Diposkan pada Chapter, D.O, Family, leejieun93, Lu Han, Sad Romance

The women Next Door [Part 1]

PJY1234

Title                 :  The women Next Door [Part 1]

Author            : Park  Hana

Cast                : Park Jiyeon, DO Kyungsoo, Xi Luhan.

Genre             :  Sad Romance, Family.

Length           : Chapter

Rating              : PG  15+

Warning         : Typo dimana-dimana!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Summary       :  Bukankah Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan makhluknya, tapi kenapa Tuhan seperti menghukumku seakan aku tak pantas tersenyum. Semuanya mulai menghilang dan meninggalkanku sendiri.

969703_595485813825704_1912038729_n

Park Jiyeon

large

DO Kyungsoo

Baiy_L1CcAA8URo

Xi Luhan

Bagi yang gak suka sama cast nya bisa bayangin castnya sesuka kalian^^

 

It’s Hurt

“Luka itu begitu menyakitkan. Bagaimana aku menghilangkan semua luka ini? karena jika ini tak dihilangkan, maka aku akan terus merasakan kesakitan yang tidak bisa aku atasi”.

Itulah isi hati seorang perempuan yang saat ini tengah berjalan sambil membawa koper. Dia terus berjalan dengan pandangan kosong.  Di wajahnya tersirat sebuah kesedihan yang seakan menelan semua kebahagiaannya.

Dia kini sampai didepan sebuah gedung apartement. Dia menghentikan langkahnya, lalu menengadahkan kepalanya melihat keatas langit. Hawa dingin Seoul saat itupun seakan tak membuat dia kedinginan, karena hawa dingin itu tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa dingin didalam hatinya.

Setelah puas menatap langit, dia pun melanjutkan langkahnya memasuki apartement tersebut.

Perempuan itu kini sudah sampai di depan sebuah pintu, dia menekan beberapa tombol dan akhirnya terdengar suara yang menandakan pintu sudah bisa dibuka.

Masih dengan pandangan kosong, dia menggerakan tangannya menuju knop pintu lalu membuka pintu apartemen itu.

Sebuah ruangan yang semua barangnya ditutupi kain putih pun terlihat di depan matanya. Dia lantas meletakan kopernya dilantai begitu saja, sedangkan dia sendiri berjalan dengan mata menerawang keseluruh ruangan tersebut.

Perempuan itu kini duduk disebuah sova yang masih ditutupi kain putih. Dia duduk dengan badan yang bersandar disova tersebut. Perlahan tangannya pun bergerak meraba tempat dipinggirnya dan matanyanya pun terarah pada tangannya yang sedang meraba tempat dipinggirnya, seakan dulu pernah ada orang yang duduk disana. kini seulas senyum terukir dibibirnya. sebuah senyum cerah, namun sinar matanya masih tetap sama kosong , terpancar kesedihan disana.

Setelah itu, dia berdiri lalu menarik kain putih yang menutupi meja. Dan bukan hanya kain putih diatas meja saja yang dia tarik, tapi semua kain putih yang ada disana.  Setelah selesai, dia kembali kearah pintu masuk, untuk mengambil kopernya.

Dia membawa kembali kopernya menuju kamar, lalu menaruhnya di atas tempat tidur. Dibukalah isi koperna yang berisi baju-baju miliknya.

Dia mulai mengambil salah satu baju miliknya, lalu menuju lemari pakaian yang sudah terisi penuh oleh baju laki-laki.

Dia menjatuhkan baju miliknya, lalu mengambil salah satu kemeja berwarna putih dan kini mata perempuan itu mulai berkaca-kaca.

Dipeluknya kemeja putih tersebut, dan kini sebuah kenangan manis tentang dirinya dan seseorang dimasa lalu.

“Ini sangat sakit, bagaimana bisa aku mengatasi rasa sakit ini? tolong aku, jawab aku” batinnya.

Dia lalu menjatuhkan badannya kelantai sambil masih memeluk kemeja putih tersebut. tak beberapa lama kemudian air matanya mulai menetes. Semakin lama dia menangis, semakin keras tangisannya. Sebuah tangisan kesakitan karena kehilangan seseorang yang di cintai.

Mata basahnya kini menatap kearah koper miliknya, dia lantas mendekatinya dan mengeluarkan semua isi kopernya seakan sedang mencari sesuatu.

Sebuah botol obat, itulah yang dia cari, dan setelah dia dapatkan diapun membuka penutupnya kemudian mengambil satu butir obat dari sana. Merasa tak puas diapun menumpahkan beberapa butir obat keatas telapak tangannya, lalu memasukan semuanya kedalam mulutnya.

***

Seorang lelaki tengah menatap pemandangan malam Seoul dari jendela taksi yang dia tumpangi. Sebuah senyuman tak sedikitpun luntur dari bibirnya seakan dia begitu menikmati semua itu.

“Kita sudah sampai !” ucap supir taksi.

“Eo benarkah?” tanyanya sambil melihat keluar jendela.

Lelaki itu dengan segera mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu diberikan pada sang supir taksi, kemudian turun dari taksi.

Lelaki itu mulai berjalan mendekati sebuah gerbang rumah, lalu dia melihat sebuah tulisan yang ada diatas kertas yang merupakan sebuah alamat.

Dia tersenyum ketika melihat nomor rumah dalam kertas sama dengan yang ada didepannya. Lelaki itu lantas  menghela napasnya panjang lalu tersenyum.

“Inilah rumahku sekarang!” ujarnya dengan bersemangat.

Dia lalu membuka pagar dan memasuki rumah tersebut. dia menaiki sebuah tangga yang memang menuju kesebuah rumah atap.

Dia mengarahkan pandangannya kesemua arah, dan tersenyum senang melihat pemandangan Seoul dari atap rumahnya.

Dia melihat begitu indahnya malam itu, akhirnya dia mendapat suatu pemandangan yang lain dari biasanya. Dan kini pandangan matanya dia arahkan pada sebuah gedung tinggi apartemen yang berada didepannya.

“Wuah ini hebat, ini sangat  hebat. Benarkan Xi Luhan?” ujarnya.

“Aku rasa disini lebih baik dibanding ditempat tinggi didepan sana, sama seperti rumahku. sangat membosankan!” tambahnya.

Setelah puas berada disana, lelaki itupun membawa kopernya lagi, lalu masuk kedalam rumah.

***

“ Pagi selalu terasa sama saat dia sudah tak ada disini, meskipun didalam sini terasa hangat, namun kenapa aku merasakan badanku selalu dingin”

Itulah pikiran wanita yang mempunyai nama Park Jiyeon.

Jiyeon menggerakan tangannya menuju kaca jendela yang berembun, lalu menulis sesuatu.

It’s Hurt

Jiyeon tersenyum melihat tulisannya, lalu setelah itu dia mulai beranjak dari tempatnya yang sekarang. Dia pun berjalan menuju televise lalu menyalakannya.

Jiyeon duduk di sova dengan pandangan yang mengarah kearah layar Tv, namun pancaran matanya masih terlihat kosong, bahkan dia tidak menyimak apapun yang di tayangkan di TV.

Air mata pun mulai menetes membasahi pipinya, Jiyeon lalu menghapus air matanya menggunakan punggung matanya  kemudian  tersenyum.

Mulut Jiyeon pun mulai berguman sangat pelan, bahkan jika saja saat ini ada seseorang dipinggirnya.orang itu tidak akan bisa mendengar gumanan Jiyeon dengan jelas, karena pelannya gumanan Jiyeon tersebut.

Jiyeon tiba-tiba bangun dari duduknya, dan mulai terlihat khawatir.

“Ah eottokhae? Eottokhae?” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan sedikit mengacak-ngacak rambutnya.

***

Jiyeon saat ini sudah rapi, dia memakai dress selutut dan sebuah sweater. Rambutnyapun dia ikat.

Dia tersenyum melihat pantulan dirinya didepan sebuah cermin. Diusap rambutnya itu menggunakan tangannya sendiri.

“Cantik”

Jiyeon merasakan seseorang memeluknya dari belakang sambil membisikan kata-kata cantik ditelinganya.

Jiyeon tersenyum bahagia, dan hendak memegang tangan seseorang yang memeluknya itu. namun tiba-tiba dia sadar bahwa dia hanya sendirian disana. kedua matanya mulai berkaca-kaca saat itu juga.

Jiyeon memundurkan langkahnya, dengan pandangannya yang terlihat sangat nanar. Beberapa kali dia berguman pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah kira-kira jaraknya 2 meter dari tempat dia tadi, tubuhnya terjatuh dilantai. Air mata kembali keluar dari ujung pelupuk matanya dan membasahi pipinya.

Dia mulai menggerakkan tangannya menuju dadanya, yang entah kenapa terasa seperti ditusuk-tusuk sesuatu.

Jiyeon meremas bajunya, dan tangisannya semakin mengeras. dia menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya itu, lalu setelah itu memukul-mukul dadanya yang terasa sakit sedari tadi.

Jiyeon menghentikan tangisannya tiba-tiba, dia mulai berdiri dan menuju meja kecil di pinggir tempat tidurnya.

Sebuah botol yang berisi obat itulah yang dia cari. Jiyeon mengambil obat tersebut sebanyak dua butir kemudian mulai menelannya tanpa minum.

Jiyeon menjatuhkan tubuhnya kembali kelantai, kemudian menyenderkan kepalanya di meja tersebut, sbuah senyum kini terukir di bibirnya.

“Masih sangat sakit, kenapa rasa sakit ini tidak pernah hilang?apakah aku harus meminum semua obat itu agar rasa sakitnya hilang?” bati Jiyeon

Perlahan tubuhnya mulai merosot dan terbaring dilantai, jiyeon menggunakan tangannya sebagai bantalan kepalanya. Dia menatap kosong arah depannya. Air mata Jiyeon menetes kembali dan Jiyeonpun kini mulai memejamkan kedua matanya.

***

~~~6 years ago~~~

Seorang gadis tengah menangis didepan foto kedua orang tuanya. dia terus menangis tanpa memperdulikan pelayat yang datang.

“Jiyeon-ah sudahlah ini sudah takdir. Kau tak usah khawatir masih ada aku dan Sunyeong”.

Perempuan paruh baya yanga dalah bibi Jiyeon kemudian memeluknya, dan menepuk-nepuk pungung Jiyeon. Namun beberapa saat kemudian wajah sedih bibi Jiyeon berubah, dan kini sebuah senyum kecil terukir di bibirnya.

Sementara itu, Sunyeong yang adalah sepupu Jiyeon, saat ini tengah berdiri tak jauh dari sana, dia terus menatap kearah Ibunya dan Jiyeon dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapapun.

***

“Jiyeon-ah buka pintunya, sudah waktunya kau berangkat sekolah” ucap Bibi Jiyeon dari luar kamar Jiyeon.

Jiyeon membuka pintu dan tampak sudah bersiap dengan seragamnya, bibinya hendak memegang pipi Jiyeon, namun Jiyeon malah menghindar dan memilih untuk pergi meninggalkan bibinya itu.

Bibi Jiyeon atau yang bernama Kim Hye soo itu langsung tersenyum tipis saat menyadari diperlakukan seperti tadi oleh keponakannya sendiri.

Jiyeon sudah berada di meja makan, wajahnya begitu datar  saat ini. paman Park dan Sunyeong yang sudah berada dimeja makan langsung menyapa jiyeon dengan ramah, namun tidak ada balasan sedikitpun dari Jiyeon.

Jiyeon mendekati tempat duduk pamannya dan menatap pamannya.

“Samchon bisakah kau tidak duduk disana, itu tempat appaku” ujar Jiyeon dengan nada datar.

Paman Park hanya bisa melongo mendngar perkataan Jiyeon, dan tanpa banyak bicara akhirnya paman Park pun pindah dari sana.

Jiyeon lantas duduk di tempat biasa dia duduk,  lalu mulai menikmati sarapannya. Tak lama bibi Kim Datang, dan duduk disebelah suaminya.

Bibi Kim menatap jiyeon yang tengah makan, dan hal itu disadari oleh Jiyeon. Namun tak sedikitpun Jiyeon perduli dengan hal itu. dia hanya terus memakansarapannya.

Bibi kim mulai melirik suaminya, menyuruh suaminya itu mengatakan apa yang sudah mereka bicarakan pada jiyeon.

“Jiyeon-ah apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya paman Park yang terdengar ragu-ragu itu.

Jiyeon tak memberi respon sama sekali pada pertanyaan pamannya itu, karena dia hanya terus menikmati makanannya.

Bibi Kim yang kesal, akhirnya membentak jiyeon.

‘Park Jiyeon, kenapa kau mengacuhkan perkataan orang tua?”

Jiyeon menghentikan makannya, dan minum air. Setelah itu dia berdiri seakan hendak pergi dari sana. Bibi Kim terlihat semakin kesal pada sikap jiyeon.

“Hya Park jiyeon!!” pekik bibi Kim sambil menggebrak meja.

Jiyeon yang saat itu sudah berjarak kira-kira dua meter, langsung menghentikan langkahnya.

“Kenapa kalian begitu perduli dengan perusahaan appaku? Apa tak cukup selama ini kalian menjadi benalu? ” ujar Jiyeon tanpa memalingkan wajahnya. Kemudian setelah itu dia melanjutkan langkahnya pergi dari sana.

Bibi Kim tak percaya dengan apa yang jiyeon katakan barusan, dia merasa sudah direndahkan oleh seorang anak kecil. Sunyeong yang sedari tadi diam, hanya bisa menghela napsnya dan berpura-pura tak mendengar apapun.

“Anak itu benar-benar kurang ajar, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu pada kerabatnya?” ucap bibi Kim kesal.

“Sudahlah yeobo, bukankah ini masih masa berkabung baginya!” ucap Paman Park mencoba menenangkan istrinya.

“Aku selesai”

Sunyeong menyimpan sumpitnya, lalu berdiri dan pergi dari sana.

Didalam mobil saat ini Jiyeon tengah terdiam sambil menatap pemandangan luar dari kaca mobilnya.

“Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Shin ahjussi yang adalah supir keluarganya.

“Eo ” jawab jiyeon Singkat tanpa menatap kearah supirnya itu.

***

Jiyeon berjalan dikoridor sekolahnya, dan seperti biasanya beberapa siswa menatapnya sambil berbisik-bisik. Namun Jiyeon sepertinya sudah biasa dengan hal itu.

“Park jiyeon!!” pangil seseorang.

Tak sedikitpun Jiyeopn menoleh, dia hanya terus berjalan.

Greb!

Sebuah tanganpun menggenggam lengan jiyeon.

“Hya Chakkaman”  ucap orang itu.

Jiyeon menoleh kearah orang yang menggenggam tangannya itu lalu menatapnya. Kang dong woon dialah orang yang saat ini memegang lengan jiyeon.

Dongwoon menyipitkan matanya saat melihat hal yang aneh pada Jiyeon.

‘Park Jiyeon apa kau baik-baik saja?” tanyanya.

Bukannya menjawab, Jiyeon malah menyingkirkan tangan Dongwoon dari lengannya.

“Bukankah sudah aku katakan jangan pernah mengganggu jalanku, karena aku tidak suka orang yang membuatku menghentikan jalanku” ucap jiyeon dingin.

Setelah mengatakan hal itu, Jiyeonpun pergi meninggalkan Dongwoon yang terdiam  karena ini kesekian kalinya dia diperlakukan kasar oleh jiyeon. Dongwoon mengepalkan tangannya dan terlihat ekspresi kesal diwajahnya.

“Akan sampai kapan kau menolakku park Jiyeon?” gumannya

Jiyeon memasuki kelasnya dan seperti biasa dia melihat salah seorang teman sekelasnya sedang berdiri dengan ember menutupi kepalanya.

Jiyeon melewati orang itu dan langsung menuju tempat duduknya tanpa melakukan apapun, berbeda dengan apa yang selama ini selalu dia lakukan. Biasanya jiyeon akan membuka ember tersebut, dan melihat wajah teman sekelasnya itu. Lalu menyeringai dan menutup lagi kepala orang itu dengan ember tadi, sambil memukul bagian atas ember tersebut.

“Aku ingin bicara denganmu” ujar Sunyeong yang baru datang.

“Bukankah kita tidak sedekat itu untuk berbicara suatu rahasia, jadi bicara saja disini” jawab jiyeon tanpa menatap wajah Sunyeong.

“Hya Park jiyeon” ucap Sunyeong dengan anda yang sedikit meninggi.

“Ah ternyata kau bisa membentak juga” ujar Jiyeon dan kini dia sudah mengarahkan pandangannya pada Sunyeong.

Kini Seisi kelaspun tampak tengah memperhatikan Sunyeong dan Jiyeon sambil berbisik-bisik.

“Park jiyeon ikuti aku” ajak Sunyeong.

‘Sirho” sahut jiyeon.

“Baiklah kalau ini maumu. Biarkan saja semua orang mendengar ini. tadinya aku kasihan padamu tapi melihat kau seperti ini aku jadi muak.”

Jiyeon menyeringai mendengar ucapan sepupunya itu, dia tak menyangka kalau Sunyeong yang selama ini tak pernah terlihat marah akan mengeluarkan kata-kata kasar seperti tadi.

“Kenapa kau tertawa hah? apa karena kau menganggapku dan kedua orang tuaku rendah?”

“Jadi ini yang mau kau katakan?”

‘Park Jiyeon, kenapa kau tak bisa menghargai orang tuaku hah? bukankah appaku adalah adik appamu, jadi bukankah dia juga seperi appamu?”

“Aku hanya punya satu appa, dan kenapa aku harus mengaggap appamu seperti appaku hah? kalian ini memang benalu yang. .”

Plak!!!

Belum selesai Jiyeon bicara, Sunyeong sudah menampar pipinya karena kesal.

“Ya, kami memang benalu, jadi maaf karena kami jadi benalu dikeluargamu”

Mata Sunyeong mulai berkaca-kaca dan diapun pergi dari sana, sedangkan jiyeon saat ini sedang menyeringai sambil memegangi pipinya yang tadi  ditampar oleh Sunyeong.

Jiyeon membenarkan tatanan rambutnya dan bajunya, kemudian duduk kembali di kursinya.

***

Saat istirahat Jiyeon memutuskan untuk diam diatap gedung, dia melangkahkan kakinya menuju atap gedung.

“jiyeon menatap Kearah bawah dan melihat murid yang berada dibawah sana yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

“Andwae!”

Teriak seseorang dari belakang Jiyeon, yang membuat jiyeon menoleh kearah belakangnya.

Orang itu langsung menghampiri Jiyeon dan menariknya sampai mereka terjatuh dengan posisi Jiyeon berada diatas orang itu.

“Ah syukurlah, aku tidak terlambat” ujar orang itu.

Jiyeon yang sudah bangun langsung menatap dingin orang itu yang ternyata adalah teman sekelasnya yang bernama Do Kyungsoo.

“Hei bodoh apa yang kau lakaukan hah?” tanya Jiyeon

Kyungsoo langsung bangun dengan gugup sambil menundukan kepalanya seakan tak berani menatap jiyeon.

“Mi-an-hae, aku kira kau akan melompat!” jawab kyungsoo terbata.

“Memangnya aku terlihat seperti orang yang ingin mati?”

“Mianhe aku dengar orang tuamu baru meninggal jadi aku pikir . . .”

Kyungsoo tak melanjutkan kata-katanya, lalu dia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena dia takut melanjutkan kata-katanya.

“Ha. . ha. . .ha. . “

Tiba-tiba saja Jiyeon tertawa keras yang membuat kyungsoo langsung menatap kearah jiyeon.

“Hya kau ini benar-benar bodoh.” Ujar Jiyeon lagi.

“Mianhae” ucap Kyungsoo.

Jiyeon menatap Kyungsoo sambil tersenyum.

“Hei kodok terima kasih” ucap Jiyeon.

Kyungsso mengangkat kepalanya lalu menatap jiyeon dengan dahi mengkerut, karena tak mengerti kenapa Jiyeon berterima kasih padanya.

Flashback End

TBC

Note :  Disetiap awal part sampai tengah  FF ini adalah nunjukin masa sekarang dan di tengah keawal itu Flashbacknya cerita Jiyeon.

Apa yah?Saya sih agak pesimis Coz saya selalu gagal bikin FF sad TT_TT *keseringan  bikin FF komedy sih*

Oh Buat para reader yang belum kenal saya, saya itu author FF I lived with crazy yeoza, saat Sehun ingin mimpi basah, Hello baby  dan lain lain yang belum saya selesaikan*Plak ^^

Dan FF ini terinspirasi dari MV Painkill by T-ara, Speed, 5Dolls, The seeya juga dari cerita Flower boy next Door. Tapi ceritanya bakal jauh beda^^.

Moga ajah ada yang suka sama FF  ini^^

Iklan

Penulis:

kpop jjang!!!!!

40 tanggapan untuk “The women Next Door [Part 1]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s