[Chapter 1] Between (Sequel of Ring)

between1

 

Title : Between

Author : Baconyeojachingu

Main casts :

          Seohyun SNSD

          Suho EXO

          Lay EXO

Genre : Romance, Hurt / Comfort

Rated : T

Length : Chapter

A/N : Annyeong!!!!! Seperti keinginan kalian semua, author bawa sequel nih, chapter lagi, hihihi… Di sequel ini kita kedatangan cast baru, uri healing unicorn, Lay…. Mau tau dong ya apa peran uri Lay di sini? Monggo dibaca…. Dan yang belum baca Ring boleh baca dulu di sini. Mohon kritik / saran ya chingudeul…Keep RCL, Don’t copy/paste without my permission, and no bash, okeh?

~*~*~Between~*~*~

                “Boston?”

                “Benar Nyonya.”

                Nyonya Seo memandang lekat-lekat supir pribadi putri semata wayangnya yang baru saja mengatakan bahwa Seohyun pergi ke Boston, Amerika Serikat.

                Boston?

                Kepala Nyonya Seo mendadak berputar pening. Apa yang dipikirkan putrinya itu sebenarnya? Pernikahannya tinggal dua minggu lagi dan dia malah pergi ke Boston?

                “Nona Seo bilang ia akan menghubungi Nyonya setibanya ia di Boston.”

                Nyonya Seo memijiti dahinya yang terasa makin sakit. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Seohyun tiba-tiba pergi ke Boston?”

                “Itu..Nona akan mengatakan langsung. “

Nyonya Seo menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kedua tangan tuanya diusapkan ke permukaan wajah. Entah kenapa, perasaan Nyonya Seo tidak baik. Ia merasa risau pasalnya Seohyun belum pernah pergi tanpa perencanaan dan pemberitahuan seperti ini.

~*~*~Between~*~*~

Seohyun berdiri di trotoar jalan hanya dengan tas tangan yang berisi dompet, ponsel, make up, dan paspor. Tangannya menyetop taksi yang kebetulan lewat yang kemudian membawanya dari Boston’s Logan International Airport ke Beacon street, tempat apartemen yang sudah ia pesan.

Seorang supir taksi berwajah khas Eropa membawa Seohyun menelusuri jalan-jalan kota Boston yang tak bisa dibilang sepi. Seoohyun menyandarkan punggungnya sementara kepalanya menoleh ke luar jendela dimana ia bisa melihat aktivitas pejalan kaki di kota yang cukup padat penduduk itu.

                Pikirannya kosong, tak bisa memikirkan apapun—atau tepatnya tak ingin. Tangannya terus mengusap jari manis di tangan kananya, berusaha membiasakan diri tentang ketidakberadaan cincin pertunangannya dengan Suho di sana. Begitu taksi yang membawanya berhenti, Seohyun menyerahkan beberapa lembar uang dollar pada supir taksi itu lalu keluar.

                Seorang wanita tua terlihat menunggunya di depan gedung apartemen, terbukti saat ia mendekat wanita tua itu langsung menyapanya, “Are you Seo Joo Hyun?”

                “Yes, I’m.”

                “Follow me. I will show you the apartment room.”

                Seohyun mengikuti wanita tua yang merupakan pemilik gedung apartemen itu—yang telah ia telepon sebelum penerbangan. Mereka memakai lift untuk sampai di lantai sembilan dimana selama perjalanan wanita tua yang mengaku bernama Clara itu terus menceritakan keunggulan-keunggulan apartemennya sedangkan Seohyun hanya menjawab seadanya saja. Sebenarnya Seohyun tidak mau tau sebagaimana bagus kualitas apartemen itu, karena ia datang memang bukan dengan tujuan itu. Ia hanya ingin menyewa sebuah apartemen—tanpa perlu repot-repot memikirkan kualitasnya—lalu menghabiskan beberapa waktu di Boston sampai ia melupakan semua yang ada di Seoul.

                Mereka keluar dari lift lalu berjalan lurus sekitar beberapa meter dan berhenti di sebuah pintu bernomor 2710. Clara memberi secarik kertas pada Seohyun. “This is your room’s password. You may change it whenever you want.” Clara tersenyum lalu meninggalkan Seohyun setelah gadis itu mengucapkan terima kasih.

                Seohyun memasukkan password seperti yang tertera di kertas lalu segera masuk dan kembali menutup pintunya. Ia memandang berkeliling pada ruangan tempat ia berpijak saat itu. Khas Eropa. Warna didominasi dengan putih dan abu-abu, dan perabot yang tertata rapi sesuai dengan harga yang dibuat oleh si pemilik apartemen.

                Seohyun belum ingin mengaktifkan ponselnya, maka dari itu ia mendekat ke sudut ruangan dimana terdapat meja kecil dengan telepon rumah di atasnya. Ia mendudukkan dirinya di sofa putih di samping meja lalu mengangkat gagang telepon. Setelah menekan nomor telepon rumahnya di Seoul—tentunya didahului dengan kode telepon internasional—ia mendekatkan gagang telepon ke telinganya.

                “Yeoboseyo?”

                “Eomma?”

                “Seohyun-a…Apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba kau pergi ke Boston tanpa memberitahukan eomma? Apa ada sesuatu yang terjadi? Seohyun-a? Seohyun-a?”

                Seohyun mengambil nafas panjang sebelum ia menjawab, “Eomma…”

                “Eoh, wae?”

                “Kurasa aku akan membatalkan pernikahanku dengan Suho oppa.”

                “Ani…wae Seohyun-a? Apa ada masalah antara kau dan Suho? Kenapa tiba-tiba begini? Pernikahan tinggal dua minggu lagi, kau tau itu kan sayang?”

                “Mianhae eomma. Aku benar-benar tidak bisa menikah dengan Suho oppa.”

                “Wae? Bukankah waktu itu kau bilang kau mencintainya?”

                “Mencintaipun bukan berarti aku akan bahagia kan eomma? Aku ingin bahagia, dan aku tidak akan bisa kalau dengan Suho oppa. Kuharap eomma mengerti.”

                Nyonya Seo menghela nafas. “Seohyun-a…” Seohyun memang tak bisa melihat, tapi saat ini Nyonya Seo terlihat sangat sedih. “…tidak bisakah kau pulang dan kita bicarakan masalahnya baik-baik?”

                “Tidak ada masalah yang perlu dibicarakan eomma. Aku hanya ingin membatalkan pernikahanku, itu saja. Dan mungkin aku akan tinggal di Boston sekitar tiga bulan, tidak apa kan eomma?”

                “Sayang, eomma tau kau sedang tidak baik-baik saja. Beritahu eomma apa yang mengganggumu, jangan menyimpan masalah sendirian.”

                “Tidak ada masalah apapun eomma, tenang saja. Eomma cukup bantu aku minta maaf pada appa dan urus pembatalan pernikahanku dan aku akan kembali tiga bulan lagi. Tak usah khawatir.”

                Nyonya Seo terdengar menghela nafas lagi. “Eomma akan bicara dengan appa nanti. Jaga dirimu baik-baik sayang.”

                “Arasseo eomma.”

                Telepon mereka terputus. Seohyun meletakkan gagang telepon ke tempat semula lalu menghela nafas. Punggungnya disandarkan pada sofa sedangkan manik matanya berpendar ke sekitar ruangan apartemen tempat tinggalnya.

                “Oppa!!!”

                “Wae?”

                “Suatu hari nanti kau mau kan menikah denganku?”

                “Mwo? Ish… Kau ini masih kecil, pikirkan saja sekolahmu dulu.”

                “Setelah aku lulus dan menjadi perempuan hebat, oppa mau kan? Iya kan?”

                “Kau ini!!”

                Seohyun menghela nafas lalu bangkit sebelum kenangan-kenangan itu semakin banyak berputar di kepalanya. Kakinya yang masih dibalut heels silver pemberian Suho di ulang tahunnya yang ke-21 dibawanya menapaki lantai mengkilap itu sehingga menimbulkan bunyi ketukan yang cukup kuat—di tengah kesepian di ruang apartemennya.

                Mungkin sekarang ia harus pergi membeli beberapa hal yang akan ia butuhkan selama tinggal di Boston, seperti bahan makanan, pakaian, dan peralatan lain.

                Baru saja Seohyun keluar dari ruang apartemennya, dia dikejutkan oleh sebuah suara yang kedengaran sangat bersemangat menyapanya dalam bahasa Inggris.

                “Hey, are you chinese?”

                Seohyun mendongak kemudian memiringkan kepalanya bingung melihat sosok laki-laki ber-dimple yang sedang tersenyum lebar ke arahnya tersebut, “Sorry?”

                Lelaki itu mengubah posisi berdirinya. “Umm.. I mean, are you chinese? I live there.” Lelaki itu menunjuk pintu di samping pintu apartemen Seohyun.

                “I’m Korean.”

                “Really? Wow, daebak!!! Annyeonghaseyo… Korean talk like that, right?”

                “Eumm…yes. But, who are you? Do I know you? Have we met before?

                Lelaki itu tertawa hingga dimple di kedua pipinya makin jelas terlihat. “No. You don’t know me, we’ve never met before. Ah, I am Zhang Yi Xing but you can call me Lay.” Lelaki itu mengulurkan tangannya yang disambut tatapan sejenak dari Seohyun, lalu ia menjabatnya.

                Lelaki itu tertawa. “Dan kau tidak perlu menggunakan bahasa Inggris saat berbicara denganku. Aku bisa bahasa Korea, walau berantakan.”  Ia meringis pelan lalu kembali tersenyum.

                Seohyun melepas tangannya dari genggaman lelaki itu. “Jadi Yi Xing-ssi, ada perlu apa denganku?”

                Yi Xing mengerucutkan bibirnya, “Sudah kubilang panggil aku Lay.”

                Seohyun memutar bola mata. “Ne Lay-ssi, ada urusan apa denganku?”

                “Kau tidak akan memperkenalkan namamu dulu?”

                Seohyun menghembuskan nafas kesal dengan segala respon yang diberikan lelaki di depannya. “Mianhamnida Lay-ssi, aku masih punya banyak urusan.” Seohyun membungkuk kecil—budayanya sebagai orang Korea—lalu melangkahkan kaki cepat meninggalkan Yi Xing.

                Baru bebeapa langkah ia berhenti karena Yi Xing yang menahan lengannya. “Jangan begitu nona. Perkenalkan dirimu ne? Aku tidak punya teman asia di sini.”

                Seohyun berdecak lalu berlagak melihat arloji di pergelangan tangannya. “Maaf, tapi aku sedikit sibuk. Aku harus pergi sekarang.”

                “Gwaenchana. Aku ikut denganmu.”

                Seohyun menatap Yi Xing yang terus saja tersenyum memamerkan dimple di kedua pipinya itu lamat-lamat. “Baiklah, terserah kau saja.” Seohyun kembali berjalan dan Yi Xing mengikutinya dari belakang.

                “Jadi siapa namamu? Aneh sekali, aku pergi denganmu begini tapi aku tidak tau siapa namamu.”

                “Seohyun. Seo Joo Hyun.”

                Dahi lelaki itu mengerut, tampak bingung. “Bukankah seharusnya kau dipanggil Joo Hyun? Seo margamu kan?”

                “Iya, tapi aku lebih suka dipanggil Seohyun. Sejak kecil  tidak pernah ada yang memanggilku Joohyun.”

                “Gurae? Kalau begitu aku saja yang memanggilmu begitu. Emm.. Joo. Iya, aku akan memanggilmu Joo. Itu kedengaran bagus sekali, aku satu-satunya yang memanggilmu begitu kan?”

                Seohyun masuk ke dalam lift diikuti oeh Yi Xing. “Joo?” ia menatap Yi Xing yang masih saja tersenyum. “Terserah kau saja.”

                Hening cukup lama hingga suara lift yang terbuka memecah kesunyian di antara mereka. Seohyun keluar dan lagi-lagi Yi Xing hanya mengikuti. “Kau mau kemana?”

                “Sebenarnya aku hanya ingin membeli peralatan untuk kehidupan sehari-hari, aku tidak punya apa pun di apartemenku.”

                Yi Xing mengangguk, “Kalau begitu kau tidak salah memilih tempat tinggal di Beacon street, di sini banyak mall. Ayo ikuti aku!” Yi Xing mengisyaratkan Seohyun untuk mengikutinya dan entah apa yang merasukinya, yeoja itu menurut saja. Ia dengan patuh berjalan di belakang Yi Xing.

                Yi Xing mengarahkan sebuah kamera yang sejak tadi dibawanya ke beberapa sudut di jalanan yang mereka lewati. Sesekali ia mengarahkan lensa kameranya pada Seohyun dan gadis itu hanya mendecih lalu ia tertawa geli. “Berhenti mengambil fotoku Lay-ssi.”

                Yi Xing memindahkan arah lensa kameranya ke sudut lain, sesekali mengagumi hasil potretannya. Ia mengangguk-angguk dan tersenyum puas. “Kau suka dunia fotografi?”

                Seohyun memicingkan matanya ke arah Yi Xing. “Kau banyak bicara. Ingat, kau dan aku baru saja mengenal beberapa menit yang lalu.” Seohyun melanjutkan langkah memasuki sebuah gedung besar yang menjadi tujuan mereka.

                Yi Xing yang sempat diam di tempatnya segera berlari menyusul Seohyun memasuki gedung mall, “Memangnya tidak boleh? Lagipula kita ini tetangga mulai sekarang. Apa salahnya mengakrabkan diri? Nanti kau juga pasti membutuhkan bantuan tetanggamu ini.”

                Seohyun mendengus namun dalam hati ia terkekeh mendengar logat Korea namja itu yang sebenarnya terdengar lucu. “Terserah kau saja. Aku tidak yakin memerlukan bantuan dari tetangga sepertimu.”

                Yi Xing tertawa pelan lalu mengikuti Seohyun yang pergi ke sebuah toko pakaian. Yeoja itu terlihat asyik memilih-milih pakaian yang dipajang di sana sementara Yi Xing memilih menghabiskan waktunya—sambil menunggu Seohyun—dengan membidikkan lensa kameranya ke mana saja yang menurutnya terlihat menarik.

                “Thanks for shopping in our shop. Please comeback whenever you need a clothes.”

                Seohyun tersenyum ke arah penjaga toko lalu membawa kantong belanjaaanya. Yi Xing yang melihat Seohyun keluar segera mengambil langkah mengikuti yeoja itu lagi. Kali ini tidak ada percakapan yang tercipta karena Yi Xing sibuk dengan kameranya sementara Seohyun sibuk menatapi setiap toko yang ia lewati—siapa tau ia berminat mampir.

                Seohyun berbelok ke kiri saat ia melihat sebuah toko yang menjual berbagai peralatan rumah tangga. Yi Xing yang berjalan lurus mendengus kesal dibuatnya lalu ikut berbelok ke kiri. “Kenapa kau tidak bilang mau belok kiri?”

                “Kukira kau sibuk dengan kameramu.” Seohyun mengedikkan bahu lalu mulai memilah sayuran yang dikemas dengan plastik bening di sana. Seohyun berencana memasak sup iga saja untuk makan malamnya nanti, maka dari itu ia mengambil daging sapi kaleng, seledri, dan beberapa bumbu lain. Namun sekali lagi ia mendapati Yi Xing memotret dirinya saat sedang memilih buah-buahan yang akan ia beli.

                “Yi Xing, kau memotretku lagi!”

                Yi Xing tertawa. “Bukan aku yang ingin, tapi kameraku.”

                Seohyun lagi-lagi hanya mendecih lalu pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.

                “Kau akan mengundangku makan malam?”

                “Mwo? Kenapa aku harus mengundangmu segala?”

                “Kita kan tetangga, bukankah sangat baik kalau kau mengundangku makan malam di tempatmu di hari pertama kau menempati apartemenmu?”

                “Dasar. Oke, datang saja, tapi jangan kecewa karna yang ada pada makan malam itu hanya sup iga.”

                “Oke, tidak masalah. Aku belum pernah memakan sup iga buatan orang Korea. Saat aku ke Korea dulu, aku hanya memakan kimchi, galbi, kimbab, apa lagi ya?” Yi Xing terlihat berpikir tentang makanan apa saja yang pernah dimakannya di Korea, namun tampaknya Seohyun mengabaikan Yi Xing. Ia terus berjalan sementara namja itu masih diam di tempatnya.

                “Hei, tunggu aku. Ya, Joo-ya! Ya!!”

~*~*~Between~*~*~

                “Apa yang kau lakukan pada Seohyun? Kenapa dia sampai berniat membatalkan pernikahan kalian? Dan kenapa dia sampai pergi ke Boston begitu?”

                Tuan Kim terlihat sangat murka. Di depannya Suho berdiri dengan kepala tertunduk sementara sang ayah terus membentaknya dan bertanya terus menerus. “Kau sadar apa yang kau lakukan Kim Joon Myun? Kau mau menghancurkan perusahaan ayah yang sudah susah-susah ayah bangun selama dua puluh tahun ini? Kau mau kita sekeluarga jatuh miskin hah?”

                “Jweisonghamnida aboji.”

                “Kalau kau minta maaf kau pikir Seohyun akan kembali dan mengubah pikirannya? Kim Joon Myun, apa kau tidak bisa sekedar menjaga perasaan Seohyun? Apa hebatnya gadis itu dibanding Seohyun?”

                “Aku tidak mau tau. Bagaiamana pun kau harus tetap menikah dengan Seohyun. Apa pun caranya kau harus berhasil mengubah keputusan Seohyun. Apa pun itu, kau mengerti Kim Joon Myun? Aku tidak ingin kau mengecewakanku lagi, kau mengerti?”

                “Ne, aboji.”

                “Keluarlah.”

                Suho mengambil langkah keluar dari ruang kerja ayahnya masih dengan wajah yang ditekuk. Di luar, ternyata ibunya sudah menunggu Suho. “Kau maklum saja ya. Aboji hanya tidak ingin kita hidup menderita kalau sampai pernikahanmu dengan Seohyun batal. Sekarang kembalilah ke kamarmu, nanti kita bicarakan lagi masalah ini.”

                Suho tersenyum pada ibunya lalu bergegas ke kamarnya di lantai dua. Sesampainya di sana, ia tidak melakukan apa pun selain membuka jas, melonggarkan dasinya lalu tidur telentang di tempat tidur.

                Ia kembali memikirkan Seohyun, tepatnya memikirkan alasan yeoja itu mengubah pikirannya. Padahal sejak awal Seohyun lah yang sangat bersemangat mengenai perjodohan dan pernikahan mereka, namun sekarang yeoja itu juga yang membatalkan dan meninggalkannya.

                Apa dia kecewa dengan sikap Suho yang acuh tak acuh padanya?

                Atau ia marah karena Suho tidak memakai cincin pertunangan mereka?

                Atau ia tau hubungan Suho dengan Yoona?

                Suho menghela nafas berat. Lengannya ditaruh di dahi dan pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya. Mungkin setelah ini ia akan mempertimbangkan untuk pergi ke Boston menyusul yeoja itu.

                TBC

                Eottae? Ini pantes lanjut gak?

                Ditunggu komennya lho chingudeul, kalo bisa mbok ya komennya yang nyemangatin dikit, jangan Cuma ‘lanjut thor’ next thor’ bagus thor’ dsb. Kalo responnya segitu doang sih, aku jadi ragu kalian suka ceritanya apa nggak. Ditunggu komen sepenuh hatinya ya ^^

29 thoughts on “[Chapter 1] Between (Sequel of Ring)

  1. ini bgus author, dan ini pstiny harus dljut donk…
    msa ia ch author ngegantungin nasib pra reader ? hehe

    komen q setulus hati kq thor, jd author tetap semangat yaaa, jgn brpkirn bhwa reader g tulus komennya atau apa…
    q yakin kq, smua reader suka ff yg author bt n komen mreka smuapun psti tulus…

    o ia lw boleh tw author nama aslinya siapa ? line brpa ?
    yg udh q tw nmanya tc Rima, Dina, Dea..
    q jg ska bca yg Park Hana, ApReelKwon dll…hehe q g bsa nyebutin smua, lupa sking byknya ff2 yg q bca…😀

    mnurut q dsni byk bgt author yg brbkt, kmu jg trmsuk slh 1 nya mnurut q…🙂
    so trus bljr ya, tp jgn cepet puas..
    tetep hasilkn krya2 trbaik… OK😉

    eh kq aq mlh crht yaa…
    hehe mian kpnjngn😀
    pokonya tetap smangat !

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s