Goodbye Seoul

luhan goodbye seoul

 

:: GOODBYE SEOUL::

| Sequel of Sleep Well, My Star |

 

 

 

“Ini bukanlah sebuah pilihan yang seharusnya. Aku tahu aku tak bisa memilih.

Mungkin akan lebih baik jika semuanya berakhir sebelum ada hati yang tersakiti lagi.”

 

 

 

AUTHOR : shineshen (@shineshen97)

 

MAIN CAST :

-Xi Luhan (EXO-M)

-Park Chorong (A Pink)

-Kim Himchan (B.A.P)

-Melanie Lee (Chocolat)

 

OTHER CAST :

-Im Yoona (SNSD)

-Maybe any another cameos ^^

 

GENRE : Angst, Sad Romance.

 

RATING : PG-15.

 

LENGTH : Oneshot with super longer edition ( 9.770 words… Let’s say whoaaa(?) \^0^/ ).

NOTE :

  • FF ini hanyalah sekedar karangan fiksi belaka.
  • Ini adalah kali pertamanya author nyobain bikin sequel dari cerita oneshot ._.
  • Maapin author karena disini bawa-bawa nama PARK CHORONG ._. Jangan mood breakdown(?) please, karena….
  • Udah deh, biar tau alesannya apa, monggo dibaca dulu😀

 

 

SAY YES TO READ AND COMENT

SAY NO TO BASHING AND PLAGIARISM

 

Hope you enjoy what I wrote ^^

 

******

 

 

“Yak, Xi Luhan! Kemarilah! Lihat ini!”

Suara Himchan yang melengking berhasil menarik langkah namja dengan rambut blonde itu dari posisinya semula. Namja berambut blonde itu melangkah malas mendekati Himchan, tampak kontras dengan raut wajah Himchan yang bersemangat.

“Wae geurae?”

“Ayo coba kau lihat ini.” Sahut Himchan bersemangat sambil menyerahkan sebuah benda pada Luhan. Luhan menerima benda itu dengan kening berkerut, membolak-balik benda itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bersuara lagi.

“Undangan pernikahan?” Tanya Luhan sambil tetap membolak-balik benda itu. “Lalu apa?”

Himchan memutar matanya jengah. “Aish, kau ini tidak peka sekali, ya.”

Himchan merebut benda itu dari tangan Luhan lalu mengeluarkan lipatan kertas lain dari dalam amplop berwarna keemasan itu. Membuka lipatannya sehingga kini tampaklah beberapa deret tulisan yang tampak berwarna keemasan lebih nyata. Himchan menyerahkan kertas itu pada Luhan, seakan menyuruh Luhan untuk membaca kedua nama mempelai yang tertera disana.

“Nam Woohyun?” kening Luhan mengerut saat ia membaca nama mempelai pria yang tertulis disana. “Mwoya? Nam Woohyun?? Woohyun?! Astaga!”

Luhan terbelalak membaca nama itu berulang-ulang. Himchan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Luhan yang tampak shock itu.

“Bukankah terlalu cepat kalau ia menikah sekarang?” Tanya Luhan sambil meletakkan kertas undangan itu ke atas meja yang ada disebelahnya. Bercakak pinggang sambil menatap Himchan setelah itu.

“Kurasa tidak,” jawab Himchan enteng. Luhan menyipitkan mata memandang Himchan setelah mendengar jawaban seperti itu dari Himchan.

“Maksudmu?”

“Bukan waktu yang terlalu cepat,” sahut Himchan sambil meletakkan amplop pembungkus undangan di samping kertas undangan yang sebelumnya telah Luhan letakkan. “Tapi kau yang terlalu lambat, Xi Luhan.”

“Maksudmu apa, Himchan-ah?” Tanya Luhan lagi. Himchan membuang napasnya sambil melangkah menuju sofa yang ada di ruang tamu itu. Luhan mau tak mau mengikuti langkah Himchan.

“Empat tahun sudah kau lewati setelah kepergian Stella, namun kau masih bergeming di tempat. Apakah kau sadar jika waktu berjalan, Luhan-ah?”  Tanya Himchan sambil memutar pandangannya dari Luhan.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Luhan balik. “Kau sudah tentu tahu, aku tak akan semudah itu melupakan Stella.”

“Tapi sampai kapan, Xi Luhan?” balas Himchan mulai tak sabar. “Apa empat tahun tak juga bisa merubah pola pikirmu? Kau sudah dewasa, Xi Luhan. Jangan bersikap bodoh.”

Luhan hanya terdiam mendengar kata-kata Himchan yang terasa selalu benyanyi untuknya seperti itu setiap hari. Luhan saja sudah bosan mendengarnya, tapi mengapa Himchan tak bosan juga mengucapkannya?

 

“Dengar, aku mau minta pendapatmu soal ini,”

Luhan menolehkan kepalanya juga saat mendengar kata-kata Himchan. Ia melihat Himchan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah kotak kecil yang berlapis beludru biru tua.

“Igo mwoya?” Tanya Luhan sambil menatap kotak itu lekat-lekat, sebenarnya sudah bisa menerka apa isinya. “Apa itu bom?”

“Aish, bukan,” jawab Himchan. “Ini cincin, babbo.”

Himchan membuka kotak itu lalu memperlihatkan isinya yang berupa benda berkilauan berwarna keperakan itu. Juga sebuah mahkota cincin manis berupa batu yang berkilauan itu. Tampaknya itu berlian.

“Cincin?” Tanya Luhan. “Untuk apa?”

“Lusa nanti aku akan melamar Yoona,”

“Mwoya?!” Tanya Luhan shock.

“Ne.” jawab Himchan enteng. Ia tersenyum lalu menutup kotak itu lagi. “Otte? Cincinnya indah, kan?”

“Ne.” jawab Luhan, mulai kembali ke nada semula. “Wae?”

“Apa kau tidak iri padaku?” goda Himchan. Luhan mengernyit menatapnya.

“Iri apa?”

“Kapan kau akan memberikan cincin seperti itu pada gadismu, heh?” goda Himchan lagi.

Raut wajah Luhan berubah setelah mendengar kalimat Himchan itu.

 

***

 

Luhan membuka map terakhir yang ada di mejanya tanpa minat sedikitpun. Membaca halaman pertama berkas itu saja sudah membuatnya mual. Ia memijit pelan keningnya yang terasa pening tiba-tiba.

Disaat yang tidak tepat itu, Luhan malah mendengar suara ketokan yang terdengar di pintu masuk ruangannya. Luhan mendecak pelan, menemukan bayangan sekertarisnya yang sedang mengetok pintu ruangannya lewat jendela.

“Mau apa dia?” gumam Luhan pada dirinya sendiri. Menutup map berkas yang masih terbentang diatas mejanya, lalu menyingkirkannya.

“Masuk.”

 

Knop pintu berputar dan pintu terdorong masuk. Seorang gadis tampak di balik pintu itu, menundukkan kepalanya sopan sebelum masuk ke dalam ruangan Luhan.

“Ada apa, Sohee-ssi?” Tanya Luhan sambil menatap sekertarisnya.

Gadis itu menyerahkan sebuah map baru berwarna merah pada Luhan. Kening Luhan berkerut sesaat sebelum akhirnya menerima map itu juga.

“Apa ini?” Tanya Luhan sebelum gadis itu menjelaskannya pada Luhan.

“Itu, ada client baru, sajangnim.” Jawab gadis itu.

Client baru? Nuguya?”

“Dia baru menyerahkan berkas kasus siang tadi. Aku baru sekali ini melihat ia datang kesini. Dia client baru.” Jelas gadis itu lagi.

Luhan hanya membolak-balik map itu tanpa melirik berkasnya sedikitpun.

“Arasseo.” Jawab Luhan sambil menaruh map itu diatas tumpukkan map sebelumnya. “Kapan dia meminta bertemu denganku?”

“Besok, sajangnim.”

“Besok?” ulang Luhan. Teringat kembali janjinya dengan Himchan untuk acara besok. “Pukul berapa?”

“Sore, sajangnim. Pukul 5 sore.”

“Mwoya?” Tanya Luhan kaget. “Kenapa harus sore, eoh? Tak bisakah ia datang siang?”

“Siang hari beliau harus menemani anaknya berobat ke psikiater, sajangnim.”

Luhan lagi-lagi mengerutkan keningnya bingung. “Psikiater? Apa anaknya… Gila?”

Gadis itu menundukkan kepalanya. “Mollaseyo, sajangnim.”

Luhan melirik sesaat map itu, lalu pandangannya beralih lagi pada Sohee. “Arasseo, sekarang kau boleh kembali ke mejamu.”

“Permisi, sajangnim.” Pamit Sohee sambil menundukkan kepalanya lagi sebelum keluar dari ruangan Luhan.

Setelah Sohee pergi, Luhan meraih berkas itu juga. Membaca sekilas nama yang tercantum di lembar depan map itu.

 

“Ini… Berkas perceraian?” gumam Luhan setelah membaca singkat berkas itu. “Heh, lucu sekali. Mereka ingin bercerai setelah menikah selama puluhan tahun,”

Luhan menelusuri isi berkas itu sekali lagi, berkas dimana ia diminta untuk menjadi pengacara saat sidang perceraian itu. Pengacara bagi pihak penggugat, yaitu ibu di keluarga itu.

Mata Luhan terhenti saat menemukan sederet paragraf yang menjelaskan tentang anak dalam keluarga itu. Dikatakan bahwa keluarga Park memiliki 2 orang anak. Yang sulung adalah namja, sedangkan adiknya adalah yeoja.

 

“Jadi mereka punya 2 anak?” gumam Luhan lagi. “Tapi yang mana yang dikatakan gila?”

***

 

Luhan bergegas masuk ke dalam café itu saat menemukan jam tangannya telah menunjukkan pukul 8 malam, terlambat 15 menit dari janjinya dengan Himchan. Begitu masuk ke dalam café itu, matanya langsung mencari sosok Himchan. Luhan bernapas lega saat dilihatnya Himchan masih menunggunya dengan tenang di salah satu sudut dekat kaca jendela sana.

 

“Maaf aku terlambat,” sahut Luhan sambil mengambil kursi kosong yang ada di depan Himchan. Himchan mengangkat kepalanya dari tab yang ada ditangannya, lalu tersenyum membalas Luhan.

“Hey, santai saja. Baru sepuluh menit, kan?”

“Tapi tetap saja aku terlambat.” Balas Luhan lagi. “Oh ya, dimana pelayannya? Aku ingin memesan robusta coffee, pikiranku rumit sekali malam ini.”

“Aniya,” tahan Himchan. “Hentikan kebiasaan minum kopimu itu, oke? Biar kupesankan kau moccachino saja,”

“Hhh, arra, terserah kau saja.”

Himchan terlihat memanggil seorang pelayan lalu memesan moccachino untuk Luhan. Saat Himchan sedang memesankannya minuman, sesaat Luhan melirik secangkir cappuchino milik Himchan yang tampak sudah mendingin. Pasti namja itu belum meminumnya sama sekali, terlihat dari isinya yang masih tampak utuh.

 

“Nah, jadi apa?” suara Himchan membuyarkan lamunan Luhan. Raut wajah Luhan tampak bingung saat membalas tatapan Himchan.

“Apanya yang apa?” Tanya Luhan linglung.

Himchan memutar matanya jengah. “Keperluanmu malam ini, Xi Luhan. Ada keperluan apa kau memintaku bertemu sekarang?”

“Uhm, jadi… Aku ingin meminta maaf padamu, Himchan-ah. Sepertinya aku tak bisa datang ke acara candilight lamaranmu dengan Yoona besok. Aku… Client-ku ada yang minta bertemu,” jelas Luhan.

“Mwoya?” Tanya Himchan sedikit kecewa. “Padahal aku ingin sekali kau yang memainkan piano saat candilight lamaranku nanti, Luhan-ah… Jadi aku harus cari pianis lain untuk menggantimu?”

“Kau tidak usah khawatir. Aku punya teman yang seorang pianis. Namanya Zhang Yixing. Kau bisa meminta bantuannya nanti,” sahut Luhan sambil menyerahkan kartu nama Yixing. “Ini kartu namanya.”

Himchan menerima kartu itu. “Arasseo…” “Memangnya siapa client-mu itu, eoh?”

“Molla. Sohee tak memberikan informasi yang lengkap padaku,” jawab Luhan sambil memainkan cangkir cappuchino milik Himchan.

“Sohee? Yoon Sohee? Sekertarismu yang cantik itu?” Tanya Himchan menggoda Luhan.

“Apa?” Luhan balik bertanya dengan cuek. “Kau sebentar lagi akan menikahi Im Yoona, Kim Himchan. Ingat dia. Dasar playboy.”

“Kenapa jadi aku?” balas Himchan. “Aku sebentar lagi akan menikahi Yoona, jadi mana mungkin aku berniat macam-macam dengan sekertarismu itu, eoh. Aku itu bermaksud menggodamu, dasar babbo.”

“Menggodaku? Apa-apaan kau,” balas Luhan sambil memelototi Himchan.

“Ayolah, Xi Luhan. Yoon Sohee itu gadis yang cantik. Selama 2 tahun ia bekerja padamu, apa kau sama sekali tak pernah meliriknya?” goda Himchan lagi.

Obrolan mereka sempat terhenti karena pelayan yang membawakan pesanan moccachino Luhan sudah tiba. Setelah pelayan itu menyelesaikan tugasnya dan pergi lagi, Himchan dan Luhan pun melanjutkan obrolan mereka.

 

“Kau ini bicara apa? Mana mungkin aku melirik sekertarisku sendiri. Kau pikir aku apa?” balas Luhan setelah sebelumnya menyeruput moccachino-nya sedikit.

“Astaga, Luhan. Stella benar-benar merantai pikiranmu dengan baik.” Sahut Himchan sambil menepuk keningnya sendiri. Luhan hanya tersenyum simpul dibalik cangkirnya.

“Sohee sudah memiliki pacar.” Sahut Luhan tanpa ditanyakan Himchan. “Aku mana mungkin sebodoh itu mau merebut dia dari pacarnya. Astaga, Kim Himchan, tolong hentikan topik ini sekarang juga.”

“Arasseo, arasseo,” balas Himchan akhirnya. “Sekarang kau mau kita memulai tema apa?”

Luhan menghabiskan secangkir moccachino-nya, tersenyum pada Himchan, melirik cangkir Himchan yang masih penuh.

“Tidak. Hanya itu yang ingin kusampaikan padamu. Sekarang urusan kita tuntas, kan? Aku mau pulang saja,” Luhan bangkit dari duduknya.

“Mwoya?” Himchan ikut bamgkit dari duduknya. “Enak sekali kau pamit ingin pulang. Aniya. Aku sudah jauh-jauh datang ke café ini, menuruti permintaanmu, lalu sekarang kau mau pulang begitu saja?”

“Ah, tidak.” Sahut Luhan sambil duduk lagi di kursinya.

Himchan tersenyum puas sambil ikut kembali duduk di kursinya.

“Kita tidak bisa pulang sebelum kau menghabiskan cappuchino-mu dulu. Ayo habiskan. Jangan membuang-buang uangmu, Kim Himchan. Im Yoona akan marah jika tahu kau memesan kopi ini tanpa meminumnya sama sekali,” ujar Luhan sambil memandu Himchan untuk melirik cangkir kopinya yang masih utuh.

Himchan mengernyit memandang kopinya yang sudah tampak mendingin itu.

“Haruskah?”

 

***

 

Luhan berkaca sekali lagi. Memastikan jika penampilannya sudah tepat seperti apa yang dia mau. Ia tersenyum kecil pada refleksi dirinya sendiri.

 

Luhan lagi-lagi melirik jam tangannya. Pukul 5 akan tiba dalam setengah jam lagi, jadi ia harus bersiap-siap naik ke lantai atas sekarang. Di lantai atas ada sebuah ruangan khusus yang biasa dijadikan Luhan sebagai tempat bertemunya dengan para client-nya.

Luhan melangkah keluar dari ruangannya. Sesaat terhenti di samping meja Sohee yang sudah kosong. Ia melirik meja Sohee sesaat. Tersenyum simpul saat melihat sebuah foto Sohee bersama seorang namja—yang sudah pasti kekasihnya—terpajang dengan manis di samping salah satu sticky notes bertuliskan :

 

Janji dengan Seokjin oppa ke bioskop. Hari Rabu, pukul 5 sore.

 

Luhan tersenyum kecil tak henti-hentinya saat matanya berkeliling memandang bagaimana Sohee dengan telaten memenuhi hampir segala celah disana dengan barang-barangnya yang pasti akan mengingatkannya terus pada namjachingu-nya.

Tiba-tiba ingatan Luhan terbesit pada satu-satunya bingkai foto yang tak pernah Luhan biarkan lenyap dari meja kerjanya. Entah di kantor maupun di rumah, bingkai foto yang berisikan 2 orang yang sama itu akan selalu ada.

Karena Luhan pun tak akan membiarkan siapa saja menyentuh bingkai itu, apalagi menyingkirkannya.

 

Luhan tersadar dari semua lamunannya. Ia melirik jam tangannya, cukup kaget karena ternyata waktu sudah berlalu sepuluh menit. Sepuluh menit Luhan habiskan hanya untuk terkesan dengan meja Sohee dan teringat pada bingkai foto itu.

 

Luhan bergegas naik ke lantai atas menggunakan lift. Begitu sampai di lantai atas, Luhan langsung menuju ruangan pertemuannya. Duduk disana dan membaca-baca berkas milik calon client-nya yang akan tiba sebentar lagi.

 

Benar saja. Tak lama kemudian, suara ketokan terdengar di pintu. Luhan mempersilahkan tamu itu untuk masuk. Begitu pintu terbuka, tampak seorang ahjumma setengah baya berdiri di ambang pintu dan menunduk sopan pada Luhan.

“Selamat sore, Luhan-ssi.”

Luhan tersenyum membalas salam ahjumma itu. “Selamat sore juga, Nyonya. Silahkan duduk.”

 

Ahjumma itu masuk ke dalam ruangan Luhan. Ia masuk sendirian, membuat Luhan tampak mengernyit karena tak seorangpun anaknya yang menemaninya masuk ke dalam.

“Nyonya, apa kau datang sendiri? Bukankah di berkas dikatakan, kau memiliki 2 anak yang sudah dewasa?” Tanya Luhan.

“Ne, tapi mereka sedang tak bisa datang.” Jawab ahjumma itu. Dari caranya menjawab pertanyaan Luhan, dapat disimpulkan jika ia kurang senang Luhan bertanya seperti itu.

Luhan berdehem salah tingkah. “Oh, arasseo.”

“Luhan-ssi,” panggil ahjumma itu sambil mengangkat kepalanya, menatap Luhan. “Bisa kita mulai bahas masalahnya sekarang?”

***

 

“Kau ada-ada saja, Himchan-ah. Pulang melamar Yoona kau malah masuk rumah sakit seperti ini. Dasar aneh,” sahut Luhan sambil melangkah menuju mobilnya yang terpakir di basement. Mobilnya sudah terlihat beberapa meter di depan sana, dan ia pun membuka centralock otomatis melalui remot alarm yang tergantung menjadi satu dengan kunci mobilnya.

“Eoh, tapi ngomong-ngomong, lamaranmu diterima Yoona, kan?” Tanya Luhan lagi.

“Wah, chukkae! Kalau begitu, kapan kalian ada rencana untuk menikah? Jangan lupa undang aku, ya!” sahut Luhan lagi sambil membuka pintu kemudi mobilnya. Tertawa saat mendengar sahutan Himchan dari seberang sana.

“Aish, apa maksudmu, eoh? Aku harus membawa pasangan ke resepsimu nanti? Apa kau meledekku, huh?” Luhan menimpali sambil menstarter mobilnya.

“Oh, ne, arasseo.” Balas Luhan singkat. “Arra, aku akan sampai sebentar lagi. Tunggu aku, arachi?”

 

Lalu klik.

 

Luhan menutup sambungan teleponnya lalu segera meluncur mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat Himchan dirawat.

 

 

“Jeogiyo, tolong kamar inap atas nama Tuan Kim Himchan.” Pinta Luhan pada resepsionis rumah sakit itu.

Gadis dengan pakaian perawat itu mengangguk, lalu memeriksa data-data pasien yang ada disana.

“Kamar Tuan Kim Himchan ada di bangsal Jasmine nomor 15.”

“Kamsahamnida,”

 

Luhan bergegas menuju bangsal tempat Himchan dirawat. Beruntung karena rumah sakit itu memiliki rambu yang cukup jelas untuk membantu Luhan untuk sampai ke kamar Himchan.

Tiba-tiba langkah Luhan terhenti saat ia baru menyadari baru saja berpapasan dengan seorang gadis yang sedang berusaha menjalankan kursi rodanya. Luhan menolehkan kepalanya lagi menatap gadis itu, dan benar saja, gadis itu tampak kesulitan mendorong kursi rodanya sendiri.

Luhan terdiam sesaat sebelum akhirnya berjalan melawan arus langkahnya semula. Ia melangkah menyusul jejak gadis itu. Entah apa yang mendorong pikirannya sampai kembali dan menghampiri gadis itu.

 

“Jeogiyo, apa kau tahu dimana bangsal Jasmine nomor 15?” Tanya Luhan basa-basi tepat di belakang gadis itu, membuat gadis itu menolehkan kepalanya seketika. Ia menatap Luhan dengan pandangan kaget bercampur aneh.

“Jeosonghamnida?” ulang gadis itu. “Maaf, aku tidak tahu. Aku hanya pasien rawat jalan disini,”

“Jinjja? Tanya Luhan lagi. Ia menatap baju pasien yang dipakai gadis itu. “Tapi kau…”

“Nona Park Chorong?” panggil suara seorang yeoja. Luhan menoleh, dan menemukan salah satu perawat sedang berjalan menyusuri koridor di ujung yang lain. Perawat itu tampak bingung menoleh kesana-kemari.

“Nona Park Chorong, dimana kau?”

 

Luhan kembali beralih menatap gadis berkursi roda itu. Ia mengerutkan kening melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan gadis itu. Gadis itu tampak panik dan bergegas pergi dengan mendorong kursi rodanya sendirian.

 

‘Park Chorong? Bukankah itu nama…’

 

“Namamu Park Chorong?” Tanya Luhan menghentikan usaha gadis itu. Luhan mengambil langkah di depan kursi roda gadis itu sehingga menghalangi jalannya.

Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Luhan dengan pandangan kesal.

“Ne! Aku Park Chorong! Sekarang kau bisa minggir? Aku buru-buru!” tandas gadis itu sambil berusaha mendorong Luhan dengan tangan kanannya.

Tapi Luhan tak bergeming, membuat gadis itu semakin kesal.

“Aku bilang minggir, orang asing!”

“Aniya.” Jawab Luhan. “Baiklah jika itu maumu. Aku tahu kau pasti ingin kabur dari perawat itu. Aku akan membantumu,”

Gadis itu memandang Luhan tajam sekaligus waspada. “Apa yang kau inginkan?”

“Aku hanya perlu bicara sebentar denganmu,”

 

 

Luhan berhasil membawa gadis itu lepas dari pencarian perawat tadi. Mereka sedang duduk di salah satu taman yang menjadi satu dengan salah satu kafetaria rumah sakit. Gadis itu masih duduk diatas kursi rodanya sambil asyik mengemut permen lollipop yang baru saja dibelikan Luhan di kafetaria itu. Sedangkan Luhan hanya terdiam memandangi gadis itu yang seakan hanya asyik berdua dengan lolipopnya itu.

Entah lagi-lagi apa yang mempengaruhi pikirannya, sosok gadis itu seakan mengingatkannya kembali pada sosok gadis lain yang selalu dicintainya hingga detik ini. Gadis yang telah pergi meninggalkannya empat tahun yang lalu bersama sejuta angan Luhan tentang kebersamaan mereka.

 

Lama-lama gadis itu tersadar jika sedang Luhan pandangi. Ia melirik Luhan dengan pandangan tak suka, namun Luhan ternyata sadar jika gadis itu meliriknya dengan tatapan seperti itu.

“Wae?” Tanya Luhan sambil tertawa. “Kau masih menganggap aku itu orang asing?”

“Tentu saja.” Balas gadis itu singkat. “Aku tak tahu siapa kau, tapi kau tahu namaku.”

“Park Chorong. Itu namamu, kan?”

Gadis itu mengangguk, lalu ganti memandang Luhan selidik.

“Sebenarnya kau itu siapa?”

 

“Aku Xi Luhan.” Sahut Luhan sambil mengulurkan tangannya pada Chorong. “Aku pengacara yang disewa eomma-mu, jadi aku tahu segalanya tentang keluargamu.”

Chorong balas menjabat tangan Luhan walau gerakannya terlihat kaku. “Pengacara?”

Luhan mengangguk lalu tersenyum. Chorong terkesiap sebentar, lalu secara tak sadar merubah caranya memandang Luhan.

“Jadi sedang apa kau disini?” Tanya Luhan lagi, membuyarkan alam bawah sadar Chorong yang sebenarnya sempat bekerja tadi.

“Aku?” tunjuk Chorong pada dirinya sendiri. “Aku… Uhm, aku sedang cuci darah. Aku… Aku sakit,”

Luhan tertegun sesaat mendengar jawaban Chorong. Ia tergagap salah tingkah.

“Jinjja? Ah, uhm, mianhaeyo… Aku…”

“Gwenchana,” jawab Chorong enteng sambil tersenyum. Luhan tersenyum kecil membalas senyum Chorong sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Uhm, jadi…” Luhan memutus kalimatnya. “Kau sendiri datang kesini? Tidak bersama kakakmu?”

Ekspresi Chorong berubah mendengar Luhan menyebut soal kakaknya. Ia menggeleng, membuat Luhan mengerutkan kening melihatnya.

“Tapi…”

“Aku anak tunggal. Aku tidak punya kakak.” Tandas Chorong dengan wajah datar. “Surat itu… Bohong.”

Luhan terkejut mendengar Chorong malah mengatakan hal seperti itu. Ia mengernyit merasakan ada hal yang ganjil, tapi Chorong mengabaikan itu.

“Oh, arra,” sahut Luhan mengembalikan suasana. Ia mencium ada yang tidak beres dengan keluarga Park. Namun ia sadar, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menuntaskan semua rasa penasarannya itu.

“Sekarang biar kutemani kau ke ruang hemodialisa, arachi?”

Chorong membelalakkan matanya menatap Luhan. Luhan bingung melihat ekspresi Chorong itu.

“Wae?”

“Shireo. Aku tidak mau cuci darah. Biarkan saja aku mati.” Tolak Chorong datar.

Luhan terbelalak mendengar perkataan Chorong. “Yak! Kau tidak boleh bicara seperti itu!”

“Apa gunanya lagi aku hidup? Hidupku sudah hancur, tidak ada yang bisa diperbaiki lagi! Kau tahu?!” emosi Chorong meluap. Luhan terkesiap melihat linangan bening terbentuk di sudut mata Chorong.

“Park Chorong, apa maksudmu?”

“Sudahlah, lupakan saja! Tinggalkan aku sendiri!” seru Chorong sambil menghapus kasar airmata yang hampir mengaliri wajahnya.

Chorong mendorong kursi rodanya sendiri, meninggalkan Luhan begitu saja yang masih tampak speechless dan tak tahu harus bicara apa lagi.

“Terima kasih lolipopmu itu,” sahut Chorong sebelum ia benar-benar pergi.

Luhan menatap Chorong yang duduk membelakanginya.

“Selamat tinggal.”

 

***

 

“Aigoo, Yoona lama sekali. Kemana dia?” keluh Luhan pada Himchan. Himchan yang sedang asyik memakan apel hanya mengangkat bahu, lalu melanjutkan acara makan buahnya lagi.

Luhan memutar matanya jengah, lalu geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang masih terduduk diatas beker rumah sakit itu.

Tiba-tiba pintu kamar inap Himchan terdorong, seorang yeoja masuk dari sana sambil menenteng beberapa kantung belanja dari supermarket yang berukuran besar-besar. Yeoja itu tampak kerepotan, membuat Luhan akhirnya beranjak dan membantunya menutup pintu.

“Luhan-ah,” sapa Yoona dengan senyum. “Gumawo.”

“Cheonma.” Balas Luhan dengan senyum juga. “Kau lama sekali, Himchan sudah rindu padamu, tahu,”

“Apa?” protes Himchan dengan apel yang masih memenuhi mulutnya. “Yeobo, dia bicara apa? Jangan percayai dia.”

Yoona tertawa renyah mendengar pertengkaran kecil dari kedua orang yang sudah dikenalnya dengan baik semenjak masa kuliah itu. Luhan dan Himchan sudah berteman sejak awal mereka masuk kuliah, tepatnya semenjak Luhan jadi murid beasiswa di Seoul. Yoona tahu itu dan ia pun merasa senang dengan persahabatan antara 2 namja itu.

“Jadi kau tidak merindukanku, hmm?” Tanya Yoona sambil mendekati beker Himchan. Mencium kening Himchan. Luhan bingung sendiri mengapa ia mengernyit secara otomatis saat melihat pemandangan seperti itu.

“Aniyaaaa…” keluh Luhan. “Aku pengganggu suasana, lebih baik aku pergi saja,”

Luhan meraih selembar kertas dari atas meja disamping beker Himchan lalu melangkah pergi.

“Yak, kau mau kemana, Luhan-ah?” Tanya Himchan menghentikan langkah Luhan sejenak.

“Kau tidak lihat ini?” balas Luhan sambil mengacungkan selembar kertas yang berisikan resep obat untuk Himchan. “Mungkin pikiranmu dipenuhi Yoona terus sampai-sampai lupa jika dokter memberikanmu ini,”

“Oh, ne. Aku lupa. Mianhae,” balas Himchan sambil menepuk keningnya. “Ya sudah, sana pergi saja,”

“Yak! Mwo…?!” protes Luhan. “Arra, arra, aku pergi saja. Dasar kau, Kim Himchan.”

 

Luhan pun pergi dari kamar inap Himchan itu, meninggalkan Himchan berdua dengan Yoona. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala teringat bagaimana kelakuan Himchan selama di depan Yoona tadi dibandingkan dengan kelakuan Himchan yang normal.

 

Luhan berjalan menuju apotek rumah sakit tempat ia akan menebus obat, namun tiba-tiba langkahnya kembali terhenti saat matanya bertemu siluet gadis yang sama dengan kemarin. Gadis bernama Park Chorong itu. Ia memakai mantel dan syal yang melilit lehernya, juga beanie yang menutupi puncak kepalanya. Rambutnya yang berwarna coklat dengan highlight pirang tampak tergerai dibalik syal pink yang dipakainya.

Gadis itu tampak berdiri sendirian di dekat pintu keluar rumah sakit. Pandangannya tampak gelisah, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Luhan tak bisa menebak siapa itu, dan ia pun kembali tak bisa menebak apa perasaan yang kembali membawanya tergerak untuk menghampiri gadis itu.

 

“Chorong-ssi?”

Chorong menoleh, mendapati Luhan yang sedang berdiri tak jauh darinya itu kembali melemparkan senyum yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Tanpa sadar matanya membelalak sedikit. Pandangannya terhadap Luhan yang masih dianggapnya orang asing membawa langkahnya bergeser sedikit menjauhi Luhan.

“Neo?”

Luhan tersenyum lagi, membuat Chorong menatapnya sedikit waspada.

“Kau sendirian lagi?”

Chorong tak langsung menjawab pertanyaan Luhan. Ia hanya menggeleng, senyumnya masih tersimpan dari Luhan.

 

“Chorong-ah?”

Luhan dan Chorong otomatis menoleh pada sosok yeoja yang kini sedang berjalan mendekati mereka. Kening Luhan berkerut menyadari siapa yeoja itu.

“Nyonya Kang?”

Nyonya Kang yang merupakan ibu Chorong itu juga tampak tak menyangka jika Luhan ada disana, berada dekat dengan putrinya. Ia tampak sedikit kaget, lalu mengambil posisi disamping Chorong. Menggamit lengan putrinya itu.

 

“Luhan-ssi?”

Luhan tersenyum dan membungkuk sopan pada Nyonya Kang. Nyonya Kang tersenyum membalasnya, namun tidak dengan Chorong karena gadis itu masih memandang Luhan waspada dan menyembunyikan senyumnya rapat-rapat.

 

“Kau mengenal putriku?” Tanya Nyonya Kang langsung.

Luhan mengangkat alisnya sejenak, lalu tersenyum simpul. “Aku baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, di rumah sakit ini juga. Aku tak menyangka akan bertemu lagi dengannya hari ini,”

Nyonya Kang menatap Chorong seakan meminta jawaban, Chorong hanya memandang ibunya sendu tanpa menjawab apa-apa. Ia mengeratkan pelukannya pada lengan ibunya.

“Kurasa kapan-kapan kau harus berbicara dengan Chorong,”

Ucapan Nyonya Kang berhasil membuat Luhan dan Chorong terbelalak memandang wajahnya secara bersamaan. Luhan mengerutkan keningnya tak mengerti, sedangkan Chorong menggeleng kecil sambil menarik-narik pelan lengan ibunya. Nyonya Kang hanya tersenyum membalas reaksi dari kedua orang itu.

“Hari Senin lusa. Kau tidak keberatan kan, Luhan-ssi?”

 

***

 

Lalu lintas sepanjang Myeongdong hari ini tidak terlalu ramai. Beberapa pejalan kaki tampak asyik berbelanja dan memilih berbagai pertokoan yang berjajan di sepanjang jalan. Beberapa dari mereka tampak berjalan bergerombol, melihat dari gelagatnya, mereka adalah turis.

Luhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jam digital yang menunjukkan pukul 10 pagi itu berdecit pelan menunjukkan pergantian menit, namun Luhan mengabaikannya dan matanya lebih memilih berkonsentrasi dengan perjalanannya.

Hari ini Luhan sedang bebas dari semua rutinitasnya. Ini hari Minggu dan ia bebas menghabiskan hari ini dengan berlibur berkeliling kota Seoul. Hari ini ia kembali menyempatkan diri untuk datang ke Sungai Han. Luhan memang selalu menyempatkan diri duduk di tepiannya sambil sekedar mendengarkan musik ataupun mampir ke salah satu kedai es krim yang berjajar di sekitar sana.

Rutinitasnya setiap hari Minggu yang sudah dilewatinya selama puluhan, atau bahkan ratusan kali. Semenjak ia lulus kuliah. Semenjak ia resmi bekerja sebagai seorang pengacara.

Semenjak ia tersadar jika Stella sangat menyukai Sungai Han. Dan bertahun-tahun Luhan merasa bodoh karena tak sempat membawa Stella ke tempat itu, Stella hanya tahu bahwa tempatnya menyenangkan dari ucapan Luhan.

 

Luhan menggeleng untuk menepis segala ingatan tentang Stella lagi. Bukannya ia tak mau mengingat Stella, bukannya ia mau melupakan Stella. Tapi ia hanya tak ingin melukai hatinya lagi. Ia sudah cukup hancur dengan kepergian Stella. Ia tak mau terpuruk lagi.

Ia memang masih mencintai Stella dan bertekad akan terus mengenang gadis itu seumur hidupnya, tapi ia juga tahu, bukan begini caranya.

 

Luhan menghentikan mobilnya di salah satu lahan parkir kosong yang ada di depan sebuah toko cokelat. Luhan memandangi toko itu sesaat, teringat bahwa Stella juga sangat mencintai benda bernama cokelat. Luhan menggelengkan kepalanya lagi. Fantasi tentang Stella selalu sukses membuat kepalanya sakit. Dan ini bukan saat yang tepat untuk merasakan sakit kepala karena kematian kekasihnya.

Luhan berjalan pelan menyusuri Sungai Han sambil mendengarkan music dari i-Pod miliknya. Matahari bersinar tidak terlalu terik, cuaca yang cocok untuk berjalan-jalan. Cahayanya yang hangat menyinari daun-daun berwarna kecoklatan dan menembus celah diantara pepohonan. Beberapa orang dari kalangan usia yang beragam juga terlihat sedang menikmati rutinitas yang sama dengan Luhan.

Luhan memperlambat langkahnya saat melihat pemandangan yang entah kenapa tampak sedikit ganjil dimatanya. Beberapa meter di depan sana, diatas sebuah kursi taman, seorang gadis sedang duduk sambil menggenggam erat sebuah botol. Luhan tak bisa membaca label yang tertera pada botol itu, namun melihat kemasan botolnya ia merasa tak asing. Gadis itu memandang sendu ke depan, tatapannya tampak sedih, ia bahkan membiarkan rambut coklat panjangnya yang diikat satu tertiup angin.

Langkah selanjutnya gadis itu menghela napas panjang, lalu mengangkat botolnya, bersiap meminum isi dari botol tersebut. Luhan melangkah lebar menuju gadis itu, dan saat sudah cukup dekat, Luhan baru bisa membaca jelas label yang tertera di permukaan botol tersebut.

Luhan panik.

 

“NONA!! KAJIMA!!”

Dengan satu gerakan cepat, Luhan menghempaskan botol tersebut dari tangan gadis itu. Gadis itu sama sekali tak sempat mengantisipasi gerakan Luhan. Botol itu terhempas dari tangannya dan jatuh ke atas bebatuan jalan. Isinya yang berwarna putih jernih tumpah. Gadis itu kehilangan kata-kata menatap botol yang tadi hampir ia minum isinya itu.

Beberapa pasang mata pengunjung yang lain tampak memandang aneh ke arah mereka. Ada diantara mereka yang berbisik-bisik, mencoba menerka apa yang terjadi. Luhan tak mempedulikan itu, ia hanya terengah-engah menyadari apa yang baru saja terjadi.

Gadis tadi hampir saja bunuh diri, andai saja Luhan terlambat menghentikannya.

Gadis tadi menghapus kasar airmata yang meleleh di pipinya. Ia menangis tanpa suara. Perasaan kacau penuh melingkupinya. Ia bangkit dari kursi itu dan mencoba melangkah pergi. Tapi kurang cepat karena Luhan sudah menahan tangannya sebelum ia sempat melangkah.

Gadis itu menolehkan kepalanya dengan refleks pada Luhan, Luhan pun bersiap akan menerima seruan marah dari gadis itu. Setidaknya Luhan berhasil menyelamatkannya dari tindakan bodoh gadis itu. Namun saat mata mereka bertemu, semuanya tak seperti yang Luhan bayangkan.

 

“Melanie…?!”

 

 

Melanie duduk di hadapan Luhan kini. Mereka duduk dalam hening. Luhan hanya bisa menatap Melanie. Tangan gadis itu gemetar hebat, terlihat dari caranya saat menggenggam cangkir cokelat panas itu.

Melanie menyesap cokelat panas itu pelan. Tak sampai banyak ia sudah meletakkan cangkir itu lagi ke atas meja. Luhan melihat isinya masih penuh, hanya berkurang sedikit.

Luhan menghela napasnya, ia menatap Melanie. Sedangkan yang ditatap tak berani menatap balik Luhan. Ia masih gemetar dan pandangannya membentur lantai di bawah.

 

“Melanie,” panggil Luhan, ia menatap lurus-lurus pada gadis yang ada di hadapannya itu. Namun gadis itu tak mau membalas panggilannya, apalagi hanya sekedar mengangkat wajah tertunduknya.

 

“Melanie, jawab aku.”

 

Melanie sedikit ciut mendengar nada bicara Luhan yang mulai tegas dari sebelumnya. Perasaanya masih kacau. Ia meruntuk dalam hati, mengapa saat ini Luhan tak peka lagi hatinya saat melihat keadaan dirinya sekarang.

Hampir bunuh diri, dan sekarang malah dipaksa menerima ketegasan.

 

“Melanie, lihat aku sekarang.”

 

Melanie tak mampu lagi terus-terusan menyembunyikan wajahnya dari Luhan. Maka perlahan ia mulai mengangkat wajahnya, hingga akhirnya kini mata mereka bertemu. Melanie masih menatap Luhan takut-takut, sedangkan Luhan menatap Melanie dengan tegas.

 

“Mianhaeyo,” ucap Melanie lirih. Ia kembali tak sanggup menatap Luhan lama-lama.

“Kau tak perlu minta maaf padaku. Bunuh diri itu kesalahan yang bukan kau lakukan padaku, oke?” balas Luhan. “Tapi minta maaflah pada dirimu sendiri. Kau hampir saja membakar semua isi perutmu dengan cara menenggak cairan pemutih itu. Kau tidak pernah tahu itu, ya?”

Melanie hanya menggeleng pelan sebagai jawaban dari semua kata-kata Luhan. Ia tak tahu pasti harus menjawab apa lagi. Berbagai masalah kembali berkumpul lagi di kepalanya, seakan berteriak-teriak dan membuat Melanie semakin pusing.

 

“Hal bodoh apa yang membuatmu ingin menghilangkan nyawamu sendiri?” pertanyaan Luhan kali ini sungguh berat untuk Melanie jawab. Ia hanya terdiam, semakin ciut hanya untuk sekedar menatap mata Luhan. Apalagi mengingat alasannya yang sama sekali tidak rasional.

Bahkan kini Melanie membenci, mengapa ia bisa punya pikiran sebodoh itu untuk membunuh dirinya sendiri. Demi hati yang selama ini bahkan tak pernah dipedulikan.

 

Melanie menggeleng lemah, tak tahu harus menjawab apa. Gadis itu menahan bibirnya untuk terisak, walaupun itu adalah hal yang paling diinginkannya sekarang.

 

“Melanie…”

 

Melanie mengabaikan panggilan Luhan. Tanpa terasa ia membiarkan tangisannya tumpah. Dan Luhan bisa mendengar itu.

 

***

 

Senin itu Luhan sengaja pulang lebih awal. Ia hanya berpesan pada Sohee agar mencatat semua pesan yang tertinggal saat ia pergi. Gadis dibalik meja itu hanya mengangguk patuh, walau matanya menatap Luhan heran saat ia pergi. Tak biasanya Luhan mau menginggalkan pekerjaannya seperti ini. Tapi gadis itu tentu tak berani bertanya.

 

Di waktu menjelang sore ini adalah janji pertemuan antara Luhan dan gadis bernama Park Chorong itu. Chorong tak mau Luhan menjemputnya ke rumah, ia meminta sendiri ia yang akan pergi ke kantor Luhan. Dan kini Luhan sudah bertemu dengan gadis itu. Gadis yang sekarang duduk di sebelahnya dengan pandangan tertunduk.

 

“Luhan-ssi…”

 

Luhan menolehkan kepalanya mendengar panggilan kecil Chorong. Gadis itu membalas tatapan Luhan dengan ragu.

“Boleh aku minta tolong padamu?”

 

“Tentu saja.” Jawab Luhan ringan dengan senyumnya.

 

“Aku ingin bertemu dengan Jinyoung… Kau bisa mengantarku ke tempatnya?” pinta Chorong pelan.

Luhan mengerutkan kening. “Jinyoung? Nuguya?”

“Dia…” sejenak Chorong tak melanjutkan kalimatnya. Ia menundukkan kepalanya semakin dalam. “Dia mantan kekasihku…”

Luhan memandang Chorong, lalu tersenyum. “Arasseo. Nanti kau sebutkan saja alamatnya dimana,”

“Tapi tolong kau rahasiakan jika kita pergi kesana…” sahut Chorong lagi. “Eomma tidak suka aku berhubungan dengan Jinyoung lagi,”

 

 

Luhan hanya terdiam di kejauhan saat melihat Chorong melangkah sendirian diantara nisan. Ia lebih memilih berdiam di jalan, tak mengikuti Chorong, setelah tahu tempat apa ini. Ingatannya masih belum lupa saat empat tahun lalu ikut mengantarkan raga seorang gadis, yang ia cinta tanpa bisa lagi ia harap untuk dimiliki.

Tempat ini masih sama persis. Dan rasa saat Luhan kembali berdiri disini juga nyaris sama. Rasa sesak itu kembali terasa dari luka hati Luhan yang belum sepenuhnya sembuh dilewati masa.

 

“Luhan oppa…?” panggilan itu menginterupsi Luhan dari sakit hati yang seakan menggerogoti lukanya lagi. Terlebih saat menyadari siapa pemilik suara itu. Gadis yang sama dengan yang ia temui beberapa hari yang lalu.

“Melanie?”

 

Gadis berambut cokelat gelap itu tersenyum simpul. Agaknya ia sudah bisa tersenyum dan melupakan tindakan bodoh yang nyaris merenggut nyawanya itu.

“Apa yang oppa lakukan disini?”

 

Suara gemerisik daun kering yang terinjak mengaburkan tema obrolan mereka sesaat. Kedua orang itu sama-sama menoleh, menemukan sosok Chorong yang kini sedang berjalan pelan mendekati mereka. Memandang mereka dengan rasa penasaran yang polos.

Tatapan Melanie tertuju pada Chorong. Tak tajam memang, namun garis mata tebal yang dimiliki gadis itu cukup membuat Chorong merasa jika gadis berambut cokelat tua itu tak senang bertemu dengannya.

 

“Baru saja aku berkunjung ke makam Stella,” sahut Melanie pada Luhan, datar. Sejenak ia melirik pada Chorong. Mulai sinis dan membuat Chorong merasa semakin tak enak hati.

Gadis itu berhenti di jarak yang tak terlalu dekat dengan mereka. Ia menunduk dan meremas kecil ujung dress berwarna karamelnya, tak berani mencuri apalagi merusak pertemuan Luhan dengan gadis bernama Melanie itu.

 

Luhan terdiam tak mampu merespon kata-kata Melanie. Ia menghela napas sesaat. Melanie memicingkan matanya.

“Oppa pergi kesini bersama gadis itu?” Melanie melempar pandangannya pada sosok Chorong yang tak mau menemui matanya.

Luhan mengangguk kecil.

“Jadi gadis seperti itu yang oppa pilih sebagai pengganti sepupuku?”

 

Pertanyaan sakratis Melanie berhasil membuat Luhan menadang tajam pada Melanie. Pandangannya berubah, tak lagi seperti sebelumnya.

“Apa maksudmu?”

 

“Semenjak aku menyampaikan pesan terakhir Stella, aku tak pernah bertemu dengan oppa lagi. Kecuali siang itu. Empat tahun berlalu, dan aku sama sekali tak tahu kalau oppa bahkan sudah secepat itu menghapus bayangan Stella. Tadinya kukira oppa sangat mencintai Stella, tapi ternyata…”

 

“Tahu apa kau soal perasaanku pada Stella?” potong Luhan dengan emosi yang mulai tersulut. Melanie terdiam.

“Apa selama ini kau tahu jika aku mati-matian berusaha tidak mengingat Stella lebih dalam lagi? Tapi semuanya sia-sia, kau tahu itu, hah?” lanjut Luhan dengan cepat. Ia memandang Melanie tak mengerti lalu berjalan menghampiri Chorong.

“Ayo, Chorong-ah. Kita pergi saja dari sini.”

 

Chorong mengangguk dan langsung mengikuti langkah Luhan meninggalkan tempat itu. Ia berjalan masih dengan kepala menunduk, takut lagi-lagi menemukan mata tajam Melanie yang menatapnya tak suka. Gadis itu memang terlihat jauh lebih muda darinya, alasan lain mengapa Chorong tak suka diperlakukan begitu.

 

Luhan mengemudikan mobil tanpa berkata apa-apa. Chorong semakin tak enak hati, apalagi melihat raut wajah Luhan yang masam. Ia ingin membuka suara, namun takut semakin memperburuk suasana.

 

“Luhan-ssi…” panggil Chorong pelan. Luhan hanya menggumam, tanpa menoleh pada Chorong.

“Luhan-ssi, bisa kau mampir ke kedai kopi sebentar? Aku perlu bicara denganmu…” pinta Chorong lagi.

Luhan melirik Chorong sesaat. “Maaf, Chorong-ah. Saat ini suasana hatiku sedang tidak enak,”

“Tapi ini menyangkut tentang kakakku.” sahut Chorong akhirnya.

Luhan melirik Chorong lagi, lalu ia mencoba tersenyum kecil. “Kau bilang surat itu kesalahan? Kau bilang, kau tidak punya kakak?”

“Sebenarnya… Aku punya…” sahut Chorong pelan. “Tapi sekarang, tak ada satupun diantara keluarga kami yang tahu ia dimana…”

 

 

“Jinyoung adalah kekasihku semenjak aku masih SMA. Ia lebih muda 8 bulan dariku, itulah sebab mengapa aku tak memanggilnya dengan sebutan oppa. Dia adalah cinta pertamaku. Tapi seperti kisah cinta di drama, kau pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi,”

 

“Memangnya apa? Aku tak suka menonton drama, jadi aku tak tahu,”

 

“Neo.” Geram Chorong sambil tersenyum jengah. “Kisah cintaku tak disetujui oleh eomma dan oppa. Jadi selama 2 tahun aku berpacaran dengan Jinyoung, tak sekalipun aku berani menceritakan itu pada eomma dan oppa.”

 

“Lalu bagaimana dengan appa-mu?” Tanya Luhan, lalu menyeruput french latte dalam cangkir putihnya.

 

“Ia tak pernah tahu apapun.” Jawab Chorong sambil mengaduk-aduk chocochino miliknya. “Hanya eomma dan oppa yang tahu bahwa aku berpacaran dengan Jinyoung. Itupun ditentang keras oleh mereka.”

 

“Memangnya kenapa mereka tidak menyukai Jinyoung?” Tanya Luhan lagi. Menurutnya kisah cinta masa lalu Chorong terdengar melankolis, seperti dongeng Romeo and Juliet, menarik menemukan kisah nyata itu dari sosok gadis yang ada di depannya sekarang.

 

“Molla.” Jawab Chorong. “Tapi eomma tak pernah turun langsung untuk memisahkan aku dan Jinyoung. Eomma selalu menyuruh oppa-ku, Park Sanghyun.”

 

“Kau tahu dimana Sanghyun sekarang?” Tanya Luhan lagi.

 

Chorong menggeleng lemah. “Tapi kurasa kutahu apa yang membuatnya pergi.”

 

“Apa?”

 

“Ia dikejar rasa bersalahnya sendiri.” Sahut Chorong sambil tersenyum pahit. Luhan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Chorong. Tapi sebelum Luhan bertanya, ia sudah melanjutkan kalimatnya lagi.

“Jinyoung meninggal gara-gara dia.”

 

“Aigoo, apa yang ia lakukan?” Luhan semakin bingung.

 

“Sanghyun oppa menipu Jinyoung. Ia bilang aku dikirim pergi ke Jepang agar Jinyoung tak bisa menemuiku lagi. Jinyoung memaksakan untuk pergi ke bandara, namun dia kecelakaan saat pulang dari sana. Mungkin ia kira aku sudah pergi, dan ia kecewa mengapa ia tak bisa mengucapkan selamat tinggal padaku…” cerita Chorong. “Ia salah. Justru aku yang kecewa. Ia pergi duluan dariku, dan aku yang tak sempat mengucapkan selamat tinggal.”

 

Luhan terdiam. Namun ia sedikit kaget saat melihat airmata Chorong meleleh. Ia cepat-cepat menyodorkan tisu yang ada diatas meja pada Chorong.

“Kutahu kau bersedih. Aku melihat airmatamu itu. Ayo cepat hapus, kita disini untuk saling bertukar cerita, bukan untuk saling menyesali masa lalu,” sahut Luhan sambil tersenyum.

Chorong menerima tisu itu lalu balas tersenyum. Ia menghapus airmatanya.

 

“Arasseo. Sudah puas dengan ceritaku?” Tanya Chorong sambil tersenyum, suaranya terdengar sedikit aneh selesai menangis.

Luhan mengangguk.

“Berarti sekarang giliranmu. Ayo, ceritakan tentang masa lalumu.” Sahut Chorong. “Termasuk gadis tadi. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya,”

 

Luhan menghela napas bersiap memulai ceritanya. Itu berarti mau tak mau ia akan membuka lagi luka lama itu. Sebenarnya berat, namun itu sudah perjanjian awalnya dengan Chorong saat pertama kali tiba di kedai kopi ini. Chorong sudah mau membuka luka lamanya lagi, kenapa Luhan harus ingkar janji?

 

“Jadi empat tahun yang lalu, aku masih seorang anak kuliah…” Luhan memulai ceritanya. “Dan aku memiliki seorang yeojachingu bernama Stella Wang, gadis yang lebih muda 5 tahun dariku. Dulu ia adalah stalker-ku, itu adalah awal dimana ia bisa menjadi yeojachingu-ku.”

 

“Lalu?”

 

“Tidak seperti pasangan kekasih lain yang biasa menghabiskan waktu bersama, aku dan Stella berbeda. Semenjak aku mendapat beasiswa di Korea dan ia pindah menyusulku, kami tak bisa seperti itu lagi.” lanjut Luhan.

 

Chorong mengerutkan keningnya. “Kenapa? Apa menjadi foreign student membuatmu sangat sangat sibuk?”

 

Luhan menggeleng. “Bukan.”

 

“Lalu kenapa?” Tanya Chorong lagi.

 

Luhan tersenyum pahit. “Karena yeojachingu-ku itu adalah pengidap Sleeping Beauty Syndrom…

 

“Apa itu?” kini giliran Chorong yang dibuat bingung dengan cerita Luhan.

 

“Sebuah sindrom dimana kau tak bisa hidup dengan pola tidur yang normal. Pola tidurmu yang aneh memaksamu untuk tak bertemu dengan banyak orang yang kau kenal. Kau hanya terjaga dalam jangka waktu singkat, selebihnya kau akan teridur panjang tanpa sebab yang jelas.” Jelas Luhan.

 

“Sindrom seperti itu benar-benar ada?” Tanya Chorong heran.

 

“Tentu saja. Sindrom itu yang telah membuat Stella pergi meninggalkanku.” Jawab Luhan. Ia menghela napasnya dalam, rasa sesak itu kembali terasa. Ingatan akan video terakhir yang Stella buat untuknya terputar kembali dalam memorinya.

“Kau tak perlu tanya bagaimana bisa ia meninggal dengan cara seperti itu. Karena aku juga tak tahu. Ia pergi begitu saja. Saat aku selesai kuliah, aku hanya diberitahu jika ia sedang kritis. Dan setelah sampai disana, yang aku dengar malah berita buruk semacam itu,” lanjut Luhan.

 

Chorong mengangguk-angguk tanda mengerti. “Oh! Lalu bagaimana dengan gadis yang mengajakmu bicara saat di pemakaman tadi? Siapa dia?”

 

“Uhm, ne,” sahut Luhan. “Dia Melanie Lee. Sepupu Stella yang tinggal di Korea. Dia seusia dengan Stella, dia adalah satu-satunya sahabat yang Stella miliki seumur hidup, dan dia juga adalah orang yang menyampaikan barang-barang terakhir yang Stella titipkan untukku.”

 

“Tapi tampaknya… Dia tidak suka padaku, ya?” gumam Chorong sambil menunduk sedih. Ia masih ingat bagaimana cara Melanie memandangnya tadi.

 

“Jangan anggap begitu,” sahut Luhan ringan. “Ia hanya curiga kalau aku sudah melupakan Stella. Padahal sama sekali tidak seperti itu.”

 

“Jadi?”

 

“Seumur hidupku aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah menghapus kenanganku bersama Stella. Dia adalah bintang terindah yang pernah aku miliki untuk pertama kali. Sesuai dengan namanya. Stella. Bintang.” Ujar Luhan. Ia tersenyum lalu menghabiskan french latte yang masih tersisa dalam cangkirnya.

 

“Aku setuju jika masa lalu itu harus dikenang.” Sahut Chorong lalu menudukkan kepalanya sedikit. “Tapi bukan berarti kita harus terus hidup dalam bayang-bayang takut kehilangan seperti itu lagi.”

 

***

 

Gadis itu sudah terbiasa sendiri. Ia memang tipikal orang yang tak suka menceritakan masalahnya pada orang lain, ditambah lagi ia hanya sebatang kara tinggal di kota besar itu. Semua keluarganya kini tinggal di Amerika.

Sudah berulang kali gadis itu diminta pindah menyusul saja ke Amerika. Namun gadis itu tak jua mau menurut. Ada patok yang masih menahannya untuk tinggal di Seoul lebih lama lagi.

 

 

Luhan oppa adalah sosok namja yang baik hati dan lembut. Ia sangat menyayangiku. Ia adalah namja yang benar-benar tahu bagaimana caranya mencintai. Aku bahagia karena telah dipertemukan dengannya, dan menjadikan aku miliknya yang bisa terus ia jaga…

 

Aku sakit. Aku tahu penyakit ini tak akan bisa membuatku bertahan lama. Tapi aku tak pernah takut saat penyakit ini datang kambuh lagi, walaupun aku harus menutup mata dan meninggalkan semua orang yang kucintai diluar sana. Karena aku tahu mereka menyayangiku. Mereka akan terus ada untukku. Menungguku sampai aku membuka mata lagi.

 

 

Melanie tak sadar sudah berapa kali ia membolak-balikkan halaman buku itu semenjak empat tahun yang lalu. Disetiap halaman yang menyebutkan nama satu-satunya namja yang dicintai oleh pemiliknya. Yang selalu menggoreskan tinta, melukiskan bagaimana ia mencoba bahagia ditengah penyakit yang ia punya, hanya dengan keberadaan orang-orang yang menyayanginya sepenuh hati, termasuk namja yang selalu disebutkan namanya di tiap halaman itu.

Xi Luhan.

 

Melanie mengakui jika pemilik buku itu pasti sudah mengenal Luhan lebih dalam jauh sebelum ia sendiri. Tapi sekarang ia tahu, memutuskan untuk mengenal Luhan lebih jauh setelah kepergian Stella adalah pilihan yang salah.

Melanie meraba pipi kanannya masih terasa nyeri saat disentuh. Merah itu sudah hilang, namun luka yang ia simpan dalam hati tak akan pernah bisa hilang semudah itu.

 

Masih ia ingat malam itu. Malam dimana ia bertengkar hebat dengan Aron, mantan namjachingu-nya yang telah menorehkannya luka itu. Ia mengakui, memang semuanya bukan murni kesalahan Aron. Aron semarah itu juga karena ulahnya. Mereka berdua sama-sama terluka malam itu.

Melanie mengerti betapa terlukanya Aron saat malam itu telah berupaya jauh-jauh hari sebelumnya demi menyiapkan acara itu. Malam itu Aron melamarnya, tapi ironisnya Melanie tak bisa menerima itu. Ingatan tentang deskripsi Luhan yang ia baca di buku harian Stella mengusik pikirannya. Membuatnya tak sengaja berucap jika ia tak bisa menerima lamaran Aron karena sosok Luhan.

Mereka bertengkar malam itu. Aron tak bisa menerima saat Melanie terus-terusan berusaha menutupi siapa Luhan yang ia maksud. Sedangkan Melanie tak mau Luhan ikut terjebak dalam masalahnya, padahal namja itu bahkan sama sekali tak tahu apa-apa.

Dan saat itulah Aron refleks menampar Melanie. Melanie tercekat merasakan rasa panas itu serasa membakar pipi kanannya. Melanie tahu Aron menyesal atas tindakannya, namun namja itu terlihat susah hanya untuk sekedar mengucapkan maaf. Melanie tahu jika itu sudah saatnya mereka berpisah. Maka tanpa kata lagi Melanie meninggalkan Aron, Aron juga tampak kehabisan kata-kata untuk bicara pada Melanie.

 

Dan itu adalah akhir dari semua kejenuhan selama ini. Semuanya sudah berakhir dan tak ada yang bisa diperbaiki lagi.

Adalah kesalahan Melanie karena telah menyukai Luhan, setelah kepergian Stella. Hal yang seharusnya tak boleh ia lakukan. Terlebih lagi saat beberapa hari yang lalu Luhan malah menyelamatkannya dari upaya bunuh diri, Melanie merasa bahwa perasaan bodohnya ini semakin menjadi. Dan puncaknya saat tempo hari, saat Melanie dengan nyata menampakkan kebenciannya saat bertemu dengan gadis yang ada bersama Luhan. Ironisnya Melanie malah mengatasnamakan kebencian itu dengan pertanyaan akan kesetiaan Luhan pada Stella.

Melanie tak tahu mengapa ia melakukan itu. Ia merasa telah mengkhianati 3 orang. Stella, Aron dan Luhan. Melanie berharap ada seseorang yang bisa membantunya keluar dari perasaan ini. Melanie tak bisa mencegahnya. Tapi Melanie juga tak bisa memungkiri bahwa ia mulai jatuh hati pada Luhan, meskipun namja itu bukanlah orang yang seharusnya.

 

Masih diingatnya dengan baik, saat dulu Stella banyak menceritakan padanya soal namja yang ia cintai, Xi Luhan. Selama itu pulalah betapa penasarannya Melanie pada sosok Luhan, karena selama Stella banyak menceritakan soal Luhan, Melanie belum sekalipun pernah bertemu dengan Luhan. Baru saat di rumah sakit, saat Stella diberitakan kritis, Melanie bisa bertemu dengan Luhan. Itupun karena ia teringat keinginan Stella untuk memberikan Luhan sekotak barang-barang yang sudah ia persiapkan sejak jauh hari. Melanie teringat begitu saja saat tak sengaja melihat kotak itu ada diatas meja dalam kamar Stella.

 

Sejak kecil ia sudah mengenal bagaimana sosok Stella Wang. Kemalangan sudah dimilikinya sejak kecil. Adalah bukan suatu keberuntungan penuh saat ia mendapat darah American dari ayahnya. Saat usianya masih 8 tahun, ayah Stella pergi begitu saja meninggalkan Stella dan ibunya untuk kembali ke negara asalnya. Hal itulah yang membuat nama belakang Stella berganti menjadi marga China, karena ia mengikuti marga ibunya.

Belum lagi soal penyakitnya. Mereka menghadapi semua itu hanya berdua. Stella adalah anak tunggal, begitupun dengan Melanie. Jadi mereka saling mengandalkan satu sama lain sebagai teman bercerita.

Bahkan saat Stella meninggal, ayahnya tak sempat datang dan hanya menyampaikan ucapan belasungkawa lewat e-mail. Sebagai salah satu orang yang menyayangi Stella seumur hidupnya, Melanie sempat merasa benci pada ayah Stella. Walaupun pada kenyataannya ayah Stella adalah pamannya yang sebenarnya, karena ayah Stella bersaudara dengan ibu Melanie. Mereka sama-sama berdarah American. Dari ibunya pun Melanie tahu, saat ini ayah Stella bahkan tak diketahui dimana keberadaannya oleh keluarga mereka di Amerika.

Karena tugas orangtuanya Melanie tinggal di Beijing sejak kecil, membuatnya benar-benar dekat dengan Stella. Mereka juga sempat satu sekolah dulu. Saat Stella menyusul Luhan pindah ke Seoul, Melanie juga memutuskan pindah ke Seoul. Sama sekali bukan karena Luhan pada awalnya. Ia ikut menyusul Stella ke Seoul karena murni perasaannya sebagai sepupu sekaligus sahabat terdekat yang pernah Stella miliki seumur hidup.

 

Melanie menghela napas panjang sebelum akhirnya benar-benar menutup lembaran buku itu. Ia memasukkan buku itu hati-hati dalam tas selempangnya. Dan saat berpaling itulah matanya menangkap sosok Luhan. Ia sedang berjalan sendirian, tak bersama gadis yang datang ke pemakaman tempo hari.

Melanie beranjak, mencoba mengejar langkah Luhan.

 

“Luhan oppa!”

 

Luhan mendengar namanya dipanggil dari arah belakang, jadi otomatis ia menolehkan kepalanya. Ia sedikit terkejut mengetahui bahwa itu adalah Melanie.

 

“Oppa,” sahut Melanie lagi setelah berhasil mensejajarkan pijakannya dengan Luhan. Ia tersenyum singkat pada Luhan, sambil berusaha mengatur napasnya yang masih tak beraturan.

“Oppa, maafkan aku atas kejadian tempo hari,”

 

Luhan terpana sesaat mendengar permintaan maaf Melanie dan tatapan tulus yang dipancarakan gadis itu. Gadis itu bahkan mengulurkan tangannya. Luhan menatap uluran tangan gadis itu.

“Ayolah, jebal, oppa… Aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh menyebalkan kemarin,” sahut Melanie lagi sambil tersenyum.

Luhan balas tersenyum pada Melanie dan menyambut jabatan tangan itu. “Ne, arasseo,”

“Gumawo, oppa!” sahut Melanie ceria. Dengan tiba-tiba ia memeluk Luhan, membuat Luhan membulatkan matanya saat menerima tindakan seperti itu dari Melanie.

 

Melanie terenyum dan memejamkan matanya sesaat dalam pelukan Luhan. Entah bagaimana perasaannya saat ini.

 

Oh Tuhan, akankah pelukan sehangat ini yang selalu Stella rasakan dulu?

 

“Melanie…” sahut Luhan pelan.

“Eoh, mianhae, oppa,” sahut Melanie sambil melepaskan pelukannya pada Luhan. Ia tesernyum salah tingkah dan Luhan bisa melihat bawa pipi gadis itu merona. Luhan hanya tersenyum tipis.

 

“Sedang apa kau disini?” Tanya Luhan sambil melanjutkan langkah mereka bersama-sama.

“Aku selalu seperti ini setiap sore,” jawab Melanie sambil terkekeh pelan.

Luhan mengangkat alisnya. “Jinjja? Memangnya kau tidak kuliah?”

Melanie menggeleng pelan. “Aku sedang mengambil cuti kuliah.”

“Kau kuliah di jurusan apa?” Tanya Luhan antusias.

“Fotografi,” jawab Melanie dengan senyum yang terkembang.

Luhan memandang Melanie, dan akhirnya baru tersadar dengan keberadaan sebuah kamera SLR yang menggantung di leher gadis itu.

“Oh, astaga, aku bahkan baru sadar kau membawa kamera,” keluh Luhan lalu tergelak. Melanie ikut tergelak.

 

“Jadi kau mahasiswa fotografi?” Tanya Luhan lagi.

Melanie mengangguk. “Ne. Yonsei University.”

“Jinjja?” Luhan membelalak. “Hei, aku juga alumni Yonsei. Aku fakuktas hukum,”

“Jinjja?” Tanya Melanie balik.

 

Sebenarnya aku sudah tahu kau alumni Yonsei, oppa. Tertulis jelas di buku harian Stella yang kubaca. Aku sengaja kuliah disana juga, oppa. Maaf ya, aku tak menceritakan ini padamu…

 

***

 

“Hei, kawan! Apa kabar?” sapa Luhan saat Himchan akhirnya datang juga. Namja itu balas menjabat tangan Luhan dengan senyum lebar lalu menuyusul duduk di dekat Luhan.

“Sangat baik sekali, kawan!” balas Himchan ceria. “Kau bagaimana?”

Luhan tersenyum tenang. “Aku juga baik-baik saja. Lama tak berjumpa, ya,”

“Hei, apa ini? Kau sudah memesan minumanku?” tunjuk Himchan pada secangkir cappuchino yang diantarkan oleh seorang pelayan.

Luhan tersenyum dan mengangguk.

“Daebak, kau masih ingat favoritku ternyata,”

“Tentu saja, Himchan-ah. Aku ini sudah jadi sahabatmu selama berapa tahun? Bagaimana mungkin aku tak kunjung hapal minuman apa yang selalu kau pesan setiap datang ke kedai?” ujar Luhan sambil menyeruput cangkirnya.

 

Himchan mengerutkan kening. “Hei, kau sudah berganti selera sekarang? Sejak kapan kau suka french latte?”

Luhan tertawa renyah mendengar protes Himchan. “Ah, ne. Aku lebih sering meminum ini sekarang,”

“Wae?” Tanya Himchan. “Bukankah kau suka moccachino karena Stella juga menyukainya?”

 

Luhan hampir tersedak minumannya saat Himchan mengingatkannya pada hal itu lagi. Moccachino. Stella menyukainya semasa hidup. Sekarang ia bahkan lebih sering memesan french latte saat datang ke kedai.

Bukankah pertama kali Luhan memesan french latte karena usulan Chorong?

 

Luhan menggelengkan kepalanya setelah ia tersadar telah cukup lama terlarut dalam pikirannya. “Aniya, Himchan-ah. Aku hanya ingin ganti menu saja,”

Himchan tersenyum samar mendengar jawaban Luhan. Entah mengapa, ia merasa Luhan mulai tampak aneh sekarang. Sebagai orang yang bertahun-tahun dekat dengan Luhan, bertahun-tahun tahu bahwa betapa Luhan mencintai Stella setengah mati, baru kali ini Himchan bisa merasa dengan jelas bahwa perasaan Luhan pada Stella tak utuh lagi seperti dulu.

Dari caranya menjawab pertanyaannya tadi, Luhan seakan tak mau memperpanjang lagi masa lalunya dan segala yang berhubungan dengan Stella.

 

“Kau sudah menemukan pengganti, ya?” Tanya Himchan to the point. Luhan membulatkan matanya menatap Himchan.

“Mwo?”

“Kau sudah menemukan gadis lain untuk mengganti posisi Stella di hatimu?” Tanya Himchan lagi dengan hati-hati. “Jujur saja padaku, Luhan. Katakan siapa dia. Siapa tahu aku bisa bantu menilainya,”

Luhan terdiam membeku. Sejurus kemudian ia tertawa. Caranya tertawa sedikit kaku dan salah tingkah, Himchan melihat itu bukan tawa Luhan yang biasanya.

 

“Beberapa kali aku mencoba ke kantormu. Tapi seringkali pula aku gagal menemuimu. Sohee bilang kau sedang rapat dengan client, tapi alasan satunya adalah… Kau pulang lebih awal,” cerita Himchan.

Luhan terdiam mendengarkan semua yang Himchan katakan.

“Aku mendesak Sohee untuk menceritakan kau pulang lebih awal karena apa. Awalnya ia tak mau memberitahu, tapi aku memaksanya, jadi jangan salahkan dia.” Sahut Himchan lagi. “Dia bilang kau sedang dekat dengan dua orang yeoja. Dan salah satunya, aku tahu ia Melanie. Melanie Lee, sepupu Stella.”

 

Luhan tersekat saat Himchan menyebutkan nama itu. Apalagi setelah Himchan melanjutkan kalimatnya.

“Kau… Kau kencan dengan sepupu mantan kekasihmu sendiri?”

 

Luhan terdiam membeku tak bisa menjawab apa-apa. Kata-kata Himchan sungguh sulit untuk ia balas. Karena itu kenyataan. Bayangan akan masa lalunya bersama Stella kembali terputar seperti roll film dalam memorinya. Luhan tertohok. Ia merasa bukan seperti dirinya yang dulu lagi. Ia bukan lagi sosok Xi Luhan yang mencintai Stella Wang secara utuh.

 

***

 

“Melanie, maaf… Aku tak bisa menjemputmu seperti janji kemarin sore. Aku ada keperluan penting yang mendadak.” Sahut Luhan dengan nada yang terburu-buru lewat sambungan telepon seluler.

Melanie menghela napasnya dan mencoba tersenyum, ia menyenderkan tubuhnya pada kursi tunggu rumah sakit.

“Ne, oppa. Gwenchana,”

 

Luhan tak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Tampaknya ia benar-benar sedang terburu-buru. Melanie bisa memaklumi itu. Ia yakin keperluan Luhan benar-benar penting, ia telah mengenal Luhan lebih jauh sekarang.

 

Melanie berjalan menuju loket apotek untuk menebus beberapa obat-obatan dokter yang diperlukannya. Beberapa hari ia sedang tidak enak badan, jadi ia memutuskan berobat hari ini. Tadinya Luhan sudah berjanji bisa menjemputnya setelah pulang dari rumah sakit. Mereka menentukan tempat janjian, sehingga Luhan tak langsung menjemput Melanie ke rumah sakit. Melanie bahkan tak bilang pada Luhan bahwa ia ke rumah sakit. Ia hanya minta jemput, itu saja.

 

Selesai dengan segala administrasi, Melanie berjalan menuju pintu utama rumah sakit dan berniat mencari taksi. Namun tepat saat itu juga ia berpapasan dengan beberapa orang yang sedang sibuk mengevakuasi seorang pasien dari dalam mobil ambulans yang baru saja tiba. Langkah Melanie terhenti. Layaknya beberapa orang lain yang ikut tertarik dengan pemandangan seperti itu. Melanie memeperhatikan saat seorang ahjumma dan seorang namja usia duapuluhan keluar dari dalam ambulans itu, serta membantu mengeluarkan beker berisi gadis dengan kondisi tak sadarkan diri itu.

 

Sekelompok tenaga medis itu dengan sigap mendorong beker itu menuju ruang gawat darurat. Yang tersisa di belakang mereka hanya ahjumma yang sedang menangis pilu itu sambil dipapah namja yang datang bersamanya. Namja itu berusaha menenangkan ahjumma itu. Melanie masih memperhatikan mereka.

 

Sampai akhirnya namja itu mengangkat wajahnya, berusaha menyusul langkah ke ruang gawat darurat. Melanie tercekat melihat wajah namja itu.

 

Itu Luhan, kan?!

 

***

 

Melanie mengemasi semua pakaian yang ia miliki ke dalam koper besar miliknya. Juga beberapa dokumen dan barang-barang penting baginya. Sisanya ia tinggalkan, ia akan mengemasi mereka juga suatu saat nanti. Wajah gadis itu berurai airmata saat mengemasi semua pakaiannya.

 

 

 

Melanie melangkah pelan mendekati ahjumma dan namja di koridor ruang tunggu itu. Ia menyembunyikan setengah tubuhnya di balik tembok tikungan lorong. Namun itu cukup dekat supaya ia bisa melihat dan mendengar pembicaraan mereka.

 

Melanie bisa melihat jelas bagaimana ekspresi Luhan saat itu. Ingatannya kembali terlempar ke kejadian empat tahun yang lalu. Kondisi yang sama, dan mereka memerankan perannya masing-masing dengan sempurna. Ada seorang gadis yang sekarat di dalam sana, serta ibunya dan kekasihnya yang menunggu frustasi di lorong. Melanie selalu datang sebagai orang ketiga. Orang yang tak bisa berfungsi banyak selain menyaksikan itu semua.

 

“Chorong harus dioperasi, Luhan-ssi… Dia tak bisa bertahan lebih lama lagi…” isak ahjumma itu. Luhan menggelengkan kepalanya frustasi.

“Tidak, Nyonya Kang… Chorong pasti bisa bertahan, Nyonya jangan bicara seperti itu. Kita semua mengharapkan kesembuhan Chorong,” ucap Luhan menenangkan ahjumma itu.

Ahjumma itu menggeleng keras. “Tidak, Luhan-ssi. Chorong bilang ia tak mau sembuh. Ia bilang tak ada gunanya lagi ia hidup kalau semua yang diharapkannya di dunia ini tidak bisa ia miliki…”

“Apa maksud anda, Nyonga Kang?”

“Chorong mencintaimu, Luhan-ssi…” sahut ahjumma itu bergetar. “Tapi ia tahu kau tak bisa ia harapkan untuk dimiliki, kau mencintai gadis lain…”

“Gadis Amerika itu…” isak ahjumma itu lagi. “Chorong tahu kau sering pergi bersamanya…”

 

 

 

Jadi selama ini Chorong menganggap Luhan mencintai Melanie, huh?!

 

Melanie menatap jejeran fotonya bersama Luhan yang ia tempelkan secara acak di dinding kamarnya. Dari cetakan tanggal digital yang tercantum di pojok bawah foto-foto itu, bisa dilihat bahwa semuanya diambil belum lama ini.

Melanie berjalan mendekati tempelan foto-foto itu, lalu mencabutnya satu-satu. Airmatanya terus mengalir. Ia meraih sebuah kotak yang terlertak diatas nakasnya. Ia memasukkan semua foto-foto itu ke dalam kotak.

“Semua ini sia-sia… Ini tak akan berhasil…” isak Melanie pelan.

Ia beranjak untuk memasukkan kotak itu dalam koper besarnya, saat matanya tak sengaja menangkap notebook milik Stella yang masih tergeletak dengan utuh di samping tas kamera SLR miliknya.

Airmata Melanie mengalir semakin deras.

 

***

 

Luhan mengerutkan keningnya saat pagi itu tak berhasil menghubungi Melanie lagi. Entah sudah berapa lama gadis itu tiba-tiba saja hilang dan tak pernah lagi bertemu dengannya. Apartemen sewanya juga sepi, dan tampaknya ia sudah pergi dari sana. Meskipun stiker kesayangan gadis itu masih tertempel di pintu apartemennya, tapi kelihatannya mustahil apartemen itu masih ditinggali olehnya.

Luhan berjalan menuju pintu depan apartemennya dan mengernyit bingung melihat sebuah bungkusan tergeletak dibawah lubang kecil di pintu untuk tempat memasukkan surat.

Luhan memungut bungkusan itu dan itu sama sekali bukan surat. Amplop itu berisi benda tipis bulat dan keras… DVD rekaman?

 

Luhan segera membuka amplop itu dan dugaannya benar. Ia menemukan sebuah DVD yang sepertinya memang sebuah rekaman. Ingatan Luhan terorientasi lagi pada ingatan tentang Stella, yang dulu selalu memberikannya rekaman dalam bentuk seperti ini. Siapa lagi yang tahu soal rekaman seperti ini?

Himchan?

Melanie?

 

Luhan bergegas memutar DVD itu dalam laptopnya.

Dan dugaannya lagi-lagi benar.

 

 

Annyeong, oppa…” sapa gadis half American itu pelan. Melanie Aurora Lee.

Matanya tampak sembab dan sedikit bengkak. Apa? Dia menangis?

 

Pertama aku minta maaf soal kepergianku yang tiba-tiba, aku tak meninggalkan pesan apapun pada oppa selain rekaman ini,” sahut Melanie dengan senyum patahnya. “Tapi oppa tak perlu khawatir. Aku aman. Aku akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri… Dan aku… Aku janji tak akan mencoba bunuh diri lagi, oppa,” Melanie mengakhiri sepenggal kalimatnya dengan senyum patahnya lagi. Alur airmata kembali tergambar dari matanya, turun ke bawah pipinya.

Aku pergi karena aku merasa bersalah, oppa… Aku merasa jahat pada Stella. Aku mengkhianatinya…

 

Luhan terdiam bingung mendengar kalimat Melanie. Mengkhianati Stella? Apa maksudnya?

 

Saat Stella pergi, aku langsung mengkhianatinya, oppa,” lanjut Melanie. Aku mencintaimu, oppa. Hal yang seharusnya tak boleh aku lakukan.”

 

Luhan terpana. Tapi ia melihat Melanie tesenyum getir disana.

 

Tapi itulah yang membuatku akhirnya sadar,” sahut Melanie lirih. “Aku tak boleh bersama oppa. Cintaku terlarang untuk oppa. Kuharap oppa tak membalas perasaanku, itulah yang kuharapkan sekarang walaupun mungkin tidak pada awalnya.”

 

Aku sudah bertemu gadis itu untuk beberapa kali, oppa,” ujar Melanie lagi. “Aku tak sempat mengatakan sapa yang baik padanya, satu-satunya kesempatan yang kumiliki waktu itu tak kumanfaatkan dengan baik. Aku malah menyapanya dengan kalimat kebencian, itulah yang membuatmu marah padaku. Iya kan, oppa?

Tapi aku baru tersadar kemarin, semua keadaan yang menimpanya benar-benar mengingatkanku pada Stella. Aku yakin dia sangat membutuhkanmu, oppa. Jauh lebih besar daripada aku membutuhkanmu. Dia gadis yang lemah, oppa. Dia harus kau jaga, sama seperti Stella…” ujar Melanie. Luhan tahu siapa yang dimaksud Melanie.

Kau tak sempat menjaga Stella selamanya, tapi kau bisa menjaga gadis itu selamanya, oppa. Cintai dia seperti kau mencintai Stella.”

 

Luhan tertegun mendengar kalimat yang Melanie ucapkan dengan senyum tulus itu. Luhan menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, bukan itu yang ia inginkan. Melanie tak tahu bahwa dalam hal ini tak ada seorangpun yang bisa ia pilih. Dan Luhan sudah memutuskan itu dengan telak.

 

Aku akan kembali ke Amerika.” Sahut Melanie lagi. Ia tersenyum untuk yang terakhir kalinya bisa Luhan lihat.

Goodbye, oppa…” gadis itu melambaikan tangan kanannya pada mata kamera yang masih terus merekam sosoknya. “Goodbye, Seoul.”

 

 

***

 

 

Luhan memutuskan untuk tidak memilih. Dan ia yakin itu adalah pilihan terbaik. Satu-satunya gadis yang pernah ada di pikirannya untuk dipilih adalah Stella, tapi gadis itu pergi meninggalkannya memenuhi panggilan takdir.

Takdir untuk tak bisa bersamanya.

 

Park Chorong bukan gadis yang bisa ia pilih. Walaupun Chorong mengakui cintanya, tapi keadaan gadis itu tak memungkinkan Luhan untuk memilihnya. Ia butuh seorang namja yang lebih kuat. Bukan namja seperti Luhan yang masih saja berputar-putar dalam masa lalunya. Masa lalunya yang pernah kehilangan gadis lemah yang gagal untuk ia jaga sepenuhnya, Stella Wang.

 

Melanie Aurora Lee juga bukan gadis yang bisa ia pilih. Melanie juga mengakui cintanya, tapi ia memutuskan untuk tak membiarkan rasa itu tumbuh lebih besar lagi karena ia menganggap cinta itu terlarang untuk ia rasakan. Hatinya selalu mengatakan cinta itu adalah bentuk pengkhianatan bagi satu-satunya sahabat sekaligus saudara yang ia miliki selama hidup, Stella Wang.

 

Dan disinilah Luhan sekarang. Luhan ada diambang dimana ia memutuskan untuk tak memilih.

Penerbangan menuju Beijing di hari pertama musim gugur ini akan menjadi cover penutup bagi segala kisahnya di Seoul.

Tentang masa kuliahnya.

Tentang persahabatannya dengan Kim Himchan (ini adalah pengecualian, ia akan terus bersahabat dengan Himchan).

Tentang penantiannya atas pola tidur Stella Wang yang aneh, tentang kenangan-kenangan terakhirnya bersama Stella yang terus terputar secara acak dalam benaknya layaknya putaran roll film romantis yang klasik.

Tentang kehancurannya saat kehilangan Stella.

Tentang betapa sulitnya ia lepas dari bayangan tentang Stella.

Tentang pertemuannya dengan Park Chorong dan Melanie Lee.

Tentang hari-hari yang telah Luhan lalui bersama mereka.

Berujung pada keputusan Luhan untuk hari ini. Ia akan pergi. Ia akan kembali.

 

Beijing.

 

Mungkin ia akan menginggalkan raga Stella yang terbaring damai di bawah bumi kota Seoul. Tapi semua ingatan tentang gadis itu akan tetap Luhan jaga. Apapun yang terjadi…

 

Goodbye, Seoul…

 

 

 

 

—END—

 

 

 

Huah, otte?

Akhirnya fic ini kelar juga~~ \^o^/

 

Apakah ceritanya kurang sedih? Kurang mewek ya pasti -.-

Terus ending nya juga…. Kurang gereget kah? Mian buat yang berharap bakalan tercipta pairing baru disini -,-

Author sengaja gak bikin pairing disini… Sengaja Luhan gak milih siapa-siapa, hohoho *-*)/

Soalnya kan Luhan milik kita bersama(?) *-*)/

 

Dan buat yang heran ke author kenapa bisa ini ceritanya panjang banget, jujur author juga gak tau kenapa bisa sebanyak ini ceritanya -.-

Semuanya mengalir gitu aja(?)😀

Tapi gimana sama feel nya? Masih berasakah diantara sekian banyak words yang author ketik disini?

 

Tapi buat yang masih kurang paham ama ceritanya juga boleh nanya *-*)/

 

Kutunggu komentarmuuuuuuuu *-*)//

 

39 thoughts on “Goodbye Seoul

  1. Aarrgghh.. Sad ending, luhan gak milih siapa2.. Tadinya sempet fikir kalau ntar endnya luhan sama chorong, tau2nya luhan gak pilih siapa2 -,- daebak thor🙂

  2. Bagus ceritanya thor. Kalo bisa dibikin chapter. Dicerita ini ga di jelasin siapa kakanya chorong. Terus perceraian eommanya chorong juga. Hehe ^^

    • halo chingu ^^
      maaf yah aku telat banget balesnya, kemaren abis hiatus panjang UAS -.-

      aaaaaaa chapter?
      this is not ending what you want(?) .-.
      aku kalo bikin cerita sengaja banyakan ending gantung chingu, biar penasaran(?)😀

      kakaknya chorong… park sang hyun?
      beneran gak tau nih?
      itu thunder mblaq😀
      aku sengaja nyantum2in nama sesama marga gitu, hihi😀

      makasih ya kunjungannya🙂

  3. Dhea~~~ awas kamu ya.. Jahat bngt kamu dhe.. Aku nangis nih ahh tanggung jawab T.T
    huhu endingnya demi apapun nyesek banget.. Gak tau kenapa, aku kaya ngerasain banget gimana rasanya jadi Luhan ㅠㅠ
    Pas baca yg scene luhan nya ke beijing, yg abis liat video melanie.. Itu udah mulai nyesek,, dan bener2 nangis pas baca kalimat terakhir “Goodbye, Seoul”😥 tp gak tau knapa aku jg malah jd aku yg ngerasa ditinggal luhan masa hihihi 😄

    Sblmnya maaf ya aku baru komen skarang, ini telat banget (/-\)
    Malem kmaren pas km baru bales itu aku lg baca ini, pas udah baca semua, ehbpas mau komen jaringannya buruk bngt dan gagal trs smpe 2x.. Jd baru bisa komen skarang.. Hehe maafin ya :3

    Hey.. Giliran baekhyun kan abis ini… Jangan lupa kasih tau ya hoho *jalur vip😉 *

    Kata terakhir utk sequel ini.. “PERFECT”😀

    • halo shintia ^^

      aaaaa~ uljima shin😦
      mian kalo kamu sampe nangis, huhuhu😦

      nah iya… feel nyeseknya itu….
      luhan hampir move on, tp gak jadi….. huhuhu😦

      hahaha, iya gapapah…
      imajinasi bebas😀
      selama pake OC, bebasin ajaaa😀

      hoho, iya gapapa shin🙂
      makasih ya udah komentar juga, haha😀

      iya sip, abis ini baek.. ditunggu aja yah😀

      ahahaha, iya shin… terimakasih ya🙂

    • halo ^^

      unpredictable ending kah? hohoho😀
      sebenernya udh aku kasih clue di awal chingu, quotes nya ^^
      itu merujuk ke keputusan buat mengakhiri semua kan, jadi gak ada yg dipilih, hehe😀

      hoho, engga chingu.. mian yah?
      biar adil disini luhan gak milih siapa2 aja😀

      okeh, terimakasih🙂

  4. annyeong ^^ aku kira sleep well my star gaada sequelnya.. Eh ternyata ada, dan daebak!! Wkwk disini lebig banyak yang tersakiti yahh :’D dan feelnya bner” dapet thor. Keep writing yaa!!😉

    • annyeong ^^

      hohoho, ada kok😀
      soalnya buat sleep well my star udah aku siapin sequel nya, hehe😀

      hoho, makasih daebak nya ^^
      iyap, disini konfliknya lbh banyak..
      syukur deh kalo feel nya beneran dapet, hehe ~

      terimakasih ya🙂

    • halo pembaca setia, hoho ^^

      haha aigoo, mau request sequel lagi?:-o
      ini udah sequel loh chingu ._.
      sequel yg kai aja blm aku buatin ._.
      msh kepengen liat happy ending yah? hohoho😀
      ini udah final(?) chingu, biar adil luhan gak milih siapa2 deh😀

      mian yah?

      hohoho, tapi terimakasih yah🙂
      mungkin di versi member yg lain kamu bakal ketemu yg happy ending😀
      hohoho~

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s