Posted in Angst, Chan Yeol, EXO-K, Fanfiction, Fantasy, fingersdancing14, Genre, Mistery, MULTICHAPTER, Tragedy, Type

The Slave of Blood #1

slave

Author: Mingi Kumiko

Cast: Choi Jin Ri and Park Chan Yeol

Genre: Crime, Fantasy, Supernatural, Angst

Rating: PG-17

.

.

Kalau mau lari, cepat lakukan
Kalau mau bohong, katakan saja
Kau hanya boleh manatapku, tersenyum hanya untukku
Sama seperti boneka benang yang patuh

 

***

Seorang gadis telah sampai di depan sebuah rumah besar nan megah. Ia mendongak, memperhatikan secara rinci tiap tekstur pada bangunan rumah tersebut.

Aneh. Pikirnya.

Secara tiba-tiba, langit yang awalnya disinari mentari, kini menjadi terselimuti awan kabut dan menurunkan rintikan hujan.

“Aduh, bagaimana ini?” paniknya sambil berusaha menutupi kepalanya dengan sebuah tas kecil yang menyelempang di pundaknya.

Pintu pagar rumah itu terbuka dengan sendirinya, seakan mengizinkannya masuk. Tanpa pikir panjang dan ingin tahu siapa yang membuka pagar tersebut, ia pun masuk dengan berlari dan mencari tempat berteduh.

Seketika suasana menjadi aneh, ia merasakan sebuah aura yang tak biasa, ditambah lagi dengan kebingungannya mencari rumah calon majikan barunya.

Aku yakin ini rumah Park Chan Yeol. Tapi apa mungkin dia tinggal di rumah kuno seperti ini?

Ia pun memutuskan mengetuk pintu. Kalau pun ia salah alamat, toh, juga bisa bertanya di mana alamat yang benar.

Tok! Tok! Tok!

“Spada… Apa ada orang?” ia sedikit berteriak. Pintu pun terbuka, terlihat seorang lelaki dengan pakaian ala pelayan di butler café berusia tiga puluh tahunan sudah ada di hadapannya.

“Maaf mengganggu, tuan… Tapi apa benar ini kediaman Park Chan Yeol-ssi?” tanyanya.

“Kau kah assistant baru itu?” bukannya menjawab pertanyaannya, lelaki tua itu malah membalas pertanyaan dengan pertanyaan.

“Iya.” gadis itu mengangguk.

“Masuklah, nona!” suruh pelayan tersebut.

Saat berjalan, ia terus saja terkagum-kagum dengan seluruh perabotan rumah yang memancarkan kesan mewah dan glamour.

“Tuan, assistant baru Anda sudah datang.” ucap pelayan itu pada seseorang yang sedang berbaring sambil mendengar musik mengalun dari iPod-nya.

“Berisik!” sahut yang diajak bicara.

Ternyata di balik sifat ramahnya pada penggemar, dia sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua. Batin gadis tersebut.

“Hmmm, bawa saja barang-barangnya ke belakang dan suruh dia menghadapku.” terdengar perintah dari Park Chan Yeol.

“Baik, Tuan…” jawab si pelayan.

“Kau dengar itu, nona? Aku permisi dulu,” bisik si pelayan pada gadis itu.

“Tapi, tuan…” si pelayan tak mempedulikan kegugupan si gadis, pelayan tersebut mundur sambil menarik kopor yang ia bawa dari rumah.

Sejenak ia kumpulkan keberanian untuk melangkah ke depan, menghadap majikan barunya.

“Selamat sore, tuan… Saya Jinri, assistant baru Anda.” ucap gadis berkulit putih bersih tersebut. “Apa aku bertanya tentang hal itu?” balas Chanyeol tanpa menoleh sedikit pun pada Jinri. “Maaf, tuan…” Jinri menunduk karena malu.

Chanyeol pun bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia pandangi Jinri dari ujung kaki sampai kepala.

“Bersih, dan… menarik!” ucap Chanyeol.

“Bersih? Maksud tuan?” bingung Jinri. Chanyeol melakukan secara tiba-tiba, hal yang tak pernah disangka sebelumnya oleh Jinri. Ia tarik pinggang gadis di hadapannya itu, kemudian ia baringkan di sofa yang ia duduki pula. Jinri sangat terkejut dan berusaha memberontak.

“Tuan, apa yang kau lakukan?” tanyanya dan raut ketakutan jelas terlihat di wajahnya.

“Aku hanya ingin bilang, kau sangat menarik…”

“TOLONG AKUUU!” teriak Jinri. Namun, siapa juga yang akan mendengarkannya selain Chanyeol? Hanya ada mereka berdua di ruang tersebut.

“Dasar dada rata, belum apa-apa sudah berteriak!” cibir Chanyeol dan segera menjauhkan tubuhnya dari Jinri. Dia tahu gadis itu ketakutan.

“Siapa kau? Apa maumu sebenarnya?” bentak Jinri dengan sekuat tenaga membendung air mata. “Kau, berani membentakku? Ingat… Aku ini majikanmu, loh!” kata Chanyeol.

“Kau bukan Park Chan Yeol, dan… kau bukan manusia, kau sangat keji memperlakukan seorang gadis sepertiku!” umpat Jinri.

“Bagaimana kau bisa tahu secepat itu? Gadis pintar…”

“Apa maksudmu? Aku sungguh tidak mengerti!”

“Aku bukan manusia.” terang Chanyeol.

“A… APA?!” kaget Jinri mendengar pernyataan Chanyeol.

“Jika bukan manusia, lalu… kau ini apa?!” tanya Jinri.

Seketika lampu ruangan meredup dan semuanya menjadi gelap. Jinri yang hatinya kalut jadi makin merasa takut. “Apa yang terjadi?” paniknya sambil menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Chanyeol yang tak dapat dijangkau oleh pupil matanya yang bulat.

Tiba-tiba sebuah cahaya kecil berwarna merah menyilaukan matanya, ia mendongak. Terlihat mata Chanyeol yang menngeluarkan cahaya berwarna merah dan terdapat dua taring tajam di mulutnya.

Chanyeol bersimpuh di depan Jinri, ia tatap lekat-lekat wajah Jinri dan membelai pipi gadis berambut panjang itu dengan kuku panjangnya yang tajam.

“Sudah bisa menyimpulkan aku ini apa?” godanya. “Kau, seorang vampire? Aku mohon, jangan sakiti aku…” pinta Jinri dan air matanya makin deras berlinang.

“Kau terlalu berharga untuk kusantap sekarang, manis…” kata Chanyeol dan dilanjutkan dengan menjilat leher Jinri. “Ah!” desah Jinri.

“Seperti yang kuduga, keringatmu saja manis untukku, apalagi darahnya…”

Lampu pun hidup dan ruangan jadi terang kembali. Cahaya merah, taring, dan kuku tajam itu pun juga sudah tak ada lagi.

Jinri buru-buru lari tunggang-langgang dan berusaha kabur dari Chanyeol. Ia ingin keluar dari rumah besar tersebut.

Tak ada kah yang bisa menolongku sekarang? batinnya di sela ia berlari.

“Mau ke mana, cantik?” tiba-tiba sudah ada Chanyeol di hadapannya dan menghentikan lari Jinri. Ia pun berbalik dan mencari jalan lain untuk berlari. Namun sama, Chanyeol selalu menghadangnya.

Ia mengambil ponselnya, berusaha menghubungi siapa saja yang dirasa dapat membantunya. Tapi dengan cepat Chanyeol menyita ponsel tersebut.

“Apa yang kaulakukan? Cepat kembalikan!” pekik Jinri.

“Yang kulakukan adalah…

“Ini!” jawab Chanyeol sambil meremas dengan keras ponsel Jinri sampai hancur menjadi kepingan kecil tak berbentuk.

“Aku menyerah, tuan…” kata Jinri dan bersimpuh lemah. “Alangkah lebih baiknya jika sedari tadi kau seperti ini, Jinri…” ucap Chanyeol sambil mengelus kepala Jinri lembut.

“Sekarang tidurlah. Aku sudah siapkan kamarmu. Bangun besok pagi untuk sarapan, kemudian kau layani aku, oke?”

“Ba… baik, tuan…”

“Dan, satu lagi… Hapus air matamu itu. Aku benci dengan gadis cengeng!”

Jinri memasuki kamarnya dan langsung memperhatikan tiap sudutnya.

Seperti kamar seorang permaisuri. Itu lah yang pertama Jinri deskripsikan untuk kamar tersebut. Apa ini semua benar untukku? Jinri ragu.

Entah apa yang menyebabkannya, tapi Jinri sangat takut untuk meniduri ranjang yang telah ada di depan matanya. Jinri merasa itu terlalu berlebihan untuknya. Jadi lah, ia pun duduk di lantai yang telah dialasi karpet berwarna merah dan terlihat mahal pula.

“Ibu… maafkan Jinri karena mengabaikan ibu. Aku sadar ini adalah balasan dari tuhan untukku, anak yang tidak patuh pada orang tua.”

22 September 2013

 “Bu, ada lowongan pekerjaan bagus.” ucap Jinri pada Nyonya Jung.

“Pekerjaan apa?” Nyonya Jung bertanya balik.

Assistant-nya Park Chan Yeol. Aktor yang beken itu loh, bu! Boleh ya?”

“Tapi… ibu kurang yakin,”

“Aduh, apa yang perlu diragukan? Aku pasti bisa jaga diri.”

“Jangan, nak… Carilah pekerjaan kantoran, bukan pekerjaan tidak umum seperti itu.”

“Ayolah, bu… Apapun yang ibu katakan, aku akan tetap lakukan. Aku sudah bosan di rumah terus. Kalau aku dapat gaji, itu juga untuk ibu dan biaya sekolah adik.”

“Jangan salahkan aku jika suatu saat kau menyesal, Jinri.”

“Aku tak akan menyesal dengan apa yang sudah kuperbuat.”

Air mata Jinri mengalir dengan derasnya, lebih deras dari pada saat ia ketakutan di hadapan Chanyeol. Ia ingin pulang, kemudian memeluk dan minta maaf pada ibunya. Tapi tak bisa, majikannya itu sudah mengekang erat dirinya.

CLECK!

Terdengar suara ganggang pintu yang diturunkan. Jinri mendongak dan dilihatlah Chanyeol yang sedang berdiri di ambang pintu.

“Menangis lagi? Apa kau tidak lelah, huh?!” ejek Chanyeol sambil memberi pandangan jijik. “Jangan sakiti aku… Aku mohon,” pinta Jinri dengan suara seraknya karena habis menangis.

Chanyeol mendekat dan hal tersebut membuat Jinri lagi-lagi ketakutan. “Anda tidak butuh darah saya. Carilah mangsa lain!” kata Jinri, namun tak dihiraukan oleh Chanyeol. Malah ia lebih mempercepat langkahnya untuk sampai di tempat Jinri duduk.

“Kenapa? Apa kasur di kamar ini kurang mewah untukmu?” tanya Chanyeol.

“Ini terlalu mewah untuk saya.” jawabnya.

“Bukankah semua gadis suka tidur di kasur yang mewah ala permaisuri di kerajaan?”

“…”

“Sekarang, tidurlah di kasur itu!” suruh Chanyeol, namun tak digubris oleh Jinri. Ia malah kukuh duduk memeluk lutut sambil menggigiti jari di lantai beralaskan karpet tersebut.

Chanyeol menghela nafas, dan berusaha berucap dengan lembut lagi, “Gadis manis… menurutlah! Cepat tidur dan besok kau akan mulai bekerja untukku.”

Jinri menggeleng dan sontak membuat Chanyeol mendelik, kehabisan kesabaran.

“JANGAN MEMBANTAHKU, DADA RATA!” amuk Chanyeol. Ia pun segera mengangkat tubuh Jinri dengan kedua tangannya. “Ampuni aku, tuan…” raung Jinri.

Chanyeol lemparkan tubuh Jinri ke kasur mewah itu, dan ia lakukan hal yang sama seperti apa yang tadi ia lakukan di sofa. Menimpali tubuh Jinri.

“Saya mohon, tuan… Maafkan saya…” pinta Jinri lagi, namun hanya diam dari Chanyeol yang ia dapatkan.

“Aku menahan ini dari tadi, kupikir aku akan sabar untuk besok. Tapi… pemberontakanmu membuatku lebih bergairah, gadis manis…” kata Chanyeol sembari menyingkirkan helaian rambut yang menutupi leher Jinri.

“Jangan, tuan…” Lagi-lagi Jinri menangis. Ia membelalakkan matanya lebar-lebar tatkala ia rasakan taring tajam menelusup lehernya. Pedih, itu lah yang ia rasakan.

Chanyeol mengoyak leher yang putih bersih itu. Ia rasakan darah yang sangat nikmat mengalir di kerongkongannya. Setelah sekiranya puas, ia lepas gigitan sadis itu dari leher Jinri. Masih tersisa setetes darah di sebelah kiri bibir Chanyeol.

Jinri langsung lemas dibuatnya, sudah banyak energinya yang terkuras karena menangisi keputusan yang telah ia buat. Dan sekarang, ditambah dengan Chanyeol yang menguras darahnya hingga hampir habis.

“Sekarang, untuk menangis saja kau tak akan kuat. Satu-satunya yang bisa kau lakukan hanya tidur untuk memulihkan kondisi. Selamat tidur, boneka benang…”

***

Jinri terbangun dari tidur panjangnya kemarin malam. Ia mengerjapkan matanya, sambil berusaha melakukan peregangan. Tiba-tiba ia merasakan kejanggalan di telapak tangannya, seperti ia meraba sesuatu. Ia pun menoleh, dan benar saja. Sudah ada Chanyeol yang berbaring di kasurnya.

“Selamat pagi…” ucap Chanyeol sambil tersenyum. Jinri terkesiap dan ia pun langsung bangkit dari tidurnya.

“Tuan, kenapa Anda ada di sini?” tanya Jinri.

“Walaupun bangun tidur, kau tetap cantik ya? Membuatku bergairah saja!”

“Tolong jangan mempermainkanku…” Jinri menunduk ketakutan.

“Cepat mandi, sebentar lagi aku ada syuting. Selesai mandi langsung ke meja makan!”

“Baik.” Jinri menurut dan segera ke kamar mandi.

Setelah mandi dan berpakaian dengan rapi, ia menuju meja makan. Sesampainya di meja makan, ia dapati meja yang penuh dengan lauk-pauk. Sebagai sumber protein hewaninya, ada beef dari daging merah segar dengan kuning telur. Sayur bayam dan brokoli sebagai protein nabati. Tersedia pula buah pisang dan delima, serta jus jeruk.

“Setelah mandi kau jadi jauh lebih cantik. Duduklah!” kata Chanyeol. “Iya.” dengan mudah Jinri menurut.

“Makanan sebanyak ini… tuan yang menyiapkan?” tanya Jinri.

“Iya, terpaksa. Demi kau, hmmm… tidak juga, sih! Untukku dan untukmu.”

“Maksud Anda?”

“Semua makanan yang kusiapkan ini adalah sumber zat besi. Kau tahu kan apa fungsi zat besi itu?” tanya Chanyeol.

“Mencegah anemia.” jawab Jinri. Tapi… mendadak ia terkesiap, ia baru ingat kalau anemia adalah penyakit kekurangan darah.

“Tunggu, tuan… apa maksud Anda adalah untuk terus bisa menghisapku tanpa–”

Yaps! Selain cantik, kau juga cepat tanggap. Membuatku makin suka padamu saja!” puji Chanyeol. “Tuan, saya mohon… Lepaskan saya!” rengek Jinri dan bersiap untuk menangis lagi. “Oh ayolah, jangan membuatku terlihat seperti lelaki jahat. Berhentilah menangis!”

“Jangan siksa saya seperti ini, Anda pikir mudah melawan rasa takut seorang gadis pada makhluk ganas?” Jinri mulai berani melawan majikannya itu.

“Kau adalah budakku, kau milikku, dan kau ‘tak bisa lari dariku!” tegas Chanyeol.

“ANDA SUDAH GILA!” cerca Jinri.

“Karena aku seorang vampire, aku tak akan bertindak manusiawi, ingat itu!”

“Sudah, jangan banyak berdebat di pagi hari. Setelah ini kau ikut aku berangkat ke lokasi syuting.” jelas Chanyeol dan lekas meninggalkan meja makan.

To be continue…

Pendek ya? Iya emang, sengaja! 😛 Haha, ya nggak sih… Karena ini awal, jadi masih blum seberapa serius. Tunggu saja chapter 2nya!!!

Visit blog saya ya >> http://fingersdancing14.wordpress.com/ *maaf admin saya promo* Sampai jumpa!!! 🙂

Note: Terinspirasi dari anime Diabolik Lovers. Ya, anggaplah ini versi f(exo)’nya. Hehehe~

Iklan

Penulis:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

43 thoughts on “The Slave of Blood #1

  1. Aku nggak bisa bayangin si Chanyeol yang baik hati jadi kejam begitu…tapi keren!
    Aku juga nggak bisa bayangin si Sulli nangis-nangis karena takut, tapi kayaknya memang keadaan yang bikin dia begitu.
    Deskripsinya enak dibaca Thor..hehe! Ditunggu lanjutannya

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s