I Love You, My Little Girl (Chapter 1)

luhan

I Love You, My Little Girl

                           

Tittle                           :  I Love You, My Little Girl

Author                       : Jellokey

Main Cast                  :

Luhan (Lu Han of EXO)

Shin Min Young (OC)

Support Cast            :

Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)

Kim Jong-in (Kai of EXO)

Kim Hyun-il (Ray of C-CLOWN)

Lee Jae-joon (Maru of C-CLOWN)

and others

Length                        : Chaptered

Genre                         : Romance, Family, School Life

Rating                         : PG-17

Disclaimer                 : Cerita ini milik saya. Dilarang plagiat dan copy paste. Don’t bash!

 

Shin Min Young memasuki sekolah barunya hari ini. Dia bukan anak SD lagi, tapi SMP. Yeoja ini masih menganggap dirinya kecil. Dia tidak bisa lepas dari sosok eommanya. Bisa dibilang anak mami. Dulu, setiap memasuki kelas baru, Min Young selalu meminta eommanya untuk mengantar sampai kelas. Entah dia pemalu atau apa, hanya Min Young yang tahu. Dan sekarang, ia sudah melewatkan upacara penerimaan murid baru. Min Young tidak akan mendapat hukuman. Hari pertama sekolah, siswa-siswa baru dibebaskan untuk mengenali sekolah.

“Masuk, nak.” Entah sudah berapa kali Nyonya Shin mengatakan itu pada Min Young.

“Eomma, temani aku.” Rengek Min Young. Dia tidak tahu bagaimana cara mengakrabkan diri dengan orang lain.

“Min Young bukan anak kecil lagi.” Ya. Nyonya Shin harus melepas Min Young dengan perlahan. Tidak mungkin Min Young terus merengek padanya sampai dewasa.

“Eomma.” Min Young menatap eommanya dengan mata berkaca-kaca, berharap Nyonya Shin mau menemani mencari letak kelasnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa, Min Young. Sekolahmu tidak mengadakan masa orientasi. Cepat masuk. Kau pasti mendapatkan teman hari ini.” Min Young masih menatap memelas pada eommanya. Nyonya Shin pun memeluk anak satu-satunya itu.

“Cepat masuk.” Dengan tidak rela Min Young melepas pelukan eommanya.

“Nanti eomma menjemputmu.” Ucap Nyonya Shin sebelum anaknya keluar dari mobil. Min Young menghela nafas sebelum memasuki gerbang sekolah. Ia yakin murid di sekolah ini lebih banyak daripada murid di SDnya dulu. Min Young sudah tahu kelasnya. I-A. Tapi masalahnya dia tidak tahu di mana letak kelas itu. Ia berjalan di koridor sambil menunduk, takut melihat tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya. ‘Mereka pasti sunbaeku.’ Mungkin ini penyebab ketakukan Min Young. Ia terlalu meresapi drama bergenre school life. Ia terus terbayang scene seorang murid yang dibully sunbaenya. ‘Semoga aku tidak mengalami itu.’ Batin Min Young.

Bruk!

Min Young baru saja mengalami satu scene yang sering terdapat di drama. Bertabrakan dengan orang lain.

“Jwoseonghamnida.” Min Young membungkuk berkali-kali.

“Kau murid baru?” Min Young menatap orang yang menabraknya. Saat itu juga, ia terpana melihat namja yang berdiri di hadapannya. ‘Tampan.’ Batin Min Young. Sepertinya dia mengalami scene yang ada di drama yang selalu ia tonton. Fall in love at first sight.

“Kau murid baru?” Ulang orang itu.

“N.. ne.” Jawab Min Young gugup.

“Aku tidak melihatmu saat upacara penerimaan murid baru.” Min Young diam.

“Aku ketua OSIS di sekolah ini.” Sambung si namja.

“Aku terlambat bangun, sunbae. Jwosonghamnida.” Min Young membungkuk lagi. Sebenarnya dia memang sengaja berlama-lama di dalam kamar agar terlambat ke sekolah. Atau semakin bagus kalau ia tidak sekolah di hari pertama. Entah apa yang salah dengan pemikiran yeoja itu.

“Kau sudah tahu kelasmu?” Min Young mengangguk. Namja itu tersenyum.

“Bagus. Kalau begitu selamat berpariwisata di sekolah ini.” Ucap ketua OSIS sebelum berlalu.

“Sunbae.” Min Young menghampiri namja yang sudah berhenti karena panggilannya.

“Aku.. aku tidak tahu di mana kelasku.” Kata Min Young pelan.

“Itulah gunanya hari pertama kalian tidak belajar. Kalian disuruh mengenali sekolah. Mungkin saat berkeliling nanti, kau akan menemukan kelasmu.” Terang namja itu.

“Aku takut tersesat dan … tidak bisa pulang.” Min Young menundukkan kepalanya. Namja itu melihat Min Young tidak percaya. Dia sudah terpesona dengan wajah cute, baby face Min Young. Tapi setelah mendengar ucapan Min Young barusan, ia ingin tertawa. ‘Yeoja ini berumur berapa sih? Dia seperti anak TK.’

“Kau kelas berapa? Aku akan mengantarmu ke sana.” Usul namja itu. Mungkin dia punya modus dibalik itu.

“Kelas I-A.”

“Sepupuku juga kelas I-A.” Mereka berjalan beriringan.

“Namamu siapa?” Tanya si namja.

“Shin Min Young, sunbae.” Di dalam hati, Min Young bertanya-tanya siapa namja itu. Tapi dia terlalu malu untuk menyuarakannya.

“Kau tidak ingin tahu namaku?” Namja itu bersuara. Ia sudah lama menunggu Min Young untuk menanyakan namanya.

“Apa aku boleh tahu?”

“Kau mau tahu atau tidak?” Namja itu gemas.

“Aku ingin tahu, sunbae.”

“Namaku Kim Hyun-il. Kau bisa memanggilku Ray.”

“Ray.. oppa?” Suara Min Young pelan. Ray menoleh, menatap Min Young.

“Aku akan sangat senang kalau kau mau memanggilku oppa.” Ray mengacak rambut Min Young lembut. Min Young tersenyum sambil memegang rambutnya yang baru diacak Ray. Ia tidak tahu kenapa jantungnya berdetak kencang.

“Ini kelasmu.” Ucap Ray begitu berdiri di depan ruang kelas I-A.

“Aku akan mengenalkanmu pada sepupuku.” Ray melihat seluruh penjuru kelas dari ambang pintu.

“Maru!” Panggil Ray begitu matanya menangkap sosok yang ia cari. Maru, orang yang dipanggil Ray, beranjak dari duduknya, menghampiri Ray.

“Hyung!” Maru tersenyum. Ternyata Ray sangat perhatian padanya. Tapi sekarang perhatian Maru teralihkan pada yeoja yang berdiri di samping Ray.

“Dia teman sekelasmu.” Ujar Ray. Maru mengangguk mengerti.

“Lee Jae-joon imnida. Nama panggilanku Maru. Bangapseumnida.” Maru mengulurkan tangannya.

“Shin Min Young imnida. Bangapseumnida.” Min Young menjabat tangan Maru.

“Kau sudah punya teman sebangku, Maru?” Tanya Ray. Maru menggeleng.

“Kau mau sebangku dengan Maru, Min Young?”

“Kalau Maru-ssi tidak keberatan, aku mau.”

“Maru pasti mau.” Maru menganggukkan kepalanya berkali-kali tanda bahwa ia setuju dengan Ray.

“Masuklah ke kelas.” Suruh Ray pada Min Young.

“Ne. Gamsahamnida, sunbae.” Min Young masuk ke kelas, menuju meja Maru.

“Jaga dia, Maru.” Maru tersenyum penuh arti mendengar itu.

“Apa dia akan jadi pacar pertamamu, hyung?” Ray menatap Maru tajam.

“Arraseo. Aku akan menjaga kakak ipar.” Maru langsung pergi setelah mengatakan itu. ‘Apa sangat terlihat kalau aku sedang jatuh cinta?’ Batin Ray. Awal pertemuan yang manis, mungkin. Mereka menjadi sejak saat itu. Menghilangkan batasan sunbae-hoobae diantara mereka. Tidak jarang Min Young dan Ray sering menghabiskan weekend bersama.

 

—————-

 

“Lu Han hyung~” Lu Han menggeram saat telinganya menangkap panggilan manja yang khas milik adik sepupunya. Padahal sedikit lagi bibirnya akan menempel dengan bibir yeojachingunya. Oh Se-hoon. Dia selalu datang ke apartemen Lu Han disaat yang tidak tepat.

“Lu Han hyung~” Suara yang meniru panggilan adik sepupu kesayangannya yang pertama, membuat Lu Han membenarkan posisi duduknya. Sepupu tersayangnya itu membawa komplotan ternyata. Lu Han tidak tahu ini benar atau tidak. Ia merasa Sehun mempunyai radar yang bisa mendeteksi kapan ia bersama yeojachingunya. Hanya berdua di apartemen. Lu Han menatap datar dua remaja yang berdiri tidak jauh darinya.

“Apa kami mengganggu?” Sehun tersenyum jahil.

“Atau hyung ingin mengajak kami bergabung?” Namja yang mempunyai kulit lebih gelap dari Sehun menaik-turunkan kedua alisnya. Kim Jong-in yang akrab dipanggil Kai, berusaha menggoda hyungnya.

“Hye-ya, pulanglah. Aku akan menemuimu besok.” Lu Han mencium pipi Kim Jun-hye, yeojachingunya. Lu Han tidak mau kedua sepupunya yang masih labil melihat apa yang akan ia lakukan dengan yeojachingunya.

“Noona, call me.” Ucap Kai sebelum Jun-hye melewatinya. Jun-hye mengabaikan Kai. Mungkin kalau tidak ada Lu Han dia akan menanggapi Kai.

“Kai, dia yeojachinguku.” Lu Han memperingatkan.

“Are you serious? Yeojachingu? Hyung, aku sering melihatnya bercumbu dengan namja yang berbeda di club.” Ucap Kai serius. Lu Han terlihat tidak peduli. Belum sampai lima menit ucapan Kai berlalu, Lu Han mengirim pesan pada Jun-hye. Kita putus. Begitu isinya. Lu Han tidak pernah menganggap serius hubungannya dengan yeoja yang ia kencani. Tapi tidak benar juga kalau pengusaha muda sepertinya mengencani yeoja murahan.

“Kenapa kalian kemari?”

“Kami merindukanmu, hyung.” Sehun duduk di samping kanan Lu Han.

“Apa yang di tas kalian itu pakaian?” Tanya Lu Han yang lebih ditujukan pada Kai. Tasnya terlihat penuh.

“Buku pelajaran, hyung.” Jawab Kai.

“Masih niat belajar juga?” Sindir Lu Han. Ia tidak yakin isi tas Kai berkaitan dengan pelajaran.

“Tentu saja. Aku pintar.” Jawab Sehun kesal, merasa tersindir.

“Aku sedikit pintar.” Kai tertawa garing.

“Hyung, tadi itu yang ke berapa?” Tanya Sehun antusias.

“Lima ratus.” Jawab Lu Han asal.

“Masih jauh. Aku baru mengencani lima puluh yeoja.” Sehun ingin mengalahkan rekor Lu Han, si cute casanova.

“Hyung, bagaimana cara mengajak yeoja tidur dengan kita?” Lu Han menatap tajam Kai yang sibuk membongkar kotak cd-nya. Lu Han menghela nafas. Tingkah aneh kedua sepupu kesayangan Lu Han itu disebabkan oleh Lu Han sendiri. Lu Han tidak hati-hati menyimpan ‘benda keramatnya’. Di umur tiga belas tahun, Kai dan Sehun sudah menonton film dewasa di apartemen Lu Han. Buruk sekali.

“Kai, kau masih kecil.”

“Ayolah, hyung. Sebentar lagi aku masuk SMA. Aku sudah cukup umur.” Lu Han berdecak.

“Apa hyung sudah pernah ‘itu’?” Tanya Sehun yang langsung mendapatkan jitakan dari Lu Han.

“Appo!” Sehun mengelus kepalanya.

“Kalian tidak boleh melakukan itu sekarang! Kalian boleh punya banyak pacar, tapi untuk ‘itu’, jangan pernah mencobanya kalau bukan dengan istri kalian! Arraseo??” Lu Han mengatakannya dengan berapi-api.

“Arraseo.” Jawab Sehun.

“Hyung, tidak ada film baru?” Kai mengabaikan nasehat Lu Han.

“Ya!! Masuk ke kamar lalu tidur!” Perintah Lu Han.

“Issh.. Hyung payah!” Kai mengambil tas ranselnya lalu masuk ke kamar Lu Han.

“Sehun, cepat tidur. Besok kau sekolah.” Lu Han beruntung karena Sehun tidak segila Kai.

“Hyung belum membuatkan susu untukku.” Sehun tidak bisa tidur kalau dia belum meminum susu vanilanya.

“Aku akan buatkan. Sana ke kamar.” Sehun menurut. Lu Han mendesah berat. Dua sepupu tersayangnya itu sangat manja padanya. Tidak juga. Lu Han memang sedikit memanjakan mereka.

 

—————-

 

“Young-ah, apa tidak lebih baik kalau kita pulang saja?” Ray menatap khawatir Min Young yang jalan tertatih di sampingnya. Yeoja itu terjatuh saat pelajaran olahraga. Lututnya terluka.

“Tidak. Aku mau makan es krim di taman, oppa.” Jawaban Min Young tetap sama. Ray sudah menanyakan itu berkali-kali. Mereka berencana makan es krim di taman yang tidak jauh dari sekolah mereka.

“Kau tunggu di sini saja. Aku beli es krim dulu.” Min Young mengangguk. Ray menyeberangi jalan, menuju kedai es krim. Sepertinya makan di kedai tidak buruk. Pikiran itu muncul setelah Min Young menunggu Ray selama lima menit. Ia menyeberang setelah memastikan jalanan aman. Entah bagaimana caranya, di depan Min Young berhenti mobil sport merah. Yang pasti si pengemudi mengerem mendadak. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Lutut Min Young yang sakit membuatnya sulit berjalan.

Brugh!

Min Young kehilangan kesadarannya saat mobil itu berhenti.

Beberapa menit sebelum kecelakaan

Lu Han menekan pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di kepalanya hanya ada, aku harus segera sampai di SY Corp.

“Ya, Sehun-ah?” Sahut Lu Han begitu earphone menempel di telinganya. Orang-orang selalu menyepelekan ini. Tidak baik menelepon/menerima panggilan saat mengemudi.

“Belikan bubble tea, hyung.” Lu Han mengerang.

“Tidak sekarang, Sehun. Aku mau meeting.”

“Hyung, belikan.” Rengek Sehun.

“Kau bisa membelinya bersama Kai, Chanyeol, Dio, atau siapa saja. Aku buru-buru.”

“Kami berada di rumah Chanyeol sekarang. Dan kami mau hyung membelikan bubble tea untuk kami.”

“Sehun-ah, meeting ini penting.” Lu Han tidak bisa menunda meeting itu hanya untuk membelikan Sehun bubble tea. Ia bisa kehilangan ratusan juta won kalau melewatkan meeting itu.

“Hyung tega padaku? Rasanya akan beda kalau hyung yang membelikan.” Lu Han menghela nafas.

“Bagaimana kalau es krim?” Tawar Lu Han karena matanya menangkap kedai es krim di seberang kanan jalan. Lu Han membulatkan matanya begitu ia melihat ke depan. Ia menekan klakson berkali-kali tapi suaranya tidak keluar. Refleks kakinya menginjak rem.

Ckiit!

Apa yang terjadi? Aku tidak menabrak yeoja itu kan? Lu Han mengangkat kepalanya dari setir mobilnya. Jantungnya berdetak kencang karena tidak melihat si yeoja di depan mobilnya. Ia melepas earphone dari telinganya dan keluar dari mobil.

“Agasshi..” Lu Han menghampiri yeoja yang terbaring tidak sadarkan diri di aspal.

“Agasshi..” Lu Han menepuk pipi yeoja itu.

“Aiish!” Lu Han melihat jalanan. Tidak ada yang mempedulikan mereka. Dengan cepat Lu Han mengangkat tubuh si yeoja dan memasukkannya ke mobil. Lu Han tidak mau berurusan dengan polisi.

 

——————–

 

“Dokter, bagaimana keadaannya?” Lu Han berusaha menyembunyikan kepanikannya. Ia tidak melihat luka serius di tubuh yeoja itu. Mobil Lu Han tidak mengenai Min Young.

“Pasien baik-baik saja. Dia pingsan karena shock.” Lu Han bernafas lega. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Dokter, tolong hubungi keluarganya.” Lu Han menyodorkan handphone Min Young yang ia temukan di tas Min Young. Lu Han cukup bertanggung jawab, sampai-sampai ia berani membongkar tas Min Young. Tidak tahu sopan.

“Kenapa tidak anda saja?”

“Saya tidak berani.” Lu Han tersenyum kaku. Dokter itu akhirnya menerima handphone Min Young dan menelepon Nyonya Shin.

“Gamsahamnida, dokter.” Lu Han duduk di kursi yang ada di sisi kanan ranjang.

“Aku kehilangan ratusan juta won karenamu. Kalau kau melihat keadaan jalan sebelum menyeberang, kau pasti tidak berada di sini dan aku akan semakin kaya.” Lu Han melampiaskan kekesalannya pada Min Young yang belum sadarkan diri. Hei, Lu Han! Itu bukan sepenuhnya salah Min Young, kau juga salah karena tidak fokus menyetir. Lu Han membuang nafasnya kasar. Sampai kapan ia harus menunggui yeoja yang tidak ia kenal? Masih anak-anak lagi. Lu Han mengamati wajah Min Young. Ia tersenyum miring. Baru kali ini aku menemui orang yang memiliki kadar keimutan yang sama denganku. Batin Lu Han. Tentu saja. Dia masih anak-anak. Kelas satu SMP. Batin Lu Han menjawab pernyataannya sendiri. Ia sempat melihat kartu pelajar Min Young tadi. Selama ini orang-orang menganggap Lu Han mengencani yeoja yang lebih tua darinya. Padahal Lu Han mengencani yeoja yang lebih muda dua tahun atau seumuran dengannya. Kadar ke-cute-an Lu Han memang mengerikan. Kau pasti sangat cantik kalau dewasa nanti. Tangan Lu Han bergerak untuk menyentuh wajah Min Young. Baru tangannya menyentuh wajah Min Young, Lu Han dikejutkan oleh dering handphonenya. Ia mengambil handphone di saku jasnya.

Little Brother calling

Lu Han melihat itu di layar handphonenya. Pasti tentang bubble tea.

“Yeoboseyo.” Jawab Lu Han malas.

“Kenapa hyung memutus panggilanku?” Suara Sehun terdengar kesal. Begitulah sikap si kecil. Semua yang ia inginkan harus ada. Kalau tidak, ia bisa merajuk berhari-hari pada orang yang membuatnya kesal.

“Aku kecelakaan, Sehun-ah. Kau masih mau meminta bubble tea padaku?”

“Mwo? Hyung, gwenchana? Mianhae.” Sehun sadar, pasti dia yang menyebabkan Lu Han kecelakaan.

“Gwenchana. Tapi korbanku yang tidak baik.”

“Di mana hyung sekarang? Suara Sehun panik.

“Seoul Hospital.”

“Aku akan ke sana.” Sambungan terputus. Tepat saat itu, Lu Han mendengar erangan Min Young. Perlahan mata Min Young terbuka.

“Kau sudah sadar?” Lu Han tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Setelah ini aku bisa pergi. Pikir Lu Han.

“Aku di mana?” Suara Min Young lemah.

“Kau di rumah sakit. Aku−“

“Min Young!” Pintu ruang rawat Min Young terbuka dengan kasar. Mata Lu Han membulat. Apa dia eomma yeoja ini?

“Gwenchana? Mana yang sakit?” Tanya Nyonya Shin khawatir. Lu Han berdiri dari duduknya. Mengambil jarak dari Nyonya Shin dan anaknya.

“Eomma, kakiku sakit.” Nyonya Shin melihat Lu Han. Ingin meminta penjelasan tapi yang ada ia menjadi bingung.

“Presdir Lu, kenapa anda di sini?” Mati aku. Batin Lu Han. Seharusnya hari ini Lu Han menandatangani kontrak kerjasama dengan SY Corp. Ya, kalau tidak kecelakaan Lu Han akan meeting dengan Nyonya Shin.

“Saya.. yang menabrak nona ini, Nyonya.” Jawab Lu Han terbata.

“Apa?!”

“Tapi saya yakin mobil saya tidak menyentuh anak Nyonya. Dia hanya shock karena hampir saya tabrak.” Lu Han membela diri.

“Bagaimana kejadiannya sehingga Min Young merasakan sakit di kakinya?” Nyonya Shin tidak percaya.

“Saya tidak tahu. Lutut anak anda sudah luka sebelum kecelakaan.” Terang Lu Han.

“Maksudmu, anak saya melukai dirinya sendiri begitu?” Nyonya Shin menatap Lu Han tajam.

“Bukan begitu. Saya akan memanggil dokter untuk menjelaskannya.” Lu Han meraih telepon darurat untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter datang dan menjelaskan keadaan Min Young pada Nyonya Shin.

“Saya akan melaporkan ini pada polisi.” Ucap Nyonya Shin setelah dokter keluar ruangan.

“Nyonya, anak anda baik-baik saja.” Lu Han tidak terima.

“Tetap saja, kau hampir membuat putriku celaka.”

“Saya sudah bertanggung jawab dengan membawanya ke rumah sakit. Apa itu tidak cukup?” Oh, ayolah. Lu Han orang sibuk. Dia tidak mau membuang waktunya yang berharga untuk menjaga anak kecil.

“Tidak. Saya mau anda menjaga putri saya sampai ia diizinkan pulang oleh dokter.” Nyonya Shin punya tujuan mengancam Lu Han. Ia tidak bisa menjaga Min Young karena harus mengurus perusahaannya yang ada di Singapura. Ia ingin Lu Han menggantikankannya menjaga Min Young. Putrinya baik-baik saja. Dua atau tiga hari lagi Min Young pasti akan keluar dari rumah sakit.

“Baiklah. Tapi saya mau kerjasama perusahaan kita tetap berjalan.” Pemikiran yang bagus, Lu Han.

“Itu bisa diatur.” Nyonya Shin beralih pada Min Young yang sedari tadi memperhatikan mereka.

“Sayang, eomma tidak bisa menjagamu. Perusahaan kita yang ada Singapura mengalami masalah. Eomma harus mengurusnya. Tidak apa kan kalau eomma pergi sebentar?” Min Young mengangguk.

“Orang ini yang akan menemanimu di sini.” Nyonya Shin menunjuk Lu Han.

“Kalau dia tidak mengunjungimu dalam satu hari, beritahu eomma.” Min Young mengangguk lagi.

“Eomma pergi, sayang.” Nyonya Shin mencium kening Min Young. Dasar ahjumma. Dia memanfaatkanku untuk menjaga anaknya. Eomma yang buruk. Jangan sampai aku punya istri yang suka menelantarkan anak sepertinya. Umpat Lu Han dalam hati.

“Apa?” Lu Han balas menatap Min Young yang menatapnya sejak Nyonya Shin pergi. Ia risih ditatap lekat oleh Min Young. Lu Han mengambil handphone dari saku jasnya karena nada pesannya berbunyi. Ia membuka pesan dari Sehun.

From: Little Brother

Hyung, aku sudah berada di ruang rawat nomor 314.

To: Little Brother

Masuk saja.

From: Little Brother

Hyung saja yang keluar.

“Nona, aku keluar sebentar. Tenang saja, aku tidak akan kabur.” Tanpa menunggu respon dari Min Young, Lu Han keluar ruangan.

“Hyung, gwenchana?” Sehun memutar tubuh Lu Han, memastikan kalau tubuh hyungnya tidak ada yang kurang.

“Gwenchana.” Lu Han menatap Sehun kesal. Siapa yang hyung di sini? Sehun memperlakukan Lu Han seperti adiknya.

“Syukurlah.” Sehun lega.

“Kau tidak mau melihat korbanku?” Sehun menggeleng.

“Aku hanya ingin memastikan hyung baik-baik saja. Eum.. hyung,” Sehun tersenyum penuh arti pada Lu Han.

“Apa?” Lu Han tahu Sehun punya maksud di balik itu.

“Pinjam mobil.” Benar kan?

“Buat apa?”

“Kencan hyung. Boleh?”

“Tidak.” Jawab Lu Han tegas. Dongsaengnya itu lebih playboy darinya.

“Hyung~” Sehun mengeluarkan aegyonya.

“Di rumah ajjushi banyak mobil. Kenapa tidak kau pakai satu?”

“Ajjushi tidak mengizinkanku menyetir sebelum berumur tujuh belas tahun.” Lee Soo-man cukup disiplin pada Sehun, keponakan yang tinggal bersamanya.

“Masih untung tujuh belas tahun, aku baru bisa mengendarai mobilku sendiri setelah menjadi mahasiswa.”

“Hyung~” Rengek Sehun, membuat Lu Han menyerah.

“Ini. Jangan ngebut. Kecepatan maksimal 40 km/jam.” Lu Han menyerahkan kunci mobilnya pada Sehun.

“Mwo?! Shirreo. Kecepatan minimal Kai saja 60 km/ jam, masa aku 40.” Beginilah sikap remaja labil.

“Kalau begitu kau pakai mobil Kai saja. Kembalikan kuncinya.” Sehun langsung memasukkan kunci mobil Lu Han ke saku celananya.

“Arraseo. Aku akan mengemudi dengan baik. Bye, hyung.” Lu Han geleng-geleng kepala karena Sehun. The Third Casanova.

 

——————-

 

Lu Han terkejut mendapati Min Young tidak sendiri saat ia memasuki ruang rawat Min Young. Seorang namja sedang menyuapinya makan.

“Kau siapa?” Tanya Ray, merasa Lu Han tidak sopan karena langsung duduk di sofa. Lu Han tidak mempedulikan ucapan Ray. Ia sibuk memainkan iPad yang ia bawa. Dari sudut matanya, ia dapat melihat Min Young berbisik pada Ray.

“Kau yang menabrak Min Young?” Lu Han bosan dijadikan tersangka. Justru dia yang menolong Min Young.

“Aku tidak menabraknya.” Balas Lu Han datar.

“Kenapa ajjushi ada di sini?” Lu Han merasakan telinganya panas karena dipanggil ajjushi.

“Hei, anak kecil! Aku tidak setua itu. Aku di sini karena permintaan Nyonya Shin untuk menjaga anaknya. Jangan ganggu aku!” Lu Han memfokuskan dirinya pada permainan yang ada di iPadnya. Tapi ia merasa tidak nyaman berada di ruangan itu. Cekikikan Min Young dan Ray membuat Lu Han tidak fokus dengan gamenya.

“Min Young, aku pulang dulu. Nanti aku kemari lagi.” Lu Han merasa bebannya hilang saat Ray mengatakan itu pada Min Young. Lu Han tidak tahu kenapa ia merasa terbebani dengan keberadaan Ray.

 

——————

 

Suasana di dalam ruangan hening. Sudah dua hari ini Lu Han menjaga Min Young. Dan selama dua hari itu mereka tidak pernah saling bicara.

“Ajjushi.” Suara lembut itu menarik Lu Han dari kegiatannya mengetik di handphone. Lu Han melihat Min Young datar. Dalam hati ia mengumpat, apa aku setua itu?

“Aku ingin ke toilet.”

“Toiletnya itu.” Lu Han menunjuk ruangan lain di ruang rawat Min Young.

“Bantu aku jalan.”

“Kau tidak bisa jalan?” Lu Han bangkit dari duduknya, berjalan menuju ranjang Min Young.

“Bisa, tapi kakiku sakit.” Min Young menerima uluran tangan Lu Han. Ia menggenggam erat tangan Lu Han.

“Ini karena kau tidur terus sepanjang hari. Kakimu jadi malas.” Ucap Lu Han yang tidak dipedulikan Min Young. Min Young melepas genggamannya begitu berada di depan toilet. Lu Han memperhatikan tangan kanannya yang digenggam Min Young tadi. Ia tersenyum. Tangan Min Young lebih kecil dibanding tangannya.

“Sudah selesai?” Lu Han mengubah ekspresi wajahnya begitu Min Young keluar.

“Aku bisa jalan sendiri.” Min Young menolak uluran tangan Lu Han. Sepertinya ia tersinggung karena Lu Han mengatai kakinya malas. Yeoja kecil yang menarik.

 

 

TBC….

 

Komen juseyo ^^

77 thoughts on “I Love You, My Little Girl (Chapter 1)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s