Diposkan pada Adventure Book, Angst, Chapter, Drama, EXO-M, friendship, Hurt/Comfort, Lay, Lu Han, Sad Romance

Between Love & Friendship [Chapter 4-END]

request between love and friendship

Title                       :  Between Love & Friendship

Author                  : @ulfahanum1 (DreamGirl)

Main cast             :

  • Zhang Yi Xing a.k.a Lay
  • Im Yoon A
  • Xi Lu Han

Support Cast      :

  • Kim Kibum a.k.a Key

Rating                   : T

Genre                   : Romance , Friendship, sad

Length                  : Chapter

Disclaimer           : Thanks buat UNGE karena mau bikini covernya. End of STORY! *nangis

TT TT

Sad Ending *eh

Author Pov

Yoona terduduk lemas didepan meja belajarnya. Yoona menundukkan kepalanya, rasa bersalah terus bersarang diotaknya. Sedari tadi ia mengirimkan pesan untuk Luhan dan Lay, tapi dari keduanya tidak ada yang membalas pesan Yoona. Frustasi.

“Aarrgh! “ teriak Yoona kesal dan mengacak rambutnya.

“Mian….” Isak Yoona dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis dikegelapan dan kesunyian malam.

Malam dengan cepatnya berlalu dan sekarang sudah saatnya malam berganti menjadi siang. Semalaman Yoona tidak tidur, ia terus menangis meratapi kebodohan dirinya sendiri.

Drrt…Drrt…Drrt

Dengan malasnya Yoona meraih ponselnya dan membuka pesan yang dikirimkan oleh namajchingunya, Key.

From     : Kibum

Yoon, aku akan segera kerumahmu. Aku akan mengantarkanmu kekampus.

‘Shit!’ batin Yoona dan melempar ponselnya keatas ranjang dengan kasar. Yoona mengacak rambutnya frustasi. Ia benar benar tidak ingin diganggu kali ini walaupun pengganggunya sendiri adalah namjachingunya.

Drrt..Drrt..Drrt

Yoona menghela nafas panjang dan kembali membuka pesan yang ia yakini dari Key.

From     : Kibum

Kenapa tidak membalas pesanku? Kau masih tidur? Cepatlah bangun.. ppyong~ ppyong~.

Yoona mendecakkan lidahnya kesal. Belum sampai sehari ia berpacaran dengan Key, ia sudah merasa jenuh dengan sikap Key yang sepertinya sangat protektif kepadanya.

To           : Kibum

Tidak usah menjemputku. Aku akan pergi sendiri kekampus. Terimakasih atas tawarannya.

SEND!

Yoona memukul mukul kepalanya sendiri dengan ponselnya. Sekarang ia sadar tindakannya semalam adalah tindakan bodoh. Menerima Key menjadi namjachingunya walaupun sejujurnya ia suka dengan Key. Tapi berpacaran dengan Key diam-diam akan terasa lebih sulit. Mau tau mau, suka tidak suka Lay dan Luhan lambat laun akan mengetahui hal itu.

Drrt..Drrt…Drrt

“Do? “ teriak Yoona dan berjalan dengan wajah kusut menuju meja belajarnya tempat ia meletakkan ponselnya.

From     : Kibum

Baiklah. Sampai bertemu di Kampus honey. *kiss*

“Tsk.” Desis Yoona pelan dan lebih memilih menuju kekamar mandi untuk segera mebersihkan badannya.

TT TT

Lay dan Luhan tampak berjalan dengan begitu tenangnya memasuki kawasan kampusnya. Mereka berdua saling merangkul satu sama lainnya. Dengan senyuman yang hangat mereka berjalan, tidak ada dipikiran mereka sedikitpun mengenai semalam.

“Luhan-ah, kau ingin minum sesuatu? “ tawar Lay kepada Luhan.

“Aku ingin sesuatu yang bisa membuat hidungku merasakan sensasi aneh..” pinta Luhan. Lay tertawa geli, ucapan Luhan membuatnya ingin menangis karena tawa.

“Maksudmu sejenis cola? “ tanya Lay lagi dan tertawa terbahak-bahak mendapati ekspresi Luhan sekarang ini.

“Ah, benar. Aku lupa akan namanya..” ujar Luhan dan memasang wajah Innocent.

“Chakam, itu Yoona? “ tunjuk Lay pada seorang yeoja yang berjalan mendekati Lay dan juga Luhan.

“Haruskah kita pergi dan menjauh? “ cuap Luhan dengan wajah kusut.

“Kajja.” Lay segera menarik badan Luhan untuk segera menjauh dari Yoona yang semakin mendekati mereka.

“Lulu! XingXing! “ teriak Yoona yang membuat langkah Luhan dan juga Lay tertahan. Yang pertama kali membalikkan badannya menatap Yoona ialah Luhan yang kemudian disusul oleh Lay.

“Mwol? “ tanya Luhan dan Lay kompak.

“Semalam.. kalian kerumahku bukan? “ tanya Yoona dengan sedikit ragu.

“Tidak. “ ketus Luhan dan menyilangkan tangannya didada.

“Geotjimal..” sahut Yoona dan memperpendek jaraknya dengan Luhan dan Lay.

“Tidak. Kami sungguh-sungguh..” sambung Lay dengan wajah dingin.

“Mianhae..” hanya kata itu yang bisa diucapkan dari mulut Yoona.

“Cih. “ Luhan mendesis pelan dan menatap Yoona dengan wajah masam. Tapi tidak sedetik setelah itu. Lay dan Luhan langsung memeluk Yoona membuat Yoona tidak percaya dengan tingkah laku kedua sahabatnya.

“Ka..kalian…” Mata Yoona berkaca-kaca. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah juga.

“Bogoshiepo..” lirih Lay dan Luhan bersamaan.

“Kalian tidak marah kepadaku? “ Yoona membalas dekapan Luhan dan Lay dengan tangisan.

“Tidak. Dalam persahabatan tidak ada yang namanya marah..” jawab Luhan dengan tenangnya.

“Benarkah? Tapi tadi..” Yoona menyeka air matanya dengan kasar dan melepas dekapannya. Yoona menatap Lay dan Luhan dengan wajah cemberut.

“Tadi kami hanya mengerjaimu saja Yoona..” cetus Lay dan mengacak halus rambut Yoona pelan.

Yoona tersenyum lega mendengar kenyataan bahwa kedua sahabatnya tidak marah kepadanya atas apa yang diperbuatnya semalam. Tapi tetap saja, masih ada yang dicemaskan Yoona saat ini.

“Oh ya, saengil chukahamnida Yoona..” ujar Luhan sambil mengecup pipi kanan Yoona dengan lembut.

“Saengil Chukahamnida uri Yoona..” sambung Lay dan mengecup pipi kiri Yoona. Yoona hanya tersenyum dan memilih menggamit kedua tangan sahabatnya itu.

“Kita akan kemana? “ Lay sedikit bingung saat Yoona menyuruh Lay masuk kedalam mobilnya sendiri.

“Bukankah kita harus kuliah? “ cuap Luhan sedikit kebingungan dengan tingkah Yoona yang tiba-tiba saja memaksanya untuk pergi. Padahal belum sampai setengah jam Lay dan Luhan berada di Kampus.

“Masuk saja.” Jawab Yoona dan mendorong badan Luhan dengan sedikit paksa.

Yoona duduk dibangku belakang sedangkan Lay dan Luhan duduk didepan. Lay yang mengendarai mobil.

“Kita ke Mr. Boogie Café..” suruh Yoona dan menepuk pundak Lay. Lay mengangguk paham dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.

TT TT

Mr.Boogie Café

Yoona, Lay dan Luhan memasuki kawan Mr.Boogie Café yang besarnya cukup luas. Tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama sahabat.

“Jeogi, kami pesan 3 Cappuchinonya. Dan apa kalian menjual Cake? “ tanya Yoona kepada pelayan namja yang melayaninya.

“Tentu saja.” Jawab namja itu.

“Benarkah? Kalau begitu aku ingin memesan Cake juga..” cuap Yoona dan mengeluarkan kredit cardnya.

“Ne. “ seru sang pelayan dan menghilang didepan Yoona.

Yoona berjalan menuju meja yang sudah diisi Lay dan Luhan. Sedari tadi Luhan terus mengoceh menanyakan apa yang akan mereka lakukan di Café. Tidak biasanya Yoona mengajak Lay dan Luhan pergi apalagi disaat jam kuliah.

“Ini pesanan anda. Pelayan namja tadi meletakkan pesanan Yoona diatas meja membuat Lay dan Luhan tersenyum penuh arti.

“Kita rayakan ulang tahunku disini..” Yoona meletakkan Cake tepat didedepannya dan tersenyum riang. Lay dan Luhan saling tatap, mereka tidak mengerti dengan maksud Yoona.

“Nyanyikan aku..” pinta Yoona dengan sedikit ber-aegyo.

“Nyanyi apa? “ sahut Luhan tak mengerti dengan ucapan Yoona. Yoona menggembungkan pipinya kesal.

“Saengil chukahamnida…” ujar Lay memulai bernyanyi untuk Yoona.

“Saengil chukahamnida…”

“Saranghaneun uri Yoona..”

“Saengil Chukahamnida…” teriak Luhan dan Lay dibaris akhir nyanyian.

“Yeah! “ teriak Yoona sambil bertepuk tangan meriah.

“Kau bahagia? “ tanya Luhan sambil memerhatikan Yoona yang sibuk memotong Cake.

“Tentu…” jawab Yoona dan memberikan potongan pertama untuk Luhan. Lay mendecakkan lidahnya kesal.

“XingXing, mian..” bujuk Yoona dan menyuapi Lay cake yang akan dimasukkan kemulutnya tadi.

“Hehe..” Lay tersenyum gembira dan melahap cake yang diserahkan Yoona dengan senang hati.

Drrrt…Drrrt….Drrtt…

Yoona menatap datar kearah ponsel yang ia letakkan diatas meja. Lay dan Luhan saling bertukar pandangan, Yoona hanya mendesah dan memilih mengabaikan ponselnya yang sedari tadi terus berkedap-kedip.

“Yoon, ada telfon..” ujar Lay sambil memandang kearah ponsel Yoona.

“Biarkan saja, aku ingin menikmati waktuku bersama kedua sahabatku..” balas Yoona dan bergedik kecut.

Diam-diam Lay menatap kearah ponsel Yoona. Dilayar ponsel Yoona tertera jelas nama siapa yang menelfon Yoona.

‘Kibum..’ batin Lay dan menghempaskan badannya kesandaran kursi membuat mata Yoona dan Luhan menatap Lay dengan bingung.

“Waeyo Lay? “ tanya Luhan yang mengerti akan tingkah Lay saat ini.

“Aku ingin kekamar mandi. Kau ikut? “ celetuk Lay dan bangkit dari posisi duduknya.

“Baiklah, aku ikut..” jawab Luhan sambil mengekor dibelakang Lay.

“Aish, sial..” decak Yoona kesal dan meraih ponselnya.

“Yeoboseyo? “ sinis Yoona.

“Chagi, kau ada dimana sekarang? “ tanya Key dari ujung seberang dengan nada lembut.

“Aku sedang bersama temanku..” jawab Yoona dengan singkat.

“Oddi? “ tanya Key lagi.

“Berhentilah bertanya! “ bentak Yoona yang kesal dengan Key.

“Cha..chagi.. “ kata Key dengan gugup.

“Aku sibuk. Nanti saja telfon aku lagi. Biip..” Yoona segera mengakhiri panggilan Key dan mematikan ponselnya dengan segera.

Dikamar mandi , Luhan menatap bingung Lay yang wajahnya tiba-tiba berubah menjadi cemberut dan tak bersemangat sedikitpun.

“Kau baik-baik saja? “ tanya Luhan sambil menyenggol lengan Lay yang sekarang sedang menata penampilannya didepan kaca.

“Aku ingin jujur kepadamu..” ucap Lay tiba-tiba dan memegang pundak Luhan dengan kuat.

“Mwo? “ Luhan menatap lurus kedepan, menatap Lay dengan wajah serius.

“Aku menyukai Yoona..” seru Lay yang membuat Luhan sontak kaget.

“Mworago? “ ulang Luhan dan membanting tangan Lay dengan keras.

“Aku menyukai Yoona. Kau juga kan? “ Luhan terdiam saat Lay menanyakan hal itu kepadanya. Hal yang selama ini sangat susah untuk ia sembunyikan.

“Jawab aku! Kau juga kan?  Aku mengalah. Sekeras apapun aku mengatakan aku menyukai Yoona, pada akhirnya Yoona tidak akan berpihak kepada aku maupun kau..” jelas Lay dengan wajah dingin.

“Ne. Aku menyukainya. Dan apa maksud ucapanmu?  “ tanya Luhan tak mengerti sama sekali dengan ucapan Lay barusan.

“Yoona..Yoona…Yoona sudah memiliki Kibum..” ucap Lay yang membuat Luhan mengernyitkan dahinya bingung.

“Kibum siapa? “ Luhan mencengkram pundak Lay yang sekarang sudah tertunduk lemas.

“Molla! “ erang Lay dan menghempaskan tangan Luhan dari pundaknya.

“Jadi, cinta kita….” Luhan tersenyum miris didepan kaca. Ia tak sanggup lagi menyambung perkataannya karena tahu akan jawaban Lay nanti.

“Gwenchana..” seru Luhan dan merangkul hangat Lay.

“Mulai sekarang kita harus berhenti menyukainya..” Luhan memukul kepala Lay lembut yang disambut Lay dengan tatapan nanar.

“Kau dan aku harus mencari penggantinya dengan cepat..” ujar Luhan memberi semangat.

“Ne..” lirih Lay pelan.

“Kajja, kita keluar. “ ajak Luhan dan terus merangkul hangat Lay.

Lay dan Luhan kembali ketempat ia meninggalkan Yoona. Mereka berdua bersikap santai, seperti tidak ada yang terjadi. Raut wajah Yoona yang awalnya cemberut berubah drastis saat menyadari Lay dan Luhan sudah kembali.

“Kenapa lama? “ gerutu Yoona dan memicingkan matanya.

“Mian..” jawab Lay sedikit tersenyum paksa.

Author Pov End

Luhan Pov

Kecewa, kata pertama yang bertengger dikepalaku saat mengetahui bahwa Lay juga menyukai Yoona. Yang paling mengecewakanku ialah kenyataan bahwa Yoona sudah memiliki Kibum, entah siapa Kibum akupun tidak tahu.

Mala mini aku dan Lay sibuk dikamar masing-masing. Aku sibuk dengan PSPku sedangkan Lay sibuk dengan Laptopnya. Mengutak atik laptopnya dengan wajah datar dan kusam.

“Yixing! “ teriakku dari kamarku.

“Hmm? “ balas Lay sedikit berteriak dari kamarnya.

“Kau sibuk? “ tanyaku dengan nada sedikit merendah dari awalnya.

“Jogeum..” jawabnya. Tiba-tiba saja Lay berdiri diambang pintu kamarku sambil meneteng Laptopnya. Aku tersenyum merekah dan menyuruhnya ikut membaringkan badan diranjangku. Berbagi ranjang berdua, tidak masalah bagiku.

Diam dan senyap. Kami berdua tidak ada yang ingin mengeluarkan suara. Lay terus berkutat dengan Laptopnya. Kutatap sekilas layar laptopnya, ia sedang mengerjakan tugas.

“Ingin kubantu? “ tawarku kepadanya.

“Kerjakan saja tugasmu..” celetuknya membuatku memukul kepalanya dengan keras.

“YA! Appo…” ringisnya dan membalas pukulanku tepat dikepalaku.

“YA! “ balasku sembari berdiri diatas kasur.

“Kajja! “ ajakku dan meloncat-loncat tak karuan diatas ranjangku sembari memposisikan kedua tangan mengepal.

“Okay…” seringai Lay dan mengenyampingkan PSP dan Laptop dari atas ranjang.

Bruk!

Bruk!

Sebuah pukulan hangat tepat mendarat dikepalaku. Sial. Lay memulainya terlebih dahulu dengan menggunakan bantal. Aku melirik guling yang ada dikakiku, kuraih guling itu dan kulayangkan kewajah Lay.

“YA! “ teriaknya tidak terima dengan perlakuanku.

“Muahahahaha…” gelak tawaku dan memegang perutku yang terasa kram karena tertawa.

Malam ini, akan kuhabiskan waktuku bertengkar dengan Lay untuk menghilangkan rasa kecewa dan pedih dihatiku terhadap Yoona.

TT TT

Satu hal yang sampai sekarang masih kupikirkan, Lay mengaku ia mencintai Yoona tapi tidak ada rasa marah sedikitpun dihatiku. Bahkan untuk meninggalkan Lay dan memutuskan persahabatanpun tidak ada.

“Luhan…” panggil seseorang.

“Hm? “ tanyaku dan sibuk memakan sarapanku yang dibuat oleh Lay.

“Jika aku meninggal suatu saat nantinya, apa kau akan tetap mengingatku? “ tanya Lay.

Deeg!

Darahku berdesir seketika mendengar ucapannya. Jantungku berdetak tak karuan. Apa maksudnya?

“M..m..mwo? “ tanyaku gugup. Tanganku tiba-tiba saja bergetar.

“Anio. Lupakan..” ucapnya dan tersenyum tipis kearahku.

Tunggu, ada yang tidak beres dengannya. Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? Apa dia ingin pergi meninggalkanku? Perasaan apa ini yang  ada dilubuk hatiku? Perasaan takut akan ditinggal oleh Lay. Perasaan yang belum pernah kurasakan. Aku benar-benar takut.

“….” Aku menatap nanar kearah makananku. Aku masih belum bisa mencerna ucapan Lay.

“Lekas habiskan makananmu..” tuturnya dan menepuk pundakku.

“Ne..” ujarku dengan wajah pucat dan juga ketakutan.

Luhan Pov End

Lay Pov

Aku dan Luhan memasuki kawasan kampus kami yang megah ini. Disekelilingku dan juga Luhan sudah banyak para yeoja berkumpul, menatap kami berdua dengan wajah takjub.

“Annyeong..” sapaku ramah kepada yeoja-yeoja ini.

“Kyaaaaaaaa….” Teriakan histerislah yang menyambut sapaan ramahku.

“Lay, kau dulu saja! Aku akan menyusulmu..” teriak Luhan dan mengisyaratkanku untuk dahulu.

“Ne..” jawabku dan mulai melangkahkan kakiku memasuki kawasan Kampus.

Aku berjalan dengan kepala yang ditundukkan. Awalnya aku bertujuan untuk kekelas, tapi semuanya kutunda karena aku ingin mencari udara segara dahulu ditaman belakang kampus yang sangat sepi.

Kudengar sebuah teriakan dari seorang yeoja yang tak jauh dariku. Tunggu, itu Yoona yang ditarik-tarik oleh beberap orang.

“Yoona! “ teriakku dan berlari mendekati Yoona yang tampak ketakutan.

“Lay! “ balas Yoona berteriak, menatapku dengan tatapan memohon.

“YA! Lepaskan! “ ucapku dan melemparkan tasku ketanah.

“Bocah tengil, tidak usah ikut campur! “ ketus seorang namja bertubuh lebih besar dariku.

“Mwo? Bocah tengil kau bilang? “ balasku dan menyingsingkan lengan baju kemejaku keatas.

Brukk!

Kulayangkan sebuah pukulan hangat kewajah namja itu yang kuketahui bernama Kris.

“Sial..” decaknya dan bangkit dari posisi awalnya.

Brruk!

Brruk!

Semua namja yang tadi mengerumuni Yoona kini beralih kearahku yang jatuh tersungkur ditanah. Kurasakan darah segar keluar dari ujung bibirku. Aku tersenyum tipis. Ini akhir hayatku bukan?

PLAK!

Tamparan keras berhasil melekat diwajahku. Aku lagi-lagi hanya tersenyum tipis, aku tidak ingin melawan. Percuma aku melawan jika pada akhirnya aku memang akan mati. Yoona berteriak histeris sambil mencoba menggapaiku yang masih telentang ditanah.

“Hajima! Hajima! “ isak Yoona.

“Hajimayo! “ isak Yoona dengan kencang.

Bruk!

Bruk!

Bruk!

Pukulan bertubi-tubi mendarat mulus diperut, kepalaku. Rasa sakit sekarang menjalan ditubuhku. Darah segar sekang ikut keluar dari mulut dan hidungku.

“HAJIMA! “ tahan Yoona saat seorang namja bertubuh besar sama seperti Kris yang akan melayangkan kayu berukuran besar ketengkuk belakangku.

“LAY! “ teriak seseorang. Luhan. Ini suara Luhan. Pandanganku tertuju pada Luhan yang sekarang sudah berlari menuju kearahku.

“Lu..han..” lirihku pelan dan tersenyum.

Mata dan kepalaku terasa sangat berat. Perlahan namun pasti mata ini tertutup dengan rapatnya.

Lay Pov End

Yoona Pov

Lay tergeletak ditanah dengan darah dimana-mana. Sungguh, ketakutan sekarang menjalar ditubuhku. Belum lagi dengan penyakit Lay yang hanya aku sendiri mengatahuinya.

Aku menghampiri Lay yang sudah tak sadarkan diri ditanah, sedangkan Luhan sibuk berkelahi dengan namja-namja yang mengangguku tadi. Air mataku terus turun saat mengetahui denyut nadi Lay semakin melemah.

“Kumohon bertahanlan..” pintaku dengan isakan tangis.

“Yoona, Lay..” Luhan segera menghampiriku setelah menyingkirkan namja-namja tadi.

“Luhan, Lay dia harus dibawa kerumah sakit..” ujarku kepada Luhan.

“Yoona…” mulut Lay tergerak sedikit membuatku dan Luhan menatapnya dengan cemas.

“Lay, bertahanlah sebentar. Kami akan membawamu ke Rumah Sakit..” ucap Luhan dan berusaha mengangkat badan Lay.

“Anio… Aku..Ohook..” Lay terbatuk. Darah kembali keluar dari mulutnya, membuatku semakin cemas.

“Saranghae na Chingu…” bisik Lay dengan segores senyuman dibibirnya. Tangan Lay terjatuh, aku berteriak histeris saat menyadari nafasnya tidak keluar dari hidungnya.

“LAY! KAJIMA! “ erang Luhan dan memeluk badan Lay.

“Lay….” Isakku dan merengkuh badan Luhan dan Lay.

TT TT

 

Suara teriakan dan isakan tangis terdengar jelas ditelingaku. Sekarang aku dan Luhan tengah berada dipemakaman untuk memakamkan Lay yang sudah pergi meninggalkanku dan juga Luhan.

“Saranghae Lay, na chingu…” gumamku dan mengusap air mataku yang terus jatuh. Luhan yang ada disampingku merangkulku dan membiarkanku menangis didekapannya.

“Ini salahku..” sesalku.

“Anio..” ujar Luhan dan mengelus punggung badanku.

“Karenaku ia pergi…” sesalku lagi.

“Ani..” ucap Luhan menenangkanku.

“Yoona-ya, uljima..” lirih Luhan.

“Uljima…” lirih Luhan lagi. Tak terasa setetes air jatuh membasahi rambutku. Aku yakin ini adalah air mata Luhan.

“Uljima…” isak Luhan dan terus mendekapku.

“Mianhae Lay…” lirihku dan Luhan bersamaan sambil menatap nanar gundukan tanah didepan kami.

TT TT

Sudah tiga tahun kepergian Lay. Hari ini aku bemaksud akan mengunjungi pemakamannya. Dengan setelah berwarna hitam aku pergi kepemakaman Lay.

Semenjak Lay meninggal, hubunganku dan Luhan terputus begitu saja. Aku sedikit kecewa saat itu karena aku kehilangan dua sahabatku sekaligus. Yang kudengar dari teman kampusku, Luhan kembali ke Cina melanjutkan kuliahnya disana. Hubunganku dan Key juga sudah berakhir beberapa bulan setelah Lay meninggal.

“Bogoshiepo..” tidak terasa kata-kata itu keluar dari mulutku.

Kakiku terus membawaku kegundukan tanah tempat peristirahatan terkahir Lay. Dari jauh aku bisa melihat sosok namja yang sangat kukenal tengah menutup matanya dan berdo’a didepan pemakaman Lay.

“Luhan…” lirihku dan menjongkokkan badanku disamping Luhan.

“Hmm? “ Luhan membuka matanya perlahan. Ia tampak kaget saat menyadari keberadaanku.

Dengan cepat kupeluk badannya, kulepas rasa rinduku kepadanya.

“Jangan tinggalkan aku lagi Luhan.. cukup hanya Lay..” cuapku kepadanya.

“eoh..” jawabnya pelan dan membalas dekapanku.

“Uljima, jika Lay melihatnya.. Lay bisa marah kepadaku karena tidak menjaga sahabat kesayangannya dengan baik..” tutur Luhan yang langsung kuturuti.

Aku dan Luhan kembali memanjatkan do’a untuk Lay disurga sana. Walau hatiku masih terasa pedih atas kehilangannya, tapi setidaknya ada Luhan disampingku saat ini.

“Lulu, ada yang ingin kubicarakan kepadamu..” seruku kepadanya saat kami duduk dibawah pohon rindang didekat pemakaman Lay.

“Mwol Yoon? “ tanyanya dan menatapku sekilas yang sibuk menatap lurus kedepan.

“Sebenarnya Lay meninggal karena penyakitnya..” ucapku yang membuat Luhan menatapku tak percaya.

“Lay mengidap penyakit Hemofilia dari kecil. Hanya aku yang tahu..” ujarku kepadanya.

“Mwo? Hemofilia? “ tanyanya.

“Ne. Penyakit darah sukar membeku. Jika kita bisa membawanya kerumah sakit saat itu, semuanya percuma. Darah yang keluar terlalu banyak dan sukar membeku. Belum lagi susah untuk mencari donor darah untuk Lay..” jelasku panjang lebar.

“Geurae? “ ucap Luhan dengan suara lemah.

“eoh..” cuapku.

“Kurasa Lay sekarang bahagia disana..” Luhan menatap keatas langit biru sambil tersenyum.

“Maja..” sahutku dan ikut menatap langit biru. Membayangkan wajah Lay ada dilangit sana sambil tersenyum kearah kami.

“Saranghae Zhang Yixing..” ucapku dan Luhan bersamaan dan tersenyum tipis.

Yoona Pov End

-THE END-

Note : Mian karena baru bisa nge-post. Mian kalau ceritanya gaje atau apa. Mian kalau typonya dimana-mana. Dan mohon Commentnya. Gomawo. *bow with Cast* Rencananya autho mau post sequelnya itupun kalau setuju. ^^

 

Iklan

11 tanggapan untuk “Between Love & Friendship [Chapter 4-END]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s