Sleep Well, My Star…

luhan sleep well my star

 

:: SLEEP WELL, MY STAR ::

 

 

 

“Terima kasih karena telah membuang banyak waktumu untuk udara kosong sepertiku, gege. Wo ai ni…”

 

 

 

Kai’s Version : If Tomorrow

 

 

AUTHOR : shineshen (@shineshen97)

 

CAST :

-Xi Luhan (EXO-M)

-Stella Wang (OC)

-Kim Himchan (B.A.P)

-Melanie Lee (Chocolat)

 

GENRE : Angst, Sad Romance.

 

RATED : PG-15.

 

LENGTH : Oneshot (5.552 words.. Long story, isn’t it?)

 

BACKSONG STORY : The Love You Want (Ni Yao De Ai) OST. Meteor Garden

NOTE :

  • Mian yaa author baru bawa ff Luhan nya sekarang ._. kemaren author lagi sibuk sama acara sekolah di kabupaten, jadi baru sempet nge-post sekarang._.

 

  • FF ini hanyalah sekedar karangan fiksi belaka.
  • FF ini melintas di kepala author pas author gak sengaja nemu dan baca artikel tentang “Bagaimana EXO Memperlakukan Kekasihnya Nanti”
  • Main Cast yeoja disini author pake OC ya😀
  • ·         Author lagi seneng bikin cerita Angst, hoho ^^

 

 

SAY YES TO READ AND COMENT

SAY NO TO BASHING AND PLAGIARISM

 

Hope you enjoy what I wrote ^^

 

 

***

 

 

 

Sosok seorang namja dengan versity berwarna biru tua tampak sedang terduduk sendirian di salah satu kursi. Sejak tadi ia asyik dengan ponsel miliknya sambil sesekali tersenyum kecil memandangi salah satu rekaman video yang sedang ia tonton.

 

“Yak, Luhan-ah!” panggil seorang namja sambil menghampiri namja itu.

Namja ber-versity biru tua itu otomatis mem-pause sesaat rekaman video itu, lalu berpaling ke arah datangnya suara yang memanggilnya tadi.

“Waeyo?” tanya Luhan, namja itu, saat sahabatnya semakin mendekat ke arahnya.

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin memanggilmu saja tadi. Tidak boleh?” balas namja itu sambil menyeringai jahil pada Luhan.

Luhan memutar matanya jengah lalu melanjutkan keasyikannya lagi dengan ponselnya.

 

“Video?” Tanya namja itu, Kim Himchan, sambil ikut melihat layar ponsel Luhan.

“Ne.” jawab Luhan singkat, sebelum tersenyum kecil melihat seraut wajah yeoja yang sedang menampilkan ekspresi aegyo yang gagal di depan camera. Yah, aegyo itu memang masuk kategori gagal untuk dirinya sendiri, namun tidak bagi Luhan yang akan selalu menyukai apapun ekspresi yang ditunjukkan yeoja itu pada setiap video yang diterimanya.

“Stella?” Tanya Himchan setelah sebelumnya menghela napas.

“Ne, tentu saja.” Jawab Luhan lagi, masih terfokus pada yeoja yang ada dalam rekaman video itu.

Himchan meyadari keasyikan Luhan yang sedang terfokus pada video itu. Ia menghela napas sekali lagi, lalu mencoba tersenyum pada Luhan.

“Arra, jadi kau sedang tak mau diganggu? Uhm, kalau begitu sebaiknya aku pergi saja, ne?” sahut Himchan sambil bangkit dari duduknya.

“Yak, kau mau kemana?” Tanya Luhan, akhirnya menatap Himchan sejenak.

Himchan tertawa kecil. “Kalau kau sedang sibuk dengan Stella, itu berarti aku juga boleh sibuk dengan Yoona, kan?”

“Oh, ne.. Jadi kau mau bertemu Yoona? Arra, kayo. Sampaikan saja salamku padanya, ne? Maaf aku tak bisa menemanimu bertemu dengannya. Aku harus menjenguk Stella sore nanti.” Ujar Luhan.

“Ne, arasseo. Annyeong, Luhan-ah!”

“Annyeong!” balas Luhan.

Himchan pun pergi. Meninggalkan Luhan kembali berdua dengan poselnya. Membuat Luhan kembali terfokus pada layar benda itu.

 

“Gege, tanggal 4 nanti jangan lupa menjengukku, ya? Itu jadwalku untuk bangun. Aku harus bangun karena aku sudah sangat merindukan gege! Sampai bertemu saat aku membuka mata nanti, gege! Ppyong! Wo ai ni!”

***

 

Luhan sudah sampai di depan pintu masuk sebuah kamar apartemen. Sejenak ia membatu didepan pintu berwarna coklat tua tersebut. Bayangan seorang yeoja yang sudah sangat dirindukannya semakin memenuhi pikirannya. Yeoja itu. Yeoja yang akan ia temui raganya sebentar lagi, dibalik pintu itu. Tapi jiwanya?

Akankah jiwa Stella sudah kembali ke raganya, tepat saat Luhan membuka pintu nanti?

 

Luhan menghela napasnya. Mencoba tersenyum untuk dirinya sendiri.

 

Tok! Tok!

 

Luhan mengetuk pintu itu dengan halus.

 

“Ya, sebentar..” jawab seorang yeoja dari balik pintu tersebut.

Sesaat kemudian pintu itu terbuka juga. Tampak seorang wanita berusia setengah baya yang membuka pintu itu, menyambut kedatangan Luhan dengan ekspresi yang tak menyangka bercampur senang.

Sungguh ia bahagia melihat kedatangan Luhan hari ini, sesuai permintaan putrinya. Luhan memenuhi permintaan putrinya dengan datang ke apartemen hari ini. Bukankah itu tanda jika—Luhan benar-benar mencintai putrinya?

 

“Selamat sore, Bibi..” sapa Luhan sambil membungkuk pada ahjumma itu.

Ahjumma itu tersenyum. “Selamat sore, Luhan.. Kau pasti datang untuk menjenguk Stella, kan?”

Luhan tersenyum sambil mengangguk.

Sejurus kemudian ahjumma itu kembali menampakkan raut sedih disela lelah yang tergambar di wajahnya. “Stella pasti sudah memberitahumu jika hari ini jadwalnya untuk bangun. Tapi—“

“Stella belum terbangun?” sambung Luhan saat ucapan ahjumma itu terhenti.

Ahjumma itu hanya tersenyum getir menjawab pertanyaan Luhan. Ia lalu menghela napas panjang. “Dengan cara tertidur sangat lama seperti itu, Bibi ragu tentang keadaannya.”

Luhan tersenyum tipis. “Uhm, kalau begitu, bolehkan aku menemuinya sekarang, Bibi?”

Ahjumma itu memandang wajah Luhan dengan ekspresi ragu-ragu. Namun Luhan segera memberi keyakinan.

“Mungkin ia akan tahu kedatanganku, dan akan langsung terbangun.” Sahut Luhan dengan tawa kecil.

Ahjumma itu membalas tawa Luhan. “Baiklah, kau boleh menemuinya sekarang. Buatlah ia cepat terbangun, Luhan. Bukankah kita semua sudah terlalu merindukannya?”

 

Luhan pun masuk ke dalam ruangan apartemen itu. Ruangan itu sengaja dipilih tidak terlalu besar karena memang hanya ditempati oleh 2 orang saja. Stella Wang bersama ibunya. Mereka pindah 2 tahun yang lalu dari Beijing, mengikuti jejak Luhan yang terpilih mendapatkan beasiswa di Seoul.

Luhan dan Stella adalah sepasang kekasih. Saat Luhan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Seoul, Stella tak mau harus berpisah sejauh itu dengan Luhan. Karena menurutnya, Luhan adalah salah satu alasannya untuk tetap hidup dan bangun di setiap jadwal tidur panjangnya. Maka ia bersama ibunya memutuskan untuk menyusul Luhan pindah ke Seoul.

 

Luhan memasuki kamar tidur Stella. Kamar yang sangat tenang, sangat bersih, dan sangat wangi untuk ukuran yeoja biasanya. Bau lavender yang menenangkan langsung bisa Luhan cium saat memasuki kamar dengan dekorasi serba warna putih dan ungu lavender itu.

 

Stella Wang. Yeoja berdarah Chinese-American itu masih tertidur diatas ranjangnya. Ia mengenakan piyama sutera kesayangannya, satu stel dari sekian banyak yang ia simpan di dalam lemari. Wajah cantiknya menunjukkan ekspresi tidur yang sangat tenang. Raganya memang tampak damai. Namun jauh dalam lubuk hati orang-orang yang mengerti tentang keadaan Stella yang sebenarnya pasti berpikir bahwa jiwa yeoja itu pasti menderita.

Stella.. Ah, berapa lama yeoja itu bisa merasakan indahnya dunia ini?

Berapa lama yeoja itu bisa merasakan kasih sayang orang-orang yang ada di sekitarnya?

Berapa lama yeoja itu menyadari betapa Luhan sangat menyanginya dan tak pernah berpikir akan meninggalkannya ditengah tidur panjangnya?

 

Memang sulit bagi siapapun saat menerima vonis aneh yang menimpa orang yang mereka kasihi. Termasuk orang-orang yang ada di sekitar Stella.

Stella Wang.

Yeoja itu menerima vonis aneh semenjak 4 tahun yang lalu. Sebuah vonis yang hingga saat ini masih sulit diterima oleh logika orang-orang yang ada di dekatnya.

 

Sleeping Beauty Syndrom.

 

Ada yang pernah mendegar nama sindrom ini sebelumnya?

Dimana penderita sindrom ini tak bisa menjalani kehidupan mereka layaknya orang-orang normal lainnya. Seumur hidup mereka —setelah menerima vonis ini— akan terjebak dalam siklus waktu tidur yang aneh. Mereka bisa tertidur berminggu-minggu sampai berbulan-bulan lamanya. Lalu suatu saat nanti mereka akan terbangun dan terjaga sebentar hanya untuk beberapa keperluan, sebelum akhirnya mereka akan mengalami tidur panjang lagi. Begitu seterusnya.

Hidup mereka akan terus-menerus diganggu oleh siklus waktu tidur yang aneh, dan sejauh ini belum ada yang bisa menyembuhkan sindrom ini walau dengan jalan terapi sekalipun. Raga mereka mungkin akan terlihat baik-baik saja. Namun jiwa mereka tentu menderita. Seperti Stella, yang di setiap ia bangun selalu berkata bahwa seolah-olah ia harus hidup di dua alam yang berbeda dan bergantian.

 

Luhan menatap wajah Stella lama. Seakan terlintas kenangan saat pertama kali bertemu dengan Stella dulu.

Stella Wang, dulu bahkan Luhan tak mengenalnya.

Namun entah kenapa ia merasa sering bertemu dengan Stella dimana saja. Sampai suatu hari Stella muncul lagi di hadapannya dan dengan jujur bilang bahwa ia memang telah mengikuti Luhan selama ini.

Luhan tak tahu darimana Stella bisa mengenalnya. Yang jelas Stella tahu apa saja kebiasaan Luhan. Awalnya Luhan merasa sedikit risih diikuti oleh Stella terus. Terlebih lagi saat itu Luhan sudah SMA, sedangkan Stella masih seorang bocah SMP.

Namun lama-kelamaan rasa risih itu seolah hilang setelah Luhan mengenal Stella lebih jauh. Luhan jatuh hati pada Stella, hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

 

Beberapa bulan mereka lalui dengan menjalin hubungan yang bahagia. Namun semuanya terasa hancur setelah Stella menerima vonis tentang sindrom aneh yang dideritanya. Karena sindrom itu pula Stella tak bisa melanjutkan sekolahnya. Stella menolak tawaran home schooling dari orangtuanya, dan malah meminta Luhan untuk sedikit mengajarinya tentang berbagai materi yang harusnya ia terima di sekolah umum.

 

Luhan tersenyum membayangkan semua kenangan itu.

Hingga tanpa disangkanya, Stella mulai mengerjapkan matanya perlahan. Tanda bahwa ia akan bangun sebentar lagi. Bertemu lagi dengan dunia yang selama beberapa minggu ini telah sangat diindukannya.

 

“Gege?” sahut Stella pelan. Ia mengucek-ucek matanya sesaat, lalu tersenyum sepenuhnya memandang Luhan.

“Kau sudah bangun?” Tanya Luhan, membalas senyum Stella.

Stella mengangguk. “Aku sudah rindu padamu, gege.”

 

 

“Gege pasti bosan me-replay video itu berulang-ulang,” sahut Stella sambil menatap Luhan.

Luhan menyuapkan sesendok bubur lagi pada Stella, lalu tersenyum memandangnya. “Aku tidak bosan. Aku kan punya banyak video-mu.”

Stella tak menjawab. Ia sibuk mengunyah bubur yang sekarang memenuhi mulutnya.

 

“Kau pasti lapar,” sahut Luhan sambil tertawa kecil. Ia mempersiapkan suapan bubur yang selanjutnya untuk Stella.

“Sangat. Gege tahu darimana?” Stella balik bertanya dengan polos. Luhan menyuapkan suapan selanjutnya pada Stella.

“Lihatlah, kau pasti tidak sadar jika kau makan sangat cepat sekarang.” Jawab Luhan. “Sebentar lagi kau juga akan bertambah gemuk dengan cepat.”

 

Stella memasang cemberut lucu mendengar kata-kata Luhan. Luhan yang menyadarinya langsung melepas tawanya sambil mengacak lembut rambut Stella.

“Ayolah, jangan marah. Gege hanya bercanda saja tadi. Makanlah yang banyak, gege tak mau melihatmu semakin kurus. Nanti kau tidak cantik lagi,” sahut Luhan.

 

Pipi Stella bersemu sesaat, lalu mau tak mau ia tersenyum juga.

“Gege juga. Gege belum makan? Ayolah, gege juga harus makan sepertiku. Aku tak mau melihat gege kurus dan tidak tampan lagi,” sahut Stella.

“Aku makan nanti, setelah kau selesai.” Sahut Luhan.

“Janji?”

“Tentu saja. Gege juga sudah lapar,”

 

Stella tersenyum. Ia melahap suapan terakhir buburnya.

 

“Gege, besok gege sibuk tidak?” Tanya Stella, setelah menelan buburnya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Luhan.

“Besok gege mau tidak menemaniku jalan-jalan?”

Luhan terdiam sesaat.

 

“Uhm, baiklah. Tapi agak siang tidak apa-apa, ya? Ada urusan yang harus gege selesaikan dulu di kampus. Setelah selesai, gege berjanji akan segera menjemputmu.” Jawab Luhan akhirnya.

Stella mengangguk sambil tersenyum lebar. “Baiklah, gege! Xie xie!”

***

 

Luhan mempercepat langkahnya menemui Himchan. Beberapa lembar berkas ada ditangannya sekarang, dan ia harus segera menitipkannya pada Himchan sebelum Stella terlalu lama menunggunya.

 

“Himchan-ah!” panggil Luhan pada namja yang sedang duduk di kursi kantin sambil memainkan ponselnya itu.

Himchan menoleh dan ia menemukan Luhan setengah berlari menghampirinya.

“Waeyo?”

 

Luhan sudah sampai didekat Himchan lalu ia pun memberikan berkas itu pada Himchan. Himchan yang belum tahu maksud Luhan hanya menerima berkas itu dengan kening berkerut.

 

“Ige mwoya?” Tanya Himchan sambil membolak-balik berkas itu.

“Itu tugasku.” Jawab Luhan masih sedikit terengah-engah. “Nanti siang tolong kau berikan pada Ahn seonsaengnim.”

“Kau mau bolos kuliah?” Tanya Himchan setelah bisa menerka maksud Luhan. “Neo mworago? Tidak biasanya kau mau bolos kuliah seperti ini,”

“Aku ada janji dengan Stella hari ini,” jawab Luhan. “Kau tahu kan, aku tak mungkin mengecewakannya dengan bilang bahwa hari ini ada kelas dari dosenku.”

“Lalu aku harus bilang apa pada Ahn seonsaengnim jika ia menyanyakanmu nanti?”

“Bilang saja aku ada urusan keluarga,”

“Kau yakin?”

“Ne.” jawab Luhan sambil melirik jam tangannya. “Himchan-ah, aku harus pergi sekarang. Gumawo atas bantuanmu, ne?”

 

Tanpa menunggu jawaban Himchan, Luhan sudah melangkahkan kakinya lagi. Pergi menemui Stella.

Himchan hanya menatap kepergian Luhan tanpa sanggup untuk berkata apa-apa lagi. Lagipula Luhan sudah melangkah jauh darinya. Sedikit yang ia bisa pahami dengan pola pikir Luhan. Namun apa salahnya? Semua orang punya pola pikir yang berbeda-beda. Bagaimana cara Himchan memikirkan permasalahan Luhan, belum tentu sama dengan cara Luhan dalam memikirkan dan menghadapinya.

***

 

Siang itu Luhan menemani Stella jalan-jalan ke taman. Melihat cuaca yang cerah ini, Luhan tidak keberatan. Terlebih lagi itu adalah permintaan Stella sendiri, dan yeoja itu terlihat sangat senang ketika Luhan menyetujui tempat tujuan jalan-jalan mereka hari ini.

Namun hari yang semakin beranjak siang membuat sinar matahari yang bersinar terang di langit Seoul terasa semakin menyengat. Ah, ini musim panas. Pantas saja cuacanya seekstrem ini. Dengan pandangan sedikit khawatir Luhan memandangi Stella yang sedang menikmati es krim vanilla-nya dengan ekspresi yang menyenangkan.

 

“Memangnya hari ini gege tidak ada jam kuliah?” Tanya Stella tiba-tiba, membuat Luhan terhenyak seketika.

“Kalau hari ini gege ada jam kuliah, aku tidak akan memaksa… Aku tidak mau melihat gege sampai bolos kuliah hanya gara-gara mau menemaniku jalan-jalan.” Lanjut Stella sambil menoleh menatap Luhan yang sedang duduk di kursi taman yang ada di sebelahnya.

“Uhm…”

“Sudah kuduga,” potong Stella sambil tersenyum samar. “Gege pasti bolos kuliah gara-gara aku. Seharusnya gege tak harus melakukannya. Kalau saja gege jujur kalau gege tak bisa, aku akan mengerti.”

 

Luhan terdiam mendengar kata-kata Stella yang terdengar kecewa. Luhan mengambil posisi berlutut didepan Stella.

Luhan tersenyum memandang Stella yang saat ini sedang setengah cemberut.

 

“Iya, hari ini gege memang ada jam kuliah. Tapi gege sudah menitipkan tugas yang harus gege kumpulkan hari ini pada teman gege. Jadi kau tidak perlu khawatir,” sahut Luhan sambil masih tersenyum.

“Aku tak mau gege menyayangiku dengan cara seperti itu,” balas Stella datar. “Aku tak mau gege sampai mengorbankan kuliah gege hanya karena permintaanku. Lagipula kan gege bisa menemaniku kapan saja, setelah gege selesai dengan jam kuliah gege.”

 

Luhan menghela napas sejenak. Tapi ia tetap tersenyum pada Stella. “Baiklah, gege salah. Lain kali gege janji tak akan berbohong lagi padamu. Maafkan gege…”

Stella akhirnya tersenyum membalas Luhan. “Nah, itulah yang aku inginkan. Janji ya, gege?”

“Iya, gege janji.”

Stella tersenyum lagi pada Luhan. Matanya mengikuti Luhan saat namja itu kembali ke posisi duduknya semula.

 

Stella mengalihkan lagi pandangannya pada es krim cone yang masih ada di genggamannya sekarang. Pandangannya sedikit terkejut saat menyadari bahwa bagian es krim itu sudah terlalu banyak yang meleleh, sesaat kemudian ia sudah terlihat sibuk membersihkan lelehan es krim yang hampir membanjiri telapak tangannya.

 

“Aish, es krim-nya cepat sekali meleleh,” sahut Stella sambil masih sibuk membersihkan lelehan lengket itu. “Gege, kau punya tisu?”

Luhan menggeleng. Tapi ia lalu teringat sesuatu, ia tergerak untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam saku hoodie-nya dan memberikannya pada Stella.

Stella tak langsung menerima saputangan yang Luhan berikan itu, matanya menatap benda tipis itu sesaat. Dan sejurus kemudian ia memandangi manik mata Luhan, matanya tampak terkesiap dan tak mampu berkata apa-apa.

 

Stella menggelengkan kepalanya setelah selesai menatap Luhan, lalu ia tersenyum kecil. “Ah, tidak. Nanti saputangan gege kotor.”

“Tidak apa-apa. Pakai saja. Nanti kan bisa dicuci,” sahut Luhan meyakinkan Stella. Kembali meyodorkan saputangan itu, membuat pendirian Stella mulai menggoyah.

Stella menatap Luhan lagi, masih tersisa sedikit keraguan disana. Tapi hanya dengan tatapan mata, Luhan mencoba menghapus itu dan meyakinkan Stella bahwa ia benar-benar ikhlas untuk memberikan saputangan itu pada Stella.

 

Es krim itu semakin meleleh di tangan Stella, membuat ia semakin tak nyaman karena rasa lengket yang dijejakan lelehan itu. Stella akhirnya menyerah, ia meraih saputangan itu dan menggunakannya untuk menyeka lelehan mengganggu itu.

Luhan tersenyum memandangi gadisnya, melihat bagaimana ekspresi polos Stella saat membersihkan lelehan itu dari tangannya.

 

“Nah, sekarang sudah bersih, kan?” Tanya Luhan lembut, memandang tangan Stella yang kini sudah bersih dari lelehan itu, namun tetap saja masih meninggalkan rasa lengket yang mengganggu.

“Ah, iya. Tapi tanganku masih terasa lengket, gege.” Jawab Stella polos.

“Baiklah, nanti kita cari keran air untuk mencuci tanganmu itu.” Sahut Luhan.

“Bisa sekarang?” Tanya Stella dengan sedikit rasa tak sabar, ia tak nyaman tangannya kotor seperti ini dalam waktu yang lebih lama lagi.

“Baiklah, ayo kita cari sekarang,” sahut Luhan sambil tersenyum. Luhan bangkit dari duduknya, namun ia heran saat Stella malah diam tanpa ekspresi sambil memandangi saputangan Luhan yang terlihat kotor dengan noda es krim itu kini.

 

“Stella?” panggil Luhan. Stella menatap Luhan, Luhan bisa merasakan ada rasa penyesalan dari cara Stella menatapnya.

“Tuh kan, aku bilang juga apa. Saputangan gege akan kotor,” sahut Stella menyesal sambil memandangi saputangan Luhan lagi.

 

Luhan tersenyum melihat kelakuan Stella lalu sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Stella. Ia memperlihatkan senyum itu pada Stella, seakan menyuruh Stella agar tak usah menyesalkan hal yang tidak penting itu lagi.

“Sudah, sini berikan saputangan itu pada gege.” Pinta Luhan sambil mengadahkan telapak tangannya pada Stella, meminta saputangan itu.

Stella masih diam. Lalu ia menggeleng, sesaat kemudian baru tampak raut ceria terlukis perlahan namun pasti di wajahnya.

“Ah, gege. Aku tahu!” sahutnya dengan keceriaan yang sudah bangkit.

Luhan mengerutkan keningnya, namun Stella sudah tahu apa maksudnya.

 

“Gege, izinkan aku untuk mencuci saputangan ini, ya?” sahut Stella.

Luhan tak tampak terkejut, ia hanya menautkan alisnya sedikit. Stella tersenyum semakin lebar melihat ekspresi Luhan.

“Kuharap itu artinya boleh,” sahut Stella sambil memasukkan saputangan kotor itu ke dalam tas selempang kecilnya.

Luhan hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Stella lagi. Kelakuan yang sebenarnya amat manis, menyiratkan kasih sayang seorang gadis pada kekasihnya. Namun entah kenapa ekspresi Stella saat itu amat kekanak-kanakan, membuat Luhan merasa lucu dan tak ingin menahan tawanya lagi.

“Arasseo, kau boleh mencucinya.” Sahut Luhan akhirnya, lalu sambil masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya ia bangkit lalu mendorong kursi roda Stella dan mulai meninggalkan posisi mereka sebelumnya.

“Arasseo?” Tanya Stella. Dengan raut wajah sedikit bingung ia menatap Luhan, membuat Luhan mau tak mau tertawa lagi.

Stella mengerucutkan bibirnya, mungkin merasa sedikit tersinggung karena Luhan malah tertawa mendengar pertanyaannya.

“Yak, gege! Aku kan tidak mengerti bahasa Korea.” Sahut Stella masih dengan kondisi cemberut.

Luhan berusaha menghentikan tawanya, ia mengacak lembut rambut Stella. “Ah, maaf. Aku hanya merasa lucu dengan ekspresi polosmu tadi. Arasseo itu artinya baiklah,”

 

Stella meredakan cemberutnya, lalu ia menggangguk-anggukan kepalanya pelan tanda mengerti. “Oh, begitu…”

“Ne, kau mau gege ajarkan bahasa Korea?” tawar Luhan.

Stella menyambut tawaran Luhan itu dengan mata berbinar. “Mau, gege! Mau!”

“Arasseo, kita akan memulai kelas bahasa Korea-mu besok. Bagaimana?” putus Luhan.

Stella mengangguk semangat. “Arasseo, gege!”

“Wah, bahkan kau sudah bisa menyesuaikan logatmu. Kurasa tidak akan terlalu sulit untuk mengajarimu. Benar, kan?”

Stella tersenyum lebar mendengar pujian Luhan. “Ya, gege. Siap!”

***

 

Beberapa hari ini sudah Stella lalui bersama Luhan, dan gadis itu terlihat bahagia. Wajahnya selalu ceria, dan tak menampakkan raut sama sekali kalau ia lelah. Bahkan ia mengatakan bahwa ia akan berusaha untuk terus terjaga selama mungkin, semampu ia melawan rasa kantuknya.

Kantung matanya mulai terlihat dari hari ke hari, mulai menimbulkan kecemasan tersendiri bagi Luhan. Luhan tak tahu, apakah rasa kecemasannya ini sama atau tidak dengan apa yang ibu Stella rasakan.

 

Kali ini Luhan merasakan, berbeda dari biasanya Stella mampu meluluskan keinginannya. Waktu terjaganya lebih lama dari biasanya, antara sadar dan tidak Luhan merasakan itu. Waktu yang telah ia lalui bersama Stella terasa begitu menyenangkan, sampai rasanya waktu berjalan tanpa terasa. Tanpa meninggalkan jejak lelah pada keduanya karena waktu yang terus berputar. Yang ada hanya rasa bahagia yang memenuhi hari-hari mereka belakangan ini.

Tapi dibalik rasa kesenangan itu ada rasa cemas yang selama ini berusaha untuk Luhan tutupi. Instingnya berkata, ada rencana lain yang Tuhan siapkan setelah semua ini. Rencana akan hubungannya bersama Stella, dan entah kenapa ia khawatir jika Stella yang akan menerima semuanya.

Imajinasi yang menyakitkan. Ia tahu tak ada yang bisa menebak apapun yang bisa terjadi setelah ini, apapun yang ada di masa depan. Bahkan semenit setelah semua hal menyenangkan yang telah ia lalui bersama Stella. Luhan menyingkirkan pikiran itu keras-keras. Ia merasa berdosa karena telah berpikir yang macam-macam pada Stella, berpikir bahwa Tuhan menyediakan rencana lain untuk Stella dan tidak akan membiarkan Stella menderita lebih lama lagi.

Luhan membenci imajinasi menyedihkan itu, namun ia tahu ia tak bisa berbuat banyak untuk menghibur dirinya sendiri. Karena sebisa mungkin ia mengusirnya, pikiran pesimis itu tak bisa berhenti melayang-layang dalam benaknya.

 

“Ah, gege… Hari ini menyenangkan sekali,” sahut Stella sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. “Tapi aku lelah.”

Luhan terkesiap sesaat mendengar kata-kata Stella, namun ia memutuskan untuk tak memperpanjang masalah itu dan memberikan senyumnya pada Stella.

“Kau ingin tidur?” Tanya Luhan lembut.

Stella murung sesaat. Ia menggeleng lemah. “Tapi aku tak mau meninggalkan semua ini.”

Luhan tersenyum lalu duduk disamping Stella. “Kau akan tertidur saat kau lelah, dan setelah itu kau akan bangun untuk menemui dunia lagi, kan?”

Stella masih mempertahankan raut murungnya. Ia menoleh menatap Luhan, Luhan terhenyak saat menemukan ada keraguan dalam manik mata Stella.

“Entahlah.” Sahut Stella tanpa sadar. Luhan juga tampaknya masih terhenyak atas keraguan dalam manik mata Stella, karena ia tidak melarang Stella untuk berkata pesimis seperti itu.

 

“Gege, bisa kau antar aku tempat tidur?” Pinta Stella memecahkan lamunan Luhan. Menatap Luhan dengan pandangan tak bersemangat, tak seperti beberapa puluh menit yang lalu.

Luhan tersenyum sebagai jawaban atas permintaan Stella, lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia mengangkat tubuh Stella ala bridal style, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Luhan melanjutkannya dengan menarik bed cover itu sampai sebatas dagu Stella. Dan Luhan memberikan sentuhan terakhir dengan menyingkirkan anak rambut halus yang menutupi wajah Stella.

“Sekarang kalau kau lelah, tidurlah…” sahut Luhan pelan, sambil mengusap-usap rambut Luhan. Stella memejamkan matanya, dan kantung mata itu dapat Luhan lihat dengan jelas.

“Tapi gege jangan meninggalkanku sampai aku tertidur benar, ya? Janji?” balas Stella dengan intonasi tenang. Masih dengan mata yang memejam.

Luhan tersenyum sabar sambil masih terus mengusap rambut Stella. “Janji.”

Sejenak mereka saling terdiam. Luhan larut dalam pikirannya sendiri, sedangkan Stella tampak tenang.

 

“Stella, kau sudah tertidur?” Tanya Luhan hati-hati setelah sebelumnya ia membiarkan suasana menghening.

“Belum.” Jawab Stella singkat, tersenyum lembut dengan mata yang terpejam.

“Kalau begitu, bisa kau buka matamu sebentar?” pinta Luhan.

“Ada apa, gege?” Tanya Stella tenang, namun matanya masih terpejam.

“Aku hanya ingin kau melihat senyumku lagi,” jawab Luhan. “Sebelum kau akan tertidur panjang.”

“Baiklah…” sahut Stella. Ia membuka matanya perlahan, menatap wajah Luhan.

Luhan tersenyum pada Stella. Kali ini senyum yang berbeda, senyum itu terlukis dari dalam lubuk hatinya. Senyum yang tulus untuk Stella. Senyum yang ingin ia berikan untuk Stella, sebelum dunia gadis itu berteman lagi dengan kegelapan yang entah berujung kapan lagi. Entah juga masih bisa berujung ataukah tidak.

 

“Aku menyukai senyummu, gege…” sahut Stella. Ia memejamkan matanya lagi, seakan ia terlalu lelah sehingga tak bisa membiarkan matanya terbuka lebih lama lagi.

“Tersenyumlah terus seperti itu, ya? Janji?”

 

“Uhm, baiklah…” sahut Luhan. “Tapi kau juga harus berjanji padaku,”

“Janji apa?” Tanya Stella, nada suaranya semakin lama semakin tenggelam.

“Tersenyumlah selama kau tidur,” sahut Luhan.

Stella tersenyum lebih lebar lagi. “Uhm, baiklah…”

 

Suasana dalam kamar itu menghening lagi. Luhan masih mengusap-usap rambut Stella dengan lembut dan sabar, membiarkan sampai usapan itu membawa Stella jatuh dalam tidurnya. Sedangkan Stella tampak semakin melemah, ia mungkin sudah jatuh tertidur sekarang. Namun sesuai janjinya, senyum tak memudar dari wajah tenang Stella.

Beberapa lama saatnya, akhirnya usapan Luhan berhenti. Stella tak merespon apa-apa.

“Stella?” panggil Luhan pelan. Stella tak merespon, sepertinya ia sudah benar-benar jatuh tertidur sekarang.

“Saranghae…”

 

Luhan bangkit dari duduknya dengan hati-hati. Ia menatap wajah tenang Stella. Gadis itu sudah tertidur sekarang, dan senyum tak juga memudar dari wajah cantiknya.

Perlahan Luhan membungkukkan badannya. Ia mengecup kening Stella dengan sangat lembut, sangat hati-hati, tak ingin mengganggu tidur Stella yang baru saja dimulai.

Luhan menegakkan kembali badannya. Ia tersenyum pada raga Stella. Lalu perlahan berjalan menuju pintu kamar Stella. Ia membuka knop-nya, tapi sebelum menghilang sepenuhnya di balik pintu, ia menatap gadisnya sekali lagi.

 

“Sleep well, my star…”

***

 

Jam kuliah baru saja selesai siang ini, dan Luhan masih tampak sibuk dengan berbagai kertas yang berserakan diatas mejanya. Rautnya tampak biasa saja, tak tampak kesedihan yang mendalam setelah Stella kembali ke tidurnya kemarin. Sepertinya ia sudah terlalu banyak merasakan hal yang berat mengenai kekasihnya itu, sehingga cepat atau lambat lama-lama ia mulai terbiasa.

Himchan sendiri sudah selesai dengan berbagai bawaan kuliahnya, dan ia sekarang sudah berdiri di mulut pintu ruang kuliah mereka. Menunggu Luhan dengan ekspresi yang sedikit tidak sabar. Namun ia menjaga perasaan Luhan dan memutuskan untuk tidak protes apa-apa pada sahabatnya itu.

 

Luhan baru saja menghampiri Himchan dan ekspresi leganya saat melihat kesibukan Luhan akhirnya selesai juga, saat tiba-tiba ponsel miliknya yang ia letakkan di saku celananya berbunyi. Tanda jika ada orang yang mencoba menghubunginya.

Luhan menyerahkan setumpuk kertas yang semula ada di tangannya pada Himchan. Himchan membantu Luhan dan menerima kertas itu. Lalu namja itupun memperhatikan ekspresi Luhan yang berubah saat menemukan nama penghubung yang tercantum di layar ponselnya.

 

Itu adalah ibu Stella.

 

“Angkat saja, Luhan-ah,” sahut Himchan yang sempat melihat layar ponsel Luhan. “Ppaliwa. Siapa tahu itu penting.”

“N-ne,” jawab Luhan dengan ekspresi gugup yang biar bagaimanapun tak bisa ia tutupi. Ia pun mengangkat panggilan itu.

 

“Yoboseyo, Bibi…” sahut Luhan.

 

“Yoboseyo, Luhan…”

 

Luhan terkesiap sesaat menyadari nada suara ibu Stella. Suara itu terdengar bergetar, antara takut dan cemas yang hebat.

 

“Ada apa, Bibi?”

 

“Stella…” kata-kata ibu Stella terdengar bergetar lebih hebat lagi saat menyebut nama putrinya itu. Kecemasan Luhan semakin menjadi-jadi. Degupan diatas normal mamacu jantungnya dan membuat napasnya memburu.

Himchan disampinya tampak mulai cemas atas perubahan raut Luhan. Rautnya seakan bertanya ‘ada apa?’. Namun bibirnya masih terkunci, ia tahu bukan situasi yang bagus sekarang untuk bertanya pada Luhan.

 

“Sekarang Stella sedang ada di rumah sakit. Ia kritis, Luhan… Detak jantungnya melemah dan napasnya nyaris menghilang…”

 

 

Luhan menatap pintu ruang I.C.U yang masih saja tertutup semenjak ia datang tadi. Matanya nanar dan memerah memandangi pintu berwarna putih itu. Ia hanya bisa terdiam dan bergumul dengan pikirannya sendiri sejak tadi, tidak seperti ibu Stella yang tampak shock dan menangis tiada henti semenjak Stella didorong perawat memasuki ruangan itu.

Himchan juga tampak disana, ia sedang menangkan ibu Stella. Wajahnya sedih, tak tahu harus menghibur mereka dengan cara apa apalagi. Ia tahu jelas hati yang hancur itu bagaimana rasanya, dan ia tak punya hak dan upaya untuk menyusun itu kembali dengan cara apapun.

 

“Bibi!” suara seorang yeoja terdengar seiring dengan bunyi langkah setengah berlari menghampiri sudut koridor mereka.

Luhan menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Matanya menemukan seorang gadis sebaya Stella sedang berlari kecil menuju mereka. Gadis itu seakan mengabaikan keberadaan Luhan dan Himchan, karena ia langsung memeluk ibu Stella dan membiarkan cardigan yang dipakainya membasah oleh airmata.

 

“Ayah dan Ibu akan segera sampai kesini. Mereka mengambil penerbangan dari Beijing secepat yang mereka bisa,” sahut gadis itu sambil masih membirakan cardigannya membasah.

Luhan menatap gadis yang masih saja memeluk ibu Stella itu. Himchan juga, disamping rasa penasarannya atas bahasa Mandarin yang diucapkan oleh gadis itu.

 

“Paman juga.” Ucap gadis itu lagi.

 

Luhan terdiam, sedikit tak mengerti mengapa kata ‘Paman’ diucapkan terpisah dari kata lainnya. Namun tak ada minat sedikitpun baginya untuk bertanya. Ia tahu jika ‘Paman’ yang gadis itu maksud mungkin saja ayah Stella.

 

Gadis itu akhirnya tersadar jika ia dipandangi 2 namja yang ada disekitarnya sedari tadi. Ia menatap kedua namja itu, lalu berdiri dari duduknya.

 

“Uhm, jeogiyo… Siapakah diantara kalian yang bernama Luhan-ssi?” Tanya gadis itu dengan bahasa Korea.

Luhan mengangkat tangannya canggung. Gadis itu mendekat pada Luhan lalu tersenyum samar. “Naneun Melanie, imnida. Aku adalah sepupu Stella. Aku tinggal di Korea selama 3 tahun terakhir, menempuh pendidikan.”

Gadis itu mengakhiri perkenalan singkatnya dengan membungkuk.

“Naneun Luhan, imnida.”

Luhan membungkuk juga pada gadis bernama Melanie itu, lalu mengakhirinya dengan senyuman samar pula.

 

“Stella banyak sekali bercerita padaku, tentangmu,” cerita Melanie. “Aku sering mengunjunginya, tapi aku tentu tidak pernah bertemu denganmu karena aku selalu mengunjunginya saat malam.”

Luhan tak menjawab kata-kata Melanie. Melanie tampak maklum, lalu ia menyerahkan sebuah kotak yang entah sejak kapan dibawanya itu. Luhan tidak menyadarinya.

 

“Didalam kotak itu ada barang-barang yang Stella titipkan untukmu,” sahut Melanie tanpa diminta. “Mungkin dia lupa memberikannya padamu sebelum ia tertidur lagi. Mungkin ia lupa karena beberapa hari kemarin terasa sangat menyenangkan untuknya… Tapi saat tadi aku masuk ke kamarnya, aku menemukan kotak ini. Aku jadi ingat ia pernah membicarakan soal kotak ini padaku, dan bilang sebenarnya ia ingin memberikannya padamu…”

Luhan menerima kotak itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia tak dapat memikirkan kata apa yang mampu ia ucapkan. Bibirnya membisu begitu saja.

Tangan Luhan tergerak untuk membuka kotak itu, namun Melanie dengan cepat mencegahnya sehingga kotak itu tak jadi dibuka.

 

“Waeyo?” Tanya Luhan datar.

“Stella hanya membolehkanmu untuk membukanya setelah kau sampai rumah,” jawab Melanie lirih. Rautnya berubah semakin sedih saat terlihat akan melanjutkan kalimatnya.

“Atau saat—“

 

Tepat sebelum Melanie menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang I.C.U terbuka. Seorang laki-laki dengan jubah putihnya tampak keluar dari ruangan itu. Semua yang hadir disana menatapnya was-was, begitupun dengan Luhan.

Namun ketika dokter itu membuka masker yang menutupi wajahnya, Luhan sudah mendapatkan sekelebat perasaan negatifnya melihat ekspresi tak seharusnya yang ditunjukkan dokter itu.

 

“Stella Wang adalah gadis yang kuat, ia mencoba bertahan semampu yang ia bisa. Walau ia tertidur, tapi aku bisa menyadari itu dari cara kerja jantungnya…” sahut dokter itu. Sesaat ada rona lega yang terlukis oleh atmosfer disana, namun agaknya itu tak lama.

Pernyataan lanjutan dari dokter itu merusak segalanya.

 

“Tapi maafkan kami, ternyata Tuhan menyayangi gadis itu lebih dari yang kita kira… Gadis itu, tidak akan menderita lebih lama lagi… Maafkan kami, tapi kami sudah berusaha yang terbaik…”

 

Sejenak Luhan masih sulit untuk mempercayai pendengarannya. Ia tak percaya, sebelum akhirnya melihat ibu Stella berteriak histeris memanggil nama Stella sambil mencoba menerobos masuk ke ruang I.C.U

 

Luhan tak bisa mengingat apa-apa lagi. Wajah Stella memenuhi seluruh benaknya, senyumnya yang terakhir membuat Luhan mabuk akan pikirannya sendiri.

Saat Luhan mengerjapkan matanya, ia sudah tak bisa melihat apa-apa lagi.

Gelap.

 

 

***

 

 

 

“… Satu hal yang telah kupelajari darimu, gege,”

Suara yang riang itu terdengar lagi. Luhan tersenyum mendengarnya, lalu menyeruput moccachino dalam cangkir putih yang sejak tadi hanya didiamkan diatas meja sebelum mendengarkan kata-kata gadis itu lagi.

 

“Cintamu itu adalah tabah. Bersabar. Bersabar untuk menungguku setiap hari. Bersabar untuk menghadapi kelakuanku yang kekanak-kanakkan. Bersabar untuk mengharap kesembuhanku, walau kau tahu jika semuanya itu mustahil—“

 

“Oke, baiklah. Aku memang pesimis,” sahut gadis itu setelah memutus kalimat sebelumnya tadi sambil menunjukkan cemberut lucunya, membuat Luhan tersenyum memandangnya. Lalu beberapa detik kemudian gadis itu malah merubah ekspresinya menjadi tersenyum lebar, sampai kedua mata sipitnya membentuk suatu lengkungan lucu.

 

“Dan bersabar untuk melepaskanku jika suatu hari nanti aku benar-benar harus pergi. Xie xie, gege…”

 

Senyum di wajah Luhan perlahan memudar, kontras dengan senyum yang masih terkembang di wajah gadis itu. Walaupun senyum itu tak lagi selebar tadi.

 

“Gege harus tahu, jika sampai kapanpun aku akan tetap mencintai gege. Ragaku boleh saja menyerah pada penyakit ini, tapi tidak dengan cintaku. Gege percaya itu, kan?”

 

“Baiklah, aku tahu. Aku memang anak kecil yang sok tahu, sudah berani-beraninya bermain dengan kata cinta. Uhm, seharusnya kau tak boleh begitu, Stella Wang… Kau itu belum cukup umur…” lanjut gadis itu sambil menunjukkan ekspresi lucu seakan memarahi dirinya sendiri.

 

“Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku, gege. Terima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada penggemar rahasiamu ini untuk mencintaimu. Terima kasih karena telah membuang banyak waktumu untuk udara kosong sepertiku. Terima kasih atas semua cintamu. Aku mencintaimu juga,” ucap Stella sambil tersenyum lagi, memamerkan eye smile-nya.

 

“Saranghaeyo, oppa…”

Stella melanjutkan kalimatnya sambil membentuk sign love dengan kedua lengannya yang ia lingkarkan diatas kepalanya. Dan Stella mengucapkan kalimat itu dengan bahasa Korea yang benar dan lancar, sesuai dengan apa yang pernah Luhan ajarkan waktu itu padanya.

 

“Nado, Stella Wang…” balas Luhan. Setitik airmata yang telah ia tahan akhirnya menitik juga, mengalir dan meninggalkan suatu alur samar di pipi putihnya. Tangannya yang bergetar mencoba menyentuh layar laptop-nya, tepat sedetik setelah ia menyentuhnya, layar itu berubah dengan latar hitam. Menunjukkan bahwa durasi rekaman yang ia putar sudah habis.

 

Luhan menundukkan kepalanya.

“Xi Luhan, jangan menangis! Ingat, Stella Wang tak suka melihatmu menangis! Kau harus jadi gege yang kuat untuknya! Jia you!” ucap Luhan dalam hatinya, untuk dirinya sendiri. Perlahan ia menghapus airmatanya dengan selembar saputangan yang pernah ia berikan pada Stella dulu.

Dulu, saat gadis itu mengeluh karena lelehan es krim yang lengket mengotori tangannya.

 

Perlahan Luhan mengangkat kepalanya dan menatap cuaca yang bisa ia nikmati dari jendela besar yang ada di café itu, jedela yang sekarang berada tepat di sampingnya. Cuaca terlihat cerah dan hangat, membawa Luhan kembali pada memori itu.

Memori yang bahkan tanpa terasa sudah berlalu hampir 2 tahun yang lalu itu.

 

“Dua tahun yang berat tanpamu, Stella Wang…” sahut Luhan pelan. Mengalihkan pandangannya pada selembar foto yang juga didapatkannya dari kotak yang waktu itu diberikan Melanie.

Luhan ingat foto itu dengan jelas. Itu foto yang melukiskan dirinya dan Stella dalam keadaan ceria dan sukacita dibawah cuaca yang hangat di siang itu.

Selesai Luhan menemani Stella mencuci tangannya. Di taman. Siang itu. Setelah sebelumnya Stella mengeluh karena tangannya kotor gara-gara lelehan es krim.

 

“Slepp well, my star…”

 

Itu ucapan ketiga Luhan, ucapan selamat tidur yang abadi untuk Stella.

Pertama, Luhan mengatakannya saat ia akan meninggalkan Stella yang tertidur seperti biasanya dalam kamar.

Kedua, saat di upacara duka. Ia mengatakan itu sambil mengecup kening Stella untuk yang terakhir kalinya, pada Stella yang sudah berbaring dengan dandanan layaknya malaikat. Di dalam peti mati.

Ketiga, saat ini. Saat memorinya memutar kembali segala kenangan yang telah dilaluinya bersama seorang gadis pengidap Sleeping Beauty Syndrom bernama Stella Wang.

 

“Aku mencintaimu, Stella. Kuharap tak ada salah satupun diantara kita yang pernah melupakannya, bahwa kita pernah terlahir untuk saling mencintai…”

 

 

 

 

—END—

 

 

 

 

Ehm.. Sedikit cuap-cuap yang ingin author sampaikan di ending.

Author mau berterima kasih sama Stella, fangirl-nya Luhan dari China yang pernah ketemu sama author di Omegle.

Makasih ya, atas pinjaman namamu ^^

 

Nah, dan…

Itu apa-apaan, author bawa-bawa Himchan dipairingin ama Yoona, hah? -_-

Aduh, mian readers, author emang suka nyelipin pairing-pairing gaje begitu ._. maap ya kalo gak cocok(?) ._.v

 

Oiya, ada sedikit kejutan buat readers(?)😀

Khusus di oneshot ini, author membuka request sequel ^0^9

Nah, ayo readers mana yang kepengen liat sequel dari oneshot ini? ^^

 

Penasaran di sequel nanti bakal muncul siapa aja?

 

Kutunggu komentarmuuuuuuu *-*)/

 

44 thoughts on “Sleep Well, My Star…

  1. bgus bgt critax…
    thor squel thor… gmn klnjutn hdupnya luhan aj thor… kasih yeoja yg cntik, imut ag k kekanakn,, lnjut genre marriage life..
    n happy ending thor…
    oh y ksih jg support cast thehun, kai, chanyeol ato kris y thor…
    huwah,, kemauanx reader banyak amat y??? author baik hati pasti d kabulin smw dech… kekekke…
    hwaiting!!!

  2. Ping-balik: Goodbye Seoul | EXO Fanfiction World

  3. aku bacanya sedih banget, suka sama cara penulisan authornya, ngalir gitu aja.
    ah jadi mellow abis baca, aku mau sequel ya thor, thehuuuun juseyoooo #winkwink.
    gomawoyo,🙂

    • halo ^^

      aaaa~ terimakasih kalo kamu suka sama cara penulisan aku :3
      hoho, jadi mellow yah? author nya malah mellow tiap hari, makanya bikin ff kayak ginian bisanya(?)😀
      #malahjadicurcol

      sequel luhan? sip, bakal di post deh secepetnya😉
      mau thehun version? hohoho, okeeeh~ ditunggu aja yah😉

      okeh, terimakasih kembali🙂

    • halo ^^
      aaaa~ terimakasih daebak nya ^^
      luhan juga bias aku, hohoho😀

      wah, kebetulan cahya ^^
      kai version udah aku posting, judulnya If Tomorrow ^^
      buat link nya, ada diatas ya, dibawah quotes ^^
      silahkan dibaca🙂

      dan buat baek version, kebetulan juga ^^
      baek version baru kelar aku ketik, dan mudah2an bisa aku posting setelah aku posting sequel nya luhan🙂
      ditunggu aja yah udate nya🙂

      terimakasih kembali🙂

  4. Aaaahh malem2 baca niihh epep banjiiiiiirrrr >_< T_T author neomu neomu neomu neomu daeeeebaaaakkkkkk :* :* *hugs and kiss* sequel nya dooonggg thorrr😉 cant waiting the sequel buat tau kelanjutan nyaaa🙂 apakah bkal jadian sama Melanie atau muncul cast baruu…. Aaaahh penasaran pokoke😉

    • halo ^^

      aaaaaaaa~~~ terimakasih author dibilang daebak ^^
      hoho~

      sequel? sip~ udah siap dan tinggal ditunggu aja yah update nya😉
      kelanjutannya bakal lengkap (mudah2an)😀
      hoho, kamu pinter nebak deh😉
      Melanie bakal muncul lagi di sequel, dan ada cast tambahan juga😀

      okeh, ditunggu yaaa~
      terimakasih🙂

    • halo ^^
      mian juga yah baru bales ._.

      jinjja? uhuhu, mian yah kalo terlalu sedih😦

      sequel? sip, udah siap kok😉
      ditunggu aja yah, soalnya sequelnya bakal lebih panjang dibanding yang ini😀

      hoho, request yang gak sad ya? huhuhu, spesialisasiku(?) angst😦
      tapi buat member lain, kayaknya ntar ada yg kebagian gak sad deh😀
      ditunggu lagi aja yah buat version yg gak sad ntar😀

      terimakasih🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s