Goodbye Summer [Chapter 1]

Goodbye Summer

By Mayha Kang

Jung Krystal | Oh Sehun

Byun Baekhyun | Park Jiyeon

Chapter

Romance, Brothership

>>> Goodbye Summer <<<

Terkadang peristiwa yang tak menyenangkanlah yang mengantarmu pada sebuah kebahagiaan…”

Suatu hari di musim panas. Bel pertanda jam istirahat telah usai pun berbunyi. Para siswa berbondong-bondong memasuki kelas dan duduk manis di bangku masing-masing. Tetapi, karena sang guru yang akan mengajar belum menampakkan sosoknya, sebagian dari mereka bersorak kegirangan, memporak-perondakan suasana kelas. Masih ada yang sibuk bermain game, sibuk memoles kuku, menghabiskan snack sisa istirahat tadi, bahkan ada yang masih tertidur pulas di atas mejanya.

Krystal, si gadis cantik dan pintar, namun banyak yang mengatakan dirinya kurang ramah, tengah mengacak-acak isi tasnya. Mengeluarkan seluruh bukunya dan membalikkan tasnya agar memuntahkan seluruh muatannya.

Oh my god, di mana tugasku?!” Geramnya.

Dia mendesah panjang sambil bertolak pinggang ketika menyadari bukunya ketinggalan di rumah. Ingin rasanya dia menjambak rambutnya sendiri, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya. Dia tidak ingin dirinya dimasukkkan dalam daftar orang-orang bodoh yang kerap menjadi bahan ejekan di kelas.

Dia segera mengeluarkan ponsel dari saku bajunya untuk menghubungi orang rumah. Namun, seorang wanita berambut sebahu tiba-tiba muncul dengan membawa sebuah buku serta tongkat panjang yang kerap ia gunakan untuk memberi sentuhan “kasih sayang” bagi para muridnya. Air mukanya datar, tatapan mata yang tajam, tanpa senyum sedikit pun. Sungguh cerminan keganasan dari seorang guru.

Serentak semua siswa duduk rapi di bangkunya. Dengan terpaksa menghentikan segela aktivas yang mereka anggap lebih penting daripada menyimak pelajaran yang akan dibawakan oleh sang guru.

“Kumpulkan tugas rumah kalian sekarang!” Pinta guru Park tegas.

Sebuah bencana besar bagi Krystal. Dia duduk terpaku di bangkunya, menyaksikan temannya yang satu persatu mengumpulkan tugasnya ke depan. Sepertinya, hanya dia yang tidak mengumpulkan tugas.

“Dan yang tidak mengerjakan tugasnya, silahkan maju ke depan!” Pintanya lagi sambil memperbaiki posisi kacamatanya.

Dengan langkah kaku, Krystal beranjak dari bangkunya. Kepalanya menunduk lantaran malu dan takut. Guru Park sedikit terkejut dengan berdirinya Krystal. Setahunya, dia adalah siswa yang rajin dan pintar. Apa gerangan yang membuatnya luput dari tugas rumah? Entahlah, namun satu yang pasti bahwa dia tidak akan lepas dari hukuman karena guru Park adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi rasa keadilan.

“Aku tidak ingin mendengar alasan kenapa kau tidak mengerjakan tugasmu. Aku hanya ingin kau berdiri di luar sampai pelajaranku selesai,” tutur guru Park.

Krystal hanya bisa melapangkan dada menerima hukumannya. Membantah perkataan wanita tanpa belas kasih itu sama saja dengan memasukkan diri ke dalam neraka sekolah. Dia pun melangkahkan kakinya lesu keluar dari kelas.

Belum lama guru Park mendepak Krystal keluar dari kelas, dia kembali dihadapkan pada seorang siswa yang nampaknya masih bergelut dengan mimpi indahnya. Dia pun segera menghampiri siswa itu.

Tuk!! Tuk!! Tuk!!!

Dia mengetuk-ngetukkan tongkatnya di meja sang siswa dengan keras. Membuat siswa yang bernama Oh Sehun itu bangkit dari tidurnya.

“Hei, manusia malas! Mana tugasmu?” Guru Park menatap Sehun dengan tajam.

Setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, Sehun segera menyerahkan tugas rumah hasil contekan dari temannya sebelum monster berwujud wanita di depannya itu mengamuk.

“Setidaknya hukumanmu tidak bertambah karena kau mengerjakan tugas,” kata guru Park dengan nada sarkastis, “Sekarang angkat kakimu keluar dari kelas ini!”

Mwo? Tapikan aku mengerjakan tugas,” Sehun berusaha membela diri.

“Tapi kau tidur saat aku sudah berada di dalam kelas,” guru Park lalu mencondongkan badannya ke arah Sehun, “Dan sekarang kau keluar, atau kau tidak akan pernah ku izinkan mengikuti pelajaranku lagi!”

Desahan panjang keluar dari mulut Sehun. Memang tidak ada gunanya berdebat dengan guru yang satu itu. Hanya akan menambah kesal di hati. Dia pun segera keluar sesuai perintah sang “ratu besar”.

Di luar, Sehun dikejutkan oleh sosok gadis yang tampaknya sedang bermuram durja, yang tidak lain adalah Krystal. Dia melangkah mendekati Krystal lalu berdiri di sampingnya. Namun, sepertinya gadis itu tidak tertarik untuk melakukan sedikit perbincangan atau hanya sekadar basa-basi dengan pria yang bisa dibilang tertampan di kelasnya itu. Terbukti dengan sikapnya yang terus menekuk wajah dan sesekali mendesah kesal.

Haish, wanita itu menyebalkan sekali!” Geram Sehun berusaha mendapatkan perhatian Krystal.

Sontak Krystal menoleh pada Sehun. Saking kesalnya dia tidak menyadari jika ada orang di sampingnya. Kala itu pandangan mereka tidak sengaja bertemu. Meski tak saling akrab, Sehun berusaha tersenyum ramah pada Krystal. Krystal pun segera membalasnya dengan senyum yang sanggup mengembang ditengah kegusaran hatinya.

“Kau tidak mengerjakan tugasmu?” tanya Krystal dengan nada yang terdengar sedikit dingin, namun itu memang pembawaan dari dirinya.

“Aku mengerjakannya,” jawab Sehun.

“Lalu?”

“Aku kedapatan tidur di kelas,” desah Sehun.

Mendengar jawaban Sehun membuat Krystal semakin kesal dengan guru Park. Dia merasa hak mereka untuk membela diri telah diabaikan oleh wanita itu.

“Lalu kau sendiri, kau tidak mengerjakan tugasmu?” Sehun balik bertanya.

“Tugasku ketinggalan di rumah dan Park seonsaengnim tidak mau mendengar alasanku,” gerutu Krystal.

“Park seonsaeng  memang kejam!” Umpat Sehun.

Krystal mengangguk setuju dengan ucapan Sehun. Kemudian, percakapan mereka pun terhenti. Cukup lama mereka terdiam. Suasana hening begitu kental menyelimuti. Sehun mulai merasa jenuh. Dia lalu mengeluarkan ponsel beserta headset dari saku celananya.

“Mau dengar musik?” tawar Sehun, menyodorkan sebelah headset-nya untuk dipakai oleh Krystal.

Krystal tersenyum, dan kali ini senyumannya lebih manis daripada senyum sebelumnya.

“Terima kasih,” kata Krystal. Dia pun meraih headset itu dan memasangnya di telinga.

Alunan lagu barat bergenre R&B kini mengarungi rongga telinga keduanya. Mereka tampak menikmatinya. Terlihat dari Sehun yang mengangguk-anggukkan kepala serta Krystal yang mengetuk-ngetukkan kakinya pelan ke lantai.

Beberapa lagu telah mereka dengarkan dalam keheningan. Sehun tiba-tiba melepas headset-nya dan menoleh pada Krystal.

“Bagaimana kalau kita sedikit membalas kekejaman Park seonsaeng?” Kata Sehun bersemangat, dan Krystal hanya mengernyitkan dahi menatapnya.

“Bagaimana? Mau tidak?” Desak Sehun.

“Kau serius?” Krystal tampak ragu dengan ide “cemerlang” Sehun.

“Sudahlah, kau ikut saja! Percayalah padaku!”

Spontan Sehun meraih tangan Krystal dan membawanya pergi entah ke mana. Krystal dibuat tercengang. Hubungan mereka bahkan bisa dikatakan jauh dari kata akrab. Mereka hanyalah orang-orang yang kebetulan belajar di ruangan yang sama. Tidakkah Sehun terlalu lancang menarik tangannya, tepatnya memegang tangannya? Tetapi, dibanding mempermasalahkan hal itu, Krystal lebih penasaran dengan apa rencana Sehun yang katanya ingin membalas perbuatan guru Park.

Langkah mereka akhirnya terhenti tepat di depan ruangan guru. Sehun mengintip masuk ke dalam ruangan itu, dan tidak ada siapa-siapa di sana. Mereka lalu mengendap-endap masuk seperti pencuri profesional yang hendak membobol sebuah bank.

“Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Kalau kita ketahuan bisa gawat!” Bisik Krystal setengah memekik.

“Kau tenang saja,” balas Sehun.

Kini mereka telah berdiri tepat di depan meja guru Park. Sehun mengedarkan pandangannya di sekitar meja, seperti sedang mencari sesuatu. Pandangannya menangkap sebuah lem. Dia lalu mengambilnya, dan seulas evil-smile langsung mengembang di wajahnya.

Krystal yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Sehun akhirnya mengerti apa yang akan diperbuat pemuda itu.

Woah, ternyata kau pintar juga,” puji Krystal dengan nada yang terdengar sedikit mengejek sebenarnya.

“Tanpa kau bilang aku juga tau kalau aku pintar,” kata Sehun, “Cepat bantu aku mengoleskannya di bangku Park seonsaeng!”

Dengan senang hati Krystal menuruti perintah Sehun. Membayangkan guru Park pulang dengan rok yang berlumuran lem sepertinya akan sangat lucu. Terlebih jika kursi yang ia duduki tidak mau lepas dari bokongnya. Tampaknya cacing-cacing di perut Krystal akan segera terhibur.

Kursi guru Park kini telah berlumuran lem. Sehun dan Krystal memandang puas pada hasil karya tangan mereka. Mereka lalu melakukan hi-five sebagai bentuk kesenangan sekaligus kemenangan mereka. Kemudian, bergegas pergi sebelum seseorang memergoki kejahatan mereka.

****

Jam sekolah akhirnya usai. Krystal melangkahkan kakinya menuruni tangga sekolah seraya mendesah panjang. Seandainya saja dia dianugerahi kekuatan teleportasi, dia hanya perlu memejamkan mata untuk sampai di kamarnya. Tetapi, itu hanyalah khayalan bodoh semata.

“Jung Krystal!” Panggil seseorang.

Mendengar namanya dipanggil Krystal segera menoleh, dan mendapati Sehun yang berjalan setengah berlari ke arahnya.

“Kau mau ke mana?” Tanya Sehun.

Krystal mengerutkan dahinya, “Tentu saja pulang.”

“Kau ini lupa atau memang tidak berniat menyaksikan penderitaan Park seonsaeng?” Kata Sehun sedikit kesal.

Krystal menepuk pelan dahinya, “Astaga! Maaf, aku lupa.”

Saking seriusnya mengikuti jam pelajaran terakhir dia sampai lupa dengan aksi balas dendamnya pada guru Park. Mungkin itu juga efek dari rasa lelahnya yang membuatnya ingin segera sampai di rumah.

Sehun mendesah, “Ya sudah, ayo kita pergi melihatnya! Semoga saja dia belum pulang.”

Krystal mengangguk dan mengikuti Sehun menuju ruang guru, tepatnya sekadar melintas di sana untuk mengecek apakah guru Park berhasil masuk ke dalam jebakan mereka. Dan sepertinya dendam mereka memang telah terbalas.

Dari kejauhan mereka bisa melihat guru Park yang berjalan terburu-buru menuju toilet sambil menutupi bagian belakang roknya. Wajahnya yang tidak pernah terlihat ramah kini menunjukkan ekspresi panik bercampur malu. Ingin rasanya mereka tertawa sekeras dan selebar mungkin, namun itu sama saja mengakui bahwa merekalah pelakunya.

Krystal segera menghampiri guru Park, “Omo! Seonsaengnim, ada apa dengan rok anda?” Pekiknya berpura-pura peduli.

“Bukan urusanmu, huh!” Kesal Park seonsaeng, kemudian masuk ke dalam toilet.

Krystal mengulum bibirnya, berusaha menahan tawa. Sedangkan Sehun sudah terkikik-kikik geli di belakangnya. Krystal lalu mendekatinya dan mengajaknya melakukan hi-five.

Daebak! Rencana kita berhasil. Ini benar-benar menyenangkan!” Seru Krystal sambil melompat kegirangan.

Rasa lelah yang menyelimuti Krystal sekejap hilang setelah menyaksikan hiburan yang sangat lucu sekaligus langka. Mungkin baru mereka saja yang berani menjahili guru ganas itu.

Tanpa sadar Sehun terus memandang Krystal yang tertawa riang di hadapannya. Gadis yang terkenal cuek di kalangan teman-teman kelasnya itu ternyata memiliki senyum yang sangat manis.

“Sehun, kenapa kau diam? Apa kau belum puas mengerjai Park seonsaeng?” tanya Krystal heran.

A…aniyo, aniyo, aku sangat puas,” jawab Sehun terbata-bata sambil mengusap tengkuknya. Dia baru menyadari jika dirinya telah terpikat oleh senyum Krystal.

Mmm…kau pulang naik apa?” Ucapnya lagi.

“Naik bus,” jawab Krystal.

Dalam hati Sehun bersorak gembira mendengar jawaban Krystal. Entah apa yang membuatnya segembira itu.

“Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Kebetulan aku bawa motor ke sekolah,” tawar Sehun.

“Tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu,” kata Krystal.

“Aku sama sekali tidak merasa repot,” dengan cepat Sehun membalas, “Mungkin setelah ini kita bisa berteman baik.”

Seulas senyum terkembang di wajah cantik Krystal. Meskipun menurutnya Sehun sedikit jahil, tetapi dia orang yang baik. Baru pertama kalinya dia bisa merasa cukup akrab dengan seseorang, terlebih lagi orang itu adalah lawan jenisnya.

“Baiklah, kalau begitu aku mau diantar pulang denganmu,” kata Krystal.

Sehun tersenyum memandang Krystal. Dia lalu mengangkat sebelah tangannya. Mengajak Krystal untuk kembali melakukan hi-five. Krystal pun dengan senang hati menepuk telapak tangan Sehun yang terangkat. Sebuah hi-five yang mungkin mewakili kebahagiaan keduanya.

****

Sore hari di akhir pekan yang tenteram nan damai, meskipun udara terasa sedikit panas. Dengan mengenakan kemeja putih polos yang dipadukan dengan hot pants hitam, Krystal melenggang melewati rentetan rumah-rumah elit. Tangannya memegang bungkusan pizza yang sebentar lagi akan menjadi santapannya bersama Sehun.

Selepas insiden balas dendam mereka terhadap guru Park, hubungan mereka kian akrab. Mereka sering terlihat bersama di sekolah maupun di luar sekolah. Sehun juga kerap meminta Krystal untuk mengajarinya pelajaran yang belum ia mengerti. Apalagi ujian kelulusan sudah semakin dekat. Dan hari ini giliran rumah Sehun yang akan menjadi tempat mereka bertempur dengan setumpuk soal-soal latihan.

Krystal menghentikan langkahnya di depan salah satu rumah berpagar putih. Setelah mencocokkan alamat yang tertera di rumah itu dengan alamat yang diberikan Sehun, dia segera memencet bel yang menempel di sudut pagar. Dia merasa gugup karena baru pertama kalinya dia berkunjung ke rumah Sehun. Tepatnya berkunjung ke rumah seorang pria.

Pagar besi itu terbuka perlahan dan seorang pria bertubuh mungil muncul dari baliknya. Pria itu memandang takjub bercampur bingung melihat seorang gadis cantik yang sama sekali tidak ia kenal datang mengunjungi kediamannya. Pandangannya lalu tertuju pada bungkusan pizza yang dibawa Krystal.

“Maaf nona, tapi aku rasa di rumah ini tidak ada yang memesan pizza,” ucap pria itu.

Krystal mengerutkan dahi. Dalam hati dia menggerutu kesal. Bagaimana mungkin gadis yang berpenampilan modis seperti dirinya disangka pengantar pizza. Dia menatap kesal pria itu.

Setahunya, Sehun mempunyai saudara laki-laki. Dan jika memerhatikan “bentuk” pria itu, semua orang akan segera mengatakan jika dia adalah adik Sehun.

“Maaf, adik kecil, tapi aku bukan pengatar pizza. Dan pizza ini bukan untukmu, tapi untuk kakakmu,” tutur Krystal dengan penekanan pada kata “kakak”.

“Kakak? Adik kecil?” Pria itu membatin kebingungan.

“Tapi aku tidak punya kakak. Sepertinya kau sudah salah alamat,” kata pria itu.

Mwo!?” Krystal mulai kesal, sepertinya adik kecil itu hanya ingin mempermainkannya saja.

“Hyung!” Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga Krystal.

Krystal  segera menoleh ke belakang dan mendapati Sehun yang berjalan ke arahnya dengan membawa kantongan belanja. Mendengar Sehun mengatakan “Hyung”, perasaannya menjadi tidak karuan. Sepertinya ada yang salah.

Hyung, dia temanku. Biarkan dia masuk,” kata Sehun pada pria itu kemudian menatap Krystal, “Maaf, tadi aku keluar membeli minuman, dan lupa memberi tahu kakakku kalau kau mau datang.”

Pria yang disangka seorang adik kecil oleh Krystal ternyata merupakan kakak Sehun. Jika dilihat, Sehun memang lebih tinggi dari kakaknya, dan kakaknya memiliki wajah baby face. Krystal hanya bisa menunduk malu dihadapan kakak-adik itu.

“Oh ya, dia kakakku, Baekhyun,” kata Sehun pada Krystal, “Dan Hyung, ini temanku, Krystal.”

Aigoo, ternyata Noona cantik ini temanmu,” cibir Baekhyun.

Dia menyeringai memandang Krystal. Disangka anak kecil oleh seseorang yang lebih muda darinya sepertinya cukup menyenangkan.

Noona?” Sehun menyipitkan matanya heran.

“Sehun, bagaimana kalau kita belajar sekarang biar selesainya tidak kemalaman,” sela Krystal berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia terlalu malu untuk membiarkan Sehun mengetahui  perbuatan keji apa yang telah dia perbuat pada kakaknya.

Sehun mengangguk sedikit kebingungan, “Baiklah, kalau begitu ayo masuk ke dalam!”

Setelah dipersilahkan masuk, Krystal segera mengambil langkah seribu. Dia memang berharap bisa segera menghilang dari hadapan Baekhyun. Tatapan Baekhyun yang terus menghujaninya sungguh membuatnya risih. Nampaknya kesialan sedang berpihak padanya.

****

“Dia pacarmu?”

Baekhyun tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar Sehun. Sehun yang saat itu sedang membersihkan sampah sisa makanannya langsung menoleh ke sumber suara. Krystal baru saja pulang, dan dia mencoba membersihkan kamarnya yang sedikit kotor.

“Siapa?” Tanya Sehun yang kembali sibuk dengan sampah-sampahnya.

“Krystal,” jawab Baekhyun yang masih menantikan jawaban Sehun, namun enggan melangkah masuk ke dalam kamar adiknya itu.

“Jangan bicara sembarangan!” Kata Sehun santai.

Baekhyun berpikir sejenak, “Ah, dia bukan pacarmu, tapi kau suka padanya kan?”

Sehun yang sejak tadi menyibukkan diri dengan sampah-sampah di kamarnya akhirnya menoleh pada Baekhyun.

Hyung, kau ini bicara apa? Krystal hanya teman kelas yang kebetulan dekat denganku,” jelasnya.

Meski Baekhyun mengangguk-angguk mengerti, namun dia belum cukup puas dengan penjelasan Sehun. Dia pun berjalan mendekati Sehun untuk menginterogasinya lebih mendalam.

“Jadi kedekatan kalian hanya sebatas teman? Tidak lebih?” Timpal Baekhyun semakin bersemangat.

Sehun hanya mengangguk tanpa memandang Baekhyun. Dia lalu membawa sampah-sampah yang di kumpulnya turun ke lantai bawah. Kamarnya dan kamar Baekhyun memang terletak di lantai dua. Saat menuruni tangga rumahnya, dia baru menyadari jika Baekhyun masih mengekor di belakangnya.

Hyung, ada apa denganmu? Kenapa kau penasaran sekali tentang hubunganku dengan Krystal?” tanya Sehun yang mulai risih dengan kelakuan Baekhyun.

“Kau sungguh tidak memiliki perasaan padanya? Biar sedikit pun?

Sehun mendengus kesal. Baekhyun telah mengabaikan pertanyaannya. Ingin rasanya dia menutup rapat mulut Baekhyun dengan perekat yang kuat. Kakaknya itu memang kerap bertingkah kekanak-kanakkan, dan itu sangat mengusiknya. Dia pun menghentikan langkahnya dan menatap penuh murka pada Baekhyun.

“Aku akan mengatakannya sekali saja. Hubunganku dengan Krystal hanya sebatas teman, tidak lebih. Hanya teman!” Kata Sehun dengan nada penekanan.

“Benarkah? Kau tidak akan menarik perkataanmu barusan kan?” Baekhyun berusaha memastikan.

“Iya!” Jawab Sehun tegas.

Senyum kelegaan yang mungkin juga melambangkan sebuah kebahagiaan langsung terukir di wajah Baekhyun. Sudah lama dirinya tidak berbagi cinta dan kasih sayang dengan seorang wanita. Dan mungkin dia bisa memulainya lagi bersama Krystal. Yah, gadis itu telah berhasil menarik perhatiannya.

Tidak sulit baginya untuk mendekati Krystal. Dia bisa saja menggunakan jasa percomblangan dari Sehun, tetapi dia tahu tidak mudah untuk mendapatkan pertolongan darinya. Tentu saja dia harus bisa mengambil hati Sehun dahulu. Dia lalu melirik kantongan sampah di tangan adiknya itu.

Ouh, sepertinya berat sekali. Sini, biar aku saja yang membuangnya!” Tawar Baekhyun kemudian mengambil kantongan itu.

Kerutan di dahi Sehun mencuat menyaksikan sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah bak ibu peri di kisah Cinderella. Entah apa lagi yang diinginkan Baekhyun darinya. Tentu saja Baekhyun bersikap manis seperti itu karena ada udang di balik batu.

Daripada suntuk memikirkan keganjilan dari sikap Baekhyun, Sehun lebih memilih menyegarkan tenggorokannya yang terasa sedikit kering. Dia pun berjalan menuju dapur. Lagipula tidak baik jika dia terus-terusan berprasangka buruk pada kakaknya. Baru saja dia hendak meneguk segelas air, Baekhyun tiba-tiba mucul  dan menariknya agar duduk di kursi makan.

“Sehun, minum sambil berdiri itu tidak baik bagi kesehatan,” pinta Baekhyun sambil mengusap lembut kepala Sehun.

Spontan Sehun menjauhkan kepalanya dari tangan Baekhyun, “Kau ini kerasukan setan apa?”

“Aku hanya ingin menjadi kakak yang baik untukmu,” balas Baekhyun seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.

Sehun mendesah, “Sudahlah Hyung! Sikapmu itu membuatku geli. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”

Ternyata Sehun cukup tangkas, sehingga Baekhyun tidak perlu berlama-lama bersikap manis padanya. Meski mereka adalah kakak-adik yang cukup akur, mereka tidak suka bermanja-manja satu sama lain. Apalagi bersikap “sok” perhatian, seperti yang dilakukan Baekhyun saat ini.

Baekhyun menggeser kursi yang didudukinya agar lebih dekat dengan Sehun. Dia lalu menghela panjang seraya memasang raut wajah teraniaya, seperti ingin dikasihani.

“Sehun, kau taukan Hyung-mu ini sudah lama sendirian,” desahnya.

Ani, kau tidak sendirian. Kaukan tinggal bersamaku dan juga Appa,” timpal Sehun.

Sejak kanak-kanak mereka hanya tinggal dan dirawat dengan seorang Ayah saja. Ibu mereka pindah ke luar negeri setelah bercerai dengan Ayah mereka. Saat kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, Baekhyun masih berusia lima tahun, sedangkan Sehun baru menginjak usia tiga tahun.

Baekhyun kembali menghela panjang. Kali ini bukan karena meratapi nasibnya yang hidup tanpa kekasih, tetapi karena kesal dengan kepolosan Sehun. Menurutnya itu bukanlah suatu kepolosan, tetapi lebih tepat disebut kebodohan.

“Yang ku maksud bukan seperti itu, Sehun. Maksudku, aku sudah lama tidak menjalin hubungan khusus dengan wanita. Aku sudah bosan sendirian, tanpa kekasih,” tutur Baekhyun.

“Lalu, hubungannya denganku apa? Kau tidak mungkin memintaku untuk menjadi kekasihmu kan?” Sehun menaikkan sebelah alisnya.

Baekhyun menatap malas pada Sehun. Adiknya itu memang bukanlah orang yang tepat untuk mencurahkan isi hati.

“Meski aku wanita dan kau bukan saudaraku, aku tetap tidak mau punya kekasih sepertimu,” cibir Baekhyun.

“Lalu, apa alasanmu bersikap manis padaku?” Tanya Sehun kembali meneguk minumannya.

“Aku butuh bantuanmu untuk bisa dekat dengan Krystal.”

To Be Continued . . .

 For my lovely readers keep RCL, no bashing and plagiarism! Okay ^_~

>>> Cek chapter selanjutnya disini!

3 thoughts on “Goodbye Summer [Chapter 1]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s