[Free Cast] My Dream

tumblr_ljjantmuOA1qhzn9io1_500

 

| This story belong to me, shineshen |

| I don’t know about cast of this fic, maybe you can imagine someone up to your mind |

| About genre? Maybe friendship and… Maybe you will find anything else?😀 |

| I just try to made a mini oneshot, maybe it works? |

| Make it more simple, you can consider it as a long imagine ^^ |

| Let you enjoy my present ^^ |

:: MY DREAM ::

 

“Pernahkah kau bermimpi?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja saat kau dan sahabatmu sedang berbaring di atas rumput hijau dengan beberapa batang yang sudah mengering saat ini. Matahari sudah mulai berwarna jingga di ufuk barat sana, menyisakan semburat di langit yang masih memberikan cahaya pada kalian untuk bisa melihat satu sama lain.

Kau mengerutkan kening mendengar pertanyaannya.

“Tentu saja pernah.” Jawabmu otomatis. “Pertanyaan aneh.”

“Aneh apa?” balasnya sambil menyenggol lenganmu yang bersebelahan dengan lengannya. Kau mendelik dan ia hanya membalasnya dengan kekeh yang menyebalkan.

“Tentu saja setiap orang di dunia ini pernah bermimpi. Kau mempertanyakan sebuah hal yang tidak butuh jawaban. Aneh.” Sahutmu lagi sambil menggaruk pipimu yang mulai gatal terkena udara dingin.

“Kalau begitu, apa mimpimu?”

“Haruskah aku menjawabnya?”

“Ya. Kau sahabatku. Aku harus tahu apa saja tentangmu.”

Kau mendengus mendengar ucapannya.

Menyebalkan. Dia selalu begitu.

 

“Impianku…” sahutnya tanpa kauminta. “Aku ingin manari diatas panggung yang sangat besar dan terang… Aku juga ingin menyanyi… Aku ingin mendengar suara ratusan fans meneriakkan namaku…”

Kau terdiam mencerna semua kata-katanya. Oh, dia ingin menjadi artis rupanya.

 

“Kau adalah orang pertama yang tahu tentang mimpiku,” sahutnya lagi sambil terkekeh pelan. Sama sekali tak terdengar seperti kekehnya yang biasanya menyebalkan.

 

“Kalau kau pasti ingin jadi penulis… Atau inspirator cerita? Ah, apapun itu, kau pasti ingin menjadi seseorang yang banyak bergelut di dunia sastra,” sahutnya bersemangat. Ia lalu menolehkan kepalanya dan memandangmu bersama segaris senyum di wajahnya.

Kau masih menghadapkan wajahmu ke langit. Memandang lurus pada satu-satunya awan yang menggantung di atas sana. Kau tak membalas tatapan mata laki-laki yang ada di sebelahmu sekarang.

 

“Apa kau seorang mind-reader?” tanyamu datar.

Kau mendengar kekeh gelinya saat kau menuduhnya sebagai pembaca pikiran. Kau masih terdiam. Kau dengarkan saja kekehannya yang terdengar jelas diselimuti keheningan taman tempat kalian berada sekarang.

“Tidak.” Jawabnya dengan kekehnya yang masih tersisa. “Sudah seberapa lama aku mengenalmu? Separah itukah aku sampai-sampai tak menyadari satu-satunya dunia yang dicintai sahabatku?”

“Kau anak yang cerdas,” ucapmu sambil tetap memandang lurus ke langit. “Ayahmu seorang professor. Mengapa kau tidak mau menjadi sepertinya?”

“Tentu saja aku mau,” sahutnya sambil ikut menghadapkan wajahnya lagi ke langit. “Tapi itu nanti di masa tuaku. Di masa mudaku, aku ingin menjadi seseorang yang dikenal banyak orang,”

“Kalau nanti kau menjadi artis… Bagaimana caranya kau bisa melanjutkan studimu?” tanyamu.

“Uhm…” kau menolehkan kepala singkat padanya dan melihat ekspresi bingungnya.

“Berarti kau harus memilih salah satu,” sahutmu menyimpulkan.

Tak ada timpalan lagi darinya seelah kau mengatakan itu. Kau menatapnya, dan ternyata giliran ia yang kini terdiam dan memandangi langit.

 

“Sudah malam, ya,” sahutmu memecah keheningan yang sedari tadi tercipta. “Ayo kita pulang saja,”

“Uhm, iya,” jawabnya kosong. Kini kau yang balik terkekeh melihat ekspresi kalian yang bertukar sekarang.

“Hey, jangan dipikirkan. Aku hanya bercanda saja tadi,” sahutmu sambil bangkit dan membersihkan rumput-rumput kering yang menempel di almameter seragammu. Ia ikut bangkit menyusulmu dan hanya menepuk-nepuk sedikit almameternya yang tertempeli rumput kering.

“Iya. Kau tenang saja, aku tidak apa-apa.”

Kalian membetulkan letak tas ransel kalian lalu bersiap berjalan. Namun sebelum kau sempat melangkahkan kaki, tiba-tiba ia menahan tangan kananmu.

“Jika nanti aku menjadi seorang penyanyi… Bisakah kau membuatkanku sebuah lagu?”

 

 

***

 

 

Berbagai suara mendominasi indera pendengaranmu saat ini. Lapangan sekolahmu penuh dengan teman-teman seangkatanmu, sibuk saling bersalam-salaman sambil sibuk berbincang mengenai ujian akhir dan seuneung yang baru saja kalian lewati.

Kau tidak ketinggalan. Bahkan kau tidak bisa menghitung sudah berapa banyak kau menyalami mereka. Namun kau masih merasakan rasa janggal dalam hatimu. Kau belum bertemu dia, sahabatmu.

 

“Hey, kau tidak ikut menulis disana?” seseorang menepuk bahumu tiba-tiba, kau kira itu sahabatmu sehingga kau buru-buru membalikkan tubuhmu. Tapi sesaat kemudian kau kecewa, karena ternyata itu bukan dia.

“Oh,” sahutmu kecewa, namun setelah itu kau segera menyambung kalimatmu. “Memangnya itu apa?”

“Kau boleh menulis segala impian masa depanmu disana,” jelasnya sambil menunjuk selapang dinding yang telah disediakan. Puluhan tulisan sudah mulai tertera memenuhi dinding itu.

“Sebaiknya kau cepat, dindingnya sudah hampir penuh,”

“Ya,” jawabmu. “Terimakasih sudah memberitahuku,”

 

Kau melangkah menuju dinding itu dan bertemu dengan segerombolan anak lain yang mengantre untuk giliran menulis. Matamu menelaah mereka, sedikit menelan kecewa saat kau tidak menemukan sosok yang kau cari diantara mereka.

 

“Kau mau menulis?” tawar seorang teman perempuan padamu. Ia menawarkan sebuah spidol bertinta merah ditangannya. Kau tersadar dari lamunan.

“Oh ya, tentu saja,” jawabmu dengan senyum. Kau menerima spidol itu dan membuka tutupnya. Sejenak kau terdiam, mengumpulkan ide untuk menulis sesuatu dalam kepalamu.

 

In my future, I want to write a song to my bestfriend. I am the first person who hear about his dream, so I hope that I also be the first person who seeing if his dream will come true someday later…

 

“Hey, apa yang kau tulis?” suara seseorang tepat menyambut ketika kau selesai menutup tutup spidol. Kau menoleh pada orang itu dan tersenyum seketika saat melihat bahwa dia adalah orang yang sejak tadi kau coba untuk temukan.

“Rahasia,” jawabmu dengan senyum jahil.

“Yak, kenapa kau merahasiakannya?” protesnya. Ia lalu menunjuk salah satu deretan kata disana, sudah pasti itu adalah miliknya, kau selalu mengingat bagaimana buruknya ia dalam menulis. “Kau lihat? Kau bahkan mengerti apa yang kutulis,”

 

Menjadi penyanyi terkenal adalah masa depanku. Mimpiku adalah saat aku bernyanyi diatas panggung yang sangat besar dan terang. Di depan salah seseorang yang selalu berarti dalam hatiku…

 

“Apa ini?” tanyamu sambil menggaris bawahi kalimat terakhir tulisannya dengan jari. “Siapa orang yang kau maksud?”

“Rahasia,” sahutnya sambil membalas senyum jahilmu sebelumnya. Kau mengerucutkan bibirmu sebal.

“Kau menyebalkan.”

 

“Jadi bagaimana?” tanyanya lagi. Sepertinya ia memang sengaja mengalihkan topik.

Kau mengerutkan keningmu. “Apa?”

Pertanyaan polosmu membuatnya memutar mata. “Kau sudah lupa? Masa depan? Aku memintamu membuatkanku sebuah lagu jika aku benar-benar menjadi seorang penyanyi,”

“Oh itu,” sahutmu. “Itu tergantung. Berdoa saja supaya aku benar-benar menjadi penulis suatu hari nanti, jadi aku bisa menuliskan kata-kata yang bagus untukmu,”

“Oh tentu saja,” shautnya dengan senyum cerah. “Semoga kau berhasil mendapatkan cita-cita yang kau inginkan, dengan begitu aku juga akan mencapai cita-cita yang aku inginkan. Bagaimana? Adil, kan?”

 

 

***

 

 

Waktu enam tahun berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak bersyarat yang bisa kau rasakan. Kau bahkan tidak tahu, apakah waktu selama itu lebih lama atau justru lebih singkat dari sekedar goresan kata yang kau bayangkan diatas kertas putih.

 

Musim dingin akan menjelang sebentar lagi, dan kau tak tahu apa alasan koordinator reuni SMA-mu atas berita yang disampaikannya minggu lalu soal reuni yang akan diadakan disaat cuaca sedang seperti ini. Bukankah musim panas adalah waktu yang lebih cocok dijadikan waktu reuni daripada musim dingin seperti sekarang?

 

Kau melangkahkan kakimu menyusuri koridor sekolahmu di masa lalu. Banyak yang telah berubah dari bangunan ini, banyak juga arah-arah yang telah diubah dari masa lalu. Kau selalu mengernyitkan kening setiap tiba di persimpangan koridor, bingung harus memilih jalan yang mana. Beruntung matamu mengangkan rambu arah yang tergantung di langit-langit, sehingga memudahkanmu menemukan ruangan aula dari sekolahmu di keadaan masa depan.

 

Ruangan aula tampak sudah ramai oleh teman-teman angkatanmu yang lain. Mereka tampak menggunakan dresscode yang sesuai, terkecuali dirimu yang merasa aneh saat memasuki aula besar itu dengan mantel besar yang menyelubungi tubuhmu. Kau sama sekali tidak menggunakan dress yang seharusnya dibalik mantel, kau malah menggunakan baju musim dingin. Beberapa pasang mata menatapmu saat kau berjalan pelan sambil meneliti wajah satu-persatu orang yang ada disana.

 

“Permisi?” tanyamu pada salah satu pria yang menggunakan tuxedo hitam disana. “Apa acara sudah dimulai sejak tadi? Apa aku terlambat?”

Pria itu membalikkan tubuhnya dan menghadapmu. Kau melebarkan matamu saat melihat wajahnya. Wajah yang kau kenal dengan baik. Selalu.

 

“Kau?” sapamu gembira. “Kau datang? Kau… Kau… Konsermu…”

“Aku mengatur ulang jadwalnya,” tawanya renyah. “Aku tak mungkin bisa meninggalkan acara ini. Bertahun-tahun aku menantikan kapan acara seperti ini akan digelar, jadi aku tak mungkin menyia-nyiakannya,”

Kau segera teringat sesuatu. “Oh, ada yang ingin kusampaikan padamu,”

“Benarkah?” tanyanya antusias. “Apa itu soal lagu yang dulu kau janjikan padaku?”

“Kapan aku berjanji padamu?” protesmu. “Aku tak pernah berjanji padamu. Kau saja yang memaksaku.”

“Tapi benar kan itu soal laguku?” tanyanya lagi.

“Uhm, ya…”

“Ayo ikut aku,”

 

Tanpa sepertujuanmu, tiba-tiba ia menarik tanganmu. Langkahnya yang besar dan cepat membuatmu sedikit kepayahan menyeimbangkan langkahmu dengan langkahnya. Ia menarik tanganmu tanpa pernah menoleh ke belakang, setidaknya mengecek keadaanmu yang kepayahan mengejar langkahnya.

 

Ia membawamu menuju rooftop gedung sekolah kalian. Kau bingung mengapa ia membawamu kesana. Namun belum sempat bertanya, ia menghentikan langkahnya.

Ia membalikkan tubuhnya menghadapmu lalu memelukmu secara tiba-tiba.

Napasmu yang belum sepenuhnya teratur kembali memburu saat kau mendapati dirimu ada dalam pelukannya sekarang. Apalagi saat telingamu yang sejajar persis dengan dadanya menangkap debaran aneh yang terdengar samar dibalik tuxedo-nya.

 

Kau tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tanganmu dengan refleks mendorong tubuhnya, menciptakan jarak yang cukup untuk kalian.

 

“Ada apa denganmu?” Tanyamu sambil melemparkan pandangan meminta penjelasan darinya. Ia hanya terdiam memandangmu, lalu mencoba tersenyum padamu.

“Aku merindukanmu,” jawabnya sambil mengacak pelan puncak kepalamu, membuatmu terdiam seketika. “Dan aku menyesal,”

“Menyesal?” ulangmu.

“Ah, tidak. Lupakan saja,” sahutnya menyudahi. Ia menghela napas sejenak saat memandang lurus iris kelammu. “Jadi… Mana laguku?”

Kau seketika tersadar dari lamunan saat ia kembali bertanya tentang lagu itu. Kau mengambil ponselmu dari dalam tasmu lalu menghubungkannya dengan headset. Kau membagi headset itu menjadi dua, satu untukmu dan satu untuknya.

“Kuharap kau menyukainya,” sahutmu sambil mengulum senyum. “Aku merekamnya sambil memainkan piano. Untuk ini saja, aku perlu berlatih hingga berminggu-minggu, kau tahu itu?”

“Benarkah?” tanyanya sambil membalas senyummu. “Kau lakukan itu untukku?”

Kau menoleh padanya dan menatapnya. “Apa maksudmu? Aku perlu berlatih berminggu-minggu supaya kau tidak mencelaku atas permainan pianoku yang buruk. Kau sahabat yang jahat. Harusnya kau tahu, sahabatmu ini tak secerdas kau saat menekan tuts-tuts piano.”

 

Kalian memilih tempat untuk duduk sebelum memutar rekaman itu. Ia mengajakmu duduk di tepi gedung. Awalnya kau tidak mau karena takut, tapi ia meyakinkanmu sampai akhirnya kau terpaksa setuju.

 

Alunan musik yang berpadu dengan suaramu mengalir melalui rekaman itu. Kau melihatnya memejamkan mata saat menikmati musiknya. Kau mengulas senyum tanpa sadar.

 

“Aku suka lagunya,” sahutnya saat rekaman selesai. Kau mengerjap sadar dari lamunanmu memandangi wajahnya, lalu membalasnya dengan senyum.

“Terimakasih,” balasmu dengan senyum lebar. “Jadi… Apa bayaranku atas lagu ini?”

“Apa? Bayaran?” protesnya. “Hey, tidak ada persetujuan soal bayaran saat itu.”

“Lalu apa artinya aku membuang waktuku bertahun-tahun demi menyusun lagu ini?” ceplosmu.

 

Ia menolehkan wajahnya padamu. “Apa? Bertahun-tahun?”

Kau membungkam mulutmu dan cepat-cepat menundukkan kepalamu, menyembunyikan wajahmu yang pasti sudah memerah sekarang.

“Ah, tidak. Lupakan saja.”

 

Selepas itu suasana diantara kalian benar-benar menghening. Kau tidak tahu harus berbicara apa lagi, kau sungguh merasa salah tingkah. Kau tidak tahu, hanya dirimu saja yang merasa canggung atau dirinya juga merasakan hal yang sama.

 

“Aku sangat merindukanmu,” sahutnya memecah keheningan. “Tapi aku juga menyesal,”

Kau mengangkat wajahmu dan menatapnya. “Menyesal?”

“Menyesal kenapa tak memberitahumu saja waktu itu,” sahutnya sambil tersenyum tipis.

“Memberitahu soal apa?”

“Soal tulisanku di dinding pengharapan itu,” jawabnya. “Soal seseorang yang kau tanyakan, seseorang yang kubilang selalu berarti dalam hatiku.”

“Oh, aku sudah tahu jawabannya,” sahutmu ringan.

Ia membelalakkan matanya menatapmu. “Benarkah? Kau sudah tahu?”

“Tentu saja,” jawabmu lagi. “Aku sudah tahu. Tentu saja yang kau maksud itu ibumu, kan? Atau ayahmu? Atau… Noona-mu? Pokoknya, dia pasti anggota keluargamu. Keluarga adalah sosok yang paling berarti dalam hati setiap orang. Benar, kan?”

Ia mendengar celotehanmu dengan sabar, lalu mengakhirinya dengan senyum simpul. “Bukan, bodoh. Bukan itu yang kumaksud,”

“Kenapa kau memanggilku bodoh?” protesmu tersinggung. Kau merasa kesal padanya, jadi kau mengerucutkan bibirmu kesal. Kau bahkan membuang pandanganmu darinya, juga menjauhkan posisi duduk kalian.

“Hey, kau marah padaku?” tanyanya. Kau tak menjawab.

“Sebaiknya kau bertanya dulu mengapa aku menyebutmu bodoh dalam hal ini,” sahutnya lagi.

Kau menolehkan wajah padanya dan berkata dengan ketus, “Memangnya kenapa?”

“Karena kau adalah sahabatku yang tidak tahu segalanya tentangku,” sahutnya sambil tersenyum. “Kau bahkan tidak pernah tahu perempuan mana yang aku cintai, kan?”

Kau membelalakan matamu menatapnya. Entah kenapa kau merasakan dentuman aneh terasa dalam hatimu saat mendengarnya menyebut tentang seorang perempuan yang ia cintai.

“Apa? Memangnya siapa dia?”

 

Ia mendekatkan kembali posisi duduknya denganmu. Masih mempertahankan senyumnya, ia mengacak pelan lagi puncak kepalamu.

“Kau.”

 

“APA??!” sahutmu shock. Kau menatapnya lebar-lebar. Namun tak ada reaksi lebih yang ditunjukkannya, kecuali sebuah senyum yang sedari tadi ia pertahankan di wajahnya.

 

“Ya, kau. Aku mencintaimu. Kau baru tahu, ya?” kekehnya dengan nada menyebalkan, mengingatkanmu akan kekeh menyebalkannya yang telah kau dengar ratusan kali di masa lalu.

“Apa maksudmu?” tanyamu lagi. Kau masih terlalu bingung dengan semua yang telah ia katakan. Logikamu menolak semuanya, walaupun hatimu berkata hal yang berkebalikan.

“Aku ingin menyanyikan lagu untukmu,” sahutnya lagi. “Kau ingat impianku di dinding pengharapan? Impianku adalah untuk bernyanyi di depan salah seorang yang selalu berarti dalam hatiku. Kau. Ya, maksudku itu adalah kau.”

 

Angin bertiup dingin dan sebutir gumpalan putih lembut jatuh diatas mantelmu. Saat itulah kau tersadar jika tangan kirimu sudah membeku sedari tadi. Mati rasa. Kau bahkan baru menyadarinya sekarang. Namun kau kembali merasa aneh saat merasakan rasa hangat justru menjalari tangan kananmu. Kau membelalak saat melihat tangan kananmu sudah ada dalam genggamannya sedari tadi.

 

“Orang bilang, menyatakan perasaan di hari pertama turun salju itu baik,” sahutnya sambil tersenyum dan menatap lurus pada matamu.

Kau terdiam tanpa tahu harus berbuat apa lagi. Sejujurnya kau masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi malam ini, semuanya terasa begitu cepat dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kau simpan dalam hati selama bertahun-tahun lamanya terjawab malam itu juga.

 

Kau rasakan tanganmu semakin menghangat, entah karena rasa bahagia yang menjalar dari hatimu ataukah karena tangan hangatnya yang terus menggenggam tanganmu saat ini.

Kau tak tahu.

Kau penasaran tapi tak tertarik untuk mencari tahunya lebih jauh.

Kau hanya ingin berada selamanya dalam keadaan seperti ini.

Ini adalah saat yang terlalu indah untuk dilalui waktu, meski pada awalnya sejujurnya kau tak pernah berani untuk mengharapkan kejadian sampai disini.

 

“Jadilah orang pertama yang menjadi saksi saat segurat mimpi sempurna berhasil kuwujudkan…”

 

 

Mimpi adalah hal yang terindah untuk didambakan.

Meski maya tak harus berwujud.

 

Bagaikan awan yang menggantung diatas langit, anak manusia melayangkan mimpinya jauh menembus angkasa.

Mengabaikan realita, membiarkan imajinasi bertahta.

 

Seperti sore itu disaksikan jingga, aku adalah tempatmu mengukir sederetan mimpi untu masa depan.

Hingga bintang bertaburan, kau putuskan menutup hari dengan harapan.

 

Aku adalah orang pertama yang mendengar mimpimu, kawan.

Dan aku juga akan menjadi orang pertama yang menjadi saksi saat segurat mimpi sempurna berhasil kau wujudkan…

 

 

Quotes by Dhea Shena | shineshen

 

 

 

—END—

 

 

 

Inilah genre fic aku yang baru, lagi suka bikin imagine, hoho ^^

Jujur aku lagi capek buat nulis fic yang panjang-panjang kayak biasanya, sampe 5000 words lebih itu… Fic kayak gini < 3000 words, cukup lah ya😀

 

Kalo ditanya inspirasi terbesar, datengnya dari sini nih :

  • EXO – Miracles in December
  • 15& – I Dream

 

Entah kenapa aku itu orang yang suka ngebayangin scene dari lagu yang aku denger, jadi scene ini mengalir gitu aja pas denger lagu Miracles in December ^^

Lagunya ballad sih, uwoh jatuh cinta deh pokoknya ama ballad ^^

Kalo yang I Dream, lebih nyumbang ke konsepnya sih sebenernya😀

 

Buat fic selanjutnya, siapa yang setuju kalo aku buat fic kayak gini lagi?😀

 

Dan buat cast di fic ini, siapa yang ada di benak kalian? ^^

 

 

71 thoughts on “[Free Cast] My Dream

  1. pas baca ff ini aku ngebayangin yang jadi sahabatnya itu d.o , dan ternyata nyambung banget ceritanya huaaaa
    bangus banget, aku suka cara eonnie menguraikan kata2 nya .. terkesan nyata😉

    daebakiaaaaa😀

    • hai ‘-‘)/
      maaf juga ya buat kamu, lagi-lagi aku telat bales komenan readers ;___;

      imagine with Bacon?
      sip, boleh kok😉
      aku pinjemin cast nya Bacon, ya? hohoho ~

      makasih ya, udah baca dan komen🙂
      maaf atas keterlambatan balasnya🙂

  2. Hai thor😀 sory yah baru komen hehehe
    aku suka sama critanya. . .alurnya keren ‘.’)b
    aku ngebayangin dia itu kris >.< entah kenpa😀 *padahalkanBiaskuCHANYEOL* hahah

    • hai ‘-‘)/
      maaf juga yah aku baru bales, aku baru buka wp😀

      mihihi, makasih ya😀
      imagine with Kris? hohohoho, kamu ya yg pertama imajinasiin cast nya dia😀
      hahaha, gapapa.. mungkin suatu saat nanti kamu bisa imajinasiin Chanyeol di fic yg lain😉

      makasih ya, udah baca dan komen🙂
      maaf atas keterlambatan balasnya🙂

    • hai juga, indy ^^

      hoho, syukurlah kalo kamu suka ceritanya ^^
      is it sweet? really? hahaha, thank you :3

      ngebayangin suho karena clue yang tersebar merujuk ke suho, ya?😀
      pas lagi jadi anak sekolahannya bisa juga kok ngebayangin kai, mihihi :3

      sip, makasih dukungannya ^^
      terimakasih ya udah baca dan komen🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s