Vampires vs Wolves #5 – Wellcome to Ahreum’s Life

Vampire vs Wolf

Tittle : Vampires vs Wolves

Subtitle : #5 – Wellcome to Ahreum’s Life

Author : Nintiyas

Main Cast :

  • Ahreum T-ara as Lee Ahreum
  • Exo-K as Vampires
  • Exo-M as Wolves

Other Cast :

  • Dasom Sistar as Kim Dasom

Genre : Fantasy, School Life, Fluff, Romance

Rating : PG-15, T

Diclaimer : WARNING!! This is my story, my imagine, also my fantasy. BEWARE!! I DO NOT LIKE COPYCAT ^^

A/N : Untuk Chap kali ini, aku full buat romance  >< sesuai request kalian  dan, semoga romancenya beneran dapet -_-v maaf juga kalau ngepostnya masih kelamaan yah /padahal ini udah yang paling cepet , lol!/ Ah, iya maaf yah kalau misalkan ada member yang kebagian POV nya cuman sedikit ;;_;; habisnya bingung bagi POV buat 12 OT :’) over all, HAPPY READING❤

List : Teaser ││ Chapter 1 ││ Chapter 2 ││ Chapter 3 ││ Chapter 4 

Summary : Menjalani kehidupan yang menyenangkan dan bahagia dengan potret keluarga yang harmonis dan utuh. Itulah cita-cita sederhana dari seorang gadis remaja yang terlalu naif untuk mengetahui bahwa kenyataan dan hukum alam lebih pahit dibanding dengan penalarannya dalam hidup. Menjadi putri dan cucu satu-satunya dari keluarga Lee yang notabene adalah keluarga yang berkecukupan dalam hal materi. Tak pernah membuat ahreum merasa semua lebih baik. Bahkan, dirinya hidup dengan latar belakang semua gunjingan dari para warga disekitar rumahnya. Entah itu tentang sang Harabeoji, sang Appa, tentang status sang Eomma, sampai kasus manusia vampire juga manusia serigala yang dekat dengan sang harabeoji dan sang appa. Lanjut Membaca →

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mereka berempat mengikuti darah yang berada dilantai. Suho berani bersumpah, darah itu malah membuat dirinya tidak nafsu makan untuk seminggu. Kini sebuah isi perut manusia terlihat sudah sedikit membusuk berada tepat dimeja makan.

“Mereka sangat sadis.” Keluh Suho.

“Terlalu sadis untuk seorang ibu yang mencari anaknya.” Ejek Kris menimpali ucapan Suho.

Sejauh mereka melangkah, mereka tak menemukan tubuh Jung ajjhuma diseisi rumah.

Tiba-tiba….

“HYUNGG!!! KEMARILAH!! PPALIWA!!”

Teriak Luhan.

Teriakan Luhan juga sampai ditelinga Ahreum dan yang lainnya. Penasaran. Ahreum berlari menuju si empu suara. Dengan Lay, Sehun dan Tao yang sedikit mendahului Ahreum.

Sedetik kemudian teriakan itu pecah.

“Kyaaaaaaaaaaaa!!!! Ajjhummaaaaaaa!!! Andwaeeeeeeyooooo!!!!”

Teriakan dan tangisan Ahreum pecah jadi satu ketika melihat Jung ajjuhma sudah kaku dan dikerubungi lalat bahkan sudah mulai mengeluarkan bau busuk. Itu, menggantung diatas pohon cemara belakang rumah Ahreum.

-Vampires vs Wolves-

Ahreum tak henti-hentinya menangis, tak ada yang bisa menenangkannya. Bahkan, Suho yang biasanya bisa meredam emosi Ahreum. Juga tak dapat menenagkan Ahreum.

Jasad Jung ajjhuma telah dikuburkan malam itu juga, para vampires dan wolves tak mau mengambil resiko jika saja Ahreum masih trauma dan teringat dengan keadaan Jung ajjhuma tadi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mereka memutuskan untuk membawa Ahreum kembali kerumah para vampires. Keduanya setuju, bahwa tinggalnya Ahreum dirumahnya ini. Akan membuatnya ditempatkan dalam situasi yang bahaya.

“Bagaimana? Sudah diurus jasadnya?” Tanya Kris pada Luhan dan Chanyeol, memastikan.

“Sudah, Hyung.” Jawab keduanya serempak.

“Joon-ah! Lebih baik kita bergegas sekarang. Aku takut para nemora akan kembali lagi nanti.” Desak Kris pada Suho.

“Ehm, baiklah. Aku akan meminta tolong pada Baekhyun dan D.O untuk mengemasi semua barang-barang Ahreum.”

Sementara itu, Lay masih berusaha menenangkan nona mudanya itu.

“Hiks.. ige mwoya? Lay-ssi, siapa yang tega melakukan ini pada Jung ajjhuma..” racau Ahreum ditengah isakannya.

“Ulljimayeo, manis. Itu pasti ulah para perampok. Sudahlah, jangan menangis lagi. Apa kamu tega membuat kami risau dengan keadaanmu yang seperti ini.” Ucap Lay pasrah, seraya menangkupkan tangannya dikedua pipi Ahreum dan mengusap lembut air matanya.

“Tapi, Lay… aku sangat menyayangi Jung ajjhuma. Dia sudah seperti ibu bagiku. Dia merawatku selama 17 tahun ini, dia bahkan rela tak memiliki keluarga hanya untuk merawatku.” Jelas Ahreum lengkap dengan tatapan memelasnya pada Lay.

Sungguh, Lay berani bersumpah bahwa dia merasa ngilu disekujur tubuhnya ketika melihat Ahreum menangis, apalagi seluruh tubuh Ahreum lemas seperti ini.

“Cha! Nona muda apa sudah siap berangkat? Kita akan pulang sekarang juga.” Ucap Suho dengan angel-smile-nya.

“Shirreeeoo!! Inikan rumahku. Aku sudah pulang.” Jawab Ahreum dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali.

“Tapi, Ahreum. Rumah ini sudah tidak aman bagi kamu. Kamu bisa saja dalam posisi Jung ajjhuma, jikajika tetap bersikeras tinggal disini.” Bujuk Sehun dengan anggukan kepalanya.

“Shhirreeeooo!! Kalau kalian mau pergi. Pergi saja! Lagipula sejak awal kalian memang tidak disini kan.”

“Kenapa kamu keras kepala? Apa kamu tidak bisa melihat raut kekhawatiran diwajah kami?” Kini giliran Kai yang angkat suara untuk membujuk Ahreum.

Ahreum menghentakkan kakinya ditanah sebanyak yang ia bisa. Ia bahkan meremas-remas tanggannya sendiri. Terlihat jelas dia amat frustasi dengan semua ini.

“Ayolah, nona menurutlah pada kami. Ini sudah larut malam, besok kan nona harus sekolah.” Bujuk D.O

“Sekolah? Nah, justru karena besok aku sekolah. Makanya aku harus tinggal disini. Barang-barangku kan ada didalam rumah ini!!!” Bentak Ahreum dengan tangan mengepal diudara.

“Ehm, jeogi! Jika maksudku ‘barang-barang’ itu termasuk seragam sekolah, tas dan yang lainnya. Maka, kamu tidak perlu khawatir. Semuanya sudah dimobil, kami sudah mengemasinya untuk kamu.” Jelas Baekhyun dengan senyuman tak berdosanya.

“MWO?? MWORAGO?? Memangnya kalian siapa? Kenapa berani-beraninya melakukan itu pada semua bara-,”

Celotehannya terputus dan berganti teriakan terkejut ketika lengan kekar dan hangat mengamit pinggangnya dari belakang dan membawanya pada gendongan dipundak sang empu lengan.

“HYAAAAAKKK!!! KYAAAAA!!! MWOYA IGEEE!!!” teriak Ahreum meronta-ronta.

“Omo! Kris hyung jjang!!” Puji Tao pada Kris yang ternyata si empu lengan itu.

“Baiklah, semuanya sudah siap pergi kan? Ayo kita segera bergegas. Aku danXiumin sudah menghilangkan jejak kita dari rumah ini.” Jelas Kris seraya memperbaiki posisi Ahreum dipundaknya agar lebih nyaman. “Dan untukmu, nona muda Ahreum. Maafkan aku, jika aku sudah bertindak tidak sopan padamu.” Tambah Kris dengan memulai langkahnya.

“Cih! Dasar tiang menyebalkan!!” Rutuk Ahreum dibalik punggung Kris.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ahreum langsung turun dari mobil dan bergegas naik ke lantai dua, sesaat setelah sampai di rumah para vampires.

Kris tahu, perlakuannya tadi pasti membuat Ahreum marah padanya.

“Dduizhang! Harusnya tadi kamu jangan seperti itu.” Ucap Suho datar, seraya menurunkan barang-barang Ahreum.

“Iya! Itu sama saja kamu mencari kesempatan ditengah kepanikan Hyung!” Timpal Sehun dengan gaya baby-act-nya.

“Sudahlah, yang pentingkan nona muda Ahreum sudah disini. Setidaknya dia aman sekarang.” Celetuk Chen dari balik mobil, berjalan memasuki rumah.

Semuanya ikut mengekor dibelakang Chen, kecuali Kris dan Suho. Mereka masih sibuk menurunkan barang-barang Ahreum yang berjumlah 8 koper besar.

Malam ini, Ahreum tidak bisa tidur. Tapi setiap ada suara langkah kaki hendak memasuki kamarnya, ia selalu berpura-pura memejamkan matanya. Ia tak mau membuat keduabelas namja yang juga ada dirumah ini ㅡlagi-lagi merasa khawatir. Pada dirinya.

Bayangkan saja, jika kau menjadi Ahreum. Hari ini orang yang sangat disayanginya, telah pergi untuk selamanya. Pergi tanpa alasan yang pasti. Bukan sampai disitu penderitaan Ahreum. Besok adalah hari senin, hari dimana dimulainya awal penderitaan yang sesungguhnya dalam hidupnya. Besok adalah hari pertamanya sekolah, setelah dua hari ini dia berada dalam kesulitan ㅡtentu saja itu semua juga karena para vampires dan wolves.

‘Cklek’

Suara pintu kamarnya terbuka ㅡentah yang keberapa kali. Samar ia lihat, itu adalah siluet dari seorang Kris. Seseorang yang dengan entengnya melancarkan tangannya dipinggang Ahreum. Seseorang yang dengan gampangnya membuat Ahreum merasa panas dikedua pipi dan perutnya karena perlakuannya tadi.

Perlahan namun pasti, Kris berjalan ke ranjang Ahreum. Ia meletakan sebuah lilin dengan aroma terapi yang amat menenangkan. Bagi Ahreum. Kini Kris duduk disebelah kanan ranjang Ahreum.

Ahreum yakin dan berani bersumpah, bahwasannya kini Kris tengah menatapnya dengan tatapan intens.

Sedetik kemudian…

Tangan besar nan hangat milik Kris, membelai pipi Ahreum dengan amat lembut. Bahkan terlalu lembut. Pikir Ahreum.

“Maafkan aku. Bukannya aku bermaksud tak sopan. Tapi, aku melakukan semua ini untukmu. Aku hanya ingin memenuhi permintaan Tn. Besar Lee, aku juga ingin melindungimu. Bahkan, hati kecilku juga ingin berusaha semampunya untuk melindungimu.” Jelas Kris dengan tetap membelai lembut kedua pipi Ahreum.

Ahreum ingin berteriak saat itu juga. Bukan teriakan marah atau kecewa seperti yang ia lakukan dirumahnya tadi. Tapi, lebih ke teriakan malu dan merasa jantungnya akan pecah saat itu juga.

Mungkin karena ini pertama kalinya, ia diperlakukan amat lembut oleh seorang lelaki. Terlebih lagi, akhir-akhir ini dia mendapat perlakuan itu dari dua belas lelaki sekaligus.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kicuan burung didahan pohon pinus disekitar hutan. Membuat Ahreum terbangun dari tidurnya. Ia bingung, bagaimana ia bisa tertidur. Yang Ahreum ingat, semalam Kris berada disebelahnya. Itu saja.

Ia melirik kearah jam dinding sekilas, kemudian ia mencibir sekilas. Dan beranjak dari tempat tidurnya.

Ahreum benar-benar terlihat seperti manusia hari ini. Bagaimana tidak. Rambutnya dipagi hari terlihat berantakan, belum lagi bekas air liur yang berada disudut bibirnya. Sungguh bukan sosok seorang nona muda yang anggun.

“Shuttt! Jangan berisik, panda!!”

“Yak!! Aku ini tetap lebih tua darimu! Harusnya kamu memanggilku Hyung.”

“Eeiisshh! Dasar panda ini! Sudah kubilang jangan berteriak!! Aigoo!!”

“Yak!! Kamu yang teriak duluan!! Dasar baby giant!!”

“Mwoya?” Tanya Ahreum pada dirinya sendiri sambil masih membersihkan air liur yang mengering disudut bibirnya.

“Yak! Nanti kamu bisa membuat nona muda bangun!!”

“Hey! Panda! Sudah berapa kali aku bilang? Dia tidak mau dipanggil ‘nona muda’ panggil dia Ahre-,”

‘Clekkk’

Pintu kamar Ahreum terbuka dengan lebarnya. Sehun dan Tao. Yang ternyata adalah si pemilik suara itu, terkejut melihat Ahreum memergoki mereka sedang berada dibalik pintu. Mereka benar-benar merasa bersalah, dan berpikir jikalau Ahreum marah dengan kelakuan mereka.

“Apa yang kalian lakukan disini?”

“Em, itu.. ah, Sehun yang mengajakku non-, maksudku Ahreum.” Jawab Tao gelagapan.

“Mwo? Ahreum?” Hardik Ahreum dengan melancarkan kacak pinggangnya.

“Muahahahaha, sudah kubilang jangan memanggilnya Ahreum. Panggil saja nona muda, iyakan nona muda?” Timpal Sehun menyenggol bahu Tao.

“Siapa juga yang menyuruhmu memanggilku nona muda.” Ejek Ahreum pada Sehun. Ahreum merasa perutnya geli karena menahan tawa. “Sudahlah, aku mau mandi. Dan, em! Kalian jangan coba-coba untuk mengintipku yah?” Gurau Ahreum.

“Tidak akan!! Kami tidak akan berani nona!” Jawab Sehun dan Tao bersamaan.

Tawa Ahreum pecah setika, kemudian dia berjalan memunggungi Sehun dan Tao, dengan berkata ‘jangan pernah memanggilku nona muda lagi! Cukup panggil aku Ahreum. Oke’

Sehun dan Tao hanya menggangguk-ria menanggapi perintah Ahreum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sarapan pagi sudah siap, roti bakar dengan selai cokelat dan taburan keju telah tersaji dimejak makan. Ini adalah kali pertama bagi para vampires melihat makanan ㅡdalam artian sesungguhnya.

“Ini yang dimakan Ahreum?” Tanya Sehun tanpa mengharapkan jawaban dari para hyungnya. “Eeuuh, ini menjijikan. Aku jauh lebih memilih darah rusa, apalagi yang masih bayi. Eum, itu pasti lebih manis dan menyegarkan daripada roti bakar dan susu coklat ini.” Tambahnya sambil membayangkan darah rusa segar.

‘Pletak!!’

Jitakan keras mendarat tepat dipuncak kepala Sehun. Dia menoleh dan menatap tajam kearah Baekhyun.

“Jaga bicaramu! Nanti kalau Ahreum mendengarnya, apa yang akan kamu jelaskan padanya?” Desis Baekhyun pada Sehun.

“Ehm, sepertinya enak.” Tebak Xiumin yang telah duduk dimeja makan. Dan disusul oleh Chen dan Luhan.

“Em, baunya saja enak, hyung.” Timpal Luhan.

“Jangan makan dulu sebelum Ahreum makan.” Cegah D.O

Roti bakar, susu dan sedikit salad buah itu semua adalah buatan D.O, meskipun dia seorang vampires dia adalah seorang ahli memasak diantara keenam vampires yang lainnya.

“Iya, kami tahu.” Cibir Luhan, Chen, dan Xiumin.

“Kamu terlihat cantik, manis” puji Kai pada sosok Ahreum yang baru turun dari lantai dua.

Kai memang benar, penampilan Ahreum hari ini, sukses membuat Chanyeol, Sehun, Tao dan Chen membelalakan kedua matanya. Bahkan mereka tak berkedip sekalipun memandangi penampilan Ahreum hari ini.

Pita merah yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda, kaos kaki yang menutupi kakinya hingga lutut, kemeja dan sebuah tas punggung munggil. Terlihat amat cocok dengan Ahreum.

“Omo! Tapi kenapa wajah kamu cemberut begitu, manis?” Tanya Lay seraya menuntun Ahreum duduk dimeja makan.

“Ehm, aku sangat malas untuk kesekolah. Ini adalah hal yang membosankan dan menyebalkan bagiku.” Jawab Ahreum dengan tatapan malasnya.

“Sekolah itu menyenangkan, manis. Aku saja ingin kembali ke sekolah.” Timpal Lay menyemangati.

“Apa yang kamu takutkan, manis? Apa kamu mau kami ikut kesekolahmu?” Tawar Kai pada Ahreum.

Ahreum hanya menggelengkan kepalanya sekilas, ia kemudian memakan roti bakarnya dan meminum susunya seteguk. Lalu bergegas untuk berangkat sekolah.

“Eesspphh aah! Masita! Siapa yang memasak? Sumpah ini sangat enak. Tapi, lain kali bisakah kalian memasakanku nasi goreng kimchi dan susu dengan madu” Pinta Ahreum dengan mata berbinar dan aegyonya.

“Ehm, tentu saja! Selama kamu menyukainya aku pasti membuatkannya untukmu.” Jawab D.O dengan menggaruk tengkuk belakangnya. Yang diyakini gatal.

“Geundae! Nan gattda! Annyeong yeorobun.” Pamit Ahreum dengan bergegas memakai sepatunya.

‘Sreett’

Aktivitasnya terhenti sejenak ketika sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Biar kuantar.” Tawar Luhan melancarkan Senyuman memikatnya.

“Ehm, boleh saja. Kajja!” Ajak Ahreum dengan mengamit lengan kiri Luhan. Sambil mengucapkan selamat tinggal pada kesebelas namja lainnya yang sudah menunjukan ekspresi iri pada Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

D.O masih merasa ada yang aneh dengan Ahreum. Dia tidak mengerti mengapa seorang cucu dari Tn. Besar Lee yang notabene adalah orang paling kaya di Mokpo, itu teramat takut untuk pergi kesekolah.

“Hyung! Apa kamu ingat dengan luka dilutut Ahreum? Luka disaat kita pertama bertemu dengannya? Ingat tidak?” Desak D.O yang berhasil mengalihkan perhatian Suho, bahkan perhatian semuanya kearah ucapan D.O

“Maksudmu luka dan seragam yang basah, Hyung?” Sahut Kai.

“Ya! Benar! Apa menurutmu ada yang salah disekolahnya?” Lagi-lagi D.O bertanya.

“Tunggu! Apa maksudmu? Luka? Seragam yang basah?” Racau Xiumin dan Lay kebingungan.

“Bukan hanya itu, kurasa penampilannya juga acak-acakan. Dan, oh! Hyung, jangan lupakan debu dan pasir yang menempel disekujur tubuh Ahreum.” Tambah Sehun.

“Heoksi, apakah mungkin itu ulah nemora?” Terka Chen.

“Maldo andwae! Aku yakin itu bukan nemora. Lagipula, jika itu nemora. Kalian pasti tahu mereka tidak akan hanya menyebabkan luka ringan pada Ahreum. Ingat dengan apa yang menimpa Jung ajjuma?” Jelas Suho panjang lebar.

“Kalau begitu, ayo kita cari tahu.” Celetuk Kris tiba-tiba.

“Cari tahu bagaimana, Hyung?” Tanya Tao penasaran.

“Kau, Kai, Sehun, dan Lay. Kalian akan kembali kesekolah.” Jelas Kris sambil menunjuk kearah yang disebutkan.

“Na-ya? Wae?” Sahut Kai dengan ujung jarinya tepat menunjuk kewajahnya.

“Kamu kan masih 17 tahun, setidaknya umur terakhirmu saat masih hidup. Sehun juga kan? Masalah Tao dan Lay, kurasa mereka juga mempunyai wajah baby-face. Jadi tidak akan ada masalah.” Jelas Kris melancarkan senyuman seduktifnya.

“CALL!!! aku setuju, hyung!! Itu pasti akan sangat menyenangkan.” Timpal Lay dengan semangatnya.

“Whooaaa!! Aku mau! Nanti pasti bisa ketemu sama Ahreum!! Kyaaa!” Timpal Sehun tak kalah semangatnya.

“Aku ikut!!! Aku tidak mau kalah sama giant baby!” Sahut Tao juga antusias.

“Ehm, aku ikut sajalah dengan permainan kalian.” Sahut Kai menghembuskan nafas beratnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suasana canggung terjadi dalam mobil, Luhan merasa lidahnya keluh dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun ㅡlebih tepatnya malu untuk memulai pecakapan.

“Jadi? Sudah berapa lama kalian semua berteman?” Celetuk Ahreum mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

“Maksudmu. Aku, Xiumin, Kris, Chen, Lay dan Tao? Kami sudah bersahabat sejak kami kecil.” Jawab Luhan datar dan tetap fokus pada kemudi.

“Ah, arra. Kalau dengan Suho dan yang lainnya?”

“Sejujurnya, kami juga sudah berteman lama. Tapi, hanya karena kesalapahaman saja. Dan itu membuat segalanya berantakan.”

“Kesalahpahaman seperti apa?” Tanya Ahreum penasaran. Kini tatapan Ahreum sepenuhnya terkunci pada Luhan.

“Sebut saja, karena sesuatu yang buruk yang juga menimpa Jung ajjhuma.” Ucap Luhan tetap sedatar mungkin.

“Ne?”

Ahreum terlihat bingung, dan kembali merenung memikirkan Jung ajjhuma. Dia benar-benar rindu dengan nasi goreng kimchi buatan Jung ajjhuma.

“Eh, kamu melamun? Kita sudah sampai, manis. Ini sekolahmu kan?” Ucap Luhan memastikan.

“Ehm, ne. Terima kasih Luhan-ah” Ucap Ahreum seraya keluar dari mobil dan bergegas berjalan memasuki gerbang sekolah.

“Ahreum-ah!” Panggil Luhan yang entah sejak kapan sudah keluar dari mobil.

“Semoga harimu menyenangkan. Dan jangan pikirkan tentang Jung ajjhuma lagi, ne? Aku yakin dia ingin kamu bahagia sekarang.” Jelas Luhan menasehati Ahreum, dengan tak lupa melancaran pelukannya pada Ahreum. Dia juga menepuk lembut punggung Ahreum.

Ahreum benar-benar tak habis pikir dengan perlakuan kedua belas namja ini. Seminggu lagi Ahreum bersama mereka, mungkin Ahreum akan mati karena terlalu sering mendapat perlakuan khusus. Terkanya dalam hati.

“Ne, Luhan-ah. Gomawo, dan.. em, bisakah kamu lepaskan aku? Bel sekolah akan segera berbunyi.” BujukAhreum pada Luhan.

Luhan merasa malu dengan tindakannya, dia langsung melepas dekapannya pada Ahreum dan bergegas pergi meninggalkan Ahreum. Ahreum terkekeh sekilas menanggapi tingkah Luhan yang sudah pergi dengan mobilnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ahreum mengok sekilas, dia merasa lehernya sangat berat untuk menoleh kebelakang. Untuk memeriksa si empu suara yang berteriak kearahnya tadi.

“Omo! Senyuman dipagi hari? Aigoo, ini bukanlah kebiasaan nona muda Ahreum.” Ejek Dasom dan para pengikutnya.

“Enyahlah! Kamu menghancurkan moodku, Dasom!” Bentak Ahreum dengan mempercepat langkahnya melewati Dasom.

“Yak!!! Kamu membentakku? Heol!! Rupanya namja tadi sudah bisa merubahmu seperti ini, huh?”

“Geumanhae!! Apa salahku sampai kamu seperti ini padaku?”

“Salahmu? Cih! Menjijikan! Aku benar-benar muak denganmu!!” Racau Dasom tak jelas.

“Mwo? Muak? Harusnya aku yang bilang seperti itu.” Hardik Ahreum tetap dengan langkah cepatnya, dia bahkan sedikit berteriak.

‘Bbbaaakk’

Sebuah batu yang lumayan besar, mendarat tepat dibelakang kepala Ahreum. Ahreum memekik keras sekali, dia meraba belakang kepalanya sekilas.

“Darah!!! Dasom-ssi!!! Kamu benar-benar lebih rendah dariku!!” Teriak Ahreum yang sudah menghadap kearah Dasom.

Ahreum bersusah payah menahan air matanya. Ia tak ingin terlihat makin lemah didepan Dasom dan anak buahnya. Terlebih lagi mereka masih berada dihalaman sekolah.

“Kemari kamu, cucu iblis!!! Kamu bilang apa tadi? Lebih rendah dariku?”

Dasom terlihat amat marah. Ia menghampiri Ahreum, dan seperti seekor singga yang sudah siap menerkam mangsanya hidup-hidup.

Benar saja, sedetik kemudian. Ketika Dasom berada tepat didepan Ahreum. Ia mendaratkan sebuah tamparan keras dipipi kiri Ahreum.

‘Pppaaaakkk’

“Kamu makhluk rendahan!! Yang tidak lebih berharga dan berguna dari kucing yang dibuang ditong sampah!! Beraninya menghinaku seperti itu!!! Sseolma!!!” Bentaknya mencaci-maki Ahreum.

Darah segar, mengalir disudut bibir Ahreum. Ia merasa kesakitan dan malu menjadi satu. Sekeras apapun ia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Nyatanya, air mata itu jatuh juga.

“Geeumm.. geummannhaaee..” ucapnya ditengah isakan dan nafas yang tersenggal.

“Yaaaakkk!! Manni appago!!!!” Teriak Dasom kesakitan.

Ahreum tak tahu apa yang terjadi. Yang pasti, kini Dasom tersungkur ditanah dengan lutut yang terluka. Para anak buahnya berlomba-lomba menolong Dasom untuk berdiri. Dan bergegas pergi meninggalkan Ahreum.

“Aakhh” pekik Ahreum, ketika darah disudut bibirnya dibersihkan dengan saputangan.

Saputangan itu berbau maskulin. Bahkan, kini tangan yang sedikit mengapal dan begitu hangat. Mencoba menangkup kedua pipi Ahreum seraya membersihkan air matanya dengan punggung tangannya.

“Mianhae, manis. Mianhae…” ucapnya dengan suara bergetar dan mata sedikit berkaca-kaca didepan Ahreum.

-TBC-

-SEE YOU IN NEXT CHAPTER^^-

67 thoughts on “Vampires vs Wolves #5 – Wellcome to Ahreum’s Life

  1. Ping-balik: Vampires vs Wolves #10 –The Journal | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s