Proof of Life

| Title : Proof of Life | Author : Seo Yuri (@Angrybird_Baby) |

| Main Cast : ♪ Kris EXO-M|

|  Ficlet, PG-13, 1009 words |

seriously, i really doesn’t know what kind of fanfic it is, maybe you can help me?

“Jadi, kapan kau akan membunuhku?”

Terlukis dengan indah di udara dan Kris hanya menggenggam belati dengan tangan kosong sebagai tanda malaikat kematian yang semakin mendekat. Ia berdeham, sedikit lebih keras, setidaknya mampu membiarkan sebongkah awan putih bermunculan, bak semestinya, tapi rasanya tak cukup mengerikan hingga sosok di sebelahnya bergidik atau mungkin melarikan diri.

Ia menatap jalanan, sungguh-sungguh, dari balik bulu matanya yang tebal, sedikit bergidik saat mantel bergerak menjauh dari tubuh. Ini jalan yang dikenal, namun tak sepenuhnya sama seperti dulu, terlihat dari beberapa lampu yang redup dan sayup-sayup suara anjing menggonggong menyambut keheningan.

“Berapa―berapa banyak waktu yang tersisa?”

Ia tak membalas sesuai harapan, hanya tersenyum tipis di balik kelamnya malam. Dan deru nafas dari makhluk di sampingnya tak mau membiarkan ia merasa tenang barang sedetik pun.

“Jika tak banyak, kenapa kau tak memberikan kesan yang baik untukku?”

Dan Kris membalas setelah membungkam beberapa waktu, “Apa yang kau harapkan dari kesan? Pengampunan, huh? Jangan bercanda, perhatikan langkahmu atau kau benar-benar akan berakhir sekarang.”

Kris tak mampu berbuat banyak sejak deru nafas stabil berubah menjadi cepat yang diwarnai tawa, lalu segala keheningan yang nyaman berubah menjadi kebisingan yang mengganggu, seakan menolak untuk berdamai dengan telinga―ancaman yang menjelma menjadi debu.

“Jika pengampunan dapat dilakukan dengan mudah, maka jumlah kematian tidak akan banyak. Jadi begini caramu bekerja? Membantu pemerintah memerangi laju pertumbuhan, huh?” dan Kris tak lagi menatap jalan sayup, justru terpacu pada suara menggema di dekat lorong sepi, sebal yang ditiup angin seolah menjadi faktor utama.

Kemudian ia menyaksikan bagaimana kalimat mulai berjalan di ujung lorong, berbaris memerangi kesunyian hingga menciptakan badai kalimat mendekati telinga―mengerikan untuk dihadapi, sungguh.

“Lalu apa yang kau inginkan―”

“Bukti,” ia berucap dengan sungguh-sungguh, seolah telah dirancang sedemikian lama hingga terlalu mantap untuk diucapkan dalam kata, sampai-sampai Kris tak sanggup menyela dengan langkah selanjutnya atau mungkin iringan kata yang bisa menghentikan. “Bukti keberatan dunia terhadap takdir, poin terpenting; bukti kehadiran manusia ke dunia, dalam hal ini mungkin berlaku untukku.”

Dengusan demi dengusan mulai bermunculan saat suhu mencapai titik terendahnya, mungkin di balik gelap mata menyeringai atau hembusan awan putih yang tak lagi pudar; seolah kebisingan merayapi keheningan dengan dengusan, seperti protes yang tak ada habisnya.

“Kau akan mati kurang dari 15 menit,” Kris memulai dengan bukti pertama dan si target tersenyum puas. Barulah setelah senyuman menghilang ditelan tatapan, bukti kedua terucap, “Pembunuhnya adalah kau.”

Kris mengangguk, seolah setuju dengan kenyataan yang belum terjadi, lalu entah sejak kapan ia mulai menyenangi permainan yang dipenuhi dengan bukti. “Kau akan bersimbah darah.”

Tepat sasaran jika saja Kris mampu menggambarkan lebih detail, tapi mungkin ia tak sampai hati jika mengeluarkan bukti penderitaan terlalu dalam; setidaknya setitik cahaya masih dapat terpancar dari hatinya yang sekelam jelaga.

Dan si objek sasaran tak lagi bersuara, justru terfokus pada awan yang terus terbang ditelan angin dengan pemikiran yang jelas terpaut pada nafas; udara yang dirasakannya hanya demi 15 menit bertahan.

“Ayahmu akan mendengar dan menderita karenamu,” melanjutkannya dengan sabaran dan ia mendapat balasan yang tak terduga, “Tidak juga, mungkin kau yang menderita karena ia tak peduli.”

Kris tak lagi terfokus dengan jalan cerita pembunuhan, malah berperang melawan kebisingan yang entah sejak kapan terasa menyenangkan. “Menderita hanya karena membunuhmu bagaikan tindakan bodoh. Pembunuh professional yang tak memiliki hati justru lebih bahagia dengan melihat darah mengalir dari tubuh; warna pekat yang menjadi kebiasaan, merah berarti gairah dan pesing menjadi masa baru.”

Darah yang bersimbah menjadi topik selanjutnya, membawa pada masalah utama, hingga bukti terpaksa diteruskan. “Bukti kehadiran yang menyedihkan untukku, tidak bisakah lebih halus, setidaknya sedikit juga bagus.”

Saat perkataan mulai menyangkut kehalusan, Kris tak mampu membiarkan tubuhnya berhenti bergidik; mungkin telinganya terlalu sensitif atau memang kata itu jelas telah lama hilang dalam ingatan.

Perlahan ia menyambung kembali akal, lalu merubahnya sedikit persepsi tentang kehalusan; dalam hal menghapusnya, mungkin mengubah menjadi kata lain tidak terlalu buruk.

“Jika bukti itu terdengar menyedihkan, mungkin bukti akan menjadi kado terbaik yang pernah ada; terutama untuk darah dingin sepertiku.”

Mungkin saja ia yang tak terlalu cepat berpikir, atau memang si objek terlalu teliti hingga ia harus berkali-kali lipat memarahi diri dalam hati.

“Kado terbaik dalam hal ulang tahun? Tepat kematian menjemput? Wah~ betapa sempurna akhir cerita ini.”

Kris tak lagi menjawab, tidak setelah cahaya mobil menelan dirinya bulat-bulat. Kerutan sekitar mata menemani pergerakannya saat seseorang berbisik, “Kau tahu bukti kehidupan yang terkuat yang pernah ada?” sebelum akhirnya sang ketua memberi perintah dan hukuman terpaksa di lakukan sebelum waktu yang ditentukan.

Di sela-sela hidup dan mati yang dipaksakan, ia tersenyum hingga Kris hampir-hampir tak sampai hati menusukkan belati untuk membuka luka kedua. Mungkin ia tak sepenuhnya berhati dingin; hanya julukan yang sering ditujukan olehnya, terbukti dari ia yang meminta waktu dan diberikan dengan mudah. Lalu ia menyandarkan korban di lorong sepi sebelum bertanya mengenai bukti terkuat yang di balas dengan putus asa, “Kau menyedihkan, benar-benar menyedihkan,” tepat saat Kris tak mampu menahan waktu terlalu lama hingga ajal harus datang menjemput.

Setelah waktu dan tugas yang ditetapkan telah usai, Kris mendapat jumlah yang sesuai dengan harapan, lalu mulai menyusuri jalan setapak untuk pulang; atau mungkin mencari tempat untuk menghabiskan uang hingga targetnya muncul lagi dengan malu-malu.

Tapi entah bagaimana, pertanyaan mengenai bukti bergulir begitu saja mendekati pikiran, hingga tanpa sadar kakinya memutar ke arah sebaliknya; ke arah lorong, tempat kejadian diberlakukannya aksi berperang mengenai bukti.

Jejak darah yang mengenang terpisah sejenak begitu ia lewat, lalu bersatu lagi menjadi lautan merah yang pekat. Bau besi tepat di ujung hidung sama sekali tak menganggu, apalagi kalau bukan itu sudah suatu kebiasaan hingga ia tak perlu mengeluh mengenai masalah bau tak nyaman atau yang terburuk berlalu tanpa memerdulikan rasa penasaran tak terbendung.

Tepat menghadap ke tembok, ia ingat betul kata-kata menyedihkan terucap di sini. Lalu ia ingat betul bagaimana tangannya bergerak professional seperti biasanya. Namun ada satu yang luput, mungkin ia terlalu penasaran hingga baru menyadarinya sekarang; tepatnya pada bagian permukaan lorong, bagian lantai semen yang kotor, terdapat 4 kata di sana tapi mampu mengetuk jiwanya. Kata yang di ucapkan sebagai bukti kehidupan―bukti kehidupannya atau mungkin bukti kehidupan si korban; dalam bahasa halusnya.

Happy birthday to you.”

Mungkin ia benar, setelah membunuh, penderitaan akan datang. Sungguh.

end

One thought on “Proof of Life

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s