Part Of My Life

Part of My Life

 

Tittle : “Part of My Life”

Author : Jung Nady

Genre : Romance

Cast : Oh Sehun, Park Seara

eeeeeeeeeeeeeeexxxxxxxxxxxxxooooooooooooooo

Matahari, kunamai kau matahari. Sebagai penyambutku di Pagi hari.

Seoul , South Korea  Februari 12

Hari yang cerah dengan udara yang sejuk menyelimuti kota Seoul di Pagi hari. Seorang gadis tengah duduk di kursi, dia berada di taman saat ini untuk melakukan hobby nya, menuangkan segala pikiran yang ada di otaknya dengan menggambar sketsa taman kota di Pagi hari. Dia memulas buku gambarnya itu dengan pensil gambar yang ia pegang sambil tersenyum menikmati rutinitasnya itu. Ia mengalihkan pandanganya ke depan, mengamati dengan detail apa yang terjadi di taman pada Pagi hari, dia selalu suka melihat taman yang sepi di Pagi hari untuk mengamati tumbuhan tumbuhan yang ada di area taman itu, bunga bunga yang berguguran karna saat ini musim semi yaitu musim favoritnya, atau hanya sekedar menikmati udara sejuk di pagi hari sambil menyapa burung yang berterbangan.

Dia mengarahkan pandanganya ke jalan setapak yang ada di dalam taman itu. Diam diam dia tersenyum melihat sesosok pria yang tengah berolahraga santai di taman yang sama denganya.

‘pria itu lagi’ batinya, kenapa mereka bisa selalu bertemu disaat yang sama? Apakah ini sebuah takdir tuhan? Atau hanya sekedar kebetulan? Pria yang ia tak ketahui namanya itu memang sudah membuat detak jantungnya berpacu cepat setiap kali dia melihatnya, sedikit memalukan memang tapi senang mengetahui pria itu selalu ada di sana. Membuat rutinitas paginya sangat lengkap. Keindahan taman dan sesosok pria yang ia kagumi.

Ia melanjutkan aktivitas menggambarnya itu sambil sesekali memutar mutar pensil yang ada digenggamanya.

“Permisi, boleh aku duduk disini?” ucap seseorang yang membuatnya menengok ke arah suara itu, betapa kagetnya dia saat mengetahui pria yang ada dihadapanya itu pria yang diam diam ia kagumi selama ini.

“ahh ya, silahkan.” Ucapnya sambil menggeser duduknya sedikit ke tepi, memberi ruang pria itu untuk duduk.

“Aku sering melihatmu disini saat pagi hari, apa yang kau lakukan setiap duduk di kursi ini?” Tanya pria itu.

“Aku menggambar sketsa taman ini.” Tunggu dulu, berarti pria ini mengamatinya selama mereka ada di taman yang sama. Ia merasa benar benar ingin teriak saat itu juga.

“kau suka menggambar? Apa kau tidak bosan?”

“Ani, aku tidak pernah bosan dengan hobby ku.” Ucapnya sambil tersenyum tapi tidak berani menatap pria itu.

“apa aku boleh melihat gambar gambarmu?”

“Baiklah, tapi jangan mengejeku setelah kau melihat gambarku!” jawabnya sambil menyodorkan buku ke arah pria itu

Pria itu membuka lembar demi lembar buku gambar sambil sesekali tersenyum tipis,

“Kau benar benar mempunyai bakat menggambar!” pujian yang sontak membuat jantung gadis itu berdetak gila gilaan.

“Ghamsamhamnida” kali ini dia menatap pria itu lalu buru buru menatap ke arah lain, dia terlalu malu untuk menunjukan muka merahnya itu kepada pria yang ada dihadapanya itu.

“Apakah ini aku? Sepertinya sangat mirip denganku.”

DEG!! Mati kau, dia memang memasukan pria itu sebagai salah satu objek dalam sketsa gambarnya, saat pria itu sedang berolahraga.

“Heii ada banyak gambarku disini, kau seperti penguntitku.” Sindir pria itu sambil terkekeh pelan

“Anniya, aku hanya memasukan kau sebagai salah satu objek gambarku.” Alihnya, sudah pasti dia menggambar pria itu. Selain sebagai salah satu objeknya dia tidak akan mau melepaskan kesempatan menggambar objek semenarik itu, pria yang ia kagumi.

Pria itu mengembalikan buku pada gadis itu lalu melihat ke arah jam yang sedang di pakainya.

“Baiklah saatnya aku pulang, sampai bertemu lain kali agashi.” Ucap pria itu sambil bangkit berdiri dan hendak berjalan menjauh.

“Tunggu dulu, Siapa namamu?” ucap pria itu berbalik lagi ke arahnya dan mengulurkan tanganya

“Seara. Park Seara” jawabnya gugup sambil menerima jabatan tangan pria itu

“Oh Sehun, panggil saja Sehun.”

“Baiklah aku pergi dulu, bye” ucap sehun sambil berbalik meninggalkan seara.

Oh Sehun, berhati hatilah mulai saat ini. Karna sepertinya aku benar benar tertarik kepadamu!

 

Pelangi itu seperti hidupku setelah bertemu kau, panjang dan berwarna. Selalu berhasil membuatku tersenyum.

 

Gangnam, Seoul  December 28

“Yak! Sudah kubilang jangan bergerak dulu dan teruslah tersenyum Sehunaaaa~!!” teriak seara pada sehun

“tapi aku sudah lelah bergaya setengah jam seperti ini Park Seara!!!” protes sehun pada sahabatnya itu.

Karna dia kalah main game semalam, alhasil dia harus menerima hukuman yaitu menjadi objek gambaran seara.

“Kau cerewet, sebentar lagi selesai.”

Beberapa menit kemudian.

“selesaiii~” ucap seara senang sambil melihat karyanya yang berupa sehun berdiri dengan gaya nyentrik.

“Buatkan aku segelas jus jeruk! Aku haus.”

“Mwo? Kau pikir aku pembantumu? Shireo!!” tolak seara

“yaaa, kau yang menyuruhku berdiri selama satu jam dengan berpose seperti orang abnormal yang membuatku hampir mati kehausan!”

“kau berlebihan, kau tidak akan mati jika kau tidak minum selama satu jam bodoh!”

“Terserah, cepat buatkan aku minum!”

“Ck, dasar pria gila!”

“kau gadis kejam yang suka menyiksa pria tampan sepertiku!”

“tutup mulutmu jika kau tidak ingin mati kehausan Oh Sehun!”

Sehun terkikik geli saat melihat ekspresi kalah dari gadis itu.

“Jangan menertawaiku, atau kau benar benar akan mati setelah ini!”

***

Seara sedang mengamati hasil gambaranya akhir akhir ini, dia benar benar sudah mirip nenek sihir yang selalu menyiksa orang. Sehun adalah korban siksaan seara dengan menyuruhnya menjadi objek gambaranya. Dia tersenyum saat melihat gaya gaya abnormal sehun yang dia gambar.

Gadis itu, tidak pernah merubah perasaanya pada sehun. Dia masih tertarik pada sehun, tapi ada satu masalah yang membuatnya sedikit kewalahan menghadapinya. Dia tertarik pada pria itu di taraf paling tinggi sampai dia tidak bisa berpikir sehari tanpa pria itu. Sebut saja mencintai.

Bulan, penerangku dimalam hari sekaligus selimut malamku.

Gangnam, Seoul Maret 10

“Kau harus minum obat supaya kau cepat sembuh Seara!”

“Aku tidak suka benda kecil itu, jauhkan benda itu dariku!”

Sehun menggaruk kepalanya kesal, ini sudah setengah jam dia membujuk seara untuk minum obat tapi seara tetap saja menolak. Dia terlalu pusing memikirkan cara cara terjitu supaya seara mau dengan sukarela meminum obat yang ada ditanganya sekarang.

“aku mengantuk, jika sudah menyerah keluarlah dari kamarku! Aku ingin tidur.” Ucap seara sambil menarik selimutnya sebatas dada lalu memejamkan matanya. Lalu beberapa saat kemudian dia sudah berada dalam alam mimpinya itu.

Sehun tetap duduk di ranjang seara sambil menatap gadis itu dalam, gadis ini, gadis yang sedang tidur didepanya itu telah membuat khawatir setengah mati karna berita bahwa gadis itu tiba tiba pingsan di kampus saat hendak pulang. Dia bahkan bingung mengapa seara tiap hari selalu berhasil membuatnya kalang kabut memikirkan apa yang dilakukan gadis itu, apakah gadis itu baik baik saja, apa gadis itu makan dengan baik. Sebenarnya mudah saja memahami apa yang sehun rasakan, namun dia terlalu takut menunjukan semua rasanya dihadapan gadis itu. Dia takut gadis itu kecewa denganya karna ternyata sehun tidak seperti yang ia bayangkan.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu seara-ya. Berhentilah membuat hidupku seperti ini!” ucap sehun pada seara yang tertidur itu sambil menggenggam erat tangan gadis itu, menyibakan poni gadis itu kesamping. Mengelus pipinya lalu memberanikan mencium kening kepala gadis itu.

“Cepatlah sembuh, Aku mencintaimu.” Sehun berjalan kearah pintu lalu sekali lagi memastikan bahwa gadis itu terlelap tenang lalu memadamkan lampu kamar dan menutup pintu.

Seara menahan mati matian detak jantungnya yang mencepat seribu kali lipat dari biasanya. Apa yang terjadi barusan benar benar membuatnya gila. Pria itu, Oh Sehun sahabatnya itu ternyata juga mencintainya. Lalu mengapa dia tidak mengatakan perasaanya? Berbagai pertanyaan muncul dibenak seara. Dia terlalu bingung menentukan alasan kenapa pria itu bungkam tentang perasaanya. Tapi dibalik itu semua perasaan lega lebih mendominan di hati seara karena mengetahui ternyata sehun juga merasakan perasaan yang sama denganya.

“Nado sehunaa.” Ucapnya sambil tersenyum.

***

Takdir dan Kebetulan, Aku bertemu denganmu adalah takdir dan kita saling mencintai adalah kebetulan. Jadi kita tidak ditakdirkan bersatu bahkan disaat kita kebetulan memiliki perasaan yang sama.

Seoul, July 22

Hari ini, hari dimana seara harus meninggalkan Seoul untuk melanjutkan pekerjaanya sebagai seniman ke Amerika. Bukan dengan mudah dia melakukan ini semua. Dia memang senang mengetahui dia bisa menggapai cita citanya itu ke luar negeri tapi itu juga berarti dia harus meninggalkan sesuatu yang berharga. Pria itu.

Hari ini sehun berjanji akan mengantarkan seara ke bandara, gadis itu tidak habis pikir apa yang akan dia dan pria itu lakukan di saat saat mereka akan berpisah. Dia bahkan belum memberitahu sehun jika dia juga mencintainya. Dia berniat akan memberitahunya hari ini supaya sehun mengetahui bahwa kenyataanya sehun memiliki tempat khusus di hati gadis itu.

Seara mengerutkan alis bingung, ini sudah jam 11, dua jam lagi pesawatnya akan berangkat. Sehun berjanji akan menjemputnya jam sebelas tepat, tapi ini sudah jam 11 lebih 10 menit.

Dia merogoh saku jeans nya mencari ponsel untuk menelepon sehun. Tidak diangkat.Gadis itu mencoba menghubungi sehun sebelum akhirnya memutuskan pergi kerumah sehun.

***

“Anyyeonghassyo eomma, “ sapaku pada ibu sehun yang membukakan pintu rumah sehun,  aku memanggilnya eomma karena memang eomma sehun sudah mengenalku akrab.

“Ah seara-ssi. Ayo masuk?” tawar eomma sehun

“Anni tidak perlu, apa sehun ada didalam eomma?”

“Sehun sedang pergi ke pesta ulang tahun temanya.”

“Nugu?” tanyaku ragu, sehun tidak bilang jika dia ada acara lain hari ini,

“Jihyun, teman lama katanya. Ada perlu apa? Apa ada yang perlu eomma sampaikan?”

Jihyun? Kim Jihyun? Masa lalu sehun. Aku sedikit merasa kecewa mendengar sehun bersama gadis itu lagi. Gadis yang telah mencampakan sehun. Dia pernah bercerita padaku tentang masa lalunya yang bernama Kim Jihyun itu. Jihyun mencapakan Sehun karna dia di tembak oleh senior dengan predikat bintang kampus yang bernama Kris.

Aku merogoh tasku mengambil buku kecil bersampul coklat tua, dan menyerahkan buku itu ke eomma sehun. Buku diaryku.

“Buku ini tolong berikan pada sehun, ah Ghamsamhamnida eomma, aku pamit pulang.” Ucapku pada eomma

“Biklah, hati hati dijalan.” Ucap eomma sehun sambil tersenyum.

 

***

kim jihyun telah membuat sehun batal mengantarkan seara ke bandara. Sehun sudah membujuk mati matian agar dia dibebaskan pulang dari pesta ulang tahun jihyun itu dan hasilnya dia harus mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi untuk sampai di bandara sebelum jadwal keberangkatan seara.

Sesampainya dibandara sehun langsung memarkirkan mobilnya dan langsung berlalu menuju pintu keberangkatan luar negeri. Dia melihat ke papan jadwal keberangkatan. Sial sial sial, pesawat tujuan Amerika sudah berangkat 15 menit yang lalu. Dia mengutuk gadis bernama kim jihyun itu karna telah merusak saat terakhir bersama seara.

Sehun hanya bisa berjalan lesu kearah mobilnya dan mengemudikanya pulang.

 

Sehun membuka buku bersampul cokelat titipan seara yang baru saja diberikan eommanya, eommanya bilang seara tadi datang kesini dan menanyakan sehun. Itu benar benar membuat sehun tambah membenci orang bernama Kim Jihyun.

Dia membuka lembar pertama pada buku diary itu. Sehun membaca teliti setiap kata yang ada di buku itu sampai pada halaman terakhir dimana ia ingat dengan jelas apa yang terjadi seminggu sebelum seara pergi.

‘Apakah kau menyukai hujan?’ Tanya sehun pada seara yang sekarang sedang duduk di taman belakang rumah sehun untuk melihat bintang bersama melalui teropong sehun.

‘tentu, saat aku melihat hujan aku akan merasa senang dan juga sedih secara bersamaan.’

‘apa yang kau tahu tentang cinta sehuna?’ giliran seara bertanya pada sehun

‘cinta memiliki 2 sisi, yaitu sisi suka dan sisi duka.’

‘hujan dan cinta, bukankah mereka sangat mirip?’

Sehun menggenggam buku itu erat erat, jadi selama ini gadis itu juga menyukainya. Lalu mengapa mereka tidak bersatu? Mereka berdua hanya membungkam suara hati mereka. Apa mereka berdua terlalu naif?

Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya,

10 missed call 2 voice mail

1st voice mail

Apakah pestanya sangat menyanangkan? Kau mengabaikan teleponku!

Cepat angkat teleponku Oh Sehun!

2nd voice mail

Baiklah jika kau tidak mengankatnya aku akan mengatakanya disini.

Maaf untuk selama ini, mungkin sikap ku yang tidak bisa jujur padamu.

Sudah 2 tahun aku mengenalmu, itu membuatku sadar akan sesuatu. Bahwa aku tidak bisa terlepas darimu.

Aku mencintaimu.

 

Sehun mengusap kepalanya sebal. Ini semua terjadi tidak sesuai pikiranya, atau memang tuhan tidak mengijinkan mereka untuk bersatu bahkan disaat mereka saling mencintai. Sehun mengambil bolpen dari meja belajarnya dan menulis sesuatu di halaman terakhir buku diary itu.

Saat aku bertemu denganya aku selalu merasa bahagia, lalu saat itu aku membayangkan alasanku datang kedunia ini adalah untuk mengabdikan seluruh jiwaku untuk mencintai gadis yang satu ini.

***

Seara membuka pintu apartement nya dengan malas malasan, siapa orang yang berani mengganggu jadwal tidurnya pagi ini. Saat membuka pintu dia menemukan buket bunga azalea didepan pintunya. Di bagian sisi kanan terdapat secarik kertas bertuliskan nama Oh Sehun. Dia hanya tersenyum sambil memeluk bunga itu erat.

Azalea : Jaga dirimu baik baik untuku!

 

                                                                                                                                                ####

 

Maaf ya kalo gak jelas banget ff nya, ini 1st ff ku tentang exo. Masih bingung mau di lanjutin atau enggak, sebenernya pengen buat long ver tapi takut gagal nihh uu. Makasih udah baca ({})

9 thoughts on “Part Of My Life

  1. Sumpah bagus kata katanya keren banget. Feelnya ngena banget. Sumpe deh siapapun castnya ini cerita nya so sweet. Seara juga pnter ngerangkai kata kata.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s