Diposkan pada Adventure Book, D.O, Drama, EXO-K, Hurt/Comfort, Romance, Twoshot

He Is Mine [2/2]

req-he-is-mine

Title              :  He Is Mine

Author           : @ulfahanum1 (DreamGirl)

Main cast       :

  • Do Kyungsoo
  • Park Sunyoung a.ka. Luna
  • Bang Min Ah

Support cast   :

  • Lee Jieun
  • Byun Baekhyun
  • Kim Jongdae a.k.a Chen

Rating           : PG-15

Genre            : Hurt, Romance,  Friendship

Length           : Twoshot

COVER BY      : KEYUNGE

Disclaimer       : Pertama, ini adalah hasil imajinasi author sendiri dan fanfic ini bukanlah hasil plagiat. Maaf kalau misalnya ceritanya gaje dan typo(s) berserakan dimana-mana karena author hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari yang namanya kesalahan. Fanfic yang awalnya oneshot sengaja dijadikan twoshot. Enjoy~

Happy Reading

Author Pov

BAM!

Dentuman yang menghasilkan suara cukup keras itu sukses mengagetkan Kyungsoo. Kyungsoo menghela nafas panjang, sepertinya ini waktu yang tidak tepat untuk menjelaskan hal itu kepada Luna, batin Kyungsoo.

Kyungsoo bangkit dari duduknya, dengan langkah gontai ia berjalan mendekati pintu kamar Luna. Kyungsoo menghela nafas kasar, tangannya sudah diatas awang untuk memukul permukaan kayu pintu kamar Luna bermaksud ingin mengetuk pintu. Tapi dengan cepat Kyungsoo mengurungkan niatnya, bermaksud untuk tidak memperburuk keadaan Luna.

“Jalja..” bisik Kyungsoo pelan dan melangkah pergi meninggalkan Apartement Luna, Apartement yang selalu memberikannya kisah manis dan menyenangkan.

***

Luna menghempaskan badannya dengan kasar kepermukaan tempat tidur. Matanya serasa memanas dan ada sesuatu yang menusuk-nusuk diujung mata Luna. Ia ingin menangis, tapi sekuat tenaga ia menahannya.

“Kenapa aku seperti ini? “ lirih Luna. Tangan Luna meraba-raba permukaan kasurnya mencari keberadaan ponselnya. Setelah dapat ponselnya, ia merengut ragu. Apakah ia harus menelfon Kyungsoo atau tidak?

“Apa aku harus menelfonnya? “ lirih Luna. Tangannya kecilnya menggenggam erat ponsel miliknya.

“Hah, sial..” dengus Luna pelan dan melempar ponselnya kebawah lantai. Ada dentuman kecil akibat ulah Luna yang melempar ponselnya sembarangan.

Luna menutup matanya pelan kemudian menghirup oksigen banyak-banyak. Ia butuh istirahat total dan tidak ingin diganggu oleh siapapun, sepertinya luka yang baru pertama kali tertoreh dihati Luna akan berlangsung lama.

***

Dongguk University, 09.00 KST

Kyungsoo memandang dengan tatapan kusut kearah kelas dimana seharusnya satu jam yang lalu Luna sudah ada disana. Kyungsoo menggigit ujung bibirnya, sejurus kemudian ia memberanikan diri untuk memanggil Jieun, sahabat Luna.

“Jieun-sshi! “ teriak Kyungsoo tidak terlalu keras. Jieun menoleh kearah Kyungsoo dan melemparkan senyuman simpul.

“Ada apa Kyungsoo? Kau memanggilku? “ Jieun berjalan mendekati Kyungsoo.

“Ya.” Kyungsoo menarik lengan Jieun menjauh dari kelas Luna dan juga Jieun.

“Ada apa? “ tanya Jieun bingung.

“Dimana Luna? “ tanya Kyungsoo langsung tanpa ada sapaan sedikitpun.

“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, dimana Luna? “ jawab Jieun sembari mengernyit bingung.

“Dia tidak masuk hari ini, dia bolos.” Sambung Jieun. Kyungsoo menghela nafas kasar, ditatapnya wajah Jieun dengan dalam-dalam.

“Terimakasih.” Sahut Kyungsoo dan memukul pundak Jieun pelan.

“Chakaman Kyungsoo-sshi, “ tahan Jieun membuat langkah Kyungsoo terhenti.

“Ya? “ tanya Kyungsoo dan melirik Jieun sekilas.

“Kapan kau akan memberitahu semua orang mengenai hubunganmu? “ tanya Jieun balik. Kyungsoo terlonjak kaget.

“Belum kupikirkan. “ jawab Kyungsoo singkat.

“Jangan menyiska Luna semakin lama, kau seharusnya paham bagaimana perasaan seorang yeoja apalagi yeoja seperti dia..” ujar Jieun dan pergi meninggalkan Kyungsoo yang diam membeku saat mendengar ucapan Jieun barusan.

“Menyiksa? Menyiksa Luna? “ ulang Kyungsoo tidak mengerti. Dengan perasaan yang campur aduk Kyungsoo pergi kekelasnya dan duduk tepat diantara Chen dan juga Baekhyun.

“Kau darimana saja Do Kyungsoo? Dan ada apa dengan wajahmu? “ tanya Chen dan tersenyum ramah kearah Kyungsoo.

“Aku baru saja dari kamar mandi..” jawab Kyungsoo bohong. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang kali ini dan dengan cepat ia merogoh ponselnya dan mencari-cari nama Luna.

To       : Sunyoungie

Kau dimana sekarang?

SEND! Kyungsoo menyimpan ponselnya kedalam saku kemaja yang ia kenakan. Chen dan Baekhyun yang sepertinya masih penasaran dengan gelagat Kyungsoopun terus memperhatikan Kyungsoo tanpa meninggalkan celah sedikitpun.

“Huh, ada apa? “ celoteh Kyungsoo dan menatap sengit Chen dan Baekhyun bergantian.

Pletak!

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau ini kenapa? Baru masuk sudah memasang raut seperti itu. “ cuap Baekhyun dengan suara tak terima.

“Aku hanya sedang kesal, itu saja.” Jawab Kyungsoo cepat.

“Lantas kau ingin aku memasang raut seperti ini? “ tanya Kyungsoo dan melayangkan sebuah senyuman manis yang biasanya selalu diperlihatkan ketika hatinya tengah tenang dan senang.

“Ah, kalau kau seperti itu aku yakin Minah akan bertambah mencintaimu. Oh ya, kapan kau jadian dengannya? “ puji Chen ditambah dengan serangkaian kata yang tidak dimengerti Kyungsoo apa maksudnya.

“Aku? Minah? Siapa dia? Oh tunggu, apa ini? Rumor apa yang sedang kalian sebarkan eoh? “ ujar Kyungsoo dengan amarah yang tidak biasa apalagi ditambah mengingat masalahnya dengan Luna.

“Kau tidak mengenali Bang Minah? Namjachingu macam apa kau ini Kyungsoo? “ gelak Chen dan melirik Baekhyun yang sudah tersenyum sumringah.

“YA! Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan, jangan pernah menyebarkan omong kosong..” gerutu Kyungsoo. Chen dan Baekhyun bertukar tatap dan mengangkat bahunya.

“Omong kosong ya? Kupikir tidak, pergilah temui Bang Minah yeojamu itu dan tanyai kepadanya.” Ujar Baekhyun santai diikuti anggukan setuju oleh Chen.

“Aish, sial. Masalah apa lagi ini? “ Kyungsoo bangkit dari duduknya dan dengan wajah marah serta gerah ia keluar dari kelasnya. Ia ingin mencari sosok Bang Minah dan menanyakan apa maksud yang dikatakan oleh kedua sahabatnya kepada dirinya.

Author Pov End

Kyungsoo Pov

Tanganku mengepal dan rahangku seketika mengeras mendengar ucapan Chen dan juga Baekhyun. Apa yang yeoja itu coba lakukan? Setelah cukup lama mencari sosoknya akhirnya aku menemukannya tengah duduk sendirian dibawah pohon rindang yang ada ditaman. Oh, bahkan ketika aku melihat wajahnyapun aku serasa ingin memakinya.

“Jeogi, bisakah kita bicara sebentar? “ teriakku ketus kepadanya. Minah yang tengah duduk sambil mendengarkan lagu dan membaca buku menoleh kearahku.

“Annyeonghaseyo..” sapanya ramah. Cih, disituasi seperti ini masih sempat ia menyapaku dengan wajah sok ramah dan manis.

“Ap-“

Drrt..Drrt..Drrt..

Belum sempat aku mengatakan apa yang ada dibenakku tiba-tiba saja ponselku bergetar hebat. Aku merogoh ponselku dan kubuka pesan yang dikirimkan oleh yeojaku, Luna.

From   : Sunyoungie

Hanya mencari udara segar. Kenapa?

Aku menghela nafas lega, kemudian memilih untuk menelfon Luna dan mengabaikan Minah yang sudah menatapku. Sudahlah, yang terpenting bagiku Luna mau membalas pesanku dan ini tandanya ia sudah tidak marah lagi dan sudah bisa dibawa bicara baik-baik.

“….” Kudekatkan ponselku ketelingaku, dalam deringan ketika aku sudah bisa mendengar suara merdu milik Luna menyapa diseberang sana.

“Yeoboseyo? “ jawab Luna dengan lembut.

“Kau ada dimana sekarang? “ tanyaku hati-hati.

“DiCafe dekat dengan Apartement. Wae? “ tanyanya balik.

“Tunggu aku disana, aku akan kesana secepatnya. “ ujarku dan mengakhiri panggilanku. Setelah itu aku menoleh kearah Minah yang tampak bingung dengan sikapku, tapi sejurus kemudian ia tersenyum kearahku dan demi apapun aku benci dengan senyumannya. Senyumannya itu terkesan dibuat-buat berbeda dengan yeojaku, Luna.

***

Mr. Boogie Café, 09.30 KST

“Selamat datang..” sapa seorang pelayan namja saat aku baru saja menjajakan kakiku di Mr.Boogie Café, salah satu Café yang terlalu sering dikunjungi oleh Luna karena Jieun sahabatnya bekerja paruh waktu disini

Dari kejauhan aku sudah bisa melihat sosok yeojaku tengah duduk dan menatapkearah luar jendela dan tidak lupa kedua lubang telinganya disumbat dengan earphone. Aku tersenyum tipis dan seolah-olah perasaan kesal dan amarahku tadi lenyap begitu saja saat melihat rupanya.

Dengan segera aku memperpendek jarakku dengan jaraknya. Ia masih sibuk mendengar lagu dan sesekali tersenyum manis. Ah, dimeja yang dia tempati ada tumpukan buku yang kubelikan waktu itu dan ada pesanannya juga, Ice Americano.

“Sunyoung..” sapaku dan duduk tepat didepannya.

“Oh? Kau sudah datang..” ujarnya dan melepas penyumbat telinganya. Ia menatapku lekat kemudian tersenyum simpul. Oh, dengan senyuman ini saja aku merasakan duniaku benar-benar tenang.

“Kenapa tidak datang kuliah? “ tanyaku kepadanya. Luna menggeleng pelan dan memainkan pipet yang ada di Ice Americanonya.

“Hanya malas dan tidak mood..” jawabnya dan menatapku.

“Kau sendiri? Kenapa tidak kuliah? “ tanyanya dan mengernyit bingung.

“Karena mencemaskanmu..” jawabku jujur. Luna tersentak kaget pada awalnya, tapi lama kelamaan sebuah senyuman merekah muncul dibibirnya.

“Aku sudah besar dan tidak perlu dicemaskan. Lagipula aku bisa menjaga diriku sendiri..” serunya dan menyeruput minumannya.

“Aku mencemaskanmu karena hal itu Luna, apa kau marah? Dan mengenai hubungan yang sengaja yang kututupi dan kurahasiakan, maafkan aku. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada orang lain..”  ujarku panjang lebar kepada Luna. Luna terkesiap kaget dan menatapku heran, mungkin ia tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan saat ini.

“..” Luna diam membisu dan menatapku lekat. Aku benar-benar tidak mengerti dengan rautnya kali ini, apakah senang atau kecewa.

“Luna? “ seruku dan menggigit ujung bibirku.

“Ah, kemarin ya? Sudahlah lupakan saja lagipula itu bukan salahmu Kyyungsoo. Mengenai ucapanmu yang terakhir, sepertinya aku akan berpura-pura tidak mendengarnya..” sahut Luna. Dia tersenyum tipis kearahku dan kembali meneguk minumannya.

“Kenapa? “ tanyaku dan mengalihkan pandanganku darinya.

“Kau tidak ingin memesan minuman Kyungsoo? Apa kau ingin aku yang memesankannya. Kalau begitu tunggu sebentar, “ ucap Luna yang kuyakini ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku menengadah menatap Luna yang sudah bangkit dari duduknya dan mendekati meja kasir, memesan minuman kesukaanku. Tak berapa lama setelah itu, Luna datang sembari membawa pesanan untukku.

“Igo, minumlah..” cuapnya dan meletakkan Latte didepanku. Aku mengangguk pelan dan mulai meneguk minumanku sambil sesekali menatapnya.

“Sudahlah Kyungsoo, jangan menatapku seperti itu.” Tegur Luna membuatku tertawa renyah.

“Luna, mengenai tadi… apa kau ingin aku mempublikasikan hubungan kita? “ tanyaku kepadanya. Luna menundukkan kepala, menghindari tatapanku.

“Entahlah..” jawab Luna dengan suara yang pelan. Aku mendesah pelan, aku tidak bisa terus menudingnya dengan sekumpulan pertanyaan dan pernyataan. Yang terpenting kini dia tidak marah lagi kepadaku.

“Sudahlah, lupakan saja..” cetusku dan mengacak pelan rambutnya. Ia mendongakkan kepalanya, menatapku dengan sebuah senyuman manis yang kusukai.

“Terimakasih,” ujarnya yang membuatku bingung.

“Untuk apa? “ tanyaku dan menggenggam tangannya erat.

“Untuk segalanya..” jawabnya dan tertawa renyah.

“Tidak perlu berterimakasih Sunyoung..” seruku membuat Luna lagi-lagi melayangkan senyuman manis.

“Ah, kau selalu saja tersenyum seperti ini. “ ucapku dan menggembungkan pipi.

“Tapi inilah yang kau suka dariku..” cibirnya. Aku mengangguk pelan sembari tertawa geli dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan kecil miliknya.

Kyungsoo Pov End

Luna Pov

Dongguk University, 10.oo KST

Aku berajalan dengan wajah ditundukkan sembari tangan yang memeluk erat buku yang dibelikan Kyungsoo. Akhirnya setelah 2 hari meliburkan diri dari kuliah, sekarang aku terpaksa kembali ke Dongguk University untuk mengikuti pembelajaran seperti biasa. Ya, kemari aku sengaja untuk tidak datang kekampus lagi karena mentalku ini belum siap mendengar seruan manja Minah, dan wajah Minah.

“Sunyoung! Park Sunyoung! “ teriak seseorang sembari menyebut namaku. Merasa kenal dengan suara yang memanggilku, aku segera mencari sumber suara. Kudapati Jieun tengah melambaikan tangannya kearahku dengan raut wajah yang menurutku aneh dan tidak seperti biasanya.

“Lee Jieun! “ balasku menyapa dengan suara lantang. Dengan segera aku berlari kecil kearahnya sambil melemparkan senyuman polos tak berdosa.

“Apa yang kau tunggu disini Jieun? Sebentar lagi kuliah kita akan dimulai. Kajja..” tegurku saat melihat Jieun hanya menatapku dalam bisu.

“Jieun-ah? “ ulangku lagi sambil menggerak-gerakkan tanganku didepan wajahnya.

“A..anio.. Nanti saja kekelasnya, kau ingin makan sesuatu? Aku akan mentraktirmu.” Ucap Jieun terbata-bata. Apa yang terjadi dengannya?

“Aku sudah kenyang Jieun, ada apa denganmu? Ada yang kau sembunyikan dariku hm? “ ucapku menebak. Jieun terlonjak kaget dan dengan cepat ia menggenggam tanganku, sangat kuat.

“Mwoya? Ppalli, sebaiknya kita segera masuk kelas..” seruku aneh dengan sikapnya.

“Shireo! Kau harus temani aku ke Kantin Kampus. Kajja..” ajak Jieun dan menarik lenganku kuat. Dengan tingkah anehnya yang seperti ini, aku yakin bahwa ada yang disembunyikannya dariku.

“….” Dengan cepat aku menarik tanganku dari genggaman Jieun kemudian memandangnya dalam.

“Apa yang kau lakukan? Aku ingin kekelas kenapa kau mencoba mengalihkan tujuanku? “ ujarku sedikit keras dan berbalik meninggalkannya pergi menuju kelasku.

“Sunyoung! Park Sunyoung! “ teriak Jieun lantang dan mengejarku yang sekarang sudah ada diambang pintu masuk kelas.

Apa ini? Kenapa kelas ini penuh dengan orang-orang atau lebih tepatnya namja? Oh sialan, ini pasti akibat ulah Bang Minah lagi. Suara gaduh bercampur riuh terdengar ditelingaku dan hal itu sukses membuatku merasa muak.

“Jeogi, bisakah kalian memberiku jalan sedikit? Ini tempat untuk menimba ilmu bukan tempat bersorak ria..” cemoohku kepada salah satu namja yang menutupi jalanku menuju tempat duduk milikku. Tak ada sahutan dari namja itu, ia hanya sibuk bersorak ria karena kini Minah sudah berdiri diatas meja. Dasar yeoja gila, batinku.

“Jeogi! Jebal, beri aku ja-“

“Kyungsoo-ya, naiklah! Chagi, naiklah! “ ucapanku terpotong sudah saat mendengar nama namjaku disebut-sebut oleh Minah. Seketika aku langsung terdiam dan menoleh kearah Minah yang ada diatas meja dan kini bersama Kyungsoo.

Brruk!

“Argh..” ringisku saat namja yang ada didepanku mundur dan membuatku terjatuh kelantai. Ada luka memar ditelapak tanganku dan ini sungguhlah sakit.

“Luna-ya? “ seru Jieun dan menatapku dengan wajah iba.

“Semuanya, ini dia namjachinguku. Do Kyungsoo..” samar-samar aku mendengar suara Minah memberitahu seluruh penjuru dikelas ini bahwa Kyungsoo adalah namjachingunya.

“Appa..” lirihku kepada Jieun. Tak terasa aku meneteskan air mata, hatiku terasa pedih dan sesak.

“Sunyoung-ah..” Jieun menolongku bangkit dan memapahku keluar dari kelasku. Air mata yang kuusahakan tidak jatuh tetap turun dan membasahi pipiku.

“Uljima Sunyoung-ah..” sesal Jieun dan membawaku keruangan yang bisanya digunakan untuk tempat peristirahatan. Disini ada juga obat-obatan, ibaratkan ruangan ini adalah UKS.

“….” Aku hanya diam seribu bahasa dan menundukkan kepalaku. Aku malu dan merasa terhina jika harus melihat Jieun dengan wajah seperti ini. Seumur-umur aku bersahabat dengannya, aku tidak pernah menangis didepannya.

“Tanganmu..” ucap Jieun dan menarik tanganku. Melapnya pelan dengan kapas yang sudah diberikan cairan obat. Aku tak meringis sedikitpun saat permukaan kapas itu menyentuh luka ditelapak tangaku. Hanya ada isakan kecil akibat tangisku.

“Uljima… jebal…” pinta Jieun dengan wajah memohon.

“Aku..aku baik-baik saja Jieun. Terimakasih..” seruku dengan suara serak.

“Kau yakin Sunyoung? Mungkin fisikmu baik-baik saja tapi siapa yang tahu dengan hatimu Sunyoung. “ cuap Jieun sambil sibuk mengobati tanganku. Dan kini tanganku sudah diperban dan diberi plester oleh Jieun.

“Gwenchana..” lirihku dan menatap Jieun. Jieun menghela nafas kecil dan mengusap air mata yang ada dipelupuk mataku.

“Kau jelek saat menangis Sunyoung, jika kau jelek kau bukanlah sahabatku..” ancam Jieun membuatku tersenyum simpul.

“Aku memang jelek dan aku tidak secantik Bang Minah. Wajah imut, pipi chubby dan senyuman manis. Bukanku dia sempurna? “ balasku kepada Jieun. Jieun menggembungkan pipinya merasa tidak setuju dengan ucapanku barusan.

“Yasudahlah, aku ingin pergi mencari udara segar untuk menenangkan pikiranku. Dan terimakasih Lee Jieun..” ucapku dan mengangkat tangan kiriku yang diperban. Jieun mengangguk pelan dan tersenyum sekilas.

Luna Pov End

Author Pov

Luna berjalan menaiki tangga bermaksud akan pergi menuju Perpusatakaan. Namun, dari arah belakang ia mendengar suara tapakan kaki tergesa-gesa. Sontak ia menghentikan langkahnya dan menoleh kebalakang. Deg! Didapatinya sosok Kyungsoo ada dibelekangnya, menatapnya dengan wajah bersalah dan nafas yang sesak.

“Park Sunyoung, aku butuh bicara denganmu..” ujar Kyungsoo dan menggenggam tangan kanan Luna.

“Apa? “ jawab Luna tak percaya. Sungguh, sebenarnya sulit bagi Luna menjawab pertanyaan maupun pernyataan Kyungsoo.

“Aku bisa menjelaskan yang tadi Luna, yang tadi tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran yeoja yang bernama Bang Minah itu. Sebenarnya tujuanku kekelasmu tadi pagi adalah menemuimu dan menayapamu..” jelas Kyungsoo panjang lebar.

“….” Luna hanya diam dan terus memandang Kyungsoo lekat.

“Geurigo, tanganmu tidak apa-apakan? “ tanya Kyungsoo dan menarik tangan kiri Luna.

“Gwenchana..” lirih Luna dengan suara bergematar. Ia sedang berusaha untuk tidak menahan tangisnya kali ini.

“Chagi! Kau disi- “ suara khas milik Minah terdengar begitu jelas ditelinga Luna dan Kyungsoo. Ya, tanpa sepengatahuan Kyungsoo, Minah mengikutinya.

“Mianhae Do Kyungsoo, mungkin kau salah orang. Kau mencari diakan? “ ucap Luna dan menarik lengannya dari Kyungsoo.

“Annyeong-gi haseyo..” pamit Luna dan menaiki tangga dengan cepat.

“Luna..” bisik Kyungsoo pelan dan menatap punggung Luna yang semakin menjauh dari penglihatannya.

***

 Mr.Boogie Café, 20.00 KST

Luna duduk ditempat biasa ia duduki jika mengunjungi Café dimana Jieun bekerja. Tangan yeoja itu seketika bergemetar kecil. Ditatapnya tumpukan buku didepannya dengan wajah masam. Menyembalkan sekaligus menjengkelkan. Haruskah ia kembali sibuk dan berkutat dengan dunia yang tidak dinikmatinya ini kecuali akan terasa nikmat jika orang itu ada bersamanya dan memberikan dukungan penuh untuknya.

Sebenarnya Luna sangat menggemari yang namanya membaca buku apalagi jika buku-buku yang dibacanya ini diberikan dan dibeli oleh Kyungsoo. Tapi entah mengapa setelah melihat dan mengingat kejadian tadi pagi, hati dan otaknya seolah-olah menolaknya membaca buku. Jujur, yang dia butuhkan kini hanyalah Kyungsoo walaupun hatinya serasa pedih dan sakit.

“Ini pesananmu..” ujar Jieun sambil duduk tepat didepan Luna.

“Gomawo..” jawab Luna singkat dan padat. Jieun menghela nafas kecil, dan meraih buku-buku yang ada didepan Luna.

“Sudahlah, jangan membaca buku lagi jika memang tidak ingin. Jangan dipaksakan! “ ujar Jieun. Luna menoleh kearah Jieun, ada sengatan tak suka diwajah Luna kali ini.

“Apa ada sesuatu yang kau butuhkan lagi? “ tanya Jieun dan menatap Luna dengan senyuman kecil.

“…..”

“Jawablah aku.” Sesaknya sedikit tak sabaran.

“Aku butuh Kyungsooku.” Jawab Luna dengan wajah serius.

“Apa? “ Jieun tersentak kaget dan membulatkan matanya.

“Kau gila? Kenapa kau masih butuh dia eoh? “ sambung Jieun tak terima.

“Hah, sudahlah aku ingin pulang. Terimakasih. “ pamit Luna dan memeluk buku-bukunya kembali. Jieun menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sahabatnya.

Luna berjalan dengan langkah gontai dan tak berselara menelusuri jalanan setapak menuju Apartementnya. Hatinya benar-benar tidak tentu saat ini, dia kesal tapi dia juga merindukan sosok namjanya. Besok atau mungkin lusa ia baru akan berani memperlihatkan sosoknya di Dongguk University dan ia bersumpah yakin bahwa untuk beberapa hari ini hubungan dia dengan Kyungsoo pasti akan memburuk.

***

Sudah dua hari ini Luna mengurung dirinya diApartementnya sendirian. Ia tidak menjawab panggilan dari Kyungsoo ataupun membalas pesan dari Kyungsoo yang berisi permintaan maaf atau penjelas mengenai hal itu. Luna hanya mau membalas pesan atau mengangkat panggilan dari Jieun, sahabatnya.

“Hah..” lenguh Luna keras. Dengan wajah yang kusut dan rambut acak-acakan ia berjalan keluar kamarnya. Ia menatap sekeliling Apartementnya dengan wajah masam. Kesal sekaligus menyebalkan, sudah dua hari ini ia mengacaukan apapun yang ada disekitarnya bahkan Apartement miliknya yang biasa tertata rapi terkena imbasnya.

“Sial, bagaimana cara membersihkan kekacauan yang kuperbuat ini? “ gerutu Luna dan menendang kaleng minuman cola yang ada dilantai.

Luna menghempaskan badannya keatas sofa, ditatapnya keatas meja yang penuh dengan buka bacaan yang dibelikan Kyungsoo. Ya, selama dua hari ini ia berusaha melupakan Kyungsoo dengan cara membaca buku. Luna memegang perutnya yang terasa lapar, ia melirik sekilas kearah dapur yang berantakan dan serta merta pintu kulkas yang terbuka. Tidak ada isinya dan sebenarnya hari inilah jadwal untuk mengisi kulkas.

“Ooh, sial..” dengusnya dan merengut tak suka. Dengan segera ia merogoh ponsel yang ada disaku celananya kemudian mencari-cari nama seseorang yang mungkin bisa membantunya.

To       : Jieun

Kau dimana sekarang? Apa aku bisa meminta bantuanmu? Bisakah kau singgah kesuparmarket dan membelikan makanan untuk mengisi kulkasku. Kulkasku benar-benar kosong sekarang dan aku lapar. Kau tahukan aku ini tidak pandai berbelanja, selama ini Kyungsoo yang selalu mengurus keperluanku. Kumohon, bantu aku kali ini.

SEND! Luna mengurut pelan kepalanya yang terasa pusing dan berat, ia mencoba berdiri dan mulai membersihkan Apartementnya yang kotor. Barangkali ia bisa mengusir rasa laparnya dengan bekerja.

Sudah lima belas menit lamanya Luna sibuk berkutat membersihkan Apartementnya. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, dengan sebuah sunggingan senyuman ia membuka pesan itu.

From   : Jieun

Arrasso.

Tok..tok..tok

Luna tersentak kaget saat mendengar suara ketukan pintu. Ia berlari pelan menuju pintu Apartementnya dan langsung membuka pintu Apartementnya.

Deg!

“Kau..” seru Luna kaget dengan suara pelan saat melihat Kyungsoo ada didepannya dengan tangan yang menggenggam erat dua buah kantung plastik.

“Apa yang kau lakukan disini? Pulanglah..” seru Luna dengan nada mengusir. Kyungsoo tak menjawab, ia hanya berjalan masuk melewati Luna.

Kyungsoo meletakkan plastik yang dibawanya kelantai. Ia menengadah melihat ruangan Apartement Luna yang berantakan. Kyungsoo membalikkan badannya menatap Luna dan tersenyum tipis.

“Apa yang kau lakukan dengan Apartementmu? “ tanya Kyungsoo kepada Luna.

“Kau! Pergilah! “ ujar Luna lagi. Tangan Luna mengepal keras, ia ingin mengusir Kyungsoo secepat mungkin. Hatinya terasa sesak melihat Kyungsoo walaupun sejujurnya ada rasa lega dihatinya karena melihat Kyungsoo.

“Park Sunyoung, kau kenapa? Bukankah aku sudah minta maaf kepadamu? Jebal, jangan seperti ini..” ucap Kyungsoo dan mendekat kearah Luna yang masih menatap Kyungsoo sengit.

“Pergi! Kubilang pergi! “ teriak Luna dengan suara bergematar.

“Pergilah bersamanya, aku akan baik-baik saja. Percayalah. Lagipula dia memang pantas untukmu, aku tak secantik dia. Untuk apa kau menjalin hubungan dengan yeoja sepertiku ini? “ lirih Luna dan menundukkan kepalanya.

“…” Kyungsoo tak menyahut ia hanya tetap diam seribu bahasa melihat yeojanya yang sudah berusaha menyembunyikan genangan air mata.

“Kau lebih pantas dengannya Kyungsoo, dengan Bang Minah. Putuskan saja aku..” cuap Luna dan tidak terasa sekarang ia sudah menangis, menangisi ucapannya yang bodoh.

“Kau tahu Park Sunyoung? Kau cantik dijalanmu sendiri..” seru Kyungsoo dengan suara serius.

“Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan dirimu, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat bagiku menjelaskan perihal hari itu. Selamat malam..” ujar Kyungsoo. Kyungsoo berjalan pelan mendekati Luna, mengelus pelan kepala Luna kemudian pergi.

Tangisan Luna pecah begitu saja. Ia mengutuk dirinya sendiri karena membuat hubungannya dengan Kyungsoo bertambah rumit. Luna memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sesak.

“Appo..” ucapnya sembari sesegukan.

“Luna? Aku datang! “ suara teriakan seseorang sukses membuat Luna menyeka air matanya kasar kemudian bergegas menghampiri Jieun.

“Eoh? “ Jieun terlonjak kaget saat menyadari kantung plastik yang dibelikan Kyungsoo tergelatak begitu saja dilantai.

“Kyungsoo yang mengantarkannya..” cuap Luna menjelaskan. Jieun mengangguk paham dan menyodorkan kantung plastik miliknya kearah Luna.

“Dia masih ingat dan perhatian kepadamu..” seru Jieun dan tersenyum kecil kearah Luna.

“Mungkin..” jawab Luna seadanya yang disambut Jieun dengan wajah cemberut.

Author Pov End

Kyungsoo Pov

Aku berjalan keluar Apartement dengan wajah sedih sekaligus kecewa. Aku merasa kecewa dan bodoh membiarkan Luna lagi lagi menangis karenaku. Oh, apa yang harus kuperbuat?

Dongguk University, 09.00 KST

Aku berlari kencang mencoba menghindari Minah yang entah sejak kapan selalu mengikutiku kemanapun. Sial, aku harus menghindar dari yeoja itu agar Luna tidak bertambah sakit hati dan menjauh dariku.

“Baekhyun! “ teriakku saat melihat sosok Baekhyun dan Chen tengah berbincang dikelas.

“Wae? Wae? “ sahut Baekhyun dan menatapku heran.

“Untuk sekali ini bantu aku, kumohon..” ucapku dengan wajah memohon.

“Jauhkan aku dari yeoja yang bernama Bang Minah, aku tidak ingin seseorang kembali menangis karenaku..” ujarku kepadanya.

“Ne? Bang Minah? Kenapa harus aku eoh? “ seru Baekhyun tak terima.

“Karena hanya kau yang bisa membantuku. Jebal..” rengekku kepadanya.

“Kyungsoo-ya! “ samar-samar kudengar suara milik Minah menggema dikelasku.

“Ah, itu dia! Aku pergi dulu, terimakasih. Kau lakukan apapun untuk membuatnya tidak mengejarku lagi. Kau mengerti? Gomawo..” seruku kemudian bergegas keluar ruangan kelas lewat pintu yang dibelakang. Syukurnya aku tidak lagi mendengar suara Minah.

“Hah..” lenguhku pelan dan mencoba menetralkan nafasku yang terasa sesak akibat berlari tadi.

“Sunyoung..” seruku saat melihat Luna berjalan tepat beberapa meter didepanku ditemani Jieun. Aku tersenyum merekah dan kembali berlari untuk mengejar Luna. Sepertinya aku harus membenarkan sesuatu yang salah.

“Park Sunyoung, bisakah kita bicara sebentar saja? “ Luna menoleh kebelakang, ia terkejut dan menatapku enggan.

“Pergilah Luna, “ bisik Jieun dan berjalan pergi meninggalkan Luna.

“Kajja..” ucapku dan meraih tangannya. Aku melakukan hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya saat dikampus. Aku menggenggam tangannya erat, sangat erat malah.

“Le..lepaskan tanganmu Kyungsoo. Orang-orang akan salah paham jika melihatnya..” lirih Luna dengan suara serak.

“Itu akan lebih bagus Luna..” jawabku acuh tak acuh. Luna menarik tangannya kasar dari genggamanku dan hal itu sukses membuatku menatapnya heran.

“Kita bicara disini saja, lagipula disini sepikan? “ ucapnya dengan wajah gugup.

“Maafkan aku mengenai hal kemarin Luna, kau tahukan aku hanya mencintaimu? Bang Minah, yeoja itu memang menyukaiku tapi aku tidak menyukainya. Aku bersumpah Luna, hanya kau yang aku suka dan kumohon jangan pernah menjauh atau marah lagi kepadaku. Dan mengenai alasan kenapa aku menyembunyikan hubunganku denganmu. Aku akan menjelaskannya kepadamu..” seruku dan menatap matanya dalam-dalam.

“Aku takut kau disakiti oleh anak teman Appaku..” ujarku jujur. Luna mengernyit bingung.

“Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku Kyungsoo? “ balas Luna dengan sebuah pertanyaan.

“Ya, ada. Maafkan aku..” lirihku dengan rasa bersalah.

“Dulu, saat sebelum kita saling mengenal dan menjalin hubungan aku pernah mempunyai seorang yeojachingu yang bernama Jung Soojung. Dia yeoja yang manja dan manis. Kami sudah menjalin hubungan sekitar 3 bulan setelah lama saling mengenal. Tapi, tiba-tiba saja ada seorang namja yang bernama Kai datang kekehidupan kami, ia dekat denganku dan juga Soojung. Kami sering menghabiskan waktu bertiga. Ia anak dari teman Appaku yang kukenal saat Appaku dan Appanya bertemu disaat sebuah acara yang juga dihadiri oleh Soojung beserta Appany. Dengan terang-terangan ia mengatakan kepadaku bahwa ia menyukai Soojung. Aku kesal dan marah saat itu dan mulai menjauh darinya dan memaksa Soojung menjauh juga seperti apa yang kulakukan. Tapi sialnya, Kai selalu datang kerumah Soojung setiap malam. Ia selalu memaksa Soojung untuk keluar bersamanya bahkan ia mengancam Soojung… “ nafasku memburu saat menceritakan hal itu kepada Luna. Aku takut akan membuatnya bertambah marah kepadaku karena menceritakan tentang yeojaku dulu.

“Lalu? “ seru Luna. Aku menatap manik-manik matanya, mencoba mencoba mencari kesedihan atau ketidaksukaan akan ceritaku tadi. Tapi, aku tidak bisa menemukannya. Pertanda apa ini? Apa ia baik-baik saja dengan ceritaku tadi?

“Ia mengancam akan membuat nama Soojung tercemar atau melakukan tindakan keras. Awalnya Soojung hanya menurut saja, tapi lama-kelamaan saat rahasia itu aku ketahui, aku mulai menyuruh Soojung untuk menolak setiap ajakan Kai dan Soojung menuruti ucapanku. Kemudian, sesuatu yang tidak kuduga-duga terjadi begitu saja.. Kai.. Kai.. dia..dia..” jelasku dengan gugup. Tidak, aku bukan gugup. Tapi rasa sakit hati dan lukaku dulu serasa terbuka lagi.

“Dia kenapa Kyungsoo? “ tanya Luna hati-hati.

“Dia menculik Soojung, membawanya jauh dariku, melampiaskan hawa nafsunya kepada yeojachinguku kemudian membunuhnya..Namja itu, namja yang bernama Kai membunuh yeoja yang kucintai..” tak terasa aku menitikkan air mata. Luna tersenyum kecil dan menyeka air mataku dengan tangan hangatnya.

“Uljimayo.. “ cuapnya dan mengelus pelan kedua belah pipiku.

“Karena itu aku takut Luna, aku takut Kai mengetahui hubungan kita dan melakukan hal itu lagi. Aku takut kau direbutnya. Aku tak ingin Luna..” sesalku dan menundukkan kepalaku. Kurasakan sebuah tangan hangat memeluk badanku. Ya, Luna memelukku bahkan sangat erat.

“Mianhae..” seru Luna dengan lembut ditelingaku.

“Anio, ini salahku Luna. Maafkan aku.. Seharusnya aku menjelaskan ini kepadamu dari awal kita menjalin hubungan..” cerocosku panjang lebar.

“Eoh, gwenchana.. “ Luna mengelus-ngelus pelan punggungku dan kini rasa lega menjalar didadaku. Akhirnya, sesuatu yang kututupi selama dua tahun sudah terbongkar.

“Jadi kau memaafkanku Luna? “ tanyaku dengan masih memeluknya.

“Hmm..” dehemnya pelan. Aku terkesima senang dan memeluknya dengan erat hingga ia merasa sesak.

“Mwoya igo? Park Sunyoung geurigo Do Kyungsoo? “ Luna meloncat cepat dari pelukanku dan menatap sosok yeoja didepannya dengan wajah masam begitu juga denganku.

“Cih, siapa kau sebenarnya Park Sunyoung? “ ketus Minah dan menatap Luna tajam.

“Apa perdulimu? “ tanya Luna dan balas menatap Minah tajam.

“Aku butuh bicara denganmu Park Sunyoung-sshi..” seru Minah dan menarik Luna pergi. Sial, awas saja jika ia melukai yeojaku. Ia akan merasakan pukulan hangat dari tanganku.

Kyungsoo Pov End

Author Pov

Minah menyeret Luna menuju kantin Dongguk University yang tampak begitu sepi karena semua mahasiswa maupun mahasiswi Dongguk University tengah mengikuti proses pembelajaran kini.

“Katakan kepadaku apa hubunganmu dengan Do Kyungsoo. Kenapa kau dan dia saling berpelukan tadi eoh? “ seru Minah dan meninggikan suaranya. Luna tersenyum kecut dan menarik tangannya kasar dari tangan Minah.

“Apa itu penting bagimu Bang Minah? “ tanya Luna sedikit singkat dan ketus.

“Ya, tentu saja! Jawablah! “ bentak Minah kepada Luna.

“Dia yeojaku, bagaimana? Dia cantik bukan? “ sela Kyungsoo tiba-tiba dan menggenggam erat tangan yeoja berambut pekat –Luna-.

“Mwo? Yeojamu? Omong kosong macam apa yang kau bicarakan? “ nada tak terima keluar begitu saja dari mulut Minah.

“Musun soriya Do Kyungsoo? “ masih dengan wajah tak terima yeoja bermata sipit itu atau Minah menatap Kyungsoo. Mencoba meminta penjelasan kepada Kyungsoo.

“Dia yeojaku. Berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu? Jangan ganggu aku lagi. Kare-“

“Karena Kyungsoo milikku. Dia milikku! ” Sela Luna dengan sebuah senyuman merekah dibibirnya. Luna menatap Kyungsoo dan tersenyum sekilas sedangkan Minah sudah mendelik kesal kepada Luna.

“Jadi jangan pernah berharap semua orang akan percaya dengan bualanmu lagi bahwa Kyungsoo adalah namjachingumu.. “ cibir Luna. Kyungsoo tersenyum bangga dan membawa Luna menjauh dari Minah yang hanya bisa terdiam dan menghela nafas kesal.

Author Pov End

-THE END-

Note : Annyeong para readers setia yang mau baca Fanfic abal-abal milik author. Mian ne karena baru bisa update soalnya author harus belajar demi UAS. -3-v Oh ya, maaf juga kalau ceritanya gaje dan part ini terlalu kepanjangan. Terus typo(s) berserakan dimana-mana dan ending yang kacaunya aneh. Jangan lupa untuk tinggalin jejaknya ne? Gomawo *bow*

Iklan

43 tanggapan untuk “He Is Mine [2/2]

  1. annyeong 😀
    baru menyimak fanfic ini, dan jempol untuk kekreatifannya admin yang bikin fanfic bias ku D.O hehehehe…
    tapi disayangkan karakter D.O lmayan beda dari D.O yang ku kenal trus sedih Minah jadi keliahatan jahat banget (padahal yang ku tahu dari beberapa sumber D.O adalah member favorit Minah dan D.O sendiri kagum sama Girls Day).
    Tapi tetep keren kok fanfic nya dan kreatif.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s