Expectation

expectation (HanMi ver)2

Tittle: Expectation

Author: Pingkan

Main Cast: Yoon Bomi | Xi Luhan

Other Cast:

Genre: Hurt | Sad | Romance

Raiting: PG 15 || Length: Ficlet

Summary:

Awal yang manis, tidak mesti akan berujung manis. Sebuah kenyataan harus diterima! Meski kepahitan ataupun kebahagiaan. Kebohongan atau kedustaan yang disimpan baik-baik akan terkuak lambat laun! Dan itu realita.

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari lagunya Girls’ Day_Expectation. Ceritanya hampir sama, tapi tidak sama persis. Not like? Don’t read! | No bash | No plagiat | No siders

Happy reading and enjoy this fic. And comment please! J

@@@

            Suasana pagi itu begitu tentram dan damai. Tampak sepasang kekasih yang tengah bercanda gurau disebuah ruang tamu. Keduanya begitu terlihat sebagai pasangan yang sempurna.

Oppa! appo.” Rengek seorang wanita cantik bernama Yoon Bomi.

Ya, Luhan kekasihnya baru saja mencubit pipi nya gemas. Bomi gadis itu merasa menjadi wanita paling sempurna karena dia bisa memiliki kekasih sebaik dan setampan Luhan.

Hubungan mereka telah terjalin selama 4 tahun. 4 tahun bukanlah waktu yang singkat bukan? Terkadang masalah sepele hingga serius sering mewarnai kisah percintaan mereka. Suka, duka, sedih, bahagia pun semua telah mereka rasakan bersama-sama.

Hubungan yang sangat sempurna!

Mian. Habis, kau terlalu menggemaskan.” Ledek Luhan, sambil mencubit hidung mancung milik Bomi.

Bomi mendengus kesal. Bibirnya mencerut! Tanda dia benar-benar kesal dengan apa yang diperbuat Luhan. “Bisakah Oppa tidak mencubitiku terus? Oppa pikir ini tidak sakit!” ujarnya menatap sebal kearah Luhan.

Luhan hanya terkekeh dan mengacak-acak rambut Bomi pelan. “Mau chocolate? Oppa! punya chocolate special untukmu.” Ya, inilah trik Luhan untuk membujuk Bomi yang sedang kesal kepadanya.

Bomi terdiam, masih memikirkan apakah ini jebakan? Atau memang serius. “Hm! Oppa tidak bohong kan?” selidiknya.

Luhan tersenyum lembut dan mengangguk. Dia mengeluarkan chocolate kesukaan Bomi dari saku hoodie yang dia kenakan. Mata Bomi berbinar saat melihat chocolate itu.

Oppa! gomawoyo.” Bomi pun menghambur kepelukan hangat Luhan.

Ne, Saranghaeyo Yoon Bomi.” Bisiknya.

Nado Saranghae Xi Luhan.”

Aku begitu beruntung memilikimu Xi Luhan. Terimakasih, karena kau telah mencintaiku.’ –Yoon Bomi.

@@@

            Pagi-pagi sekali, Luhan sudah berada diapartment Bomi. Ya, inilah kebiasaannya. Datang pagi-pagi untuk membangunkan kekasihnya yang susah sekali bila disuruh bangun pagi.

“Bomi-ah. Irreona.” Luhan mengguncang-guncangkan perlahan lengan Bomi. Berharap kekasihnya tersadar dari mimpi indahnya.

Bomi masih saja terdiam, dalam lelapnya. Masih merasakan senang dialam mimpi. “Bomi-ah! Irreona. Jebal! Kalau kau tidak mau bangun juga. Yasudah, Oppa pulang saja.” Luhan membalikan tubuhnya  berniat untuk kembali pulang kerumahnya.

Sebuah tangan menahannya. Membuat langkah nya terhenti dan menoleh. “Sudah bangun?” ujar Luhan. Sang kekasih hanya terkekeh dan mengangguk.

“Jadi! Kau hanya mempermainkan ku saja? Dari tadi kau sudah bangun rupanya. Ck, Yoon Bomi!”

Bomi hanya terkekeh geli, melihat Luhan yang sudah datang pagi-pagi kerumahnya hanya untuk membangunkannya. Ternyata, gadis itu sudah bangun sejak tadi.

Luhan memasang wajah kesalnya. Sedangkan Bomi, kini bingung harus berbuat apa agar kekasihnya itu tidak marah padanya.

Oppa.” ujarnya sambil melakukan aegyo andalannya.

Luhan hanya menatapnya sekilas dan kembali diam.

Aigooo Luhan Oppa benar-benar marah kurasa. Aku harus berbuat apa? Tuhan! Bantu aku.’

“Luhan Oppa.” panggilnya lembut.

CHU~

Saat Luhan menengokan wajahnya kearah Bomi. Gadis itu dengan cekatan langsung mencium pipi Luhan. “Morning Kiss.” Ujarnya kemudian pergi meninggalkan Luhan kekamar mandi.

Luhan hanya terkekeh dan tersenyum bahagia.

@@@

            Bomi kini terlihat hanya terdiam, menatap pemandangan begitu indah dihadapannya. Meski senyum itu terukir, dirinya masih saja sibuk memikirkan kejadian 1 minggu lalu yang mengganggu pikirannya.

Kau jahat Oppa! Kenapa kau melakukan ini? Apa salahku?’

Pikirannya kembali memikirkan kejadian satu minggu lalu.

Flashback ON

Bomi menyempat kan dirinya untuk pergi mengunjungi apartment Luhan. Meski sebenarnya dia sibuk akhir-akhir ini. Namun, dia tidak bisa bila harus kehilangan kabar dari sosok Xi Luhan meski hanya 1 hari.

Inilah, hal yang mendorongnya untuk pergi mengunjungi apartment itu.

“Bomi.” Sebuah suara khas yang begitu dikenalnya pun menyambut kehadirannya hangat.

Bomi tersenyum dan berjalan masuk keapartment Luhan. “Tumben kau kesini. Ada apa, chagi?” tanya Luhan bingung.

“Tidak, hanya saja aku begitu merindukanmu Oppa.” ucapnya. Luhan tersenyum lembut dan menariknya kedalam pelukan hangatnya.

“Begini sudah lebih baik?” tanya Luhan jahil. Bomi masih terus saja mengeratkan pelukannya.

Oppa! aku harap kita bisa bahagia selamanya. Aku begitu mencintaimu.” Bisik Bomi masih terpaku pada hangatnya pelukan Luhan.

Luhan mengendurkan pelukannya. Tangannya meraih wajah Bomi.

“Dengar! Aku juga begitu mencintaimu Yoon Bomi. Aku harap, cinta kita abadi sampai maut memisahkan kita. Semoga! Kita bisa mewujudkan apa yang telah kita cita-citakan selama ini. Mempunyai rumah sederhana, mempunyai dua orang anak, hidup bahagia dikota yang tidak terlalu ramai. Dan lain-lainnya.” Ucap Luhan.

Bomi mengangguk dan tersenyum manis.

Luhan mendekatkan wajahnya, kewajah milik Yoon Bomi. Ditariknya, tengkuk sang gadis. Untuk mempermudah Luhan memberikan kecupannya.

Bomi hanya diam dan pasrah. Tampak dia begitu menikmati ciumannya itu. Hingga getaran dari Handphone milik Luhan menghentikan kecupannya.

Luhan terlihat sedikit gugup. Dia tampak membunyikan sesuatu. Dan dengan langkah cepat Luhan pergi meninggalkan Bomi dari ruang tamu. Ya, hanya untuk membalas pesan masuk yang ada didalam handphonenya.

Ada apa dengannya? kenapa Oppa aneh begitu. Tidak biasanya dia gugup saat ada pesan masuk diHandphonenya. Semoga saja, bukan apa-apa.’

@@@

            Bomi dan Luhan kini tengah berada diruang Tv. Bomi menyenderkan kepalanya di bahu Luhan. Sedangkan Namja itu tengah asik menonton Tv dan sesekali mengusap rambut ikal panjang milik Bomi.

Meski gadis itu tampak nyaman berada dalam dekapan Luhan. Namun! Sesuatu begitu melesak masuk menyiksa pikirannya. Hatinya begitu kalut memikirkan sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Luhan.

Ya, karena Bomi bukanlah gadis yang secara terang-terangan menunjukan ekspresinya. Dirinya lebih memilih diam.

“Chagi. Aku ke toilet sebentar ya. Kau tunggu disini.” Luhan pun lekas meninggalkan Bomi sendirian diruang tv setelah mendapat anggukan dari Bomi.

Bomi melirik ragu, terhadap ponsel Luhan yang tidak dibawanya.

Ada perasaan yang memaksanya untuk membuka ponsel itu tanpa ijin. Ada pula, perasaan yang menahannya karena takut sikapnya dianggap sangat lancang.

Namun! Pemikiran Bomi tidak lagi jernih. Dirinya begitu gusar sejak tadi. Siapa yang mengirim pesan ke Luhan? Siapa orang yang ditutup-tutupi Luhan? Dan mengapa Luhan melakukan itu?

Bomi membulatkan matanya, saat melihat percakapan singkat dari ponsel Luhan. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu juga. Matanya mulai memanas, menahan cairan bening yang sudah siap terjun bebas kapan saja.

Kenapa kau melakukan ini Oppa! apa salah ku? Kenapa kau menghianatiku?

Flashback OFF

@@@

            Bomi melangkahkan kaki jenjangnya menuju sebuah Cafe yang berada tak jauh dari apartmentnya. Cafe langganannya.

Nampak terlihat sangat sempurna dengan geraian rambut panjang coklat bergelombang. Dress hitam diatas lutut. Heels dengan warna senada. Perhiasan dan riasan simple yang menambah kesan plus dipenampilannya.

Senyum nya, mengembang dibibir tipisnya.

Dilihatnya, lelaki yang sudah ditunggunya. Sudah berada disalah satu bangku cafe. Pandangannya terlihat begitu senang, melihat Bomi kekasihnya yang sudah tiba.

Chagi. Kau sangat cantik.” Puji Luhan, meraih sebelah tangan Bomi dan mengecup punggung tangannya.

Bomi tersenyum lembut. Meski dalam hatinya, dia sungguh benci dengan kemunafikan kekasihnya.

Gomawoyo.” Ujarnya singkat.

Tak ada lagi sikap manisnya, tak ada lagi sikap manjanya. Tak ada lagi kata-kata indah yang diutarakannya. Hanya ada ucapan singkat, senyum tipis, dan terkesan begitu mengacuhkan.

Luhan, menyadari perubahan sikap Bomi. Namun! Dia tidak terlalu berpikir banyak. Hanya menganggap tidak terjadi apa-apa saat ini.

Luhan nampak begitu gugup. Diambilnya, sebuah kotak beludru berwarna merah dari dalam saku kantongnya. Dan membukanya dihadapan Bomi.

“Yoon Bomi. Would you be marry me?” tanyanya penuh harap.

Bomi hanya terdiam dan tersenyum tipis. Terlihat sedikit terkejut.

“Apa ini sungguhan?” tanyanya.

Luhan mengangguk. “Apa aku pernah berbohong padamu?”

Bomi tersenyum sinis, wajahnya seketika itu berubah menjadi sangat sinis dan menyeringai tajam.

“TIDAK PERNAH BOHONG! KATAMU!” ucapnya tajam, penuh penekanan disetiap perkataannya.

Luhan terlonjak kaget. Yoon Bomi, begitu kasar membentaknya. ‘Apa dia tau?’ itulah yang Luhan pikirkan.

“Bo-Bomi-ah. Aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti ya-“

Bomi dengan cepat memotong ucapan Luhan tanpa membiarkan lelaki itu melanjutkan perkataannya.

“Cih! Sudahlah. Aku sudah muak dengan kebohongan dan kemunafikanmu Oppa. jangan mengira! Aku tidak tau. Aku tau! Aku tau semua yang kau sembunyikan selama ini padaku. Kau jahat Oppa! Teganya kau bermain dibelakangku dengan Seohyun! Sahabat ku sendiri. Kau tega! Kau kejam XI LUHAN!”

Amarah Bomi seakan sudah tidak dapat ditahannya lagi. Tak peduli pada tatapan beberapa orang yang memperhatikannya. Tak peduli bagaimana semua orang disana berpikir tentangnya.

Hanya masalah ini yang dia pikirkan. Masalah yang membuatnya terluka! Begitu sakit. Karena kekasihnya, menghianatinya dengan sahabat nya sendiri.

Luhan hanya tertunduk. Begitu pasrah menerima caci makian dari Bomi. Dia sadar! Dia pantas mendapatkan itu semua.

“Kenapa kau melakukan ini padaku? Hiks.. Hiks.. apa salahku Oppa! apa? Hiks.. hiks..” tangisnya pun pecah saat itu juga. Didepan Luhan.

Luhan hanya menunduk, tak berani menjawab ucapan Bomi.

“JAWAB AKU XI LUHAN!”

“Maafkan aku Bomi-ah.” Lirihnya.

“HAH! MAAF KATAMU? SEMUDAH ITUKAH? KAU TAK MEMIKIRKAN BAGAIMANA BILA POSISIKU ITU ADALAH DIRIMU! BAGAIMANA HANCURNYA DIRIKU! BAGAIMANA SAKITNYA HATIKU! KAU SAMA SEKALI TIDAK MERASAKAN ITU. JANGAN PERNAH MENGATAKAN MAAF SEMUDAH ITU!” bentak Bomi.

Pikirannya sudah kacau! Saat ini.

“Aku tau aku salah, maafkan aku! Aku mencintaimu. Tapi, aku juga mencintai Chorong.” Balas Luhan. Menggenggam erat, tangan Bomi.

PLAKKK

Bomi menampar wajah tampan Luhan.

“APA KATAMU! KAU MENCINTAIKU? CIH! KAU SUNGGUH MUNAFIK XI LUHAN. JANGAN HARAP AKU AKAN MEMAAFKAN MU!” Bomi kembali membentaknya. Kemudian dia bangkit dari duduknya.

“Hubungan kita cukup sampai disini saja.” Bomi pun pergi meninggalkan Luhan yang diam membisu ditempatnya.

“Bomi!” Luhan menahan tangan Bomi. Sebelum Bomi benar-benar pergi dari cafe itu. “Maafkan aku. Aku tidak bisa kehilanganmu! Apa kau tega padaku? Apa kau tidak ingin mewujudkan harapan kita. Hidup bahagia bersama selamanya?” tuturnya.

Bomi tersenyum sinis, terkesan menghina. “Tega? Apa aku tidak salah dengar. Kau yang tega Luhan-ssi! Lupakanlah harapan kosong itu! Semua itu sudah tidak berarti.”

Bomi pun benar-benar menghilang dari balik pintu cafe. Sedangkan Luhan hanya terdiam! Seperti orang bodoh. Nampak bak orang yang kehilangan nyawanya.

Bahkan Bomi sudah tidak memanggilnya dengan embel-embel Oppa, melainkan –ssi. Seperti orang yang baru saja kenal.

Aku sungguh bodoh! Aku kehilangan gadis yang begitu berarti. Apakah Tuhan masih mau memaafkanku? Dan memberikanku kesempatan untuk kembali bersamanya?’

END

21 thoughts on “Expectation

  1. Daebak thor!! Bikin sekuelnya dong thor!!😀
    Thor, sebetulnya seohyun atau chorong si?? Bingung.. hehehehe.. keep writing ya thor!!😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s