkat menyentuh bibirnya sendiri. Hyena menghela nafasnya.

Dari arah yang berlawanan, Kris baru saja datang dari pintu masuk. Ia tidak melihat jika ada gadis yang sedang jalan dengan langkah yang terburu-buru didepannya.

Dan saat keduanya saling berpapasan, Kris dengan sendirinya menoleh pada gadis itu. Aroma yang masuk kedalam indra penciumannya pun membuat mata Kris terpejam untuk sesaat. Kepalanya mengikuti arah bau itu.

Mata Kris terbuka. Ia melihat punggung seorang gadis yang baru saja berpapasan dengannya. Sedetiknya pria itu tersenyum miring.

—The Difference—

Myung Soo memakai kekuatan yang baru ia dapat ditubuhnya. Berpindah tempat dalam waktu yang singkat. Laki-laki itu hanya perlu berfikir tentang suatu tempat dan Myung Soo akan berpindah saat itu juga.

“ini menyenangkan” Myung Soo memperhatikan pantulan dirinya didalam cermin. Ia lihat senyum miringnya disana. Bahkan sekarang Myung Soo sudah dapat mengendalikan warna matanya.

Tangan kiri laki-laki itu terangkat. Ia menggulung pakaian lengan panjangnya sampai ke lengan atas. Ia melihat pantulan simbol hitam yang tercetak jelas dilengannya. Simbol yang berwarna hitam berbentuk segitiga dengan lingkaran-lingkaran kecil didalamnya. Ia menyentuh simbol itu.

Ia belum mengerti dengan arti simbol yang berada dilengan kirinya. Mungkin semacam identitas diri.

“bukankah Myung Soo sangat dekat dengan Hyena? Aku fikir mereka memiliki hubungan yang khusus. Ternyata tidak”

“ya, kita tidak pernah tau”

“jadi Jongin dan Hyena benar-benar ada hubungan khusus?”

“mungkin”

“tapi sepertinya itu benar. Kau bisa melihatnya? Hyena benar-benar licik. Dia tidak berfikir bagaimana perasaan Myung Soo sama sekali”

Myung Soo mengernyit kearah pintu yang tertutup. Pria itu kembali menurunkan gulungan lengannya. Ia berjalan kearah pintu dan mendengarkan pembicaraan dua orang gadis itu.

“wanita murahan!”

Myung Soo semakin mengkerutkan dahinya. Menunjukkan ekspresi terkejut dengan ucapan yang baru saja ia dengar. Myung Soo baru saja ingin membuka pintu itu tapi—

“itu kesempatan yang dimiliki Hyena. Myung Soo sudah meninggal dan ia bisa memiliki peluang besar dengan Jongin. Bukankah begitu?”

“tidak kusangka. Wajahnya cantik dan lembut tapi hatinya sangat licik”

Tangan Myung Soo benar-benar memutar knop pintu. Tapi yang dilihatnya, dua gadis itu sudah berjalan menjauh.

Hanya perasaannya atau tidak, tapi ia benar-benar ingin mendengar cerita dari dua gadis tadi. Siapa Myung Soo? Siapa Hyena? Dan siapa Jongin? Sepertinya pria itu benar-benar merasa tertarik.

—The Difference—

Ditempatnya Jongin masih setia duduk memandang jendela transparan yang ditutupi tirai tipis berwarna putih. Ia hanya bisa melihat bayangan orang yang berlalu lalang dibalik jendela kaca itu. Harus apa dia untuk meyakinkan gadis itu.

Apa ada yang salah dengannya?

Kenapa Hyena sepertinya menghindarinya?

Atau ini hanya perasaannya saja?

“Jongin?”

Pria itu berbalik saat ada yang memanggilnya. Dahinya berkerut saat melihat kehadiran gadis lain.

“kau disini? Aku mencari mu”

Namjoo mendudukan dirinya disamping Jongin. Sedangkan pria itu, dengan dinginnya mengalihkan pandangannya kearah lain.

“apa tujuan mu?”

“tidak ada”

Jongin memutar bola matanya malas. Ia berdiri dan pergi dari keluar ruangan. Menjauh dari Namjoo atau siapapun yang sedang berada didekatnya. Jongin sedang tidak berselara untuk berada disekitar manusia. Pria itu terlalau malas dan ingin menyendiri.

“kau mau pergi?” tanya Namjoo yang juga ikut berdiri, “Kim Jong In!”

Jongin tidak peduli. Ia tetap melangkahkan kakinya keluar ruangan.

“aku menyukaimu!”

Langkah Jongin terhenti diambang pintu.

“kau bisa melihat ku? Bukan sebagai gadis yang selalu mengejar perhatian mu setiap hari. Aku ingin kau melihat ku sebagai orang yang—“

“kau fikir aku peduli?” tanya Jongin dingin. Memutus ucapan Namjoo yang gadis itu katakan dari hati. Dengan suara yang pelan tapi begitu menusuk pendengaran gadis itu. Rasanya seperti tertusuk serpihan serbuk besi yang tajam.

Jongin tetap bertahan diposisinya. Ia tidak berbalik sama sekali kearah Namjoo.

“kau akan menyesal Namjoo. Jauhi aku sebelum semuanya terlambat”

Dan dengan kalimat dinginnya itu—Jongin benar-benar melenggangkan kakinya pergi. Tidak peduli sama sekali dengan ucapannya yang sangat menyinggung. Tidak menghargai sama sekali terhadap perasaan Namjoo.

Namjoo mengepalkan tangannya kuat. Matanya tajam melihat kearah pintu walaupun Jongin sudah tidak berada disana lagi. Tatapannya menyimpan beribu dendam yang tertahan didalam hatinya. Bukan dengan Jongin, tapi dengan Hyena.

“apa karena Hyena?? Karena Hyena kau menolakku??”

—The Difference—

Dari dalam ruangan ia bisa melihat bagaimana langit malam yang terlihat bersih dan dingin. Ya, setidaknya jika Luhan pergi keluar udara yang dingin akan menyapa lembut permukaan kulitnya. Membuat kulit pucatnya menjadi semakin pucat.

Ia diam. Terduduk didalam ruang kelasnya yang sepi. Jam kuliah sudah usai sejak 2 jam yang lalu. Duduk menyendiri didalam ruangan yang gelap. Hanya cahaya dari luar yang menerangi beberapa kursi dan meja bagian tengah dari jendela. Luhan sendiri duduk di bagian depan.

Musim dingin kali ini begitu panjang bagi Luhan. Seperti tidak memiliki awal dan akhir. Terus berjalan sepanjang waktu.

Ia mengalihkan pandangannya pada papan tulis yang dipenuhi dengan gambar berbagai bentuk sel-sel darah manusia. Yang berwarna merah pekat. Membuat Luhan teringat dengan kejadian 2 tahun yang lalu.

Luhan kehilangan kendalinya saat itu. Ia menghisap darah manusia secara terang-terangan didepan Jaena dan membuat gadis itu tercekat ditempatnya. Dan anehnya lagi, mata Luhan yang merah bertemu dengan iris mata Jaena yang hitam. Luhan masih ingat keterkejutan Jaena dengan penglihatannya.

Lagipula siapa yang tidak terkejut jika membayangkan berada diposisi Hyena?

Luhan yang terlihat begitu manis dan ramah. Tenang dan begitu lembut. Perhatian dan murah senyum kepada setiap orang. Wajahnya yang polos seperti anak kecil. Itu semua seperti topeng untuk Luhan.

Luhan tetaplah Luhan.

Itu semua hanya kamuflase semata. Didalam dirinya tetap terdapat jiwa pembunuh yang akan bekerja dimana, kapan, dan siapa saja. Termasuk untuk gadis yang mengisi hatinya saat itu.

Ia tiba-tiba tersenyum kecut mengingat gadis itu. Kenapa saat itu Luhan tidak membawa Jaena kerumahnya? Menyuntikkan beberapa racunnya dan membiarkan racun itu menyatu dengan darah Jaena yang tersisa.

Mungkin Jaena masih disini bersamanya. Disampingnya dan selalu tersenyum pada Luhan.

 

—The Difference—

“argghhh!!! Sial!!”

Myung Soo menendang tembok didepannya dengan keras. Ia menggeram frustasi. Ini sudah ketiga kalinya untuk Myung Soo selalu kembali ketampat seperti ini. Ada apa? Apa kekuatannya tidak bekerja lagi?

Myung Soo kembali memejamkan mata. Ia menenangkan dirinya dan berfikir tentang suatu tempat dimana ia bisa menemukan makanannya. Dimanapun, asal ia bisa mendapatkan darah disana.

Dan saat pria itu kembali berkonsentrasi—ia kembali membuka matanya. Myung Soo kembali menggeram seraya menarik rambutnya sendiri.

Bahkan otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Pikirannya hanya berwarna gelap. Tidak ada sebuah visualisasi tentang suatu tempat yang menyenangkan bagi Myung Soo.

Baiklah, jika sudah seperti Myung Soo hanya bisa melakukan satu cara.

Berkeliling—berjalan-jalan sekitar tempat ini.

Myung Soo bingung kenapa tempat ini seperti terus menarik dirinya. Hanya ada beberapa teropong bintang yang berukuran besar terpajang disini.

Myung Soo berjalan dengan malasnya keluar ruangan. Dan saat ia membuka pintu—

“arrgh!”Myung Soo meringis kesakitan. Kepalanya seperti di hujam dengan batu gunung. Berat dan sakit. Tepat saat itu juga matanya berubah merah. Myung Soo hampir tidak bisa menahan rasa laparnya.

Perubahan yang begitu cepat terjadi.

Sementara tidak jauh dari tempatnya—Luhan mengernyitkan dahinya. Mendengar suara erangan yang begitu jelas dipendengarannya—Luhan hanya berjalan menggunakan naluri.

Mata Luhan menyipit saat melihat keberadaan individu lain.

Luhan yakin orang itu adalah seorang pria. Pria itu mengerang—merintih kesakitan sambil memegang kepala. Badannya sedikit membungkuk dan hampir terjatuh jika Luhan tidak segera berlari cepat dan menahannya.

Myung Soo langsung menegapkan tubuhnya saat ia merasa ada tangan lain yang menahan tubuhnya. Seolah tidak terjadi apapun dengan dirinya. Semua kembali seperti biasanya. Warna mata Myung Soo yang begitu cepat berubah menjadi hitam. Ia justru mengernyit dengan kehadiran Luhan yang tiba-tiba berada didepannya.

Luhan—sempat terkejut dengan suhu tubuh Myung Soo yang begitu dingin—seperti es. Setidaknya jika ini karena musim dingin, harusnya itu tidak terlalu berpengaruh pada fluktuasi suhu manusia.

Entah lah. Tapi Luhan fikir suhu itu lebih dingin dari dirinya.

Myung Soo berjalan pergi melewati Luhan begitu saja. Ia juga tidak memberi bentuk hormatnya kepada pria itu. Ya, seperti tidak terjadi apapun.

—The Difference—

“darimana kau mendapat semua ini?”

“haha. Hyung meragukanku? Tentu saja dari sumber yang terpercaya”

“jadi Namjoo menyukai Jongin? Tapi Jongin menyukai Hyena. Ini menarik”

“aku rasa sudah jelas rencana kita”

Kris tersenyum miring, “tapi masalah kita belum selesai. Kita juga harus menemukan Myung Soo”

“biarkan itu menjadi pekerjaan Jongin. Kita hanya perlu mengurusi gadis itu”

“tidak Yeol. Myung Soo juga vampir seperti kita. Dan dia memiliki tanda yang sama dengan Jongin ditubuhnya”

Chanyeol mendengus kesal. Mengurusi masalah Hyena dan Jongin sudah merepotkan untuknya. Ditambah dengan Myung Soo.

“kenapa kita tidak memanggilnya?” ucap Chanyeol asal.

“apa?” Dahi Kris mengernyit.

“bukankah jika kita membutuhkan Jongin, kita selalu memanggilnya. Myung Soo dan Jongin sama. Kita gunakan cara yang sama seperti memanggil Jongin”

“aku ragu”

“apa yang hyung ragukan? Lagipula hyung yakin akan membunuh pria itu?”

“kita harus membunuhnya. Dia berbahaya Yeol”

“kita tidak perlu membunuhnya”

“apa yang kau katakan?”

“kita bisa membawa Myung Soo ikut menyatu dengan rencana kita”

Kris masih kebingungan dengan penjelasan Chanyeol. Apa pemikirannya sedangkal itu?

—The Difference—

Hyena tidak berniat keluar rumah malam ini. Ia lebih memilih untuk duduk di sofa ruang tengah—dengan lampu yang tidak dinyalakan. Tentu saja, Hyena masih menyalakan tv nya. Mata Hyena memang masih berpandang lurus dengan tv, tapi ia benar-benar tidak melihat acara hiburan disana. Pikirannya melayang.

Hyena menekuk kakinya—memeluknya dan menaruh dagunya diatas lutut. Ia menghela nafas kecil disana.

“Jongin”

Gumamannya menyebut satu nama.

“Kim Jong In”

Semakin jelas suaranya mengucapkan nama laki-laki itu.

Hyena menyembunyikan wajahnya di diantara celah kedua lututnya. Memberi nafas hangat yang saling bersentuhan dengan permukaan kulit kakinya.

Diluar mulai hujan deras. Hyena menaikkan kepalanya dan berpandang kearah jendela yang masih terbuka. Tirai tipisnya terbang mengikuti tiupan angin. Hyena fikir itu cukup menyeramkan. Angin dingin yang langsung masuk kedalam ruangan sempat membuat bulu romanya berdiri.

Ia memutuskan untuk menutup jendela itu rapat-rapat lalu menyalakan lampu ruangan.

Seperti ini lebih baik.

Tok tok tok

Pandangannya beralih pada pintu besar di balik tembok pembatas.

Tok tok tok

Hyena mengernyitkan dahinya. Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? Apalagi diluar sedang hujan lebat?

Kaki gadis itu melangkah kearah pintu. Hyena ragu untuk membuka pintu. Bagaimana jika yang datang adalah orang jahat? Tapi kenapa? Kenapa langkah kakinya selalu terus saja membuat langkah yang semakin dekat dengan pintu besar itu.

Bahkan sekarang Hyena sudah berdiri dibaliknya.

Tok tok tok

Ia sedikit tersentak saat ketukan pintu itu kembali terdengar.

“Hyena”

Panggilan yang begitu halus dari balik pintu membuatnya ia segera membuka pintu. Tangannya bekerja diluar kendali. Seakan memiliki jalan perintah tersendiri.

“Jo,, Jongin-a?”

Jongin tersenyum kecil. Dan dengan tiba-tiba—pria itu segera menarik Hyena dan memeluknya.

Tetesan air hujan masih turun dari rambut pria itu. Bajunya, rambutnya, kulitnya, semuanya basah. Yang secara otomatis membuat Hyena juga ikut basah. Pakaian Jongin yang basah segera menyatu dengan pakaian Hyena yang sebelumnya kering.

“Jongin?”

Tapi yang dilakukan pria itu adalah semakin memeluk Hyena erat. Membuat gadis itu sulit untuk bernafas.

“aku butuh jawaban itu” Jongin melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Hyena dengan tangannya yang basah dan juga dingin, “aku butuh jawaban itu sekarang”

TBC

33 thoughts on “The Difference [Chapter 4]

  1. Mereka saling jatuh cinta.
    Kris teruslah ragu jangan terpengaruh sama Chanyeol, jangan hanyut akan hasutannya. Mungkin Luhan bisa memberi jalan keluarnya akan masalah ini. Apa tidak ada yang mempunyai kekuatan menghapus ingatan, biasanya vampire mempunyai kekuatan itu.

  2. Loh kok luhan gak kenal sm myung soo ya
    Apa dia gak pernah liat mukanya myung soo gmna
    Pdhl udah ketemu

    Bgs thor🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s