My Kris, My Hero | Chapter 7 |

| Title : Who are you, again? | Author : Seo Yuri |

| Main Cast : ♪ Lee Eun Ji (OC) | ♪ Kris EXO-M |

| Support Cast :  ♪ Yesung Super Junior |

| Genre : Romance, Angst, bla bla bla. |

| Length : Chaptered | Rating : PG 16 |

| Summary |

| Dia tak lagi merasa sama seperti sebelumnya. |

Inspirated by: “Anterograde Tomorrow (changdictator)” and “Memento (monggu)”.

My Kris, My Hero; Chapter 6 ←

—OoooOoooO—

—i  h a v e  f o r g o t t e n  h o w  t o  j u s t  h e a r,  l o v e  a n d  c a r e,  n o  l o n g e r  b u t  l o s t—

—OoooOoooO—

Gradasi biru pelan-pelan mulai melebur, menunjukkan hamparan pasir hitam di atas langit. Sekumpulan bintang mulai malu-malu menunjukkan cahaya ditemani bulan. Suhu udara semakin tinggi semenjak Lee Eun Ji masuk ke dalam taman seorang diri dengan note di tangan kanan.

Penghujung hari semakin dekat ketika Eun Ji duduk dengan kaki yang dilipat. Jemari cantiknya menari dengan lincah membuka lembar per lembar note yang diletakkan tepat di paha.

Sejenak ia merenung dan mulai menyematkan pena di antara jemari panjang.

Ia menuliskan, “15 September; Dokter Kim, memori yang hilang, taman.”

Berhenti sejenak sebelum akhirnya ia membuka selembar lagi dan menulis, “Tetangga, suara seperti muntah.”

Ini bodoh―menurutnya―menuliskan semua yang berlalu dipikirannya bak anak kecil yang belajar menulis. Bedanya, Eun Ji sudah dewasa tapi ingatannya persis anak kecil. Tadi pagi setelah matanya terbuka seperti hari yang tak pernah ia ingat, ingatannya tentang hari―entah keberapa―perlahan memudar hingga menyisakan selembar kertas kosong yang hampa. Seandainya Dokter Kim tidak cepat-cepat datang, mungkin Eun Ji sudah berteriak histeris karena bangun di kamar yang tak pernah diingat. Sepanjang matanya menangkap hanya warna putih dan bau obat menyeruak. Mengerikan.

Amnesia. Itu yang dibicarakan Dokter Kim tadi pagi ketika sekumpulan camar menghiasi sunyi dalam kamar, gradasi biru masih jelas terlihat, berbeda dengan sekarang. Mungkin Dokter Kim tidak berada di setiap jengkal ingatannya. Tapi entah mengapa ketakutan akan tempat asing tidak lagi terasa, begitu Dokter Kim berbicara―yang tanpa sadar mengeluarkan simponi indah, menurutnya.

Benang kusut tak kasat mata seolah terpotong dalam pikirannya, hingga kepergian Dokter Kim pun terasa wajar.

Note, tulis semua yang dipikirkan. Pesan terakhir Dokter Kim sebelum keluar dengan mendadak.

Bodohnya, Eun Ji mengambil note kecil itu dan membawanya sampai ke taman. Waktu terus berlalu hanya untuk Eun Ji yang menatap note di paha dengan kesunyian yang menonjol. Tiba-tiba saja, dunia digerakkan oleh nyala lampu taman yang mendadak mati lalu hidup lagi setelah sepersekian detik dan akhirnya mati lagi―kali ini lebih lama.

Eun Ji tak terlalu peduli, justru bersandar pada penyangga dan mengarahkan pandangan ke nun jauh disana―menembus bangunan rumah sakit dihadapannya, mungkin.

Nyala lampu yang ragu-ragu mulai berulah hingga berhasil mengacaukan pandangan Eun Ji. Memutuskan menengadahkan kepala, Eun Ji mendapat masalah baru. Dibelakang lampu taman―persisnya di koridor rumah sakit, lantai 5 sepertinya.

Baru saja memusatkan perhatian, Eun Ji berusaha mengabaikan pemikirannya mengenai note, Dokter Kim, dan tetangga yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya. Tetangga di kamar sebelah yang muntah berkali-kali di pagi hari kemudian dilanjutkan sore tadi dan mungkin sekarang―dia tak terlalu peduli.

Suara angin mengibas daun terdengar, sayup-sayup menjerit satu sama lain memecah kesunyian, tapi tak cukup untuk mengisi jurang antara dirinya dan si orang asing.

Nyala lampu yang berkedip terasa terlalu mengganggu, apalagi saat Eun Ji mulai berjalan selangkah demi selangkah agar bisa melihat dengan jelas.

Orang asing itu, dengan baju yang sama seperti Eun Ji―sedikit kekecilan, mungkin―berjalan terseok-seok, berpegangan pada dinding, sesekali hampir terjatuh, lalu berjalan lagi. Sangat pelan.

Di antara kedinginan malam yang menusuk permukaan kulit, suara daun yang saling bergesekan, setidaknya orang asing itu berhasil mendapatkan perhatian Eun Ji.

Nyala lampu semakin berulah, berkedip seolah-olah esok tak akan datang. Menyedihkan. Eun Ji menduga-duga, dengan lampu seperti ini, bisakah lampunya bertahan lebih lama? Sepertinya lampunya harus segera diganti.

Ia mencoba untuk semakin dekat, tapi lampu mendadak berhenti berulah hingga mengaburkan perhatiannya dari si orang asing. Eun Ji mengernyit heran sambil menatap lampu taman, lalu setelah dirasa cukup puas untuk mempertanyakan perihal lampu taman, ia berbalik untuk menatap orang asing tadi, tapi orang itu telah lenyap

Tiba-tiba saja waktu berjalan sangat lama hingga ia tersadar dan mengembuskan napas yang ia sendiri bahkan tak sadar telah menahannya sedari tadi.

Barulah ketika Eun Ji memutuskan untuk kembali duduk, ia menemukan note pemberian Dokter Kim terjatuh saat ia memutuskan untuk berdiri. Ketika ia berjongkok dan mengambil note―dalam keadaan terbuka―tulisannya terbaca, “Tetangga, suara seperti muntah.”

—OoooOoooO—

Banyak waktu telah berlalu sementara Lee Eun Ji tetap berdiri tanpa melakukan apapun di depan pintu. Menatap pintu itu lama, Eun Ji semakin yakin merasa asing dengan ruangan yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya pagi ini.

Awalnya dia pikir semuanya masih mimpi atau situasi terburuknya ia bangun di kamar yang salah. Tapi semakin lama, semakin banyak hal aneh terjadi hingga ia merasa seperti orang bodoh.

Mungkin Dokter Kim benar, ada hari di antara hari-hari kemarin yang telah dihapus dalam ingatannya. Mungkin benar ia sedang sakit. Mungkin benar, Yesung adalah dokter yang bertanggung jawab dan akan selalu menjaganya. Dan juga, mungkin benar kalau ia sendirian.

—OoooOoooO—

Eun Ji terdiam, menatap ruang di balik bulu matanya yang lebat. Bunyi mesin penghangat seolah menjadi lullaby di tengah hari, begitu pula awan putih yang mengumpal terlukis di atas, sebagaimana mestinya.

Saat itu pandangannya hanya berpusat pada tembok putih dengan beberapa catatan di sana. Catatan yang diyakininya sebagai hidup. Catatan yang menyimpan kisah. Catatan yang dibuatnya agar sepenuhnya sadar bahwa ia kesepian.

—OoooOoooO—

“Kau terus berkata dan membuatku berpikir bodoh,” Eun Ji berkata pada suatu malam. Bulan tengah memimpin penyinaran saat Yesung berpikir tentang catatan dan Eun Ji mengutarakan perasaan dengan membabi buta. Segalanya terjadi begitu saja hingga Yesung berpikir semua hanya ilusi. Tapi dengan cepat Eun Ji menambah, hingga keyakinan ilusi menjadi mengabur.

“Apa gunanya catatan jika hanya menuliskan hal-hal tak berguna? Keyakinan terhadap hidup yang tak berasas. Ini hanya seperti berjalan di labirin tak berujung dan aku yang tidak memiliki memori akan kehilangan diri dan terjatuh. Ini menyebalkan, oke?”

Dilihatnya catatan yang sebagian besar berisi, “Namamu Lee Eun Ji,” atau, “Kau sakit,” bisa jadi, “Kau kesepian,” dan Yesung hampir-hampir tak mampu menjawab, kecuali ia tak terkejut saat melihat gadis itu menghancurkan kisah hidup yang diuraikannya secara bosan.

“Aku lelah,” gadis itu mengadu setelah semua catatan dilunturkan dari tembok, begitu pula kertas warna-warni yang berjatuhan di bawahnya.

Yesung tak mengerti apa yang terjadi; lebih tepatnya mungkin ia kurang tanggap untuk menarik kesimpulan dari tindakan Eun Ji karena―hei, ini bukan sesuatu yang buruk. Jika menulis catatan bisa membantu mengenal jati dirinya di pagi hari, tentu saja itu bukan sesuatu yang jahat, kan? Lalu kenapa ia harus marah?

Tapi Eun Ji tampaknya tak tega membiarkan Yesung larut terlalu lama dengan pertanyaan yang mengambang; apalagi setelah beberapa waktu telah menghilang dan Yesung tetap berdiri; nyaris tanpa melakukan apapun―ya, jika melihat lantai dianggap melakukan sesuatu.

“Aku lelah atau mungkin lebih tepatnya terlalu pengecut untuk sadar akan dunia. Lihatlah di luar sana, kerumunan camar menghias langit, sekumpulan anak kecil yang dengan mudahnya berbaur. Aku? Bahkan camar terlihat lebih hidup dibandingkan denganku.”

Yesung mendongak―nyaris menahan nafas, terkecuali Eun Ji yang menangis tak cukup membuatnya terkejut.

—OoooOoooO—

Keesokkan harinya, Eun Ji terbangun dikelilingi barisan warna-warni kertas di dinding, dan ia hampir saja mengernyit heran saat mulai membaca barisan pertama, “Tulis apapun yang terjadi hari ini,” lalu, “Apa saja,” dan barisan selanjutnya terus menyebutkan hal yang sama; tentang menulis, tentang memori yang terhapus, tentang gadis yang menghilang layaknya mimpi di hari kemarin.

Tapi sama sekali tak menyinggung mengenai gadis yang kesepian.

—OoooOoooO—

Eun Ji berdiri menghadap dinding. Benaknya memutar kejadian seharian yang menemaninya dan hasilnya; hampir 75% waktu dihabiskan bersama Yesung, terkecuali suster tak menariknya menjauh agar Yesung bisa mengurus pasien lain.

Dia hampir saja menelan kekecewaan jika saja Yesung tak berbalik dan menyuruhnya mengulas ingatan tentang hari ini. Maka di sinilah Eun Ji, bersiap untuk menulis. Dipegangnya erat-erat pensil warna itu lalu setiap coretan terasa begitu bohong. Ia tak tahu mengapa, hanya saja entah bagaimana ketika ia menuliskan, “Temui Yesung, divisi saraf, lantai 1,” rasanya tidak benar.

—OoooOoooO—

Malam tengah larut dalam keheningan saat Eun Ji membuka matanya secara paksa. Matanya berpencar mencari sesuatu atau lebih tepatnya seseorang agar membuatnya tenang. Tapi tidak, yang dilihatnya hanyalah kegelapan yang nyata. Seakan-akan kegelapan merupakan salah satu dari memori buruknya. Lucunya, ia sama sekali tak memiliki memori di kepala.

Yang tersisa dalam setiap jengkal ingatannya hanya Yesung; dokter yang tiba-tiba datang dan menemaninya, lalu note yang menjadi satu-satunya tempat ia mengadu dan rangkaian barisan berwarna di dinding yang menjadi saksi memorinya, dengan tanda kutip direbut paksa.

Eun Ji menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Tiba-tiba ia menanyakan mengenai seberapa jauh dirinya dengan langit-langit; atau lebih simple-nya, apakah tangannya dapat menggapai langit-langit kamar.

Saat ia mencoba berdiri dengan berpegangan pada dinding, ia mendengar sesuatu atau mungkin seseorang―seperti sedang kesakitan, bisa jadi menangis. Seolah menjadi sifat bawaan, rasa penasarannya sungguh tak dapat dibendung. Meskipun detik berikutnya suara itu tak lagi terdengar, entah bagaimana Eun Ji tetap memerintahkan kakinya mendekati dinding dan menempelkan telinganya di sana. Mengamati dari balik dinding dan hasilnya nihil. Suara itu menghilang bagai ditelan bumi atau mungkin suara itu memang tak pernah ada.

Tapi rasa penasarannya tak menyerah begitu saja. Ada sesuatu yang menggelitik pendengarannya lalu kakinya pun mulai dibawa untuk berkeliling; menjelajahi malam, seorang diri, di koridor rumah sakit. Anehnya, ia tak tahu mengapa kakinya harus berhenti tepat di kamar dengan no 159.

Sejenak ia ragu hingga kakinya terus bergerak dalam posisi yang sama. Seolah menimbang keputusan apa yang harus diambilnya, matanya terus memandang pintu kamar 159 dan kamarnya secara bergantian.

Tapi tetap saja, normal rasanya ketika ia berbalik arah dan masuk ke dalam kamarnya, tanpa menyadari suara itu kembali terdengar.

—OoooOoooO—

“Dokter Kim,” Eun Ji memanggil di suatu hari. Langit masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan; sekumpulan camar menghiasi langit, terdapat sedikit pelangi di sudut langit, dan sedikit sentuhan warna alami langit seolah melengkapi suasana yang tercipta.

Yesung sendiri sedang menempelkan kertas di dinding saat Eun Ji mengambil note dan membacanya sekaligus.

“Kau kenal pria di kamar sebelah?”

Yesung sempat terdiam sejenak ketika pertanyaan itu terucap, lalu dengan cepat ia berbalik dan bertindak senormal yang ia bisa.

“Kamar sebelah? Maksudmu kamar 157?”

Eun Ji menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya, “Bukan, bukan kamar yang itu,” dan Yesung bisa merasakan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.

“Bukan kamar yang itu? Lantas kamar yang mana?”

Eun Ji menghela nafas berat dan menatap tulisan, ”tetangga, suara seperti muntah,” lekat-lekat sebelum menutup buku dan meletakkannya di samping. “Aku bertemu dengan seorang pria pagi ini―di koridor rumah sakit dan entah mengapa, aku hanya merasa ia terus memperhatikanku dengan intensitas yang berlebihan hingga tanpa sadar aku balas menatapnya. Tapi―” ia kembali menghela nafas sebelum menatap Yesung putus asa, “Mungkin aku yang terlalu berlebihan, tapi aku sungguh tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi denganku. Begitu aku melihatnya, ada perasaan semacam panik, senang, sedih, dan entah bagaimana aku merasa air mata akan keluar dari mataku.”

“Ada yang aneh dengan orang itu, maksudku, ini pertama kalinya kami bertemu tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu dari lelaki itu; seperti aku telah mengenalnya tapi entah bagaimana bisa tergelincir dari ingatanku, tapi tidak dengan mata dan hatiku dan ini sangat mengganggu, aku―aku,”

“Aku tidak mengenalnya,” Yesung menginterupsi sebelum Eun Ji dapat memulai lagi tentang si tetangga yang familiar, lalu dengan cepat menambah, “Kau tidak mengenalnya dan ia bukan seseorang yang harus kau kenal,” sebelum akhirnya ia pergi dan membiarkan Eun Ji  menyendiri dengan benang kusut di kepala.

Tapi tampaknya Eun Ji tak mau percaya begitu saja, entahlah, mungkin ia hanya merasa ada sesuatu yang aneh dari Yesung hingga ia tak percaya. Yang jelas saat ia sudah tak bisa menahan diri terlalu lama, kakinya berpindah ke depan pintu. Begitu celah sempit memenuhi sepertiga wajahnya, ia hampir menahan nafas dan terlonjak kaget, kecuali ia tak terkejut saat melihat Yesung masuk ke kamar sebelah, 159.

Namun Eun Ji sepertinya terlalu pengecut untuk mencari terlalu jauh, hingga ia memutuskan untuk pergi, terus membiarkan benang kusut menetap di kepalanya meski ia tahu ini tidak benar.

—OoooOoooO—

“Hei, tunggu.”

Mereka pertama kali bertemu, menurut Eun Ji, di pagi hari saat ia keluar dari kamar dan mendapati sebuah kepala terjulur demi melakukan hal yang sama. Lalu kedua kali saat Yesung keluar dari kamar dan Eun Ji mengikutinya dari belakang, si orang asing berdiri di depan pintu sambil menatapnya aneh. Ketiga kalinya di sini, saat Eun Ji mati-matian menahan kantuk agar bisa menghindari takdir. Ia terus berpikir apa yang akan terjadi bila ia tak tidur semalaman, apa ingatannya akan kembali, atau mungkin tidak?

Yang jelas begitu waktu berjalan saat Eun ji menyentuh jendela, mendorong itu terbuka dan ia menyaksikan bagaimana si orang asing yang muncul di balik jendela terlihat tidak asing.

Pria di balik jendela menatap balik dan sedikit tersenyum samar sebelum ia berniat menutup jendela dan Eun Ji cepat-cepat menghentikannya. Kemudian kepala itu samar-samar mulai terlihat lagi, begitu pula dengan tatapannya.

Dan Eun Ji tak lagi mengerti dengan detak jantung tak beraturan yang tiba-tiba mendera-nya. Ia tak tahu mengapa, hanya saja tiba-tiba ia merasa tatapan itu begitu menusuk hingga ia ingin menyembunyikan diri di balik jendela.

Tapi nyatanya Eun Ji masih di jendela, memberi tatapan lembut dan ekspresi bertanya-tanya. “Apa aku pernah mengenalmu?” Angin samar-samar menembus celah bajunya yang tipis lalu suara daun yang saling bergesekan terasa bagaikan backsound yang di desain khusus untuk suasana seperti ini.

Pria itu tak menjawab, justru terus menatap Eun Ji hingga ia merasa risih. Tapi ia berusaha mengabaikan perasaan itu―lebih tepatnya ia mencari kesibukan lain dengan mengamati detil-detil pria di sebelahnya; gaun rumah sakit tipis, bayangan hitam di bawah mata, sempurna tapi kaku terkecuali sedikit senyum yang dipaksakan dengan bibir pucatnya.

Entah bagaimana ia merasa senyum itu sedikit mengganggu, seolah-olah sekarang bukan saatnya untuk tersenyum seperti itu, atau mungkin ia merasa pria itu memang tidak benar-benar tersenyum; hanya sekedar formalitas atau malah hanya menarik ujung bibirnya terangkat dengan samar. Entahlah.

“Hei,” Eun Ji kembali memanggil dan pria itu mulai membuang muka sambil menggumamkan sesuatu yang tidak Eun Ji mengerti. Saat ia memutuskan untuk bertanya, pria itu malah mengajaknya berbicara dengan bahasa lain. Sialnya, Eun Ji sama sekali tak mengerti bahasa itu.

“Jadi kau bukan orang Korea?” Eun Ji terlihat putus asa lantas mengembuskan nafasnya dengan berat. Terselip nada kecewa di setiap katanya yang entah mengapa membuat raut wajah si orang asing mulai berubah tapi tak lantas membuat Eun ji mengurungkan niatnya tersenyum.

“Tidak apa-apa,” Eun Ji kembali menatap, di balik bulu matanya yang lebat, sungguh-sungguh. “Maaf aku mempunyai kecenderungan untuk melupakan apa yang kulakukan―ya, aku tahu mungkin ini terdengar lucu, tapi inilah aku, gadis yang menghapus diri di penghujung hari.”

Pria itu berbalik dan berusaha menyembunyikan senyum terhibur saat Eun Ji yakin pria itu mendengarkan ceritanya.

“Ini lucu, kan? Gadis yang menghapus diri di penghujung hari, gadis malang yang menghilang bagaikan mimpi di hari kemarin; yang paling menarik, gadis itu adalah aku,” perbincangan mereka lebih terasa seperti monolog daripada dialog, karena si pria asing tak terlihat ingin menanggapi; ia hanya diam-diam mendengar sambil tersenyum kecil saat menemukan sesuatu yang lucu.

Eun Ji sendiri tak memusingkan tentang si pria asing yang bukan orang Korea dan terus mengoceh, meskipun terkadang ocehannya lebih terdengar seperti celaan terhadap dirinya―atau mungkin ketidakpuasannya terhadap hidup―dibanding perbincangan basa-basi yang biasanya dilakukan oleh dua orang yang baru mengenal, karena bisa jadi ini bukan pertemuan mereka yang pertama―bisa jadi ini bukan perbincangan mereka yang pertama, meski ia kurang yakin.

Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar hingga Eun Ji berbalik dan menemukan kepala Yesung muncul di balik pintu, “Kau belum tidur?”

Eun Ji hanya membalas dengan senyuman, setelah itu Yesung menyuruhnya untuk beristirahat dan kembali menghilang. Eun Ji mengangguk-angguk singkat sebelum berbalik dan bersandar pada siku, “Kau kenal orang itu?”

Tidak ada respon.

“Um, okay. Mungkin kau mengenalnya, Dokter Kim yang selalu datang dan kemudian pergi lagi―menyebalkan. Kau tidak akan pernah tahu seberapa menyebalkannya Dokter Kim, apalagi jika kau berapa di posisiku. Maksudku, aku bukannya bermaksud menyusahkannya. Hanya saja, dengan otak seperti ini, tentu saja aku sangat membutuhkannya. Aku tidak punya siapa-siapa―tidak saat memoriku terhapus begitu saja, bagaimana bisa dia terus menghilang seperti itu. Mungkin kau akan berkata bahwa aku kekanak-kanakkan, egois atau mungkin lebih buruk dari itu, tapi jika semuanya sudah seperti ini, harus bagaimana lagi? Katakan sajalah kalau aku memang egois, lalu apa yang berubah? Apa keegoisanku akan membuat sebuah perubahan? Tentu saja tidak, bahkan dia terus pergi dan membuatku merasa kesepian. Ia menyuruhku untuk menulis semua yang terjadi hari ini, tapi tetap saja catatan itu justru membuatku semakin sadar bahwa aku sendirian dan ini benar-benar menyebalkan.”

“Tidakkah kau merasa ini terlalu kejam? Bahkan ketika jelas-jelas kita bertemu dan berbicara seperti ini, keesokkan harinya aku bahkan tidak pernah tahu hari ini pernah ada, aku tidak akan pernah tahu bahwa ada seseorang seperti kau di kamar sebelah dan mungkin aku bahkan melupakan semua yang aku ucapkan sekarang.”

“Aku hanya ingin mengingat, setidaknya sesuatu yang sempat terjadi sebelum hari ini tiba; sebelum aku yang seperti ini terbangun, atau mungkin tentang seseorang yang sempat hadir dan mengisi hari-hariku yang kelam; ya mungkin jika aku bisa mengingat, hari-hari seperti itu akan datang. Sepertinya.”

Dia memutar kepalanya ke samping dan menemukan si pria asing tengah menatapnya dengan pandangan yang, prihatin?

“Maaf, aku―aku tidak bermaksud apa-apa, ah kenapa aku malah mengucapkan hal-hal seperti itu? Memalukan,” ia mengomel dan salah tingkah sendiri, meski ia tahu pria asing itu bukan orang Korea, tetap saja memalukan jika ia berbicara seperti itu, apalagi ini pertama kalinya mereka bertemu―mungkin.

Tapi tampaknya si pria asing tak sanggup menahan tatapannya terlalu lama, apalagi ketika Eun Ji mulai salah tingkah dan mengucapkan maaf berkali-kali.

It’s okay,” itu kata pertama yang dapat Eun Ji mengerti, lebih menarik lagi karena itu berasal dari si pria asing.

“Mungkin Dokter Kim memang menyebalkan seperti yang kau bilang, tapi percayalah, ia hanya ingin membantumu. Mungkin ia tak bisa selalu mendampingimu, tapi setidaknya ia tak akan membuatmu merasa kesepian. Dan mengenai catatan, itu hanya salah satu triknya agar membuatmu tak bosan, meskipun akhirnya kau malah merasa buruk dengan adanya catatan itu,” ia melirik sekilas ke arah langit dan, “Ini sudah malam, tidurlah, sekarang sudah waktunya tidur.”

Rasanya begitu aneh, entah mengapa mendengar suara itu membuat Eun Ji hampir-hampir menahan nafasnya.

Good night,” tatapannya beralih pada Eun Ji dan saat itulah semuanya runtuh, “…Eun Ji-ah,” nyaris seperti bisikan, seolah ia sedang berbicara pada angin, anehnya Eun Ji mendengar dengan jelas. Begitu jelas. Pria asing itu tersenyum di bawah guyuran sinar bulan, memaksakan seulas senyum kaku, sebelum tangannya menyentuh jendela dan menariknya―tapi pandangannya tak lepas dari Eun Ji.

Meski setelah itu ia menghilang, Eun Ji masih tak bisa membawa kesadarannya kembali, seolah jiwanya sedang terperangkap dan mengalami kesulitan untuk mencari jalan pulang. Entahlah, ia pikir jiwanya memang tersesat; karena detik telah tersandung ke menit, angin dingin makin menjalar ke sekujur tubuhnya, tapi ia sama sekali tak berniat berpindah.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, atau mungkin lebih tepat jika di sebut seseorang. Eun Ji tak pernah tahu orang asing itu bisa berbahasa korea; yang lebih menarik, ia tidak ingat telah memperkenalkan dirinya sebelum ini.

—OoooOoooO—

“Kau kelihatan tak bersemangat,” Yesung berkomentar pada suatu malam, ketika pasien-pasien lain sudah rela membiarkan ia beristirahat lebih lama, nyatanya ia tak beristirahat, justru berada di kamar Eun Ji dan mengulas semua catatan.

Seperti biasa, catatan itu berisi berkisar kejadian-kejadian kecil yang terjadi di sekitar sini atau mungkin tentang jati dirinya. Tidak ada yang menarik, tentu saja selain halaman tentang tetangga dengan suara seperti muntah yang telah menghilang dari note.

Selama orang-orang yang muncul di layar televisi tertawa―meski ia tak tahu apa yang lucu―Yesung berbalik ke arah Eun Ji dan menutup note, “Tidak ada yang aneh dengan catatan ini, lalu kenapa kau terlihat tidak bersemangat? Apa yang mengganggumu, Lee Eun Ji?”

Eun Ji menggeleng dan mengedikkan bahunya, “Tidak ada, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak tahu. Hanya saja,” jeda sejenak.

“Hanya saja?” Yesung menambahkan dengan alis terangkat.

Eun Ji terlihat tak yakin, ia hanya tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Haruskah ia bersikap jujur atau, “Dokter Kim,” mungkin mengatakan sebuah kejujuran lebih baik daripada membuat ia terus menerus penasaran.

“Kau yakin kamar sebelah tidak ada pasiennya?”

Yesung membalikkan kepala dan menunjuk ke samping, “Kamar sebelah?”

Eun Ji mengangguk.

Yesung ragu sejenak tapi akhirnya menjawab, “Tentu saja tidak ada, pasien di kamar sebelah sudah pindah sejak lama. Memangnya ada apa?”

Eun Ji terlihat tidak puas dengan jawaban Yesung, lalu dengan perlahan ia mengeluarkan sebuah kertas, “Aku tidak tahu kenapa ini tertulis seperti ini, tapi jika benar di kamar sebelah tidak ada siapa-siapa lalu kenapa aku menulis ini?”

Yesung terdiam sejenak, sebelum menyerah dengan rasa penasarannya dan memilih untuk mendekati Eun Ji, melihat kertas di tangannya yang tertulis, “159; dia memanggilmu, Eun Ji-ah.”

—OoooOoooO—

Eun Ji tidak bisa tidur. Lagi. Dan lagi. Mungkin ia telah melalui malam yang seperti ini, mungkin lebih dari satu malam. Entah bagaimana, mendengar apa yang telah terjadi pada hidupnya membuat ia bergidik ngeri. Mendengar dan bukan melihat. Itu yang harus ia hadapi. Hidup dari memori orang-orang sekitarnya, bukan dari memorinya. Dan yang paling menyebalkan dari hidup yang dijalaninya adalah mengulas kembali hari yang tak pernah ia ingat. Hari yang tak pernah berada dalam ingatannya. Hari yang tergelincir bagai jatuh saat salju memenuhi jalanan.

Ia terus berpendapat, bagaimana bisa manusia hidup tanpa ingatan; apa yang harus ia lakukan hari ini jika hari kemarin tak pernah ada; ia tak akan bisa menerima kenyataan ini.

Protes. Selalu protes. Tapi protes―keluhan atau apapun itu―tidak dapat membuat perubahan. Meski ia menyangkal, meski ia terus berlari dari kenyataan; hari esok terus datang menghantui, dan ingatannya terancam dihapus―dengan kejam.

—OoooOoooO—

“Aku pikir ini akhir yang menyedihkan.”

Sad ending. Eun Ji tak pernah berpikir dua kata itu adil untuk diucapkan manusia. Dua kata yang bisa menghancurkan perasaan siapa saja, terutama dirinya.

Eun Ji menganggap dua kata itu tersangkut di ujung lidahnya ketika ia menemukan air mata mengalir dengan liar di sekitar pipi, tentunya setelah Yesung membawakan setumpuk film sad romance yang berakhir menyedihkan.

Selalu ada sebuah masalah dengan hubungan, lalu terkadang penyakit menjadi kendala dan kematianlah puncaknya. Ketika orang-orang pergi untuk selamanya. Selamanya, dengan definisi; yang bisa ditahan manusia, yang dihadapi oleh manusia dalam hidup. Pengertian lain dari seumur hidup. Selamanya.

Eun Ji mengerti, semua orang akan mati. Dirinya juga. Tapi ia sungguh tak habis pikir bagaimana bisa dua orang yang saling mengasihi harus dipisahkan dengan cara yang begitu kejam. Ia tak pernah berpikir akan tahan jika berada dalam situasi seperti itu. Tidak, saat orang yang seharusnya menemaninya menghadapi dunia malah berbalik arah meninggalkannya; tidak, saat orang terakhir yang diharapkannya harus pergi tanpa sekalipun menatap ke belakang.

Ia tak pernah berpikir bisa melewati masa-masa seperti itu.

“Tapi akhir ceritaku terlalu jelas, terlalu singkat untuk di gambarkan, terlalu membosankan untuk ditelaah lebih jauh.”

“Tak ada yang membosankan di dunia ini. Kau hanya belum melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.”

“Apanya yang berbeda? Kau pikir itu akan membuat sebuah perubahan? Bahkan jika hari ini aku memiliki keyakinan terhadap hidup, besok hal itu tak lagi berlaku bagiku. Hidup tanpa memori yang menyesakkan. Aku tak akan pernah tahu siapa saja yang pernah hadir dalam hari-hari kelam atau mungkin indah. Hanya tetap menghadapi hidup seperti ini. Mengganggap semuanya baik-baik saja―tapi tidak, aku sadar ini tidak benar, tapi yang bisa kulakukan hanya berharap suatu hari aku akan bisa mengingat. Setidaknya satu hari tidaklah buruk. Aku hanya ingin memiliki hari-hari indah dan menyenangkan, apa itu berlebihan?”

“Kau telah memiliki salah satunya, setidaknya satu atau dua kali dalam hidupmu―yeah, jika aku dimasukkan ke dalam daftar orang yang akan menemanimu.”

“Aku? Memiliki hari-hari seperti itu?”

Yesung mengangguk menanggapinya, “Mungkin lebih indah dari yang bisa kau bayangkan. Suatu hari kau jatuh cinta pada seorang pria dan kau jatuh cinta lagi dan lagi, lagi, lagi…”

Eun Ji hanya tak lagi bisa berpikir jelas. Ia tak pernah menyadari atau mungkin ia yang terlalu lamban; yang pasti ia sama sekali tak pernah tahu jika cinta akan datang, bahkan saat memori terus terhapus dari ingatannya.

—OoooOoooO—

“Kau membawa semua yang diperlukan? Sticky note, bukumu, bagaimana dengan catatan yang kuberikan?”

“Aku membawanya setiap hari.”

Yesung terdiam sambil menghela nafas singkat, “Apa kau harus pindah?”

“Aku rasa sudah cukup sampai di sini.”

Mereka berdiri berdampingan dengan bahu yang sesekali saling terantuk, membiarkan jarak di antara mereka lenyap begitu saja. Tapi Eun Ji tak lekas membiarkan mereka terdiam begitu saja saat seluruh barang miliknya telah dikemas ke dalam tas besar.

“Aku selesai,” dia berkata dengan senyum terbaik yang bisa ia buat saat ini; ketika jendela di tutup rapat, lampu kamar mandi dimatikan begitu pula mesin penghangat yang biasanya menyala tiap hari. Kondisi ini tidaklah buruk, hanya sedikit aneh.

Tentu saja ia merasa aneh, ketika tempat di mana ia menghabiskan tahun-tahun terakhir harus menghilang begitu saja; meski ia selalu merasa asing dengan tempat ini, tapi ia sadar tempat inilah yang selalu membuatnya nyaman.

“Aku tidak pernah berpikir kau akan pindah, maksudku dengan ingatan seperti itu bagaimana kau bisa hidup sendirian di luar sana?” Yesung beropini, berharap sedikit pendapatnya bisa mengubah keputusan Eun Ji. Tinggal di rumah sakit bukanlah hal yang buruk, apalagi dengan kondisi Eun Ji yang seperti ini, ia sungguh tak yakin gadis ini bisa bertahan dengan kehidupan kejam di luar sana.

Eun Ji terdiam sejenak, menghela nafas sebelum pandangannya tertuju pada tumpukkan film yang ditontonnya sejak pagi. Sepasang kaki kecilnya dengan cepat menyusuri lantai keramik, mengabaikan suara gesekan kaki dengan lantai yang seakan sedang beradu.

Daddy Long Legs’ berada di tumpukan paling depan dan Eun Ji tak mampu membiarkan senyuman menghilang dari wajahnya, “Dokter Kim,” ia memanggil tanpa berbalik.

Yesung hanya menatap Eun Ji yang memunggunginya tanpa sekali pun berniat mendekat.

“Kau bilang ada seseorang yang membayar biaya rumah sakitku, kan?”

Yesung mengangguk.

Eun Ji berbalik, “Jadi,” ia memulai, “bisakah kau membantuku?”

“Tentu saja.”

“Aku perlu menemui seseorang.”

“Seseorang?”

Yes, my daddy long legs.

—OoooOoooO—

“Aku akan di kemoterapi besok,” pria asing di sebelah Eun Ji memulai perbincangan dan Eun Ji hampir-hampir berputar demi mencari orang yang di maksud pria asing ini, tapi di sana tak ada orang lain; selain mereka berdua.

Well, mungkin pembicaraan ini memang ditujukan untuknya. Eun Ji mengangguk dan mengamati detil pria di sampingnya―gaun rumah sakit yang kekecilan, wajah tegas dan kaku, rambut pirang, kaki yang panjang.

Berbicara tentang kaki, Eun Ji jadi mengingat pembicaraan yang dilakukannya dengan Yesung beberapa saat yang lalu. Ketika Eun Ji bersikeras ingin bertemu si daddy long legs, sementara Yesung yang sudah setuju ingin membantu malah mengingkari janjinya.

Ia kesal, tentu saja―Yesung satu-satunya harapan Eun Ji agar bisa bertemu dengan penyelamatnya, setidaknya hal terakhir yang ingin ia lakukan hari ini adalah bertemu penyelamatnya; meski ia sadar keesokan hari, kejadian saat ini akan terhapus begitu saja.

Ketika ia memutuskan untuk menatap ke depan, dan ia hampir-hampir menahan nafas melihat pantulan dirinya di pintu elevator yang tertutup, kecuali pantulan pria asing yang sedang melihatnya―dari pantulan pintu elevator; seperti yang ia lakukan―tak benar-benar menganggunya. Kepalanya lantas bergerak ke samping dan menyaksikan bagaimana pria asing itu sama sekali tak memindahkan pandangannya sama sekali. Eun Ji cepat-cepat menunduk dan menatap buku-buku jarinya yang memucat.

“Tidak ada yang ingin kau ucapkan padaku?”

Entah bagaimana, Eun Ji merasa mata yang sedang menatapnya tidak asing tapi ia tidak yakin; seolah ia pernah melihatnya di suatu tempat tapi tak tahu dimana atau mungkin ia memang belum pernah melihatnya.

Ia lantas mengangguk dan memainkan jari-jarinya, “Yeah―good luck for you.” Pintu elevator terbuka sebagaimana mestinya, Eun Ji masuk ke dalam setelah mengalami sedikit kendala dengan barang bawaannya. Dia terdiam di dalam, dan si pria asing itu masih terdiam di luar.

Barulah setelah beberapa saat berlalu, ia tersenyum samar dan, “Luck?” ia tertawa kecil namun tak sepenuhnya terdengar seperti tawa, seolah-olah itu adalah tawa terburuk yang pernah  terdengar, “Aku sedang mencari keberuntunganku sekarang,” dan ia mengambil tempat tepat di samping Eun Ji.

Setelah pintu elevator tertutup, ia memperkenalkan diri sebagai pria China-Canada yang saat ini menetap di Korea, mengidap Hepatoma stadium 3 dan poin terpenting; ia sekarat.

“Aku akan mati dalam waktu dekat,” terkadang saat mereka berbicara seperti ini, si pria asing lebih terlihat seperti berbicara sendiri sedangkan Eun Ji hanya terus menatap pantulan dirinya di pintu elevator, tapi ketika bahu mereka sedikit bersentuhan, mereka sama sekali tak menjauh.

“Kau akan baik-baik saja,” Eun Ji berkata, berharap sedikit respon yang ia berikan dapat membantu mencairkan suasana, tapi tidak, detik berikutnya tidak ada yang berbicara.

Hanya setelah detik telah tersandung ke menit, si pria asing berkata, “Terima kasih,” dengan suara yang begitu kecil, seolah sedang berbisik pada angin. Dan entah bagaimana Eun Ji merasa hatinya seolah diperas saat ia berbalik menatap pria asing demi mendapati matanya mulai berkaca-kaca, “Untuk apa?”

Pria asing itu hanya tertawa kecil, “Segalanya, untuk segalanya; terima kasih.”

Eun Ji tak tahu apa yang telah ia lakukan hingga seseorang harus berterima kasih dengannya seperti ini, hanya saja entah bagaimana rasanya cukup natural ketika ia tetap menjawab, “Sama-sama.”

Pria asing itu berbalik menghadap Eun Ji, begitu pula sebaliknya. Ia lantas mengambil sesuatu dari saku dan memasangkannya ke leher Eun Ji.

Sebuah kalung berliontin ‘Lee’ dan Eun Ji sama sekali tak menghindar, hanya menatap tak mengerti dan si pria asing tak memerdulikan keheranan Eun Ji, justru tersenyum, “Ini bagus.”

Sesaat setelah elevator terbuka, si pria asing keluar tanpa berkata apapun dan Eun Ji cepat-cepat bertanya, “Mungkinkah, aku pernah mengenalmu?” Ia perlahan berbalik, mengedikkan bahu dan tersenyum tapi entah bagaimana terlihat begitu menyedihkan sekaligus menyakitkan, “Mungkinkah?”

Elevator tertutup, seolah telah terencanakan demikian dan Eun Ji sama sekali tak mengerti. Dalam keheningan yang ia ciptakan, suara hembusan nafas terasa begitu berisik, tapi tak serta merta membiarkan semuanya baik-baik saja. Eun Ji memberitahu pada dirinya bahwa mungkin mereka memang pernah bertemu sebelumnya, bahwa ia harus mencarinya suatu saat nanti; tapi ‘suatu saat’ begitu menyakiti dirinya, begitu membuat air matanya ingin keluar, meski ia tak tahu mengapa.

Dia membiarkan semuanya berlalu, membiarkan semuanya pergi; ingatan, kenangan tapi ia tak membiarkan pria asing itu menghilang begitu saja, karena ia akan pulang ke apartemen Yesung; mengeluarkan kertas dan menuliskan semuanya; bahwa ia harus kembali ke rumah sakit, menemui Dokter Kim, memberitahukannya tentang ini dan itu, bahwa seseorang sepertinya mengenalnya dan mereka telah bertemu sebelum ini; sehingga tidur tak akan membiarkan ingatannya menjauh, tidak akan menghapusnya, tidak akan.

—OoooOoooO—

“Mm, jadi apa tujuan kau berada di sini?” Cuaca cukup dingin di luar sana dan di sinilah Eun Ji, menembus kedinginan pagi dan mengabaikan hangatnya apartemen atau mungkin ditemani secangkir coklat hangat; demi bertemu dengan Yesung, tapi apa ini?

“Jadi maksudku, kemarin aku bertemu dengan seseorang dan sepertinya aku telah bertemu dengannya sebelum itu, mungkin beberapa kali―bisa jadi.”

Tapi tampaknya Yesung tak tertarik, ia malah duduk, menyibukkan diri bersama berkas-berkas dan Eun Ji harus menahan diri agar tak membuat berkas-berkas itu menjauh.

“Bisakah kau membantuku, orang itu―”

It was funny, you know?

Pada akhirnya Eun Ji sama sekali tak merasakan hal itu. Ini adalah kepercayaannya, hal yang ia buat agar tak terjebak dalam keracunan tidur yang menghapus ingatannya, kenapa ia harus menertawakan kepercayaannya?”

“Aku tidak merasa ini lucu, Dokter Kim, aku―”

“Kau bertemu dengan semua orang di rumah sakit ini setiap hari, dan kau menganggap orang itu special hanya karena kau percaya kalian telah bertemu sebelum semalam? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kau temui di setiap hari kemarin, di tahun-tahunmu di sini, bahwa ada berapa ratus orang yang terus terhapus dalam ingatanmu tapi tidak dengan mereka dan kau bilang ini tidak lucu? Bahwa aku hanya berlebihan, wow i just―wow.”

Dan Eun Ji hanya mengantarkan tubuhnya pulang bersama dengan segala perkataan Yesung tentang tak ada yang special, bahwa semuanya sama saja, bahwa tidak ada yang berbeda jika mereka telah bertemu sebelumnya. Tapi dengan wajah yang penuh air mata, ia menemukan sebuah handy cam dan menyaksikan betapa banyak kata cinta yang di ucapkan setiap harinya, bahwa gadis di dalam video terlihat seperti dirinya dan ia sama sekali tak mengenali pria yang muncul dari dalam video, video yang sama.

Dia tidak tahu kenapa air mata terus jatuh dan hatinya merasa sangat sakit.

—OoooOoooO—

“Bagi mereka yang mengenali aku; untuk beberapa alasan aku terus mencari seseorang di masa lalu, tapi entah bagaimana terasa sangat salah sekarang. Setidaknya ketika aku mencoba untuk menjalani hidupku seperti biasa; atau mungkin sebagaimana mestinya, ini hanya terasa sangat salah dan aneh, I just―shit, apa yang aku lakukan sekarang?”

Di sanalah Eun Ji, berbicara dengan handy cam, layaknya seorang gadis gila yang terlihat depresi. Saat itu waktu tengah di jalankan oleh suara motor yang tengah beradu dengan nyaringnya percakapan di halte. Udara sedang dingin-dinginnya, tapi tak menyurutkan semangat orang-orang untuk berpergian, begitu pula Eun Ji.

Ia meminjam sedikit uang dari Yesung setelah menuliskan note bahwa akan membayarnya di kemudian hari; meski ia yakin Yesung tak akan pulang lagi malam ini, tapi tetap saja ia melakukannya―sebagai formalitas mungkin.

Bus telah berhenti dan terdapat sedikit lautan manusia yang saling berebutan masuk dan keluar dari bus, tapi tidak dengan Eun Ji. Kakinya berjalan ke arah sebaliknya, ia mungkin tidak ingin menaiki bus, bila dipikir-pikir, ia memang tidak bisa menggunakan bus; tidak saat ia membutuhkan karcis atau mungkin kartu dan ia harus membayar sementara ia hanya memiliki sedikit uang dengan poin penting; ia tak tahu harus naik bus apa dan juga tak tahu harus pergi kemana.

Untuk beberapa alasan, ia terus melihat sederet toko yang berjejer di pinggir jalan dan yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah toko musik yang berada tak jauh darinya.

Tak perlu banyak berpikir, hingga kedua kakinya bergegas menuju tempat asing itu. Setelah ia masuk, ia menyaksikan betapa banyak tumpukkan koleksi lagu di sana, bahkan ada beberapa alat musik di sudut toko.

Eun Ji tak habis pikir, siapa orang-orang yang akan membeli barang sebanyak ini? Apa semuanya dapat habis terjual?

Ia melihat seseorang tengah menggunakan sesuatu di kepala, seperti menjepit kedua telinganya di sepasang benda hitam yang berbentuk bulat. Orang itu bersenandung kecil sambil sesekali menyentakkan kaki dan menggoyangkan kepalanya. Terlihat begitu santai, rileks dan entah bagaimana Eun Ji ingin mencobanya.

Ketika orang itu telah pergi, dengan perlahan Eun Ji mendekati alat itu, menyentuhnya, memasangkannya di telinga dan sebuah lagu terdengar mengalun di telinganya.

Itu suara laki-laki dan Eun Ji tidak dapat mengenali suara itu, tapi entah bagaimana liriknya tak terasa asing.

Jal-ja nae a-ga anajul-ke feel my arms so

Lagunya benar-benar indah, begitu pula dengan suara orang itu. Hanya saja entah bagaimana, ia merasa aneh.

Keokjeong-hajineun ma dream is dream but i wanna ma-ge you realize

Nae mam arajwo nae-ga jaewoju-go shipeunkeol

Jal-ja nae sarang yeah~

Eun Ji benar-benar berterima kasih dengan penyanyi dan penulis lagunya karena ia menemukan dirinya menangis layaknya hari esok tak akan datang.

Tapi ia tak benar-benar tahu, kenapa ia menangis? Kenapa harus? Tapi entah bagaimana, mendengar lagu itu lama, ia merasakan hatinya menjadi sesak, sakit dan―

Dia tak lagi merasa sama seperti sebelumnya.

…to be continue…

4 thoughts on “My Kris, My Hero | Chapter 7 |

  1. ya allah … akhirnya ff ini update juga *tebar kembang😀 *
    kau tau eonnie aku menunggu ff ini ampe lumutan … *ciyuuuus
    tapi nggak papa toh akhirnya setelah sekian lama menunggu dan aku membaca ceritanya …. KEREN BANGET… Eonnie … ( sayangnya adegan eun ji ama krisnya cuma sedikit T-T )
    kata katanya menghanyutkan dan aku suka banget karakter Kris di ff sini dan….. aduuuuuh pokoknya suka bgt deh ama jalan cerita ff ini dari awal chapter .
    Lanjutkan terus eonnie *tp jangan lama lama yah update’y😀

    DAeBAK!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s