More Than Friend (Sequel Between Love & Friendship)

more-than-friend

 

Title                 :  More Than Friend

Author             : @ulfahanum1 (DreamGirl)

Main cast        :

  • Im Yoon A
  • Lu Han

Support Cast   :

  • Kim Jongin

Rating              : G/ SU

Genre              : Fluff, General, Life

Length             : Vignette

COVER BY    : Xiao Art

Disclaimer       : Nih, author balik dengan sequel ‘Between Love & Friendship’. Maaf sebesar maaf kalau misalnya nih cerita gaje dan typo(s) dimana-mana. Jangan lupa Commentnya. Hargai jerih payah author yang bersusah payah ngebikinnya.

Happy Reading

Author Pov

Yoona berjalan pelan menyelusuri gundukan-gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir semua oran nantinya jika ajal sudah menjemput. Yoona menjongkokkan badannya dan menatap gundukan tanah yang tepat berada didedapannya saat ini. Yoona tersenyum tipis dan meletakkan rangkaian bungan kesukaan sahabat kesayangannya yang sekarang sudah berbahagia disurga.

“Yixing-ah..” lirih Yoona pelan dan tersenyum simpul.

“……” Yoona menutup matanya perlahan. Berdo’a kepada Tuhan untuk selalu melindungi sahabatnya disana.

Setelah berdo’a Yoona kembali pergi meninggalkan Lay. Ia harus kerja, ia tidak punya waktu untuk membuang waktunya lagi karena sekarang ia sudah menjadi guru TK, seperti cita-cita Lay dahulu.

™™™

Yoona menyisipkan rambutnya kebelakang telinganya. Memandang lurus kedepan dengan segores senyuman dibibirnya. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya saat ia memasuki kawasan tempat ia mengajar.

“Songsaenim! “ teriak seorang yeoja kecil berambut sebahu.

“Annyeong Hyanggi-ah..” sapa Yoona dan mengelus puncak kepala Hyanggi, nama yeoja yang meneriaki Yoona tadi.

“Songsaenim, ada Songsaenim baru yang akan mengajar disini. Dia sangatlah tampan..” puja-puji Hyanggi membuat Yoona hanya tersenyum dan memilih tidak membalas perkataan murid kesayangannya itu.

“Kajja. Sebentar lagi akan masuk..” ajak Yoona dan menggenggam tangan kecil dan lembut milik Hyanggi.

™™™

Yoona berdiri diambang pintu Kantor Guru, menatap heran kedalam Kantor Guru yang ramai akan murid-murid. Yoona melirik sekilas siapa yang muridnya lihat, ternyata hanya seorang namja bertuubuh jangkung dan berkulit sedikit hitam.

“…” Yoona hanya diam membisu dan masuk kedalam Kantor Guru, meletakkan tasnya dengan diam dimeja khusus untuknya.

“Annyeonghaseyo..” sapa seseorang membuat Yoona menatap kearah orang yang menyapa.

“Annyeonghaseyo..” balas Yoona dan membungkukkan sedikit badannya membuat namja itu tersenyum tipis kearah Yoona.

“Kim Jongin imnida.” Sahut namja berkulit sedikit hitam itu.

“Yoona. Im Yoona..” seru Yoona dan langsung pergi begitu saja, Yoona tidak ingin mendengar lebih banyak lagi celetoh namja yang ia baru kenali itu.

Yoona berjalan dengan wajah yang ditegakkan dan terus tersenyum manis kearah murid-muridnya yang menurutnya sangatlah lucu dan manis. Tidak salah Lay selalu menginginkan menjadi guru TK agar bisa tertawa lepas dan tersenyum ria jika bersama anak kecil.

Yoona masuk kedalam ruangan kelas yang sudah dipenuhi dengan murid-murid yang beratakan perempuan. Pandangan Yoona tidak luput dari muridnya itu, seketika Yoona kembali tersenyum dan menyapa muridnya dengan penuh semangat dan ramah.

“Annyeonghaseyo..” sapa Yoona dan meletakkan bukunya diatas meja.

“Songsaenim Annyeonghaseyo..” balas murid-murid Yoona dan membungkukkan sedikit badannya, memberi hormat kepada Yoona.

“Jadi kita akan belajar menggambar hari ini, kalian bawa pensil warna bukan? “ tanya Yoona dan mulai berjalan mengelilingi meja muridnya.

“Ne Songsaenim..” sahut para murid dengan semangat.

Semua murid sibuk dengan buku bergambarnya, ada yang mewarnai dengan ketentuan sebenarnya dan ada yang melenceng dari ketentuannya. Tapi Yoona tidak keberatan dengan hal yang melenceng itu, baginya ‘Kreatifitas’ selalu menjadi nomor satu.

“Jongin songsaenim! “ teriak Hyanggi saat melihat sosok Jongin diambang pintu ruang kelas. Yoona seketika menoleh kearah Jongin dan menatapnya bingung.

“…..” Jongin melemparkan senyuman manisnya kearah Yoona yang ditanggapi Yoona dengan naiknya salah satu alis matanya.

Suasana kelas yang awalnya tenang sekarang berubah menjadi ricuh. Yoona menghela nafasnya, dengan segera ia mengambil bukunya yang ada diatas meja. Yoona melangkahkan tungkai kakinya keluar kelas. Ia tidak suka jika jam pelajarannya diganggu apalagi dengan Jongin yang baru saja bekerja disana.

Tidak ada yang menghiraukan Yoona termasuk Jongin sendiri, semuanya sibuk mendekati Jongin. Yoona mendecakkan lidahnya kesal. Baru kali ini ia merasakan dicampakkan oleh orang ya ia sukai. Seumur-umurnya ia belum pernah merasakan hal ini, Lay dan Luhan selalu menjadikan Yoona nomor satu tapi murid-muridnya memperduakan Yoona karena Jongin.

Yoona sampai ditaman TK yang didesain dengan kesan manis dan imut. Mata Yoona tertuju pada ayunan yang kosong. Yoona mendudukkan dirinya disalah satu ayunan dan mendorongnya sendiri. Yoona memandang langit biru yang sekarang tiba-tiba saja berubah menjadi mendung.

“Aigoo..” lenguh Yoona dan kembali menyibukkan dirinya sendiri bermain ayunan.

Ingatan tentang Lay dan Luhan kembali bersarang dikepala Yoona. Dulu, saat mereka masih berumur 6 tahun, ada seseorang yang mendorong ayunan yang duduki Yoona. Tapi sekarang? Kosong. Tidak ada seorangpun yang mendorong Yoona.

“Bogoshiepo..” lirih Yoona dan menekukkan kepalanya kebawah. Yoona merindukan Lay yang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya dan Luhan yang hampir sebulan ini kembali menghilang dan tidak pernah mengabari Yoona.

“Yoona-sshi? “ ujar seseorang menyebut nama Yoona.

“Ne? “ seru Yoona dan memandang kearah orang yang memanggilnya.

“Mian karena telah mengganggu proses pembelajaranmu..” sahut Jongin, namja yang sekarang duduk diayunan tepat disebelah Yoona.

“Gwenchana.” Jawab Yoona sedikit tidak bersemangat. Apalagi harus melihat Jongin yang baru bekerja disana dan terlalu sok perduli kepada Yoona.

“Mianhamnida..” ulang Jongin lagi dengan diikuti senyuman tipis dibibirnya.

“Eoh..” balas Yoona singkat dan kembali mengayun diudara dan sesekali bersenandung kecil.

“Yoona-sshi, apa kau mengenalku sebelumnya? “ tanya Jongin yang membuat Yoona menghentikan aktivitasnya.

“Tidak. “ jawab Yoona datar.

“Aku hoobaemu dulu saat masih duduk dibangku SMA dulu..” cuap Jongin menjelaskan.

“Benarkah? Maaf. Tapi aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu..” seru Yoona yang membuat Jongin tersenyum getir.

“Ne, kau memang begitu Yoona. Kau hanya perduli kepada dua sahabatmu yang selalu mengekorimu kemenapun bukan? Dan oh ya, dimana mereka sekarang? Mereka tidak mengekorimu? “ ledek Jongin yang membuat wajah Yoona berubah masam.

“Diamlah! Tidak usah memperburuk sahabatku seperti itu. Setidaknya sahabatku lebih baik dari pada kau Kim Jongin-sshi! “ tukas Yoona bangkit dari duduknya. Menatap sekilas Jongin dengan tatapan sengit dan segera pergi meninggalkan Jongin yang hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis.

Author Pov End

Yoona Pov

Hari yang sungguh sangat melelahkan bagiku. Tidak biasanya aku terus mengeluh disaat aku mengajar, tapi setelah adanya Jongin sikulit hitam aku merasa lelah dan tidak berselara melakukan apapun. Belum lagi semua murid yeojaku tergila-gila dengannya. Apa bagusnya Jongin? Bagiku Lay dan Luhan tetap nomor 1. Tidak ada yang bisa menyaingi ‘Baby Face’ Luhan dan ‘Sweet Smile and Dimple’ Lay termasuk Kim Jongin. Mengesalkan.

Akhirnya jam pulang yang kutunggu-tunggu datang. Aku segera mengemasi barang-barangku untuk segera pulang. Untuk hari ini, lagi-lagi aku akan sendiri pulang. Aku meraih tasku dan berjalan dengan cepat sebelum Jongin kembali mencegatku dan mencemooh sahabatku.

“Yoona! “teriak seseorang yang kuyakini itu suara Jongin. Aku semakin mempercepat jalanku hingga kurasakan sebuah tangan kekar menahan tanganku membuatku mau tak mau menghentikan langkahku.

“Lepaskan! Apa yang kau lakukan? “ bentakku kesal kepada Jongin.

“Ikut aku..” lenguhnya pelan dan menarikku dengan paksa. Sungguh, Jongin orang pertama yang mau menarikku seperti ini, penuh paksaan.

“Cepat lepaskan aku! “ pintaku kepadanya. Jongin hanya diam dan semakin mempererat cengkramannya ditanganku.

“Shit! “ desisku dan berusaha mengontrol amarahku agar tidak meledak.

Jongin tiba-tiba saja menyingkirkan tangannya dari pergelangan tanganku saat kami sudah sampai disudut sekolah. Jongin menatapku lekat seolah-olah ingin menerkamku saat ini. Aku sedikit berjalan mundur menjauhi tatapan ganasnya saat ini. Takut, itulah kata yang terus berasarang diotakku saat melihat kilatan tajam dimatanya.

“Wa..wae? “ tanyaku gugup dan memilih untuk enyah dari depannya secepatnya. Sial, Jongin kembali menahan lenganku.

“YA! “ teriakku dan menarik lenganku kasar darinya. Aku takut, sangat takut.

“Jadilah yeojachinguku..” ucapnya tiba-tiba dan mendekatkan wajahnya kewajahku membuatku seketika mengalihkan wajahku kelain arah.

“Tidak akan..” celetukku. Ia gila bukan? Aku tidak mengenalnya tapi kenapa ia dengan segampang itu mengutarakan cintanya kepadaku?

“Waeyo? Bukankah kau sudah tidak memiliki benteng untuk berlindung saat ini. Luhan di Cina, Lay sudah meninggal.. Sekarang giliranku yang diperuntungkan untuk melindungimu..” ujarnya panjang lebar. Mataku memanas seketika, entah kenapa hatiku terasa pedih saat seseorang menyebut-nyebut nama Lay yang sekarang sudah meninggal.

PLAK!

Sebuah tamparan hangat melayang mulus dipipi kanan Jongin.

“KAU! “ teriakku dan menahan air mataku agar tidak jatuh.

“Bukankah aku benar? Mereka berdua sudah tidak bisa lagi melindungimu Im Yoona..” tambah Jongin membuat rasa pedihku semakin menjadi-jadi.

“Cukup BODOH! “ teriakku dan memukul pundaknya dengan sekuat tenagaku.

“Kau harus menjadi yeojachinguku! “ balas Jongin tak kalah kuatnya.

“Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan mau! “ bentakku kepadanya. Tiba-tiba saja kedua tangan kekar dan kuat Jongin mencengkram kuat pundakku. Dengan kasar Jongin menarik badanku mendekat kepadanya. Dalam jarak sedekat ini, tingkat kecemasan dan ketakutanku semakin meningkat.

“Joha, jangan menyesal jika sesuatu yang buruk  akan terjadi padamu Chagiya~ ..” bisik Jongin tepat ditelingaku. Aku tersentak kaget. Tanganku seketika bergemetar kuat takut akan apa yang dilakukan Jongin kepadaku. Belum lagi keadaan sekolah yang sudah sangat sepi.

“YA! Lepaskan Yoona..” Aku menoleh kearah asal suara. Senyumanku mengembang seketika saat melihat Luhan berdiri tak jauh dariku dan juga Jongin.Luhan, ia disini untuk menyelamatkanku bukan? Ini benar Luhan bukan? Luhan yang hampir sebulan ini menghilang?

“Luhan..” lirihku pelan dan kembali menangis saat menyadari Luhan berjalan mendekat kearah kami.

“Ia milikku..” cuap Luhan dan menarik lenganku.

Deg!

Apa yang baru saja kudengar dan kenapa hati ini berdegup tak karuan saat mendengar ucapan Luhan barusan? Aku tahu Luhan melakukan hal itu karena ia akan melindungiku, tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatiku saat mendengarnya.

“Milikmu? “ ulang Jongin dan mencoba untuk menarikku lagi, tapi dengan sigap Luhan menyembunyikan badanku dibelakang badannya.

“Ne, dia milikku. Jadi mulai sekarang jangan mencoba mengganggunya, atau kau akan berhadapan denganku..” tukas Luhan dan membawaku pergi dari Jongin yang sekarang memandang kami dengan masam.

Luhan menyuruhku masuk kedalam mobil mewahnya. Ada perasaan lega yang menjalar dalam hatiku saat mengetahui Luhan datang disaat aku membutuhkannya. Aku hanya bisa tersenyum dan duduk disebelah Luhan. Menatap Luhan dengan penuh rasa rindu.

“Aku tahu aku tampan..” goda Luhan yang membuatku mau tak mau tertawa geli.

“Gomawo..” seruku kepadanya. Luhan mengernyitkan dahinya bingung.

“Untuk apa? “ tanyanya dan terus berkonsentrasi pada stir mobil.

“Karena sudah menyelamatkanku..” jawabku dan kembali tersenyum manis.

“Tadi itu hanya kebetulan saja.. “ aku terdiam. Segera kualihkan pandanganku menuju kearah lain.

‘Jadi kebetulan saja..’ batinku dan menghela nafas kasar.

“Aigoo, aku hanya bercanda..” Luhan mengacak rambutku halus membuatku kembali tersenyum dan yang pastinya tersipu malu.

“Mian karena baru bisa menemuimu..” tambah Luhan dan menatapku sekilas.

“Gwenchana.. Tapi seharusnya kau harus mengabariku kau akan kemana dan kapan akan pulangnya..” keluhku dan menyenderkan badanku kesandaran kursi mobil.

“Aku hanya ke Cina. Apa aku harus memberitahumu semuanya Im Yoona? “ balas Luhan dan tersenyum miring mendapati wajahku yang suntuk.

“Tentu saja. Aku ini sahabatmu Luhan..” saat menyebut kata-kata ‘sahabat’ entah kenapa aku merasa tercekat.

“Mian..” sahut Luhan dan melemparkan senyuman manisnya yang kurindukan.

“Geurae..” aku kembali terdiam begitu juga dengan Luhan. Kami berdua sibuk dengan pimikiran masing-masing.

Sekilas kutatap dalam-dalam Luhan yang sedang berkonsentrasi penuh mengendari mobilnya. Ujung kedua bibirku tiba-tiba saja tertarik saat melihat Luhan seperti ini, aku menyukainya. Menyukainya bukan dari sisi sahabat tapi dari sisi namja. Sudah hampir setengah tahun ini aku memikirkan hal ini dan kurasa aku benar benar menyukainya.

Perasaan itu tumbuh begitu saja saat Luhan selalu menemaniku dihari-hariku yang gelap karena ditinggalkan oleh Lay. Ya, aku masih terpuruk akan kepergian Lay tapi syukurnya ada Luhan yang selalu berusaha membuatku kembali menjadi Yoona yang ceria seperti dulu lagi.

Aku tahu perasaan ini salah, tidak seharusnya aku menyukai Luhan yang berstatuskan sahabatku. Takutnya saat Luhan mengetahui perasaanku ia akan menjauh kepadaku dan itu malah membuatku kecewa. Lebih baik seperti ini, berpura-pura tidak menyadari adanya perasaan itu.

“Aku akan mengurus surat pengunduran dirimu..” ujarnya memecah kesunyian diantara kami.

“N…ne? “ ulangku sedikit gelagapan.

“Aku akan mengurus surat pengunduranmu ditempat kau mengajar..” serunya dengan wajah serius.

“Geundae wae? “ tanyaku yang masih bingung.

“Apa kau ingin diganggu lagi oleh namja tadi? “ dengus Luhan dan membanting stirnya kekiri.

“Tentu saja tidak. Tapi aku harus berkerja apa setelah ini? “ tanyaku sedikit kalut.

“Menjadi ibu rumah tangga yang baik..” jawab Luhan dengan senyuman manis dibibirnya.

“Turun, kita sudah sampai dirumahmu..” suruh Luhan dan menunjuk rumahku yang sudah ada didepan mataku.

“Ibu rumah tangga? Musun soriya? “ tanyaku yang masih tidak mengerti dengan ucapan Luhan.

“Cepatlah turun. Masih banyak pekerjaan lagi yang harus kuurus..” celetuk Luhan dengan wajah sedikit kesal. Luhan terus mendorong badanku agar segera turun dari mobilnya.

“Arrasso, arrasso.” Ucapku sedikit jengkel.

“Annyeong..” pamitnya dan pergi meninggalkanku yang masih berkutik dengan pemikiran dan perkataan Luhan tadi.

“Aish! Micheo! “ cibirku kearah mobil Luhan yang semakin lama semakain menjauh.

Yoona Pov End

™™™

Author Pov

Hari ini Yoona mendapatkan pesan dari Luhan yang membuat Yoona hanya bisa berdia diri dirumah. Ya, Luhan sudah mengurus surat pengunduran diri Yoona. Sekarang Yoona seorang pengangguran cantik yang merana dirumahnya.

Yoona terus membulak-balik halaman demi halaman majalahnya dengan wajah kusut. Ia tidak tahu harus melakukan apa hari ini. Tunggu, tidak hari ini saja tapi juga untuk hari seterusnya.

Drrt…Drrt…Drrt

Yoona meraih ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk kedalam ponselnya. Yoona mengernyitkan dahinya bingung. Luhan mengajaknya bertemu di Mr.Boogie Café tempat dimana mereka biasa berkumpul.

From    : My Beloved Lulu

Mari bertemu di Mr.Boogie Café sekarang.

Jemari-jemari Yoona dengan semangatnya membalas pesan dari Luhan. Segurat rasa senang mengguyur Yoona. Yoona langsung meletakkan majalah ditangannya dengan sekali hempasan dan berlari menuju kamarnya untuk segera bersiap.

™™™

Mr. Boogie Café

Seorang namja yang tidak lain adalah Luhan tengah duduk dengan wajah gugup. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dan menatap setiap pengunjung yang baru saja masuk. Ia menunggu Yoona. Ada sesuatu yang ingin ia ucapkan pada Yoona dan itu sangatlah penting.

“Lulu! “ Luhan seketika menoleh kearah asal suara. Ia tersenyum cerah saat menyadari Yoonalah yang memanggilnya.

“Yeogi..” Luhan melambaikan tangannya kearah Yoona yang membuat Yoona dengan cepat mendekat kearah Luhan.

‘Yeoppo..’ betin Luhan dan tersenyum kaku kearah Yoona.

“Pesanlah apapun yang kau mau..” suruh Luhan dan menyerahkan buku menu kearah Yoona.

“Okay..” jawab Yoona dan mulai membuka satu persatu halaman beku menu.

“Yoona, sepertinya aku harus mengutarakan sesuatu kepadamu..” Yoona menganggukan kepalanya dan terus melihat-lihat menu.

“Cinta dan Sahabat, jika kau disuruh memilih kau akan pilih yang mana? “ Yoona menghetinkan kegiatannya dan menatap Luhan kaget.

‘Kenapa harus pertanyaan macam itu?’ rutuk Yoona dalam hati.

“Yoona? “ Luhan yang melihat Yoona bermenung pada akhirnya memutuskan untuk menggerakkan tangannya keatas kebawah didepan wajah Yoona.

“Ah, ne? Kurasa sahabat..” jawab Yoona bohong.

‘Persetan dengan mulut ini!’ teriak Yoona dalam hati.

“Geurae? “ Luhan hanya mampu menggiggit ujung bibirnya dan melirik sekilas Yoona yang sekarang kembali sibuk dengan buku menu.

“Kau yakin Yoona? “ tanya Luhan memastikan.

“….” Yoona hanya diam dan terus terfokus kebuku menu.

“Kau bohong Yoon.” Lirih Luhan kecewa.

“….” Yoona lagi-lagi hanya diam dan memilih tidak mengacuhkan Luhan.

“Yoona…” ujar Luhan tidak sabaran.

“Aku memilih cinta. Kau puas sekarang? “ dengus Yoona dan menatap Luhan tak suka.

“Baiklah. Berarti kau membuat keputusan yang hebat Yoona..” celetuk Luhan dan merogoh sebuah kotak persegi empat dari dalam kantung jacket yang ia gunakan.

“Kau ingat perkataanku kemarin bukan?” seru Luhan dengan wajah berseri-seri.

“Lantas? “ tanya Yoona acuh tak acuh.

“Yoona-ya, aku tahu ini terdengar konyol. Tapi aku mencintaimu sejak dulu. Menjadi ibu rumah tangga yang baik, itukan yang aku katakan kemarin? Maksudku kau akan kubawa ke Cina dan Menikahlah denganku.. Aku tidak ingin kau bekerja. Aku juga tidak bisa meninggalkanmu disini sendirian. Sebulan saat aku meninggalkanmu kemarin ini, aku sangat tersiksa. Belum lagi setiap aku tidur aku terus bermimpi Lay yang terus memaksaku untuk terus menjagamu dan juga menikahimu. Im Yoona, menikahlah denganku.. ” Luhan menyodorkan kota persegi empat itu kearah Yoona.

“Ne? Jangan bercanda Luhan..” elak Yoona dan tertawa geli.

“Anio. Aku tidak bercanda. Ini sungguh.. Karena itu menikhlah denganku..” ujar Luhan meyakinkan Yoona.

“Luhan…” lirih Yoona tak percaya saat Luhan memasangkan cincin kejari manisnya.

“…..” Luhan hanya tersenyum dan mengacak sekilas rambut Yoona.

“Mulai sekarang kau milikku Yoona. Tidak ada penolakan karena aku tahu kau juga mencintaiku.. “ cuap Luhan dengan santai membuat wajah Yoona seketika memerah panas.

“…” Yoona hanya menundukkan wajahnya malu dan tersenyum gembira.

“Dan juga, kita melakukan demi uri Lay..” tambah Luhan yang ditanggapi Yoona dengan anggukan kecil.

“Baiklah Nyonya Lu, seminggu lagi kita akan ke Cina mengurus pernikahan kita..” celetoh Luhan yang membuat Yoona mau tak mau terkejut mendengarnya. Seminggu lagi? Secepat itu?

“NE? YA! “ teriak Yoona tidak terima. Luhan hanya mencibir dan terkekeh pelan melihat tingkah calon istrinya yang menurutnya kekanak-kanakan itu.

-THE END-

Note : Maaf kalau misalnya jelek atau apalah. Mohon tinggalkan jejak. Jangan jadi silent readers. Kasihani author yang bersusah payah membuatnya.

 

10 thoughts on “More Than Friend (Sequel Between Love & Friendship)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s