Truly, I Love You (chapter 10)

truly-i-love-you2_zps73bebecb

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Poster: http://invader09.wordpress.com/

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is  just a fiction😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-chapter 10-

-0-

Banyak orang yang ingin pergi dari masa lalunya, tapi kalau masa lalu itulah yang kembali lagi dengan sendirinya, apa yang harus dilakukannya?

D.O menatap lapangan kosong dihadapannya, latihan baru saja akan di mulai sejam lagi tapi D.O memutuskan datang lebih cepat dari yang lainnya. Besok pertandingan final di gelar, dan sampai detik ini D.O masih belum bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dia juga bingung apa yang membuatnya begitu kacau selama latihan, D.O tidak bisa sedikitpun berkonsentrasi.

“kau merindukannya ya?” saat D.O baru akan menoleh, chanyeol sudah berdiri di hadapannya dan segera mengambil tempat di sebelah D.O

“siapa? Tidak ada.”

“ck.” Chanyeol berdecak malas, “kau memang lebih jago dariku kalau soal bermain baseball, tapi kurasa kalau masalah cinta, aku lebih unggul darimu. Ya! Semua itu terbaca dengan jelas di wajahmu tahu.”

D.O kali ini memiringkan kepalanya. “cinta? Kau sedang membicarakan apa dan siapa hyung?”

Kali ini chanyeol mendesahkan nafasnya, “jadi kau benar-benar belum menaruh perasaan apapun pada gadis semanis sakura? apa kau benar-benar seorang laki-laki?”

“mwoya? Kenapa tiba-tiba membicarakan ini. kau sebaiknya bersiap hyung, kurasa sebentar lagi yang lain kan datang.” D.O bangkit dari duduknya dan bersiap berjalan memasuki arena lapangan.

“kau hanya perlu meletakkan egomu sebentar saja D.O-ya, hubungi dia dan katakan kau begitu merindukannya bahkan sampai tidak bisa bermain dengan benar.”

D.O menoleh, “aku hanya sulit berkonsentrasi dan dapat kupastikan ini tidak ada hubungan dengannya,”

“kalau begitu, dapat kupastikan juga kita akan kalah besok. Kau bahkan bermain lebih buruk dari anak TK yang baru pertama kali memegang tongkat baseball. Berhentilah menjadi egois. Aku yakin kalau kau tetap bersikeras dengan keegoisanmu, kau sendiri yang akan tersiksa nantinya. Dan malah membuat kita membawa kekalahan saat kembali ke korea.”

Chanyeol memasuki lapangan mendahului D.O, dia hanya mampu menatap punggung hyungnya itu sembari mendesah dalam. Walau dalam hati membenarkan apa yang dikatakan chanyeol, D.O tetap berpegang pada pendiriannya bahwa konsentrasinya yang hilang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sakura. dia hanya gugup dengan pertandingan final. Hanya itu.

Walau selama ini cincin sakura tak pernah jauh dari kantong celananya, dia tetap mengelak kenyataan kalau selama ini otaknya hanya dipenuhi oleh sakura. D.O hanya terlalu angkuh untuk menyadarinya.

-0-

Sejak pukul 8 malam, sakura terus saja mondar-mandir di depan kamar D.O, walau kamar itu tak berpenghuni dia tetap saja ragu untuk masuk. Pikirannya juga jadi tambah bercabang karena pembicaraanya dengan suho saat di sekolah tadi. Sakura tetap saja tak bisa tenang soal gadis yang di ceritakan suho. “kalau gadis itu kembali, nasibku bagaimana?” gumamnya. Dia mendesah berkali-kali dan beberapa kali menghentakkan kakinya kesal. “jadi dia tidak pernah mau membuka dirinya karena itu? ah molla!” pekiknya keras.

“nona?” sebuah suara tiba-tiba muncul dari arah tangga. Ahjumma kang, dia menatap sakura aneh karena sikap gadis itu yang sibuk bergumam dengan dirinya sendiri sembari menghentakkan kakinya.

Sakura menoleh dan tersenyum salah tingkah kearah ahjumma, “waeyo?” tanyanya, bingung dengan tanggapan yang harus dia lontarkan.

“ini cokelat hangat, nona tidak makan malam tadi,”

“oh, kamsahamnida.” Sakura menerima gelas yang diberikan ahjumma. “ahjumma, apa kau tahu kapan kyungsoo pulang?”

Ahjumma kang menggeleng, tidak tahu. tuan mudanya hanya mengatakan untuk menjaga sakura dan tidak mengatakan hal lain lagi. sakura mendesah lesu, ahjumma mohon diri untuk kembali ke bawah.

Sakura menatap lagi pintu kamar D.O, “apa kau tahu kalau aku begitu kacau karena merindukanmu?” katanya, sebelum kemudian dengan gerakan cepat masuk kedalam kamarnya sendiri.

-0-

Tidak ada yang diizinkan keluar setelah latihan selesai. Semua langsung kembali ke hotel. Setelah makan malam, bersama sehun D.O berjalan kembali ke kamarnya. Sehun masuk ke kamarnya terlebih dahulu, setelah melewati beberapa kamar D.O juga masuk dan mendapati kai baru saja keluar dari kamar mandi. “kau baru makan malam hyung?” tanyanya.

“hm.” Jawab D.O dengan gumaman singkat. “kau sudah makan?”

“aku sedang tidak lapar, kurasa aku sedikit tegang untuk besok.”

D.O tersenyum tipis, “kau sudah melakukan yang terbaik selama latihan kai-ya,”

“geundae..” kai ragu melanjutkan kalimatnya, D.O menatapnya, mengisyaratkannya untuk lanjut. “suho hyung..”

Kai menyangkutkan handuk di lehernya dan mengambil tempat di sisi ranjangnya. “suho hyung, tadi dia menelponku menanyakan kabarmu.”

“kenapa dia tak menelponku langsung?”

“sebenarnya ini soal sakura.”

D.O yang tadi menatap kai langsung membuang mukanya, dan menelan ludahnya yang seketika terasa pahit. Dia yakin ada perubahan yang begitu kentara pada ekspresi wajahnya setelah nama gadis itu disebutkan, dan dia tak ingin kai tahu.

“sakura, kurasa kau harus menelponnya hyung. aku tidak pernah melihatmu menghubungi siapapun selama disini.”

“tidak perlu.”

“wae?”

“aku tak ingin.”

Kai menatap D.O tak percaya, dilihatnya D.O langsung membuka mantelnya, berbaring di ranjangnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Kai mendengus, jelas sekali bahwa D.O hanya berpura-pura. Bagaimana mungkin dia tidak sedikitpun punya keinginan untuk menelpon gadis yang sudah menjadi istrinya. Kai bahkan belum menyelesaikan ceritanya tentang sakura, kai belum sempat mengatakan bahwa suho bilang kalau gadis itu terlihat kacau sejak D.O pergi. Mungkin saja setelah mendengarnya, mungkin saja D.O akan merubah pikirannya.

-0-

D.O membuka jendela kamarnya, langit jepang tanpa bintang langsung terhampar di hadapannya. Jam menunjukkan pukul 2 pagi, D.O duduk di lantai balkon yang dingin. Dia menutup jendela di belakangnya dan dijadikannya sandaran. Kehidupan malam masih berlangsung di Osaka, lampu-lampu kota terlihat dengan jelas dari tempatnya.

D.O mendesah. Dia tidak pernah merasa terbebani dengan apapun selama hidupnya. semuanya selalu berjalan lancar sampai suatu hari beberapa bulan yang lalu, suatu hari saat dia mengucapkan sebuah janji pernikahan yang bahkan tak pernah diinginkannya, suatu hari saat sebuah cincin mengikatnya dengan seorang gadis bernama sakura. satu hari di suatu hari yang membuat hidupnya berubah dan tak sama lagi.

Cincin hitam bertuliskan namanya itu terputar tanpa henti di sela-sela jarinya. cincin yang dibuang sakura.

Hatinya masih sakit, dan semakin dia memikirkan gadis itu semakin dia merasa tersakiti. “apa kau begitu tidak bahagia bersamaku?” gumamnya pada diri sendiri.

D.O melepaskan cincinnya, dan sekarang kedua cincin kembar itu sudah tergeletak manis di telapak tangannya. D.O menarik sudut bibirnya, chanyeol dan kai sama-sama mengatakan hal yang sama. Menelpon gadis itu. walau dari dalam hatinya D.O juga begitu ingin melakukannya, namun masih begitu segar dalam ingatannya bagaimana dengan lantangnya sakura mengatakan kalau ia membenci D.O dan bahkan tidak ingin melihat wajahnya lagi. teriakan itu bahkan masih begitu sering terputar dalam memori otaknya seperti sebuah kaset ruska yang tak bisa berhenti.

Gadis itu sudah terlalu banyak menangis. Batin D.O. dia mengeluarkan handphone dari saku celananya. apa aku masih pantas menelponnya? Apa aku masih pantas menanyakan kabarnya? Apa aku masih pantas mengkhawatirkannya? Batinnya lagi. D.O mendesah lagi. dia memutar-mutar handphone di tangannya.

Setelah menekan nomor kontak yang dituju, D.O mendekatkan handphone tersebut ke telinya. Namun, baru di nada tunggu yang pertama sambungan itu sudah di putusnya lagi.

D.O mencoba lagi, kali ini dibiarkannya nada tunggu itu berlangsung lama. ia akan memutusnya lagi nanti. Saat nada tunggu yang kesekian berdengung di telinganya, saat D.O hendak memutus sambungan itu lagi, sebuah suara menjawab dari seberang.

“yeoboseyo?”

“…” D.O membeku di tempatnya, di jam yang selarut ini dia menyangka tak akan mendapat jawaban.

“kyungsoo?”

Pukul 2 pagi setelah sempat mematikan sambungan beberapa kali, akhirnya sambungan dua negara itu tersambung.

“kyungsoo?”

D.O masih belum mampu menggerakkan lidahnya, rasanya kelu. Matanya mengerjap tak percaya, ini terlalu larut dan gadis itu menjawab teleponnya? D.O masih belum mampu memercayai pendengarannya.

“ya! Setahuku ini nomor kyungsoo, ini bukan kyungsoo ya? jawablah atau aku akan mematikannya.”

“sakura.” cepat, D.O akhirnya mampu mengeluarkan suaranya.

“huh? kyungsoo?”

“hm.”

Sedetik setelah berkata begitu, D.O mendengar suara pekikan kencang. Dan lama sakura tak mengatakan apa-apa lagi.

“sakura?”

“…”

“kau mendengarku?”

“hm. sangat. Sangat mendengarmu, tapi aku masih belum percaya.”

D.O mengangkat sudut bibirnya, bahkan setelah membentaknya tempo hari, sakura masih mau menjawabnya dengan nada seriang itu.

Sesaat keduanya sama-sama diam. Sakura memecah keheningan itu dengan berdehem singkat. “kyungsoo..”

“hm?”

“mianhae..”

Sakura menggantung kalimatnya, D.O diam menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya. “mianhae.” Kata sakura lagi.

“maaf soal yang waktu itu, aku sungguh tak bermaksud membentakmu begitu. Aku hanya. Aku hanya. Erg, kurasa aku hanya kesal, mian. Aku terlalu kekanak-kanakkan memang, maafkan aku kyungsoo. sungguh aku, aku, aku menyesal mengatakan itu semua.”

Walau tak bertatap muka langsung, namun D.O bisa dengan jelas membayangkan bagaimana wajah sakura sekarang. Pipinya yang akan selalu bersemu merah setiap kali menahan segala emosinya. Dan D.O yakin sekarang sedang begitulah keadaannya. D.O bergumam singkat menanggapi.

“lupakanlah. Aku juga salah.”

Keheningan kembali tercipta, berdiam dengan saling merasakan keberadaan masing-masing sebenarnya sudah cukup bagi D.O, namun kejam rasanya kalau membiarkan gadis itu terjaga terlalu larut seperti ini.

“apa kau makan dengan baik?” tanyanya. Ahjumma memang sempat mengiriminya pesan singkat dan mengatakan bahwa sakura baik-baik saja di korea, namun tetap saja. mendengar langsung dari mulut gadis itu terasa lebih melegakan baginya.

“hm.”

“tidur dengan baik?”

“hm.”

“gadis pintar.”

“tapi hatiku tidak baik kyungsoo, aku merindukanmu.”

“…”

“aku sungguh-sungguh merindukanmu sampai semua hal rasanya tidak berjalan dengan baik.”

“aku juga.”

“eoh?”

“lusa aku kembali, tunggulah, dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. aku membencinya tapi aku tidak membencimu,”

“…”

“tidurlah, sudah malam. Besok akan kuhubungi kau lagi, selamat malam. Bermimpilah yang indah sakura.”

tut’

D.O memutus sambungan cepat dan menelan ludahnya.

Semua penat, perasaan hampa, dan beban yang terus menggelayutinya sejak datang di jepang seketika hilang tak berbekas. D.O menghirup udara di sekelilingnya banyak-banyak.

Entah perasaan apa itu, tapi dia bahagia. Sangat bahagia sampai rasanya ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.

-0-

D.O membuktikan ucapannya. Keesokan harinya dia kembali menelpon sakura. sesaat sebelum pertandingan. Hanya percakapan singkat tapi mampu membuat D.O memanaskan lapangan sore itu. pertandingan sengit. Perbedaan skor yang amat tipis. Namun, korea membawa pulang piala tahun itu.

Semua menganga tak percaya melihat bagaimana D.O bermain. Tidak ada lagi D.O lesu yang selalu mereka lihat selama latihan. Berulang kali pelatih mengajukan pujian atas cantiknya permainan D.O ketika itu.

Besok siang mereka akan langsung kembali ke korea, malam harinya mereka sempat berjalan-jalan di sekitar mencari barang-barang yang mungkin bisa di bawa pulang ke korea sebagai hadiah. D.O membeli sebuah kalung dengan bandul cantik berbentuk bunga sakura, sehun sempat menggodanya sebentar. D.O hanya membalasnya dengan desisan singkat.

“ini bagus kan?” Tanya baekhyun, mereka sudah kembali ke hotel dan sedang membongkar barang-barang yang baru mereka beli.

“untuk siapa?” sehun balik bertanya, “kau kan tidak punya adik perempuan, kau juga tidak punya pacar, untuk siapa boneka beruang itu?”

“eunyeol.” Ucap baekhyun pendek.

“mwo? Wae?” sehun berjalan mendekat kea rah hyungnya.

“eoh? Geunyang.. saat kulihat ini aku jadi teringat padanya. Ya kubeli saja.”

Sehun memandang baekhyun sinis. “heol.” Gerutunya pelan. Dia menyesal bertanya tadi. Sehun menggembungkan pipinya, rasanya tak nyaman mendengar baekhyun akan memberikan oleh-oleh pada eunyeol. Sehun juga sudah membeli oleh-oleh yang akan diberikannya pada eunyeol, tapi melihat hadiah baekhyun yang kelihatan lebih baik, ia jadi berniat tak ingin memberikannya saja.

“kenapa wajahmu seperti itu?” kali ini chanyeol yang sedang memainkan mainan baru yang tadi dibelinya, menanggapi.

Sehun menoleh, menatap hyungnya sebentar dan kembali memalingkan wajahnya. “tidak.”

Mendengar jawaban singkat sehun, membuat kai tersenyum. “uri sehun-ee sedang merasa cemburu chanyeol oppa..” goda kai dengan menirukan suara perempuan.

Sial. Batin sehun. Dia segera beranjak mencari kesibukan lain. Jelas sekali kalau setelah ini hyung-hyungnya itu tak akan membiarkannya menghabiskan malam terakhir di jepang dengan tenang.

-0-

Seoul, Korea Selatan.

Bandara tak seramai biasanya. Chanyeol dan yang lainnya berjalan cepat. Ada beberapa media yang meliput kepulangan mereka. Piala tahunan baseball memang bukan berita yang dapat berlalu begitu saja. pelatih diwawancarai sebentar. Chanyeol dan kai menanggapinya sedikit. Yang lainnya hanya diam tersenyum kearah kamera.

D.O memutuskan langsung kembali ke rumah. Tak ada yang harus dilakukan lagi memang. Ia terlalu lelah untuk melakukan hal lain lagi. lagipula entah kenapa D.O begitu merindukan rumah. Tak seperti biasanya.

Kedatangan D.O disambut Kang ahjumma. Dia tersenyum senang melihat tuan mudanya telah kembali. “nona sakura ada di kamarnya tuan.” Ujar ahjumma.

D.O bahkan tak mengatakan apapun, tapi ahjumma tahu. laki-laki itu begitu tergesa-gesa masuk ke rumah, dan rasanya memang tak ada alasan lain selain karena ia ingin segera menemui sakura. D.O menatap ahjumma canggung, “terima kasih sudah menjaganya dengan baik ahjumma.” Ucap D.O pelan sebelum melangkahkan kakinya menaiki tangga.

Di undakan tangga terakhir, saat pintu kamar bercat putih sudah ada di depannya, jantungnya menjadi begitu cepat berpacu. D.O menarik nafasnya perlahan, dan menghembuskannya pelan. Apa baik-baik saja kalau aku langsung menemuinya seperti ini? batin D.O

D.O menggeleng, nanti saja. pikirnya. Ia melangkahkan kakinya ke kamarnya sendiri. mengurungkan niatnya menemui sakura, rasanya aneh kalau langsung menemui gadis itu. bukan seperti gayanya. Uluran tangannya berhenti saat baru akan mencapai daun pintu. D.O menoleh lagi, dia mendengus. Menyebalkan. Kenapa rasanya ada yang kurang? Umpatnya dalam hati.

D.O beralih, mencapai pintu di sebelahnya, dan setelah menghela nafasnya berkali-kali dia mengetuk pintu itu pelan. Tidak ada jawaban. Bukannya berusaha mengetuk lagi, D.O malah hanya diam menunggu.

‘cklek’

Bunyi pelan yang baru saja didengarnya langsung membuatnya membulatkan matanya sempurna. D.O menelan ludahnya, ‘eottokhaji?’ batinnya.

Pintu bercat puith itu terbuka pelan, amat pelan menurut D.O. walau sudah melewati segala macam ketegangan saat bertanding, rasanya saat ini adalah saat yang paling menegangkan baginya. Pelan, kepala sakura muncul dari dalam kamarnya.

Perlahan sakura mendongakkan kepalanya dan mata itu bertemu. Kedua pasang mata itu bertemu, menatap begitu dalam, dan rasanya tak ada hal yang lebih baik dari saat itu.

Sakura mengedip beberapa kali, memastikan kalau apa yang dilhatnya bukanlah halusinasinya yang berlebihan, tapi memang benar-benar laki-laki yang bahkan setiap detik didoakannya agar segera kembali. Memang benar laki-laki yang setiap hembusan nafasnya bahkan dirindukan kehadirannya. Dan memang benar laki-laki yang dari sekian banyak hal yang ada di dunia adalah sesuatu yang paling di butuhkannya.

“kyungsoo.” panggilnya. Hanya panggilan singkat, panggilan singkat yang bermakna segalanya. Sakura mengingatkan dirinya untuk segera mengambil nafas yang sejak tadi ditahannya.

“hm.” Laki-laki itu mengangguk singkat.

Tidak butuh waktu sedetik untuk sakura berpikir tindakan apa yang harus dilakukannya, hanya sepersekian detik dan tangan kecilnya sudah melingkar dengan erat dipinggang D.O

D.O mengerjap kaget. Tidak menyangka dengan apa yang sakura lakukan. Gadis itu benar-benar menguncinya. erat dalam lingkaran tangannya. Aroma strawberry manis langsung menusuk hidungnya, aroma yang entah kenapa begitu dirindukannya. Tangan D.O masih menggantung di udara. Pergulatan memang sedang terjadi didalam dirinya. Di satu sisi dia ingin menyambut pelukan hangat sakura, namun disisi lain, ada bagian yang selalu berbisik bahwa dia harus segera melepaskan pelukan sakura dan menjauh.

Tangan D.O terkepal erat disisi tubuhnya, “bogoshippeo.” Dengan suara rintih yang dalam, sakura bergumam pelan.

D.O menghela nafasnya, dengan pelan dinaikkannya tangannya. Dan mengelus punggung gadis itu pelan. Itu bukan yang pertama, itu bukan pertama kalinya D.O melakukan ini. mengelus punggung gadis itu pelan, mengusap rambut halusnya lembut, dan mengirup dalam-dalam aroma manis yang menguar. Tapi, entah kenapa selalu ada sengatan aneh yang muncul dari dalam hatinya. Rasanya begitu janggal namun juga menyenangkan di waktu yang bersamaan.

“bogoshippeo.” Gumam sakura lagi, gadis itu semakin membenamkan kepalanya didada D.O.

“hm.” D.O meletakkan kepalanya di puncak kepala sakura dan mengeratkan pelukannya. “hm. Ara.”

Sakura’s POV

Aku bisa bernafas sekarang.

Aku mengeratkan pelukanku. Rasanya seperti mimpi dan aku tak ingin bangun lagi. saat pertama kali melihatnya berdiri di hadapanku, aku merasa udara disekelilingku berhenti. Tak ada pergerakan lagi, yang ada hanya keheningan, aku bahkan bisa mendengar detak jarum jam di dinding. Mungkin aku gila karena langsung berinisiatif memeluknya. Tapi hey, aku memang tak ingin hal lain lagi selain memastikan keberadaannya memang sungguhan di hadapanku.

Aku semakin mengeratkan pelukanku, dan ajaib kyungsoo melakukan hal yang sama. Aku memang tak mendengar banyak balasan darinya, saat kukatakan aku merindukannya, dia hanya bergumam pelan. Tapi itu sudah cukup. Asal kyungsoo memang sungguh ada disini. Itu sudah cukup, setidaknya sekarang aku punya alasan untuk tetap bernafas dan tersenyum.

Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berpelukan. Rasanya menyenangkan, aku bahkan berniat tak ingin melepasnya. “aku tahu kau lelah, tapi bolehkah beberapa menit lagi baru kau melepasnya?” aku bersandar di dadanya dan bergumam asal. Sungguh hanya gumaman asal karena kalau dia mengatakan tidak aku memang akan langsung melepas pelukanku.

“hm.”

Senyumku mengembang. Kueratkan lagi lingkaran tanganku di pinggangnya.

Aku suka kyungsoo. sangat menyukainya. Dan begitu menyukainya.

Caranya mengelus rambutku, caranya mengusap punggungku, dan caranya melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku-sangat-menyukainya.

-0-

Author’s POV

D.O menikmati makan malamnya sendirian. Sambil membalas beberapa pesan singkat yang dikirim Yui beberapa hari yang lalu. Saat baru satu pesan yang terkirim, yui langsung menelponnya. D.O berdecak pelan sebelum mengangkatnya. “wae?”

“kyungsoo-yaaaaaa… bagaimana mungkin aku tidak tahu apapun dan kau sudah pergi ke jepang dan, dan memenangkan kejuaraan itu. hah? Bagaimana mungkin kyungsoooooo?.”

D.O menjauhkan handphone dari telinganya. “kau tak pernah bertanya noona.”

“tapi tetap saja kan…. ah geurae, arasseo, kau memang begitu. Oh ya, katakan pada sakura untuk sesekali mengunjungiku. Menyebalkan sekali aku tak pernah dikunjungi oleh adik iparku sendiri, kau juga.”

“hm.” D.O mendongak dan dilihatnya sakura sudah duduk dihadapannya, memegang sumpit. “aku sedang makan sekarang,bisakah kau tidak menganggu dulu noona?”

“aigoo, kau sungguh menyebalkan sekali. Sampaikan salamku pada sakura, bye.”

“Yui eonni?” Tanya sakura begitu D.O meletakkan kembali handphone nya.

D.O mengangguk singkat. “berkunjunglah ke apartemennya sesekali. Akan kuberikan alamatnya.”

Sakura mengangguk. Dia menyumpit makanannya dalam diam. Sebenarnya saat ia memutuskan untuk turun makan malam, sakura sangat berharap tidak akan bertemu D.O. Dia baru saja menceritakan kejadian siang tadi pada eunyeol, dan gadis itu malah habis-habisan menghinanya.

“.. jinjja? Ya! kau itu kan perempuan, kenapa harus kau yang memulai lebih dulu. Harga diri, sakuraaaaaa….” Sakura kembali terngiang ucapan eunyeol sore tadi. Eunyeol juga menjelaskan banyak hal kalau laki-laki lah yang harusnya memulai segalanya. Tapi melihat bagaimana perangai D.O selama ini, sakura yakin hubungannya tidak akan pernah maju dan hanya merangkak di tempat kalau menunggu D.O yang memulainya.

Setelah mendengar reaksi eunyeol, sakura jadi tak ingin lagi menceritakan apapun pada gadis itu. eunyeol terlalu berbelit. Sakura mendongakkan lagi wajahnya, dan semburat merah langsung terlihat dari kedua pipinya. Bahkan hanya dengan melihat D.O yang diam sambil menikmati makanannya, kepala sakura bisa langsung penuh dengan bayang-bayang kehangatan pelukan D.O tadi. Aku pasti menyukainya begitu banyak. Batin sakura.

Sakura tak mampu dan juga tak ingin melepaskan pandangannya dari D.O, dia masih merasa seperti mimpi melihat D.O sudah kembali nyata dihadapannya. “kyungsoo.” panggilnya,

Laki-laki itu hanya melirik sekilas sebelum bergumam pelan, “hm?”

“aku senang kau sudah kembali, dan aku senang bisa melihatmu lagi.”

D.O berdehem, sakura berhasil membuatnya salah tingkah. “hm.” Lagi-lagi hanya gumaman singkat. tapi sakura merasa cukup dengan itu, dimana lagi kau bisa mendengar gumaman pelan semanis milik kyungsoo? benaknya.

-0-

Seminggu di tinggal, ada sedikit peubahan di balkon rumahnya. Saat D.O iseng melongok ke arah balkon, dilihatnya sudah ada ayunan kayu yang sangat mirip dengan miliknya di rumah orang tuanya. D.O menuju balkon dan langsung mengambil tempat di ayunan tersebut. langit korea sedang cerah. D.O menarik nafasnya dalam, terlalu banyak hal yang kurindukan dari sini. Pikirnya.

Musim semi akan segera berakhir sebentar lagi, pohon-pohon juga sudah mulai mengugurkan daunnya. Sesekali angin yang cukup kencang berhembus, D.O kembali menarik nafasnya dalam. D.O tak pernah menyangka kembali ke rumah bisa membuatnya merasakan kelegaan yang begitu hebat. Dia semakin manis. Puji D.O dalam hatinya, entah karena apa, tapi D.O merasa sakura bertambah cantik sejak kepergiaannya, gadis itu hanya terlihat lebih kurus, selebihnya dia sempurna, bahkan pipinya yang seakan setiap saat selalu bersemu itu terlihat semakin menggemaskan.

D.O’s POV

Sakura sudah tumbuh menjadi gadis yang manis, walau sikapnya sangat mengganggu kadang-kadang, dia memang masih anak-anak. Aku lega sakura benar-benar lupa dengan kejadian satu minggu lalu, mungkin dia memang sengaja melupakannya, lagipula aku juga tak ada niatan mengingatnya, rasanya menyakitkan.

Setelah selesai makan malam tadi, kulihat sakura langsung masuk kekamarnya. Langit malam sedang indah, sayang sekali dia tak menikmatinya.

“kyungsoo…”

Aku menoleh. Kulihat sakura mendekat, ia hanya mengenakkan piyama tipis berwarna merah muda yang terlihat sangat kekanakkan di tubuh kecilnya. Dia mengambil tempat disebelahku. “kemarin ada orang yang mengantarkan ini. katanya eomma yang membelikannya.” Jelasnya.

Aku hanya mengangguk pelan, angin berhembus lagi. aku melepaskan jaket yang kukenakkan. Kusampirkan jaketku di bahunya, “kau akan masuk angin dengan baju setipis ini.” ujarku.

Sakura menatapku sekilas, dan seperti biasa ekspresinya setelahnya sangat bisa ditebak. Kedua pipinya akan bersemu merah. Sangat merah. Aku berdehem kecil, kembali menatap langit malam. Tiba-tiba saja aku teringat cincin sakura yang ada di kantongku, “tanganmu.” Kataku.

Ia menatapku bingung, aku menghela nafasku, “tanganmu.” Pintaku lagi, malas sekali kalau dia masih harus bertanya-tanya banyak hal. Sakura mengulurkan tangannya, aku meraihnya dan memasukkan cincin hitam tersebut ke jari manisnya.

Kulihat sakura menganga kaget, dia menatapku dan cincin secara bergantian. “cincinnya?”

“sekali lagi kau melepasnya, maka ini tak akan kembali lagi padamu.” Ucapku, “ini bukan hanya sekedar pernyataan, ini  perintah.”

Sakura mengangguk berkali-kali dengan cepat. Baguslah kalau dia langsung mengerti, awalnya aku tak ingin mengembalikan cincin itu padanya, tapi bagaimanapun cincin itu miliknya. Aku tak bisa menyimpannya terlalu lama.

Aku merogoh kantongku lagi, masih ada satu barang disana. Sebuah kotak kecil, oleh-oleh untuknya. Aku mengeluarkannya pelan, “ini.” kujulurkan kotak tersebut kearahnya.

“apa?” tanyanya,

“ambillah cepat.” Suruhku, aku heran kenapa ia masih sempat bertanya, kurasa tak susah untuk segera menerimanya.

Sakura menerima kotak tersebut dengan kedua tangannya. “boleh kubuka?”

“hm.”

Sakura membuka kotak berwarna biru langit itu perlahan. Dan saat barang didalamnya sudah terlihat, ia langsung menutup mulutnya tak percaya. Di telusurinya pelan kalung perak dengan bandul bunga sakura tersebut, sakura tersenyum dan menatapku.

“mau kupakaikan?” tanyaku. Sakura mengangguk.

Aku mengeluarkan kalung tersebut dari tempatnya. membuka pengaitnya dan segera memasangkannya keleher sakura, kalung yang cantik. Aku sungguh tak salah memilihnya.

Entah aku yang terlambat menyadari atau sakura yang memang sangat sensitif tapi sesaat setelah kupasangkan kalung tersebut, aku menyadari kalau sakura menegang dan menahan nafasnya. Jarak kami memang begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan nafasnya yang putus-putus. Dengan tatapan kaku, sakura menatapku, jarak yang sedekat ini membuatku dapat dengan mudah mengamati wajahnya dengan seksama. Matanya yang besar, bola matanya yang sangat hitam, hidung bangirnya yang sempurna, dan bibir kecilnya yang berwarna cherry.

Aku menatap sakura lagi, dia sudah mulai kembali bernafas normal. nafasnya beraroma mint. Mataku benar-benar terkunci padanya, hanya padanya. Aku mendekatkan wajahku dan menyentuhkan hidungku pada hidungnya. Dari apa yang kulihat, sakura bahkan tidak mengedipkan matanya sekalipun.

Saat aku masih ingin menikmati wajahnya dari jarak yang sedekat ini, sakura memejamkan matanya dan menghapus jarak diantara kami. Sapuan lembut bibirnya terasa begitu hangat di bibirku.

1 detik.

2 detik.

Sakura membuka matanya lagi, dan kembali mengambil jarak. Wajahnya memerah, dia menolehkan kepalanya, tidak mau menatapku. Mungkin sama halnya denganku, kaget dengan apa yang baru saja berani dilakukannya.

Aku menghela nafasku, bukan aku yang memulai ini tapi sakura.

Aku menarik wajahnya lagi agar kembali menatapku. Ia menatapku takut-takut dan menggigit bibirnya. Menggemaskan sekali.

Kucium bibirnya dengan lembut. Tubuh sakura langsung menegang. Tapi setelahnya aku tak menyangka dia membalas ciumanku, Aku membuka mataku, gadis ini bahkan sudah memejamkan matanya. Aku tersenyum kecil, dalam hal seperti ini saja dia tetap terlihat seperti anak-anak. Aku kembali memejamkan mataku.

Selama 18 tahun aku menikmati malam. Rasanya malam ini yang paling sempurna.

-0-

Author’s POV

Sakura menelusuri koridor sekolahnya, tidak seperti biasa jarang di temukannya murid-murid lain disana. Eunyeol sedang pergi mencari sebuah buku yang harus diresensinya. Sakura menuju aula sekolah, sedang ada penyematan medali bagi para pemain baseball yang baru kembali dari jepang kemarin. tadi pagi bahkan, D.O sudah berangkat lebih dulu kesekolah, awalnya sakura mengira laki-laki itu tak akan masuk ke sekolah dulu untuk beberapa hari.

Sakura menggantungkan kamera putihnya di lehernya. Sudah lama ia menelantarkan kamera tersebut. sakura memasuki aula, dan benar saja, banyak sekali orang disana. Dari kejauhan dapat dilihatnya kepala sekolahnya sedang mengutarakan pidatonya. Dilihatnya D.O juga berdiri panggung sana, bersama baekhyun dan yang lainnya.

Sakura menghela nafasnya, setiap kali dia melihat D.O atau bahkan hanya mengingat wajahnya. Sakura merasa begitu malu jadinya. Kejadian semalam memang tak pernah ada dalam bayangannya. Sakura mengangkat kameranya dan mencari angel yang tepat untuk mengabadikan objek utamanya. D.O

Kepala sekolah mengalungkan sebuah medali kepada semua pemain. Chanyeol yang berbicara mewakili pemain yang lain. Dari kejauhan D.O dapat melihat siluet sakura yang berdiri di dekat pintu masuk. Sedang membidikkan kamera kerahanya. Sakura menurunkan kameranya, dan melemparkan senyum canggung ke arah D.O, padahal ia sudah pernah mengingatkan sakura bahwa ia tidak suka di foto. Tapi tetap saja. sakura selalu saja tak mendengarkan dengan baik apa yang dikatakannya.

Sakura mendesah. Dia ketahuan. Sakura tak lagi mengangkat kameranya, takut kalau D.O melihatnya lagi. sakura melihat sekelilingnya. Aula terasa begitu penuh, dan panas. Sakura mengipas wajahnya. Ia seketika menghentikan kegiatannya saat melihat sesosok yang sangat tidak ingin di temuinya saat ini. Chen.

Dengan tergesa, sakura berlalu keluar aula dan berjalan cepat menuju kelasnya. “sakura.” panggil chen dari arah belakangnya.

Sakura mempercepat langkahnya, ia sungguh belum siap kalau harus menemui chen sekarang. “tunggu.” Suara chen terus terdengar dari belakangnya.

Kali ini sakura memilih berlari, dia juga mendesis sebal. “tunggu.”

Walau sudah berlari sekuat tenaganya, namun apa daya, sakura tetap dapat diraih chen. Laki-laki itu menggenggam pergelangan tangannya erat, seperti malam itu.  sakura berhenti, namun ia tidak membalikkan badannya, membiarkan chen tetap menatap belakang tubuhnya.

“kita harus bicara.” Ucap chen,

“tidak sekarang.” Sambil terus berusaha melepaskan tangannya, sakura membalas ucapan  chen.

“kumohon sakura, kita harus bicara.”

“chen-ah, lepaskan. Tidak sekarang,” sakura masih bersikeras dengan ketidakinginannya. Walau dirasanya tangannya semakin sakit, tapi ia tetap berusaha melepasnya.

“aku salah, tentang malam itu. aku sungguh merasa bersalah padamu, kumohon sakura. kita harus bicara.”

Sakura mendesah keras, dia menghentikan gerakan tangannya. “baiklah. Dimana?” tanyanya, tidak ada gunanya melawan, hanya akan menyakiti tangannya sendiri. sakura menyerah. Namun, ia masih belum membalikkan badannya.

Chen melepas pegangannya, “tidak disini.”

“tidak disini dan tidak dimanapun.” Sebuah suara tiba-tiba saja muncul. D.O

Laki-laki itu mengambil tempat diantara sakura dan chen, membuatnya dapat dengan jelas memberikan tatapan dingin pada chen.

Sakura membalik tubuhnya, D.O meraih tangannya dan menggenggamnya lembut. “kaja.” Ajaknya. Dia segera membawa sakura menjauh.

“ya!” bentak chen, dia menarik tangan sakura yang bebas, membuat gadis itu limbung karena tarikan dari arah yang berlawanan.

Sakura memekik, D.O menghentikan tarikannya dan menatap chen ganas. “lepaskan.” Katanya dingin.

“kau yang lepaskan, jelas aku sedang berbicara dengannya.”

D.O menatap sakura, “kau ingin bicara dengannya?” tanyanya. D.O menatap sakura dalam, gadis itu menggigit bibirnya, bingung. “kau ingin bicara dengannya?” ulang D.O

Sakura menunduk, menarik nafasnya dan beralih menatap chen. “chen-ah, lepaskan, kumohon.” Suara sakura bergetar ketika mengatakannya, dia langsung mengalihkan pandangannya. Tak tega melihat sorot kesedihan yang terpancar dari mata chen.

Chen menelan ludahnya yang terasa begitu pahit, sesaat setelah dia melepaskan tangan sakura, gadis itu langsung dibawa berlalu, menjauh. Chen tahu rasanya menjadi orang yang kalah, dalam setiap kompetisi fotografi dia juga tidak selalu jadi yang terbaik, tapi kekalahannya kali ini, berbeda dari kekalahan-kekalahannya yang sebelumnya, untuk orang yang pertama kali merasakan cinta, kekalahan kali begitu menusuk hatinya, bagai ada pisau yang sedang melubangi hatinya dengan lubang yang begitu dalam.

-0-

Sakura memainkan tali kameranya asal, angin lembut lapangan menggoyangkan rambut panjangnya yang tergerai. Sakura tak berani melirik sedikitpun kesebelahnya, D.O menampakkan ekspresi wajah kaku yang begitu menyeramkan baginya. Sakura memajukan bibirnya, dan mendengus keras. Tidak tahan dengan kebisuan yang mengungkung mereka. “chen-ssi… Dia…….” Ujarnya, kalimatnya masih menggantung di udara dan sakura kembali diam.

Sekilas diliriknya D.O yang masih menampakkan ekspresi yang sama. “chen-ssi, Dia..” sakura menarik nafasnya, ia begitu tegang dengan suasan yang sangat beku saat itu. sakura menghela nafasnya, “Dia pernah mencoba menciumku waktu itu,”

Sakura menunduk, sepotong kalimat itu akhirnya keluar dari mulutnya. Walau dengan keadaan kepala yang seperti itu, sakura tetap menyadari bahwa D.O sedang menatapnya. “kau sedang di jepang. Aku bertemu dengannya di jalan secara tak sengaja. Dia membantuku menjauhkan ahjussi genit yang berusaha menggodaku, dan kemudian entahlah dia tiba-tiba saja berusaha menciumku.” Sakura memikirkan segala macam kalimat, dan rangkaian kalimat seperti itulah yang pada akhirnya dikeluarkannya.

“chen bilang, apa dengan menciumku bisa menjadikanku miliknya, aku marah padanya, kurasa dia gila, tapi ya sudah, sehari setelahnya aku sudah melupakannya, aku hanya belum siap bertemu dengannya, jadi soal yang tadi, aku jadi merasa tak enak padanya.”

“jangan temui dia lagi.” D.O sudah tak menatap sakura lagi, mendengar apa yang baru saja gadis itu katakan, membuatnya merasa tak karuan. D.O memilih menatap kosong kearah lapangan.

Kali ini sakura yang menatap laki-laki di sebelahnya, “tapi dia kan temanku.”

“jangan berteman lagi dengannya.”

“andwe.”

“wae andwe?” D.O menatap sakura, kesal.

Sakura menunduk, D.O terlalu menyeramkan untuk membuat kontak mata langsung. “geunyang, andwe…..”

D.O berdecak, sakura menyadari ketidaksetujuan laki-laki itu, “chen memang sedikit menyebalkan karena itu, tapi…. Tapi aku sungguh ingin mendengar penjelasan darinya.”

D.O menggertakan giginya, “jangan temui dia, jangan minta penjelasan padanya, jangan bicara padanya, dan jangan menganggapnya teman.”

“ah wae?!” sakura menaikkan suaranya, D.O terlalu berlebihan menurutnya.

“itu menggangguku.”

“eoh?”

Sakura baru akan meminta laki-laki itu mengulang perkataannya, tapi D.O sudah berlalu.

-0-

Sehun sudah berulang kali mengitari koridor sekolah, tapi dia belum juga menemukan orang yang dicarinya. Eunyeol.

“aish jinjja. Ada dimana dia?” gumamnya,

Sehun berdiri di dekat kelas eunyeol, berharap gadis itu segera muncul. Sehun memainkan kotak persegi merah muda di tangannya, hadiah untuk eunyeol. Sehun mendengar baekhyun baru akan menyerahkan hadiahnya besok, dan sebelum itu, sehun ingin eunyeol menerima hadiah darinya terlebih dahulu. Sehun sudah berulang kali mencoba bertanya pada dirinya, tentang mengapa eunyeol selalu berkelebatan dalam pikirannya. Namun sayangnya, Semakin sehun mencoba mencari jawaban, semakin ia tidak bisa menemukan apapun.

“yang penting dia menerima ini dulu.” Ujar sehun.

“sehun-ee?” panggil seseorang.

Sehun menoleh cepat, berharap eunyeol lah yang baru saja memanggilnya. Bukannya mendapati eunyeol yang berdiri di hadapannya, ia malah melihat seorang gadis berambut ikal kecoklatan yang sedang tersenyum kearahnya.

Sehun tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya yang kaget, dia menatap gadis itu tak percaya, “Yunju noona?”

-0-

TBC

akhirnya bisa ngepost juga, aku bener-bener ga ngerti sama apa yang aku tulis. maaf ya kalo jelek, oh iya, mau ngasih tau, aku akan hiatus sampe tahun depan. hehe, banyak hal yang harus diurus belakangan ini, maaf ya, sakura-kyungsoo akan terpost lagi tahun depan, ff2 dengan cast yang lain juga.. sampai bertemu di januari 2014 reader-deul :*

a hug of love,😀 annyeong~~ saranghae ^_^

249 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 10)

  1. OMO part ini buat perasaan nano nano, banyak moment manis kyungsoo sakura kyaaaa. aku yakin kyungsooo udah lopeloe sama sakura tapi dia belom nyadarm astaga apan kyungsoo dapet ilhamnya

  2. Aiiiyysss,, Apa_apaan sih Chen Oppa.
    Chen oppa cuma membuat masalah jadi keruh,antara Kyungsoo oppa dengan sakura aja..
    Tapi, ntar next nya gimana ya..??
    Thor Aku tunggu ya, next nya, Sungguh FF nya Daebak Bangeet, Thor, Aku suka..
    Fighting Thor..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s