Truly, I Love You (chapter 8b)

edit poster

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is  just a fiction😀

Chapter sebelumnya… [1] [2] [3] [4] [5][6][7][8a]

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-chapter 8(b)-

-0-

“Entah kapan potongan puzzle tentang perasaan itu akan tersusun dengan rapi.”

 

“eunyeol-ah, ada chen disini.” Teriak eunyeol eomma dari lantai bawah.

“ne, eomma. Suruh saja dia masuk, aku akan turun sebentar lagi.”

Eunyeol merapikan beberapa lembar kertas yang sejak tadi sibuk di tulisinya, belakangan ini eunyeol memang sedang sangat gemar menggambar, dan sebagian gambarnya adalah desain-desain baju rancangannya, sudah sejak lama eunyeol memang bercita-cita menjadi designer.

Pesta semalam berlangsung meriah dan lancar, namun di akhir pesta, eunyeol tak dapat menemukan sakura dimanapun, setelah dihubungi, ternyata gadis itu pulang duluan bersama D.O

Dan pagi ini chen mengatakan ingin berkunjung ke rumahnya, eunyeol hanya mengiyakan di telepon walau sebenarnya ia tahu apa yang sebenarnya diinginkan chen dengan datang ke rumahnya. Chen lah yang tahu lebih dahulu kalau sakura pulang bersama D.O semalam dan sekarang Laki-laki itu pasti ingin bertanya banyak hal padanya, “semoga saja dia tak bertanya macam-macam.” Gumam eunyeol saat menuruni tangga.

“hai.” Sapa eunyeol begitu ia sampai di lantai bawah, “karena kau sudah disini, bagimana kalau kau sekaligus membantuku mencabuti rumput di halaman?” Tanya eunyeol, ada untungnya juga memang chen datang. pagi tadi ia mendapatkan tugas yang padahal paling tidak ingin dikerjakannya.

Chen hanya tertawa kecil, “baiklah.” Katanya langsung.

“tidak seperti biasanya kau berkunjung, ada apa?” sembari memakai sarung tangannya eunyeol bertanya basa-basi. Dilihatnya chen sudah berjongkok memulai bekerja.

“ani. Aku hanya ingin berkunjung,”

Tak ada yang berbicara lagi, masing-masing sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Cukup banyak rumput liar yang harus di bersihkan di minggu pagi yang cerah itu.

“eunyeol-ah, boleh aku bertanya sesuatu?” chen bekerja membelakangi eunyeol, dengan punggung mereka yang saling berhadapan.

Eunyeol hanya menjawabnya dengan gumaman singkat.

“apa sakura menyukai D.O?” lanjut chen lagi.

Gerakan tangan eunyeol berhenti, dia menghela nafasnya, kenapa pertanyaan seperti ini yang langsung di tanyakannya, batin eunyeol. “aku tidak tahu.”

“sungguh? Kalian kan dekat.”

“tapi bukan hal seperti itu yang sering kami bicarakan, aku juga tidak begitu ingin tahu tentang kehidupan pribadinya. Mungkin suatu saat dia akan bercerita padaku.” Eunyeol menggigit bibirnya setelah berkata demikian, dia jarang sekali berbohong dan kali ini dengan sangat terpaksa ia harus berbohong.

“lalu, apa menurutmu D.O menyukai sakura?”

“apalagi itu, aku lebih tidak tahu.” eunyeol tak berbohong kali ini, D.O memang begitu abu-abu, membuatnya sulit untuk menebak-nebak. “kenapa kau bertanya hal seperti ini padaku? Kau menyukai sakura, ya?” eunyeol memang sudah bisa melihatnya dengan jelas, tapi tetap saja dia perlu memastikannya.

“well, kurasa. Kurasa aku menyukainya.”

Gerakan tangan eunyeol yang tadi lincah mencabuti rumput kembali terhenti. “secepat itu? seingatku, aku baru mengenalkan sakura padamu belum lama ini.”

“kubilang kan kurasa, jadi aku juga belum begitu yakin. Apa ini perasaan cinta atau ini hanya perasaan karena aku ingin lebih dekat dengannya.”

Suasana kembali hening, eunyeol sibuk dengan pikirannya. Rasanya eunyeol akan lebih senang bila kalimat barusan bisa didengarnya keluar dari mulut D.O, terasa lebih baik.

“ah iya, lusa akan ada pameran lomba foto di myeongdong. Kau datang ya bersama sakura, ada yang ingin kutunjukkan padanya.”

“hm.”

Gumaman singkat eunyeol menutup percakapan pagi itu, sudah tak ada yang berniat mencari topik baru, masing-masing sibuk dengan rumput-rumput di halaman yang baru seperempatnya mereka bersihkan.

-0-

Waktu terus berjalan begitu cepat, musim gugur akan segera datang, angin mulai bertiup kencang akhir-akhir ini. daun-daun juga sudah mulai merontokkan satu persatu daunnya. Sudah mulai jarang didapati jalan-jalan dengan pohon yang masih hijau.

Sakura merapatkan jaketnya, tadi pagi D.O sudah berpesan padanya untuk membawa serta jaket ke sekolah. “musim gugur bisa jadi sangat kejam kalau kau tak terbiasa.” Begitu katanya. D.O memang tak pernah berbasa-basi dalam setiap perkataannya, dia akan mengatakannya langsung dan biasanya tanpa penjelesan lebih lanjut setelahnya, sakura sudah terbiasa dengan itu, dan mengikuti apa yang dikatakan D.O memang ide yang baik.

Sakura dan eunyeol sedang menunggu bus di halte sekolah, mereka akan menonton semi final pertandingan baseball di SMA Chungju, walau sebenarnya eunyeol tidak begitu tahu letak sekolah tersebut dimana tapi ia yakin mereka tetap akan sampai dengan selamat bagaimanapun caranya. “menurutmu, apa kita akan sempat datang ke pameran chen setelah ini?” Tanya sakura, hidungnya mulai berair, rupanya angin dingin tetap masuk walau ia sudah membentengi tubuhnya dengan jaket.

“kurasa sempat, pameran itu kan sampai malam. Tenang saja, aku akan mengantarkanmu dengan selamat sampai di rumah. Ah, apa kau sudah bilang pada Kim ahjussi?” eunyeol yang tidak mengenakkan apa-apa lagi selain seragam sekolahnya masih bisa berbicara dengan normal seakan tak merasa dingin sama sekali.

“sudah, eunyeol-ah apa kau tak merasa dingin?”

Eunyeol menggeleng cepat, “aku masih bisa menolelir udara yang seperti ini, mungkin beberapa hari lagi aku baru mulai membawa jaket ke sekolah. Kau kedinginan ya?”

“hm, ini kan pertama kalinya aku tinggal di Negara dengan empat musim seperti ini.”

Eunyeol hanya mengangguk-angguk pelan, bus mereka datang dan eunyeol segera mengamit tangan sakura agar gadis itu tak ketinggalan.

Mereka datang di SMA Chungju 25 menit kemudian, lebih lama 10 menit dari waktu yang seharusnya di tempuh dari sekolah mereka. Eunyeol salah memilih bus ternyata, mereka sempat tersesat di arah yang berlawanan dengan SMA Chungju, eunyeol hanya mampu menggaruk kepalanya yang tak gatal Karena merasa bersalah.

Pertandingan akan dimulai 5 menit lagi tapi D.O masih belum memasuki lapangan, padahal pemain lainnya sudah masuk sejak beberapa menit yang lalu. Dia mengetuk-ngetukkan kakinya tak sabar, ada orang yang harusnya sudah ada disini namun belum juga menampakkan diri. Pikirnya.

“kyungsoo-ya!”

D.O menoleh dengan cepat, panggilan yang tak asing itu membuat kinerja otaknya menjadi lebih cepat dari biasanya. Dilihatnya sakura tengah berlari dengan tergesa tak jauh dari tempatnya. gadis itu memakai jaket yang tadi pagi disuruhnya untuk dibawa serta, angin memang bertiup kencang sejak tadi.

“untung pertandingannya belum mulai.” Walau terengah sakura berusaha untuk berbicara. Dia sampai tepat didepan D.O dengan nafas yang terputus-putus. Sakura memang mengambil langkah seribu dari halte bus begitu suara sorakan bahkan sudah begitu menggema terdengar dari gerbang sekolah.

“gwenchana?” Tanya D.O begitu melihat sakura yang nafasnya begitu tak teratur dalam setiap hembusannya.

Sakura mengangguk cepat.

“D.O-ya!” panggil chanyeol dari dalam lapangan. Sudah saatnya pertandingan dimulai.

“berjuanglah.” Kata sakura begitu D.O menoleh lagi kearahnya, dengan anggukan singkat dan senyuman di sudut bibirnya D.O membalas ucapan sakura.

Laki-laki itu berjalan memasuki lapangan, ada perasaan lega yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Entahlah D.O sadar atau tidak bahwa sepotong kata dari gadis berkuncir kuda dengan nafas yang terengah-engah itu bahkan bisa membuatnya moodnya yang sering naik turun tak menentu menjadi begitu baik sore itu.

Eunyeol menyerahkan sebotol air mineral kearah sakura, gadis itu serius sekali memerhatikan setiap detik jalannya pertandingan. Dia hanya menghela nafasnya lelah, sejak tadi banyak mata yang memandangi mereka berdua dengan aneh karena seragam yang mereka gunakan. Seharusnya memang pendukung sekolah mereka tidak duduk di sisi kiri lapangan melainkan di sisi kanan, tapi ia dan sakura sudah terlalu lelah kalau harus pindah dan berjalan memutari lapangan yang cukup luas itu.

Saat eunyeol mengalihkan arah pandangnya kearah lapangan, dilihatnya dari kejauhan laki-laki jangkung dan bertubuh kurus sedang mendapat giliran untuk memukul, walau dari jauh entah kenapa eunyeol begitu yakin kalau itu adalah sehun. Saat bola sudah terpukul dengan kencangnya, eunyeol langsung memekik tertahan. Dan setelahnya matanya tak lepas memerhatikan jalannya pertandingan.

Babak pertama selesai, sakura kembali membuka botol minumnya dan meminum isinya sampai habis. Dia begitu tegang sejak tadi, SMA Chungju memimpin sampai babak pertama selesai, walau skor yang tertera di papan tak begitu jauh tapi tetap saja sakura tak bisa tenang duduk di tempatnya, namun saat ia menoleh sepertinya ada yang lebih tegang dari dirinya.

Eunyeol memerhatikan dengan seksama pinggir lapangan tempat dimana para pemain menegak minuman mereka, eunyeol seperti ingin mengirimkan signal pada pemain dengan nomor punggung 7 yang bersender pada jaring-jaring pembatas lapangan agar menoleh, sayangnya pemain bernama Oh Sehun itu sedang begitu seksama juga mendengarkan arahan pelatih.

“aku baru tahu kalau kau ternyata benar-benar memerhatikan pertandingan.” Ujar sakura, dia sadar siapa yang jadi fokus utama sahabatnya itu sejak tadi.

“aku memang selalu memerhatikannya, kok.” Balas eunyeol, dia sudah mengalihkan pandangannya.

“kau menyukai baekhyun oppa ya?” pancing sakura.

Eunyeol menoleh, mengangkat sebelah alisnya. “tidaklah. Aku hanya mengaguminya, satu dari sekian banyak penggemarnya, dia kan sangat imut.”

“oh, kalau begitu bagaimana dengan sehun?”

Tepat saat eunyeol baru meminum seteguk airnya, sakura mengatakan hal yang padahal sangat tidak ingin didengarnya. Eunyeol memuntahkan lagi air di mulutnya. “mwo?! Si bodoh itu? aku bahkan tidak pernah bermimpi ingin mengenalnya.”

“benarkah? Lalu dari sekian banyak pemain, kenapa hanya namanya yang kau umpat sejak tadi, kurasa tak hanya sehun yang melakukan beberapa kesalahan.”

“karena dia memang pantas mendapatkannya, dia bahkan hanya membuat dua kali home run. Bodoh sekali.”

Sakura mengangakan mulutnya tak berdaya, “kau bahkan sampai menghitung jumlah home run yang di buatnya? Daebak!”

Eunyeol menyadari kesalahan perkataannya, dia hanya menghela nafasnya pasrah. Tak berniat memberikan sanggahannya. Eunyeol tak suka berbohong.

“kalau kau memang menyukai sehun juga tidak apa-apa, dia baik, tampan dan juga lucu. Cocok sekali denganmu.”

“ya! Kemanhae, aku sama sekali tak berniat punya urusan apapun itu dengannya.”

Sakura tertawa kecil, puas menggoda sahabatnya. Suka ataupun tidak eunyeol pada sehun, sakura tidak begitu berniat mencampurinya, tapi kalau memang mereka berdua bisa bersama, sakura pasti jadi orang pertama yang mengucapkan selamat padanya.

Saat peluit tanda dimulainya babak kedua dimulai, sakura beranjak dari tempatnya. udara dingin membuatnya lebih sering ingin pergi kekamar mandi. tidak berhasil menemukan toilet di sekitar lapangan, sakura masuk kedalam gedung sekolah dan berharap dia tak akan tersesat didalamnya.

Untung saja toilet di dalam gedung bisa di temukannya dengan mudah, masih banyak siswa yang berlalu-lalang sejak tadi dan tak heran kalau mereka semua memandanginya dengan aneh, mengingat seragam yang digunakannya. Saat sedang berjalan di koridor, tak sengaja sakura menabrak seseorang.

Sakura langsung membungkuk dalam menyadari bahwa itu adalah kesalahannya yang tidak memerhatikan jalan. “jeosonghamnida.” Katanya.

“oh, gwenchanayo.”

Sakura mengangkat kepalanya yang tertunduk begitu mendengar suara lembut yang membalasnya barusan, dilihatnya gadis berambut panjang bergelombang dengan tinggi semampai dan senyuman manis yang tersungging dibibirnya berdiri di hadapannya.

“kau bukan siswa disini?” tanyanya kemudian, suaranya sangat lembut dengan tutur kata yang begitu sopan.

“ne, aku sedang menonton pertandingan baseball dan karena tak ada toilet di sana, aku jadi terpaksa masuk kesini. Maaf sudah lancang.” Sakura membungkuk lagi.

“aniyo, gwenchanayo. Tadi kau bilang pertandingan baseball, apa kau dari SMA Hannyoung?”

“ne,”

Gadis dihadapan sakura tersenyum, “apa kau mengenal D.O?”

Sakura mengedipkan matanya beberapa kali, “ne..”

Senyuman gadis itu terlihat lebih cerah dari sebelumnya, “apa dia bermain sekarang?”

Sakura menatap gadis dihapannya lama sebelum menjawabnya dengan anggukan singkat.  “waeyo?” sakura tahu tidak sopan menginginkan banyak alasan dari orang yang bahkan tak dikenalnya tapi melihat bagaiman reaksi gadis itu saat mendengar setiap jawabannya membuat sakura gatal ingin sekali bertanya. Dan kenapa dia mengenal kyungsoo? Batinnya.

“aniyo, oh kurasa aku harus segera pergi, terima kasih atas kunjunganmu ke sekolah kami.” Setelah memberikan salam penghormatan, gadis itu berlalu dengan anggunnya, sakura bahkan masih bisa mencium aroma kayu manis dari gadis itu walau dia sudah pergi semenit yang lalu.

“dia sempurna sekali.” Gumam sakura. dengan langkah cepat sakura kembali menuju lapangan.

Sakura sudah kembali duduk di tempatnya dan langsung melihat papan skor. Sekolah mereka kembali memimpin, sakura tersenyum senang.

“tadi chen mengirimiku pesan, dia bertanya kapan kita akan ke pameran fotonya?” ucap eunyeol kemudian dengan handphone yang masih dipegangnya.

“kalau kita pergi sekarang, sayang sekali. Pertandingan akan selesai sebentar lagi, katakan saja kira-kira 15 menit lagi.”

Eunyeol mengangguk mengerti dan segera mengetik kalimat yang di katakan sakura barusan.

Dibawah pohon Ek yang daunnya juga sudah mulai berguguran, berdiri seorang gadis manis berambut panjang bergelombang, matanya dengan serius melihat pertandingan di lapangan. Dia tersenyum sesaat kemudian, “dia semakin hebat.” Pujinya, pemain dengan nomor punggung 1 memang baru saja memuku bolanya tinggi, dan saat pemain bernama D.O itu  berhasil melakukan home run, gadis itu tersenyum lagi, “dan tetap menganggumkan.”

“YunJu eonni!” panggil seseorang di belakangnya,

Gadis yang masih asik menonton pertandingan itu menoleh, “seonsaengnim memanggilmu.” Lanjut gadis bertubuh mungil yang barus saja meneriakan namanya itu.

Yunju mengangguk singkat, “ne,” balasnya. Sebelum beranjak dari tempatnya, ia kembali memerhatikan lapangan, senyuman singkat yang begitu manis itu ia lemparkan pada pemain bernomor punggung satu tersebut walau ia yakin pemain itu tak akan melihatnya.

-0-

Ajang pameran foto yang rutin setiap tahun di gelar itu memang selalu ramai dikunjungi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bahkan begitu senang menghabiskan waktu mereka disana walau hanya untuk mengagumi satu foto dan beranjak ke foto lainnya. Pengunjung juga tak melewatkan sebuah pigura hitam dengan potret seorang gadis yang kecantikannya begitu alami terpancar dibawah remang lampu-lampu festival.

Chen sudah sering mengikuti banyak lomba foto namun baru kali ini ia berani memasang foto seseorang dari  yang biasanya ia hanya memamerkan pemandangan-pemandangan kota. Dari sekian banyak pengunjung, banyak juga yang memuji hasil karyanya, “dia gadis yang manis,” begitu puji beberapa orang sejak tadi.

Chen hanya tersenyum malu mendengarnya, “jadi, apa dia gadis yang special?” gadis manis dengan seragam SMP yang masih melekat di tubuhnya itu mendekati chen dan bertanya padanya.

Chen menoleh, dan mendapati Hana, adiknya sudah berdiri di sebelahnya, “kenapa kau tiba-tiba sudah disini?” tanyanya.

Hana menyerahkan kotak makanan yang tadi dibawanya, “eomma bilang saat kesini tadi, kau belum makan apapun, ini.”

Chen menerima kotak makanan yang dibawa adiknya itu dan tersenyum, chen mengacak rambut Hana dengan sayang. “gomawo.”

“tapi oppa, dia siapa?”

“hanya seseorang.”

Hana menyipitkan matanya, tanda bahwa ia tak mempercayai perkataan kakaknya. “tidak mungkin kalau dia hanya seseorang kalau kau sampai membuatnya jadi objek fotomu, dan kurasa belakangan ini di kameramu banyak sekali fotonya.”

“kau melihat kameraku?”

“hanya sekali. Kau menyukainya ya?”

Diluar ruangan pameran langit mulai gelap, chen menghela nafasnya. “hm.” Katanya sembari memandangi keluar jendela.

“dia cantik, aku setuju kalau dia jadi kakak iparku. Apa kau sudah menyatakan perasaanmu, oppa?”

Chen menggeleng lemah, “aku tidak tahu apa dia menyukaiku atau tidak, dan aku takut ia malah sedang menyukai orang lain.” Bayangan wajah D.O langsung melintas di otaknya, chen berdecak pelan. Dia bahkan benci membayangkannya.

“tapi tak ada salahnya kalau kau menyatakan perasaanmu, kurasa gadis manis sepertinya memang pantas mendapat perhatian dari banyak laki-laki. Maka dari itu kau harus bertindak dengan cepat.” Dengan gayanya yang seolah berpengalaman, Hana menasihati kakaknya. Tapi ini memang pertama kalinya, dia melihat chen memberikan perhatian lebih pada seorang gadis. Selama ini dunianya hanya terbatas pada kamera dan sekolah. Chen cukup membosankan untuk menjadi teman curhatnya tapi cukup tampan untuk dibawanya ke acara sekolah seperti yang selalu di lakukannya.

 

Sakura’s POV

Aku dan eunyeol meninggalkan pertandingan sesaat setelah bunyi peluit tanda pertandingan selesai berbunyi, sekolah kami menang dan itu cukup membuatku dan eunyeol melompat kegirangan. Langit sudah mulai gelap dan aku tak mau basah saat sampai di pameran chen, lapangan begitu riuh. Aku sempat melihat, sehun bahkan berlari mengelilingi lapangan sebagai selebrasinya.

Aku segera berlari kecil menuju halte bus, langit gelap dan angin kencang adalah tanda bahwa hujan deras akan turun sebentar lagi. aku sudah memberi peringatan pada eunyeol agar memilih bus yang benar, aku tak mau tersesat saat hujan deras. Itu terlihat jutaan kali lebih bodoh dari yang biasanya. Apalagi tak ada seorangpun di antara kami yang membawa payung.

Hujan baru turun dengan deras begitu aku dan eunyeol baru akan berjalan menuju tempat pameran, setelah menunjuk sebuah gedung yang menjadi tempat pameran eunyeol pergi, dia bilang harus membeli sesuatu suruhan ibunya, dengan kecepatan penuh aku menuju gedung yang ditunjuk eunyeol.

Jaket yang kugunakan untuk menutupi kepalaku basah kuyup. Aku memang jadi tak begitu basah karenanya tapi udara semakin dingin dan membuatku bersin beberapa kali. Begitu memasuki ruangan pameran, aku langsung jadi pusat perhatian orang-orang didalamnya. Bagaimana tidak? seorang gadis dengan seragam sekolah yang basah kuyup dan wajah lusuh setelah berteriak-teriak di lapangan tadi tiba-tiba muncul di ruangan dengan tatanan minimalis namun terkesan mewah itu.

sial, aku bahkan tak kenal siapapun disini. Tak ada eunyeol, dan aku tak tahu chen dimana.

“maaf kau jadi basah seperti ini karena datang kesini.” Tiba-tiba saja ada yang menyampirkan handuk di atas kepalaku, aku mendongak dan mendapati chen disana.

Aku begitu senang karena akhirnya bertemu dengannya, aku tak suka tempat asing dan juga orang asing.

“dimana eunyeol? Kau hanya sendiri?” tanyanya kemudian,

“dia pergi membeli sesuatu disekitar sini. Chen-ssi maaf aku terlihat lusuh sekali seperti ini, padahal tempat ini terlihat begitu resmi.”

Chen tertawa, “tenang saja, sejak tadi banyak juga pengunjung dengan seragam sekolah yang datang.”

Chen kemudian mengajakku menjauh dari pintu masuk, tempat kami berdiri sejak tadi. Dia mempersilahkanku duduk di sebuah sofa di ujung ruangan. Chen pergi sebentar dan tak lama ia telah kembali dengan jaket dan sebuah mug di tangannya. “kau pakai saja jaketku, kelihatannya kau kedinginan, dan ini minuman hangat agar kau tak masuk angin.” Chen menyerahkan mug tersebut, aku tak tahu jenis minuman apa ini tapi rasanya manis dan tubuhku langsung terasa hangat.

“gomawo.” Kataku.

Kami baru akan melihat-lihat pameran kalau eunyeol sudah datang dan minumanku sudah habis, begitu kata chen tadi. Saat aku sedang berbincang dengannya, datang seorang gadis berseragam SMP mendekati kami, “oppa, bagaimana aku akan pulang? Hujannya deras sekali.” Ucap gadis itu dengan nada merengek didalamnya.

“aku akan mengantarmu nanti, tunggulah disini dulu.”

Gadis kecil itu mengangguk, saat dia mengalihkan pandangannya kearahku dia tersenyum, “annyeonghaseyo,” sapanya.

Aku membalasnya dengan anggukan singkat, “annyeonghaseyo.”

“eonni, aku seperti familiar dengan wajahmu, apa jangan-jangan kau gadis di foto itu?” katanya kemudian, dia mengalihkan pandangannya pada chen.

“foto apa?” tanyaku,

Chen terlihat salah tingkah dan gugup, dia menyipitkan matanya kearah gadis di depan kami. “itu akan kujelaskan nanti, oh iya, ini adikku, Hana, dan Hana ini teman sekolahku, sakura.”

Dengan erat gadis bernama Hana itu menjabat tanganku, aku bisa melihat perbedaan sifat yang begitu jauh pada diri Hana dan Chen. Rasanya mereka seperti kutub yang bertolak belakang.

-0-

Authors’s POV

Malam datang, hujan turun semakin deras diselingi dengan petir yang cukup besar. D.O duduk di undakan tangga terakhir, sakura belum juga pulang, padahal saat pertandingan selesai tadi dia sudah tak dapat menemukan gadis itu dimanapun. Awalnya D.O kira sakura sudah pulang terlebih dahulu, tapi nyatanya saat dia pulang sejam yang lalu, sakura tak ada dikamarnya, dan ahjumma bilang dia memang belum pulang sejak tadi.

Hujan cukup deras, dan D.O tahu sakura hanya membawa sepotong jaket tanpa payung bersamanya. “apa dia berteduh di suatu tempat karena terjebak hujan?” Tanya D.O pada dirinya sendiri.

Kim ahjussi juga tadi mengatakan kalau sakura sudah memintanya untuk pulang terlebih dahulu Karena ia akan naik bus bersama eunyeol ke pertandingan baseball tadi. D.O kembali menatap pintu depan yang masih bergeming, sakura tak dapat di hubungi begitu juga eunyeol, sejak kejadian sakura terjebak diatap waktu itu, D.O memang mulai menyimpan nomor telepon gadis itu, bahkan dia juga menyimpan nomor eunyeol karena ia yakin kemanapun sakura pergi eunyeol pasti bersamanya.

Pintu depan terbuka, sakura datang dengan seragam yang setengah basah, rambutnya juga terlihat lepek. D.O segera bangkit dan menghampiri gadis itu, “kau darimana?”

Sakura membuka jaket yang diberikan chen tadi, jaket itu juga sudah basah, sama seperti jaketnya. “dari pameran foto chen, dan aku kehujanan.”

“aku tadi langsung pergi begitu pertandingan selesai, oh iya selamat atas kemenanganmu. Saat sampai di tempat pameran aku kehujanan, dan chen meminjamkanku jaketnya, karena jaketku sudah basah kuyup. Oh dan apa kau tahu, chen memasang fotoku sebagai karya yang di pamerkannya, dia bilang dia mengambilnya saat festival waktu itu, kau ingat kan? saat aku melihat festival tari bersamanya. Wah, aku jadi tersanjung….”

Sakura terus saja menceritakan setiap kejadian yang dialaminya sore itu, dia tidak melihat perubahan wajah D.O yang begitu drastis sejak sakura menyebutkan nama chen tadi.

D.O tidak pernah senang mendengar nama chen, tapi dia lebih tidak senang apabila nama itu harus keluar dari mulut gadis di hadapannya itu. Dengan gelisah dia menunggu sakura pulang dengan kekhawatiran kalau gadis itu mungkin terjebak hujan di suatu tempat dan membuatnya akhirnya tak bisa pulang. Dan nyatanya sakura ternyata menghabiskan sisa sorenya bersama seorang chen, orang yang sangat tidak ia inginkan keberadaannya. D.O benci perasaan khawatir yang belakangan semakin sering menggelayutinya, dia sungguh benci setiap perubahan yang belakangan ini juga dirasakannya, dan D.O yakin sakura lah penyebabnya,

Dia tidak tahu apa yang telah dilakukan gadis itu padanya, tapi yang jelas, D.O benci perubahan. Namun setiap dia ingin menghindar, saat dia ingin mencoba untuk menyangkal, hatinya tidak menginginkannya, hatinya tak pernah mengijinkannya, dan D.O benci itu.

Masih ditengah cerita serunya tentang harinya, sakura mendengar D.O berdecak kencang. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi laki-laki itu langsung berbalik dan berjalan menaiki tangga.

Sakura memekik kaget, dia mengikuti D.O dan memegangi lengan gadis itu, “hey, aku kan belum selesai cerita, kenapa kau sering sekali tak mendengar ceritaku sampai selesai?”

D.O melepaskan tangan sakura dari tangannya, dan tetap tak mengatakan apapun.

“ah, ini tanda kalau kau marah. Astaga, aku bahkan tak ingat kapan aku melakukan kesalahan.” Sakura mendengus, D.O selalu saja seperti itu. sakura tahu kalau di kekanakkan tapi sakura juga tahu bahwa ada yang lebih kekananakkan dari dirinya.

Sakura kembali memegangi lengan D.O, tak peduli dengan amarah laki-laki itu yang mungkin akan dia ledakkan saat mereka sudah sampai di lantai dua. Sakura menoleh, dengan wajah dingin yang ketus itu, D.O selalu jutaan kali lebih tampan dari biasanya. Batin sakura. dia menjulurkan telunjuknya dan menyentuh pipi D.O, dengan gerakan cepat D.O meraih tangan sakura yang tadi menyentuhnya.

“kurasa aku sudah ratusan kali mengatakan kepadamu untuk bilang padaku kemanapun kau akan pergi, tapi kau, selalu ribuan kali melanggarnya.” D.O menatap dalam sakura saat mengatakannya. Gadis itu terlihat mengkerut karenanya.

D.O selalu berhasil membuatnnya berada di bawah tekanan, genggaman tangan D.O pada tangannya memang tidak begitu erat tapi tetap saja, itu tetap membuatnya tertekan. “tapi aku kan..” biasanya sakura selalu bisa membuat alasan, tapi tidak saat D.O menatapnya tajam seperti itu, semua rangkaian kalimatnya bahkan tidak ada yang mampu di ucapkannya.

“mianhae.” Dengan kepala yang tertunduk dan suara yang lemah sakura meminta maaf. Dia tidak berani menatap mata dingin D.O lagi, terlalu menakutkan baginya.

D.O melepaskan tangan sakura, “gantilah bajumu dan segera pergi tidur sebelum kau terserang flu.”

Belum sempat sakura mendongakkan kepalanya lagi, pintu kamar D.O yang terkunci sudah terdengar. Sakura menatap pintu bercat putih yang bergeming itu, ia tak pernah mengerti jalan pikiran D.O, tidak pernah.

-0-

Sakura sudah menyelimuti dirinya dengan selimut tebalnya, tapi tetap saja ia masih juga tak bisa memjamkan matanya. Dia masih tidak tenang, karena sakura memang tidak akan pernah tenang saat D.O sudah mulai marah padanya, sikap laki-laki itu semakin hari semakin melunak, namun setiap sakura membuat kesalahan dan itu membuat D.O marah padanya, sakura selalu takut sikap ketus D.O yang ditunjukkan padanya dulu akan dikeluarkannya lagi. itu bagai mimpi buruk baginya.

Sakura bangkit dari tempat tidurnya, menggulung rambutnya yang masih  basah dengan handuk dan memakai sandal beruangnya. Seperti biasa Sakura memang hanya akan memakai kaos putih kebesaran bergambar panda kesukaannya dan celana pendek yang tenggelam di balik kaosnya, saat ia akan pergi tidur.

Sakura mengetuk pelan pintu kamar D.O, malam belum terlalu larut dan sakura yakin D.O pasti belum tidur. Dia mengetuk lagi dan tetap tak ada jawaban. Sakura mengetuk lagi dan lagi berkali-kali, tidak sopan memang tapi sakura yakin cara seperti itulah yang bisa meluluhkan D.O, membuatnya lelah berdiam diri didalam kamar dan akhirnya keluar.

‘clek’

Pintu terbuka, dengan tatapan datarnya D.O melihat sakura yang berdiri di hadapannya dengan tangan terkepal siap mengetuk lagi.

“kau jangan marah kyungsoo, kumohon.” Begitu sakura melihat D.O dia langsung mengarapatkan kedua tangannya, memohon.

“kembalilah ke kamarmu.”

“tidak sampai kau memaafkanku.”

“istirahatlah.”

D.O bersiap menutup pintu namun sakura menahannya. “kyungsoo, katakan dulu kalau kau tak marah, baru aku akan kembali ke kamarku.”

“pergilah.” D.O kembali mendorong pintunya, dan sakura kembali menahannya.

“kumohon.”

Kali ini D.O tak mengatakan apapun, tapi ia menguatkan dorongannya. D.O yakin tenaga sakura tak akan mampu menandinginya.

Tak mau kalah, sakura tetap memaksa agar pintu kamar D.O tetap terbuka.

D.O melemahkan dorongannya, bermaksud agar sakura tertipu dan akhirnya dapat membuatnya lebih mudah menutup pintu. Tapi seakan terjadi suatu kesalahan, sakura malah masuk kedalam kamarnya dan dengan cepat gadis itu menutup pintu di belakang tubuhnya.

Sakura selalu suka aroma caramel manis yang dimiliki D.O, dan aroma tersebut begitu kuat tercium dari dalam kamarnya seperti ini. sakura dapat mendengar D.O berdecak pelan saat melihatnya malah masuk kedalam kamar laki-laki itu.

“pergilah,” kata D.O kemudian.

Sakura menggeleng.

“Ka.”

“shirheo.”

Bermaksud menyambar daun pintu dibelakang tubuh sakura, malah membuat jaraknya dengan gadis itu semakin rapat. Wangi strawberry manis langsung memenuhi indra penciumannya, wajah sakura hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, sakura menatapnya dengan tatapannya yang begitu polos, rona kemerahan di pipinya selalu membuat sakura terlihat begitu mempesona dimata D.O, untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap satu sama lain.

D.O menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya, dia benar, menatap wajah sakura begitu lama memang berbahaya baginya. D.O menyerah, dia duduk di pinggiran kasurnya. Membiarkan sakura melakukan apapun yang diinginkannya sampai gadis itu memutuskan sendiri kapan dia berniat keluar.

“aku tak marah.” Kata D.O kemudian.

Sakura masih terdiam di pintu, dia tersenyum ketika akhirnya D.O mengatakan hal itu. dengan langkah pelan sakura beranjak dari pintu, “kamarmu rapi sekali.” Pujinya, mainan-mainan kecil di meja belajar D.O menarik perhatiannya. Sakura melangkahkan kakinya kesana untuk melihatnya lebih dekat.

D.O memerhatikan setiap jengkal langkah sakura, memastikan gadis itu tak berbuat hal aneh yang malah mengacaukan kamarnya. D.O tak pernah suka orang lain memasuki kamarnya selain teman-temannya, dan Yui yang memang tak pernah mendengar larangannya. Sedangkan sakura, rasanya gadis itu selalu punya banyak pengecualian.

Sakura berhenti di depan meja belajarnya, mengambil beberapa mainan kecil D.O dan tertawa kecil saat melihatnya. “lucu sekali.”

Kamar D.O tak pernah memakai penerangan sepenuhnya, hanya lampu belajar dan lampu di kedua sisi ranjangnya yang dibiarkan menyala. D.O tak suka dengan sesuatu yang terlalu terang. Dia masih memerhatikan sakura, gadis itu masih asik melihat koleksi mainan-mainan kecil yang sengaja di pajangnya disana.

Sakura masih menggulung rambutnya dengan handuk memperlihatkan leher putihnya yang terbuka, celana pendek yang tenggelam di balik kaosnya yang kebesaran memperlihatkan kaki rampinya yang jenjang. Tatapan D.O terkunci pada gadis yang berdiri tak jauh darinya itu, dengan seksama D.O bahkan memperhatikan setiap jengkal lekuk tubuh sakura dari ujung kepala sampai ujung kaki. Entah karena penerangan yang remang atau D.O yang memang baru menyadari kalau sakura bisa terlihat begitu menawan dengan baju potongan sederhana seperti itu. Bentuk tubuh sakura yang mungil dan tenggelam saat di pelukannya, tinggi sakura yang sedang dan membuat kepalanya bersandar pas dipundak D.O, bahkan terbayang-terbayang dalam kepalanya.

Dengan segera D.O menundukkan kepalanya dan mengatur nafasnya, dia mengutuk isi kepalanya yang tiba-tiba saja kehilangan akal sehatnya itu. D.O bangkit dan segera menarik sakura menuju pintu, dibukanya pintu dengan cepat dan dibawanya sakura keluar dari kamarnya.”segeralah pergi tidur dan jangan lupa minum obatmu, tubuhmu sedikit panas.”

D.O menutup pintu kamarnya, dan dia berjanji tak akan pernah membiarkan sakura masuk lagi kekamarnya. Tidak akan pernah.

Dua mainan kecil D.O masih ada dalam genggamannya, sakura kaget kenapa D.O menariknya keluar dengan tiba-tiba. Laki-laki itu selalu aneh, sindir sakura dalam hatinya. Dia menggenggam erat mainan di tangannya, “aku akan tidur dengan ini malam ini, selamat malam kyungsoo.”

-0-

“baekhyun-ah, apa yang akan kau lakukan di jepang nanti?” Tanya chanyeol, tangannya sibuk memainkan game di tab nya.

“molla, tentu saja latihan.” Baekhyun masih berkutat dengan catatannya dan hanya menanggapi chanyeol sekenanya.

“aish, kita kan akan satu minggu disana, apa kau tak bosan kalau hanya latihan?”

“lakukan saja apapun sesukamu, tapi jangan pernah ganggu tidur siangku nanti.”

Chen yang sedang membereskan bukunya dan bersiap keluar kelas untuk istirahat tak sengaja mendengar percakapan singkat antara baekhyun dan chanyeol barusan. Chen mendekati tempat duduk baekhyun, “kalian akan pergi ke jepang?” Tanyanya langsung saat jaraknya dengan tempat duduk baekhyun dan chanyeol sudah dekat.

Baekhyun menoleh, “oh chen-ah, kau mendengar percakapan kami? Haha iya, karena di semi final kemarin kita menang maka sekolah kitalah yang mewakili korea di babak final nanti melawan wakil dari jepang.” Baekhyun menceritakan dengan lengkap walau ia tahu jawaban dari pertanyaan chen hanya ia atau tidak.

“jadi kemarin kalian memenangkan pertandingan? Chukkae.”

“oh ne, gomapda.”

Setelah tersenyum singkat chen berlalu keluar kelas, baekhyun memerhatikan kepergian chen dengan seksama, rasanya aneh mendengar chen mengajaknya bicara, di kelas chen lebih sering diam dan menyendiri.

Chen menyusuri menyusuri lorong kelas satu untuk mencapai kelas eunyeol, ada yang ingin dikatakannya pada gadis itu, begitu memasuki kelas dilihatnya eunyeol memang sedang sendirian. “eunyeol-ah.” Panggil chen, dan segera mengambil tempat di kursi sebelah eunyeol.

“oh, waeyo?” eunyeol sedang mewarnai desain-desain bajunya, dia juga sedang tidak berniat untuk keluar dari kelas hari itu, karena hujan kemarin dia merasa sedikit tidak enak badan.

“kau sudah dengar beritanya?” Tanya chen antusias. Perbincangan singkatnya dengan baekhyun tadi membuat mood chen tiba-tiba saja menjadi sangat baik.

“berita apa?”

“tim baseball sekolah kita akan pergi ke jepang selama satu minggu, kuulangi lagi S-A-T-U minggu.”

Eunyeol menghentikan kegiatannya, dan kali ini sepenuhnya ia mencerna setiap perkataan chen. “jinjja?” dengan alis yang berkerut eunyeol bertanya lagi memastikan, mungkin saja barusan ia salah dengar.

“iya, mereka akan pergi ke jepang selama satu minggu, untuk melaksanakan final disana, dan itu sangat hebat.”

Eunyeol menatap chen, mengerutkan lagi alisnya, memastikan bahwa dia mendengarnya dengan sangat baik tadi, kemudian eunyeol memiringkan kepalanya, “aku tidak tahu kalau kau salah satu pendukung tim baseball juga, yah memang sangat hebat mereka bisa pergi kesana.” kata eunyeol kemudian.

Mendengar balasan eunyeol, chen menghela nafasnya kecewa, “kau tak menangkap maksud perkataanku rupanya. Maksudku, hebat kan kalau mereka pergi selama seminggu, itu artinya D.O juga akan pergi kan, maka aku akan menyatakan perasaanku pada sakura.”

“mwo?!” dengan suara yang cukup tinggi eunyeol berkata pada chen, jadi maksud chen tadi? Eunyeol berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, setelah dia menarik dan menghembuskan nafasnya dalam, eunyeol kembali menatap chen. “kau ingin menyatakan perasaanmu pada sakura? yang benar saja.”

Senyuman yang sejak tadi tersungging dibibir chen hilang seketika begitu mendengar nada sarkastik dalam suara eunyeol barusan. “kenapa kau berkata begitu? Apa aku tak boleh mengungkapkan perasaanku pada sakura?”

Kali ini eunyeol kebingungan menjawab pertanyaan chen, dia tak pernah menyiapkan jawaban untuk ini, dan kenapa chen senang sekali menanyakan hal-hal yang begitu tak diduganya. Geram eunyeol dalam hatinya.

“chen-ssi, bukan begitu maksudku, itu, maksudnya, kita berteman selama ini, aku juga belum terlalu lama mengenalkan sakura padamu, dan kalau sekarang kau tiba-tiba saja menyatakan perasaanmu padanya, apa kau tak menimbang-nimbang apa yang akan sakura pikirkan nantinya? Gadis itu kan terlalu polos untuk masalah seperti ini.”

“begitu menurutmu?”

“hm,”kata eunyeol seraya mengangguk, “kau tak perlu langsung mengatakan padanya, menurutku caramu menjadikan sakura sebagai objek fotomu yang kemudian kau jadikan karyamu yang kau pamerkan kemarin adalah salah satu cara yang baik untuk memberitahunya secara perlahan. Kurasa semua gadis suka cara seperti itu.”

Eunyeol menyentuh pundak chen, “bukan maksudku melarangmu menyatakan perasaanmu pada sakura, kau laki-laki baik, tapi kalau jawaban yang kau dengar dari sakura setelah kau menyatakannya tak sesuai dengan harapanmu, bukankah itu malah hanya akan membuat pertemanan kita jadi merenggang? Jujur, aku tak ingin hal itu sampai terjadi chen-ssi.”

Chen mengangguk, “arasseo, kurasa aku memang terlalu gegabah. Terima kasih sarannya, eunyeol-ssi.”

Eunyeol tersenyum lebar mendengar balasan chen, walau didalam hatinya ia harus ribuan kali meminta maaf karena tak berkata sejujurnya pada laki-laki itu, selain alasan pertemanan eunyeol memang punya alasan lain, sakura sudah milik orang lain dan itu berlaku selamanya, kejam memang tak mengatakannya sejak awal pada chen dan malah membiarkannya jatuh hati terlebih dahulu pada sakura. tapi, ia yakin ada masanya saat chen mengetahui hal tersebut dengan sendirinya dan mampu membuat pemahamannya sendiri.

-0-

Eunyeol mengetuk-ngetukkan kepalanya pada buku yang sedang dipegangnya, dia sedang berjalan menyusuri koridor berniat menuju kantin untuk membeli beberapa cemilan. Otaknya penuh sekali dengan tiga nama orang yang terus berputar-putar. D.O, sakura, dan chen. Eunyeol butuh yang manis-manis.

‘brugh’

Karena tak memerhatikan jalan, eunyeol menabrak seseorang, dia jatuh terduduk dan bokongnya langsung sakit detik itu juga, “gwenchana?” saat eunyeol sedang menggosok-gosok bagian tubuhnya yang sakit seseorang dihadapannya bertanya, eunyeol seperti mengenal suara terebut. Dia mendongak dan benar saja, orang yang ditabraknya adalah Oh Sehun.

“hah, moodku sedang tak begitu baik sekarang dan melihatmu membuatnya malah semakin buruk” eunyeol bangkit dan tak mengindahkan uluran tangan sehun yang berniat membantunya berdiri.

Sehun mendelik mendengar perkataan eunyeol, gadis itu sudah berlalu dan sehun yang geram tak akan membiarkannya pergi begitu saja, “ya! Apa maksudmu? Kau yang menabrakku dan bukannya meminta maaf kau malah berkata begitu.”

Sehun menghalangi jalannya, eunyeol menatapnya sebal. Tapi kemudian tatapan sebal eunyeol melunak, “sehun-ah, apa kalian benar akan pergi ke jepang?”

Melihat eunyeol sudah tak sesinis sebelumnya, sehun juga ikutan menurunkan tangannya yang tadi terlipat di depan dada, “eoh, lusa.  wae? Kau mau minta oleh-oleh dariku?” gurau sehun kemudian.

“aniyo, kalian semua akan pergi?”

“tentu saja, semua pemain inti, beberapa pemain cadangan dan juga pelatih.”

“apa sakura sudah tahu?”

Sehun menaikkan alisnya, bingung. “kau aneh sekali, kau saja sudah tahu, tentu saja satu sekolah ini juga. Ada apa memangnya?”

Eunyeol terlihat semakin aneh, dia menatap sehun dan seperti menimbang-nimbang. “sehun-ah, kau bisa menjaga rahasia kan?”

Sehun membulatkan mulutnya, eunyeol seperti akan mengatakan hal yang begitu serius padanya, dan segala hal yang berbau rahasia, sehun sangat menyukainya. Dia mengangguk cepat, “kau bisa mengandalkanku untuk hal itu.”

Eunyeol segera menarik tangan sehun dan membawanya pergi ke suatu tempat yang lebih sepi, mereka menuju taman belakang sekolah dan duduk di bangku-bangku yang tersedia disana.

Dengan lengkap eunyeol menceritakan apa yang selama ini dikatakan chen padanya, dia juga mengatakan apa yang diutarakan chen beberapa saat yang lalu, sehun mendengarkan dengan seksama, alisnya juga ikut berkerut selama mendengarkan.

“aku memang sejak awal tak suka padanya, dia terlalu menunjukkan perasaannya, aku selalu gatal ingin memberitahukanya kalau sakura sudah jadi milik orang lain, tapi seperti biasa hyung-hyungku selalu melarangnya, kau sendiri kenapa tak langsung saja memberitahunya?” komentar sehun setelah eunyeol menyelesaikan ceritanya.

“aku tak tega memberitahunya, melihat bagaimana cara chen menyukai sakura aku kadang berpikir, kalau saja D.O sunbae bisa melakukan hal itu, sakura mungkin akan lebih bahagia,”

“kau tidak bermaksud menyetujui sakura dengan chen kan?” sehun menyipitkan matanya.

“ani, tapi melihat sifat D.O sunbae yang baru belakangan ini kuketahui, kadang aku merasa kasihan pada sakura, bukankah hanya dia pihak yang menyukai D.O sunbae begitu banyak?”

Sehun mengangguk, bagaimanapun apa yang dikatakan eunyeol memang benar, selama ini dia memang tidak pernah melihat D.O menunjukkan perasaannya, sifat D.O yang terlalu tertutup memang menjadi penyebabnya. “tapi aku yakin hyung tak akan membiarkan laki-laki lain mendekati noona begitu saja, aku kan bersahabat dengannya sudah lama. Kalau kau memerhatikannya dengan baik, cara D.O hyung menatap sakura noona kan berbeda.”

Eunyeol menghela nafasnya, sehun mengulurkan tangan kanannya dan menepuk pelan pundak eunyeol, “kau tak perlu khawatir.”

Eunyeol melirik tangan sehun yang tiba-tiba saja menyentuh pundaknya, dia menaikkan alisnya, “mian.” Sehun menurunkan tangannya begitu melihat sikap eunyeol yang menunjukkan ketidaksukaannya, “jadi apakah sekarang kita berteman?”

“mwo? Tidak akan pernah!” eunyeol berlalu dengan cepat setelah sebelumnya mendengus keras,

Sehun menatap uluran tangannya yang sudah ditolak eunyeol dua kali. Dia mengangkat bahunya, “dia lupa kalau dia yang pertama kali menarik tanganku tadi.” Sehun tertawa kecil setelahnya, “ternyata dia terlihat lebih manis saat marah.”

-0-

Sakura’s POV

Belakangan hari ini aku lebih sering menghabiskan waktu istirahatku di perpustakaan dibanding kantin atau lapangan seperti biasa, aku juga jadi lebih sering meninggalkan eunyeol. Seperti dua hari yang lalu, dia tak begitu tertarik saat kuajak kesini. Tapi anehnya, saat jam istirahat selesai aku malah melihatnya sedang berbicara dengan sehun, dan pembicaraan mereka terlihat begitu serius. Apa mungkin mereka sudah berkencan sekarang? Kurasa harus segera kupastikan nanti.

Perpustakan sedang tidak begitu ramai, aku sibuk memilih-milih buku ensklopedi berbahasa inggris yang akan kubaca. Aku masih begitu lemah membaca rentetan huruf Hangeul yang panjang.

“mereka akan pergi hari ini kan?”

“iya, kudengar akan ada pelepasan siang nanti, wah hebat sekali. Ah aku pasti rindu untuk melihat Kai”

“aku juga pasti merindukan sehun.”

“siapa yang akan pergi?” aku melongokkan kepalaku ke dalam barisan rak yang ada di belakangku,

“ah kau mengagetkanku sakura,” ujar yongmi yang ternyata berbicara tadi. Dia penggemar Kai dan temannya aku tahu dia yang sering memberikan sehun kado-kado kecil. “tim baseball sekolah, mereka akan pergi ke jepang hari ini. masa kau tidak tahu?”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, “tim….  Baseball…  sekolah?”

“iya, mereka akan mewakili korea di final melawan tim dari jepang, nanti siang akan ada pelepasannya disini.”

Kerongkonganku tercekat, pergi ke jepang? Kenapa aku tak tahu apapun? Aku meletakkan buku ensiklopedi yang tadi kupegang, dan segera berlari keluar dari perpustakaan.

Aku segera berlari menuju tempat parkir dan meminta kim ahjussi agar segera membawaku ke rumah, aku memang tak melihat kyungsoo berangkat sekolah tadi, jadi Karena ini? karena dia akan pergi dan aku tak tahu apapun.

15 menit kemudian aku sampai di rumah, segera saja aku berlari masuk dan mendapati chanyeol, baekhyun, kai, dan sehun yang sedang menunggu dengan koper-koper mereka di pintu depan. Chanyeol oppa menyapaku barusan tapi tak kuhiraukan. Aku langsung berlari menaiki tangga, dan menemui kyungsoo.

Tepat ketika aku mencapai lantai dua, kyungsoo keluar dari kamarnya. Dengan sebuah koper kecil dan tas olahraga yang ia sampirkan di pundaknya. “sakura.” begitu katanya saat mata kami bertemu.

“kau… sungguh.. benar akan pergi?” tanyaku kemudian.

Anggukan singkat dari kyungsoo dan itu langsung meruntuhkan pertahananku. Mataku mulai panas, bibirku bahkan bergetar menahan ledakan tangis yang bisa saja kutumpahkan detik itu juga, “kenapa tak pernah bilang padaku?” dengan suara tercekat aku berusaha untuk tetap meminta penjelasan darinya.

“ini hanya untuk satu minggu, tak lama.” Dengan entengnya kyungsoo mengeluarkan kata ‘hanya’ dari bibirnya.

“bukankah kau yang selalu mengatakan padaku untuk bilang padamu kemanapun aku akan pergi? Jadi itu hanya berlaku bagiku? Dan tidak sebaliknya?”

“aku hanya akan pergi seminggu dan itu tak akan merubah apapun.”

Aku tertawa miris, air mataku sudah tak terbendung lagi, pipiku mulai basah dan aku sudah tak mampu menghapusnya lagi, “tak merubah apapun? Apa kau hanya menganggapku sebagai orang yang tinggal di rumah yang sama denganmu? Apa keberadaanku begitu tidak berharga di matamu?”

“sakura..” kyungsoo mendekat hendak menjulurkan tangannya, aku mundur selangkah.

“apa aku tidak pernah benar-benar memiliki arti dihadapanmu kyungsoo? Apa kau begitu membenci keberadaanku bahkan sampai sekarang kau masih tidak bisa menerimanya? Apa aku tidak pernah sekalipun ada dalam pikiranmu kyungsoo?”

Kyungsoo maju selangkah lagi, “sakura…”

Aku mengusap air mataku, dan kembali menatapnya. Dan air mata itu keluar lagi, bahkan menatapnya saja terasa begitu sakit. “apa begitu sulit bagimu untuk setidaknya mengatakan padaku sebelumnya bahwa kau akan pergi hari ini? segitu sulitnyakah kyungsoo?”

“aku hanya pergi ke jepang, dan berhentilah bersikap kekanak-kanakkan. Aku membencinya.”

“kau memang membenciku kan?” sambarku, kyungsoo terkesiap mendengar perkataanku. “chukkae,” kataku kemudian dengan tawa sinis yang disudut bibirku. “aku juga membencimu sekarang, aku membencimu kyungsoo! Sungguh-sungguh membencimu.” Aku melonggarkan cincin pada jari manisku dan melepasnya. “aku juga tidak mau memakai cincin dengan namamu yang tertera didalamnya.” Aku melempar cincin tersebut sembarang, suara dentingannya beradu dengan lantai nyaring terdengar, aku tak peduli kemanapun cincin itu menggelinding.

“kenapa kau membuang cincinnya?” nada suara kyungsoo berubah menjadi sedikit tertahan, dia pasti menahan amarahnya. Aku tak peduli.

“karena aku juga membenci cincin itu, bahkan sekarang aku muak melihatmu, pergilah kyungsoo.”

Author’s POV

Dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya, sakura menutup keras pintu kamarnya. Gadis itu sudah tak peduli lagi, dia bahkan tidak mau tahu betapa terlukanya hati D.O begitu mendengar ucapannya barusan.

D.O terluka, matanya mengatakan segalanya, sorot yang selama ini tak pernah terpancar itu dengan jelas terlihat dalam setiap kedipannya. D.O sungguh terluka, hatinya sakit, dan tubuhnya ikutan terluka karenanya. Kepalanya kosong, dia bahkan tak bisa bernafas dengan baik ketika itu.

-0-

TBC

 

Oke, pertama aku mau minta maaf karena ternyata aku ga bisa nepatin janjiku sendiri yang bilang mau post secepatnya, aku sibuk uts dan kayanya kalian ngerti dengan alesan itu, maaafff banget ya, dan makasih sama reader yang udah setia banget nungguin fic ini. dan aku juga minta maaf lagi ga bisa balesin komen-komen kalian, aku tetep baca semuanya kok, makasih banget buat reader-reader yang uda mau ninggalin jejak, aku seneng karyaku di hargai. Terima kasih sangat banyak readeeeerrr ku~~~

Oh iya waktu di part 7 aku sempet bilang mau ngasih preview untuk next chapnya, kayanya ga jadi deh, biar surprise.. kekeke~ dan sekali lagi aku mau ngucapin makasih lagi ke kalian, aku ga pernah nyangka fic ini bakal banyak disukain. Gomawoooooo~

 

205 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 8b)

  1. Oh My God..!!! Thor ceritanya nyesek banget, Sampe sampe aku nggk sadar,air mataku tumpah saat sakura bilang membenci D.O ,, Salah D.O juga sih, nggk mau bilang sama Sakura Kalo dia akan pergi ke jepang. Bener juga kata sakura,D.O cuma nekenin kalo dia kemana mana harus bilang dulu sama D.O
    D.O nya niihh,, yang nggk tepatin ucapannya sendiri. Syukurlah, aku jadi seneng kalo D.O bisa Sakit Hati, aku seneng liat D.O agak_agak kesel tapi sayang ma Sakura, bagus deh, biar D.O tau, seberapa besar cinta Sakura sebenarnya Sama Dia..
    Aku tunggu Next nya ya thor, Fighting Thor..

  2. Rada gimana gitu sama chen, disatu sisi kagum sama dia yang ga mudah menyerah.
    Disisi lain kasihan sama dia, soalnya jelas banget endingnya dia ga bakal dapetin sakura.
    .
    Salah dio sendiri sih yang ga ngasih tau sakura –– dan akhirnya sakura benci sama dio –

  3. yehetttt, demi apaa emosinya dapet bgt pas sakura marahh aku sukaa sampe pengen nangis. aku gak bohongggg. aku nahan napas pas baca omongannya sakura. biar kapok kyungsoi, jangan ngeremehin kecewanya orang keliatannya gak tau apa2. well aku suka karena sikap sakura bikin kyungsoo imtropeksu diri dan tau betapa terlukanya sakura. wenakk.eee wkwkkq author JJANGGGGG

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s