IN THE SOLITUDE

 

Written by Luwina Title: In The Solitude Genre: Sad, AU, Supranatural!

Rating: PG-13

Main Cast: Park Chanyeol EXO-K Other Cast: etc

Lenght: Ficlet | Word: 1.014

If there is criticism or suggestions, send to ws.luwina@yahoo.com

.::.

..

IN THE SOLITUDE

..

.::.

-Apa kau bisa menolongku?

 Od5ED

Mentari beranjak turun. Menanggalkan gurat oranye bergradasi kuning cerah. Memang, hari ini cerah. Tapi itu tadi. Sekarang angin mulai menggebu dan cahaya matahari tak lagi menerangi. Hanya sinar bulan yang berpendar dalam malam.

 

Chanyeol duduk di bangku taman yang langsung menghadap ke jalan raya. Sesekali ia menghentak-hentakkan ujung sepatunya. Terlihat sedang memperhatikan orang-orang yang kesana kemari di hadapannya. Mencari seseorang yang memiliki cahaya berwarna dalam rimbun sang kegelapan.

 

Oh, lihatlah!.

 

Seorang remaja laki-laki memiliki kabut menyelimuti dirinya. Kabut yang bercahaya disekeliling tubuhnya. Lalu Chanyeol bangkit, dan menghampirinya, “Bisakah kau menolongku?.” Tanyanya antusias.

 

Remaja laki-laki itu malah menatap Chanyeol remeh kemudian kembali berjalan dengan kedua telapak tangan terbenam dalam saku celana miliknya.

 

Kedua ujung bibir Chanyeol tetap tersenyum. Meski baginya itu pahit. Dan itu kejadian yang sering ia alami. Chanyeol kembali pada bangku taman yang sedari tadi ia duduki. Duduk lesu. Kepalanya menunduk tak bersemangat. Bahkan hampir putus asa. Dan berharap sosok cantik itu datang kembali padanya.

 

“Aku tidak cantik, Chanyeol.. aku tampan.. sangat tampan.”

 

Chanyeol terkejut dan terhuyung ke samping, hampir saja jatuh. Namun ia menahan dengan lengan kanannya.

 

“Aish! Kau ini. Cuma bisa mengejutkanku, tidak bisa membantuku.. percuma saja.” gerutunya kesal.

 

Suara yang membuat Chanyeol terkejut berasal dari asap tipis yang membentuk siluet manusia. Dan sekarang benar-benar menjadi sosok manusia. Dia duduk dengan kedua telapak tangan menggenggam erat bangku taman dan meluruskan kedua kaki mungilnya.

 

Hening. Segelintir angin lewat tanpa permisi di antara Chanyeol dan sosok yang Chanyeol sebut–Manis itu.

 

Terasa lamban ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Akan tetapi, pada kenyataannya sekarang pukul sebelas malam. Itu kenyataan ganjil pertama untuk Chanyeol. Tapi, tidak bagi sosok itu.

 

“Hei, kau. Manis. Sampai kapan aku harus begini? Sekarang sudah malam. Aku ingin tidur secepat mungkin.”

 

Chanyeol menoleh. Sosok manis itu tidak ada. Lalu Chanyeol bangkit, akan beranjak dari sana. Udara terlalu rendah untuknya, yang hanya mengenakan kaos putih dan berkemeja. Namun sosok itu kembali datang di hadapan Chanyeol.

 

Bang!.

 

Asap putih itu luruh dan menjadi manusia secara cepat.

 

“Kau! Berhenti. Mengejutkanku. Baekhyun.” Ucap Chanyeol penuh penekanan pada akhir kata.

 

Sedangkan Baekhyun hanya bersedekap, sombong. Tapi wajahnya terlalu manis untuk hal semacam itu. Baekhyun membiarkan Chanyeol melewatinya. Hanya beberapa langkah.

 

Hanya beberapa langkah Chanyeol berjalan, Baekhyun berbalik, “Kau tidak mungkin bisa tidur.”

 

Chanyeol yang membelakangi Baekhyun terdiam. Ia tidak akan menyangka jika ia kembali sengsara. Ini sebuah kenyataan ganjil kedua bagi dirinya. Namun Chanyeol memiliki pendapat lain.

 

“Terserah katamu!.” Bentaknya.

 

“Chanyeol..” panggil Baekhyun pelan.

 

Namun Chanyeol tak dapat mendengarnya. Angin begitu kencang malam ini. Begitu menyudutkan Chanyeol.

 

“Karena dirimu memang berbeda, Park Chanyeol.”

 

~***~

 

“Kau, yang disana.. bisa membantuku?.” Tanya Chanyeol dengan senyum terpampang.

 

Sedangkan seseorang yang dipanggilnya, menatap Chanyeol tidak percaya, berbalik pergi. Berjalan cepat. Sangat cepat. Dan dia berlari.

 

Chanyeol kecewa, lagi. Tidak dapat ia pungkiri perasaan itu.

 

Dengan setia, Chanyeol tetap menanti seseorang yang bercahaya dalam terang atau gelap yang berani menghadapi kemelut dalam dirinya.

 

Dengan setia, Chanyeol juga menunggu di bangku taman kota. Seperti biasa. Kini itu sudah seperti kebiasaan baginya.

 

Tapi sampai kapan dirinya akan seperti ini terus, pikirnya.

 

“Kau sedang apa?.”

 

Chanyeol menoleh ke kiri dengan malas lalu meluruskan kaki-kaki panjangnya, “Tertawa..” lantas Chanyeol diam. Membalikkan fakta yang ia bicarakan.

 

Baekhyun menatap selidik ke arah Chanyeol.

 

“Chanyeol, kau tahu kan jika waktu di dunia ini semakin menipis dan akan bush!  –hilang..” Kata Baekyun sambil menengadahkan kedua tangannya ke udara lalu menepuk kedua tangannya pelan.

 

Chanyeol memutar kepalanya, dengan malas, “Apa yang kau lakukan dan yang kau bicarakan itu tak membantuku, kau tahu?.” Ia bernada sarkastik.

 

Baekhyun tiba-tiba menghilang dengan cepat, meninggalkan kerlap-kerlip abu terangnya. Dan seketika berada di depan Chanyeol seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia tersenyum; menyeringai.

 

“Dan apa yang kau tahu tentang dunia diantara surga dan neraka?.” Lalu Baekhyun berjalan pelan menembus kerumunan orang-orang yang berjalan di sekitar taman kota. Telunjuk kiri Baekhyun terangkat lurus, menunjukkan sesuatu di ujung jalanan padat itu. “Itu, tataplah itu.. nantilah itu dan kau selamat.”

 

Baekhyun kembali masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang semakin memadat dan menghalangi pandangan orang yang duduk sendiri, seperti Chanyeol. Baekhyun hilang.

 

Chanyeol menengadahkan kepalanya pelan ke arah telunjuk Baekhyun yang tadi dia angkat. Menunjuk sesuatu dari balik kerumunan itu. Namun sampai saat ini, Chanyeol belum pernah melihat petunjuk yang Baekhyun yang beri tahu, begitu juga dengan Baekhyun yang tiba-tiba menghilang. Sangat lama. Hingga detik ini.

 

Chanyeol bosan, ia berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri. Ingin sekali dirinya segera pergi dari tempat itu; taman kota itu. Namun ia diam.

 

Ia terdiam. Ketika seorang laki-laki muda akan melewati dirinya dengan cahaya itu.

 

Chanyeol terlalu diam. Hingga laki-laki muda itu melintasi dirinya yang telah berdiri kemudian membeku begitu saja.

 

“Hei,” panggilnya pelan, terlalu skeptis.

 

Laki-laki muda itu sempat terdiam, menyebabkan dirinya sering bersenggol bahu oleh para pejalan kaki. Dia berbalik mata hitamnya mencari asal suara berat itu. Laki-laki muda itu terkejut bukan main.

 

Dia dapat melihat seorang pria tak terlalu tua, mungkin umurnya berselisih satu atau dua tahun. Tapi kulitnya terlalu putih –pucat.

 

Chanyeol tak sadar jika ia melangkahkan kedua tungkai kakinya perlahan mendekati sosok laki-laki muda itu dan menggenggam pergelangan tangan kanannya, erat. Dia, laki-laki muda itu kembali tersentak ketika kulit mereka bersentuhan.

 

Itu dingin –sangat, pikirnya.

 

Chanyeol mengulum bibir bawahnya perlahan, ia merasa kehilangan kata-kata. Ditatapnya manik mata laki-laki muda itu, “Apa kau bisa menolongku?.” Suaranya lirih.

 

Laki-laki muda itu hanya membuka mulutnya, tanpa mengeluarkan suaranya.

 

“Apa kau bisa menolongku?.” Chanyeol bertanya sekali lagi. “Karena ragaku terperangkap dalam duniamu, aku tidak bisa kembali pada dunia­ku. Bantu aku, kumohon.” Entah Chanyeol terlalu percaya atau terlalu berharap, jika cahaya yang berpendar disekeliling laki-laki ini hangat dan berwarna biru menuju ungu; indigo. Salah satu manusia yang ia percayai.

 

“Bantu, aku..”

 

Chanyeol menekankan setiap katanya. Dan semakin menekan genggamannya pada pergelangan tangan laki-laki ini. Menusuk tatapannya pada mata tenangnya.

 

“Aku, butuh ragaku…”

 

Sosok laki-laki itu menganga, tidak percaya.

 

“Tolonglah, Baekhyun.”

 

 

 

THE END

One thought on “IN THE SOLITUDE

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s