Diposkan pada rinaizawa

Isn’t Always Bad [Chapter 2]

isnt always bad

Tittle : Isn’t Always Bad

Genre: School Life

Length: Chapter

Author: rinaizawa / @rinaamulya

Cast: Kim Jongin & Park Hyeji

Summary:

Rencana awalku semula berjalan sesuai yang kuharapkan. Namun sebuah pagar yang terkunci menghalangiku disana. Bagaimana ini? Apakah aku harus membuka pagar itu? Atau melewati jalan yang lain?

###

Hyeji dan Kai saling berhadapan. Raut wajah mereka berbeda. Hyeji tersenyum manis sementara Kai masih kaget. Bagaimana bisa Hyeji yang ia kenal dulu berubah total dengan yang ada dihadapannya? Semacam sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. Kai diam. Tangannya tergerak mengusap lembut wajah Hyeji. Gadis ini sangat cantik, batinnya.

“Kau …. Begitu cantik~”

Hyeji terkekeh pelan. Ia melepaskan tangan Kai dari wajahnya. Membuat Kai tersentak dari alam bawah sadarnya. Kai langsung melepaskan pandangannya dari Hyeji. Ia salah tingkah. Jantungnya berdetak sangat kencang. Tidak biasanya ia seperti ini. Apa ia jatuh cinta?

“Lama tak bertemu, Kai.” Ujar Hyeji dengan senyum khasnya.

“Kau kenapa bisa berubah?” tanya Kai to the point.

“Kau peduli?” suara Hyeji terdengar menantang. Ia seperti tidak senang Kai bertanya hal ini.

“Maafkan aku Hyeji-a. Sungguh aku minta maaf.” Kai menunduk berkali – kali.

Seakan tidak peduli dengan Kai, Hyeji pergi begitu saja. Meninggalkan Kai yang masih berdiri mematung. Tak mau ditinggal, Kai mengejar gadis itu dan kembali mensejajarkan langkahnya. Pikirannya masih penasaran dengan perubahan Hyeji. Bahkan ia jadi melupakan niatnya untuk segera pulang kerumah. Padahal teman- temannya akan datang kerumahnya nanti. Kai tidak peduli. Yang penting ia bisa mendapat penjelasan dari Hyeji.

“Hyeji-a!” panggil Kai. Tangannya meraih pergelangan Hyeji dengan cepat membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya.

“Apa?” Hyeji sedikit membentak pria dihadapannya itu. Ia ingin pulang dan segera beristirahat, kenapa Kai malah menghalangnya? Benar – benar menyebalkan.

Tiitt tiit

Suara klakson menyadarkan mereka. Hyeji sudah dijemput oleh supirnya, Tuan Jang. Sontak gadis itu melepas genggaman tangannya. Kai mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa groginya.

“Aku pulang. Annyeong.” Pamit Hyeji.

Kai masih saja berdiri disana ketika mobil yang ditumpangi Hyeji sudah berlalu dihadapannya. Sadar akan Hyeji yang sudah pergi, Kai buru – buru keparkiran. Hanya ada mobilnya yang masih terpakir disana. Sekolah juga sudah kosong. Sudah waktunya Kai untuk pulang. Tidak ada gunanya juga Kai terus berada disekolah ini. Tidak membuatnya pintar kan?

——

 “Jang ahjussi?”

“Ye?”

“Appa dan Eomma kapan kembali ke Seoul?”

“Besok nona.”

Hyeji mengangguk mengerti. Orangtuanya akan kembali ke Seoul 2 hari sebelum acara ulang tahun appa nya. Hyeji berpikir ia harus mencari hadiah sebelum pestanya berlangsung. Sebenarnya ia ingin membeli sekarang, tetapi ada rasa malas menghampiri dirinya. Menurut Hyeji lebih baik hadiahnya dibeli besok sebelum menjemput kedua orangtuanya di bandara.

Tiba dirumah, Hyeji langsung ke kamar tanpa singgah ke dapur. Ia tidak niat untuk makan karena masih merasa kenyang. Padahal ia tidak makan sedikitpun disekolah.  Mungkin karena bertemu Kai tadi? Bisa jadi. Hyeji masih terbayang saat ia bertemu dengan Kai. Ia sedikit menyesal kenapa ia harus memberi tahu kalau ia adalah orang yang di bully Kai dulu.

Sakit. Itulah yang dirasakan Hyeji ketika otaknya berputar mengingat kejadian itu. Dadanya terasa sesak. Ia ingin menangis mengingat kejadian yang menyakiti dirinya. Meskipun ia sudah berusaha melupakan dan membuangnya jauh  – jauh  tetap saja perasaan itu membekas di lubuk hatinya. Hyeji menatap ke arah langit – langit kamarnya. Menahan air mata yang sudah mengenang disudut matanya. Jika ia mengedipkan matanya, maka air itu akan mengalir  di pipinya bak air sungai.

Buru – buru ia menghapus air matanya. Ia tidak ingin lagi menangis untuk hal yang tidak berguna. Hyeji harus membuang jauh – jauh perasaan lamanya itu.

Hyeji berjalan menuju meja riasnya. Menatap bayangannya yang terpantul dalam cermin. Benar kata Kai, ia begitu cantik. Dan tentu saja cantiknya bukan hasil operasi. Ini semua alami dimiliki oleh Hyeji. Ia bersyukur karena Tuhan telah memberikan keajaiban padanya. Keajaiban yang membuatnya berubah.

——

Kai tiba dirumah dan mendapati Suho, Lay, Sehun, Chanyeol sedang bermain dikamarnya. Hal ini sudah biasa mereka lakukan meskipun tanpa Kai dirumah dan Kai sendiri pun tidak memarahi mereka karena ia yakin dan percaya  bahwa teman – temannya tidak akan mengambil barang – barangnya atau merusaknya. Semua sibuk dengan kegiatan masing – masing. Chanyeol dan Sehun sibuk bermain psp sementara Lay dan Suho sibuk dengan game playstation milik Kai. Satupun diantara mereka tidak menyadari kehadiran Kai dengan wajah kusut –sepertinya- atau mungkin wajah shock akibat bertemu dengan Hyeji tadi.

Seakan tidak peduli juga, pria itu langsung mengambil posisi tidurnya. Memejamkan matanya sesaat untuk merasakan aroma kamarnya yang berbau aloevera yang mampu membuat perasaannya menjadi tenang. Kai memegang jantungnya yang tadi berdegup lebih cepat ketika didekat Hyeji. Ia tidak bisa menyangkal gadis yang dihadapannya itu sangat cantik dengan yang ia temui 3 tahun yang lalu. Dulu ia membenci bahkan membullly Hyeji. Sekarang sepertinya jatuh cinta dengan gadis itu.

Apa ini bisa dikatakan karma?

Tentu saja bisa. Karma itu berlaku bagi semua orang tak terkecuali. Dan Kai bisa saja mendapatkan karma akibat perbuatannya yang terlalu kejam terhadap Hyeji. Walaupun kejadian itu sudah lama.

Suho menyadari kegundahan Kai menghentikan aktivitasnya dengan Lay. Ada perasaan tidak enak ketika ia mengabaikan sang pemilik rumah.

“Kau kenapa?” tanya Suho.

Kai diam. Bukan ia tidak mendengar pertanyaan Suho hanya saja ia malas untuk menjawab pertanyaan yang sudah lazim diucapkan ketika ia seperti ini.

“Apa kau bertemu dengan H yeji?” Sehun menimbrung.

“Jangan – jangan kau pulang dengannya?” tebak Lay.

“Kalian benar.” Kai terdiam sesaat. “Dia Hyeji yang dulu ku bully.”

Chanyeol terlonjak kaget saat mendengar  kalimat terakhir Kai. Dia Hyeji yang dulu Kai bully? Berarti tadi ia tidak salah menduga. Timbul dibenaknya mengapa Hyeji bisa berubah total dari yang terakhir ia lihat? Dan kemana gadis itu pergi selama ini?

“Benarkah? Tapi ia berubah total dari yang terakhir kita lihat.” Ujar Chanyeol.

“Sangat. Dan ku akui ia sangat cantik sekarang.” Lirih Kai pelan namun masih bisa didengar oleh lainnya.

“Astaga Kai ! Jangan bilang kau jatuh cinta dengannya?” pekik Sehun.

Bukannya menjawab Kai malah tersenyum penuh teka – teki. Membuat teman – temannya heran.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”

“Kai kalau kau dulu membenci dan sekarang kau menyukainya, itu artinya kau hanya menyukai ia yang sekarang. Jika ia kembali seperti dulu lagi aku yakin kau akan membuatnya tersakiti.” Nasihat Chanyeol. Ia tidak ingin sahabatnya itu jatuh cinta kepada seseorang karena fisiknya.

Kai hanya diam saja. Mungkin kata Chanyeol ada benarnya juga. Tapi itu semua belum mampu menjawab perasaan yang ada dihati Kai. Namun Kai jadi penasaran kenapa waktu itu Hyeji menghilang tanpa berita? Apa itu juga karena dirinya atau karena hal yang lain? Kai butuh jawaban penting yang selama ini masih tanda tanya baginya.

——-

Keesokan harinya.

Hyeji datang lebih awal hari ini. Ia ingin menjelajahi gedung – gedung sekolah yang belum sempat dilakukannya kemarin. Dan saat ini sekolah masih begitu sepi. Hanya 1 atau 2 orang yang berlalu lalang. Semua tersenyum menyapa Hyeji seolah – olah ia adalah orang penting. Padahal karena mereka menyukai sisi cantik gadis itu. Hyeji hanya membalas dengan senyuman khasnya. Ia masih baru disini dan hanya kenal beberapa orang saja. Mungkin ketika ia sudah sebulan berada disekolah ini ia sudah bisa mengenal seluruh siswa – siswi disekolah ini.

Langkahnya terhenti didepan gudang sekolah. Koridornya terlihat gelap sepertinya jarang orang lalu lalang disini. Melihat ruangan ini seolah – olah mengingatkan Hyeji ke masa lalu. Satu kalimat yang terlintas dalam pikirannya saat ini “Aku benci ruangan ini.”

“Hei.”

Hyeji sedikit kaget ketika seseorang berbicara dibelakangnya. Perlahan ia menoleh kepalanya dan mendapati seorang yang berdiri dibelakangnya. Lantas Hyeji berbalik dan tersenyum.

“Apa yang kau lakukan?”

“T-Tidak ada.”

Alis pria itu tertaut. Ia sepertinya baru melihat gadis dihadapannya.

“Kau — Sepertinya aku baru mengenalmu.”

“Aku siswa baru. Park Hyeji imnida.” Ujar Hyeji memperkenalkan dirinya.

“Oh pantas saja. Do Kyungsoo imnida.” Balas pria bernama Kyungsoo itu.

Hyeji mengangguk. “Aku harus segera kembali ke kelas.”

“Bagaimana kalau bersama saja? Sekalian aku tunjukkan isi sekolah ini?” tawar Kyungsoo.

“Baiklah.” Tidak ada salahnya juga menolak tawaran Kyungsoo, batin Hyeji.

——

“Aku tidak menyangka kau pindahan dari Newyork.” Ujar Kyungsoo menanggapi cerita Hyeji saat mengelilingi bangunan sekolah.

“Hahaha. Memangnya kenapa?” tanya Hyeji.

“Kau tidak sedikit pun memiliki logat Amerika.”

“Aku  hanya beberapa tahun disana. Lagi pula aku lahir  dan besar disini.” Jelas Hyeji.

Kyungsoo hanya ber-oh lalu menatap Hyeji yang hampir memiliki tinggi yang sama dengannya. Gadis ini cantik dan memiliki kepribadian yang baik, pikir Kyungsoo.

“Kau kelas berapa?”

“2-3. Kau sendiri?”

“2-2.”

Mereka tiba di persimpangan koridor yang memisahkan kelas 2-3 dan kelas 2-2. Jika kita ingin ke kelas 2-3 maka kita harus berbelok ke kiri dan begitu sebaliknya.

“Baiklah. Senang bisa bertemu dengan mu. Semoga nanti kita berjumpa lagi.” Canda Kyungsoo.

“Ya. Kau pikir kita akan berpisah huh?” gerutu Hyeji. Ia memperlihatkan wajah cemberutnya kepada Kyungsoo dan pria itu tentu saja mengerti Hyeji hanya bercanda.

“Aku duluan ya.” Kyungsoo melambaikan tangannya sebelum berpisah dengan Hyeji.

“Ne.” Balas Hyeji melambaikan tangannya. Tanpa Hyeji sadari seseorang mengintipnya dari arah kejauhan.

Hyeji melangkahkan kakinya untuk ke kelas. Sudah ramai siswa yang berdatangan. Termasuk Kai dan teman – temannya. Semua menoleh ke arah Hyeji  ketika gadis itu tiba dikelas. Namun Hyeji tidak peduli. Ia menganggap semua pandangan itu tidak memandangnya tetapi mengarah kepada yang lain.

Begitu Hyeji tiba di tempat duduknya, ada orang lain yang menduduki tempat disebelahnya. Ia yakin orang inilah yang namanya Hwang Jinhee. Jinhee menatap Hyeji bingung. Mungkin karena ia tidak mengenal Hyeji sebelumnya.

“Aku siswa baru. Kemarin Jung sonsaengnim menyuruhku untuk duduk disebelahmu. Park Hyeji.” Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Hwang Jinhee.” Jinhee menyambut uluran Hyeji. “Semoga kita berteman dengan baik.”

“Aku harap.”

Dilain tempat, Kai dan teman – temannya memperhatikan gelagat Hyeji dengan Jinhee. Timbul dalam benak mereka mengapa Hyeji bisa akrab  lebih cepat dengan Jinhee sedangkan yang lain tidak. Atau ia memang sengaja menunggu Jinhee datang lalu berteman dengan semua siswa dikelas ini? Sepertinya tidak. Mungkin Hyeji memang sudah menganggap Jinhee siswa yang baik dikelas ini. Bisa dikatakan seperti itu.

“Mereka cepat sekali akrab.” Ujar Suho yang masih memperhatikan kedua gadis itu dari jauh.

“Wajar saja. Mereka sama – sama wanita. Lebih cepat saling mengerti lebih tepatnya.” Balas Lay yang turut mengamati.

Kai diam saja. Pandangannya tertuju kearah Hyeji dan Jinhee. Tetapi pikirannya tidak untuk mereka. Pikirannya jauh melayang kemana – mana. Memikirkan apa yang telah ia lakukan dulu terhadap Hyeji. Benar – benar sebuah tindakan yang kejam. Sekarang melihat Hyeji yang berubah, ia tidak berniat untuk membully lagi, namun ia ingin mencintai Hyeji.

Melihat respon Hyeji kemarin siang rasanya mustahil jika ia mau menerima Kai. Belum lagi kesalahan pria itu dimasa lalu yang masih membekas dilubuk hati Hyeji.

Hyeji menyadari sejak tadi Kai terus menatapnya. Bisa dibilang tatapan kosong. Hanya pandangan saja yang mengarah kepadanya tetapi tidak dengan pikirannya. Ia tidak peduli. Menatapnya atau tidak itu hanya sebatas angin lewat baginya.

——

Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk menikmati waktu istirahat mereka. Ada yang bercengkrama di taman, ada yang ke perpustakaan dan lainnya. Umumnya, mereka lebih sering kekantin untuk mengisi perut mereka yang kosong setelah belajar selama 3 jam.

Contohnya saja Hyeji. Kemarin ia menghabiskan waktu istirahatnya diperpustakaan. Tapi tidak untuk kali ini. Ia memutuskan untuk kekantin hari ini mengisi  perutnya yang kosong dengan beberapa roti atau sandwich.

“Hyeji.”

Lagi, seseorang memanggil dirinya. Ia melihat siapa yang memanggilnya. Dan ternyata Kyungsoo sudah berdiri disampingnya. Mensejajarkan posisi mereka. Ia memamerkan senyum manis yang membuat gadis lain jatuh cinta padanya.

Mereka tiba didepan kantin. Awalnya Hyeji ingin langsung masuk kesana, namun melihat suasana yang sangat ramai dan terdesak membuat ia enggan untuk kesana. Begitu juga dengan Kyungsoo. Ia benci tempat – tempat yang begitu ramai. Tapi bukan kantin namanya jika tidak ramai.

“Tidak masuk?”

Hyeji menggeleng. Ia menatap keramaian itu dari kejauhan. Entah kapan berakhirnya. Ia tidak tahu. Kalau tidak kunjung sepi juga, ia akan kembali kekelas. Percuma saja ia berada disini.

“Kalau kau tidak masuk kantin ini tidak akan sepi.” Pandangan Kyungsoo masih lurus kearah sana.

“Yasudah. Aku akan kembali kekelas.” Sahut Hyeji.

“Ayolah. Kita masuk saja kedalam.”

“Nanti saja.”

“Baiklah. Aku duluan saja ya.” Kyungsoo tidak bisa menahan lapar lagi. Ia harus kekantin sekarang meskipun sangat ramai saat ini.

“Hati – hati.” Ejek Hyeji. Ia tertawa kecil.

“Hahaha. Tentu saja.” Kyungsoo melenggang  masuk kedalam. Sementara Hyeji masih menunggu diluar. Tak sengaja ia melihat Jinhee dan seorang yang lainnya berjalan kearahnya. Sepertinya itu siswa dari kelas lain.

“Hai Hyeji-ya.” Kini mereka tiba dihadapan Hyeji.

“Hai.”

“Tidak masuk?”

“Kalau aku masuk aku tidak akan diluar ini.”

Jinhee tertawa. Baginya candaan Hyeji sedikit lucu. Meskipun tidak terlalu lucu. Menyadari teman disebelahnya belum mengenal Hyeji, Jinhee berhenti tertawa namun garis wajahnya masih menunjukkan kalau ia menahan tawa.

“Hyeji kenalkan dia Han Seo Young. Young-ah dia Park Hyeji.” Mereka berjabat tangan.

“Pindahan dari mana?” tanya Seo Young ramah.

“Newyork.”

“Ayo, kita masuk kedalam.” Ajak Jinhee.

“Masih sangat ramai Jinhee-ya.” Hyeji masih malas untuk masuk kedalam karena populasi disana tidak berkurang sedikitpun.

“Tidak apa – apa.” Jinhee menarik kedua temannya untuk masuk kedalam. Sedangkan yang ditarik hanya bisa pasrah untuk masuk, terlebih lagi Hyeji.

——-

“Hai.”

Chanyeol menepuk pundak Kai yang sedang mendengarkan alunan lagu dari ponselnya. Lantas ia mengambil posisi duduk didepan Kai jadinya mereka berhadapan saat ini. Kai melepaskan headset dari telinganya dan menatap Chanyeol dengan tatapan datar. Chanyeol hanya sendiri. Sedangkan yang lainnya berada dikantin. Mereka menyuruh Chanyeol untuk memanggil Kai agar bisa berkumpul bersama.

“Apa?”

“Kau tidak kekantin?”

“Tidak.”

Chanyeol bangkit dari duduknya dan menarik pergelangan Kai membuat pria itu memberontak. Seandainya salah satu mereka adalah perempuan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

“Ya!” seru Kai melepas tangan Chanyeol.

“Ayolah kita kekantin. Kau tidak ingin mengamati Hyeji? Ia sedang ada disana bersama Jinhee dan Seoyoung. Kami berencana untuk bergabung disana karena Lay ingin mengobrol dengan Jinhee.” Jelas Chanyeol.

Mendengar nama Hyeji ia tersentak melepaskan headsetnya dan menatap Chanyeol dengan maksud kau tidak bercanda kan?

“Tentu saja.”  Chanyeol seolah membaca pikiran Kai. “Terserah kau ingin bergabung atau tidak.”

“Yeol, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”

——

Kai dan Chanyeol tiba dikantin. Suasana dikantin sudah mulai sedikit sepi. Lantas mereka mencari Sehun, Suho, dan Lay. Dan ternyata ketiga namja itu sudah bergabung dengan Jinhee, Hyeji, dan Seo Young. Chanyeol menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, bukannya menunggu, mereka langsung bergabung.

“Sudahlah. Ayo.” Ajak Kai. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

Jinhee merasa terganggu dengan kedatangan Lay. Pasalnya pria itu sedari tadi tidak berhenti mengoceh menanyai kabar tentang dirinya. Berbeda dengan Suho dan Sehun mereka terlihat santai mengobrol dengan Hyeji dan Seo Young. Ya sangat santai sebelum Chanyeol dan Kai datang. Hyeji langsung terdiam dan tidak banyak bicara.

“Hai semua.” Ujar Chanyeol semangat.

“Kau menjemput Kai?” tanya Lay yang disambut anggukan oleh Chanyeol.

“Kami boleh bergabung kan?” Kai memegang salah satu bangku  dengan tujuan jika diizinkan ia akan menarik bangku itu.

“Silahkan saja.” Sahut Seo Young.

Kai dan Chanyeol mengambil posisi duduk mereka. Suasana kembali hangat ketika mereka melanjutkan obrolan yang tertunda. Hyeji menjadi sedikit pendiam sejak Kai bergabung. Ia menatap pria itu yang tidak memperdulikannya seperti kemarin.

‘Aneh sekali dia.’

“Seo Young-ah, tumben kau bergabung dengan kelas kami?” Kai memulai percakapannya dengan gadis yang dihadapannya ini. Seo Young memang berbeda kelas dengan mereka, tetapi ia mengenal Jinhee, Suho, Lay, Sehun, Kai dan Chanyeol dengan cukup baik.

“Maksudmu aku tidak boleh bergabung disini?” tukas Seo Young.

“Apa aku berbicara seperti itu?”

“Sangat jelas.”

Ekspresi wajah Kai berubah drastis. Kenapa Seo Young bisa sedikit judes? Padahal dalam pandangan Kai ia adalah gadis yang baik dan lembut.

“Kai, mengertilah Seo Young.” Bisik Suho.

“Aku tidak mengerti.”

Suho ingin memukul kepala Kai saat itu juga. Ia berbicara dengan berbisik kepada Kai tapi kenapa pria itu malah menjawabnya dengan suara keras. Tampaknya Kai tidak peduli dengan tatapan membunuh dari Suho.

“Ehem. Aku permisi sebentar.” Hyeji bangkit dari duduknya.

“Kau mau kemana?” Jinhee mencegatnya sesaat.

“Ke toilet.” Hyeji segera meninggalkan mereka dan menuju toilet. Kai memandangnya hingga Hyeji menghilang dari pandangannya.

“Kai.” Panggil Seo Young.

“Hem?”

“Apakah ia siswa yang pendiam?”

Kai diam sejenak. Meresapi kata – kata Seo Young tentang Hyeji. Ia siswa yang pendiam? Bisa dikatakan begitu. Kai yakin, Hyeji pendiam karena ia masih baru disekolah ini. Nanti Hyeji akan berubah dengan sendirinya. Ia tidak tahu kapan itu.

“Ku rasa tidak.” Jawab Kai.

“Ada apa?” tanya Chanyeol yang sedari tadi diam.

“Tidak ada apa – apa.” Seo Young menghentikan obrolannya membuat Chanyeol sedikit kesal.

“Dasar.”

——

Kyungsoo menghabiskan makanannya dengan cepat. Membuat temannya Baekhyun dan Minhyuk terlihat bingung. Tak biasanya Kyungsoo bersikap seperti itu sekalipun ia dikejar pencuri. Lalu apa hal yang membuat begini? Mereka tidak bertanya melainkan melongo melihat tingkah Kyungsoo. Ingin bertanya mereka yakin Kyungsoo tidak akan menjawab.

“Hem? Kenapa?”

Mereka menggeleng. Lalu melanjutkan kembali kegiatan makan mereka yang sempat tertunda. Kyungsoo hanya mengangguk. Artinya tidak ada yang bermasalah.

“Wow. Siswa itu sangat cantik.” Gumam Minhyuk membuat Kyungsoo dan Baekhyun menoleh dan mendapati seorang siswa berjalan kearah luar kantin. Bagi mereka – Baekhyun dan Minyuk – siswa itu sangat asing. Lain hal dengan Kyungsoo. Ia sudah mengenal siswa itu tadi pagi. Ya, siswa itu ialah Hyeji.

“Ia siswa baru bukan?” tebak Baekhyun.

“Aku rasa iya.”

5 menit setelah keluar dari kantin Hyeji kembali. Ia tidak menyadari kalau Kyungsoo ada disekitarnya.

“Aku kembali duluan yah.” Kyungsoo pamit begitu saja meninggalkan Baekhyun dan Minhyuk. Mungkin yang dimaksud Kyungsoo kembali duluan adalah mengejar Hyeji.

“Kau mempunya perasaan yang sama denganku?” Baekhyun masih memandang Kyungsoo yang berjalan dibelakang Hyeji.

“Tentu saja. Gelagatnya telah memberi kita jawaban.” Balas Minhyuk.

Hyeji merasa ada seseorang yang berjalan dibelakangnya. Awalnya ia ragu untuk menoleh kebelakang. Tapi setelah ia menoleh, ternyata Kyungsoo yang berada dibelakangnya. Untung saja bukan siswa yang jahat.

“Aku pikir kau akan kembali kekelas.” Kyungsoo sedikit mengejek kata – kata Hyeji tadi.

“Awalnya begitu. Tapi jika Jinhee tidak memaksaku tadinya.” Bela Hyeji.

“Haruskah aku memaksamu tadi?”

“Aku rasa kau tidak usah repot – repot.”

Mereka tertawa bersama. Hyeji berhenti ketika ia tiba didekat kelompok teman – temannya tadi.

“Mau ikut bergabung?” tawar Hyeji.

Kyungsoo menggeleng. “Aku ingin segera kembali ke kelas.”

“Yasudah. Aku duluan ya.”

Kyungsoo melambaikan tangannya. Lalu menghilang setelah keluar dari pintu kantin. Hyeji kembali bergabung bersama temannya. Kai memandang Hyeji yang terlihat senang berada didekat Kyungsoo. Kai berpikir gadis itu terlalu cepat akrab dengan siswa disekolah ini. Tapi mengapa dengannya tidak? Apa ia berbeda dengan yang lain? Tentu saja jawabannya iya. Bagi Hyeji, pria itu berbeda dengan yang lainnya. Karena Kai adalah sosok pria yang kejam dalam pandangannya.

“Hyeji, kau sudah mengenal Kyungsoo?” tanya Seo Young.

“Sudah. Aku baru mengenalnya tadi pagi.” Jawab Hyeji.

——

Sepulang sekolah, Hyeji mampir ke sebuah toko sebelum menjemput orang tuanya dibandara nanti. Kini ia terlalu sibuk memilih kado untuk sang Appa. Apa yang cocok, pikirnya. Terlintas dalam pikirannya untuk membeli dasi. Tapi bukankah tahun kemarin ia juga menghadiahkan dasi?

“Bagaimana kalau jam?” batinnya. Ia melihat ada sebuah jam yang sangat bagus. Merk bvlgari. Pasti jam ini sangat cocok untuk pergelangan Appa nya. Hyeji pun meminta pelayan tersebut untuk membungkus kadonya.

Sembari menunggu hadiahnya dibungkus Hyeji berjalan kearah rak buku. Melihat – lihat adakah buku yang menarik dan layak dibaca untuk kali ini. Namun mata Hyeji menangkap seseorang yang tak asing baginya yang sedang berdiri di rak buku ensiklpoedia. Hyeji mendekati orang itu berharap tidak salah orang. Jika salah ia pasti malu nantinya.

“Yook Sungjae?”

Pria itu menoleh ketika namanya dipanggil oleh Hyeji. Dan benar saja, Hyeji tidak salah orang kali ini. Tetapi pria itu yang sedikit bingung melihat Hyeji.

“Kau? Siapa?”

“Aku Hyeji. Park Hyeji. Masih ingat aku?”

Ia terlihat berpikir sejenak. Mencari ingatan tentang Hyeji didalam otaknya. Sesaat ia tersenyum setelah mengingatnya.

“Astaga. Tentu saja aku ingat. Aku tak menyangka kau berubah Hyeji-a. Dan kau semakin cantik dari yang terakhir ku lihat.” Sungjae menatap Hyeji dengan mata berbinar – binar.

“Terimakasih.” Ujar Hyeji tersipu malu.

“Kau sedang apa disini?” tanya Sungjae.

“Membeli kado untuk Appa ku. Bagaimana denganmu?”

“Ingin mencari ensiklopedia. Tapi aku belum menemukan yang menarik.” Sungjae mengembalikan salah satu buku kedalam rak nya. “Bagaimana kalau mengobrol sebentar di cafe sana?” ajak Sungjae.

“Boleh – boleh saja.” Tak ada salahnya ia mengobrol sebentar dengan Sungjae sebelum ke bandara. Lagipula orang tuanya akan tiba sekitar jam 5. Ia masih mempunyai waktu 4 jam lagi untuk bersantai.

Hyeji membayar dan mengambil barangnya dikasir. Setelah selesai ia langsung keluar dan menemui Sungjae yang masih menunggunya. Mereka berjalan menuju cafe yang tak jauh dari toko tadi. Hanya berjarak 4 toko. Sungjae masuk terlebih dulu daripada Hyeji. Ia langusng mengambil posisi duduk disudut belakang dekat jalan raya. Sungjae sangat menyukai tempat ini. Ini merupakan salah satu tempat favoritnya.

“Haruskah disudut?” Hyeji hendak protes.

“Disini nyaman.”

Hyeji menurut saja ketika dibilang nyaman. Lantas mengambil posisi didepan Sungjae. Melihat sekeliling cafe ini. Tidak terlalu ramai. Bahkan cafe ini terlihat seperti sebuah restoran.

“Kau mau minum atau makan?”

“Minum. Aku ingin memesan Cappucino Chocolate.”

“Baiklah.”

Sungjae memanggil seorang pelayan dan memberikan pesanan mereka. Sambil menunggu, Sungjae melanjutkan obrolan mereka.

“Kau kemana saja selama ini? Kenapa kau seperti menghilang ditelan bumi dan kembali dalam wujud yang berbeda.” Cerocos Sungjae.

“Hahaha. Kata –kata itu sedikit kejam.” Hyeji tertawa kecil.

“Aku serius Hyeji. Apa karena kau takut dibully olehnya?” pertanyaan Sungjae berhasil membuat gadis itu tersenyum hambar.

“Aku tidak pernah takut ketika ia membully ku dulu.”

“Lalu? Kenapa kau tidak melawannya ketika ia membully mu?”

“Mungkin – Karena aku terlalu bodoh waktu itu.” Lirih Hyeji.

“A-Aku tidak mengerti maksudmu.” Sungjae terlihat bingung.

Hyeji menarik nafas dalam – dalam. Ia berusaha untuk tidak menangis ketika menceritakan hal ini pada teman baiknya. Karena hal ini sangat sakit untuk diingat kembali. Tetapi tidak masalah jika menceritakannya dengan teman sendiri bukan? Apalagi ia sudah mengenal Sungjae cukup lama. Ia yakin Sungjae tak akan membocorkan rahasianya.

“Dulu, saat pertama kali bertemu Kai ketika ospect di SMP aku sangat menyukainya. Aku tahu aku masih sangat kecil waktu itu dan tidak sepenuhnya mengetahui apa arti cinta. Namun, aku merasa kalau aku sangat mencintai Kai. Berharap kami akan bersamanya. Rasa cinta itu membuatku melupakan fisikku dulu. Harusnya aku sadar. Aku tak pantas dengan Kai.” Hyeji menjeda ceritanya sebentar. “Suatu hari, aku membawa buku begitu banyak. Tidak ada yang membantuku saat itu. Dan tak sengaja aku menabrak Kai dan menjatuhkan semua buku yang aku bawa.”

“Apa yang terjadi ketika kau jatuh?” Sela Sungjae.

“Kai menolongku dan ia sangat baik waktu itu. Saat itu banyak siswa yang melihat. Dan ramai yang mengejek kami. Mungkin karena aku tak pantas untuk ditolong oleh Kai, yang sangat populer waktu itu. Tak tahan dengan ejekkan itu, Kai marah padaku dan sejak itu ia mulai membully-ku. Dan aku hanya bisa mencoba untuk bersabar.” Hyeji menyeka air matanya yang hampir saja jatuh.

“Astaga. Konyol sekali pikirannya.” Sungjae tak menyangka hanya karena hal sekecil itu Kai membully Hyeji.

“Mungkin pikirannya masih kanak – kanak. Jadinya ya –“ gadis itu sengaja tak melanjutkan kalimatnya. Ia ingin Sungjae yang menebaknya.

Pesanan mereka datang. Hyeji yang memesan minum segera menikmati Cappucino Chocolatenya agar setelah ini ia bisa menjemput orangtuanya dibandara.

Suasana cafe ini semakin terasa nyaman ketika diputar lagu Disturbance yang dipopulerkan oleh BoA  mengalun diruangan. Membuat suasana semakin nyaman. Keduanya larut dalam keheningan hingga setelah selesai Hyeji memohon diri untuk pamit.

——-

Rencana awalku semula berjalan sesuai yang kuharapkan

Namun sebuah pagar yang terkunci menghalangiku disana

Bagaimana ini?

Apakah aku harus membuka pagar itu

Atau melewati jalan yang lain?

Hyeji menghampiri kedua orangtuanya yang baru saja keluar dari bandara. Ia memeluk keduanya tanpa berkata apa – apa lagi. Sementara Jang ahjussi mengambil beberapa barang dan membawanya langsung ke mobil.

“Kami merindukanmu Hyeji-a.” Ujar sang Eomma.

“Aku juga.” balas Hyeji.

Ia mengamit lengan Eomma dan Appanya lalu berjalan menuju keparkiran. Sesampai disana mereka langsung masuk kedalam mobil karena Jang ahjussi telah menunggu. Namun sebelum masuk, Dongjoo – Appa Hyeji – mengambil ponselnya untuk menelfon seseorang. Hyeji sedikit heran, kenapa tidak didalam saja menelfonnya? Sedangkan Jiyoon – Eomma Hyeji – menunggu didalam.

“Appa, kenapa tidak telfon didalam saja?” protes Hyeji.

“Ssst. Diamlah. Appa sedang menelfon teman lama .” sahut Dongjoo.

“Oh? Jongseok-ah? Ini aku, Park Dongjoo. Apa kabar?”

“Haha. Aku juga baik. Kau dimana? Aku sedang berada di Korea.”

“Benarkah? Bagaimana dengan rencana kita?”

“Baiklah kita bicarakan dipesta nanti. Sampai jumpa.”

Sejak tadi ponsel Hyeji terus – terusan berbunyi. Ada nomor asing yang menganggunya dan ia tidak mengenal siapa itu. Ketika ia mengangkatnya, telfon itu memutuskan panggilannya membuat Hyeji sedikit kesal. Dan kini ponsel itu berdering lagi, Hyeji mengabaikannya.

“Kenapa tidak diangkat?” tanya Jiyoon yang melihat ponsel putrinya terus berdering.

“Tidak ada.” Jawab Hyeji singkat.

Jiyoon memakluminya. Dongjoo kembali masuk kedalam mobil. Dan menyuruh Jang ahjussi untuk melajukan mobil. Suasana selama perjalanan begitu sunyi. Mungkin karena orangtua Hyeji masih terlalu lelah. Ia memakluminya. Tiba – tiba Dongjoo memulai pembicaraan.

“Hyeji-a, Appa ingin bertanya sesuatu?”

“Hem?”

To be continue

####

A/N : Annyeong \(^o^)/  jumpa lagi sama author rin:3 akhirnya bisa juga  ngepost lanjutannya disela-sela kegiatan author ‘-‘ Oiya, author sangat berterimakasih kepada para readers yang udah komen & memberi kritik + saran dipart pertama. Terimakasih{} dipart ini author sudah mencoba memperbaikinya sedikit2 tapi masih butuh koment2 kalian agar ff selanjutnya lebih baik dari ini o:) Gomawo buat para readers yang udah baca 😀 see yaa ~ ^^

Iklan

34 tanggapan untuk “Isn’t Always Bad [Chapter 2]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s