Vampires vs Wolves #6 – Ahreum’s Guardians

Vampires Vs Wolves

Tittle : Vampires vs Wolves

Subtitle : #6 – Ahreum’s Guardian s

Author : Nintiyas

Main Cast :

  • Ahreum T-ara as Lee Ahreum
  • EXO-K as Vampires
  • EXO-M as Wolves

Other Cast :

  • Dasom Sistar as Kim Dasom

Genre : Fantasy, School Life, Fluff, Romance

Rating : PG-15, T

Diclaimer : WARNING!! This is my story, my imagine, also my fantasy. BEWARE!! I DO NOT LIKE COPYCAT ^^

A/N : Annyeong~~ long time no see >< kkkk. Ah, mari kita tepuk tangan bersama karena akhirnya FF ini dipost dan diperbarui(?) wkwkwk. Mohon maaf sebelumnya, dikarenakan author terlalu sibuk sama ujian pratikum jadi pembulishan FF ditunda 1 bulan lebih ;_; #padahal FF ini uda kelar loh part ending nya ._.v ah iya, di part ini author bakal kasih kamus kecil ^^ soalnya dipart sebelumnya banyak yang gak ngerti bahasa yang author gunakan -_-  ehm, yasudahlah Ahreum dan all EXO member uda gak sabar mau ketemu para readers yang setia :3 over all, HAPPY READING❤

List : Teaser ││ Chapter 1 ││ Chapter 2 ││ Chapter 3 ││ Chapter 4 ││ Chapter 5

Summary : Menjalani kehidupan yang menyenangkan dan bahagia dengan potret keluarga yang harmonis dan utuh. Itulah cita-cita sederhana dari seorang gadis remaja yang terlalu naif untuk mengetahui bahwa kenyataan dan hukum alam lebih pahit dibanding dengan penalarannya dalam hidup. Menjadi putri dan cucu satu-satunya dari keluarga Lee yang notabene adalah keluarga yang berkecukupan dalam hal materi. Tak pernah membuat ahreum merasa semua lebih baik. Bahkan, dirinya hidup dengan latar belakang semua gunjingan dari para warga disekitar rumahnya. Entah itu tentang sang Harabeoji, sang Appa, tentang status sang Eomma, sampai kasus manusia vampire juga manusia serigala yang dekat dengan sang harabeoji dan sang appa. Lanjut Membaca →

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Omo[1]! Senyuman dipagi hari? Aigoo, ini bukanlah kebiasaan nona muda Ahreum.” Ejek Dasom dan para pengikutnya.

“Enyahlah! Kamu menghancurkan moodku, Dasom!” Bentak Ahreum dengan mempercepat langkahnya melewati Dasom.

“Yak!!! Kamu membentakku? Heol!! Rupanya namja tadi sudah bisa merubahmu seperti ini, huh?”

Geumanhae [2]!! Apa salahku sampai kamu seperti ini padaku?”

“Salahmu? Cih! Menjijikan! Aku benar-benar muak denganmu!!” Racau Dasom tak jelas.

Mwo [3]? Muak? Harusnya aku yang bilang seperti itu.” Hardik Ahreum tetap dengan langkah cepatnya, dia bahkan sedikit berteriak.

‘Bbbaaakk’

Sebuah batu yang lumayan besar, mendarat tepat dibelakang kepala Ahreum.

Ahreum memekik keras sekali, dia meraba belakang kepalanya sekilas.

“Darah!!! Dasom-ssi [4]!!! Kamu benar-benar lebih rendah dariku!!” Teriak Ahreum yang sudah menghadap kearah Dasom.

Ahreum bersusah payah menahan air matanya. Ia tak ingin terlihat makin lemah didepan Dasom dan anak buahnya. Terlebih lagi mereka masih berada dihalaman sekolah.

“Kemari kamu, cucu iblis!!! Kamu bilang apa tadi? Lebih rendah dariku?” Dasom terlihat amat marah. Ia menghampiri Ahreum, dan seperti seekor singga yang sudah siap menerkam mangsanya hidup-hidup.

Benar saja, sedetik kemudian. Ketika Dasom berada tepat didepan Ahreum. Iamendaratkan sebuah tamparan keras dipipi kiri Ahreum.

‘Pppaaaakkk’

“Kamu makhluk rendahan!! Yang tidak lebih berharga dan berguna dari kucing yang dibuang ditong sampah!! Beraninya menghinaku seperti itu!!! Sseolma [5]!!!” Bentaknya mencaci-maki Ahreum habis-habisan.

Darah segar, mengalir disudut bibir Ahreum. Ia merasa kesakitan dan malu menjadi satu.

Sekeras apapun ia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Nyatanya, air mata itu jatuh juga.

Geeumm.. geummannhaaee..

ucapnya ditengah isakan dan nafas yang tersenggal.

“Yaaaakkk!! Manni appago [6]!!!!”

Teriak Dasom kesakitan.

Ahreum tak tahu apa yang terjadi. Yang pasti, kini Dasom tersungkur ditanah dengan lutut yang terluka. Para anak buahnya berlomba-lomba menolong Dasom untuk berdiri. Dan bergegas pergi meninggalkan Ahreum.

Aakhh” pekik Ahreum, ketika darah disudut bibirnya dibersihkan dengan saputangan.

Saputangan itu berbau maskulin. Bahkan, kini tangan yang sedikit mengapal dan begitu hangat. Mencoba menangkup kedua pipi Ahreum seraya membersihkan air matanya dengan punggung tangannya.

Mianhae [7], manis. Mianhae…” ucapnya dengan suara bergetar dan mata sedikit berkaca-kaca didepan Ahreum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-Vampires vs Wolves-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entah karena rasa sakit disudut bibirnya, atau karena perasaannya yang kembali berkecamuk.

Air matanya tetap saja turun. Bahkan, air matanya semakin deras -seolah air mata itu bisa membentuk sebuah sungai dipipi tembam miliknya.

“Lay-ssi…”

Kata pertama yang keluar dari mulutnya…

Kata yang seolah amat dipaksakan untuk keluar dari mulutnya…

Berulang kali juga ia mengerjapkan matanya. Berharap supaya air matanya berhenti.

“Kita bersihkan lukamu dulu, ne [8]?” Tawar Lay.

Lay tak perlu menunggu persetujuan Ahreum. Ia langsung mengamit pundak Ahreum teramat lembut -seolah pundak Ahreum adalah berlian yang mudah tergores walau disentuh dengan kapas sekalipun.

“Ahh!! Jadi ini alasan kamu membenci sekolah?” Racau Sehun berjalan mengiringi Ahreum.

“Ahreum-ssi, mianhae. Kami merasa bersalah pada mendiang kakek dan ayahmu.” Sela Tao tak mau kalah dengan Sehun -untuk menghibur Ahreum. Tentu saja.

“Sebaiknya kalian dia dulu. Biarkan Ahreum tenang untuk saat ini.” Timpal Kai tetap dengan gaya sok-kerennya-itu.

“Ruang uks-nya dimana, manis?” Tanya Lay melancarkan senyuman termanisnya pada Ahreum.

“Ehm, disana.” Tunjuk Ahreum ke lorong dekat pintu masuk. Tentu saja setelah mereka memasuki gedung sekolah.

“Hyung, kamu bisa mengurus luka Ahreum sendirikan? Kami akan ke ruang kepala sekolah untuk mendaftar.” Ucap Kai dengan mantapnya.

Lay hanya menanggapinya dengan anggukan-ria. Dia bahkan melanjutkan aktifitasnya-dalam-memapah-Ahreum-menuju-ruang-UKS.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Gomawo [9].” Ucap Ahreum tulus.

“Ehm.” balas Lay. “Jadi? Ini alasan kamu benci dengan sekolah?.” Tanyanya. Pertanyaan Lay sama dengan pertanyaan Tao, beberapa saat yang lalu.

“Ini.. ini adalah sebagian dari alasan mengapa aku sangat membenci sekolah.” Jelas Ahreum nanar.

“Harusnya kamu bilang pada kita semua. Jika saja ada seorang yang lebih jahat daripada nem-,”

Lay tak melanjutkan ucapannya. Dia merasa jika ia melanjutkan ucapannya maka akan menyebabkan tanda tanya besar antara Ahreum dan para vampires juga wolves.

Meskipun para vampires dan wolves telah setuju untuk bekerja sama dalam melindungi Ahreum –yang notabene adalah nona muda yang mereka agung-agungkan itu. Tetapi, tetap saja keduanya juga sepakat untuk tidak membuka identitas masing-masing. Karena mereka yakin Ahreum pasti tidak akan percaya dan malah akan menjauhi para vampires maupun wolves.

“Lay, kalau aku boleh tahu. Kenapa kalian datang ke sekolah?” Ucap Ahreum balik bertanya pada Lay.

“Ah, itu-,”

“Dan kenapa tadi Kai bilang ‘mau mendaftar?’ Omo! Jangan katakan kalau kalian mau menjadi siswa di sekolah ini?” sela Ahreum ditengah ucapan Lay. Ahreum terlihat begitu antusias menanti semua jawaban atas pertanyaannya itu.

Entahlah apa yang ia rasakan saat ini. Benar-benar suatu perasaan yang tak bisa ia lukiskan dengan sebuah tinta atau ia ucapakan meski dengan beribu kalimat.

Aigooo [10], tenangkan dirimu dulu manis.” Ucap Lay seraya mengacak puncak kepala Ahreum.

“Oke, pertama kita harus keluar dari ruang UKS. Setelah itu, kita cari Kai, Tao dan Sehun. Barulah kami akan menjawab setiap pertanyaanmu, dan menjelaskan semua alasannya.” Tambah Lay.

Akhirnya, mereka berdua berjalan berdampingan keluar ruang uks. Perawat penjaga uks hanya tersenyum sekilas ketika Ahreum dan Lay melewatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hyung [11]!! Sebelah sini!”

Lambaian tangan dan teriakan kecil dari Tao, sukses mengalihkan pandangan Lay dari lekuk indah wajah Ahreum ㅡyang lebih terlihat seperti potret kepolosan sang Lee Ahreum.

Kai hanya mendengus sekilas, ketika ia tak sengaja melihat kemana arah pandangan Lay sedari tadi.

“Kai, apa menurutmu Lay hyung menyembunyikan sesuatu? Atau itu hanya perasaanku yah” tanya Sehun pada Kai tiba-tiba.

Wae [12]?” Timpal Kai datar dengan tetap berdiri sambil kedua tangannya masuk kedalam saku celana sekolahnya.

Anniya [13], hanya saja. Sejak dari lapangan sekolah. Anni, sejak dia membasuh luka disudut bibir Ahreum hingga sekarang. Pandangannya pada Ahreum seolah menjelaskan sesuatu yang tak bisa diucapkan hanya dengan membuka mulut.” Racau Sehun seraya menggaruk tengkuk belakangnya.

“Sudahlah, hentikan omong kosongmu. Dan tetap fokus untuk melindungi Ahreum.” Balas Kai. Kini dia berjalan menjauh dari Sehun dan beralih mendekat kearah Ahreum dan Lay yang sudah didahului Tao.

“Aaaahhh, nona muda Ahreum…” rengek Tao melancarkan bear-hug-nya.

Ahreum bersumpah, tingkah Tao yang teramat manja ini sama persis dengan tingkah bayi panda yang merenggek pada induknya.

Hyaaakk [14]!! Panda jelek! Kenapa kamu memeluk Ahreum-ku!!!” Teriak Sehun mencoba melepas pelukan Tao pada Ahreum.

Hyaaakk!! Jangan begini Sehun!! Jangan pisahkan kami!! Shirreeeooo [15]!!” Lagi-lagi Tao merenggek.

“Aigoo, kalian lucu sekali. Tao-ah [16], bukankah aku sudah katakan untuk tidak memanggilku dengan sebutan ‘nona muda’ huh? Terlebih lagi kalian sedang disekolahkan?.” Tuntut Ahreum seolah sedang menasehati adik kecilnya.

Omo! Mianhae, Reum!! Mianhae.” Timpal Tao tetap dengan renggekannya.

“Kalian berdua hentikan! Ah, kita harus segera masuk kelas. Kajja.” Sela Lay menengahi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hyung, kamu yakin Sehun dan Tao tidak akan menimbulkan masalah bagi Ahreum?” cemas Luhan yang baru pulang dari sekolah Ahreum.

Luhan amat terkejut dengan semua yang diceritakan Suho. Terlebih lagi yang dikirim untuk mendampingi Ahreum disekolahnya adalah Sehun, Tao, dan Kai.

Ayolah, semua orang juga tahu kalau Sehun dan Tao tidak akan pernah akur. Apalagi ini menyangkut tentang Ahreum. Pasti mereka selalu bertengkar terlebih lagi untuk merebut perhatian Ahreum –mengingat Sehun dan Tao adalah vampires dan wolves yang sangat menyayangi Ahreum sejak pertama bertemu.

Geokjongmalyo [17]disana ada Lay, lagipula seceroboh apapun Sehun dan Tao. Aku yakin mereka pasti akan bersikap serius jika berurusan dengan keselamatan Ahreum.” Timpal Suho memberi pengertian pada Luhan.

Luhan mengangguk mengerti mendengar nasehat Suho. Sungguh, ia merasa Suho memang mempunyai charisma seorang pemimpin untuk saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Lay benar. Aku harus masuk kelas dulu, ne.” Ahreum meringis sekilas saat ia menyadari bahwa ini hampir terlambat untuk masuk kelas.

Aneh. Ahreum tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Tentu saja karena keempat ‘teman barunya disekolah’ itu tak kunjung bergerak ke kelas masing-masing.

Ahreum menyipitkan mata foxynya pada keempatnya seolah mengirimkan telepati hey-kalian-apakah-tidak-mau-masuk-kelas-?.

“Ehm, kami juga.” Timpal keempatnya hampir bersamaan –seolah dapat menerima telepati dari Ahreum.

“Kalau begitu sampai jumpa nanti makan siang.” Pamit Tao dan Sehun yang ternyata menjadi teman sekelas.

“Kalau begitu aku harus kelantai dua.” Sahut Lay.

“Ah, kamu jadi sunbae [18]-ku?” Timpal Ahreum sumringah.

Ne, aku kelas tiga. Baiklah, Kai selanjutnya kuserahkan padamu. Annyeong [19].” Lay melambaikan tangannya sesaat sebelum ia menghambur pergi menaiki tangga menuju ruang kelasnya.

“Jadi?” Tanya Ahreum pada Kai.

“Jadi apanya?” Timpal Kai sedatar mungkin.

“Kamu dikelas mana?” Sahut Ahreum sambil mengambil langkah kecilnya menuju kelasnya yang berada dilantai tiga.

“Kelas 2-4.” Sahut Kai lagi-lagi sedater mungkin ㅡdan lagi-lagi dengan sikap kerennya. Tak lupa juga kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana sekolahnya.

Jjinja [20]? Whooaa, kita satu kelas, Kai-ssi” antusiasme Nampak jelas diraut wajah Ahreum.

Seketika mata Ahreum berbinar mendengar jawaban Kai. Dia tak percaya bisa satu kelas dengan salah satu dari keempatnya.

Kai bersikap amat tenang didepan Ahreum. Dia hanya berdehem berkali-kali untuk menanggapi reaksi Ahreum dengan kenyataan bahwa ‘mereka menjadi teman sekelas’.

“Oh ya, gomawo.” Ucap Ahreum begitu saja.

Nde?” Sahut Kai gelagapan.

Gomawo sudah mau menolongku. Tapi, seharusnya tadi kamu tidak perlu mendorong Dasom hingga tersungkur seperti itu, terlebih lagi lututnya hingga berdarah.” Jelas Ahreum yang seolah diminta oleh Kai.

“Lain kali jangan begitu yah.” Lagi-lagi Ahreum menyahuti Kai. Seolah Ahreum dapat membaca pikiran Kai yang berkata biarkanlah-dia-pantas-mendapatkan-perlakuan-seperti-tadi.

“Lay hyung yang memberitahumu?” ini kali pertamanya Kai merasa penasaran dengan ucapan Ahreum.

“Bukan, aku hanya menebak saja.” Jawab Ahreum dengan senyum polosnya.

“Menebak? Lalu kenapa aku yang menjadi jawaban dari tebakanmu?” tuntut Kai atas ucapan Ahreum.

Ahreum selalu bisa membuat Kai kehabisan kata. Ahreum juga yang selalu membuat Kai menjadi malas untuk berbincang dengannya –karena menurut Kai percuma saja berbincang dengan seseorang yang pada akhirnya akan membuatmu mati kutu.

“Entahlah, kata hatiku, hanya kamu yang tega mendorong seorang perempuan hingga tersungkur seperti itu.” Sahut Ahreum tetap dengan senyuman polosnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kai sempat mengernyitkan Dahinya sekilas. Ketika ia menyadari bahwa senyuman polos yang sedari tadi terpajang disudut bibir Ahreum, yang kini digantikan dengan ekspresi wajah yang teramat takut penuh kengngerian dikedua bola matanya. Sesaat setelah mereka tiba didepan pintu kelas 2-4.

Wae guerae [21]? Ini kelas kita kan?”

Ne. Kai, kamu masuk kelas duluan saja. Aku… em… aku ada urusan… ah, iya aku-,”

Ucapannya terputus ketika Kai menggengam tangan kanan Ahreum dengan penuh keyakinan dan seolah berkata don’t-worry-cutely-im-here.

Gwenchana [22] uhm! Ada aku disini. Dia -maksud Kai, Dasom. Tentu saja- takkan berani mengganggumu bahkan menyentuh barang sehelai rambutmu sekalipun.” Bisik Kai penuh dengan bius disetiap ucapannya.

Ahreum hanya mengangguk seraya menatap jauh kedalam bola mata yang gelap bagaikan malam tanpa bulan itu.

Entah apa yang merasuki Ahreum. Atau, apa yang meracuni pikiran Ahreum. Dia merasa teramat aman, terlebih lagi genggaman Kai sangat hangat dan erat.

“Hey, hey.. lihat! Si cucu pembual Lee, datang dengan kekasihnya.” Sahut seorang siswa lelaki yang duduk tepat disebelah pintu.

“Aigoo, lihat siapa yang datang bersama nona muda kita.” Timpal salah seorang anak buah Dasom, yang duduk tepat disebelah Dasom. Ia sedang mengompres lutut Dasom yang bengkak akibat ulah Kai tadi ketika dilapangan.

Kai melirik Ahreum sekilas, terpampang jelas jika tatapan Ahreum kosong saat ini.

“Dimana bangkumu?” Tanya Kai seraya makin mengeratkan genggamannya.

“Disana” jawab Ahreum sambil menunjuk bangku paling belakang dekat jendela itu.

Arraseo [23]. Kajja [24]!” Ajak Kai tanpa Butuh persetujuan lagi dari Ahreum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tatapan menghina tak henti-hentinya dilancarkan oleh seisi kelas -tak terkecuali Dasom.

“Hyak! Tampan! Hyak! Lihat aku!” Teriak Dasom kearah Kai tepat ketika Kai dan Ahreum baru duduk dibangku mereka.

Dasom menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya, setelah Kai dengan jelas tak mau menjawab teriakan Dasom tadi.

“Ini saran gratis dariku. Jarang sekali aku seperti ini, terlebih lagi kamu anak baru.” Jelasnya pada Kai, yang berjarak empat bangku dari bangku Kai dan Ahreum.

Meskipun Ahreum tak menyukai Dasom, walau ia tak pernah mengumumkan kalau ia tak menyukai Dasom.

Tetap saja, Ahreum tak dapat memilih tempat duduk, selain yang sederet dengan Dasom dan anak buahnya. Tentunya.

“Tidak perlu ditanggapi. Jangan lakukan hal yang membahayakan kita semua.” Bisik Ahreum menengahi.

“Hyak! Cucu penghianat! Kamu jangan ikut campur yah.” Lagi-lagi Dasom berteriak, bahkan perhatian seisi kelas tertuju pada mereka -Dasom, Kai, dan Ahreum.

“Lihatkan tampan! Kelakuannya saja tidak mencerminkan sopan santun. Ah, iya! Sebaiknya kamu menjauh dari dia. Asal kamu tahu, Ahreum itu pembawa sial. Iyakan teman-teman?” Ejek Dasom teramat puas.

Seketika tawa mengejek pecah memenuhi seisi kelas 2-4.

Ahreum menghela nafas beratnya. Ia sudah merasa biasa dengan tawa yang mengejek itu. Terlebih lagi hinaan ini tidak sebanding dengan hinaan yang lalu-lalu.

“Setidaknya, dia lebih cantik darimu. Dia lebih berhati mulia daripada seorang gadis manja yang tak bisa jauh dari para pengasuhnya.” Sahut Kai tak kalah pedas dari ucapan Dasom. Kai bahkan sempat melirik sekilas sambil melancarkan seringainya pada anak buah Dasom ketika ia mengatakan ‘pengasuhnya’.

“KALIAN!! AWAS SAJA, TUNGGU PEM-,”

Ucapan Dasom tercekat tepat ketika Min saem [25] memasuki ruang kelas.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Selamat pagi, Anak-anak. Nah, Kudengar ada murid baru?” Tanya Min saem dengan memutar bola matanya mengelilingi seisi kelas.

Kai langsung berdiri tanpa diminta. Ia yakin, inilah saat dimana semua murid baru harus memperkenalkan dirinya.

“Oh, pasti pemuda yang berdiri disebelah nona… Ahreum?” Tambah Min saem ketika melihat Kai berdiri dengan tampannya.

Kai mengulas senyum sekilas, kemudian berdiri didepan kelas sesuai perintah Min saem.

“Oke, sekarang perkenalkan diri kamu.” Perintah Min saem pada Kai.

“Ehem.” Kai berdehem kecil mengawali pidato-kecilnya.

Annyeong haseyo, choneun [26] Kai inmida [27]. Aku pindahan dari Seoul, disini aku tinggal bersama kedua belas saudaraku. Kedatangan kami ke Mokpo ini, karena sebuah amanat dari dua orang yang kami hormati. Biar bagaimanapun, mohon bantuannya semua. Gamsahamnida [28].” Jelasnya seraya menyunggingkan sudut bibirnya diakhir ucapannya.

“Nah, Kai-ssi. Selamat datang disekolah kami tercinta. Semoga kamu bisa nyaman dan menemukan banyak teman disini.” Sambut Min saem dengan sumringahnya.

Ahreum sempat membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ ketika melihat sisi ceria dari Kai.

Bukan Kai yang biasanya berdehem ketika Ahreum ajak bicara.

Bukan Kai yang selalu melempar lirikan tajam pada setiap gerak-gerik Ahreum dirumah.

Dan, bukan Kai yang kadang amat cerewet pada kesalahan sekecil apapun yang Ahreum lakukan.

“Silahkan kembali ketempat dudukmu.” Perintah Min saem mengakhiri lamunan Ahreum pada sosok Kai hari ini.

Waeyo?” Tanya Kai penasaran atas raut wajah Ahreum ketika Kai memperkenalkan dirinya.

Anniyo. Sudah sana perhatikan Min saem menjelaskan.” Timpal Ahreum dengan nada sinisnya.

Astaga, namja ini kembali pada sifat semulanya. Batin Ahreum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entah karena sangat menyukai bahasa inggris, atau karena sekarang Ahreum lebih tenang disekolah -karena adanya Lay, Kai, Tao dan Sehun. Tentu saja.

Ahreum dapat melewati dua jam pelajaran Min saem dengan senyuman yang tak pernah turun dari kedua sudut bibirnya.

“Kamu tidak ke kantin? Tidak lapar? Tidak mau makan siang?” Rentetan pertanyaan dilancarkan Kai tepat ketika Ahreum masih sibuk dengan buku catatan bahasa inggrisnya.

“Aku masih kenyang, Kai. Kalau kamu lapar kamu boleh ke kantin duluan.” Sahut Ahreum tanpa mengalihkan pandangannya pada papan tulis dan buku catatannya.

“Ehm, aku tidak lapar. Ah, Lay hyung menyuruhku membawamu turun. Kajja!!” Bujuk Kai sedikit mengacak puncak kepala Ahreum.

Hyaaakk!! Shirreeoo!!” Rengek Ahreum diikuti death-glare-nya.

Kai selalu pasrah pada death-glare Ahreum. Bukan karena takut, tapi ia lebih memilih Ahreum untuk ditinggal sendirian. Karena memang itulah yang ia minta.

Arraseoarraseo. Hati-hati dikelas yah, sayang.” Pamit Kai yang ditutup dengan nada godaan pada Ahreum.

Michisseo [29].” Timpal Ahreum sekilas seraya melempar bola kertas kepunggung Kai.

Tak dipungkiri, Ahreum sempat terkekeh sekilas. Saat Kai mengatakan ‘sayang’ padanya.

Tentu saja itu karena Kai adalah namja pertama yang memanggilnya ‘sayang’ -yah, walaupun ia tahu bahwa Kai pasti hanya bercanda tadi.

Tapi, tetap saja itu sukses mengembangkan sebuah senyum yang teramat manis disudut bibir Ahreum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hyuunnggg… dimana Ahreumku?” Rajuk Sehun lengkap dengan serangan pout-nya pada Kai. “Kenapa dia tidak ikut? Kata Lay hyung, sekarang waktunya jam makan siang. Nanti kalo dia tidak makan dia jadi sakit. Andwae [30]!! Aku tidak tega melihat Ahreum sakit.” Tambah Sehun.

Hyaaak!! Bisakah kamu diam? Omelanmu membuat telingaku berdenyut sakit.” Protes Kai terhadap tingkah Sehun yang menggelikan -bagi Kai.

“Dia dimana?” Sela Lay.

“Dikelasnya. Dia tak mau turun, hyung.” Jawab Kai seadanya.

Wae?” Tanya Lay kembali.

“Entahlah, sepertinya tadi dia terlihat serius mencatat.” Tambah Kai. “Ah, matta [31]!! Tao hyung kemana?” Celetuk Kai saat menyadari bahwa Tao memang tak ikut berkumpul dikantin sedari tadi.

“Mungkin mencari yeoja lain puahahaha. Dia sangat disukai banyak gadis dikelas kami.” Timpal Sehun sedikit mengejek ditiap katanya.

Thats not funny!!” Balas Kai sinis.

Sementara itu

Ahreum terlihat fokus dengan buku catatan dan sesekali melihat kedepan papan tulis.

Present perfect tense adalah…” ejanya kata demi kata.

Ahreum-ah~~~”

Seketika bulu kuduk Ahreum menegak dengan sempurnanya. Ahreum yakin ia mendengar sebuah suara -atau bisikan angin lebih tepatnya.

Ahreum terlihat mengendik sekilas, kemudian ia lebih memilih kembali ke buku catatanya itu daripada menggubris suara tak jelas itu.

Present perfect tense adalah pola kalimat yang digun-,” lanjutnya tercekat.

‘Braaaaakkkk jedaaaar’

Pintu kelasnya tertutup dengan kerasnya.

Jika Ahreum mau menjerit, mungkin inilah waktu yang tepat untuk menjerit.

Nuguya [32]?” Serunya pada seisi kelas yang kosong.

“Ahreum-ah~~~~~~”

Lagi-lagi bisikan angina yang memanggil namanya yang terdengar.

Ahreum benar-benar ketakutan. Ia menggigit bibir bawahnya teramat keras. Ahreum bahkan mencengkeram buku catatannya tadi.

Dia terpaku dibangkunya. Ia menjadi serba salah, ia ingin keluar dan mencari Kai sekarang juga. Tapi kakinya terlalu kaku untuk digerakan terlebih lagi untuk berjalan menuju pintu yang tertutup dengan kerasnya ketika tidak ada angina sama sekali yang berhembus.

Dentuman jarum jam…

Helaan nafsanya yang berat yang berulang kali terdengar. Suara bisikan itu telah hilang. Tapi ia tetap tak berani untuk beranjak dari bangkunya.

Sampai, tiba-tiba…

“Annyeong Nona muda…”

Sileut seseorang berdiri tepat didepan pintu kelasnya yang baru terbuka –mungkin orang itu yang membukanya. Entahlah, Ahreum juga tak yakin.

“Pergilah!!! Aku tidak punya apa-apa, jangan menggangguku.” Jeritnya pada si empu suara itu.

-TBC-

 

 

Kamus Kecil Vampires vs Wolves :

[1] Omo : Astaga (bisa diartikan terkejut atau ‘astaga’ dalam bahasa korea)

[2] Geumanhae : Hentikan

[3] Mwo : Apa

[4] –ssi : imbuhan untuk memanggil seseorang yang lebih tua atau yang dihormati

[5] Sseolma : Keterlaluan

[6] Manni Appago : Sangat sakit

[7] Mianhae : Maaf

[8] Ne : Ya

[9] Gomawo : Terima kasih (digunakan dalam bahasa informal)

[10] Aigoo : Ya, ampun

[11] Hyung : Sebutan kakak laki-laki untuk seorang laki-laki

[12] Wae : Kenapa

[13] Anniya : Tidak

[14] Hyaaak : Hey

[15] Shireo : Tidak mau.

[16] –ah : Imbuhan untuk memanggil nama orang yang sebaya atau teman.

[17] Geokjongmalyo : Jangan Khawatir

[18] Sunbae : Kakak kelas

[19] Annyeong : Apa kabar, sampai jumpa, selamat tinggal

[20] Jjinja : Sungguh

[21] Wae Geurae : memangnya kenapa?

[22] Gwenchana : Tidak apa-apa

[23] Arraseo : Baiklah, Mengerti

[24] Kajja : Ayo

[25] Saem : Panggilan untuk Guru

[26] Choneun : Saya

[27] Inmida : Perkenalkan

[28] Gamshahamnida : Terima kasih dalam bahasa formal

[29] Michisseo : Gila

[30] Andwae : Tidak mau

[31] Matta : Benar

[32] Nuguya : Siapa

37 thoughts on “Vampires vs Wolves #6 – Ahreum’s Guardians

  1. Ping-balik: Vampires vs Wolves #10 –The Journal | EXO Fanfiction World

  2. Ping-balik: Vampires vs Wolves #9 – How To Spell ‘Sorry’ ? | EXO Fanfiction World

  3. Ping-balik: Vampires vs Wolves #8 – Lose Control | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s