Truly, I Love You (chapter 9)

edit poster

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is  just a fiction😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-chapter 9-

 

“berusaha membenci disaat kau mencintainya itu sulit.”

 

D.O’s POV

“aku membencimu kyungsoo!”

Dari sekian banyak rentetan perkataan sakura, hanya itu lah yang paling kuingat. Gadis itu membanting pintunya. Hal yang seingatku tak pernah dilakukannya.

Apa ada yang pernah tertusuk ratusan belati? Kurasa aku bisa menggambarkan bagaimana rasanya. Kerongkonganku tercekat, aku bahkan tak kuasa menelan ludahku sendiri. tatapan tadi, air mata yang membasahi pipinya tadi, aku baru tahu kalau hal itu bisa lebih menusuk dari ratusan pisau yang mungkin merobek-robek hatimu.

Kuatatap pintu bercat putih yang bergeming itu lagi, rasanya mataku panas, aku tidak pernah menangis. Dan memang tidak akan pernah. Aku menarik nafasku dan berusaha mengatur perasaanku.

Aku tahu sakura terluka, tapi ada tanggung jawab yang harus kulakukan disaat yang sama. Aku bukan monster yang tak memiliki hati, tapi aku memang tak bisa memilih.

Kueratkan peganganku pada ransel yang ada dipundakku, dan dengan langkah pelan aku menuruni setiap undakan tangga dengan perasaan yang tak menentu.

-0-

Author’s POV

“tuan muda, ini tadi terjatuh.” Saat D.O sampai di anak tangga terakhir, ahjumma kang menghampirinya dan menyerahkan benda bulat berwarna hitam yang sangat mirip dengan miliknya yang masih terpasang dengan baik di jari manisnya, cincin pernikahan milik sakura.

D.O menerima cincin tersebut, “gomawoyo ahjumma, ergh tolong jaga sakura selama aku tidak ada, pastikan dia tetap makan dengan baik.” Masih segar diingatan D.O bagaimana dahulu sakura sampai jatuh sakit karena tak menyentuh makanannya dipertengkeran pertama mereka, bukan pertengkaran memang, sakura hanya salah paham. Dan kali ini, melihat bagaimana seorang sakura mampu mengeluarkan kata-kata seperti itu, D.O tidak yakin pertengkaran mereka kali ini akan mudah untuk diselesaikan.

Ahjumma mengangguk patuh, D.O segera berlalu menuju teman-temannya yang sudah menunggu di pintu depan.

“hyung, tadi kulihat sakura pulang apa kalian bertemu?” Tanya Kai.

“Kaja.” Tanpa menjawab pertanyaan kai, D.O langsung berlalu dan memanggil kim ahjussi dan mengatakan kalau mereka akan segera berangkat.

Kai, chanyeol, baekhyun, dan sehun saling tatap. Dan secara bersamaan mereka kemudian mengangkat bahu.

 

“….silahakan pakai sabuk pengaman anda, pesawat akan….”

Kai mengencangkan sabuk pengamannya, seraya memasang headsetnya, kai duduk bersebelahan dengan D.O dan laki-laki itu belum juga memasang sabuk pengamannya. Sejak masuk pesawat tadi, kai dapat melihat raut wajah yang jarang ditunjukkan D.O, laki-laki itu terlihat begitu tertekan saat memasuki pesawat. “hyung, pakai sabuk pengamanmu.” Kata kai kemudian.

D.O yang sejak tadi menatap keluar jendela menoleh, “oh, hm.” Ujarnya singkat.

“ada hal yang menganggumu ya?” Tanya kai kemudian, D.O memang cukup dekat dengannya dibanding dengan yang lainnya, tak jarang kai menceritakan banyak hal yang tak diceritakannya kepada yang lain, dan kai yakin memang ada yang mengganggu D.O, karena saat pelatih mengatakan mereka yang akan pergi ke jepang, sebagai kapten tim D.O terlihat begitu bahagia.

“eopseo, bangunkan aku kalau kita sudah sampai di jepang.”

D.O menutup matanya, sebenarnya dia hanya berpura-pura menutup matanya. Otaknya begitu penuh dengan setiap perkataan sakura yang seperti sebuah film, terus terputar berulang-ulang. Tapi seperti yang sudah D.O katakan pada dirinya sendiri sebelumnya, ada tanggung jawab yang harus dibawanya, dan dia hanya tak bisa memilih.

-0-

Saat sore menjelang, bel sekolah berbunyi nyaring, riuh rendah anak-anak terdengar dari setiap sudut kelas. Eunyeol mulai membereskan buku-bukunya, dia juga membereskan buku-buku sakura yang ditinggal pemiliknya. Sakura tak kembali setelah jam istirahat pertama selesai tadi. Saat guru menanyakan, eunyeol hanya mengangkat bahu. Tidak tahu.

“eunyeol-ah…” dari ujung koridor seseorang memanggil eunyeol. Gadis itu menoleh, dan dilihatnya suho sedang berjalan kearahnya.

“oh suho sunbae, annyeonghaseyo.” Sapa eunyeol sopan.

“eeiih jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil saja oppa, seperti sakura.” kata suho kemudian. “oh bukankah itu tas sakura, dimana dia?”

Eunyeol menggeleng, “saat jam istirahat dia bilang dia pergi ke perpustakaan dan tidak kembali lagi ke kelas setelah itu.”

“sudah kau cek di perpustakaan?”

“hm.” Jawab eunyeol seraya mengangguk, “dia tak ada juga disana, jadi aku akan mengantarkan ini ke rumahnya.”

“ikut mobilku saja.” tawar suho,

“aniyo, gwenchanayo, aku bisa naik bus oppa.”

“dilarang menolak tawaranku, kaja.” Suho menggandeng tangan eunyeol, dan membawanya menuju parkiran sekolah.

-0-

Rumah sakura begitu hening saat suho dan eunyeol memasukinya, di halaman rumah hanya ada mobil D.O yang ditinggal pemiliknya ke jepang. Eunyeol mencari-cari ahjumma Kang yang dilihatnya sedang membereskan meja makan. “ahjumma.” Panggil eunyeol. “apa sakura di rumah?” karena beberapa kali sebelumnya eunyeol sering main kesana, ia sudah tak canggung lagi menyapa ahjumma kang,

“dia sudah dirumah sejak siang tadi nona.”

Suho dan eunyeol sama-sama membulatkan matanya, “jinjjayo? Jadi dia kabur dari sekolah? Kenapa?”

Ahjumma kang menatap suho dan eunyeol bergantian, dia terlihat ragu-ragu ingin menjawab pertanyaan eunyeol. Ahjumma maju selangkah dan memegang lengan eunyeol, “saya rasa, ada sesuatu yang terjadi antara tuan muda dan nona sakura.” ucapnya kemudian.

“se..suatu apa?” kali ini suho yang bertanya, seingatnya saat D.O berpamitan dengannya tadi di sekolah saat pelepasan, laki-laki itu terlihat baik-baik saja.

“sepertinya mereka bertengkar.”

“mwo?!”pekik eunyeol.

“saya juga tidak tahu pasti, nona. Tapi saat saya panggil untuk makan siang, nona sakura tidak keluar sama sekali. Nona sakura jarang bersikap seperti itu.”

Suho dan eunyeol saling tatap, sepertinya memang ada yang tidak beres melihat bagaimana sakura tiba-tiba pergi dari sekolah dan tidak kembali lagi, dan tidak turun untuk makan siang. Eunyeol menyerahkan tas sakura pada ahjumma, “aku akan mengeceknya, oppa apa kau mau ikut naik?” tanyanya pada suho.

“kurasa tidak, aku harus menemani ibuku sore ini.”

“baiklah, terima kasih atas tumpangannya oppa.”

“sampaikan salamku pada sakura.”

Setelah eunyeol mengangguk singkat, ia segera menaiki tangga dengan cepat. Eunyeol mengetuk pelan kamar sakura, dia juga memanggil nama sakura beberapa kali, namun sayangnya dari ketukan yang kesekian dan panggilan yang entah sudah keberapa kalinya sakura belum juga mau membukakan pintunya.

“sakura, kau benar-benar tak ingin membukakan pintunya untukku? Apa kau baik-baik saja?” dengan suara yang lebih di keraskan eunyeol berkata lagi.

Suara kunci yang bergerak terdengar samar dan tak lama sakura membuka pintunya perlahan, Dengan mata yang sembab, hidung yang merah, dan pipi yang basah sakura menatap eunyeol.

“kau… menangis?” Tanya eunyeol, pelan dia memajukan tangannya dan mengusap air mata sakura yang terus membasahi pipinya. “wae geurae?”

Sakura tak menjawab, ia tenggelam dalam isakannya sendiri, eunyeol segera membawa sakura masuk kedalam kamar. Kamar gadis itu gelap, eunyeol segera menyalakan lampu untuk sekedar mendapat penenerangan. Banyak tisu yang berserakan di lantai dan juga ranjangnya, eunyeol menduga memang terjadi sesuatu antara sakura dan D.O, eunyeol mendudukan sakura di ranjang dan ikut duduk di hadapan gadis itu.

Eunyeol menarik nafasnya sebentar sebelum melontarkan pertanyaannya pada sakura, “gwenchana?”

Sakura menggeleng,

“apa karena… D.O sunbae?”

Sakura mengangguk pelan,

Eunyeol memajukan dirinya dan menggenggam tangan sakura, “kenapa? Mau menceritakannya padaku?”

Sakura melepas pegangan tangan eunyeol dan mengelap air matanya yang kembali jatuh dengan punggung tangannya, “aku…..” sakura menunduk, “membencinya.”

Eunyeol menganga kaget, dia mencoba memahami dengan baik apa yang baru saja sakura katakan. Tidak mungkin eunyeol salah dengar tapi ia yakin tidak mungkin juga kata yang baru saja di dengarnya itu memang benar-benar keluar dari mulut sakura, “sakura..”

Sakura menatap eunyeol dengan air matanya yang berlinang, “aku tidak pernah tahu kyungsoo akan pergi ke jepang, aku bahkan baru tahu kalau dia akan pergi hari ini setengah jam sebelum kepergiannya, apa kau sadar betapa kejamnya kyungsoo? aku selalu mencoba bersabar menghadapinya, menghadapi sikap ketusnya, sikap dinginnya, bahkan sifatnya yang keras kepala. Aku tak pernah meminta banyak hal darinya, aku hanya ingin dia menganggapku ada.”

Eunyeol mengusap air mata sakura, “apa kyungsoo begitu membenciku sampai—“

“ya! Jangan berkata seperti itu, D.O sunbae pasti punya alasan lain kenapa dia tidak memberitahumu ,”

“tadi saat aku bertemu dengannya sebelum dia pergi, aku bilang padanya kalau aku membencinya, tidak mau melihatnya lagi, dan mengatakan padanya untuk pergi saja. kurasa aku bodoh eunyeol-ah, begitu bodoh karena berusaha membodohi diriku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan kalau aku membencinya dan setelah mengatakannya aku bahkan sudah merindukannya,”

Sakura kembali rapuh, bahunya naik turun tak menentu, tangisnya kembali pecah, eunyeol yang tidak tahu cara lain untuk menenangkannya hanya mampu merengkuh sakura kedalam pelukannya,

Eunyeol bisa saja mengatakan ia mengerti perasaan sakura untuk menenangkan gadis itu, walau pada kenyataannya eunyeol sama sekali tidak mengerti apapun, dia tidak tahu apa rasanya menikah di usia yang begitu muda, dengan orang yang baru dikenal, yang terus bersikap dingin, yang bahkan mungkin jarang melemparkan senyum. Eunyeol sama sekali tidak tahu. maka daripada mengatakan hal yang memang tidak dimengertinya hanya untuk menghibur sakura, eunyeol lebih memilih diam dan mengelus pelan bahu gadis itu. menyampaikan padanya kalau sahabatnya ada disini, bersamanya.

-0-

Osaka, Jepang.

Rombongan dari korea baru sampai di jepang pukul 7 malam waktu setempat. Orang yang bertugas menjemput langsung mengantarkan rombongan ke hotel, setelah mendapatkan kunci kamar masing-masing, setiap orang langsung bergegas mengistarahatkan diri.

Chanyeol sekamar dengan baekhyun, sehun dengan salah seorang pemain inti lainnya, sedangkan kai satu kamar dengan D.O, kamar mereka masing-masing berdekatan dan terletak di lantai 5. Setelah memilah barang bawaan, mereka memasuki kamar masing-masing.

“aku akan mandi duluan hyung,” ucap Kai begitu memasuki kamar.

“hm,” sahut D.O singkat, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak di bandara tadi saat mereka mendarat. Kai hanya menatap bingung tanpa mampu untuk bertanya karena dia pasti tak akan mendapatkan jawaban.

D.O merebahkan tubuhnya di kasur, kai sudah masuk ke dalam kamar mandi semenit yang lalu. D.O menatap langit-langit kamar hotelnya dan menghela nafasnya panjang. Penerbangan ke jepang memang hanya satu jam, tidak membuatnya lelah sama sekali. Tubuhnya memang tidak, tetapi hatinya iya. Setiap langkahnya terasa begitu berat, dan udara disekitarnya tidak terasa segar seperti biasanya.

D.O mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, cincin sakura. dia memandangi cincin itu lama, begitu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya. D.O menggenggam cincin itu lagi, dan untuk kesekian kalinya, D.O kembali menghela nafasnya panjang.

-0-

“kutunggu kalian di lapangan setelah sarapan, akan ada mobil yang akan menjemput kalian juga nanti.” Pesan pelatih yang datang pagi-pagi sekali ke setiap kamar saat mereka baru saja bangun. Hanya beberapa yang menanggapi dan sisanya tetap terlelap.

Pukul 9 pagi semua baru keluar dari kamar masing-masing dan bersiap sarapan. Di restoran hotel, sehun mengambil banyak makanan di piringnya, berbeda dengan chanyeol dan baekhyun yang hanya mengambil beberapa potong roti.

“karena kelelahan, semalam aku lupa makan malam. Jadi sekarang aku kelaparan.” Kilah sehun saat kai, chanyeol, dan baekhyun memandanginya aneh.

Baekhyun hanya membalasnya dengan cibiran, “dimana D.O?” tanyanya kemudian, hampir semua pemain telah ada di restoran untuk sarapan namun sejak tadi baekhyun tak melihat sosok D.O

“saat kuajak turun dia bilang nanti, ya sudah aku duluan.” Kata kai menanggapi.

 

“selamat pagi semua,” sapa pelatih, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, semua pemain telah bersiap di lapangan.

Mereka berlatih di lapangan baseball yang sangat luas di salah satu sekolah atletik di Osaka. Mereka akan berlatih disana selama 5 hari, dan pertandingan final akan diadakan di hari keenam. Pelatih mulai mengatakan beberapa peraturan-peraturan selama mereka berlatih disana. Mereka akan rutin berlatih dari pukul 10 pagi sampai pukul 3 sore, dan setelah sesi latihan selesai semua pemain dibebaskan melakukan hal-hal yang mereka inginkan.

Begitu peraturan terakhir dibacakan, walau pelan sehun memekik senang. Dia merasa bisa mati kebosanan kalau hanya berlatih terus menenerus selama di jepang, chanyeol juga memberikan senyuman yang cukup lebar menandakan suasana hatinya yang senang begitu mendengar hal terakhir yang pelatihnya katakan.

“kita datang kesini untuk menang, maka dari itu tanamkanlah dalam diri kalian masing-masing kalau piala tahun ini akan menjadi milik kita.” Kata pelatih kemudian sebelum mereka melakukan tos bersama.

Sesi latihan diawali dengan pemanasan selama 15 menit, kemudian mereka langsung di bagi menjadi dua kelompok dan memulai latihan seperti yang biasa mereka lakukan di sekolah.

Sudah 30 menit latihan di mulai dan selama itu pula sudah banyak sekali kesalahan-kesalahan yang dilakukan D.O, mulai dari kesalahan besar sampai kesalahan sepele yang harusnya tak dilakukannya. Pelatih yang memerhatikannya dari pinggir lapangan, menggeleng tak percaya. Sejak awal ia sudah menyadari D.O yang kehilangan konsentrasinya, dia sangat mengenal bagaimana cara D.O bermain, dan kemampuan yang di tunjukkannya pagi itu bukanlah kemampuan yang selama ini dimilikinya.

D.O menyerah, dia meminta waktu beristirahat sebentar di pinggir lapangan. Kondisinya terlalu kacau hari itu, D.O sama sekali tak bisa berkonsentrasi pada apapun, entah saat dia menjadi pemukul, pelempar, atau bahkan penjaga. D.O sama sekali tak bisa melakukannya dengan benar, dia menghembuskan nafasnya keras, sambil memegangi botol minumannya dia memerhatikan teman-temannya yang melakukan latihan dengan sangat baik.

“apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba saja pelatih sudah ada di sebelah D.O dan ikut membuka botol minumnya.

“ne,” ucap D.O singkat.

“apa ada yang mengganggu pikiranmu? Sejak tadi kulihat kau seperti sedang memikirkan sesuatu.”

D.O yang sedang menenggak minumannya seketika berhenti, dia berdehem sebentar dan mengatakan. “tidak ada, mungkin aku hanya tegang dengan pertandingannya nanti.”

Melihat D.O yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa seperti biasa, pelatih mengangguk-angguk mengerti, “baiklah, kuharap kau memang hanya tegang.” Setelah menepuk pelan pundak D.O, pelatih beranjak kembali memerhatikan jalannya sesi latihan.

-0-

Setelah merengek lama pada ahjumma, sakura akhirnya berhasil membuat ahjumma mengijinkannya untuk berjalan-jalan sebentar. Awalnya ahjumma tidak mengijinkan karena sakura bersikeras ingin jalan-jalan sendiri tanpa di temani, hal yang begitu beresiko mengingat sakura menjadi tanggung jawabnya karena D.O tidak ada, kemudian ahjumma membolehkan asal sakura pergi bersama kim ahjussi.

“aku akan baik-baik saja, sungguh.” Kata sakura, ia sudah masuk kedalam mobil. Ahjumma yang sedang mewanti-wanti kim ahjussi agar terus mengawasi sakura menoleh.

“tapi tetap saja nona, anda jangan jauh-jauh dari kim ahjussi ya?” pesan ahjumma untuk kesekian kalinya.

Sakura memutar kedua bola matanya dan mengangguk, dia bosan mendengar perkataan ahjumma yang terus di ulangnya itu. setelah menaikkan kaca jendela mobil, sakura meminta kim ahjussi untuk segera menjalankan mobil.

“kita akan kemana nona?” Tanya kim ahjussi saat mobil sudah memasuki jalan raya.

“kemana saja..” sambil terus menatap kosong keluar jendela sakura menjawab pertanyaan ahjussi.

Sakura’s POV

Aku tak pernah pandai berbohong, apa yang kurasakan pasti terpampang dengan jelas dalam setiap ekspresi wajahku. Walau aku mengatakan baik-baik saja pada setiap orang yang menanyakan keadaanku yang menyedihkan belakangan hari ini, aku yakin mereka tidak percaya. Aku memang tidak baik-baik saja, keadaanku buruk setelah kyungsoo pergi. Setelah kyungsoo tetap memutuskan pergi bahkan setelah mendengar semua isi hatiku waktu itu.

Dia memang tidak pernah peduli padaku, tapi bodohnya aku tetap tidak bisa membencinya. Aku bohong saat mengatakan aku membencinya, mana mungkin aku membencinya, rasanya aku perlu mengatakan kalau hal paling sulit di lakukan di dunia ini adalah, membenci orang yang telah membuatmu jatuh cinta. Seberapa kerasnya pun kau berusaha. Percayalah padaku kau tak akan pernah berhasil.

Hari keempat tanpa kyungsoo.

Aku merindukannya, sangat merindukannya dan begitu merindukannya.

Aku menarik nafas dalam, aku benar-benar membutuhkan kyungsoo saat ini. andai dia tahu, aku bahkan tidak dapat melakukan hal yang benar selama dia pergi. Sekolah juga begitu tidak menyenangkan saat aku tak dapat menemukan kyungsoo dimanapun, dan rumah rasanya menjadi begitu asing karena tak ada kyungsoo yang bisa kulihat kapanpun aku mau. Aku sungguh membutuhkan kehadirannya agar aku bisa bernafas dengan benar.

“ahjussi, berhenti disini.” Kataku, aku tak tahu kami sudah dimana yang jelas begitu banyak orang berlalu lalang di pinggir jalan. “aku akan jalan-jalan di sekitar sini.” Putusku,

“tapi nona,” ucap ahjussi.

“tenang saja, aku tak akan hilang. Aku hanya berjalan di sekitar sini sebentar, ahjussi tunggu saja disini, aku akan segera kembali.” Sebelum ahjussi mengatakan apa-apa lagi, aku sudah keluar dari mobil dan berjalan menjauh.

Seoul disaat malam memang cantik. Aku sering melihatnya di internet, tapi aku tidak pernah benar-benar menikmatinya, terakhir kali saat ke festival bersama kyungsoo dan berakhir dengan marahnya ia padaku. Aku tertawa pelan pada diriku sendiri, memang kapan aku dan kyungsoo benar-benar berada dalam kondisi baik untuk waktu yang lama? kurasa tidak pernah.

Banyak jajanan-jajanan kaki lima yang kulihat sepanjang jalan, aku benar-benar tidak tahu tempat apa ini. rasanya aku memang tidak pernah benar-benar tinggal di seoul. Kurasa aku sudah berjalan cukup jauh, takut kalau aku malah tidak bisa menemukan mobil ahjussi lagi, aku memutuskan berhenti dan duduk di salah satu warung tenda disana.

Aku pernah duduk di warung tenda seperti ini dengan kyungsoo. hanya pernah tanpa benar-benar menikmati makan didalamnya, kyungsoo langsung pergi ketika itu. laki-laki yang aneh.

Seorang ahjumma menghampiriku, menanyakan pesanan. Aku hanya mengatakan kalau aku hanya duduk disana sebentar. Setelah menatapku aneh dia berlalu ke pengunjung lain yang baru datang. aku mengangkat bahuku cuek, lagipula kalaupun aku memesan, aku tak bawa uang sama sekali.

“Agassi,” seseorang yang duduk di sebelah mejaku berkata, aku terlalu sibuk melihat lalu lalang orang-orang dan tidak mengindahkannya, mungkin bukan aku yang dipanggil.

“Agassi,” katanya lagi, aku masih sibuk menatap keramaian sekitar.

Banyak sekali orang-orang yang menghabiskan waktu disana, walau hanya sekedar berjalan atau mencoba jajanan kaki lima yang ada disana.

“ya!” teriak seseorang yang tiba-tiba sudah duduk di hadapanku, kurasa dia yang memanggil tadi, “apa kau tidak punya telinga, hah? Aku sejak tadi memanggilmu!”

“ahjussi, memanggil saya?” Tanyaku sopan, walau aku tahu ahjussi dihadapanku ini sedang berada di bawah pengaruh alkohol tapi aku tetap berbicara sopan padanya.

Dia menenggak lagi botol soju di tangannya, “ah lupakanlah, kau mau minum denganku, seorang gadis manis sepertimu tidak baik hanya duduk sendirian.”

Aku mengernyitkan hidungku, aroma soju begitu kuat tercium dari mulutnya, entah sudah berapa botol dia meminumnya, “aniyo, aku juga akan pergi.”

“eits.” Saat aku akan berlalu, ahjussi itu menghalangi jalanku. “tidak baik menolak tawaran orang yang ingin berbuat baik padamu nona.”

“ahjussi aku rasa aku harus segera pergi, permisi.” Aku berusaha menghindar dan ahjussi di depanku terus saja menghalangiku. “ya!” teriakku, suasana hatiku sedang buruk dan ahjussi bodoh ini memperburuknya. Aku menatapnya tajam.

“wah, kau berani berteriak padaku?”tiba-tiba saja tangan nakal nya menyentuh daguku.

Aku menatapnya dengan tatapan marah, “jangan kurang ajar padaku ahjussi.”

“wae? Kau ingin berteriak? Berteriaklah, tidak akan ada yang ingin repot-repot membantumu disini.”

Aku memandang sekeliling, dari segelintir orang memang hanya sedikit yang memerhatikan dan mereka pun hanya menatap kasihan, sisanya berusaha tidak mendengar apapun. Apa-apaan ini?

“supirku ada di dekat sini, dan dia akan..”

“menjauh darinya,”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, seseorang telah berdiri di hadapanku, membentengiku, aku mendongkak, “chen-ah?” kataku tak percaya,

Chen menolehkan kepalanya sedikit, “tetaplah di belakangku.” Pesannya,

“kau siapa?” ahjussi mabuk itu berkata lagi,

“jauhi temanku, atau kau akan pulang dengan keadaan yang menyedihkan.” Dengan nada yang dalam chen membalas perkataan ahjussi tersebut.

“kau mengancamku?”

“aku bisa melakukan hal yang lebih mengerikan dari sekedar mengancammu laki-laki tua, pergilah sebelum terlambat.”

“cih, anak ingusan sepertimu.”

Aku memegangi belakang baju chen, ahjussi mabuk itu memang telah berhasil membuatku tertekan. Aku benar-benar takut dia akan berbuat macam-macam padaku,

“Ka.”

Aku tak tahu datangnya dari mana, tiba-tiba seorang ahjussi datang dan menarik ahjussi mabuk itu menjauh, dia mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku mengintip dari balik punggung chen dan mereka sudah jauh di ujung jalan. aku mengendurkan peganganku pada baju chen, perlahan dia juga membalik badanya dan menatapku. “gwenchana?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan, “gomawo.”

“kenapa kau bisa ada disini? Dan sendirian?”

Tidak tahu harus menjawab apa, aku hanya tersenyum salah tingkah kearahnya.

Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku bisa kembali dengan selamat ke mobil kim ahjussi, tapi chen tetap memaksa untuk menemani. Akhirnya, kami berjalan dalam diam membelah trotoar pinggir jalan sama seperti yang dilakukan orang-orang sekitar yang berlalu lalang.

Sesekali aku mendengar suara jepretan kamera chen yang seperti biasa selalu tergantung di lehernya. Melihatnya memotret aku jadi merindukan kameraku yang selama ini hanya tergeletak dengan manis di ujung meja belajarku karena belakangan ini tak ada hal yang menarik perhatianku untuk di jadikan objek.

“sakura,” panggilnya, aku menoleh. “boleh aku menanyakan sesuatu?” lanjutnya.

Aku mengerutkan alisku, tak biasanya chen meminta ijin terlebih dahulu sebelum ia bertanya. Biasanya sama seperti eunyeol, dia akan langsung bertanya. Meski bingung, aku tetap mengangguk pelan.

“kenapa kau menjadi sedikit aneh beberapa hari ini?”

Mendengar pertanyaan chen, sontak aku menghentikan langkahku. Apa aku begitu jelas, sampai seorang chen menyadarinya? Aku berdehem sebentar dan memasang senyum kepadanya. “aneh kenapa? Aku baik-baik saja.”

Chen mengerutkan keningnya, “aku bahkan tidak menanyakan apa kau baik-baik saja atau tidak.” chen menatapku lebih dalam, “apa itu kata-kata yang selalu kau gunakan untuk membohongi orang lain?”

Aku mengerjap kaget, chen aneh sekali. Aku menelan ludahku, dan berdehem sebentar. Aku menatapnya dan memberikan seulas senyuman, “nan gwenchana.”

“berhenti mengatakannya karena itu hanya menunjukkan seberapa tidak baiknya keadaanmu sekarang.”

Author’s POV

Chen menatap sakura lebih dalam, mengunci gadis itu kedalam tatapannya. Beberapa hari ini, chen memang menjadi lebih sering memerhatikan sakura. baginya, terasa begitu menyenangkan saat para pemain baseball itu tak terlihat dimanapun di sudut sekolah. Tapi ada hal lain yang kemudian menggelitik hatinya, kenyataan bahwa gadis yang di cintainya ternyata merasakan hal yang justru berkebalikan dengannya. chen tahu sehari sejak tim berangkat ke jepang, sejak itu juga dia melihat bagaimana seorang gadis yang biasanya bersinar bagai matahari musim panas dan merekah bagai kelopak bunga musim semi tiba-tiba saja muram bagai langit kelabu musim dingin dan rapuh bagai ranting di musim gugur. Sangat mengganggunya.

Ditatap begitu dalam membuat sakura salah tingkah, ia menundukkan kepalanya dan berusaha menutupi setiap ekspresi di wajahnya. “ani, itu, kurasa disana kim ahjussi.” Sakura menolehkan kepalanya dan melihat kim ahjussi yang tengah berjalan mendekat, ia tersenyum, tatapan chen cukup mengintimidasinya dan kim ahjussi bisa menjadi alasan yang sangat bagus untuk keluar dari keadaan yang dirasanya mendesaknya ketika itu. “aku harus segera pulang.”

Baru selangkah sakura beranjak, tangan kekar milik chen sudah memegangi pergelangan tangannya, “apa karena D.O?”

Deg.

Puluhan pertanyaan, ratusan alasan, dan ribuan nama. Sakura bisa menghadapinya. Tapi tidak dengan nama itu.

“mwo? Ani, itu…” sekuat apapun dia berusaha memikirkan berbagai alasan yang mungkin bisa di katakannya, tapi otaknya sedang bekerja sangat lambat ketika itu. pergelangan tangannya terkunci, bagaimana pun dia berusaha untuk melepasnya, genggaman chen terlalu kuat dan usaha yang berlebihan hanya akan menyakiti dirinya sendiri, pikir sakura.

“apa karena D.O?” chen mengulang pertanyaannya.

Sakura mendengus kecil, “bisakah kau tidak menyebutnya saat ini? aku baik-baik saja.”

“aku tidak pernah menanyakan apa kau baik-baik saja atau tidak, aku hanya bertanya ‘kenapa kau menjadi aneh belakangan ini’, dan ‘apa itu karena D.O’, kurasa pertanyaanku jelas, dan sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya.”

Sakura berdecak frustasi, dia masih berusaha melepaskan tangannya, “chen-ssi, tolong lepaskan tanganku, aku—“

Belum sempat sakura menyelesaikan kalimatnya, chen dengan gerakan yang terlalu cepat sudah menarik sakura kedalam pelukannya. Sontak sakura mendorong chen namun laki-laki itu malah tetap mengeratkan pelukannya, “chen-ah, aku akan teriak kalau kau tak segera melepaskanku.”

“maka aku akan menciummu agar mereka tak mendengar teriakanmu.”

Sakura membelalakkan matanya, tangannya terkepal sempurna diantara tubuhnya dengan tubuh chen, karena sialnya chen juga sudah memindahkan kameranya ke samping, walau begitu sakura tetap berusaha membuat jarak dengannya.

“berikan aku jawaban apapun sesukamu asal tidak nama laki-laki itu yang kau sebutkan.”kata chen lagi.

“kumohon lepaskan aku, ini tempat umum dan tidak seharusnya kau berbuat seperti ini padaku.”

“wae?”chen melepas pelukannya tapi tidak dengan pegangannya pada pergelangan tangan sakura.

“karena aku..” … sudah jadi milik orang lain .. sakura tak mampu melanjutkan perkataannya, dia juga tidak yakin apa ia pantas mengaku telah menjadi milik orang lain yang bahkan tidak menganggap keberadaannya.

“kau belum jadi milik siapapun sakura, bisakah sebuah ciuman menjadikanmu milikku?”

“mwo?!”

Chen membungkukkan kepalanya, “setelah sebuah ciuman, bisakah kau jadi milikku sakura?”

“ya! Neo!”

Chen mendekatkan wajahnya, sakura menjauhkan kepalanya, mengambil jarak. “bisakah?”

Sakura memejamkan matanya dan menunduk, wajah chen yang sedekat itu begitu mengintimidasinya, dan dia bahkan terlihat lebih menyeramkan dari ahjussi mabuk tadi. Sakura dapat mencium aroma mint dari nafas chen dari jarak yang begitu dekat itu, kepalanya semakin tertunduk

“apa kita bisa pulang sekarang nona?”

Sakura membuka matanya, menarik paksa tangannya yang terlihat kemerahan, dan mundur beberapa langkah, ia menoleh dan kim ahjussi tepat berada di belakangnya. “oh, Ne.”

Sakura menghirup nafas dalam dan mengambil banyak oksigen karena sejak tadi ia menahan nafasnya karena ketakutan, sakura melihat lagi ke arah chen. Dia tidak bisa menebak apa arti dari ekspresi chen saat itu, terlalu sulit dibaca. “terima kasih tentang ahjussi mabuk tadi, hati-hati di jalan chen-ssi, semoga kau selamat sampai di rumah. Selamat malam chen.” Perasaan sakura begitu tak menentu, membuatnya bahkan sulit untuk sedikit saja menatap chen lebih lama lagi, sesaat setelah mengatakan hal tersebut, sakura segera berbalik menuju mobilnya, kim ahjussi mengikuti di belakangnya.

Tatapan yang sama lagi, perasaan yang sama lagi, tatapan terluka itu, perasaan yang terluka itu. tanpa berusahan mengambil nafas, chen menatap punggung sakura yang menjauh. Dia tahu dia sudah berbuat terlalu jauh, kepalanya tertunduk dan dia baru mengambil oksigen banyak-banyak. Dia bahkan belum sempat secara terang-terangan mengutarakan segalanya, tapi  rasanya ia sudah mendapatkan jawaban yang sangat jelas. Begitu jelas, dan begitu menyakitkan.

-0-

Sakura membolak-balik buku pelajarannya malas, guru sedang menerangkan di depan tapi sakura sama sekali tidak bisa memahami apa-apa. Di lihatnya teman-temannya yang lain sedang begitu serius mendengarkan. Sakura menguap untuk kesekian kalinya, pelajaran hari itu sama saja seperti kemarin-kemarin, terlalu membosankan baginya. Saat bel tanda istirahat berbunyi, dia langsung keluar dari kelas dengan cepat.

Eunyeol yang baru saja ingin bertanya apa yang akan sakura lakukan bingung karena gadis itu sudah tidak ada lagi di bangkunya. “D.O sunbae hanya pergi seminggu dan dia jadi luar biasa aneh, bagaimana nasibnya kalau laki-laki itu pergi lebih lama? kurasa dia akan gila.” Gumam eunyeol saat ia memasukkan buku-bukunya.

Dengan desahan dalam sakura menatap kosong lapangan, dia baru tahu kalau kelas dan sekolah serta segala macam hal yang ada di dalamnya bisa menjadi begitu membosankan sekarang. Dia mengetuk-ngetukkan sepatu ke tanah, “sedang merindukannya ya?” tiba-tiba saja suho sudah mengambil tempat di sebelah sakura dan berbisik pada gadis itu.

Sakura menolehkan kepalanya sedikit kaget, “oppa..” katanya.

Suho tersenyum dengan senyuman teduhnya, “maaf mengagetkanmu, ini sudah hari kelima. Bagaimana perasaanmu?” Tanya suho langsung, dia sangat tahu alasan yang membuat sakura duduk sendirian sembari memandangi lapangan yang sedang kosong itu.

“perasaan tentang apa, eopseoyo.” Kilah sakura.

“jangan mencoba membohongiku, aku bisa membaca isi kepalamu sakura. apa harimu buruk sejak dia tak ada?”

Sakura menatap suho sebentar, menundukkan kepalanya, dan mendesah. “sangat oppa, sangat buruk sampai rasanya aku hanya ingin tenggelan saja di sungai han.”

Suho menahan tawanya mendengar jawaban sakura, dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan jawaban seperti itu. “sudah mencoba menelponnya? Mungkin saja dia disana juga sedang merindukanmu?”

“rasanya mustahil.”

“kenapa mustahil?”

“oppa, boleh aku menanyakan hal yang sedikit pribadi padamu?” dengan suara yang pelan dan juga tatapan memohon sebagai senjatanya, sakura bertanya pada suho.

Setelah suho menganggukkan kepalanya pelan, sakura langsung menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan suho. “apa kyungsoo pernah menyukai seseorang sebelum ini?”

Mendengar pertanyaan sakura, suho sedikit terlonjak kaget. Setelah yakin bahwa apa yang baru saja didengarnya memang bukan kesalahan suho tersenyum kecil. “aku tak yakin apa aku bisa menjawab ini atau tidak. kau ingin mendengar jawaban seperti apa dariku?”

Sakura memonyongkan bibirnya, “balasan seperti apa itu? jawab saja apapun itu, gwenchana.”

“jeongmal?”

Sakura mengangguk yakin.

“Ne. D.O pernah menyukai seseorang.”

Sakura membuka mulutnya lama, kaget dengan jawaban yang baru didengarnya. Walau ia mengatakan baik-baik saja, tapi untuk jawaban suho barusan, sakura belum sepenuhnya mempersiapkan perasaannya. “nugu…….seyo?”

Melihat sakura yang kewalahan mengatur perasaannya sendiri membuat suho tak mampu menyembunyikan senyumnya, “aku bercanda sakura, mana mungkin hal seperti itu aku tahu.”

“oppaaaaaa…” teriak sakura kencang, wajahnya yang mengkerut sempurna membuat suho tak bisa menahan tawanya, laki-laki itu tertawa keras.

“mudah sekali membohongimu ternyata,” katanya di tengah tawanya yang masih belum mampu di hentikannya, “D.O tak mungkin memberitahukan hal semacam itu pada orang lain, termasuk aku. lagipula, dia bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Sejak aku berteman dengannya di bangku sekolah dasar, aku tak pernah melihatnya memerhatikan seorang gadis, tapi..”

Suho menatap sakura sebentar, ia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya. “tapi pernah ada seorang gadis yang menurut penglihatanku mendapat perlakuan khusus darinya. Aku tak tahu jenis hubungan apa yang mereka jalani, mungkin mereka berpacaran.”

“siapa namanya?” dengan semangat sakura bertanya pada suho, setidaknya harus ada masa lalu D.O yang diketahuinya, walau untuk yang ini ia harus mempersiapkan hatinya.

“tak perlu kau pikirkan, itu kisah lama. dia pindah saat kami masih di bangku SMP, dan sampai hari ini aku tak pernah lagi mendengar kabarnya, jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”

Sakura mendesah pelan, “jadi memang pernah ada gadis lain?”

Melihat ekspresi sakura yang langsung lesu setelah mendengar perkataannya barusan, suho mengelus pelan bahu gadis itu, merasa bersalah. “ada ataupun tidak, kaulah yang sekarang bersamanya, dan selamanya. Kau hanya perlu membuatnya sedikit lebih pintar dalam memahami perasaannya sendiri, dia terlalu cuek bahkan untuk mengerti apa yang sebenarnya dirasakannya.”

“beruntung kalau benar memang ada yang dirasakannya, bagaimana kalau dia memang tidak pernah merasakan apapun?”

Suho terkesiap, sakura menatapnya dalam sebelum kemudian memberikan seulas senyuman dan berlalu.

-0-

TBC

-chap 10-

Pukul 2 pagi setelah sempat mematikan sambungan beberapa kali, akhirnya sambungan dua negara itu tersambung.

….

“apa kau makan dengan baik?”

“hm.”

“tidur dengan baik?”

“hm.”

“gadis pintar.”

“tapi hatiku tidak baik kyungsoo, aku merindukanmu.”

“…”

“aku sungguh-sungguh merindukanmu sampai semua hal rasanya tidak berjalan dengan baik.”

“aku juga.”

“eoh?”

“lusa aku kembali, tunggulah, dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. aku membencinya tapi aku tidak membencimu,”

“…”

“tidurlah, sudah sangat larut. Besok akan kuhubungi kau lagi, selamat malam. Bermimpilah yang indah sakura.”

‘tut’

-0-

 

Aduh aku emang aneh banget otaknya, sebenernya part ini harusnya lebih panjang lagi, tapi tiba-tiba terjadi lost connection gitu *apa deh thor* haha aku langsung kehilangan arah. Jadinya aku stop partnya sampe disini. Oh iya itu yang di cetak miring itu, itu salah satu cuplikan cerita gitu di chapter 10 nanti, ah ga tau nih aku lagi aneh, maaf ya di part ini kyung sama sakuranya ga bisa barengan, mereka lagi LDRan. Haha, ya udah deh tungguin next chapnya aja ya, tunggu sampe koneksi ku balik lagi haha. Gildaryo~~~ :*

 

 

 

197 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 9)

  1. Nggak terasa Air mataku Jatuh membasahi pipi, ktika aku membaca Chapter ini..
    Be Cry..:(:(:(:*(
    Sebenernya gimana sih hubungan mreka yg sbenernya Tho, cerita gini_gini Mulu, mereka bertengkar,setelah bertengkar Balikan lagii..
    Aiiiyyssszz…!!! Jadi nyesek sendiri Gue..
    Next ya Thor, Fighting..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s