The Slave of Blood #2

slave

Author: Mingi Kumiko

Cast: Choi Jin Ri and Park Chan Yeol

Genre: Crime, Fantasy, Supernatural, Angst

Rating: PG-17

|| Teaser | Part 1 ||

“ANDA SUDAH GILA!” cerca Jinri.

“Karena aku seorang vampir, aku tak akan bertindak manusiawi, ingat itu!”

“Sudah, jangan banyak berdebat di pagi hari. Setelah ini kau ikut aku berangkat ke lokasi syuting.” jelas Chanyeol dan lekas meninggalkan meja makan.

Di mobil, Chanyeol tengah fokus menyetir, sedangkan Jinri hanya bisa menatap lurus ke arah depan karena ia  terlalu takut untuk mengganggu konsentrasi mengemudi Chanyeol.

Eqhemm… Apa kau salah satu penggemarku?” celetuk Chanyeol membuka pembicaraan.

“Bukan.” jawab Jinri singkat.

“Lalu, kenapa kau melamar menjadi assistant-ku?”

“Saya ingin bekerja dan mendapatkan banyak uang. Lumayan kan, bisa saya berikan ibu dan membiayai sekolah adik saya.”

“O, begitu…”

 

Sesampainya mereka di lokasi syuting, Chanyeol pun memarkirkan mobilnya.

“Mereka datang!” kata Chanyeol. “Siapa?” sahut JInri. “Gadis-gadis bodoh yang menobatkan diri mereka sebagai penggemarku.” Chanyeol menyeringai.

“Cepat turun dan payungi aku!” suruh Chanyeol pada Jinri.

“Baik, tuan.”

 

Sesuai perintah Chanyeol, Jinri membuka payung dan kemudian ia payungi Chanyeol untuk melindungi vampire tersebut dari sinar matahari.

Tidak mungkin dia takut pada sinar matahari, aku sering melihatnya di TV dan ia seperti manusia biasa. Tapi, apa tujuannya menyuruhku memayunginya? batin Jinri.

 

“CHANYEOL OPPAAAA!” terdengar suara teriakan bringas para gadis memanggili Chanyeol.

 

Ya, kalian memang bodoh… Kenapa mau mengidolakan pria keji seperti dia? batin Jinri ketika sekilas melihat para penggemar Chanyeol.

“Payungnya kurang tinggi, Jinri-ya…” kata Chanyeol. “Maaf, tuan…”

 

“Loh, kok ada cewek cantik di belakang Chanyeol oppa? Dia itu siapa, sih?” bisik para gadis yang heran dengan keberadaan Jinri.

Para penggemar Chanyeol merasa cemburu dengan kedekatan Chanyeol dan Jinri. Kemudian, mereka pun berencana untuk menghindarkan Jinri dari Chanyeol. Dengan cara melempar sebuah kertas yang telah diremas-remas hingga bentuknya tak beraturan ke arah Jinri.

 

Awww, apa ini?” kaget Jinri, kemudian mengambil kertas kecil tersebut.

JAUHI PUJAAN HATI KAMI!

Tertulis yang demikian itu di kertas tersebut.

“Apa itu?” tanya Chanyeol. “Saya tidak tahu, tuan…”

“Biar kulihat!” Chanyeol pun menyaut kertas kusut itu dari tangan kiri Jinri.

“Dari fans-ku.” ucap Chanyeol. “Ya sudahlah, tuan… Mau bagaimana lagi. Sudah risiko.” balas Jinri. “Baiklah kalau itu maumu.”

 

Tak puas dengan sikap Jinri yang mengabaikan peringatan mereka, para penggemar pun ingin bertindak lebih dari sebelumnya. Mereka menyusun rencana untuk menyingkirkan Jinri dari Chanyeol.

 

“Kalian kerubungi Chanyeol oppa, hingga kiranya tak ada cela baginya memperhatikan gadis itu. Ketika Chanyeol oppa lengah, kalian geret dia ke tempat yang tak mungkin Chanyeol oppa jangkau. Paham?”

“Paham!”

 

Mereka pun menjalankan rencana tersebut. Dikerubungi lah Chanyeol dengan berbagai alasan. Ada yang ingin berfoto bersama, meminta tanda tangan, minta cubit, atau pun memberi hadiah.

“Terima kasih ya,” ucap Chanyeol pada fans yang memberinya sebuah jam tangan mahal.

 

Chanyeol mulai merasa aneh dengan suasana di sekitarnya. Tak ada lagi aroma darah Jinri tercium di hidungnya. Ia menoleh ke belakang dan ia tak menemukan sosok Jinri.

“Kalian lihat gadis yang membawa payung merah di belakangku?” tanya Chanyeol pada para penggemarnya.

“Tidak, oppa.” jawab semua serempak.

 

Chanyeol dapat membaca raut berbohong mereka. Ya, itu adalah salah satu kelebihan Chanyeol sebagai seorang vampire.

Apakah dia kabur? Tapi… apa arti wajah para pendusta ini jika itu terjadi? batin Chanyeol. Ia mulai gusar untuk menentukan opini mana yang harus ia pilih. Jinri yang kabur, atau Jinri yang diculik para penggemarnya.

Sepetinya aku harus mengejar si penculik budakku! Chanyeol pun menjatuhkan keputusannya pada opini kedua.

 

“Sialan kalian semua!” umpat Chanyeol pada para penggemarnya dan langsung berlari melacak keberadaan Jinri dengan indra pembaunya.

Oppa, kami masih ingin bersamamu!” pekik para penggemar yang tak diacuhkan Chanyeol.

 

Di sisi lain…

“Sudah diperingatkan dengan halus malah nggak nurut! Ini salahmu karena mengabaikan peringatan kami, gadis jalang!” cerca salah seorang penggemar Chanyeol sambil menendang kasar kaki Jinri hingga ia terjatuh dan tak sanggup bangun.

“Hidupku sudah tersiksa karena Tuan Chanyeol, tolong jangan tambah lagi penderitaanku…” pinta Jinri.

“Tersiksa karena Chanyeol oppa? Halah, banyak alasan! Kau pasti senang kan, bisa bersama lelaki karismatik seperti dia?!” sahut penggemar lainnya yang ada di ruangan tersebut.

 

Berkali-kali Jinri ditampar dan ditendang perutnya, sampai-sampai keluar darah dari mulut dan pipinya. Jinri diam dan sama sekali tak memberontak. Ia sudah benar-benar pasrah. Kalaupun harus mati saat ini juga, ia akan terima.

 

BRAKK!

Terdengar suara pintu terdobrak dari luar. Para penggemar Chanyeol pun menoleh. Mereka dibuat terkejut oleh kedatangan sang idola dengan wajah yang merah dan berapi-api. “Chan… Chanyeol oppa?!”

“JINRI!” pekik Chanyeol terkejut melihat Jinri yang bersimbah darah dan sangat menyedihkan.

“Kalian yang melakukan ini semua? Apa kalian sudah gila, huh?!” bentak Chanyeol.

“Kami melakukan ini, karena kami sangat menyukai oppa.”

“Persetan dengan segala alasan konyol yang kalian buat. Aku… tak akan memaafkan kalian! Asal kalian tahu, dia asetku yang sangat berharga!” tukas Chanyeol yang emosinya bergolak bak api dalam sekam.

Aku bukan asetmu, kau hanya membutuhkanku untuk kepuasanmu sendiri! Jinri yang tak setuju dengan ucapan Chanyeol hanya bisa membatin. Ia tak berani mengatakan itu secara langsung. Jika sampai ia berani, pastilah yang ada setelah ini lehernya akan dikoyak dengan ganas dan darahnya akan disedot habis-habisan oleh Chanyeol.

 

“CEPAT KALIAN PERGI!” usir Chanyeol pada seluruh penggemarnya yang ada di ruangan tersebut.

“Dan… pastikan di antara kalian semua tak ada yang menguntit apa yang setelah ini kulakukan. Kalau sampai hal itu terjadi… Akan kubinasakan kalian dengan tanganku sendiri!” tegas Chanyeol yang membuat seluruh penggemarnya ketakutan. Mereka pun pergi karena takut dengan amukan sang idola.

 

“Jinri, apa kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol.

“Saya tak sanggup berdiri, tuan… Apa yang harus saya lakukan?”

“Kau juga bodoh, kenapa menyerah begitu mudah? Melanjutkan hidup seperti binatang peliharaan hanya akan membuatmu menjadi sampah yang lemah. Paham kau?!”

“Saya tidak peduli, kalaupun tadi saya selamat dari serangan penggemar tuan… Anda juga pasti akan tetap–”

 

Hash, kau ini memang banyak bicara!” belum selesai Sulli menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol langsung mengangkat dagu Jinri dengan telunjuk dan ibu jarinya. Membuat wajah mereka saling bertatapan. Tanpa diduga oleh Jinri sebelumnya, secara tiba-tiba Chanyeol menciumnya. Ia lumat bibir atas Jinri dengan desahan yang menyertai ciuman tersebut. Kemudian ia sedikit bermain lidah dan membuat giginya dan gigi Jinri bergesekan.

 

Setelah ciuman itu terlepas, Jinri pun masih terkejut dan tak habis pikir dengan tingkah polah majikannya itu.

“Tuan… rencana apa lagi yang akan tuan uji cobakan terhadap saya? Apa belum puas kemarin membuat saya lemas?” tanya Jinri dengan raut wajah sedih.

“Jinri… Aku menciummu untuk memulihkan tenagamu. Apa kau sudah merasakannya? Jangan terbiasa berburuk sangka padaku!”

“Maafkan saya, tuan… Tapi, apa tak ada cara lain selain ciuman? Kesannya… maaf, itu sangat memaksa. Belum lagi, Anda yang terlihat sangat bergairah, saya… takut.”

“Energi ini seperti virus. Ada dua cara untuk menyebarkannya, yaitu dengan ciuman dan hubungan sex… Kau mau?”

“Tuan tidak serius mengatakan itu, ‘kan?”

“Hahaha, tentu tidak! Ya sudah, cepat kerja lagi! Aku sudah ditunggu Pak Sutradara.”

 

Di lokasi syuting, Jinri hanya duduk di belakang para crew, menyaksikan jalannya syuting berlangsung dari kejauhan. Samar-samar ia dengar dialog apa yang sedang Chanyeol bicarakan dengan lawan mainnya. Namun tiba-tiba saja Jinri melihat adegan Chanyeol yang memeluk dengan hangat tokoh gadis yang ia cintai, kemudian mereka berciuman dengan penuh gairah.

Padahal, baru saja Ia menciumku. Dasar lelaki bermuka banyak! Rutuk Jinri dalam hati kecilnya mencerca Chanyeol.

 

Saat break syuting, dengan sigap Jinri langsung berlari sambil membawa handuk dan sebotol air yang tentu saja untuk Chanyeol. Ketika hendak menyeka keringat Chanyeol dengan handuk tersebut, Jinri terkejut karena tak ia temukan setetes pun peluh.

“Kau lupa ya, aku ini apa?” tegur Chanyeol.

“Maaf, tuan. Ya sudah, ini airnya. Siapa tahu tuan haus.” Jinri pun menyerahkan botol itu pada Chanyeol.

“Hmmm, lumayan lah! Sebagai ganti darahmu.” goda Chanyeol dan sontak membuat bulu kuduk Jinri berdiri.

“Baiklah, saya permisi dulu,” kata Jinri dan langsung berlari pergi menjauhi Chanyeol.

 

“Dasar gadis lemah, cih!” hina Chanyeol tanpa sepengetahuan Jinri.

 

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya syuting pun berakhir. Bagi Jinri, ingin rasanya syuting ini berjalan terus, daripada ia harus kembali ke rumah megah milik Chanyeol dan menerima siksaan yang berat.

“Ayo pulang!” ajak Chanyeol pada Jinri.

“Baik, tuan…”

 

Bila Jinri pikir dengan baik-baik, jika saja majikannya itu bukan seorang vampire –sesosok makluk penghisap darah yang keji– pastilah menjadi assistant Park Chan Yeol adalah hal yang sangat ringan dan menguntungkan baginya. Kerjanya paling-paling cuma memayungi, menyeka keringat, dan memberi botol berisi air mineral.

 

“Kenapa hanya diam?” celetuk Chanyeol sembari menyetir.

“Tidak apa-apa, tuan.” jawab Jinri.

 

Hari berikutnya…

 

Di dapur, Jinri tengah mencuci piring bekas makan siang. Dan setelah itu, ia harus menyiapkan piring untuk makan malam.

“Jinri…” terdengar suara Chanyeol memanggilnya.

“I… iya… tuan. Ada perlu apa memanggil saya?” balas Jinri, dan seperti biasa, ia gelagapan apabila berdialog dengan Chanyeol.

“Kenapa ketakutan seperti itu, huh?!” protes Chanyeol sambil menyeringai, menunjukkan ekspresi liciknya. Ia makin mendekat ke arah Jinri dan membuat jantungnya berdegup kencang.

“Tuan, tolong jangan terus mendekat!” rengek Jinri.

“Hmmm, oke!” Chanyeol pun menghentikan langkahnya, sesekali menuruti keinginan Jinri.

 

“Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku haus.” kata Chanyeol.

“Tuan haus? Baiklah, saya akan membuatkan minum. Tunggu sebentar!” Jinri kemudian berbalik. Ia seduhkan teh, kemudian mengaduknya.

Semoga yang ia butuh memang minuman, bukan darahku. Jinri harap-harap cemas.

“Ini, Tuan…” Jinri menyerahkan secangkir teh kepada Chanyeol.

 

Chanyeol pun langsung meneguknya tanpa pikir panjang. Belum sampai teh tersebut ke kerongkongannya, ia segera memuntahkan cairan berwarna kecoklatan itu tepat di depan Jinri. “KENAPA TEH INI RASANYA TAWAR, HUH?!” amuk Chanyeol.

“Maafkan saya, Tuan… Biar saya buat lagi yang lebih manis.” kata Jinri dan mengulang menyeduh teh. Setelah mengaduk gula agar larut dan teh terasa manis, Jinri pun memberikan teh tersebut pada Chanyeol dengan hati-hati.

 

PYARR!

Chanyeol menepis teh tersebut dan membuat cangkirnya pecah.

“Ah!” kaget Jinri karena tangannya terpercik panasnya air teh.

 

Chanyeol mendorong Jinri hingga ia jatuh ke lantai dan membuat telapak tangannya tergores serpihan kaca dari cangkir yang Chanyeol pecahkan, padahal rasa sakit di tangannya yang disebabkan percikan teh panas belum hilang.

Sungguh malang nasibmu, Choi Jin Ri…

“KAU BODOH ATAU BAGAIMANA, KENAPA TAK KUNJUNG PAHAM MAKSUDKU?! YANG AKU BUTUH ITU… DARAH! DARAHMU!” bentak Chanyeol hingga urat lehernya keluar.

“Tuan, aku mohon jangan koyak leher saya lagi…” pinta Jinri lemah.

“Kau pikir aku peduli? Kenapa kau masih belum bisa menerima takdirmu? Takdirmu adalah menjadi BUDAK DARAHKU!”

“Berapa banyak lagi saya harus memohon?”

 

“Baiklah, aku akan berusaha lebih manis padamu.” Setelah mengatakan itu, Chanyeol pun bersimpuh di hadapan Jinri. Ia pegang kedua tangan gadis di hadapannya itu.

“Tanganmu berdarah… Apakah itu sakit?” tanya Chanyeol. Jinri hanya diam dan tetap menangis melihat Chanyeol bersikap aneh padanya.

 

Sekonyong-konyong Chanyeol mengangkat tubuh Jinri dengan kedua tangannya. Ia berdiri dan berjalan sambil membopong tubuh Jinri.

“Tuan, apa yang akan Anda lakukan terhadap saya?” panik Jinri.

“Kau pikir semudah itu aku akan menurutimu? Seberapa pun banyaknya air mata yang kau linangkan tak akan mampu menghentikanku untuk memangsamu.”

“Aku mohon jangan, Tuan…” lagi-lagi Jinri merengek. Kali ini ia coba memberontak dan berusaha agar tubuhnya bisa turun dari gendongan Chanyeol. Namun sangat sulit, Chanyeol telah mencengkram tubuhnya dengan sangat erat.

 

Chanyeol berhenti ketika mereka sampai di depan kolam renang.

“Inilah hukuman untuk gadis yang selalu merengek sepertimu!” ucap Chanyeol. Tanpa pikir panjang lagi, ia lempar Jinri ke kolam renang.

“Tolong, saya tidak bisa berenang!” pekik Jinri sambil berusaha agar tetap bisa mengambil oksigen dari daratan. “Tolong aku, siapa saja!” katanya lagi.

 

Chanyeol yang melihat kesengsaraan Jinri pun hanya tertawa renyah.

“Kau adalah milikku. Oleh karena itu jangan pernah membantahku!
Sekarang bilang kalau aku lah yang terbaik,
Katakan kalau aku lebih baik dari siapapun,
Dan sekali lagi, kau adalah milikku!”

“TOLONG AKU!!!” bukannya tak ingin mengulangi apa yang Chanyeol perintahkan, namun tak ada celah bagi Jinri untuk bicara sepanjang yang Chanyeol inginkan dengan keadaan terdesak seperti itu.

 

Seketika Chanyeol tersadar bahwa tindakan ini terlalu menyiksa Jinri. Ia pun segera melompat dan berenang untuk menyelamatkannya.

 

Setelah berhasil mengangkat tubuh Jinri ke permukaan air, tanpa menuju ke atas terlebih dahulu, Chanyeol pun mencium Jinri. Entah tujuannya untuk memberi nafas buatan, atau hanya ingin memenuhi keinginan nafsunya.

“Tolong hentikan…” ucap Jinri setengah sadar setelah ciuman itu terlepas.

“Maaf, aku tidak bisa melepaskanmu.” balas Chanyeol. Seketika sepasang taring menyembul keluar dari mulut Chanyeol, ia tancapkan taring yang runcing itu pada leher kanan Jinri.

 

Darah dengan deras mengucur dan membuat darah segar terlarutkan oleh air kolam renang. Lagi-lagi Jinri menangis sembari merasakan sakit yang menelusup dan seakan menembus tulangnya.

“Darahmu sudah mengalir dalam tubuhku, rasanya benar-benar hebat!” ucap Chanyeol ketika ia telah puas menguras darah segar Jinri hingga ia kembali lemas.

Dan selamanya, kau akan selalu hidup dalam belas kasihku, Choi Jin Ri… 

End, or… TBC?

It’s all up to you, guys… Please give me support and advice to continue this fanfiction. To be honest, I was confused to determine the end of this story. I’m sorry T_T

So, can you give me advice about the continuation of this story?

*sok inggris*

Beuh, akhirnya kuposting juga chapter 2nya.

Jujur karena ini pertama kalinya buat saya bikin FF sekejam ini, jadi agak susah untuk mengolah katanya.

Sekali lagi, tolong ya… Kalau mau dilanjut kasih saya saran, hehehe…

Dan… FF ini bukan sepenuhnya ide saya. Anggap saja ini Diabolik Lovers versi f(exo)! ^_^

Visit blog saya juga ya >> fingersdancing14.wordpress.com *Admin, maaf… saya promo*

39 thoughts on “The Slave of Blood #2

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s