Diposkan pada rinaizawa

Isn’t Always Bad [Chapter 3]

Isnt always bad artposter1

Tittle : Isn’t Always Bad

Genre: School Life

Length: Chapter

Author: rinaizawa / @rinaamulya

Cast: Kim Jongin & Park Hyeji

_I think I’m fallin’ in love with you girl

 

###

“Apa kau mempunyai seorang pacar?”

Pertanyaan yang terlontar dari sang Appa membuat Hyeji cengo. Pacar? Mengapa Appanya bisa bertanya seperti itu? Tumben sekali.

Jawabannya tentu saja tidak. Tapi Hyeji sulit mengungkapkannya. Mengapa Hyeji jadi gugup begini? Bisa – bisa Appa nya menjadi curiga.

“Hyeji-a?”

“Tidak. Aku tidak mempunyai seorang pacar.” Bantah Hyeji cepat.

Dongjoo tertawa mendengar jawaban putrinya. Sementara Hyeji menunduk malu. Bisa – bisanya ia bersikap seperti ini. Jiyoon mengelus kepala Hyeji dengan lembut.

“Kalau tidak kenapa kau bisa segugup ini?” Jiyoon tersenyum.

“Hanya saja aku kaget Appa bertanya seperti itu tiba – tiba.” Jawab Hyeji.

“Hahaha. Santai saja. Appa tidak akan marah jika kau mempunyai seorang pacar. Tapi, Appa berharap kau tidak mempunyai seorang pacar karena Appa ingin memberikanmu sebuah tugas.” Jelas Dongjoo penuh misteri.

“Apa itu?”

“Nanti kau akan tahu sendiri.”

Hyeji mengangguk. Walau sebenarnya ia tidak mengerti tujuan sang Appa. Tapi ia yakin Appa nya tidak akan memberikannya tugas yang berat mengingat ia masih sekolah saat ini.

 

Hyeji POV

Sejak turun dari mobil tadi ponselku terus saja berdering. Dan ternyata penelfonnya masih sama seperti yang tadi. Astaga. Apa ia tidak bosan mengangguku terus? Daritadi aku sudah mengangkat panggilannya tapi ia terus saja mematikannya. Memangnya apa sih niat penelfon ini?

Ponselku berdering lagi. Kali ini aku akan mengangkatnya tapi aku tidak berbicara sedikitpun. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan penelfon ini.

“……………………”

Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan.

“Halo.”

Hyeji-a?”

“Iya ini aku. Ini siapa?”

“Aku Kyungsoo. Kenapa kau begitu diam tadi?” Jadi yang menelfonku sejak tadi Kyungsoo?

“Apa kau yang menelfonku sejak tadi?” tanyaku kesal.

“Apa menelfonmu? Tentu saja tidak. Aku baru kali ini menelfonmu.”

“Lalu kenapa kau diam?”

“Oh. Aku tidak berani berbicara karena ku pikir aku akan salah orang.” Ia tertawa. Apakah ini lucu? Kurasa tidak.

“Ada apa?” aku langsung ke topik pembahasan.

“Besok ada acara membersihkan seluruh isi sekolah. Aku lupa memberi tahu kalau kelasmu mendapat jatah bagian halaman belakang sekolah. Kau tau kan?”

Alisku tertaut. “Halaman yang dipenuhi daun itu?”

“Iya. Tapi kalian hanya membersihkan dibelakangnya saja, sedangkan sampingnya akan diurus kelas lain. Tolong sampaikan ya tadi aku terburu – buru pulang jadinya aku tak sempat ke kelas kalian.”

“Baiklah. Akan kusampaikan besok.”

“Terimakasih Hyeji-a. Aku tutup dulu ya. Sampai jumpa.”

“Kembali.”

Aku menutup ponsel dan meletaknya diatas meja. Aku sedikit aneh dengan Kyungsoo. Kenapa ia harus memberi tahukan ini kepadaku? Bisa saja kan ia memberi tahu kepada Suho si ketua kelas. Lagipula aku masih siswa baru. Lalu darimana ia mendapatkan nomor ponselku? Seingatku satupun siswa disana tidak mempunyai nomor ponselku. Apa ia mengambilnya dari data sekolah? Berani sekali dia kalau seperti itu.

 

——-

Author POV

 

Kyungsoo memegang dadanya yang sedari tadi berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia tersenyum memandangi ponselnya. Ia berbaring di tempat tidurnya. Matanya menerawang ke arah langit –langit.

‘Tak sia –sia aku menyelinap kekantor mencari nomornya.’

Pikirannya tertuju lagi pada Hyeji. Ia tak menyangka bisa mengobrol dengan gadis itu walau hanya lewat telfon. Kyungsoo tidak mengetahui kenapa ia suka mencuri perhatian Hyeji. Ia merasa tertarik melihat gadis itu sejak pertama kali bertemu. Hyeji gadis yang cantik, pintar, baik, tidak sombong pula. Itulah yang mampu membuat hati Kyungsoo berdetak sejak tadi. Bisa dibilang Kyungsoo jatuh cinta dengan Hyeji.

“I think I’m fallin’ in love with you girl.”

——

Keesokan harinya

 

Hyeji berjalan menghampiri Suho yang kebetulan saat itu sedang sendiri dikelas. Tumben sekali ia tidak dengan keempat teman – temannya itu. Biasanya pagi – pagi mereka sudah lengkap dan duduk dikelas menunggu guru masuk.

“Karena pita caspary sangat tebal sulit bagi air dan zat hara untuk masuk ke xilem. Jadi ––“

“Suho-ssi.” Panggil Hyeji. Sebenarnya ia enggan memanggil Suho yang sedang menghafal. Ia takut akan membuyarkan konsentrasi pria itu.

“Ya?”

“Kata Kyungsoo nanti ada acara membersihkan seluruh sekolah dan kelas kita mendapat jatah bagian halaman belakang.” Jelas Hyeji.

“Halaman yang dipenuhi daun itu?” Hyeji mengangguk.

“Ck! Aku paling malas kalau disuruh kesana.” Suho berdecak kesal.

“Aku juga.”

“Kau tahu halaman itu?” tanya Suho. Menurutnya Hyeji terlalu cepat mengenal sekolah ini.

“Tentu saja. Aku sudah lihat halaman yang dipenuhi daun itu. Kita pasti sangat sulit membersihkannya.” Gumam Hyeji. “Lagipula daun itu selalu jatuh setiap hari kan?”

“Benar. Mengapa Kyungsoo menyuruh kita membersihkan halaman itu?”

Suho terlihat kesal. Ia senang – senang saja jika disuruh membersihkan perkarangan sekolah karena saat itu tidak belajar. Tapi ia tidak suka jika disuruh kebagian halaman belakang. Setiap hari daun – daun selalu gugur disana. Jadi kalau mereka membersihkan disana, maka daunnya akan gugur lagi dan halaman itu tidak akan pernah bersih.

“Aku juga tidak tahu.” Hyeji menggeleng kepalanya. “Ngomong – ngomong kau sedang menghafal apa?”

“Ini, aku sedang mempelajari materi biologi. Tapi sepertinya tidak ada belajar hari ini.” Ujar Suho senang.

Hyeji ber –oh lalu kembali ke tempat duduknya sambil menunggu Jinhee yang belum datang. Tak lama setelah ia duduk, Kai dan teman – temannya datang. Baru saja mereka melangkah kedalam kelas, suasana sudah menjadi gaduh. Belum lagi kalau mereka duduk.

“Hai. Pagi Hyeji-a.” Panggil Sehun. Hyeji membalas dengan lambaian tangan dan sebuah senyuman. Kai yang melihat itu jadi tersenyum dengan Hyeji namun gadis itu malas memalingkan wajahnya ke buku.

‘Apa aku berbeda dimatanya?’

“Ya! Kita harus membersihkan sekolah hari ini.” Suho memberitahukan teman – temannya.

Sejenak mereka berteriak kegirangan. Artinya hari ini tidak ada belajar dan jadwal pulang sekolah dipercepat.

“Yes! Kita tidak masuk!” Chanyeol menggebrak meja sanking senangnya membuat Lay kaget.

“Kau bisa merusak meja.” Lay mengingatkan Chanyeol, sayangnya pria itu tidak menggubrisnya.

“Wahh. Setelah ini kita bisa latihan dance.” Kai menepuk pundak Sehun.

“Kau benar. Bagaimana kalau kita duel?” tantang Sehun.

“Ayo. Apa hadiahnya?”

Suho menatap teman – temannya heran. Memang saat acara pembersihan sekolah, proses pembelajaran dihentikan. Tapi apakah mereka mengetahui tempat yang harus mereka bersihkan adalah halaman belakang sekolah yang selalu dipenuhi daun yang berguguran?

“Hei – hei. Kalian tahu? Kita harus membersihkan halaman belakang sekolah.” Suho memotong pembicaraan mereka.

“Kami tahu kok. Halaman yang didekat kolam kan?” sahut Chanyeol enteng.

“Bukan. Tapi halaman yang selalu dipenuhi dengan daun berguguran.”

“Apa?!”

Chanyeol hampir menggebrak meja lagi namun Lay menahannya sehingga ia hanya bisa menahan rasa kesalnya.

“Aku sudah tebak itu.” Sahut Lay. “Oh ayolah. Menyenangkan bukan membersihkan halaman itu.” Lay membayangkan nanti ia akan membersihkan daun – daun itu bersama Jinhee. Sangat romantis, pikirnya.

“Itu menurutmu saja!” seru Sehun, Kai, dan Chanyeol barengan.

“Siapa yang membagi wilayahnya?” tanya Sehun dengan nada yang masih kesal.

“Do Kyungsoo, siswa kelas 2-3.”

“Ah si pria mata besar itu. Lagipula sejak kapan halaman itu harus dibersihkan? Jika dibersihkan daunnya akan tetap gugur lagi.” Cibir Chanyeol.

Hyeji sedari tadi mendengar ocehan kelima pria itu. Kenapa mereka lama sekali responnya ketika Suho memberi tahu? Lama – lama ia malas berada didalam kelas. Lebih baik ia berjalan – jalan. Hyeji memang tidak tahan jika duduk diam saja tanpa berbuat apa – apa. Ia pun keluar dari kelas tanpa mengetahui Ipod birunya tertinggal dilaci meja.

——

Kegiatan membersihkan seluruh perkarangan sekolah dimulai. Siswa kelas 2-2 mulai melaksanakan tugas mereka, yaitu membersihkan beberapa sampah dan daun – daun yang berserakkan. Awalnya mereka sempat protes pada Kyungsoo, namun Kyungsoo menjawab dengan santai.

“Setidaknya jika kalian membersihkannya, daunnya tidak akan sebanyak ini.”

Ilhoon membagikan beberapa kardus untuk dijadikan sebagai tempat sampah sebelum dibawa ke tempat pembuangan yang lebih besar. Kai mengambil kardus itu dari tangan Ilhoon membuat pria itu sedikit heran.

“Taruh saja. Tidak perlu diambil.” Katanya.

“Aku ingin membuang sampah.” Jawab Kai cuek. Ilhoon menggeleng melihat kelakuan Kai.

Kai menghampiri Hyeji yang sedang mengumpulkan dedaunan. Ia sendiri disana. Kesempatan ini dimanfaatkan Kai untuk berdamai dengan Hyeji. Ia tidak ingin terus bermusuhan dengan Hyeji walau akar permasalahan ini timbul karena kesalahannya.

“Ini kardusnya.” Kai menyerahkan kardusnya pada Hyeji.

“Taruh disitu.” Hyeji masih fokus dengan kegiatannya mengutip daun.

Sementara Lay sedari tadi mengikuti Jinhee kemanapun gadis itu pergi membuat Jinhee merasa terusik. Ia tidak bisa bekerja dengan cepat karena Lay selalu mengajaknya berbicara.

“Kau tahu? Daun – daun ini sebenarnya tidak perlu kita kutip. Karena dia akan hancur dengan sendirinya. Seperti ini.” Lay meremas daun – daun itu menjadi bagian terkecil sehingga tidak dapat dikutip lagi. “Dan akhirnya ia akan terurai bersama tanah.”

Jinhee menghela nafas. Ia sudah tahu tentang teori ini. Ia mendapatkannya ketika ia mengikuti seminar tentang Lingkungan Alam. Ia berharap setelah ini Lay tidak akan bercerita lagi, namun sepertinya Jinhee salah.

“’Aku heran kenapa kita harus mengutip daun –daun ini.” Gumam Lay.

“Lay, sepertinya Jinhee lebih heran kenapa kau terus – terusan berbicara.” Cibir Sehun yang sedari tadi memperhatikan keduanya.

“Bisa – bisa telinga Jinhee panas mendengar suaramu.”  Ejek Suho.

“Suaraku bagus kok. Ya meskipun tidak sebagus suaramu.” Lay terlihat tidak peduli dengan komentar teman – temannya. Buktinya Jinhee belum mengajukan protes karena Lay terus berbicara.

Tangan Chanyeol sudah penuh dengan dedaunan. Ia mencari kardus yang diberikan untuk meletakan daunnya. Dan mendapatinya didekat Hyeji. Lantas ia meletakkannya dikardus tanpa berkata apa –apa kepada gadis itu. Hyeji melirik sekilas lalu kembali dengan kerjaannya.

“Tidak apa kan?” Chanyeol merasa kurang enak.

“Tidak apa. Inikan kardus umum.” Hyeji terlihat santai saja.

Chanyeol mengangguk. Ia kembali bergabung dengan teman – temannya tadi. Hyeji meletakkan daun yang ia kutip dan melihat kardus itu sudah penuh. Sudah layak dibuang, pikir Hyeji. Ia hendak membuangnya, namun tiba – tiba Kai menghampirinya.

“Sini. Biarkan aku saja yang membuangnya.” Ujar Kai ramah.

“Tidak usah. Biar aku saja.” Tolak Hyeji.

“Sudahlah. Kau sudah mengutipnya dan tugasku membuangnya.” Kai terus saja memaksa Hyeji.

“Aku bilang aku saja!”

“Aku saja.”

Mereka terus saja berebut kardus itu. Hal ini mengundang perhatian siswa lainnya. Terlebih lagi Chanyeol, Lay, Suho, Sehun, dan Jinhee. Mereka heran melihat kedua temannya yang berebutan kardus. Entahlah yang direbut sesuatu yang berharga.

“Kai lepas!”

“Aku saja yang membuangnya.”

“Kai!”

Kardus itu terjatuh dan membuat daun yang telah dikutip berserakkan. Semua menatap Kai dan Hyeji kaget. Lain dengan Hyeji, ia menjadi kesal karena daun yang sudah ia kutip malah berserakan.

“Kau! Lihat apa yang kau perbuat sekarang?!” teriak Hyeji kesal.

“Aku hanya ingin membantu mu. Apa aku salah?” balas Kai tak kalah kerasnya.

“Hyeji-a. Sudahlah. Kita akan mengutipnya bersama ya?” Jinhee datang melerai keduanya agar permasalahan ini tidak semakin panjang.

“Kai ayo kita kesana.” Ajak Suho.

Ia menarik Kai agar segera menjauh dari Hyeji. Keduanya saling menatap tajam sebelum Kai berbalik membelakangi gadis itu.

“Tidak apa. Ayo aku bantu.” Jinhee mulai mengutip daun – daun.

“Ia benar – benar mengesalkan.” Desis Hyeji. Ia juga mulai mengutip daun – daun.

“Kurasa ia hanya ingin membantumu.”

“Tapi aku sudah mengatakan tidak perlu dibantu. Tetap saja ia bersikeras.”

Setelah selesai mengumpulkan, Hyeji segera membawanya ke tempat penumpukkan sampah. Disana ia bertemu Kyungsoo yang sedang mengawasi kegiatan ini. Melihat Hyeji yang sedang membuang sampah, pria itu menghampirinya.

“Bagaimana?” tanya Kyungsoo.

“Seperti yang kau lihat.” Hyeji membersihkan lengannya yang sedikit kotor.

“Hahaha.” Kyungsoo tertawa. “Kau kurang bersemangat.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak memberiku semangat?”

“Haruskah aku?”

“Kau yang mengatakan aku tidak bersemangat.”

“Baiklah. Park Hyeji, fighting!” Kyungsoo mengangkat kedua tangannya dengan maksud memberi semangat kepada Hyeji.

Hyeji tidak menyangka Kyungsoo benar – benar memberinya semangat. Padahal ia hanya bercanda berbicara seperti itu, namun Kyungsoo benar – benar menganggap sungguhan.

“Sebenarnya aku hanya bercanda tadi.” Hyeji tertawa kecil.

“Serius juga tidak apa.”

Kyungsoo senyum – senyum tidak jelas. Bukan tidak jelas, hanya saja arti dari senyumannya itu tidak bisa ditebak.

——

Raut wajah Kai masih tetap sama sejak ia bertengkar kecil dengan Hyeji. Tangannya sibuk memecahkan dedaunan itu hingga menjadi kecil. Lay sejak tadi mengajaknya berbicara agar ia bisa meredamkan emosinya sejenak namun sepertinya tidak berlaku bagi Kai.

“Ayolah Kai. Hanya masalah kecil saja.” Ujar Chanyeol.

Kai hanya bergumam. Ia malas berbicara saat ini. Entah kenapa ia menjadi kesal dengan sikap Hyeji yang tidak jelas ini. Padahal ia sudah berusaha baik dengan gadis itu.

“Kim Jongin, kau masih ingat jadwal kita setelah ini?” Sehun tiba – tiba berbicara.

“Duel?”

Sehun mengangguk. “Bagaimana kalau yang kalah harus ada hukumannya?”

“Baik. Siapa takut. Apa tantangannya?” Kai merasa tertantang dengan ajakan Sehun.

“Siapapun yang kalah harus mengatakan hal ini pada orang yang ia suka.” Sehun memberikan secarik kertas pada Kai.

“APA?!”

Lay, Suho dan Chanyeol jadi ikut – ikutan melihat apa isi kertas yang begitu membuat Kai kaget bukan main.

“Astaga. Kau benar – benar parah Oh Sehun.” Komentar Suho yang melihat isi kertas tersebut.

“Kenapa seperti ini?” protes Kai.

“Terserah kau mau atau tidak.” Sehun tidak peduli. “Dan aku akan memanggil Ilhoon, Tao, Taemin, Minhyuk dan anak dance lainnya untuk melihat duel kita.”

Kai ragu menerima tantangan Sehun. Namun ia tidak ingin terlihat pengecut dimata teman – temannya. Apalagi selama ini ia terkenal dengan julukan dance machine. Ia yakin bisa menang dari Sehun.

“Aku terima.”

“Bagus.” Sehun bertepuk tangan. Ia senang Kai menerima tantangannya.

Chanyeol melihat Hyeji dan Kyungsoo yang sibuk berbincang – bincang. Entah kenapa mereka sering sekali bersama. Menurutnya, satu diantara mereka ada yang menyukai.

“Mereka selalu bersama ya.” Gumam Chanyeol. Matanya mengarah pada Hyeji dan Kyungsoo.

“Mungkin sebatas teman.”  Kata Suho.

“Mungkin.”

“Jangan – jangan Kyungsoo menyukai Hyeji?” tebak Lay.

“Ah? Benarkah? Sepertinya Hyeji yang menyukai Kyungsoo.” Sindir Chanyeol.

Kai tahu sindiran itu ditujukan untuknya, namun ia tidak peduli. Toh, belum tentu juga kedua tebakan mereka itu benar.

——

Seo Young menghampiri Kyungsoo yang sibuk dengan ponselnya. Awalnya ia ragu menyapa Kyungsoo karena pria itu kurang peduli dengan lingkungan kelasnya.

“Kyungsoo-a.”

Kyungsoo menoleh karena merasa namanya dipanggil.

“Oh. Seo Young-ah.” Balas Kyungsoo. Ia mempersilahkan Seo Young duduk didepannya. Tumben sekali, pikir Seo Young.  Tak biasanya Kyungsoo bersikap seramah ini.

“Tak biasanya kau memainkan ponselmu saat jam sekolah.” Ujar Seo Young memulai pembicaraan.

“Hahaha. Memangnya tidak boleh?”

“Boleh saja.”

“Oh ya. Seo Young-ah, bagaimana reaksimu jika ada seorang pria yang baru kau kenal beberapa hari menyatakan cintanya padamu?” tanya Kyungsoo membuat gadis itu sedikit heran. Kenapa Kyungsoo bertanya hal semacam ini?

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Jawab saja. Aku hanya ingin mendengarkan jawabanmu.” Kyungsoo masih menunggu jawaban dari Seo Young.

Seo Young terlihat berpikir. Bukan memikirkan jawaban. Tapi memikirkan siapa orang yang dimaksud Kyungsoo.

“Aku – Aku sendiri tergantung bagaimana sikapnya. Jika ia baik dan aku menyukainya aku akan menerimanya.” Jawab Seo Young akhirnya.

“Begitu ternyata.” Gumam Kyungsoo. “Apa menurutmu aku baik?”

“Hahaha. Entahlah. Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sedang menyukai seseorang?” Seo Young tertawa kecil.

“Kau benar. Aku sedang menyukai seseorang.”

Feeling gadis itu mengatakan hal yang sama dengan orang yang dimaksud Kyungsoo. Entah kenapa perasaannya kuat sekali.

“Siapa gadis itu?”

——-

Waktu pulang sudah tiba. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Kecuali beberapa siswa yang masih tinggal didalam kelas. Hyeji sedari tadi sibuk mengobrak – abrik tasnya. Ia mencari benda kesayangannya yang hilang. Apalagi kalau bukan iPod birunya.

“Hei kami pulang duluan ya.” Pamit Lay dan teman – teman. Mereka keluar dari kelas meninggalkan Hyeji dan Jinhee yang masih didalam kelas.

“Hyeji-a, apa yang sedang kau lakukan? Ayo kita pulang.” Ajak Jinhee.

“Kau duluan saja. Aku ingin mencari sesuatu.” Hyeji masih fokus mencari barang – barangnya.

“Barangmu hilang?” tanya Jinhee. Hyeji mengangguk.

“Ipodku. Ipod kesayanganku hilang Jinhee-a.”

“Perlu kubantu?”

“Terima kasih. Tapi tidak apa. Aku bisa mencari sendiri.” Tolak Hyeji halus.

“Yasudahlah. Aku duluan. Semoga Ipod mu cepat ketemu.” Pamit Jinhee dan langsung keluar dari kelas.

Kini tinggallah Hyeji sendiri. Ia sudah pusing mencari benda kesayangannya itu. Seingatnya terakhir ia meletakkan didalam tas. Tapi kenapa sekarang malah tidak ada? Apakah ada yang mengambilnya?

Hyeji takut iPod nya hilang. Karena itu hadiah dari temannya di New York, Peniel D. Shin dan itu juga kenang – kenangan mereka.

“Astaga. Ipod itu kemana?” keluh Hyeji.

Klek

Pintu kelas tiba – tiba saja tertutup. Membuat suasana sedikit mistis. Hyeji tiba – tiba menjadi takut. Ia takut jika ruangan ini dikunci karena ia mempunyai phobia terhadap ruangan yang terkunci.

“S-Siapa disana?”

Hening. Tidak ada yang menjawab. Hyeji hendak bangkit dari duduknya untuk mencari tahu siapa yang menutup pintu tadi. Apakah hanya angin atau memang ada orang. Namun pintu itu kembali terbuka dan seseorang berdiri disana dan masuk kedalam kelas membuat Hyeji sedikit kaget.

“Kau mencari ini?”

 

###

 

A/N : Haloooo we are meet again readers :3 Terimakasih buat kalian yang udah coment dipart sebelumnya. maaf kalau dipart itu bahasanya agak sedikit ribet ._. Author usahain dipart ini sedikit bagus ^^ Terimakasih sudah membaca part ini, ditunggu coemmentnya ya. Bonnuit~ ^o^

Iklan

32 tanggapan untuk “Isn’t Always Bad [Chapter 3]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s