Painful

Title : Painful

Author : blackpearl

Main Cast : –         Byun Baekhyun-         Choi Nira (OC)

Support Cast :-         Park Chanyeol-         Find by yourself

Length : Oneshoot

Genre : Romance and Sad

Happy Reading!

5

Nira’s POV

Bagaimana rasa nya menyukai ah— maksudku, mencintai seseorang, tetapi dia tidak mencintai mu? Rasa nya gemas, sedih, dan tentu saja sakit kan? Itulah yang ku rasakan sekarang. Dada ku seperti ada yang mengganjal. Ingin ku keluarkan, ingin ku ungkapkan pada pria yang ku cintai itu. Tapi aku takut. Entah kenapa.

Lagipula, mana mau seorang Byun Baekhyun mencintai gadis seperti ku? Berkacamata, ber-kawat gigi, dan aku adalah seorang kutu buku. Baekhyun pasti ingin mempunyai yeoja-chingu yang cantik, manis, dan yang jelas tidak seperti diriku.

Baekhyun adalah teman sekelas ku. Aku menyukainya sejak aku masuk ke SMA ini. Dan, Baekhyun adalah seseorang yang sangat dingin. Aku juga tidak tau kenapa aku bisa menyukai laki-laki seperti dia. Ada sesuatu didalam dirinya yang membuatku tertarik. Dia tampan, dia manis, dia pintar, suara nya merdu, ah dia sangat mendekati sempurna.

Saat ini, aku sedang berada di dalam kelas bersama teman ku, Hwang Junmi. Aku memperhatikan Baekhyun yang sedang tertawa bersama Chanyeol, sahabatnya. Tampan, itulah satu kata yang terlintas di kepala ku. Andai saja Baekhyun tertawa seperti itu bersamaku, mungkin aku sudah terbang setinggi-tingginya. Hahaha, harapan kosong.

“Hey, kau sedang memperhatikan apa?” Tanya Junmi tiba-tiba. Aku memalingkan wajahku kepada Junmi yang sedang menatapku bingung.

 

“Tidak.” Kata ku bohong.

Junmi menyipitkan mata nya padaku. Lalu pandangan nya berpindah ke arah 2 makhluk yang sedang tertawa bersama sejak tadi.

“Ah~pasti Baekhyun?” Selidik Junmi.

“Kau ini–“

“Jangan berbohong padaku, chagi. Aku tahu apa yang kau lihat. Sudahlah, jangan terus-terusan memperhatikan nya. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, jangan jatuh terlalu dalam ke lubang cinta nya. Kau akan susah keluar dari sana. Dan akhirnya membuatmu susah melupakan orang itu.” Jelas Junmi.

Aku terdiam sejenak. Benar juga kata makhluk yang satu ini. Jika aku jatuh terlalu dalam dalam lubang cintanya, pasti aku akan merasakan sakit tersendiri. Ini mengingatkan ku dengan kejadian dulu.

Ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku menyukai seorang sunbae ku. Dia kelas 3 dan aku kelas 1. Dia seperti Baekhyun, sangat tertutup. Hanya terbuka pada orang-orang terdekatnya saja. Aku memendam perasaan padanya sampai ada seorang sahabatnya yang dekat denganku. Ia membocorkan semua tentang sunbae yang ku suka ini. Dari mulai tipe wanita, warna kesukaan, makanan kesukaan, dan lain-lain. Dan akhirnya, ia akan membantuku untuk mendapatkan cinta sunbae misterius ini.

Setelah aku mendapatkan cinta nya, banyak sekali sunbae yeoja yang tidak menyukaiku. Menjengkelkan sekali bukan? Saat hari kelulusan tiba, aku membayangkan bagaimana jadinya jika aku ditinggal oleh sunbae-ku itu. Tapi ia bilang padaku jangan takut ditinggal olehnya. Ia juga bilang ia akan selalu menghubungi dan mengunjungi ku. Tapi nyatanya, sampai sekarang ia tidak pernah muncul dihadapanku. Berawal dari situ aku memantapkan hatiku untuk tidak mencintai namja terlalu dalam. Karena aku takut akhirnya seperti masa lalu-ku. Tapi entah kenapa, jika aku melihat Baekhyun aku tidak bisa menahan rasa ini.

Ah sudah lupakan.

***

            Setengah jam berlalu. Seorang gadis masih saja meraba deretan buku-buku di perpustakaan. Entah apa yang ia cari. Siswa dan siswi yang ada di sana pun menatapnya bingung. Seperti orang yang tidak ada pekerjaan. Sedari tadi hanya mengitari perpustakaan.

Choi Nira, si kutu buku. Itulah julukan dari teman-teman sekelas nya. Gadis yang tidak pernah keluar kelas saat waktu istirahat tiba. Gadis yang menghabiskan waktu istirahat nya dengan membaca buku. Begitupun saat pulang sekolah. Pasti ia akan menyempatkan dirinya untuk mengunjungi perpustakaan. Itu kegiatan yang tidak pernah ia lupakan.

Walaupun dia kutu buku, tetapi soal cinta dia tidak pernah ketinggalan. Gadis ber-kawat gigi ini menyukai teman sekelasnya. Yaitu Byun Baekhyun. Pria dingin yang sangat tampan bak pangeran. Sikap nya sangat berbanding balik dengan Nira.

Tapi, karena Nira tidak mau kisah nya terulang kembali, ia berusaha untuk tidak terlalu berharap pada Baekhyun. Memang sangat sakit. Sakit sekali.

“Nira-ssi, apa yang kau lakukan sejak tadi?” Tanya penjaga perpustakaan. Ia juga bingung dengan apa yang Nira lakukan selama setengah jam itu.

“Ah~ aku mencari buku, tapi daritadi tidak ku temukan. Mungkin terselip diantara buku-buku besar ini.” Jawab Nira. Sang penjaga perpustakaan hanya mengangguk lalu melanjutkan membaca. Nira menghela nafasnya. Sebenarnya ia lelah karena sedari tadi hanya berputar-putar. Ia tidak menemukan buku yang ia cari.

“Ya ampun, biasanya perpustakaan lengkap. Semua buku yang ingin ku baca ada semua disini. Tapi kenapa sekarang tidak ada ya. Aish.” Gumamnya kecil.

Akhirnya Nira pun memutuskan untuk pulang saja. Ini pertama kali nya ia bosan dengan perpustakaan. Biasa nya ia membaca buku disini hingga pukul 5 sore. Paling lambat pukul setengah 6 sore.

Karena tidak memperhatikan langkahnya, Nira menabrak seseorang yang ada dihadapan nya sehingga kacamata yang ia pakai terjatuh ke lantai.

“Aduh, kemana kacamata ku?” Tanya Nira pada dirinya sendiri.

Ia berjongkok dan langsung meraba-raba ubin dibawahnya. Tidak perduli ubin itu kotor atau tidak. Yang penting ia menemukan kacamatanya itu.

Tiba-tiba ia merasakan tangan nya di sentuh oleh seseorang. Orang itu membantu Nira bangun dari posisi jongkok nya tadi. Nira bingung siapa yang membangunkan nya. Saat ini Nira merasa seperti orang buta. Tidak bisa melihat apa-apa. Semua yang ada dihadapan nya buram.

“Ini kacamatamu.” Ujar orang itu. Nira segera mengambil kacamata nya dan langsung memakainya.

“Terimakasih karn–“ Ucapan Nira terpotong.

Ia terpaku. Tubuhnya seakan-akan menjadi es batu. Tidak bisa bergerak. Ia merasa seperti orang bodoh. Mata nya membulat sempurna. Melihat pemandangan yang ada dihadapan nya sekarang. Persis di depan nya. Seorang Byun Baekhyun berdiri di depan Choi Nira.

“Sama-sama. Lain kali lihat-lihat kalau jalan ya, nona.” Ujar Baekhyun membalas ucapan Nira yang terpotong tadi.

“I-iya.” Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Nira. Baekhyun tersenyum padanya dan setelah itu berlalu dari hadapan Nira.

‘Apakah aku bermimpi? Iya? Byun Baekhyun? Memegang tangan ku? Tersenyum pada ku? Oh ya Tuhan, benarkah semua ini terjadi padaku? Aku tidak percaya.’

Nira masih terpaku. Senyuman Baekhyun masih sangat terekam jelas di otaknya. Dia mengklaim bahwa hari ini adalah hari terbaiknya. This is the best day ever.

***

            Suara dentingan piano menggema diseluruh penjuru ruangan musik. Disertai dengan suara merdu yang dikeluarkan oleh pria tampan. Nira memperhatikan nya dengan mata berbinar-binar. Bibirnya membentuk lengkungan indah yang disebut senyuman. Ketika Baekhyun menyanyi, hati nya berdesir. Tubuh nya seakan-akan disengat oleh listrik. Inilah salah satu yang Nira sukai dari Baekhyun. Ia sangat berharap Baekhyun menyanyikan sebuah lagu untuk nya. Tapi hanya sebuah harapan. Belum tentu terjadi pada nya.

Ketika Baekhyun selesai bernyayi, suara tepuk tangan dari para siswa dan siswi menggema. Dan tepuk tangan dari Nira lah yang paling keras. Hingga membuat telapak tangan nya sedikit memerah.

“Baiklah, ibu akan membagi kelompok. 1 kelompok terdiri dari 2 orang. 1 orang namja dan 1 orang yeoja. Kalian berlatih selama 2 minggu untuk ujian praktik bulan depan. Kalian bebas memilih lagu. Yang terpenting, suara kalian nikmat di dengar dan penghayatan nya harus bagus. Arra?”

Arraseo seonsaengnim.” jawab semua nya serempak.

“Ibu akan menyebutkan kelompok nya.” Ujar seonsaengnim.

Nira mengepalkan tangan nya. Jantungnya berdetak tidak normal. Ia berharap satu kelompok dengan Baekhyun. Ia sangat berharap. Sambil memejamkan mata nya, ia berbicara sendiri dalam hati.

Dengan Baekhyun. Dengan Baekhyun. Dengan Baekhyun. Dengan Baekhyun’

“Kelompok pertama, Junmi dan Hyunseok.”

 

“Nira dengan Baekhyun”

 

“Kelompok kedua, Chanyeol dengan Haemi.”

 

“Nira dengan Baekhyun”

 

“Kelompok ketiga, Soona dengan Jaebim.”

 

“Nira dengan Baekhyun”

 

“Kelompok keempat, Nira dengan Baekhyun.”

 

“Apa? Seonsaengnim bilang apa? Aku satu kelompok dengan Baekhyun? Ah~ Akhirnya! Ini benar-benar bukan mimpi.” Seru Nira dalam hati.

Pipinya memerah seperti kepiting rebus. Senang sekali rasanya bisa satu kelompok dengan Baekhyun. Ini akan menjadi kenangan dalam hidupnya. Ia terus tersenyum. Hati nya berbunga-bunga sampai tidak menyadari kalau Baekhyun ada disamping nya sekarang.

“Hai nona.” Sapa Baekhyun.

Nira berhenti tersenyum. Baiklah, kali ini ia merasa seperti orang bodoh lagi. Ia melirik ke samping nya dan mendapati Baekhyun sedang menatap nya dengan tatapan aneh.

“Oh– ha-hai Baekhyun.” Balas Nira terbata – bata.

Baekhyun terus memperhatikan Nira. Nira merasa risih ditatap seperti itu. Ada apa dengan Baekhyun? Apakah wajah Nira sangat aneh sehingga ia menatap nya terus?

“Wajah mu pucat. Sakit?” Tanya Baekhyun. Dengan spontan, Nira meraba wajah nya.

“Oh tidak kok. Aku memang seperti ini hehe.” Jawab Nira gugup. Benarkah wajah nya pucat hanya karena melihat Baekhyun? Sangat konyol menurutnya. Baekhyun hanya mengangguk. Nira membetulkan posisi kacamatanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Memulai pembicaraan? Tapi apa? Ia bingung sendiri. Nira menggengam jemari nya sendiri yang sangat dingin.

“Mulai kapan kita akan latihan?” Tanya Baekhyun memecah keheningan.

Nira menatapnya sambil berfikir. Bibir nya kelu. Tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana yang di lontarkan Baekhyun.

“Oh ayolah Choi Nira, jangan seperti orang bodoh.” Batin nya.

“Nira?” Panggil Baekhyun lagi. Baekhyun merasa aneh dengan Nira. Ia merasakan, jika gadis ini bertemu dengan nya pasti sikapnya menjadi aneh. Wajah nya pucat, mata nya membulat dan tubuhnya kaku. Sangat aneh, tapi lucu. Itulah kata-kata yang terlintas di otak Baekhyun.

“Ah i-iya? Hari ini aku tidak ada kegiatan. Jadi jika ingin latihan pulang sekolah, aku bersedia. B-bagaimana dengan mu?” Tanya Nira.

“Hm.” Baekhyun berdeham. Nira melihatnya dengan tatapan penasaran. Ia berharap Baekhyun bisa latihan hari ini.

 

“Aku bisa.” Jawab Baekhyun.

Hampir saja Nira lompat dari bangku yang ia duduki sekarang. Perasaannya sangat senang. Ia akan latihan berdua dengan Baekhyun. Inilah impian nya selama ini. Berduaan dengan Baekhyun. Ya, walaupun tidak ada hubungan apapun dengannya. Tetap saja Nira senang.

Wajah pucat nya berubah menjadi wajah yang sumringah. Baekhyun hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Nira yang berubah. Nira menahan dirinya untuk tidak berteriak dihadapan Baekhyun.

“Yasudah, aku duluan ya. Sampai bertemu pulang sekolah.” Pamit Baekhyun. Setelah itu ia berlalu dari hadapan Nira.

Nira menarik nafas nya dalam-dalam. Menghembuskan nya perlahan. Ia memegangi dadanya yang sesak sejak tadi.

“Aaaaaaa!! Byun Baekhyun aku cinta padamu!” Teriak Nira. Untung saja ruangan musik sudah kosong. Hanya ada Nira seorang.

 

***

            Angin berhembus di sore hari menerpa rambut panjang agak bergelombang milik Nira. Matanya menelusuri setiap penjuru sekolahan. Ia mencari sosok Baekhyun sedari tadi. Saat di kelas, Nira sudah bilang pada Baekhyun bahwa mereka akan latihan di taman belakang sekolah saja. Tetapi sudah satu jam berlalu sejak bel pulang sekolah berbunyi Baekhyun belum menampakan dirinya.

Nira mulai gelisah. Bagaimana jika tiba-tiba Baekhyun berhalangan latihan untuk hari ini? Ah~ sangat menyebalkan. Nira mengerucutkan bibirnya. Bosan. Selama satu jam ia hanya duduk manis di bangku taman sambil menggoyang-goyang kan kaki nya dan di temani oleh angin yang berhembus. Ia yakin Baekhyun bukan pembohong. Pasti ia akan datang. Mungkin saja ia sedang mengerjakan tugas, setelah itu ia akan datang kesini. Baekhyun kan anak yang sangat rajin. Nira menghembuskan nafasnya yang berat. Ia menggenggam ujung rok nya dengan gelisah.

“Nira?” Panggil seseorang. Ini suara yang sangat Nira kenal.

Ia membalikan tubuh nya dan mendapati Baekhyun sedang memegang sebuah tikar dan tersenyum padanya. Kali ini Nira tidak terlalu gugup ketika melihat senyum Baekhyun. Ia membalas senyuman Baekhyun dengan senyuman manis nya.

“Maaf karena sudah membuatmu menunggu lama. Tadi aku sedang mencari tikar ini di gudang atas. Lalu mencuci nya terlebih dahulu.” Jelas Baekhyun.

“Iya tidak apa-apa. Bisa kita mulai sekarang?” Tanya Nira to the point. Baekhyun menganggukan kepala nya. Ia segera menggelar tikar dihadapan Nira dan mempersilahkan nya duduk terlebih dahulu. Nira diperlakukan layaknya seorang putri. Awalnya, Nira kira Baekhyun akan bersikap dingin padanya. Ternyata tidak. Baekhyun malah sangat ramah pada Nira.

 

“Kita akan bernyanyi lagu apa? Ada usul?” Tanya Baekhyun. Nira berfikir sejenak.

“Bagaimana ini? Aku kan tidak terlalu tahu soal lagu-lagu zaman sekarang. Selama ini aku hanya diam di perpustakaan dan terus membaca buku. Aku juga jarang menonton televisi. Hah~ inilah susah nya jadi seorang kutu buku.” Keluh Nira dalam hati.

 

“Hm, Baekhyun maaf. Aku tidak terlalu tau soal lagu-lagu zaman sekarang. Sekarang aku jarang menonton tv dan waktuku hanya dihabiskan di perpustakaan. Hehe.” Kata Nira pada akhirnya. Ia lebih baik berkata jujur daripada harus menanggung malu nantinya.

“Oh begitu ya. Yasudah, bagaimana kalau kita menyanyikan lagu dari soloist G.NA dan Rain? Judul nya If You Want A Lover.” Usul Baekhyun.

Ah! Nira tahu lagu ini. Ini lagu yang sering diputar oleh ibu nya dirumah. Awalnya Nira tidak menyukai lagu ini. Tapi karena ibunya sering memutar lagu ini, Nira menjadi suka. Bahkan hafal lirik nya.

“Oke, aku setuju!” Ujar Nira sambil tersenyum.

Baekhyun dan Nira pun mulai latihan. Nira agak malu menunjukkan kemampuan bernyanyi nya. Selama ini Nira jarang sekali bernyanyi. Ia bernyanyi jika sedang bosan saja.

Dan akhirnya Nira pun bernyanyi. Baekhyun mendengarkan nya dengan seksama. Ia memejamkan matanya. Nira menatap Baekhyun aneh. Apa yang sedang dilakukan orang ini? Semoga saja suara nya tidak terlalu buruk saat didengar oleh pujaan hatinya ini.

“Part ku selesai. Bagaimana?” Tanya Nira. Nira gugup. Ia meremas-remas jarinya sendiri. Bagaimana jika suaranya buruk? Hm.

“Suara mu lembut ya. Aku suka.” Komentar Baekhyun sambil menunjukkan senyum maut nya.

Jika saja sekarang ia tidak sedang ada dihadapan Baekhyun, ia akan berteriak sekencang-kencang nya. Entah kenapa, dengan pujian sederhana seperti itu saja Nira merasa dirinya sedang terbang ke langit. Konyol memang. Tapi seperti inilah rasanya.

“Ah~ T-terimakasih. Sekarang giliran mu.” Kata Nira terbata-bata.

Baekhyun pun memulai part nya. Nira mengikuti gaya Baekhyun yang mendengarkan suara nya tadi. Mendengarkan nya dengan seksama dan memejamkan matanya. Suara Baekhyun membuat getaran kecil di hati gadis berkacamata ini. Jantung nya kembali berdetak tidak normal. Mungkin, wajah nya juga pucat seperti yang pernah Baekhyun bilang. Setelah Baekhyun selesai bernyanyi, Nira bertepuk tangan dengan keras.

“Suara mu bagus sekali!” Seru Nira sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Hahaha. Terimakasih, Choi Nira. Oh iya, mungkin hari ini sampai disini dulu saja. Besok kita latihan lagi ya ditempat ini.” Ujar Baekhyun. Nira menganggukan kepala nya mengiyakan.

“Sampai bertemu besok, nona berkacamata.” Pamit Baekhyun sambil melambaikan tangan nya.

“Sampai bertemu besok!”

Pangeran hatiku. Hahaha.”

***

            Semenjak kejadian kemarin, Baekhyun dan Nira menjadi dekat. Jika sedang beristirahat latihan, Baekhyun suka bertanya-tanya tentang kehidupan Nira. Begitupun sebaliknya. Mereka menjadi sering tertawa bersama, bercanda bersama dan bahkan pergi ke perpustakaan bersama. Saat di kelas pun, Baekhyun yang biasanya hanya bertanya soal pelajaran pada Chanyeol, sekarang lebih sering bertanya pada Nira. Nira merasa sangat senang karena ia bisa dekat dengan Baekhyun. Tapi ia tidak tahu bagaimana perasaan Baekhyun saat ada di dekatnya. Semoga saja ia senang juga.

Pertahanan Nira runtuh. Padahal ia sudah bertekad untuk tidak mencintai Baekhyun terlalu dalam. Tetapi nyatanya, ia malah mencintai Baekhyun terlalu dalam. Ia tidak ingin berpisah dengan Baekhyun. Terkadang Nira suka memikirkan soal kelulusan nya yang akan hadir sebentar lagi. Itu artinya ia harus berpisah dengan Baekhyun. Mungkin, Nira akan menyatakan perasaannya pada Baekhyun, saat perpisahan nanti.

“Hahaha, hei Nira. Mau ku traktir es krim?” Tawar Baekhyun.

Saat ini mereka sedang ada di kantin sekolah. Ini pertama kalinya Nira mengunjungi kantin lagi sejak hampir satu tahun ia tidak pernah kesini. Tentu saja Nira menerima tawaran Baekhyun. Wanita mana yang akan menolak jika akan di traktir pujaan hatinya?

“Okay. Aku ingin rasa vanilla ya.” Kata Nira. Baekhyun mengangguk dan segera membelikan nya es krim.

Nira tersenyum melihat Baekhyun. Sangat ingin menyatakan perasaannya sekarang juga. Tapi ia sangat takut jika Baekhyun tiba-tiba menjauh. Takut sekali. Nira selalu berusaha menahan dirinya agar tidak menyatakan perasaannya.

“Ini, satu es krim vanilla untuk mu, dan satu es krim coklat untukku.” Ujar Baekhyun tiba-tiba yang membuat Nira sadar dari lamunan nya.

“Terimakasih traktirannya, Baekki.” Kata Nira. Seperti biasa, Baekhyun hanya melemparkan senyuman mautnya kepada Nira yang membuat dirinya meleleh.

“Nira, besok kita akan tampil. Tadi aku ke ruangan guru untuk mengambil nomor urutan, kita dapat nomor 2. Jadi, hari ini kita maksimalkan ya.” Ucap Baekhyun. Nira hanya mengangguk saja sambil terus berkonsentrasi pada es krim nya itu.

“Ya ampun, sebegitu cinta nya kah kau pada eskrim? Sehingga tidak menyadari ada noda di sudut bibirmu?” Kata Baekhyun lagi. Ia mengulurkan tangan nya dan mengusap sudut bibir Nira yang bernodakan eskrim itu.

Tidak. Dengan duduk berdua berhadapan seperti ini saja sudah membuat jantung Nira berdetak tidak normal. Sekarang Baekhyun malah mengusapkan sudut bibir Nira dengan jemarinya yang lembut itu. Sebentar lagi jantung Nira akan lompat dari tempatnya. Byun Baekhyun, selalu tau caranya untuk membuat Nira menjadi es batu.

“Seperti anak kecil.” Komentar Baekhyun sembari menjentikan jari nya ke kening Nira.

“Ah kau ini apa-apaan.” Protes Nira sambil memegang kening nya yang di sentuh oleh Baekhyun.

Baekhyun hanya tertawa melihat ekspresi Nira yang menurutnya sangat lucu. Nira mengerucutkan bibirnya. Baekhyun mencolek eskrim milik Nira dan menodai hidung Nira dengan eskrim.

“Ya! Kau ini apa-apaan, Byun Baekhyun?” Protes Nira lagi. Kali ini ekspresi nya lebih lucu dibandingkan dengan yang tadi. Baekhyun tertawa kencang melihatnya.

Bukannya marah pada Baekhyun, Nira malah tersenyum. Baekhyun tertawa dihadapannya. Nira tau Baekhyun sedang menertawakan wajah nya yang terdapat noda eskrim, tapi Nira sangat senang jika Baekhyun tertawa lepas dihadapan nya. Semenjak ia dekat dengan Baekhyun, tertawa nya tidak pernah selepas seperti yang sekarang ini.

“Hey kau, jangan tertawa terus. Aku doakan kau akan tersedak.” Kata Nira datar.

Baru sedetik yang lalu Nira bicara. Benar saja, Baekhyun tersedak dan terbatuk-batuk. Kali ini bergantian, Nira yang tertawa lepas. Tertawa lepas yang disertai kepuasan.

“Ahaha! Sudah kubilang awas tersedak. Benar saja kan. Makanya, jangan suka menertawakan orang.” Ujar Nira. Wajah Baekhyun memerah dan matanya berair. Nira terkekeh geli melihatnya. Dengan wajah seperti itu, Baekhyun lebih seperti anak kecil.

“Hah~ sudahlah. Ayo kembali ke kelas.”

***

            Hari ini, adalah hari yang sangat Nira benci. Dari 2 minggu yang lalu, Nira tidak pernah mau hari ini datang dalam hidup nya. Ia akan menunjukkan kemampuan nya bernyanyi pada teman-teman sekelas nya. Selama ini, teman-teman sekelas nya tidak pernah mendengar Nira bernyanyi. Junmi yang sahabatnya saja tidak pernah mendengar Nira bernyanyi. Sedikit pun.

“Jangan nervous. Anggap saja di ruangan ini tidak ada orang. Hanya ada aku dan kau. Dan, anggap saja ini seperti sedang latihan. Satu lagi, jangan menatap mata penonton. Itu akan membuatmu menjadi nervous saat di depan. Tatap lah keningnya.” Ujar Baekhyun seolah-olah bisa membaca fikiran dan hati Nira. Nira hanya mengangguk mengerti.

Penampilan pertama yang di isi oleh Hyunseok dan Junmi pun selesai. Semua orang yang ada di ruangan musik bertepuk tangan untuk mereka berdua. Setelah itu, Hyunseok dan Junmi duduk di bangku yang tersedia di ruangan.

“Penampilan selanjutnya, dari kelompok 4. Yaitu Nira dan Baekhyun.”

“Ya Tuhan, mudahkanlah aku.” Batin Nira sebelum naik ke panggung.

Baekhyun menatap Nira dengan tatapan “kau bisa” pada Nira. Nira menelan ludahnya sendiri dan tidak lupa dengan kebiasaan nya. Meremas jari-jarinya sendiri.

Yap. Sekarang ia dan Baekhyun sudah ada di atas panggung. Nira memjamkan matanya sebentar dan membukanya lagi. Terlihat dari depan sana, Junmi mengatakan fighting dengan tangannya mengepal. Nira hanya tersenyum.

Musik pun mulai mengalun. Kedua nya sudah dengan mic masing-masing.

 

Namjachinguga sengimyon hago shipdon il nomuna mana nan nul kumul guwoso.

Chot bonje kilgorieso kisuhe bogi du bonje marya chunchonheng sebyok kicha.

Semua penonton menatap ke arah Nira. Mereka terkejut mendengarkan suara gadis yang mereka juluki sebagai kutu buku ini. Junmi membelalakan matanya. Ia tidak percaya jika sahabatnya itu suaranya sangat lembut.

 

Se bonje sopung gagi ne bonje dunge ophigi dasot bonje kopulingun kibon
Boo boo boo jongmal dalkomhal koya.

We iroke dugun dugun dugun dweni sengakman hedo
Han gajishik meil meil meil nowa da he bol koya
Nan nega iso haruga julgowo ijenun duriranun ge
Ne sojunghan no baby baby baby baby boo~

 

Part Nira sudah selesai. Ia menghembuskan nafasnya lega. Tepuk tangan dari penonton menggema di seluruh penjuru ruangan. Mereka semua sangat menikmati suara Nira yang sangat lembut.

Sekarang giliran Baekhyun yang bernyanyi.

 

Yojachinguga sengimyon hago shipdon il negedo mana hangsang burowo heso.

Yosot je shimyayonghwa ilkop je nolidongsando yodop bonje kamjak ibentudo
Boo boo boo jongmal hengbokhal koya.

 

We iroke dugun dugun dugun dweni sengakman hedo
Han gakishik meil meil meil nowa da he bol koya
Nan nega iso haruga julgowo ijenun duriranun ge
Ne sojunghan no baby baby baby baby boo.

Honjayotdon sengiri haril opdon jumari
Irum butun nalduri ijen kidaryojwo


Duriraso chowa hamkeraso chowa
Odie inunji do muwol hadunji nowa~~

Tepuk tangannkembali terdengar lagi. Seonsaengnim tersenyum melihat penampilan Baekhyun dan Nira. Selama ini Choi Nira, muridnya yang ia kira tidak bisa bernyanyi. Ternyata suaranya sangat bagus dan lembut. Bahkan ia mengklaim bahwa suara Nira lebih bagus dari Jenny, muridnya yang berasal dari Australia.

Na gu junge jeil jeil jeil hago shipdon han gaji~

Nol saranghe gu mal gu mal gumal han bon marhe bonun il
Nol saranghe ku mal ku mal kumal han bon duro bonun il

Baekhyun mendekati Nira dan menarik tangan nya. Ia menggenggam tangan Nira. Semburat merah muncul di pipinya. Malu bercampur dengan senang. Itulah perasaan nya sekarang.


Nege wa jwoso nomuna gomawo negyote nega inunge
Namane sarang baby baby baby baby boo


Baby baby baby baby boo~

Mereka selesai bernyanyi. Tepuk tangan yang ketiga kalinya menggema lagi. Kali ini disertai teriakan para teman-teman Baekhyun dan Nira. Dalam keadaan masih menggenggam tangan Nira, Baekhyun dan Nira membungkukan badan nya dan setelah itu turun dari panggung.

“Wah Nira, aku tidak menyangka suara mu sebagus itu! Kenapa kau tidak pernah menunjukkan nya padaku? Jahat sekali kau!” Omel Junmi. Nira hanya terkekeh geli melihat tingkah laku sahabatnya ini.

“Nira.” Panggil Baekhyun. Nira menoleh ke arah belakang.

“Suara mu tadi bagus sekali. Lebih bagus dibandingkan pada saat latihan. Sepertinya aku harus menjadi salah satu penggemarmu.” Goda Baekhyun.

Semburat merah muncul lagi di pipi Nira. Lelaki ini selalu saja bisa membuatnya malu sekaligus senang dihadapan nya.

“Bisa saja kau ini haha.” Ujar Nira sambil memukul lengan kiri Baekhyun.

“Sebagai hadiah karena kau telah percaya diri menyanyi di depan sana, aku akan mentraktir mie ramen untukmu. Bagaimana?” Tanya Baekhyun. Nira langsung mengangguk mengiyakan. Belakangan ini, Baekhyun memang suka mentraktir Nira. Apakah ini tanda-tanda bahwa Baekhyun juga mencintai Nira?

***

2 months later

Semua murid yang ada disekolah ini sudah berpakaian rapih. Mereka berkumpul di aula sekolah mereka yang cukup besar. Ada wajah senang, wajah sedih, wajah takut, dan lain-lain. Mereka semua akan menghadapi perpisahan. Ya, perpisahan. Mereka akan keluar dari sekolah ini dan meninggalkan kenangan selama 3 tahun yang mereka lewati.

Choi Nira, gadis itu sedari tadi meng-gigit bibir bawah nya. Wajah nya pucat. Tangan nya dingin. Ia menahan tangisan nya. Kenapa perpisahan ini sangat cepat? Ia sangat benci ini. Ia akan berpisah dengan pujaan hatinya selama tiga tahun ini. Byun Baekhyun. Nira sangat tidak mau berpisah dengan nya. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah jalan nya. Dan hari ini juga, Nira akan menyatakan perasaan nya pada Baekhyun. Walaupun ia takut, tapi ia lebih mementingkan hatinya. Selama ini hatinya sakit karena terus-terusan memendam perasaan yang belum terbalas ini. Nira tidak mau tahu bagaimana nanti nya. Apakah Baekhyun masih dekat dengan nya setelah ia menyatakan perasaannya? Apa mungkin malah menjauh? Ia tidak mau tahu. Yang penting hati nya tidak ada beban lagi.

“Nira, kau yakin?” Tanya Junmi. Nira mengangguk.

Junmi sudah tau apa yang akan sahabatnya lakukan hari ini. Junmi sangat berharap agar Baekhyun membalas cintanya. Sebelumnya, ia sudah pernah bilang pada Nira agar tidak jatuh cinta terlalu dalam. Karena nantinya akan susah dilupakan. Tapi mau bagaimana lagi. Cinta memang tidak bisa di paksakan.

Nira mencari-cari sosok Baekhyun. Sejak tadi pagi ia datang ke sekolah, ia belum bertemu dengan pangeran nya itu. Nira bingung harus mencari Baekhyun kemana lagi. Sampai akhirnya ia bertemu Chanyeol, sahabatnya.

“Chanyeol-ssi. Baekhyun dimana?” Tanya Nira.

“Aku tidak tahu. Sejak tadi aku juga belum bertemu dengan makhluk itu. Mungkind ia ada di taman belakang sekolah. Coba saja kau lihat.” Jawab Chanyeol.

Nira menghembuskan nafas nya. Ia pun langsung pergi ke taman belakang sekolah setelah mengucapkan terimakasih pada Chanyeol.

 

Benar saja. Baekhyun sedang sendirian duduk di taman sambil menghadap pada sungai buatan yang ada di taman. Nira mendekati nya. Seperti biasa jika ia gugup, ia akan meremas jari-jarinya. Keringat dingin muncul dari pelipis Nira. Ia berharap Baekhyun bisa membalas perasaan nya. Semoga.

“Baek?” Panggil Nira. Baekhyun menoleh ke belakang nya.

Baekhyun kembali melemparkan senyum maut nya pada Nira. Nira pun membalas senyuman nya itu.

“Hai Nira. Ada apa kau mengunjungi ku? Kau merindukan ku ya? Hahaha.” Canda Baekhyun.

“Iya aku merindukan mu. Aku akan merindukan mu, Baekhyun.”

“Haha kau ini percaya diri sekali.” Kata Nira. Ia memberanikan diri untuk duduk di sebelah Baekhyun.

“Kenapa kau tidak ke aula?” Tanya Nira penasaran.

“Aku juga tidak tahu. Aku lebih nyaman berada disini.” Jawab Baekhyun.

Mendadak saja Nira menjadi sedikit pusing. Ia bingung harus memulai nya dari mana. Jantung nya yang berdetak tidak normal mungkin sebentar lagi akan keluar dari tempat nya.

“Nira, kenapa setiap bertemu dengan ku wajah mu selalu pucat?” Tanya Baekhyun sambil menatap wajah Nira. Refleks Nira menyentuh wajah nya.

“A-aku, aku tidak tahu.” Jawab Nira. Menurut Baekhyun itu bukan jawaban. Ia ingin tahu kenapa Nira selalu pucat jika bertemu dengan nya.

“Jujur saja lah. Jika kau berhadapan dengan ku, wajah mu selalu pucat. Aku ingin bertanya pada mu. Tapi selalu ku pendam. Sekarang aku ingin tahu jawaban nya.” Kata Baekhyun.

Nira menelan ludah nya sendiri. Apa yang harus ia katakan? Apakah ini sudah waktunya untuk menyatakan perasaan pada Baekhyun? Baiklah.

“Kau… ingin tahu?” Tanya Nira.

“Tentu saja.”

Sambil membetulkan posisi kacamata nya, Nira menghembuskan nafasnya. Berat. Rasa nya ia ingin menangis saat ini juga.

“Byun Baekhyun, kau tahu. Dari awal aku masuk ke sekolah ini, aku tertarik pada seorang namja. Ia sangat tampan dan manis. Yang membuatku lebih terpana lagi ketika aku melihat mata dan tawa nya.” Jelas Nira.

Baekhyun agak  bingung dengan perkataan Nira. Ia tidak bicara apapun. Ia ingin Nira melanjutkan nya hingga selesai.

“Tapi entah kenapa, aku tidak punya nyali untuk mendekati nya. Junmi, sahabat ku bilang, jangan terlalu jatuh terlalu dalam ke lubang cinta nya. Jika kau mencintai nya terlalu dalam, kau akan susah keluar dari sana.” Lanjut Nira.

“Junmi juga mengatakan pada ku agar masa lalu saat aku masih ada di bangku sekolah menegah pertama tidak terulang lagi. Dan aku mentekadkan hati ku untuk tidak mencintai nya terlalu dalam. Tetapi apa? Aku malah mencintai nya terlalu dalam. Bodoh sekali kan aku? Haha.”

“Aku sangat berharap. Sangat berharap agar namja itu membalas cinta ku. Dan aku akan menyatakan perasaan ku selama ini pada namja itu. Hari ini juga. Aku tidak tahu apa balasan nya nanti.” Suara Nira mulai parau. Pertahanan nya runtuh. Ia menangis. Air mata mengalir deras di pipi nya. Baekhyun semakin bingung di buatnya.

“Hati ku sudah lelah memendam perasaan ini selama 3 tahun. Ini menjadi beban dalam hidup ku.” Lanjut Nira lagi dengan suara yang serak.

“Kau ingin tahu siapa namja itu?” Tanya Nira pada Baekhyun.

“Tentu saja aku ingin tahu.” Jawab Baekhyun.

Nira melepas kacamata dan menghembuskan nafas nya. Air matanya terus menerus mengalir. Ia membiarkan air matanya mengalir karena itu semua beban yang ingin ia keluarkan selama ini.

“Kau. Kau orang nya Byun Baekhyun.” Ujar Nira.

Baekhyun membelalakan matanya. Ia tidak percaya Nira, yang hanya ia anggap teman, menyukai nya dari kelas 1 hingga sekarang ini. Baekhyun bingung ingin berkata apa. Bibir nya menjadi kelu. Ia sangat ingin mengatakan kalau ia juga menyukai Nira. Bahkan mencintai nya.

Ya, Baekhyun juga menyukai Nira selama ini. Tetapi Baekhyun menyukai Nira sejak kelas 2. Baekhyun juga bingung kenapa ia menyukai Nira. Padahal ia tidak pernah dekat dengan Nira. Baekhyun terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan nya yang ia pendam sejak lama. Ia berfikir, selama ini ia tidak pernah dekat dengan Nira dan tiba-tiba saja ia menyatakan perasaan nya. Itu hal yang sangat konyol.

Saat ini, Baekhyun sangat ingin membalas perasaan Nira. Tapi semuanya terhalang dengan sebuah janji. Janji yang di buat oleh orang tuanya. Sebuah pertunangan. Setelah acara kelulusan, orangtua Baekhyun akan mempertunangkan Baekhyun dengan seorang wanita pilihan orangtua nya. Baekhyun tidak bisa menolak nya. Ia sangat sayang dengan orangtua yang sudah merawat nya dari kecil hingga sekarang.

“Baekhyun? Kenapa kau terdiam?” Tanya Nira dengan seringai kecil di bibirnya.

“Nira.” Ujar Baekhyun.  Nira menatap mata Baekhyun dengan mata sayu milik nya.

Baekhyun sangat sedih menatap mata milik Nira. Memerah dan penuh air mata. Apakah ia harus mengatakan nya? Apakah ia harus menyakiti hati gadis yang selama ini ia cintai? Seperti nya, iya. Baekhyun tidak bisa berbohong pada Nira.

“Nira maafkan aku.” Ujar Baekhyun. Tiba-tiba Nira merasakan sakit yang amat luar biasa di hatinya. Kali ini ia yang tidak bisa bicara. Ia menunggu Baekhyun mengatakan kalimat-kalimat menyakitkan selanjutnya.

“Aku sangat ingin membalas cinta mu. Asal kau tahu, aku juga mencintai mu sejak lama. Tapi orang tuaku sudah memilihkan gadis untukku. Aku tidak bisa menolak permintaan mereka. Aku menyayangi mereka. Maafkan aku Nira.”

Sakit? Tentu saja. Nira merasakan beribu-ribu jarum menusuki hati nya dalam.  Ia merasa dirinya seperti orang bodoh sekarang. Ia merasa dirinya sebagai wanita murahan. Yang mengungkapkan perasaan nya terlebih dahulu. Nira sekarang sudah tahu jawaban dari Baekhyun. Ia tidak bisa mengharapkan nya lagi. Baekhyun akan bertunangan. Iya, bertunangan.

Cintanya selama ini ia anggap sia-sia. Baekhyun, pria yang selama ini ia cintai  tidak bisa membalas perasaan nya. Nira tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Nira tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi. Semua nya terhenti sampai sini saja. Kejadian masa lalu nya terjadi lagi hari ini. Nira benci semua ini. Sangat benci.

“Hahaha, aku mengerti Baekhyun. Kau tahu, sebelum aku menemui mu disini, hati kecil ku berkata bahwa kau tidak akan membalas perasaan ku. Tapi aku menepis itu semua. Aku yakin kau akan membalas perasaan ku. Ketika aku sampai disini dan mengungkapkan semuanya, ternyata kau menjawab seperti itu. Aku tidak percaya dengan hati kecil ku sendiri. Aku sangat bodoh ya?” Ujar Nira panjang lebar. Baekhyun terdiam dan menundukan kepala nya. Perasaan menyesal menjalar di hatinya.

Nira menyeka sisa-sisa air mata yang ada di pipi nya. Ia bangkit dan meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam.

“Terimakasih Byun Baekhyun. Kau sudah membuat hari-hari ku berwarna. Walaupun aku bisa dekat dengan mu baru-baru ini. Sekali lagi, terimakasih.” Ucap Nira sebelum meninggalkan Baekhyun.

Setelah Nira sudah tidak ada di hadapan nya lagi, Baekhyun merasakan mata nya memanas. Hati nya bergejolak. Ia berteriak sekencang-kencangnya. Ia tidak peduli suaranya akan habis setelah ini. Ia menyesal selama ini tidak mengungkapkan perasaan nya pada Nira. Baekhyun membenci dirinya yang sangat pemalu. Baekhyun benci pada dirinya.

Jika ada penghargaan orang yang paling pengecut sedunia, ia yakin ia akan mendapatkan pernghargaan itu. Sekarang orang yang dicintai nya sudah pergi. Choi Nira sudah pergi. Baekhyun tidak tahu setelah ini Nira akan melanjutkan sekolah dimana. Ia merasa dirinya sangat bodoh.

“Choi Nira. Mianhae..” Lirihnya.

***

2 years later..

Seorang gadis cantik sedang menyeruput vanilla latte yang ia pesan tadi. Tetapi mata nya tidak beralih pada layar laptop yang ada dihadapan nya. Gadis ini fokus pada sebuah novel yang sedang dibuatnya sekarang ini. Ia sengaja membuatnya di caffe seperti ini agar pikiran nya lebih terbuka. Ia merasa jika ia membuat novel ini dirumah, pasti pikiran nya kemana-mana dan akhirnya tidak akan mendapat inspirasi. Lagi pula ia juga butuh refreshing. Karena selama ini ia hanya belajar terus menerus mengingat sekarang dia sudah menjadi mahasiswi.

Choi Nira merenggangkan tubuh nya sejenak. Ia kembali menyeruput vanilla latte miliknya yang sudah mulai dingin. Semenjak menjadi mahasiswi, Nira sudah tidak menjadi kutu buku lagi. Mengunjungi perpustakaan juga tidak setiap hari. Dan tahu tidak, sekarang Nira adalah gadis yang populer di universitas nya. Selain pintar, Nira sudah menjadi putri yang sangat cantik. Dambaan semua laki-laki. Ia sudah tidak memakai kacamata dan kawat gigi lagi. Ia memasang softlens pada mata bulat nya itu. Mungkin, teman-teman nya saat ia masih SMA akan terkejut melihat penampilan Nira yang sangat berubah drastis. Lebih cantik.

Hah~ kenapa aku susah sekali mendapatkan inspirasi ya? Menyebalkan sekali.” Gumam nya. Nira meniup poni nya dengan kasar. Baru kali ini ia susah mendapatkan inspirasi untuk novel nya. Biasa nya, inspirasi mengalir deras di otak Nira.

Saat Nira mencoba mencari inspirasi, pandangan nya tertuju pada seorang pria yang duduk di etalase kafe paling ujung. Pria itu sedang sibuk mengotak-atik ponsel nya. Nira seperti mengenali sosok itu. Mungkin teman saat SMA. Pikirnya. Nira pun melanjutkan kegiatan mengetiknya yang selama beberapa menit tertunda.

Tapi entah mengapa tiba-tiba perasaan nya menjadi gelisah. Ia menjadi tidak konsentrasi pada novel nya. Pandangan matanya terus menerus tertuju pada pria yang duduk di ujung sana. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri.

“Ada apa dengan aku ini. Kenapa pandangan ku tertuju pada pria itu terus ya? Apa aku mengenalnya?” Tanya Nira pada dirinya sendiri.

Akhirnya, ia memutuskan menyudahi kegiatan menulis novel nya dan segera beranjak dari kafe tersebut. Tetapi tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memanggilnya.

“Nira?”

 

Ia mengenali suara ini.

 

Ia tahu siapa pemilik suara ini.

 

Ia sangat merindukan suara ini.

 

Ia sangat merindukan nya.

 

Nira membalikan tubuh nya perlahan.

Dan ternyata benar. Dugaan nya tidak salah. Tubuh nya seketika terpaku melihat sosok yang selama ini ia rindukan. Sosok yang selama 2 tahun ini tidak pernah muncul dihidupnya lagi. Mata Nira memanas. Bulir-bulir air mendesak ingin keluar dari mata indah nya itu.

Byun Baekhyun, ia tersenyum pada Nira. Senyum yang sangat Nira rindukan selama ini. Akhirnya bisa ia lihat saat ini juga. Ingin rasa nya Nira memeluk Baekhyun. Tapi mengingat kejadian 2 tahun lalu, ia menahan dirinya untuk tidak memeluk Baekhyun. Baekhyun sudah mempunyai tunangan saat ini. Mungkin sekarang ia sudah menikah. Ia tidak ingin menjadi perusak hubungan orang.

“Nira, aku sangat merindukan mu.” Ujar Baekhyun. Ia mendekati Nira dan memeluknya.

Nira terkejut dengan perlakuan Baekhyun. Kenapa Baekhyun memeluknya? Bukan kah ia sudah mempunyai pendamping hidupnya? Nira bingung. Tapi ia tidak memberontak saat Baekhyun memeluknya hangat. Ia membiarkan Baekhyun memeluk nya. Walaupun, mungkin hanya sekali ini saja.

“Aku juga merindukan mu, Baekhyun.” Balas Nira akhirnya. Pertahanan nya runtuk kembali. Ia menangis di pelukkan Baekhyun.

Kedua nya tidak peduli dengan orang-orang yang menatap mereka. Baekhyun dan Nira sudah di selimuti rasa rindu yang teramat dalam.

***

“Apa?! J-jadi kau…”

“Iya. Aku sudah memutuskan pertunangan ku dari seminggu yang lalu. Kau tahu, wanita yang ingin dinikahkan dengan ku ternyata wanita yang tidak benar. Saat aku mengunjungi apartemen nya, aku mendapati wanita itu dengan pria lain sedang melakukan suatu hal yang harusnya di lakukan setelah menikah. Jadi, aku meminta pada orangtua ku untuk memutuskan pertunangan ini. Dan orangtua ku setuju dan membolehkan ku menikahi wanita pilihan ku sendiri.” Jelas Baekhyun panjang lebar.

Senang. Perasaan yang sedang menjalar di tubuh Nira saat ini. Ternyata Baekhyun tidak jadi menikah dengan wanita pilihan orang tuanya.

“Hmm, jadi…” Omongan Nira terpotong. Baekhyun menatap Nira penasaran.

“Siapa wanita pilihan mu itu, Tuan Byun?” Tanya Nira dengan nada yang dibuat bercanda agar tidak terlalu kaku. Baekhyun menyipitkan mata nya. Tatapan usil ia tunjukkan pada Nira.

“Kau ingin tahu?” Baekhyun berbalik tanya. Nira menganggukan kepala nya kecil.

Baekhyun masih belum menjawab pertanyaannya. Angin di taman berhembus kencang sehingga membuat rambut Nira agak berantakan. Baekhyun menggeser posisi duduk nya ke arah Nira. Ia merapihkan rambut Nira yang di terpa angin tadi. Lalu ia menyingkirkan poni yang berserakan di kening Nira. Tanpa rasa malu-malu, Baekhyun mencium kening Nira dengan lembut.

Nira merasakan perasaan ini lagi. Perasaan yang membuatnya seperti orang bodoh. Jantung nya berdetak tidak normal. Seketika jari-jari nya menjadi dingin. Dan, mungkin saja wajah nya menjadi pucat. Haha.

“Kau orang nya, Nona Choi.” Ujar Baekhyun menjawab pertanyaan Nira tadi.

Nira menyunggingkan senyum manis nya. Baekhyun sangat merindukan senyum itu dan hari ini ia bisa melihatnya lagi.

“Would you be mine?”

Tanpa basa-basi lagi, Nira menganggukan kepala nya mengiyakan. Sekarang ia sudah resmi menjadi milik Byun Baekhyun. Pria yang ia cintai sejak 5 tahun silam. Akhirnya cinta Nira, si kutu buku terbalas.

“Hey kutu buku. Wajah mu pucat sekali. Hahaha!” Ujar Baekhyun dengan nada mengejek.

Nira memukuli lengan Baekhyun dengan tangan mungilnya. Untuk menghindari serangan lebih lanjut, Baekhyun berlari meninggalkan Nira.

“Dasar makhluk menyebalkan! Awas kau Byun Baekhyun!!”

-END-

Horee selesaaii! 😀

Masih inget sama saya? Yang buat FF Like A Knife ituloh /promosi dikit/

Gimana FF nya? Jelek? Gaje? Bosenin? Aneh?

Silahkan kasih kritik dan saran. Agar FF selanjutnya yang akan saya bikin lebih baik lagi. Oh iya, kalo mau kasih saran dan kritik di twitter, silahkan mention ke @vnkpspm. Nanti saya balesin.

Terimakasih~~ /jalan bareng sehun/

 

13 thoughts on “Painful

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s