Tell that I Love You

Title : Tell that I Love You

Author : @Lil_deer

Length : Drabble

Ratting : PG

Genre : Romance

Main Cast : Xi Luhan, Jung Nara (OC – YOU)

tell-that-i-love-you

Tidak tahu berapa lama aku memandanginya. Mataku seperti tidak mau lepas dari dirinya. Selalu seperti ini, setiap saat aku terus memandangi gadis yang duduk dipojok kelas, ia mencatat apapun yang dijelaskan oleh guru, tawa kecil saat ia bercanda dengan temannya. Ya, itu sebuah pemandangan indah bagiku. Dan hari ini, aku Xi Luhan akan menyatakan perasaanku padanya, gadis yang ku kagumi dan ku cintai, Jung Nara.

Aku sudah menyusun rencana pernyataan cintaku dengan sangat matang. Hari ini setelah kami rapat osis -kebetulan sekali kami berdua adalah anggota osis- aku akan memintanya untuk berbicara berdua. Ya, hanya berdua. Aku tidak mau mengajak sekongkol teman-temanku karena mereka pasti akan sangat menggangu nantinya.

 

Jam 3 sore rapat osis sudah selesai. Para anggota osis perempuaan sibuk membersihkan ruang osis seperti biasa sedangkan para lelaki hanya duduk-duduk diatas meja sambil cerita. Aku terus memandang Nara yang dengan giatnya menyapu ruang osis. Benar-benar gadis idaman.

 

Satu-persatu teman-teman anggota osis pun pulang. Aku sengaja mengulur-ngulur waktu, saat Nara akan keluar dari ruang osis, aku langsung menahannya.

 

“Nara-ssi, bisa kita bicara sebentar?”

 

Nara mendongakkan kepalanya menatapku. Aku selalu suka dengan tatapan matanya yang begitu lembut.

 

“Ya, ada apa Luhan-ssi?” Tanya Nara.

 

“Kita bicara didalam saja” balasku sambil menunjuk kedalam ruang osis. Nara terlihat sedikit bingung namun akhirnya menganguk.

 

——–o———-

 

Author’s POV

 

Diruang osis hanya ada Luhan dan Nara berdua. Luhan mengajak Nara duduk diatas meja. Nara mengikuti perintah laki-laki itu lalu ia menatap Luhan seolah-olah bertanya apa yang akan dibicarakan olehnya.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Nara. Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja lidah Luhan terasa kaku. Entah kenapa jantungnya mulai berdetak tidak karuan.

 

“Mm.. Nara-ssi, kita sudah saling mengenal semenjak kita kelas satu SMA, bukan?” Ujar Luhan dengan suara pelan. Nara memiringkan kepala lalu menganguk pelan.

 

“Mm.. Ya, kurasa begitu”

 

Luhan diam sejenak. Nara masih menatapnya dengan kepala miring menanti kata-kata selanjutnya dari Luhan. “Aku ingin jujur padamu” lanjut Luhan.

 

“Jujur? Jujur soal apa Luhan-ssi?”

 

“Aku ingin jujur tentang perasaanku padamu” balas Luhan mantap dan menatap lurus pada Nara. Nara tersentak kaget namun gadis itu mencoba tenang mendengarkan perkataan Luhan selanjutnya.

 

“Saat pertama kali melihatmu di upacara tahun ajaran baru dua tahun lalu, aku sudah merasakan hal yang aneh denganmu. Entahlah, kurasa ada sesuatu darimu yang membuat mataku tidak bisa berpaling” ujar Luhan dan kali ini tanpa menatap Nara. Laki-laki itu diam sejenak mencoba mengumpulkan keberaniannya.

 

“Apa kau tahu, sepanjang hari di jam sekolah aku selalu menatapmu? Aku selalu memperhatikan aktivitasmu. Menulis, membaca, tertawa, mengobrol. Semua itu hal yang biasa bagi orang lain tapi.. Aku merasakan hal yang berbeda saat aku melihatmu melakukan semua itu” Luhan berhenti sejenak sambil menghelah nafas pelan. “Aku merasa bahagia bisa melihatmu seperti itu, Jung Nara” Luhan mengangkat wajahnya lalu menatap tepat dibola mata Nara.

 

“Aku tidak memiliki apapun. Aku tidak sepintar Kyungsoo yang selalu meraih juara umum, aku tidak sepopuler Kai yang selalu menjuara kompetisi dance, aku juga tidak sekaya Suho yang memiliki mobil pribadi sendiri. Tapi aku punya satu hal yang tidak mereka miliki. Aku… aku mempunyai cinta yang besar untukmu. Aku mencintaimu Jung Nara”

 

Ya, itu kata terakhir yang keluar dari bibir Luhan. Kata-kata yang benar-benar berasal dari dalam hatinya tanpa skenario sedikitpun. Luhan masih menatap Nara yang hanya diam didepannya. Dia terus diam tanpa bereaksi, dan itu membuat Luhan cukup sakit hati. Laki-laki itu hanya bisa menunduk malu, mencoba menutup raut kecewanya.

 

“Wah, ternyata kau puitis juga ya?” Suara khas yang ceria itu terasa begitu menggema di telinga Luhan. Ia mengangkat wajahnya perlahan menatap gadis yang berada dihadapannya itu. Nara sedang tersenyum padanya namun sedetik kemudian ia tertawa pelan.

 

Luhan menatapnya dalam diam. Apa dia pikir kata-kata Luhan tadi hanya sebuah puisi belaka?

 

“Aku suka laki-laki yang puitis”

 

Luhan menatap Nara cepat. Gadis itu masih sedikit tertawa namun sesaat kemudian ia menyembunyikan tawa itu dari bibirnya dan digantikan dengan senyum manis. “Itu berarti dia laki-laki yang romantis. Bukankah begitu?”

 

Luhan mencoba tertawa hambar. “Tapi aku tidak merasa seperti laki-laki romantis”

 

Mereka berdua diam sejenak. Terdengar Nara menghelah nafas pelan. Gadis itu merubah posisinya tidak lagi menghadap Luhan lalu dia berkata. “Tapi ya, jujur saja, aku lebih menyukai laki-laki pintar seperti Kyungsoo, laki-laki populer seperti Kai, dan laki-laki kaya-raya seperti Suho”

 

Dahi Luhan berkerut dalam saat mendengar Nara mengatakan hal itu dengan sangat santai. Bahkan terdengar seperti sebuah ejekkan ditelinga Luhan.

 

“Mm.. Mereka memang benar-benar laki-laki idaman wanita”

 

Luhan menghelah nafas jengkel mendengar semua perkataan Nara. Laki-laki itu benar-benar merasa terhina.

 

“Kau benar, Jung Nara” dengus Luhan dengan sinis. Nara menatap Luhan sejenak dan kemudian tersenyum lalu menunduk menatap sepatunya.

 

“Tapi… walaupun sepintar, sepopuler, dan sekaya apapun, mereka tetap tidak bisa merubah perasaanku” ujar Nara pelan. Gadis itu tertawa sendiri masih dengan posisi menatap sepatunya.

 

Luhan menatap Nara dengan perasaan bertanya. Raut wajah laki-laki itu mulai berubah seperti orang frustasi.

 

Tiba-tiba Nara kembali menatap Luhan, ia tersenyum begitu manis sehingga membuat jantung Luhan semakin berdebar tidak karuan. “Perasaaan bahwa aku juga mencintaimu, Xi Luhan”

 

Tubuh Luhan tergoyah pelan. Otak laki-laki itu terasa lumpuh. Ia tidak sanggup mencerna dengan cepat arti dari perkataan Nara tersebut.

 

“Kau bilang apa tadi?” Tanya Luhan tanpa sadar. Nara memutar bola matanya lalu bergegas membenahi tas dipunggungnya.

 

“Tidak ada siaran ulang, tuan Xi” ujar Nara acuh namun terlihat jelas gadis itu menyembunyikan tawanya. Nara berdiri lalu berjalan meninggal Luhan yang masih terbengong ditempatnya.

 

“Yah, Jung Nara, aku serius!” Teriak Luhan tersadar lalu menyusul Nara yang sudah keluar dari ruang osis. Ada nada jengkel dan cemas disela-sela teriakkan Luhan.

 

Nara membalik tubuhnya lalu menatap Luhan yang berjarak agak jauh darinya. Gadis itu tersenyum lalu berteriak. “Aku juga mencintaimu, Xi Luhan! Puas?” Teriak gadis itu diselingi dengan tawa.

 

Luhan terdiam dikoridor memandang Nara yang semakin jauh darinya. Laki-laki itu tidak bisa menggambar seperti apa perasaannya sekarang. Ia hanya bisa tersenyum sambil menatap gadis yang dicintainya itu.

 

“Jung Nara, tunggu disana!” Teriak Luhan dan berlari mendekati Nara. Gadis itu hanya bisa bengong menatap Luhan yang berlari mendekatinya. Laki-laki itu langsung memeluk Nara saat gadis itu berada didepannya.

 

“Gomawo Jung Nara, jeongmal saranghaeyo” ujar Luhan dengan penuh perasaan. Wajah Nara memerah seketika. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya lalu menyembunyikan wajahnya di dada Luhan.

 

THE END

20 thoughts on “Tell that I Love You

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s