Diposkan pada Angst, Drama, Fantasy, Kai, MULTICHAPTER, Sad Romance, saykoreanfanfiction

The Difference [Chapter 7]

fanfiction 43

Title: The Difference [Chapter 7]

Author : J.A.Y

Main Cast:

1.       Kai EXO

2.       Han Hyena (OC)

Support Cast:

1.       Chanyeol EXO

2.       Luhan EXO

3.       Sehun EXO

4.       Kim Myung Soo

Genre: Fantasy, sad, romance, drama, angst

Rating: PG-17

Length: Chapter

Disclaimer: The storyline pure is mine. Just is mine! So, don’t copy-paste and don’t be plagiarism!!

Chapter sebelumnya :

Teaser | Prolog | Chapter 1 | chapter 2 | Chapter 3A | Chapter 3B | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 |

 

 

 

—The Difference—

 

“kau pembunuh” ucap Hyena.

Nafasnya memburu dan bibirnya bergetar. Hyena hampir kehilangan nafasnya saat Jongin ingin menyentuh wajahnya. Dengan susuah payah Hyena bisa menelan salivanya sendiri. Rasanya seperti menelan batu. Sangat berat.

Suara yang bergetar itu menusuk gendang telinga Jongin. Suara yang meremukkan dirinya. Tangan Jongin kembali turun. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menyentuh wajah itu. Ia memandang nanar gadis didepannya. Perlahan iris mata nya berubah hitam.

Hal yang mustahil ada didalam diri Jongin adalah air mata. Jongin tidak tau kenapa matanya berubah panas. Seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam matanya.

Hyena melihat sosok aslinya. Gadis itu berusaha menahan ketakutannya setengah mati. Air mata Hyena tidak bisa berhenti turun membasahi pipinya. Itu yang membuat hati Jongin semakin sakit.

“kau pembunuh Kim Jong In” lirih Hyena.

 

 

—The Difference—

 

 

Kenapa harus Jongin?

Apa Tuhan sedang menghukumnya saat ini?

Begitu sulit untuk Hyena bisa mempercayai laki-laki itu. Tapi ketika kepercayaan itu sudah tergenggam, seolah Jongin melemparnya kedalam dasar jurang yang dalam.

Mata keduanya saling bertemu. Hyena tidak tau lagi harus mengatakan apa, setidaknya tidak untuk malam ini. Tidak perlu penjelasan, karena Hyena melihat semuanya dengan jelas. Otaknya menyimpan kejadian menyakitkan yang baru terjadi. Selamanya Hyena akan ingat itu.

Jongin ingin menyentuh lengan Hyena tapi gadis itu menepisnya dengan kasar. Seolah Jongin tidak boleh lagi menyentuh kulitnya sedikitpun.

Hyena menghapus jejak air matanya sendiri. Ia berusaha berdiri walaupun tubuhnya seperti tertarik magnet diinti bumi. Jongin mengkhawatirkan tubuh kecil itu. Kedua tangannya terulur seolah bersiap menangkap tubuh Hyena yang kapan saja bisa terjatuh.

Hyena merasakan rasa pusingnya memuncak saat ia sudah berdiri tegap. Tangannya hampir menyentuh kepalanya dengan tubuh yang sedikit terhuyung kedepan. Tapi itu tidak terjadi. Karena suara Jongin yang menyadarkannya.

Gadis itu membalikkan tubuhnya membelakangi Jongin. Ia sekilas melirik Chanyeol dari sudut matanya yang basah. Pria itu dingin membalas lirikannya. Hyena mengalihkan pandangannya lagi. Ia perlahan mengambil langkah kecilnya. Pandangannya kosong seperti tidak memiliki jiwa.

Chanyeol memutar matanya malas. Pemandangan ini terlalu mendramatisir untuknya. Ia menangkap tangan Hyena dan menghentikan langkah gadis itu.

Hyena perlahan mulai menatap Chanyeol lurus dimatanya. Laki-laki itu mengeraskan rahangnya dan mengalihkan iris matanya kearah Jongin.

“kau ingat perjanjiannya bukan?”

Mata itu belum lelah untuk terus menangis. Hyena dengan lemah menundukkan kepalanya menebak respon Jongin. Ia pasrah. Menyerahkan yang akan terjadi padanya malam ini pada Tuhan.

Jongin tidak bersuara dibelakangnya. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu. Jika Jongin akan membunuhnya malam ini lalu untuk apa Hyena harus merasakan seluruh perhatian dari laki-laki itu? Apa itu sebagai hadiah? Atau memang Jongin selalu memulai awal yang manis sebelum ia mengahkiri dengan kepahitan.

“Jongin?” panggil Chanyeol.

Dibalik dirinya yang terlihat tenang Jongin sedang memutar jalan. Hyena lebih penting saat ini. Susah payah Jongin mendapat kepercayaan gadis itu, susah payah Jongin menunggu gadis itu, susah payah Jongin mengenal gadis itu lebih dekat. Dan apa semuanya harus ia ahkiri disini?

Jongin mendengar hati gadis itu yang berbicara saat ditaman. Kau membuatku nyaman. Cukup itu yang ingin Jongin dengar. Sebenarnya Jongin ingin sekali mendengar Hyena agar meminta dirinya terus disamping gadis itu. Jongin ingin Hyena yang menahannya. Jongin ingin hanya ia yang satu-satunya menjadi orang yang Hyena butuhkan. Ia ingin Hyena tergantung padanya.

Tapi itu terlalu sulit?

Bisa membuat gadis itu nyaman dengan dirinya saja Jongin membutuhkan waktu sekian lama.

Chanyeol masih berbaik hati membiarkan Jongin untuk berfikir. Langkah pria itu mati. Jongin tidak bisa berbuat apapun lagi. Jongin lemah. Ia lemah melihat gadisnya tidak berdaya berada ditangan Chanyeol.

“jika kau tidak mau, aku dengan senang hati melakukannya”

Chanyeol menarik sudut bibirnya ketika Jongin terkejut. Belum sempat ia berbicara telinganya sudah mendengar suara kesakitan Hyena yang tertahan. Begitu cepat, bahkan Jongin belum sempat berfikir jauh sebelumnya.

Dalam hitungan detik Chanyeol bisa membuat gadis itu terbakar. Hyena sudah hampir merendahkan tubuhnya didepan Chanyeol. Tangannya sangat panas akibat cengkraman Chanyeol. Chanyeol seperti sedang berusaha meremukkan tulang-tulangnya.

“hentikan ,,, ahhkk”

Tangan Hyena berusaha menahan tangan Chanyeol yang sedang meremas pergelangan tangannya. Rasanya lebih sakit jika terkena air yang sedang mendidih. Rasa sakit yang akan membunuhnya.

Chanyeol semakin meremas pergelangan tangan Hyena. Tidak akan berhenti sampai Hyena menjerit kesakitan. Ia tau suara kesakitan gadis ini semakin melemahkan Jongin. Sekalipun Hyena meneriakan nama Jongin, Chanyeol tidak akan berhenti.

Hingga tetesan darah itu mulai jatuh dari balik telapak tangan Chanyeol. Bau anyir yang mulai tercium kuat di indra penciuman kedua vampire itu. Chanyeol hampir mematahkan tangan Hyena saat itu. Iris Chanyeol mulai berubah.

Seluruh aura gelap dan ketegangan semakin melingkapi lorong yang gelap ini.

Jongin mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras dan kabut hitam yang tipis mulai menyelimuti disekitar tubuh laki-laki itu. Kabut hitam yang sama dimiliki oleh Myung Soo.

“hentikan hyung” desis Jongin. Matanya kembali berubah berwarna merah. Jongin terlihat dua kali lebih menyeramkan dari biasanya. Ia marah karena Chanyeol melukai gadis itu.

Dalam sekejap Chanyeol melepaskan tangannya. Saat itu juga tubuh Hyena kembali jatuh keatas lantai. Gadis itu melihat sendiri darahnya yang berjatuhan diatas lantai. Chanyeol mengambil langkah mundur saat Jongin bergerak maju seraya menatapnya tajam. Ia memberi ruang untuk Jongin.

Langkahnya terhenti dibelakang punggung Hyena. Gadis itu harus kembali menahan ketakutannya saat Jongin menyentuh kedua bahunya. Hyena memejamkan matanya dan meremas sweaternya sendiri.

Jongin membalik tubuh gadis itu. Menjaga agar kepala Hyena terus tertunduk kearah lantai. Jongin tidak ingin Hyena melihatnya dalam keadaan seperti ini. Jongin dengan hati-hati menyembunyikan wajah Hyena dibahunya.

Mata merah itu sempat terpejam saat bahu Hyena yang semakin bergetar. Tubuh gadis itu sangat kaku. Jongin masih tetap memandang Chanyeol lurus saat matanya kembali terbuka. Tangan Jongin mulai merengkuh di punggung gadis itu. Semakin mendekapnya erat.

Mata Jongin mulai terpejam kembali. Ia mulai menyembunyikan wajahnya dilekukan leher Hyena. Chanyeol tersenyum simpul saat Jongin mulai menghirup aroma tubuh gadis itu. Menunggu saudaranya akan membunuh gadis itu sendiri.

Hyena semakin memejamkan matanya kuat. Ia menahan nafasnya ketika Jongin mulai menghirup udara dipermukaan lehernya. Hyena sudah menyerahkannya. Menyerahkan semuanya pada Tuhan. Apa yang akan dilakukan Jongin kepadanya malam ini.

Chanyeol hanya menunggu sampai saat itu datang. Tapi semua tidak seperti apa yang ada dikepalanya.

Ia semakin terkejut. Mata yang membulat dengan rasa amarah yang menyelimuti dirinya.

Jongin membawa Hyena berpindah tempat dengan kekuatannya. Dalam hitungan detik. Jongin seperti menghancurkan bayangan laki-laki itu. Membuat Chanyeol semakin marah dan menggeram kesal.

 

 

—The Difference—

 

 

Jongin semakin menyembunyikan wajahnya dilekukan leher gadis itu. Cukup lama dengan mata yang terpejam. Tangannya mulai merasakan punggung Hyena yang naik turun dengan stabil. Sebelumnya tidak seperti itu, karena Hyena terlalu tegang beberapa menit yang lalu. Gadis itu mulai mengambil nafasnya.

Hyena diam tidak bergerak. Matanya perlahan mulai terbuka dibalik bahu Jongin. Dan saat itu juga Jongin semakin mengeratkan pelukannya.

“maaf”

Hyena merasa lingkungan tempatnya berada sangat berbeda. Lebih hangat dan familiar. Tidak seperti beberapa menit yang lalu. Berada didalam lorong yang gelap dan dingin.

Hanya suara pelan itu yang terdengar ditelinganya. Hyena mencoba mengartikan arti dari maaf Jongin.

Jongin melepaskan pelukannya dan mulai merengkuh wajah mungil didepannya. Takut kalau-kalau Hyena akan merasa terguncang lagi jika melihatnya kembali.

Satu yang Hyena bisa pastikan saat ini—ia melihat tembok besar dengan cat berwarna abu-abu pasir dan beberapa dekorasi kamar yang tergantung. Tempat ini jauh lebih berbeda dari yang tadi.

Iris mata Hyena mulai memandang Jongin gelisah. Laki-laki itu mencoba menjelaskan secara pelan-pelan pada gadis itu. Jongin menjelaskan kenapa ia bisa berada disini. Tentang kekuatannya juga simbol gambar yang terdapat di punggungnya.

Hyena jelas hanya diam. Pandangannya semakin kosong melihat iris mata Jongin. Membuatnya semakin yakin jika hidup ini sedang mempermainkan dirinya. Maksudnya, apa karena kekuatan itu Jongin bisa membawanya ketempat ini? Jongin sudah membawa nya kembali ketempat pertama kali ia bertemu dengan laki-laki itu. Kamar Jongin.

Bagaimana Hyena bisa bertemu dan memiliki perasaan menyayangi pada mahkluk immortal didepannya.

Terlalu lelah jika terus harus menerima kenyataan ini.

“kau tidak membunuhku?”

Hanya itu yang terdengar oleh Jongin setelah hampir cukup lama Hyena menutup mulutnya.

“aku tidak akan melakukannya”

Gadis itu hanya tersenyum kecil dengan mata yang menyiratkan sebuah kesedihan.

“aku percaya padamu Jongin ,,, sebelum ini”

Jongin merasa sebuah batu menimpanya dari atas langit. Sangat berat jika ia harus menanggungnya.

“kau membunuh Myung Soo oppa dan gadis itu. Lalu kapan kau akan membunuh ku?”

Jongin semakin mendekatkan wajahnya dengan gadis itu saat mata itu kembali mengeluarkan air mata yang bisa membuatnya semakin hancur.

“aku tidak akan membunuh mu Hyena”

Tapi kenyataannya Jongin lah yang membunuh perasaan gadis itu. Membuat gadis itu harus mengalami tekanan yang begitu berat dalam satu malam. Hingga tanpa terasa dahinya sudah bersentuhan dengan gadis itu. Juga dengan telapak tangannya yang mulai basah.

“aku membencimu” bisik gadis itu. Dengan air mata yang semakin mengalir Hyena mengeluarkan suara halusnya didepan wajah Jongin. Ia yakin Jongin bisa mendengarnya dengan jelas, “aku sangat membencimu”

Jongin merasa dirinya juga hancur menjadi serpihan kecil. Matanya terpejam dan dengan berani ia— hampir—menutup bibir mungil gadis itu dengan bibirnya. Ia hanya tidak ingin mendengar Hyena mengeluarkan kalimat yang semakin menghancurkan dirinya.

Tapi yang dilakukan Hyena adalah memalingkan wajahnya kearah samping. Menolak laki-laki itu secara terang-terangan.

Hyena sudah bicara jika ia membencinya bukan? Itu artinya ia juga benci jika Jongin masih terus ingin menyentuhnya.

Jongin menarik wajahnya perlahan. Ia seperti ditampar oleh gadis itu walau Hyena tidak menyentuhnya. Hyena masih memalingkan wajahnya selama Jongin masih terus memandangnya dengan tatapan nanar. Terus seperti itu sampai mereka tidak tahu sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk berdiam diri satu sama lain.

Jarum jam masih terus berputar sesuai dengan rotasinya. Setiap detik, menit bahkan jam berlalu dengan cepat. Jongin tidak lelah terus memandang gadis didepannya yang sudah mulai terlihat lelah. Bagaimanapun juga gadis itu butuh memejamkan matanya.

“kau butuh waktu sendiri?”

Hyena hanya diam dan tetap mempertahankan posisinya.

“aku akan membiarkan mu sendiri disini” sambung Jongin sambil memaksakan senyum kecilnya. Jongin mulai beranjak bangun dari duduknya.

Jongin menarik kepala gadis itu walau wajah itu masih tetap tidak ingin memandangnya. Ia mencium puncak kepala Hyena seraya memejamkan matanya untuk sebentar. Setelah itu Jongin kembali menarik kepalanya kembali. Ia tau jika Hyena sedang sangat membencinya.

Tapi sikap Hyena yang seperti ini semakin membuat Jongin gila.

“tidurlah”

Setelah itu Jongin berdiri. Ia berlalu dari hadapan gadis itu dan membiarkan kamarnya menjadi ruang privasi untuk Hyena.

Jongin menutup pintunya juga menguncinya. Kunci kamarnya ia masukkan kedalam saku jaketnya. Jongin menatap knop pintu dengan perasaan bersalah yang teramat besar.

“karena aku tidak ingin kau pergi”

Setelah itu Jongin membalikkan tubuhnya. Ia dengan cepat berteleportasi menemui seseorang yang harus ditemuinya. Seseorang yang harus bertanggung jawab atas kekacauan ini.

Park Chanyeol.

 

—The Difference—

 

 

Myung Soo tiba didalam ruangan yang gelap dengan barang-barang yang besar yang tertutupi kain putih. Lantai yang berdebu juga debu-debu langit yang berjatuhan dari atap rumah.

Sebelumnya—saat ia bersama dengan Chanyeol—ia merasa emosi nya memuncak. Terlebih lagi saat tangannya yang tanpa sengaja membalik halaman buku yang menunjukkan identitas Jongin. Kemudian setelah itu, memori ingatan Myung Soo perlahan kembali.

Tujuan awalnya adalah bukan ketempat ini.

Sebenarnya ia pergi tanpa tujuan yang jelas sebelumnya. Tapi karena Myung Soo selalu mengingat bayangan Jongin, saat itu juga memori yang lain mulai kembali ia ingat. Terutama pada senyum seorang gadis yang Myung Soo rasa ia memiliki kedekatan yang teramat dekat dengannya.

Myung Soo memandangi dirinya yang begitu buruk dicermin yang ditutupi dengan debu tipis.

Begitu lusuh dengan kantung mata yang terlihat berat. Myung Soo sangat merasa dirinya yang sangat kacau.

Ia terduduk diatas lantai yang berdebu. Meremas helai-helai rambutnya dengan gemas. Sinar bulan juga beberapa cahaya pantulan lampu menembus masuk melewati jendela kecil. Menyinari dirinya juga membentuk bayangan dirinya yang tinggi di pintu.

Seperti inikah dirinya? Tidak ada keluarga atau saudara dekat?

Chanyeol berkata jika ia dulunya adalah manusia. Bahkan bagian buruknya adalah Myung Soo tidak bisa mengingat semua dengan jelas semasa hidupnya menjadi manusia. Semuanya hanya bayangan buram hitam yang terus bergerak didalam kepalanya.

Diluar, salju sedang turun.

Mengingat betapa dinginnya suhu diluar yang tidak bisa dirasakan laki-laki itu. Ia hanya berfikir ditempatnya.

Seperti apa dirinya dulu?

Apa ia seseorang yang berhati lembut atau dingin?

Myung Soo hanya terjebak didalam pikirannya sendiri.

Ia menekuk kakinya dan membungkukkan sedikit tubuhnya. Matanya terpejam dan berusaha menenangkan dirinya sejenak. Mencoba merasakan kesunyian ditempatnya berada, mendengar suara deru angin yang terdengar jelas ditelinganya atau hanya merasakan suasana gelap diruangan ini.

Myung Soo memalingkan kepalanya sedikit ke bawah meja. Sampai sebuah benda asing menarik perhatiannya. Kertas hitam dengan sedikit di pantuli dengan cahaya yang berasal dari luar.

Myung Soo meraih benda itu. Mulutnya mengkerucut kecil dan meniupkan sedikit angin kearah sebuah foto berdebu yang ia pegang. Sebagai gerakan reflek, ibu jarinya juga mengusap foto berukuran 8 x 8 cm itu.

Mungkin dirinya mencoba menafsir arti dari foto itu.

Itu foto dirinya dan juga seorang gadis yang terlihat manis. Ia dan gadis itu saling tersenyum satu sama lain. Senyum yang mereka lempar satu sama lain, bukan kearah kamera. Sepertinya foto itu adalah hasil dari ketidaksengajaan.

Myung Soo tertawa kearah gadis itu dan gadis itu juga tertawa seraya memegang bahu Myung Soo, sedangkan tangan lain gadis itu hampir menutup mulutnya sendiri. Foto itu diambil dengan latar belakang pohon besar dibelakang mereka.

Sayangnya wajah gadis itu hanya terlihat dari sisi samping. Myung Soo tidak bisa mengenalinya dengan jelas.

 

—The Difference—

 

 

“lalu?”

“Jongin membawanya pergi ,,, dengan kekuatannya”

Pria lain yang tak lain adalah Luhan ikut menoleh kearah tempat Kris dan Chanyeol berbicara. Sedangkan yang lainnya memang tidak ingin terlalu terlibat dalam percintaan Jongin dan masalah ketiga orang itu—Jongin, Chanyeol, dan Kris.

“apa maksudmu Jongin membawanya pergi?” kali ini Luhan ikut berbicara.

“dia pergi. Membawa gadis itu yang sedang hampir mati ketakutan”

Setelahnya Luhan hanya diam setelah Chanyeol mengulang maksud perkataannya yang sudah dibicarakan dengan Kris.

“lalu bagaimana dengan masalah Myung Soo?” tanya Kris.

Chanyeol menoleh pada pria itu, “aku sudah beritahu semua. Tinggal menunggu waktu, kapan ia akan mengingat masa lalunya”

“lalu?” timpal Luhan.

“tentu saja pria itu bisa membawa Hyena pergi” celetuk Chanyeol.

Luhan mendelik tajam pada Chanyeol, “kau salah Chanyeol”

Alis Chanyeol terangkat satu, “apa maksud hyung”

“mengambil milik Jongin tidak semudah yang kau fikirkan”

“jika begitu, itu bukan masalah ku. Itu masalah Myung Soo”

Seakan melemparkan tanggung jawab pada orang lain. Chanyeol mempermudah masalah ini semudah membalikkan telapak tangan.

“Jongin?” gumam Sehun yang melihat kedatangan Kai disudut ruangan.

Semua pusat perhatian langsung tertuju pada Sehun juga laki-laki yang berdiri dibelakangnya.

Jongin.

Laki-laki itu menatap lurus Chanyeol yang sedang tersenyum licik.

“kau yang merencanakannya?” tanya Jongin, “kau yang merencanakan ini?” sambungnya.

“benar. Itu aku. Namjoo, laboratorium, itu semua rencanaku. Kecuali ciuman panas kalian. Haha. Itu sungguh panas Kim Jongin” Chanyeol menurunkan senyumnya, “tidak kusangka Namjoo bisa sangat agresif. Seharusnya kau tidak membunuhnya sebelum menikmati tubuhnya. Apa Hyena pernah memberikan itu?”

Tidak sampai dua detik, Jongin dengan cepat menyudutkan tubuh Chanyeol ke sudut pintu. Gerakannya sangat cepat hingga membuat semua mata yang melihat menjadi terkejut. Luhan dan lainnya berdiri dengan mata yang membulat. Terlebih lagi Kris.

“tutup mulut mu” desis Jongin didepan wajah Chanyeol.

Chanyeol memainkan ekspresi wajahnya. Ia tersenyum rendah didepan Jongin yang sedang berusaha menahan amarahnya.

“apa yang membuat mu begitu mempertahankan gadis itu? Apa kau menghamili—ahkk!” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol lebih dulu harus menggeram sakit karena Jongin memperdalam lingkaran tangan dilehernya.

“kubilang tutup mulutmu!”

Semuanya hanya bisa mematung. Mereka tidak pernah melihat Jongin yang sangat berbeda malam ini. Kris tercengang melihat aura Jongin yang berwarna gelap. Itu pertanda buruk. Luhan hanya diam sementara Sehun sudah ingin menolong Chanyeol.

“jika terjadi sesuatu padanya, maka aku tidak akan diam. Kau yang kupastikan pertama kali akan merasakan kematian kedua Park Chanyeol” desisnya.

Jongin benar-benar marah malam ini. Ia melepaskan cengkramannya begitu saja dileher Chanyeol. Ini hanya sebuah peringatan pertama untuk Chanyeol. Setidaknya ia harus lebih berhati-hati terhadap Jongin.

Setelah itu Jongin menghilang. Tubuh Chanyeol merosot kebawah karena masih terkejut. Tatapan mata Jongin seperti membunuh kekuatannya dari dalam. Ia tidak bisa melawan laki-laki itu.

“sudah kukatakan ini tidak akan mudah” ucap Luhan begitu saja.

Setelah itu Luhan mengambil jaket kulit hitamnya dengan acuh dan menyampirkannya diatas bahu. Ia melenggangkan kakinya pergi keluar ruangan atau bahkan keluar rumah.

Pintu rumah setengah tertutup. Sehun juga ikut pergi mengejar Luhan. Tersisa Chanyeol dan Kris diruangan itu. Kris menghampiri Chanyeol dan membantu pria itu untuk berdiri.

“kau merubah aura Jongin”

“aku?”

“rencanamu”

“bukan aku atau rencanaku yang merubahnya. Lebih tepatnya gadis itu. Han Hyena” Chanyeol menepis tangan Kris dan ikut pergi dari ruangan.

Kris sendiri. Ia hanya meratapi kepergian semua saudaranya. Meninggalkan dirinya sendiri dalam pikiran yang justru membuatnya bingung. Melihat Jongin seperti itu membuatnya ingat akan kegigihan seseorang untuk mempertahankan sesuatu. Mempertahankan sesuatu yang penting hingga membuat bersedia mengorbankan diri sendiri.

 

—The Difference—

 

 

Didalam ruangan itu, ia terduduk disudut ruangan. Matanya yang sayu tetap terbuka tanpa letih. Ia memeluk lututnya seperti orang yang sedang mempunyai tekanan berat.

Itu benar.

Hyena mengalami depresi yang sangat berat. Ia terus berfikir bahwa ia akan mati sebentar lagi. Terus menyembunyikan dirinya setiap mendengar suara ranting-ranting pohon itu bergesekan dengan jendela kamar Jongin.

Ia dilanda rasa cemas yang teramat berlebih.

Sampai ahkirnya Jongin kembali datang tanpa melalui pintu. Hyena mengadahkan kepalanya terkejut lalu menurunkannya lagi. Menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut kakinya.

“kau belum tidur?”

Jongin merendahkan tubuhnya disamping Hyena. Tangannya terangkat, bergerak menyusuri rambut gadis itu yang panjang. Hyena sedikit menjauhkan kepalanya dari tangan Jongin yang membuat Jongin harus mengangkat tangannya kembali.

“jangan menyentuh ku” ujarnya.

Kalimatnya membuat Jongin sedih. Jongin membuat senyum kecilnya agar terlihat baik-baik saja di hadapan gadis itu. Membuat suasana hatinya baik-baik saja walaupun didalam kebohongan.

“kau butuh tidur”

Hyena mengangkat kepalanya. Ia sekilas melihat Jongin yang tersenyum kecil.

“jika aku tertidur mungkin aku tidak akan terbangun lagi”

Kalimat itu yang sukses menghancurkan Jongin—lagi. Senyumnya saat itu juga perlahan menghilang. Setakut itukah Hyena terhadapnya?

“kau bisa sakit”

“lalu aku akan mati” sergah Hyena.

Jongin diam. Ia semakin tercekik dengan semua kata-kata yang Hyena keluarkan. Rasanya sangat tidak panta Hyena berkata seperti itu di mulut manisnya.

“jangan seperti itu”

“lalu aku harus bagaimana?” Hyena menoleh pada Kai frustasi, “aku tidak bisa mengatur nafasku setiap detik diruangan ini. Ini membuat ku tertekan”

Jongin menarik tubuh kecil gadis itu saat ia melihat mata indah Hyena yang berkaca-kaca. Sudah dipastikan saat ini gadis itu sedang menangis kembali.

“jangan berfikir ini adalah masalah” ucap Jongin.

“kau masalah ku. Kau masalah hidup ku. Kau membuat diriku semakin merasa terbebani Kim Jongin” racau gadis itu dalam pelukannya.

“berhenti” lirih laki-laki itu.

“apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau mengambil semuanya? Semua yang kumiliki—“ gadis itu menghentikan ucapannya.

Hyena merasa nafasnya yang mulai tidak stabil. Kesadarannya kembali menurun karena denyutan dikepalanya yang kembali datang. Ia terus meringis didalam pelukan laki-laki itu.

“bahkan kau mengambil—“ sejauh ini Hyena berusaha melanjutkan kalimatnya.

“jangan diteruskan” sergah Jongin. Ia semakin mengeratkan pelukannya.

“kau mengambil—“

“Hyena aku mohon”

Suara Jongin seperti sebuah dengungan besar dikepalanya. Hyena meremas pakaian Jongin untuk menahan rasa sakitnya.

“Jongin” gumam gadis itu. Setelahnya Hyena kehilangan kesadarannya. Tubuhnya lemah tak berdaya, membuat Jongin harus menahan beban yang bertambah berat ditubuhnya.

Laki-laki itu secara sadar merasakan ada sesuatu yang aneh dari gadisnya. Ia melepas pelukannya dan melihat keadaan Hyena. Gadis itu sudah tidak sadarkan diri lagi.

Jongin segera membawa tubuh Hyena keatas tempat tidurnya. Memeriksa suhu tubuh gadis itu yang demam tinggi. Jongin bertindak cepat layaknya seorang dokter handal yang sedang menangani pasiennya.

Ia membuka sweater Hyena yang cukup tebal dan menaruhnya di sisi kiri gadis itu. Setelah itu, Jongin membantu melepaskan pakaian Hyena yang berlapis paling luar. Jongin lalu menaikan selimutnya dan menyelimuti tubuh gadis itu sampai sebatas leher. Setelah selesai, Jongin pergi kedapur dan mengambil handuk berukuran kecil yang ia taruh dalam wadah sedang yang berisikan air hangat.

Ia kembali kedalam kamar dan menaruh wadah itu diatas meja nakas. Jongin membuka lemari pakaiannya dan mengambil salah satu kemejanya.

Ia kembali duduk ditepi ranjangnya. Jongin kini benar-benar akan melepas pakaian Hyena seluruhnya kecuali untuk pakaian dalamnya. Saat Jongin menaikkan pakaian panjang Hyena sebatas perut, laki-laki itu terdiam. Ia ragu untuk melanjutkannya. Jongin ingin menghormati gadis itu.

Sesekali Hyena mengkerutkan kecil keningnya. Jongin yang melihatnya juga ikut berkerut kening.

Apa sangat sakit?

Jongin kali ini mengabaikan perasaan ragunya. Ia menutup tubuh gadis itu dengan selimut dan membuka pakaian Hyena didalam selimut. Pakaian Hyena harus cepat diganti atau gadis itu akan semakin sakit.

Jongin sesekali harus menjauhkan tangannya dibalik selimut karena sesekali tangannya bersentuhan dengan bagian tubuh Hyena yang lain.

Jongin tidak ingin membuat pikirannya kotor malam ini. Maksudnya ia tidak ingin berfikir secara detail saat punggung atau telapak tangannya bersentuhan langsung dengan permukaan kulit Hyena yang halus.

Ia hanya melepas pakaian Hyena dengan cepat dan menasangkan kemejanya ditubuh gadis itu. Setelah selesai Jongin mengeluarkan tangannya dari balik selimut. Ini hanya sebentar tapi membuat keringatnya hampir keluar.

Jongin menyibakkan selimutnya dan memperbaiki pakaiannya kembali ditubuh gadis itu. Ia menyisirkan rambut Hyena dan menyampingkannya. Setelah itu, Jongin mengambil handuk kecil didalam wadah dan memerasnya. Ia mengusap pelan handuk itu pada setiap inci tubuh Hyena. Membersikannya dengan lembut. Pertama dari wajah, leher, tangan dan kaki.

Jongin melakukannya dengan teliti. Setelah itu ia menyelimutkan kembali tubuh Hyena. Merapikan selimutnya dan berpindah duduk di sofa dekat jendela. Mengawasi Hyena dari tempatnya seraya melipat tangan. Pandangannya terlihat khawatir pada gadis itu.

 

—The Difference—

 

 

“Chanyeol”

Chanyeol menoleh saat ada yang memanggilnya. Ia berkerut pandang melihat orang lain yang berdiri dibawah bayangan pohon. Setengah bagian tubuh atasnya tidak terlihat. Kedua kaki itu perlahan maju dan memperlihatkan dirinya yang sebenarnya.

“Myung Soo?”

“aku ingin bertemu dengan Hyena. Dimana aku bisa melihatnya”

“kau sudah mengingatnya?”

Myung Soo menggeleng pelan.

“dia bersama Jongin. Jongin menculik gadis mu” sambung Chanyeol.

Myung Soo masih diam ditempatnya. Ia hanya berdiri melihat Chanyeol yang sedang menghisap darah manusia. Chanyeol yang merasa terus diperhatikan tentu saja menjadi tak enak hati. Ia menaikkan pandangannya dan menatap Myung Soo ragu.

“kau belum minum darah malam ini?”

Myung Soo menggeleng pelan kembali.

Chanyeol melihat Myung Soo juga korbannya bergantian. Setelahnya ia memberikan korbannya lagi pada Myung.

“aku ingin melihatmu merubah gadis ini menjadi debu, seperti malam itu” ujar Chanyeol.

“aku hanya mengikuti naluriku malam itu. Kau bisa melakukannya juga?”

“tidak tanpa kekuatan ku. Cepatlah lakukan”

Myung Soo ikut merendahkan tubuhnya seperti Chanyeol. Ia mulai menghisap darah itu dengan sangat kuat. Sampai hilang kendalinya. Satu yang Chanyeol perhatikan disini adalah aura gelap mulai muncul seperti Jongin. Tidak lama kemudian tubuh manusia ditangan Myung Soo menjadi abu dalam sedetik.

Dari jauh, Kris melihat kedua orang itu dari jauh. Chanyeol dan satu pria yang sedang membelakanginya. Kris menghampiri kedua orang itu dan terkejut. Chanyeol yang melihat kedatangan Kris memberi isyarat agar laki-laki itu tetap tenang.

Mata Myung Soo terbuka. Abu yang ada ditangannya ia jatuhkan begitu saja diatas aspal. Myung Soo membalikkan tubuhnya saat ia merasakan kehadiran orang lain dibelakangnya.

“Myung Soo?” gumam Kris saat setelah ia melihat Myung Soo menjatuhkan abu-abu halus itu.

Entah darimana ia dapat keyakinan jika laki-laki yang sedang berdiri didepannya saat itu adalah Myung Soo.

“Myung Soo kenalkan, dia Kris. Saudara ku yang lain” ujar Chanyeol.

Kris menoleh terkejut pada Chanyeol yang memperkenalkan dirinya pada Myung Soo. Kris melihat laki-laki yang berdiri didepannya dari atas hingga bawah. Tercengang dengan situasi yang tanpa ia duga.

 

—The Difference—

 

 

Hari berganti pagi. Matahari tidak bisa menembus masuk melalui celah jendela yang terkunci rapat. Sinarnya terhalang masuk dengan kain gordain penutup jendela berwarna merah gelap.

Kelopak mata Hyena mulai bergerak kecil. Selanjutnya gadis itu seperti sedang berusaha untuk membuka matanya. Cahaya yang teramat terang sedang berusaha masuk kedalam retina mata Hyena. Ia mengerjap kecil sampai ahkirnya ia bisa membuka matanya.

Hyena melihat sekelilingnya. Matanya sempat terpejam kembali dan tangannya yang memegang keningnya sendiri. Saat ia mengingat keberadaannya rasa pusing itu kembali datang.

Gadis itu berusaha mendudukan dirinya dengan tegap. Tapi alahasil yang bisa ia lakukan hanya menyandarkan sebagian punggungnya pada headboard tempat tidur.

Ia baru menyadari ketika melihat pakaian yang ia kenakan berbeda dari sebelumnya. Ia melihat dibalik selimut. Tidak ada celana jeans yang terahkir ia kenakan. Hanya ada terusan kemeja panjang yang menutupi setengah dari kaki atasnya.

Tok tok tok

Pintu itu terbuka dan memperlihatkan keseluruhan tubuh Jongin yang sedang membawa nampan dengan mangkuk bubur juga segelas susu. Hyena menahan rasa marahnya dengan meremas selimut yang masih menutupi tubuhnya.

Laki-laki itu dengan beraninya mengganti pakaiannya. Hyena tidak perlu berfikir jauh-jauh mengenai ini. Sudah dapat dipastikan jika Jongin lah yang menjadi satu-satunya orang yang berani mengganti pakaiannya.

Jongin masuk kedalam kamarnya dan menaruh nampan itu diatas meja nakas. Hyena memperhatikannya dengan perasaan yang sulit diartikan. Pandangannya begitu tajam pada Jongin yang kini sudah duduk disebelahnya.

“kau sudah ba—“

Plak

Dengan terpaksa Jongin membuang pandangannya kearah sisi kanannya. Hyena menamparnya hingga meninggalkan rasa panas dipipinya.

“kau keterlaluan” ucap Hyena dengan penuh tekanan. Gadis itu menahan airmatanya dengan menggigit kecil bibirnya.

Jongin segera memandang Hyena dengan matanya yang merah dan membuat gadis itu terkejut. Matanya membulat terkejut melihat reaksi perubahan Jongin yang sangat cepat. Tangan yang sebelumnya digunakan Hyena untuk menampar Jongin mulai bergemetar.

“Hyena” tangan Jongin menutupi punggung tangan Hyena dan menggenggamnya kuat.

Hyena tidak percaya dengan yang dilihatnya. Apa ia terlalu kasar tadi? Apa Jongin merasa tersinggung?

Pipi Jongin terdapat goresan merah yang Hyena yakin itu adalah hasil perbuatannya. Hyena melukai laki-laki itu. Sampai saat air mata pertamanya turun dipagi ini, Jongin dengan cepat yang menghapus jejaknya.

“jangan menangis” ujar Jongin.

“menjauh dari ku” sergah Hyena. Ia menepis tangan Jongin yang sebelumnya sudah menyentuh wajahnya.

“jangan takut padaku”

“pergi ,,, pergi dari sini” Hyena ketakutan saat Jongin berusaha menyentuh wajahnya lagi.

“kau harus bersamaku”

“pergi”

“berhenti menangis”

Hyena semakin memundurkan tubuhnya saat Jongin perlahan mendekat. Tangan Hyena semakin menarik selimut tebal diatas tubuhnya.

Keadaan Hyena sangatlah buruk. Ia semakin mengalami tekanan yang sangat berat saat melihat Jongin dengan iris mata laki-laki itu yang sangat tidak wajar. Seperti mengalami depresi yang berat, Hyena hampir saja melemparkan sebuah gunting kearah Jongin yang ia dapat dari meja nakas jika Jongin tidak segera menahannya.

“aku tidak akan melukai mu sayang” lirih laki-laki itu. Jongin mengambil gunting dari tangan Hyena dan membuangnya kesudut ruangan.

“berhenti! Pergi!”

Hyena berteriak histeris. Ia menekuk lututnya dan menutup kedua mata dan telinganya. Berusaha keras untuk tidak mendengar suara laki-laki itu.

“Hyena, lihat aku”

“kau pembunuh. Aku membencimu pembunuh!” teriak Hyena lagi.

Iris mata Jongin kini berubah hitam. Sampai saat Jongin menyentuh lengan gadis itu, Hyena sudah tidak sadarkan diri kembali. Jongin nanar melihat gadis dihadapannya. Begitu membuatnya sakit. Hati Jongin bahkan semakin terpukul saat Hyena menyebutnya dengan ‘pembunuh’.

 

TBC

Iklan

Penulis:

http://saykoreanfanfiction.wordpress.com/ Formed since May 29, 2013

Ditandai:

50 tanggapan untuk “The Difference [Chapter 7]

  1. ya ampun thor knpa jdi sad gini sihhh crtanya,,, ksihan kai oppa,hyena jahat BGT sihh
    klau hyena nggak mau ama kai oppa mending sma aku ajadigigit author,,wkwkwkwk author kya vampire ajeeee
    lanjut thor,,, DAEBAK ffnya keyyyennnn BGT thor

  2. ya ampun thor knpa jdi sad sihhh,,, ksihan kai oppa,hyena jahat BGT sihh
    klau hyena nggak mau ama kai oppa mending sma aku aja,,wkwkwkwk
    lanjut thor,,, DAEBAK ffnya keyyennn BGT thor

  3. aku ga tau unnie kalo aki jd kai oppa gmn
    cinta tp berbeda
    pasti sakit banget
    unnie sukses bikin aku nangis ! gmawoo unnie
    ffnua kereeeen !
    ngebayangin kalo kai oppa disandingkn sama edward cullen aku bakal lebih rela kai oppa yg gigit aku sampe jd debu
    hahahaha

    keep writing unnie 🙂

  4. Kasian hyena nya sampe depresi gt
    Ya ampuuun
    Sedih liatnya
    Smg ending nya nti happy ya thor
    Next chapnya cptan yaaa 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s