Love Eyes

LOVE-EYES

Title                 : love eyes

Cast                 : Park Chanyeol

Park Jiyeon

Author             : Shyyinee05 (Ondubu_2806)

Genre              : Romance

 

 “Your eyes is my love and is my life”

 

Suasana bandara Incheon siang itu tampak ramai seperti biasanya. Sama seperti bandara internasional lainnya di seluruh dunia, bandara yang terletak di bagian barat kota Seoul ini tak pernah mati. selalu ramai entah itu dari para wisatawan asing yang ingin berlibur ke korea, ataupun penduduk lokal yang akan berpergian ke luar negeri. Tetapi dari sekian jenis manusia yang ada di bandara itu, hanya satu orang yang menarik perhatian—seorang lelaki tampan—bertubuh tinggi—yang mengenakan jaket hitam di tambah kaos putih dengan celana jins panjangnya menambah kesan cool pada lelaki itu, dan tidak ketinggalan dengan kaca mata hitam yang bertengger menutupi matanya. Gadis manapun yang melihatnya pasti akan menjerit histeris dengan ketampanannya.

Lelaki itu—Park Chanyeol—melangkahkan kakinya menuju pintu kedatangan seraya headset yang setia menempel di telinganya. Di rogohnya handphone miliknya dari balik saku celana panjangnya, setelah itu jemari panjangnya menari bebas di atas layar taouchscreennya. Setelah menekan nomor yang di hafalnya di luar kepala, segera ia tempelkan handphone tersebut di telinganya sesaat setelah headseat yang ada di sebelah kanannya itu ia lepaskan.

Jawaban yang ia inginkan dari nomor yang di hubunginya tak kunjung menjawab hingga kini ia telah berada di ruang tunggu bandara. Sudah kesekian kalinya ia menghubungi ayahnya tapi tetap saja tak ada jawaban, sehingga ia beralih menghubungi ibunya berharap panggilannya kali ini terjawab.

“Aisshh”

Iapun mendesah kesal manakala kedua orang tuanya tak menjawab sama sekali panggilan darinya. Oh, Tuhan orang tua mana yang tega menelantarakan anaknya seperti ini? Gumamnya dalam hati. Apa sesibuk itukah kedua orang tuanya sehingga mereka tak ingat bahwa anak lelakinya hari ini pulang, setelah lima tahun lamanya Chayeol menimba ilmu di negeri paman sam?.

Lelaki itu merebahkan tubuhnya di atas sofa berwarna coklat di ruangan itu. Di sandarkan kepalanya di sandaran sofa itu seraya membuka kaca mata hitamnya dan sedikit memijat keningnya yang terasa pening karena perjalanan yang cukup lama dari Amerika ke Korea.

Suara getaran yang berasal dari kantong celananya membuat dirinya sedikit terkejut, dan membuatnya membuka matanya yang sempat terpejam sejenak guna mengurangi rasa pening di kepalanya. Di bacanya pesan singkat yang terdapat di ponselnya.

Maafkan ayah dan ibu karena tak bisa menjemputmu di bandara, karena ada pertemuan penting dengan client ayah dari jepang. Untuk itu ayah memesankan taxi untukmu pulang kerumah.

Setelah membaca pesan singkat dari ayahnya, iapun berdecak kesal dan dengan cepat menyambar tas ransel yang berada di sampingnya. Hari sudah malam maka ia harus cepat pulang ke rumah dan berharap dengan cepat bertemu dengan kamar kesayangannya yang telah lama ia rindukan selama ia berada di Amerika.

***

Jalanan kota sudah semakin sepi karena sudah menunjukkan pukul 11 malam. Walaupun masih banyak para pejalan kaki yang hendak pulang ke rumah masing-masing atau hanya sekedar mencari jajanan di pinggir jalan.

Park Chanyeol—lelaki bertubuh tinggi itu—kini sudah berada di jalan kompleks perumahan yang berarti rumah rumah Chanyeol tak jauh lagi dari tempatnya melangkah malam itu. Ia memutuskan untuk mengehtikan taxi yang ia tumpangi dari bandara untuk berhenti di pinggir jalan, karena ia ingin menikmati suasana malam tempat kota kelahirannya itu.

Ia mengangkat kepalanya seraya mengadahkan wajahnya menatap langit malam yang kala itu itu bertabur bintang. Benar-benar suasana yang ia rindukan selama lima tahun ini. Ia sedikit tersenyum manakala ia saat ini telah kembali lagi ke tempat ini. Tempat di mana ia selalu menyendiri jika mendapat surat teguran sekolah karena kelakuan nakalnya yang pada akhirnya selalu mendapat omelan dari sang ayah walapun sang ibu selalu berusaha membelanya dan menenangkan ayahnya yang sedang marah besar padanya. Tidak hanya itu saja, tempat ini merupakan teman setianya setelah gitar kesayangannya yang terpaksa ia tinggal selama lima tahun.

Tak ada tempat lain yang memebuatnya tenang selain taman kecil tempat di mana ia menginjakkan kaki saat ini. Tanpa ragu ia melangkahkan kakinya menuju ayunan yang kala itu tampak sama seperti terakhir ia lihat sebelum berangkat ke Amerika. Walaupun besi penyangganya sedikit berkarat tapi masih cukup kuat untuk di duduki.

Suara decitan ayunan itu menggema di seluruh taman. Di nikmatinya suara decitan ayunan itu yang bercampur dengan suara jangkrik yang bernyanyi. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mengitari isi taman itu. Sama seperti ayunan yang ia duduki, perosotan yang tak jauh dari tempatnya sekarangpun tak banyak berubah dan juga kolam pasir serta lapangan basket yang berada di samping taman.

Setelah matanya menyapu bersi teman itu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Alisnya berkerut saat matanya mendapati sesuatu di balik perosotan berwarna hijau muda tersebut. Ia semakin penasaran manakala ia mendengar suara isakan tangis dari balik perosotan tersebut. Bulus halusnya pun mulai berdiri, serta rasa takut mulai merasuki dirinya.

Oh, Tuhan ia baru sadar jika hari sudah larut dan jalanan tampak sepi tak ada seorangpun yang melintas. Pikirannya pun sudah melanglang buana dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Apa suara tangisan itu berasal dari makhluk selain manusia atau yang sering di sebut ‘hantu’? jika benar, maka Chanyeol harus segera berlari dan menjauh dari tempat itu. Tapi kenapa hati kecilnya dan otaknya tak mampu bekerja sama dengan baik kali ini. Ia ingin berlari tetapi kaki panjangnya begitu berat untuk berlari dan kenapa malah mendekat ke arah sumber suara?

Hei Park Chanyeol! Apa yang kau lakukan? Cepatlah pergi dan cepatlah lari! Bukannya malah mendatangi hantu itu!

Iapun semakin mendekat dan kini matanya telah melihat dengan jelas sosok gadis berambut panjang yang terduduk dengan kepala yang menunduk dan bertumpu pada kedua tangannya yang memeluk kedua lututnya. Lelaki itu dengan hati-hati mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak gadis itu. Pikirannya pun mulai tertuju dengan kemungkinan buruk. Semoga saja pikirannya kali ini salah, batinnya.

“Ee…He…hei” ucapnya dengan menepuk pelan pundak gadis itu.

Gadis berambut panjang itu terkejut dengan tepukan pelan dari Chanyeol, tak hanya gadis itu saja yang terkejut, Chanyeol pun tak kalah terkejutnya dengan reaksi dari gadis itu. Jantungnya pun berdetak dengan cepat serta keringat dingin membanjiri pelipisnya.

Perlahan gadis itu mengangkat wajanya dan dengan cepat menghapus air matanya. Akhirnya Chanyeol bernapas lega setelah mengetahui sosok yang ia temukan bukanlah hantu melainkan manusia biasa sama sperti dirinya. Sementara gadis berambut panjang itu terlihat sibuk mencari sesuatu yang berada di dekatnya. Tangannya meraba-raba tanah mencari sesuatu yang ia cari. Sebuah tongkat panjang akhirnya ia temukan dan dengan cepat ia raih.

Dengan tatapan mata yang kosong gadis itu berusaha berdiri tegak bantuan tongkatnya. Chanyeol yang memperhatikan gerak-gerik gadis itu terlihat bingung. Kenapa ia harus menggunakan tongkat untuk membantunya berdiri? Dan juga kenapa tatapan gadis itu begitu kosong?

Setelah berhasil berdiri gadis itupun berniat untuk melangkah pergi, tetapi tidak sengaja ia menginjak tali sepatu yang terlepas dari ikatannya sehingga hampir membuatnya terjatuh jika saja Chanyeol tak cepat menyangga badan gadis itu.

“Gwenchana?”

Gadis itu terpekur mendapati suara berat milik lelaki itu terdengar jelas di kupingnya. Ia merasa ketakutan dengan kebaradaan orang asing di sampingnya. Rasa trauma yang merasuki dirinya semakin kuat sehingga membuat dirinya dengan cepat menjauhkan diri dari Chanyeol. Ia berusaha tenang dan berusaha mencari dimana Chanyeol berada dengan perlahan memutar badannya menghadap lelaki itu walaupun sedikit tidak tepat. Karena ia menghadap arah lain sementara Chanyeol berada di sampingnya.

Chanyeol semakin terpekur saat melihat gadis itu menatap arah lain bukan menatap dirinya yang kala itu berada di sampingya. Walapun begitu ia dapat melihat wajah gadis itu walaupun hanya dari samping saja. Ada sedikit rasa yang aneh dalam dirinya, rasa kagum serta rasa ketertarikan di dalam hatinya saat melihat wajah gadis itu.’Cantik’ kata itu yang tergambar di benaknya.

“Te…terima kasih”

Ucap gadis itu setengah membungkuk. Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itupun beranjak meninggalkan taman itu dengan sepatu lusuh dan tongkat yang menjadi penunjuk arah baginya. Ya, gadis itu tidak bisa meliat atau kebanyakan orang menyebutnya ‘buta’.

Baru dua langkah, Chanyeol memanggilnya karena rasa penasaran dan keingin tahuannya terhadap gadis itu. Dengan terpaksa ia menghentikan langkahnya dan terdiam.

“N…namamu siapa?”

Gadis itu bergeming tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan lelaki itu.

“Namaku Park Chanyeol dan aku tinggal di sekitar sini”

Masih dengan sikap yang sama, gadis itu tetap bergeming di posisinya.

“Boleh aku tahu namamu? Tenang saja aku bukan orang jahat” ucapnya seolah ia tahu apa yang ada dipikiran gadis itu.

Setelah berdiam sejenak akhirnya gadis itu membuka mulutnya setelah mendengar bahwa orang asing itu bukanlah lelaki jahat seperti yang ada pikirannya dan berkata “Park Jiyeon”.

Hanya dua kata yang terucap dari mulut gadis bernama Jiyeon itu. Setelah itu Jiyeon melanjutkan langkahnya untuk bergegas meninggalkan taman itu dan juga Chabyeol.

Seperti anak kecil yang di beri mainan kesukaannya, Chanyeol terlihat begitu senang setelah mengetahui nama gadis itu. Park Jiyeon—nama yang bagus pikirnya. Tetapi tak lama kemudian ia terdiam dan berpikir sejenak. Apa hanya nama saja?

Bodoh!

Tentu saja tidak, kenapa kau tak menanyakan no ponsel dan juga alamat gadis itu? Apa hanya nama kau bisa bertemu dengannya lagi? Kau pikir di korea nama Park Jiyeon hanya satu?

Dasar bodoh!

Lelaki itupun menepuk-nepuk kepalanya karena kebodohannya. Tak ingin kesempatan keduanya hilang, dengan cepat ia berlari menyusul gadis itu. Berharap Jiyeon tak jauh dari taman itu.

Tapi setelah ia berlari mencari sosok Jiyeon, harapannya sirna begitu saja manakala gadis itu tak terlihat di manapun. Kemana perginya gadis itu? Cepat sekali dia menghilang?

“Aiisshh…cepat sekali dia perginya! Apa jangan-jangan dia hantu? Ayolah! Park Chanyeol jaman modern seperti sekarang mana ada hantu. Dasar kau bodoh”

***

Suara gesekan antara piring dan gelas memenuhi dapur berukuran kecil itu. Tangan putih dengan luka yang menghiasi kulitanya itu berusaha mencuci puluhan piring dan juga perabotan yang tampak berserakan. Tatapan matanya lurus ke depan tanpa melihat perabotan yang bersihkan, hanya mengandalkan insting yang kuat. Gadis itu—Jiyeon—berjalan dengan tangan kirinya membawa semangkuk sup serta tangan kirinya menggerakkan tongkat ke kanan dan ke kiri guna menunjukkan arah kemana harus ia berjalan. Tetapi ia tak begitu kesusahan untuk menemukan ruangan yang ia tuju karena ia sudah menghapal seluk beluk seluruh ruangan rumahnya itu.

Ruang tengah, di mana tempat ibunya berada yang kala itu sedang asyik menghitung uang dari hasilnya menjual ikan di pasar. Wajah wanita paruh baya itu terlihat kesal karena penghasilannya kali ini tak sesuai harapannya. Lembar demi lembar uang ia hitung berulang kali berharap hitungannya salah.

Sementara Jiyeon berusaha mencari meja yang terdapat di depan ibunya dengan menggunakan tongkat miliknya. Tetapi setelah ia menemukan meja tersebut, tak sengaja ia menginjak kaleng minuman bekas ibunya tadi malam. Jiyeon pun terjatuh sehingga membuat isi dari mangkuk itu mencuar keluar dan mengenai ibunya.

“YAAA! Apa yang kau lakukan, huh?” teriak ibunya seraya meletakkan uangnya di atas meja dan menghampiri Jiyeon dengan rasa amarah. Wanita itu kemudian menarik rambut Jiyeon dengan keras sehingga membuat Jiyeon meringis kesakitan.

“Kau sengaja menumpahkan sup itu padaku, huh? Kau ingin mencelakaiku dengan sup panas itu? Atau kau ingin melihatku mati kelaparan dengan kau menumpahkan makanan itu dan aku tak makan apa-apa, huh?”

Bentak wanita itu dengan terus meremas kuat rambut Jiyeon. Gadis itu menutup matanya karena menahan sakit. Iapun berusaha menjawab seraya air matanya keluar karena tak tahan menahan sakit. Bukan kali ini ia mendapat perlakuan kasar dari ibunya itu. Bahkan perlakuan itu ia terima selama 11 tahun lamanya.

“A…aku tidak sengaja menjatuhkannya, dan aku tak bermaksud seperti itu Bu”

“Bohong! aku tahu selama ini kau menaruh dendam padaku kan? karena aku selalu berbuat kasar padamu. Begitu?”

“Tidak Bu. Aku tak pernah memiliki dendam apapun pada Ibu”

“Dasar anak tak berguna, lebih baik kau mati saja dari pada selalu menyusahkanku”

Entah apa yang membuat hatinya merasa sakit setelah mendengar kata itu yang terucapa oleh ibunya sendiri. Apa segitu bencinya ia dengan Jiyeon sehingga wanita itu tak menginginkan kehadiran Jiyeon di hadapannya bahkan di hidupnya sekalipun?

Perlakuan kasar hingga cacian kerap ia dapatkan setiap hari, entah perbuatan yang bahkan ia tak sengaja perbuat dan saat ibunya mabuk pada malam hari. Semua itu bermula saat Jiyeon berusia 8 tahun, saat itu Jiyeon mengalami kejang-kejang karena panas tinggi yang ia derita. Dengan keadaan ekonomi yang tak mendukung, orang tua Jiyeon berusaha membawanya ke rumah sakit untuk menyelamatkan Jiyeon. Tetapi karena panas yang begitu tinggi dan keadaan yang begitu menghimpit keluarganya. Dengan terpaksa ayah Jiyeon meminjam uang kepada lintenir guna mendapatkan biaya untuk pengobatan anak gadis satu-satunya itu.

Sementara sang ayah mencari uang untuk pengobatan Jiyeon, sang ibu dengan setia mendampingi putrinya dengan tak berhenti berdoa berharap ada keajaiaban untuk anak tercintanya. Kala itu pihak rumah sakit tak bersedia memberikan pengobatan jika administrasi rumah sakit tak bisa di selesaikan. Saat itu Jiyeon hanya di berikan obat penurun panas biasa oleh dokter.

Setelah mendapatkan pinjaman, sang ayah dengan cepat menuju rumah sakit untuk membayar pengobatan Jiyeon. Tetapi saat dalam perjalanan menuju rumah sakit sang ayah tertabrak oleh pengguna mobil saat dirinya akan menyebrang. Tubuh lelaki paruh baya itupun terpental ke pinggir jalan, sedangkan uang yang ia pegangpun berhamburan di tengah jalan. Darah segar mengalir dari hidung dan kepalanya. Tangan lelaki paruh baya itu terkulai lemas.

***

Keajaiban yang di harapkan wanita paruh baya itu terkabul, panas yang di derita Jiyeon akhirnya berangsur-angsur menurun dan membuat keadaannya semakin membaik. Tetapi selain keajaiban yang ia terima, ada suatu keadaan yang sangat sulit ia terima yaitu menerima kenyataan bahwa putrinya kehilangan penglihatannya kerena saraf matanya rusak akibat panas tinggi yang ia derita. Tak hanya itu saja, kenyataan yang lebih menyedihkan lagi harus ia terima dengan ikhlas. Kenyataan yang mengatakan bahwa tak hanya penglihatan putrinya saja yang hilang, melainkan sang suami yang juga kehilangan nyawa saat terjadi tabrakan.

Saat itulah beban hidup yang begitu berat harus ia jalanin. Dari saat itulah ia berubah, dari seorang ibu yang lembut yang penuh kasih sayang terhadap anakknya. Kini berubah menjadi kebencian terhadap anaknya yang ia pikir penyebab dari keterpurukan hidupnya saat ini.

Ya, ia tahu bagaimana perasaan ibunya selama ini. Dia juga tahu bagaimana perjuangan ibunya untuk terus menghidupi keluarganya seorang diri. Walaupun ibunya selalu bertindak kasar terhadapnya, tapi jauh di dalam hati kecilnya itu ibunya masih menganggap dirinya sebagai anak dan masing menyayangi dirinya.

Oleh karena itu tanpa di tahu oleh ibunya ia juga ikut membantu keuangan orang tuanya itu dengan cara bekerja di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari rumahnya. Hasil dari berkerjanya itu ia kumpulkan untuk membayar semua hutang ibunya. Bukan karena tanpa pengorbanan ia melakukan semua itu, Jiyeon mengambil keputusan untuk berhenti sekolah saat ia kelas 1 SMA.

Gadis itu—Park Jiyeon—adalah gadis tegar dan kuat. Tak hanya cacian dari ibunya, bahkan cacian dari orang lainpun ia terima. Ia sadar keterbatasan yang ia miliki tak cukup untuk melakukan lebih dari apa yang ia lakukan sekarang. Beruntung dari sekian orang yang memandangnya sebelah mata, masih ada yang berhati mulia yang bisa menerimanya untuk bekerja.

***

Suara ketukan serta teriakan dari luar kamar yang tak henti-hentinya membuat lelaki jangkung itu terpaksa membuka matanya, walaupun rasa kantuk yang masih menyerangnya. Iapun menggeliat seraya melirik jam beker di sampingnya. Pukul 11  siang, iapun memutar matanya dan setelah itu menutup matanya kembali untuk melanjutkan tidurnya. Bagaimana tidak, tadi malam ia menghabiskan waktunya untuk bermain game sampi jam 5 pagi. Apa salahnya jika kali ini ia tidur lebih lama lagi? Toh, juga ia tak punya jadwal apa-apa hari ini.

“Hei! Park Chanyeol, jika kau tidak bangun dan membuka pintu! Ayah akan mengirimmu lagi Amerika”

Karena tak kunjung mendapat respon dari anak semata wayangnya itu, lelaki paruh baya itu mengeluarkan petisi untuk Chanyeol. Tak heran dengan sikap ayah Chanyeol tersebut, karena beliau merupakan orang yang begitu disiplin dan juga tegas. Sekeras apapun lelaki itu membela diri, tak akan berhasil sedikit pun walaupun sang ibu selalu membujuk tuan Park.

Mendengar ancaman dari ayahnya  itu, Chanyeol pun bergegas bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu.

“Ya, ya..sekarang aku sudah bangun” ucap Chanyeol malas.

“Sekarang kau bersihkan dirimu dan antar ayah dan ibu ke bandara, ayah dan ibu ada pertemuan penting di China”

“YA! Kenapa harus aku? Tiga hari yang lalu saja kau tidak menjemputku di bandara, kenapa sekarang musti aku yang mengantar ayah?” tolak Chanyeol yang sampai saat ini merasa kesal dengan kejadian tiga hari yang lalu.

“Kau berani membantah?”

“N…Ne…Ne aku mandi dulu”

Chanyeol pun bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk mengantar kedua orang tuanya ke bandara. Seperti biasa ia tak bisa membantah perkataan ayahnya.

***

Suasana kota sore itu tampak ramai seperti biasanya, jalanan di padati oleh para pengendara mobil atau motor dan juga di padati oleh para pejalan kaki yang berlalu lalang.

Iringan musik yang memenuhi seisi mobil sport berwarna silver itu. Kepala lelaki itu bergerak mengikuti alunan musik yang ia putar, serta bibirnya yang mengikuti lirik lagu tersebut. Chanyeol tampak senang hari itu. Selam dua minggu lamanya hidup seorang Park Chanyeol akan sedikit lebih bebas dari sebelumnya, karena kedua orang tuanya akan menetap di China selama dua minggu untuk membahas bisinis mereka.

Tetapi sebelum menuju pesawat, tuan Park meninggalkan pesan untuknya. Mungkin saat itu ia berpura-pura untuk mematuhi pesan yang di berikan untuknya, tetapi setelah itu ia meloncat-loncat kegirangan. Karena merasa tak ada lagi yang akan membatasi tidurnya, walau hanya sebentar.

“Jika selama ayah dan ibu tidak ada, kau tak boleh berbuat macam-macam apalagi berbuat keonaran selama ayah tidak ada. Jika ayah mendengar kau bermasalah, ayah tak akan segan-segan mengirimmu ke Amerika lagi”

Itulah pesan dari tuan Park untuk Chanyeol.

Mobil sport itu terhenti di depan taman, bukan karena kehabisan bensin atau ban mobil yang bocor melainkan sosok yang tiga hari yang lalu ia temui. Ya, benar orang itu adalah Jiyeon gadis buta yang telah memikat hatinya malam itu.

Iapun memutuskan untuk menyambangi Jiyeon yang kala itu sedang terduduk di atas ayunan dengan pandangan yang menatap ke depan. Mendengar suara langkah seseorang, gadis itu terpekur dari lamunannya. Suara kaki itu semakin mendekat dan pada akhirnya ia merasakan seseorang duduk di sampingnya.

“Hei, apa kau ingat aku?”

Gadis itupun menggelengkan kepalanya, pertanda ia tak ingat dengan lelaki itu.

“Tiga hari yang lalu kita pernah bertemu di taman ini, dan aku membantumu saat kau hampir terjatuh. Apa kau lupa?”

Sekejap ingatannya melayang ke tiga hari yang lalu, dimana ada seseorang yang menyangga badannya saat ia akan terjatuh. Dan kini iapun ingat siapa pemilik suara berat itu. Jiyeon pun mengaggguk tanda ia ingat siapa lelaki itu.

“Saat itu kau begitu ketakutan saat aku menolongmu, tenang saja aku tidak akan berbuat yang macam-macam padamu. Aku bukan orang jahat” ucapnya seraya terkekeh untuk meyakinkan yang kedua kalinya agar Jiyeon tidak merasa ketakutan jika berada di dekatnya.

Setelah beberapa menit keduanya hanya diam, dan suasana sedikit canggung. Chanyeol yang merupakan anak yang ceria berusaha mencairkan suasana.

“Aku dengar, malam itu kau menangis. Apa kau ada masalah?”

Chanyeol mengucapkannya dengan sedikit hati-hati karena takut menyinggung perasaan Jiyeon. Sementara gadis itu hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Chanyeol, karena ia tak ingin menceritakan masalahnya kepada orang yang baru ia kenal.

Sadar jika tak ada respon dari Jiyeon, Chanyeol pun tak ingin melanjutkan rasa keingin tahuannya. Karena ia tahu tak sepantasnya ia tahu masalah pribadi seseorang yang baru ia kenal.

“Ok, maaf kalau aku bertanya seperti itu” ucap Chanyeol berusaha bersikap santai. Sejurus kemudian ia mengulurkan tangannya di hadapan Jiyeon.

“Bolehkan aku menjadi temanmu?”

Mendengar pernyataan Chanyeol, gadis itu memutar kepalanya menghadap Chanyeol walau seperti bisa tatapan matanya menatap arah lain. Apa gadis itu tak salah dengar, selama ini tak seorangpun yang ingin berteman dengannya karena keterbatasan dirinya. Ada rasa senang yang membuncah di hatinya saat ini, saat ada seseorang yang mau menerima dirinya selain bibi Kang pemilik kedai kopi tempatnya bekerja dan menawarkan diri untuk berteman dengan dirinya.

Ayolah, terimalah aku jadi temanmu. Harapnya saat menunggu balasan dari Jiyeon.

Mata lelaki itu membulat sempurna kala gadis itu membalas jabatan tangannya, tanda Jiyeon menerima permitaan teman darinya. Entah berapa kupu-kupu yang menari bebas di dalam perutnya sehingga ada rasa geli yang di rasakannya saat ini. Begitu bahagia yang ia rasakan saat ini, begitupula dengan gadis itu. Entah apa yang membuat jantungnya berdetak begitu cepat saat menjabat tangan lelaki itu. Tak ia sadari sebuah senyuman membentuk di wajahnya setelah sekian lama ia tak tersenyum bahagia seperti ini.

Dan lagi, Chanyeol terpaku dengan wajah menawan yang di miliki gadis itu. Benar-benar sangat cantik ketika ia melihat senyum lembut gadis itu. Darah di seluruh tubuhnya berdesir hebat dan juga detak jantungnya yang secara tiba-tiba berdetak begitu cepat. Apa ini yang di namakan cinta pertama?

“Gomawo”

Jiyeon hanya tersenyum menanggapi ucapan Chanyeol karena sejujurnya ia jg ingin mengucapkan terima kasih pada lekaki itu karena mau menerimanya apa adanya.

“Kau tidak malu memiliki teman sepertiku? Aku buta dan aku tak tahu seperti apa wajahmu”

“Kenapa aku harus malu? Aku tak peduli jika kau tidak bisa melihat, aku yakin hatimu bisa melihat dengan jelas. Jika kau mau, kau bisa menyentuh wajahku”

Sekali lagi, detak jantung gadis itu begitu cepat. Perkataan dari lelaki itu begitu menyentuh hatinya, baru kali ini ia mendengar seseorang berkata seperti itu padanya.

Ia sedikit terkejut dengan tangannya yang bergerak ingin menyentuh wajah lelaki itu. Ia begitu ingin tahu seperti apa wajah Chanyeol, apa ia tampan seperti yang ada di drama.

Saat tangan Jiyeon sedikit lagi akan menyentuh wajah lelaki itu, Chanyeol menyadari sesuatu dengan jemari gadis itu. Iapun menggenggam kedua tangan Jiyeon yang membuat gadis itu terkejut. Lelaki itu terkejut melihat begitu banyak luka yang terdapat pada kedua tangan gadis itu.

“Tanganmu penuh luka Jiyeon-ah”

Dengan cepat Jiyeon menarik tangannya dan segera mengambil tongkat yang berada di sampingnya. Dengan cepat ia berdiri dan pergi dari tempat itu, ia tak ingin Chanyeol tahu apa yang telah terjadi padanya. Sementara Chanyeol bingung dengan sikap gadis itu yang seolah menyembunyikan sesuatu yang dirinya tak boleh tahu.

Dari kejauhan tampak seorang wanita paruh baya memperhatikan keduanya dengan tatapan penuh amarah. Melihat Jiyeon akan pergi melangkah pergi wanita itu kemudian beranjak dari tempatnya.

“Kau mau kemana Jiyeon-ah?” panggil Chanyeol.

“Aku harus segera pulang, ibuku sebentar lagi akan pulang”

Rasa penasaran yang begitu kuat di dalam dirinya, lelaki itupun memutuskan untuk mengikuti Jiyeon dari belakang. Selain itu ia juga ingin tahu tempat tinggal gadis itu. Selama lelaki itu membuntuti Jiyeon ada rasa sakit di hatinya saat melihat gadi itu begitu kesusahan untuk berjalan dengan tongkat sebagai pengganti matanya, tak hanya itu cara jalan gadis itupun tak seperti biasanya. Gadis itu berjalan dengan sedikit pincang. Apa Jiyeon mengalami luka di seluruh tubuhnya? Apa yang terjadi dengannya? Itulah yang memenuhi pikirannya.

Langkahnya terhenti saat melihat gadis itu memasuki sebuah rumah kecil. Lelaki itupun melangkah mendekat guna melihat lebih dekat tempat tinggal gadis itu.

Tak lama kemudian matanya membulat sempurna saat melihat tubuh kecil Jiyeon terpental keluar dan mengahantam tanah. Chanyeol dengan cepat bersembunyi di balik tembok agar ia tak ketahuan. Dari balik tembok itupun ia memperhatikan apa yang sedang terjadi.

“Ternyata begitu kelakuanmu jika aku sedang berkerja, huh? Kau seenaknya pacaran dengan laki-laki, sedangkan ibumu kelaparan di sini”

Bentak ibunya dengan menarik rambut gadis itu, dan menendang perut Jiyeon.

“Aku tidak pacaran Bu, itu hanya temanku” ucap Jiyeon menejaskan kepada ibunya.

Tetapi karena ibunya yang keras kepala dan tidak ingin mendengar penjelasan dari putrinya. Ia terus memukul kepala gadis itu.

Melihat pemandangan yang begitu menyakitkan di hadapannya, lelaki itu merasa begitu sakit bahkan sesak di hatinya melihat gadis yang ia cintai mendapat perlakuan yang tak sepantasnya dari seorang ibu pada anaknya.

“Dasar gadis murahan, jual saja dirimu  pada laki-laki dan uangnya berikan padaku”

Mata lelaki itu melebar kala mendengar perkataan wanita paruh baya itu. Tanpa pikir panjang Chanyeol berlari menghampiri kedua orang tersebut. Dan dengan cepat memeluk gadis itu untuk melindungi Jiyeon dari pukulan wanita itu. Chanyeol  meringis kesakitan saat kepala terkena pukulan keras dari wanita itu.

“Hentikan Bu” pinta Jiyeon saat menyadari Chanyeol memeluk dirinya dan melindunginya.

Dan setelah sadar, ibu Jiyeon menghentikan aktifitas memukulnya. Sementara Chanyeol berusaha berdiri setelah merasakan bahwa wanita itu tak memukulnya lagi. Ia berusaha membantu Jiyeon berdiri dan mengambil tongkat milik Jiyeon.

“Hei! Siapa kau, huh? Apa kau pacarnya anak tak berguna”

“Maafkan aku yang dengan lancang ikut campur dalam urusan kalian. Tetapi aku tak ingin kau terus menerus memukul anakmu seperti itu. Ibu macam apa kau bertindak kasar terhadap anakmu sendiri? Tak seharusnya kau berkata kasar terhadap Jiyeon seperti itu! Dan memang benar aku adalah kekasih Jiyeon”

Plaaakkk

Sebuah tamparan mendarat pada pipi lelaki itu. Ia terkejut dengan apa yang barusan ia katakan terhadap ibu gadis itu. Tak seharusnya ia berkata seperti itu terhadap orang tua. Ia sadar ia pantas mendapat tamparan dari Jiyeon, karena ia sangat lancang menghina ibu gadis itu.

“Kenapa kau ada sini? Kau tak seharusnya berkata seperti itu pada ibuku! Aku pikir kau orang baik, tetapi kau sama saja seperti orang-orang yang selalu menghinaku. Kau menghina ibuku, sama saja kau menginaku! Aku tak ingin memiliki teman sepertimu, lebih baik kau pergi dari ini! Dan jangan ganggu aku lagi!”

Sakit

Rasa itu begitu menyerang dirinya saat, hanya karena ucapan yang ia lontarkan dengan tidak sadar saat ia membela Jiyeon. Hancur sudah hatinya kini mendengar ucapan gadis itu.

Bodoh

Yang kata itu yang tepat untuk dirinya saat ini. Ingin rasanya ia menangis saat ini tapi tak mungkin ia lakukan karena ia adalah seorang laki-laki.

Dengan tatapan kosong ia menatap punggung gadis itu berlalu memasuki rumah.

***

Kecepatan mobil sport itu melaju dengan sangat cepat menembus malam. Rasa kesa, amarah sekaligus sedih memenuhi pikiran lelaki itu. Dipukulnya stir mobilnya dengan keras seraya berteriak frustasi.  Andai saja saat itu ia bisa menahan diri untuk tidak mengikuti gadis itu, pasti kejadian sperti ini tidak akan pernah terjadi.

Penyesalan

Kata itu yang kali ini menghatui dirinya. Park Jiyeon—ia begitu menyesal telah menampar lelaki itu dan menyesal berkata seperti itu. Air mata yang tak henti-hentinya membasahi pipi putihnya membuat dirinya terlihat begitu menyedihkan. Ia bersikap seperti itu bukan tidak ada alasan apapun, seperti apapun perlakuan ibunya terhadap dirinya ia tak suka jika orang lain mencaci ibunya. Bagimanapun ia sangat menyayangi ibunya.

Hatinya begitu sakit, bagaikan ada belati tajam yang menyayat hatinya. Ia menangis karena sakit di hatinya bahkan ia tak pernah sesakit ini di bandingkan sakit yang ada di sekujur tubuhnya. Begitupula dengan Chanyeol, air mata yang ia tahan tak kunjung berhasil bahkan air mata itu mengalir dengan bebasnya membasahi pipinya. Ia membiarkan dirinya menangis berharap rasa sakit itu sedikit mereda.

To Be Countinue

THIS IS STORY NOT FOR SILENT READER!!!

PLEASE COMMENT AND LIKE IF YOU WANT TO READ MY STORY^^

your comment is my oxygen^^😀

Gomawo ^^

 

50 thoughts on “Love Eyes

  1. ya tuhan~ ibunya Jiyeon unnie jahat banget😦
    kasihan Jiyeon unnienya TT
    a-yo Park Chanyeol rebut hati Jiyeon unnie~ buat dia jatuh cinta sama kamu ‘-‘/\

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s