The Difference [Chapter 6]

fanfiction 43

Title: The Difference [Chapter 6]

Author : J.A.Y

Main Cast:

1.       Kai EXO

2.       Han Hyena (OC)

Support Cast:

1.       Chanyeol EXO

2.       Luhan EXO

3.       Sehun EXO

4.       Kim Myung Soo

Genre: Fantasy, sad, romance, drama, angst

Rating: PG-17

Length: Chapter

Disclaimer: The storyline pure is mine. Just is mine! So, don’t copy-paste and don’t be plagiarism!!

Chapter sebelumnya :

Teaser | Prolog | Chapter 1 | chapter 2 | Chapter 3A | Chapter 3B | Chapter 4 | Chapter 5 |

 

 

 

—The Difference—

 

 

Ia menunggu laki-laki itu seraya mengayunkan kakinya. Melihat sepatunya yang berwarna coklat muda dengan kepala yang tertunduk. Tangannya ia tumpukan diatas tempat duduk berkayu. Sesekali ia juga melihat kesekitarnya. Berharap Jongin bisa keluar lebih awal.

Tidak lama kemudian Jongin keluar dari bangunan putih yang ada didepannya. Jaraknya sekitar 50 kaki dari tempatnya. Kejauhan Jongin melemparkan senyumnya pada Hyena. Tentu saja Hyena membalas senyuman laki-laki itu.

“menunggu lama?”

Hyena mengangguk kecil, “tidak apa. Lagipula aku tidak tau jika kau ada jam”

“kalau begitu kajja

Tangan Jongin menangkap jemari Hyena dan membawa gadis itu untuk berjalan bersama. Ada perasaan lain yang Hyena rasakan. Rasa hangat yang menembus kedalam hatinya. Hyena pun tersenyum kecil.

Angin musim dingin menyapu kulit kedua insan itu. Rambut Hyena yang panjang seakan menyapa lembut angin itu. Begitu juga dengan rambut Jongin.

Genggaman Jongin semakin erat tapi tidak menyakitkan. Genggamannya sangat lembut dan menenangkan. Bagaimana Hyena harus menjelaskannya? Rasanya seperti ada yang melindunginya.

“tetaplah bersamaku dan aku akan melindungi mu”

Hyena melihat sisi samping wajah Jongin. Senyum laki-laki itu masih tertangkap indra penglihatannya.

Benarkah kau akan melindungi ku?—batinnya.

Jika benar maka Hyena tidak akan ragu lagi dengan laki-laki itu. Ia butuh seseorang yang bisa ia jadikan sebagai pegangan untuk berteduh. Bisa menyerahkan seluruh kepercayaannya pada satu orang. Yaitu Jongin.

Hyena menarik sudut bibirnya saat Jongin menoleh padanya. Mungkin laki-laki itu merasa diperhatikan. Tapi saat ini bukan hanya Hyena yang memperhatikan Jongin. Lihatlah dari pertama kali mereka seperti ini, setiap langkah yang membawanya selalu diiringi dengan pandangan mata yang berbagai macam. Ada yang tidak suka, iri hati atau ada juga yang biasa saja. Tapi bagi Hyena itu terserah mereka. Karena mungkin saat ini Hyena seperti sedang mencuri pangeran didalam istana.

Tapi dari sekian banyak mata, hanya pandangan mata Namjoo yang terlihat berkilat. Rasa tidak suka, iri, dendam, benci, semuanya menjadi satu. Namjoo berdiri diambang pintu kaca besar sejak ia melihat Jongin menghampiri Hyena di taman.

Pandangan Namjoo terus mengikuti Jongin dan Hyena yang semakin menjauh. Rahang Namjoo mengeras. Ia yang lebih dekat dengan Jongin. Teman satu fakultas, jurusan, kelas bahkan kelompok. Namjoo juga sering memberikan perhatiannya pada Jongin.

Itu masih belum cukup?

Namjoo juga sudah berterus terang tentang perasaanya. Tapi yang ia dapat hanya balasan dingin dari Jongin.

Lagi dan lagi Jongin tetap memilih bersama Hyena.

Namjoo membuang nafas kasarnya. Ia berbalik saat sudah tidak lagi melihat punggung Jongin. Saat ia berbalik tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang karena ada seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya.

Namjoo mengadahkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah yang sedang tersenyum sinis kepadanya.

“kau lemah dan tidak agresif”

Dahi Namjoo mengernyit.

“jika kau menyukai Jongin kau harus lebih agresif. Jongin lebih suka tantangan”

“Chanyeol?”

“tidak perlu khawatir. Aku tidak akan memberitahu siapapun” Chanyeol tersenyum miring dan membungkukkan sedikit tubuhnya.

Iris mata Namjoo bergerak gelisah. Kepalanya mundur saat Chanyeol semakin mempersempit jarak pandangnya.

“matamu yang berkata langsung kepadaku” sambung Chanyeol.

 

 

—The Difference—

 

 

Sehun memandang Luhan hati-hati. Ekspresi wajah Luhan sangat mengerikan dimata Sehun. Ia memperhatikan setiap detail dari senyum yang Luhan keluarkan ketika minuman manis dingin terteguk laki-laki itu.

Bagaimana Luhan bisa tahan dengan rasanya?

“hyung?”

Luhan menaikkan kepalanya sedikit. Sedotan berwarna hitam itu belum terlepas dari mulut laki-laki itu.

“tidak jadi” sambung Sehun.

Luhan menaikkan alisnya. Kali ini ia menjauhkan bibir kecilnya dari ujung sedotan itu.

“ada apa? Kau ingin ini?” Luhan memberikan minumannya pada Sehun.

Sehun langsung memundurkan tubuhnya sampai mengenai punggung kursi. Wajahnya terlihat waspada dengan minuman yang masih berada ditangan Luhan.

“reaksi mu sungguh berlebihan” Luhan menarik lagi minumannya dan kembali meneguk cairan manis beraroma strawberry.

“kau dan Jongin sama” gumam Sehun.

“apa?”

“beberapa hari yang lalu Jongin juga memberikan ku sebuah permen karet dan kali ini kau menawarkanku minuman beracun itu?”

Luhan tertawa kecil sambil mengaduk jus strawberrynya, “kau tidak akan mati jika meminum ini”

Sehun melipat tangannya diatas perut, “aku tidak tahan disini lebih lama, bisa kau cepat menghabiskan minuman itu”

Luhan mengangguk. Dalam hitungan menit minuman strawberry itu sudah habis. Luhan menghabiskannya dengan sangat cepat. Detik itu juga Sehun berdiri meninggalkan tempat duduknya, kemudian disusul oleh Luhan dibelakangnya.

Sehun membuka pintu kaca cafetaria yang dingin. Saat itu juga Jongin lewat didepannya. Dengan motor besarnya dan—

“Hyena?” gumam Sehun.

Luhan menepuk punggung Sehun pelan. Sehun tersadar dan mengalihkan pandangannya pada Luhan yang kini sudah berdiri disampingnya.

“mereka serius?” tanya Sehun begitu saja.

“biarkan saja” ucap Luhan singkat.

Kini giliran Luhan yang berjalan lebih dulu. Sehun mengikutinya dibelakang. Berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Luhan.

“tapi Chanyeol hyung bilang—“

“Sehun” Luhan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menghentikan segala bentuk protes yang akan dikeluarkan Sehun, “biarkan mereka. Jangan beritahu Chanyeol atau siapapun”

Sehun menekuk alisnya terkejut. Apa artinya ini? Luhan mengijinkan hubungan mereka?

“hyung—“

“percayalah. Semua tetap akan berjalan sesuai jalannya”

Setelahnya Luhan kembali berjalan. Ia tidak memberikan penjelasan apapun lagi setelah itu. Sehun mengambil kesimpulan dengan ini. Semuanya saling bertentangan sekarang. Bukan hanya menentang Jongin dan Hyena tapi seperti Luhan juga akan ikut serta.

Sehun tidak akan pernah mengerti jika sudah bicara tentang perasaan. Ia tau Luhan memang pernah merasakan apa yang Jongin rasakan saat ini. Bagimana rasanya? Apa rasanya seperti kau akan mengorbankan hidupmu?

Tidakkah itu akan merendahkan diri sendiri? Terlihat lemah.

Sehun memejamkan matanya sejenak. Jadi haruskan ia juga ikut mendukung Jongin?

 

 

—The Difference—

 

 

Hari sudah senja. Langit kemerahan menghiasi langit dengan cantiknya. Udara semakin dingin menusuk setiap permukaan kulit. Myung Soo membuka matanya dan melihat sekitarnya. Ranting-ranting pohon yang basah dan sesekali air salju menetes membasahi tubuhnya. Ia mendudukan diri.

Myung Soo sedikit meringis kesakitan. Sepertinya punggungnya terbaring diatas akar pohon yang mencuat dari dalam tanah.

Dimana ia? Kenapa ia bisa berada disini?

Sebuah danau beku yang tersaji didepan matanya semakin membuatnya bingung. Myung Soo tidak ingat sama sekali. Tempat ini tidak lagi asing bagi Myung Soo. Hanya saja kepalanya begitu sulit untuk mengingat.

Apa kekuatannya lagi yang telah membawanya ketempat ini?

Ditempatnya sekarang begitu sepi. Hanya benda-benda tidak berbicara yang mengelilinya. Bisikan angin menyapa lembut telinga Myung Soo. Seperti bisikan kecil angin musim dingin yang mengajaknya untuk menari.

Myung Soo berdiri dan memperhatikan dirinya. Ia kotor dan berantakan. Sisa-sisa darah yang masih melekat dibajunya sudah mengering dan mengeras. Myung Soo perlu pakaian baru. Tapi dimana ia bisa mendapatkannya?

Myung Soo membalikkan tubuhnya. Terdapat gedung putih yang menjulang tinggi didepannya. Tingginya sekitar 7 lantai dengan desain modern. Warna cat nya putih bersih tanpa noda yang mengotori dindingnya.

Myung Soo tertarik untuk masuk kedalam gedung itu. Tidak perlu melewati pintu depan agar kakinya bisa menginjak lantai bangunan itu. Myung Soo hanya harus membayangkan bagaimana interior dalam bangunan itu dikepalanya. Matanya terpejam sesaat.

Dalam hitungan detik, Myung Soo merasakan udara dingin yang lain ditubuhnya. Udara dingin dari pendingin ruangan. Myung Soo membuka mata. Tubuhnya telah berpindah tempat.

Ia berdiri ditengah-tengah ruangan yang didominasi dengan warna putih. Semuanya putih kecuali untuk gordain penutup jendela yang berwarna hijau gelap. Beberapa meja berukuran persegi panjang berjajar rapi. Banyak pajangan-pajangan organ dalam manusia buatan yang diletakkan disetiap sisi ruangan, juga beberapa tabung-tabung kecil dan panjang yang berada didalam lemari penyimpanan khusus.

Myung Soo melupakan tujuan awalnya. Ruangan ini seperti meminta perhatian dari Myung Soo. Jadi ia putuskan untuk melihat ruangan yang luas itu lebih lama.

Myung Soo menyentuh jantung manusia buatan yang berada diatas meja utama. Matanya terpejam. Tangan lain menyentuh dada kirinya. Rasanya seperti ada detakan lain didalam tubuhnya.

Dahi Myung Soo mengernyit saat melihat visual lain didalam kepalanya. Myung Soo ingin membuka matanya. Tapi visual itu seperti menahan matanya agar tetap terpejam. Bayangan seorang gadis berambut panjang juga senyum yang memikatnya. Myung Soo berada dekat dengan gadis itu, tapi sayanganya ia tidak bisa melihat jelas wajah gadis itu.

Gadis itu duduk diatas ayunan seraya memainkan kedua kakinya. Menganyun pelan kedepan dan kebelakang. Ia memperhatikan gadis itu tersenyum. Gadis itu menoleh padanya dengan senyuman yang begitu manis.

“kenapa selalu memperhatikan ku?”

“karena kau selalu membuat jantung ku bergemuruh”

“hahahaha. Jangan seperti itu”

“aku serius” Ia mengambil tangan gadis itu dan meletakkan didada kirinya. Mata gadis itu berubah terkejut. Senyumnya hilang secara perlahan.

“aku benar kan?”

Gadis itu menatapnya diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk meresponnya. Ia merasakan ini nyata. Hatinya yang berkata jika gadis ini sedang menolaknya. Perlahan tangan gadis itu terlepas. Ia masih memperhatikannya, tapi gadis itu seperti menyembunyikan ekspresi lain diwajahnya.

“siapa kau?”

Myung Soo membuka mata. Suara lain yang menyadarkannya dari bayangan kehidupan lain dikepalanya. Ia menoleh kebelakang. Dahinya mengernyit melihat laki-laki yang juga tengah terkejut dengan kehadirannya.

“kau siapa?” tanya Myung Soo begitu saja.

Mata Chanyeol belum kembali ke ukuran normal. Ia masih terkejut. Melihat Myung Soo kedua kalinya.

“Myung Soo?”

Myung Soo semakin mengernyit mendengar nama itu.

Chanyeol melangkah masuk kedalam mendekati Myung Soo. Perlahan ia memperhatikan keadaan laki-laki itu dari atas hingga bawah. Benar. Dia adalah Myung Soo yang kemarin baru dilihatnya.

“kau mengingatku?” tanya Chanyeol hati-hati.

“kau siapa?”

Chanyeol dengan hati-hati menyentuh lengan Myung Soo. Tentu saja Myung Soo langsung menepis tangan Chanyeol dengan cepat. Gerakan yang sangat cepat.

“kau mengenalku?” sambung Myung Soo.

Chanyeol terhenyak ditempatnya. Pertanyaan yang seolah-olah Myung Soo tidak pernah melihatnya sebelumnya. Baru kemarin malam kejadian itu mengagetkan Chanyeol. Myung Soo datang mencuri makanannya sama seperti Jongin.

Implus Chanyeol bekerja cepat. Ia memperhatikan Myung Soo sekali lagi dengan teliti. Benar. Myung Soo tengah berdiri didepannya. Kali ini ia benar-benar melihat sosok asli Myung Soo. Bukan seperti laki-laki monster yang menghancurkan tubuh manusia sampai berubah abu.

“aku Park Chanyeol”

“aku tidak mengenalmu”

Myung Soo melempar pandangannya kearah lain. Ia berusaha melewati Chanyeol. Seseorang yang tidak dikenalnya. Myung Soo acuh dengan kehadiran Chanyeol.

“lalu? Apa kau ingat dengan dirimu sendiri?”

Pertanyaan nan sarkatis itu berhasil mengentikan langkahnya. Myung Soo berbalik menatap datar Chanyeol yang tengah berseringai.

“aku mengenal mu. Aku akan membantumu Kim Myung Soo”

 

—The Difference—

 

 

Hyena memperhatikan tiap detail goresan cat warna diatas kanvas itu. Detail yang menakjubkan. Menghasilkan perpaduan warna maupun gradiasi yang membuat siapa saja kagum melihatnya. Dengan pencahayaan yang sudah diatur sedemikian rupa. Peletakan setiap lukisan disetiap ruangan seperti membuat lukisan itu seperti memiliki jiwa.

“bagaimana cara membuat ini?” gumam Hyena.

“seorang seniman tau apa yang harus ia lakukan dengan kanvas dan kuasnya. Sedikit ide lalu mengembangkannya”

Hyena menoleh pada laki-laki itu. Ia tersenyum kecil melihat sisi samping wajah Jongin yang tengah memperhatikan lukisan yang sama dengannya.

“bagaimana kau tahu semua itu?”

“itu mudah. Karena aku belajar banyak dari pengalaman”

Hyena tertawa kecil. Jongin melihatnya dan ikut tertawa bersamanya.

Mereka berdua kembali berjalan menuju lukisan lainnya. Kali ini Hyena berhenti melihat lukisan itu. Lukisan abstrak yang didominasi dengan warna merah dan hitam. Kedua warna itu saling bertabrakan satu sama lain. Tidak ada goresan khusus disana. Ia melihat keterangan singkat yang berada di bawah lukisan itu.

(1750) Manusia hanya memiliki satu jalan untuk terlahir didunia, tapi memiliki seribu jalan untuk menemui kematian

Hyena sedikit terkejut membaca keterangan itu. Tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan untuk sesaat. Jongin melihat pergerakan aneh dari Hyena.

“kau baik-baik saja”

Hyena masih memperhatikan tulisan itu. Dadanya tiba-tiba menjadi bergemuruh sesak. Rasanya lain. Kata-kata itu seperti sedang mencekik lehernya.

“Hyena”Jongin mencoba menyadarkan Hyena dengan menggoyangkan kecil lengan gadis itu.

“ya”

Ahkirnya suara kecil itu keluar dari bibir mungilnya. Hyena memaksakan senyumnya pada lukisan itu. Lukisan didepannya yang seperti memiliki pengaruh besar pada dirinya.

“ayo kita pergi” ucap Hyena pelan.

Jongin memandang gadis itu serius. Ia segera mengaitkan jemarinya dengan jari tangan Hyena.

“jangan terlalu diperhatikan” Kemudian Jongin kembali mengajak Hyena berjalan menuju beberapa lukisan yang belum sempat dilihatnya. Mata Hyena masih terpusat pada lukisan itu.

Jongin mengajak Hyena untuk melihat lukisan senja di sudut ruangan. Warna oranye yang kemerahan dengan siluet dua orang manusia yang sangat kecil disudut kanvas. Saling berpegangan tangan. Lukisan yang seakan sedang membagi perasaan bahagia dari pelukisnya. Mulut Jongin sudah terbuka kecil mengaggumi lukisan itu. Tapi tidak dengan Hyena. Gadis itu justru menatap biasa lukisan itu. Pikirannya masih pada lukisan yang ia temui tadi. Lukisan yang tidak diketahui siapa pelukisnya.

“ini yang terahkir. Setelah ini kau ingin makan?”

Kesadaran Hyena masih belum kembali. Ia mengindahkan ajakan Jongin.

“Hyena”

Mata Hyena beralih pada mata Jongin, “apa?”

“kau kembali melamun”

Hyena mengerjapkan matanya beberapa kali, “maaf Jongin”

“kau ingin makan setelah ini?”

“umm, baiklah” Hyena mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia pun menarik nafas kecilnya. Berusaha untuk lebih fokus.

Setelah melihat pameran lukisan itu, Jongin membawa Hyena memasuki kedai makan yang tidak jauh berada didekat pameran. Jongin sudah memesan dua sup kaki gurita hangat dan juga satu botol soju. Pesanan datang setelah 10 menit mereka menunggu.

“terima kasih”

“untuk apa?” tanya Jongin dengan nada yang keingintahuannya.

“karena hari ini sangat menyenangkan … Dengan mu”

Jongin tersenyum kecil, “aku bisa membuat seratus kali lebih menyenangkan dari hari ini”

Hyena tersenyum kecil. Ia mengambil sendoknya dan mulai mengaduk sup yang masih mengeluarkan uap tipis itu.

“apa makanan kesukaanmu?” tanya Jongin

“aku suka apapun yang dimasak dengan lobak” jawab Hyena. Setelah itu ia mencoba supnya dan wajahnya kembali memberikan senyum, “ohh, ini enak”

Jongin mulai mengaduk supnya. Ia memperhatikan cara Hyena memakan sup itu. Sebenarnya ini kali pertama Jongin memakan makanan seperti ini. Ya, walaupun sebelum-sebelumnya Jongin juga sudah mencicipi beberapa makanan manusia.

Dengan ragu ia menampung kuah sup berkaldu itu diatas sendok cekungnya. Pelan-pelan Jongin membuka mulutnya dan menyesap kuah itu. Detik berikutnya lidahnya mencoba mencicipi suatu rasa yang baru dimulutnya.

Tidak buruk.

Jongin tersenyum melihat Hyena dan juga kearah supnya. Hidup seperti manusia tidaklah terlalu sulit. Makanan mereka tidak buruk walaupun tidak selezat rasa darah.

Bicara tentang darah. Jongin belum meminum setetes darah hari ini. Sampai malam ini ia juga belum meminumnya. Anehnya rasa haus itu tidak datang seharian ini. Tenggorokannya tidak lagi panas karena harus menahan rasa hausnya.

Permulaan yang bagus menurutnya.

Lebih sering tubuhnya menyesuaikan hal yang baru ini maka akan semakin bagus.

Hyena hampir menghabiskan supnya. Tapi Jongin selesai lebih dulu. Mangkuk besarnya sudah kosong tanpa sisa sedikit pun. Sup Hyena masih tersisa seperempat dari mangkuk.

“kau ingin memesan lagi?”

Hyena menggeleng pelan, “pesan saja jika kau masih ingin makan”

“baiklah”

Jongin memanggil ahjumma yang sedang mengantar pesanan pelanggannya yang lain, “ahjumma, aku pesan satu lagi”

 

 

—The Difference—

 

 

Myung Soo meremas sudut meja yang didudukinya. Dahinya mengernyit setiap mengulang kalimat yang dikeluarkan Chanyeol.

Namamu Kim Myung Soo. Kau seorang vampire. Kekuatan mu sama seperti saudara ku yang lain. Namanya Jongin. Jongin juga memiliki tanda yang sama dengan mu di bahu kirinya. Sebelumnya kau adalah manusia. Kau dan Jongin mencintai gadis yang sama—Han Hyena.

Tubuh Myung membungkuk dan tangannya meremas rambutnya sendiri. Kepalanya sakit setiap mengingat ucapan Chanyeol.

Kau sangat mencintai Hyena. Tapi kalian berdua terpisahkan karena Jongin. Jongin yang merebut Hyena dari mu. Hingga sampai ahkirnya, Jongin tidak sengaja membunuh mu malam itu. Dan sekarang didalam tubuhmu juga mengalir darah Jongin.

Myung Soo memejamkan matanya kuat. Berusaha menepis suara Chanyeol yang selalu terngiang di kepalanya.

Hyena gadis yang sangat kau cintai. Segalanya kau lakukan untuk gadis itu. Apa kau tidak ingin merebutnya kembali dari tangan Jongin? Hyena menganggapmu kau sudah tidak ada. Jongin yang perlahan mengganti posisimu dihati gadis itu. Aku tahu kau masih belum mengingat masa lalumu. Tapi jika bisa aku sarankan, sebaiknya yang harus kau ingat adalah Hyena. Gadis itu kunci semua ingatan masa lalumu.

Myung Soo menegakkan kembali tubuhnya saat Chanyeol kembali dengan beberapa kantong darah ditangannya.

“ini untuk mu”

Myung Soo melihat kantong darah itu dengan datar. Pandangannya kembali beralih pada Chanyeol yang sedang membuka bungkusan kantong darah miliknya.

“lalu dimana gadis yang bernama Hyena itu?”

“seharusnya kau bisa menebaknya” ucap Chanyeol singkat. Kemudian ia meminum kantong darah miliknya hingga benar-benar tidak ada darah yang tersisia disana.

“lalu Jongin?”

“seharusnya kau bisa menebaknya juga” Chanyeol mengusap sudut bibirnya.

“dimana aku tinggal?”

Chanyeol mengambil kursi yang berada didekatnya. Ia duduk dan membuka buku yang dibawanya dari ruang kemahasiswaan. Disana adalah tempat semua data dari mahasiswa yang berkuliah di sini disimpan.

Mata dan jemari tangan Chanyeol menelusuri tiap nama yang tercetak disana. Dahinya sedikit berkerut—pertanda jika ia sedang berkonsentrasi sekarang.

Tidak lama kemudian Chanyeol kembali menutup buku yang tebal itu dan memberikannya pada Myung Soo.

“kau saja yang mencari”

Myung Soo hanya menerima buku itu tanpa mengeluarkan suara dari dalam mulutnya. Ia membuka satu persatu halaman yang ada dibuku itu. Melihat satu persatu nama yang terdaftar disana. Kata-per kata juga kalimat per kalimat. Ia meneliti betul setiap foto yang tertempel didalam foto itu.

Hingga sampai ahkirnya tangannya membuka pada halaman ke 105 di buku itu. Dahi Myung Soo kembali mengernyit. Iris matanya bergerak gelisah. Sesuatu didalam dirinya seakan ingin meledak. Bayangan-bayangan dikepalanya kembali muncul.

“Kim… Kim Jongin”

Jongin menancapkan kuku-kukunya menembus permukaan kulit Myung Soo. Aliran darah segar langsung mengalir disela jemarinya.

“aku akan membunuh mu” desis Jongin.

Jongin tidak merasa khawatir jika ada yang melihat mereka. Tinggal beberapa mahasiswa yang berada universitas ini. Termasuk dirinya dan Kim Myung Soo.

“aku….” Myung Soo berusaha melepaskan cengkaraman tangan Jongin yang membuatnya tidak bisa bernafas.

“Hyena milikku”

Warna iris Myung Soo berubah. Tubuh Myung Soo di kelilingi oleh kabut hitam yang tipis. Chanyeol terkejut dan akan menyentuh lengan laki-laki itu. Tapi sebelum Chanyeol menyentuhnya, Myung Soo lebih dulu menaikkan pandangannya kearah Chanyeol. Iris mata itu berubah menjadi warna merah gelap yang menyala.

“aku akan merebutnya” desis Myung Soo. Mata itu menatap tajam Chanyeol, menyiratkan perasaan marah yang tertahan.

Chanyeol menaikkan kedua alisnya. Matanya membulat ketika Myung Soo sudah tidak ada lagi didepannya.

Ya, Myung Soo kembali melakukan teleportasinya. Chanyeol berdiri seolah sedang meraih udara kosong didepannya. Sedetiknya laki-laki itu tersenyum miring. Ia beralih melihat kearah halaman terahkir yang di buka Myung Soo.

Name : Kim Jong In
Birthday : January 14, 1994
Height : 182 cm
Blood type : A
Faculty: Faculty of medicne

 

 

—The Difference—

 

 

Setelah melihat pameran dan makan, Jongin mengajaknya berjalan-jalan sebentar. Laki-laki itu juga membelikan dua gelas capucino. Satu untuknya dan satu lagi untuk Jongin.

Mereka hanya berjalan di bahu jalan. Mendengar suara bising yang dikeluarkan dari beberapa kendaraan dijalan raya. Kaki mereka sesekali menginjak tumpukan salju tipis yang berada di jalan mereka.

Jongin menangkap telapak tangan Hyena saat melihat taman kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya. Ia mengajak gadis itu untuk duduk di kursi besi berukir yang kosong.

“kau dingin?” tanya Jongin.

Bagaimana Hyena bisa merasakan dingin jika Jongin beberapa kali selalu mengenggam tangannya? Ia tidak pernah merasa dingin selama berada disamping laki-laki itu.

Hyena menggelengkan pelan kepalanya dan tersenyum kecil.

Setelah setengah jam duduk berdiam diri, Hyena menyesap capucino panas yang ada ditangannya. Uap hangat yang menyapa lembut permukaan kulitnya sangat menghangatkan. Jongin duduk bersandar pada punggung kursi disebelahnya. Tidak ada topik pembicaraan yang serius malam ini. Sesekali mereka hanya tersenyum karena cerita-cerita lucu yang mereka ceritakan satu sama lain.

Ini membuat keduanya menjadi lebih dekat.

Semakin lama berada didekat Jongin rasanya membuat Hyena semakin nyaman. Ia terlambat untuk menyadari ini.

“Jongin”

Jongin tidak menjawab maupun gumaman. Tapi laki-laki itu menoleh padanya.

Hyena memandangi mata itu. Sesuatu harus ia bicarakan pada Jongin. Sesuatu yang berhubungan dengan perasaan.

Kau membuatku nyaman

Tidak.

Hyena tidak mengatakannya. Ia justru hanya memberikan senyum kecil pada Jongin.

“aku tau” ucap laki-laki itu tiba-tiba.

Hyena menaikkan alisnya, “apa?”

Jongin tertawa kecil. Ia memperdalam tatapan matanya pada Hyena. Sedetiknya laki-laki itu bergerak cepat. Jongin mencium kilat pipi Hyena. Memberikan rasa hangat yang langsung menjalar di wajah gadis itu.

Tangan Hyena terangkat menyentuh pipinya. Apa yang diketahui Jongin? Apa ia mendengar suara hatinya tadi?

“aku akan selalu menunggu jawabanmu”

Hyena melihat teduh mata Jongin yang lurus memandang kedepan. Kepala itu tertunduk dan wajahnya mengeluarkan senyum kecil. Tanpa melihat, Jongin kembali menangkap jemari Hyena yang berukuran lebih kecil darinya.

Seperti ini membuatnya lebih baik. Hyena sudah memastikan perasaannya pada Jongin. Tapi bagaimana cara mengatakannya?

 

 

—The Difference—

 

 

Namjoo belum ingin pulang. Ia masih menyibukkan dirinya di tempat ini. Tangannya membawa beberapa tabung kimia yang berada didalam kotak. Tabung itu berisi beberapa hasil untuk laporan nya. Namjoo akan mengembalikkan tabung ini di lab yang berada di lantai 5.

Namjoo tidak tau jika universitas akan sesepi ini. Pukul 8 malam. Biasanya selalu ada 5 atau 6 orang yang ia lihat disekitar bangunan ini.

Kaki Namjoo membantu mendorong pintu saat tangannya menurunkan pegangan pintu yang terbuat dari besi anti karat itu. Setelah masuk, lengan kiri Namjoo yang mendorong pintu itu lagi agar tertutup.

Namjoo baru berbalik dan akan mengambil langkah. Dahinya mengernyit melihat sebuah buku besar yang terbuka diatas meja. Namjoo menaruh kotak ditangannya diatas meja yang terdekat dengannya. Ia justru menghampiri buku itu yang memperlihatkan foto juga data pribadi Jongin.

Pemikiran yang langsung terlintas dikepalanya tentu saja adalah, siapa yang membawa buku ini?

Ini buku rahasia yang tidak boleh ada semabarang orang yang melihatnya. Namjoo menutup buku tebal itu dan mengeluarkan ponselnya dari rok pendeknya.

Buku itu mengingatkan akan buku Jongin yang tertinggal didalam kelas tadi. Itu sebabnya Namjoo mengikuti Jongin seusai kelas berahkir. Namjoo ingin mengembalikkan buku itu pada Jongin. Tapi langkahnya berhenti saat ia berada diambang pintu. Namjoo mengeluarkan senyum miringnya saat itu juga.

Pantas laki-laki itu terlihat sangat terburu-buru. Rupanya ia sedang ingin menemui gadis pujaannya.

Namjoo mengetikkan pesan singkat pada Jongin agar laki-laki itu kembali lagi kemari dan mengambil bukunya kembali. Tapi tidak hanya itu yang direncanakan oleh Namjoo.

“kau lemah dan tidak agresif”

Chanyeol benar. Ia lemah. Namjoo menyadari bahwa usaha membuat dirinya terlihat di mata Jongin belum maksimal. Malam ini ia akan melakukannya. Membuat Jongin melihatnya malam ini juga. Membuat laki-laki itu meninggalkan Hyena. Meskipun Namjoo harus membuang harga dirinya jauh-jauh.

Karena Jongin telah membuatnya gila. Jongin yang membuatnya buta. Namjoo tidak bisa melihat lagi garis merah yang selalu membatasi dirinya dalam bertindak.

Tangan Namjoo meletakkan ponselnya diatas meja. Ia membuang nafas kecilnya. Namjoo kembali mengeluarkan tabung-tabung itu dari dalam kotak. Mencucinya dan kembali meletakkannya didalam lemari penyimpanan.

 

 

—The Difference—

 

 

Tangan itu melingkar diperutnya begitu erat membuat Jongin tersenyum kecil. Jongin juga merasakan rasa hangat yang menutupi seluruh permukaan punggungnya. Jemari itu saling berkaitan satu sama lain. Hyena menaruh sebagian sisi wajahnya pada punggung Jongin.

Aroma tubuh Jongin yang mulai dihafalnya.

Jongin tidak melajukan kendaraannya dengan cepat. Ia seperti sedang mengulur waktunya bersama gadis itu. Berusaha agar tetap bersama selama mungkin.

Lagipula Hyena juga tidak menolak.

Setelah hampir 20 menit berada dijalan raya. Jongin mulai memasuki kawasan rumah gadis itu. Ia memberhentikan kendaraannya tepat didepan pagar rumah Hyena. Gadis itu turun dan melepas helm yang dipinjamkan Jongin padanya.

“kau tidak ingin masuk?”

Jongin melihat jam tangannya. Ia rasa ini belum terlalu larut untuk menerima tawaran gadis itu. Jongin baru akan membuka mulutnya untuk berkata ‘iya’, tapi ponsel didalam sakunya menahan suaranya didalam tenggorokannya.

Jongin membaca pesan dari Namjoo. Setelahnya ia mendesah berat. Hyena tentu masih menunggu didepannya.

“kau tidak mau?”

Jongin mengangkat kepalanya berat. Ia memaksakan senyumnya pada Hyena.

“aku harus kembali kekampus. Sehun melihat buku ku tertinggal didalam lab” ucap Jongin dengan berat hati. Hyena mengangguk kecil.

Jongin menarik tangan Hyena agar mendekat padanya dan membuat gadis itu terkejut, “ini sudah malam, sebaiknya kau tidur”

Hyena tersenyum kecil dan baru akan menundukkan kepalanya. Tapi sebelum mata itu benar-benar melihat kebawah, nafas Jongin yang menerpa wajahnya lebih dulu menahan gerakan itu.

Hyena menahan nafasnya sesaat saat dirinya merasakan rasa hangat dibibirnya. Tidak ada gerakan sama sekali disana. Itu yang semakin membuat pipinya semakin bersemu merah.

Jongin melepaskan pertautan itu dan mengacak kecil rambut gadis itu.

“kau harus memimpikanku malam ini” ucap Jongin sambil mengeluarkan senyum manisnya.

Hyena berfikir ini adalah mimpi. Dirinya masih mematung saat matanya dipertemukan dengan mata Jongin.

Beberapa saat kemudian Jongin sudah tidak ada lagi didepannya. Laki-laki itu sudah pergi sejak semenit yang lalu. Hyena memandang punggung besar Jongin dari kejauhan. Sudut bibirnya tertarik membuat senyum simpul yang disukai Jongin.

Tapi tidak lama kemudian, senyum itu perlahan turun. Perasaannya berubah menjadi gelisah tak menentu. Hyena menarik nafasnya dalam.

Harusnya ia mengatakannya hari ini. Jawaban yang selalu membuat Jongin menunggu. Ya, Hyena harus mengatakannya malam ini juga. Mengatakannya secara langsung didepan laki-laki itu.

 

 

—The Difference—

 

 

Tidak butuh waktu lama Jongin sudah berada didalam universitasnya. Ia membuka pintu kaca utama yang besar dan masuk kedalam bangunan yang didominasi dengan warna putih itu. Jongin berjalan cepat menuju pintu lift dan langsung membawanya menuju lantai 5. Tempat dimana Namjoo dan bukunya berada.

Pintu lift terbuka. Jongin keluar dan segera menuju ruang lab yang pintunya tertutup. Dari jauh ia bisa melihat Namjoo yang merapikan beberapa tabung kimia didalam lemari penyimpanan dari kaca yang besar.

Kenapa buku itu harus berada ditangan Namjoo?

Sebenarnya buku itu tidak terlalu penting untuk Jongin. Pesan gadis itu yang membuat Jongin terpaksa harus mengambilnya.

Bukumu tertinggal. Kembalilah atau akan ku datangi apartemen mu

Saudara Jongin yang lain tidak ada pernah mendatangi apartemennya. Hanya Hyena yang pernah masuk kedalamnya. Hanya Hyena. Apartemen Jongin adalah tempat yang sangat pribadi untuknya. Sekalipun Luhan, Sehun atau yang lainnya. Mereka hanya Jongin izinkan berada untuk didepan pintu. Tidak ada yang boleh masuk sebelum mendapat izin resmi dari Jongin.

Jongin memang sangat sensitif terhadap tempat rahasiannya itu.

Namjoo menoleh padanya saat Jongin tengah melihatnya dari kaca jendela yang besar.

Laboratorium mereka memang sangat transparan dan terbuka. Ruangan itu hanya di tutup dengan sebuah pintu besar berwarna putih. Sedangkan tidak ada tembok disana. Hanya ada tembok sebatas pinggang orang dewasa dan sisanya ditutupi dengan kaca jendela yang transparan. Dengan begitu orang yang sedang melewati ruangan itu bisa melihat dengan jelas keseluruhan dari isi lab.

Jongin mengambil dua langkah dan membuka pintu lab itu. Ia memandangi Namjoo datar.

“mana buku itu?”

Namjoo memberikan arah dengan mata dan dagunya.

Jongin tidak akan lama disini. Ia hanya perlu mengambil bukunya lalu pergi. Tidak ada kata terima kasih sebelumnya. Jongin membalikkan tubuhnya saat ia sudah mendapatkan bukunya. Langkah Jongin mengarah keluar pintu.

Sebelum Jongin semakin dekat dengan pintu, Namjoo dengan cepat berlari dan mengunci pintu itu. Pergerakan itu yang membuat Jongin—sedikit—terkejut dengan yang dilakukan Namjoo.

“ada apa dengan mu?”

Namjoo melangkah maju mendesak Jongin agar semakin mundur. Rahang Namjoo mengeras dengan tangan yang terkepal. Tatapan matanya begitu lurus dengan mata Jongin.

“aku mencintaimu Kim Jong In”

Jongin tidak bisa mundur lagi karena tubuhnya belakangnya yang sudah menyentuh meja utama. Namjoo semakin mendekat padanya. Wajah Jongin datar menatap gadis yang sudah gila didepannya.

“aku sangat mencintaimu”

Jongin memundurkan wajahnya saat wajah Namjoo sudah berada dekat dengan wajahnya.

“kau akan menyesal” nada dingin itu kembali keluar dari mulut Jongin.

“tidak akan”

Jongin dengan cepat kembali menatap wajah Namjoo. Ia menatajamkan tatapannya pada gadis itu. Ia harap Namjoo bisa takut dengan tatapannya. Tapi ternyata gadis itu lebih berani dari perkiraannya.

“kau yakin? Lalu apa yang mau kau lakukan?” tanya Jongin datar.

Namjoo tanpa alasan mengeluarkan air mata dari matanya. Ia semakin mengepalkan tangannya di bawah roknya. Ia mendorong dirinya sendiri untuk menjatuhkan harga dirinya. Mata Namjoo dengan cepat terpejam. Ia segera meraih bibir Jongin dengan bibirnya.

Jongin membelalakan matanya terkejut. Tangan Namjoo sudah menahan leher belakangnya dan gadis itu sudah bergerak cepat. Jongin tersenyum licik didalam ciuman Namjoo.

Mungkin ini adalah hari terahkir Namjoo bisa bernafas.

Jongin melayani Namjoo yang sedang menciumnya. Ia mengimbangi gerakan Namjoo yang sedikit—liar. Tangan Jongin juga menahan sisi samping kepala gadis itu. Jongin mendorong tubuh Namjoo perlahan dan menyudutkannya pada papan tulis. Ia juga tidak memberikan jeda sedikitpun untuk Namjoo.

Tangan Namjoo yang lain sudah berani mengangkat sedikit pakaian Jongin dan memperlihatkan perut laki-laki itu. Jongin dengan cepat melepas ciumannya dan menatap licik kearah tangan Namjoo yang berusaha membuka pakaiannya.

“kau yakin tidak akan menyesal?” tanya Jongin sekali lagi.

“tidak akan”

Jongin tersenyum miring mendengar jawaban gadis itu. Baiklah, jika itu yang diingankan Namjoo maka Jongin akan suka rela melakukannya.

Jongin kembali mencium gadis itu dengan liar. Gerakannya sangat cepat dan membuat gadis itu sedikit melenguh tertahan. Sampai ahkirnya Jongin semakin turun dan turun. Menyusuri garis rahang gadis itu dan menghirup aroma tubuh gadis itu dilehernya. Dibalik mata Jongin yang terpejam, iris matanya sudah berubah.

Rahang Jongin mengeras saat ia mulai membuka matanya.

“ahhkkk!!”

Mata Namjoo yang kini terpejam. Ia menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang menghujam lehernya. Rasa panas yang seperti terbakar. Ia meremas bahu Jongin semakin kuat dan menyembunyikan wajahnya disana.

Jongin terus menghisap darah Namjoo. Menancapkan taring vampire nya semakin dalam. Ia harus membuat Namjoo membayar semuanya.

Dari kejauhan tubuhnya seperti mati tidak bergerak. Matanya yang basah tidak berkedip sama sekali. Tubuhnya mulai bergetar. Pusing dikepalanya juga mulai menjalar. Tangannya yang gemetar meremas ujung sweaternya. Ia berusaha keras untuk mengambil nafas. Pernafasannya tersendat dan sedikit memburu.

“itulah Jongin yang sebenarnya” suara lain terdengar dibelakang telinganya.

Benarkah itu Jongin?

Hyena baru tiba lorong yang gelap ini. Ia mengikuti Jongin sampai dikampus dan akan mengatakan pada laki-laki itu jika dirinya sudah menaruh kepercayaan padanya. Ia percaya padanya. Ia percaya jika Jongin bisa melindunginya

Tapi apa yang Hyena dapat?

Jongin dan Namjoo. Mereka berdua membuat Hyena harus kehilangan nafasnya untuk sesaat. Hyena belum sempat menetralkan nafasnya yang sempat memburu karena harus berlari ketempat ini. Tidak lama teriakan Namjoo terdengar ditelinganya. Jeritan itu begitu menyakitkan untuk Hyena. Mengingatkan dengan jeritan gadis lain malam itu.

Hyena terus menangis dan menangis dalam diam. Tubuhnya perlahan jatuh saat melihat tubuh Namjoo yang juga ikut jatuh dalam pelukan Jongin. Wajah Hyena memucat memandangi lantai.

Hatinya sakit. Rasanya dua kali lipat dari rasa sakit yang sedang ia rasakan ditubuhnya saat ini.

Chanyeol yang berada dibelakangnya ikut merendahkan tubuhnya. Ia sudah mengawasinya dari tadi. Bakan semenjak Hyena datang. Chanyeol melihat semuanya. setelah beberapa saat kemudian Hyena datang dan ikut menyaksikan apa yang sedang dilihatnya. Chanyeol merasa ini adalah malam keberuntungannya.

Chanyeol menyampirkan rambut yang menutupi telinga Hyena kebelakang.

“Jongin adalah vampire. Ia yang membunuh Myung Soo malam itu. Dan sekarang kau yang ‘selanjutnya’” bisik Chanyeol. Ia menekankan pada kata ‘selanjutnya’ agar membuat Hyena cepat mengerti.

Nafas Hyena tercekat. Semua bisikan Chanyeol seperti mencekik lehernya dan membuatnya ingin mati. Hyena merasa dirinya panas, ia bahkan mulai berkeringat. Ia hampir kehilangan kesadarannya jika ia tidak berusaha semakin fokus untuk tetap bernafas. Mulut Hyena terbuka kecil. Ia berusaha mengambil sedikit udara untuk mengisi paru-parunya.

“Jongin hanya memanfaatkan mu. Seharusnya kau mendengar kata-kata ku malam itu”

“Jauhi Jongin. Kau harus menjauhinya”

Hyena tau siapa yang sedang berbicara dibelakangnya. Tangan Hyena berusaha meremas lantai dingin yang berada dibawah tubuhnya.

Klekkk

Pintu lab itu terbuka. Hyena bisa melihat kedua sepatu Jongin dari tempatnya. Air mata Hyena turun semakin banyak. Penglihatannya mulai berbayang karena air matanya. Hyena berusaha menahan isakannya dengan menggigit bibirnya sendiri.

Chanyeol menaikkan pandangannya dan tersenyum licik kearah Jongin yang sedang terkejut.

“kau sudah selesai?” tanya Chanyeol pada Jongin.

Jongin tidak mendengarnya. Ia hanya terpaku menatap Hyena yang sedang terduduk dilantai dengan bulir-bulir air mata yang terjatuh dari mata indah gadis itu. Tubuh gadis itu bergetar dan matanya terpejam. Rambut dipelipis Hyena basah karena keringatnya sendiri.

“ada satu yang tersisa” ucap Chanyeol datar. Matanya mengarah pada puncak kepala Hyena yang tertunduk. Ia harap Jongin bisa menangkap maksudnya.

“Hyena?” suara Jongin lirih memanggil nama gadis itu. Ia berusaha mendekat walaupun langkah kakinya semakin berat.

Hyena berusaha mengangkat kepalanya. Memperlihatkan mata basahnya dan juga wajahnya yang memerah. Ketakutan Hyena semakin memuncak saat melihat mata Jongin yang merah juga beberapa bercak darah yang menodai dagu dan baju laki-laki itu.

Jongin merendahkan tubuhnya didepan gadis itu. Tangannya mulai bergetar ingin menyentuh wajah Hyena.

“kau pembunuh” ucap Hyena.

Nafasnya memburu dan bibirnya bergetar. Hyena hampir kehilangan nafasnya saat Jongin ingin menyentuh wajahnya. Dengan susuah payah Hyena bisa menelan salivanya sendiri. Rasanya seperti menelan batu. Sangat berat.

Suara yang bergetar itu menusuk gendang telinga Jongin. Suara yang meremukkan dirinya. Tangan Jongin kembali turun. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menyentuh wajah itu. Ia memandang nanar gadis didepannya. Perlahan iris mata nya berubah hitam.

Hal yang mustahil ada didalam diri Jongin adalah air mata. Jongin tidak tau kenapa matanya berubah panas. Seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam matanya.

Hyena melihat sosok aslinya. Gadis itu berusaha menahan ketakutannya setengah mati. Air mata Hyena tidak bisa berhenti turun membasahi pipinya. Itu yang membuat hati Jongin semakin sakit.

“kau pembunuh Kim Jong In” lirih Hyena.

 

 

TBC

Maaf jika menunggu FF ini terlalu lama dan hasilnya nggak sesuai harapan. Lagi nggak ada mood buat ngetik ini T___T maaf sekali lagi reader😥 Ini ceritanya mau dibikin sad. Tapi nggak tau terasa feelnya apa enggak. Author rasa enggak. Orang aku aja ngetiknya flat banget -,- Chapter selanjutnya aku usahain cepet >< Suwer!

41 thoughts on “The Difference [Chapter 6]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s