After Three Years

baek after three years

 

:: AFTER THREE YEARS ::

 

 

 

“Kita telah bertahan meleburkan jarak Seoul-Bucheon selama tiga tahun.

Tapi di akhir cerita, kau menghancurkan hatiku dalam waktu hitungan detik.”

 

 

 

 

AUTHOR : shineshen (@shineshen97)

 

MAIN CAST :

-A Girl (you can imagine as yourself ^^)

-Byun Baekhyun (EXO-K)

 

OTHER CAST : Find some another cameos ^^

 

GENRE : Romance, Angst.

 

RATING : PG-15.

 

LENGTH : Long Oneshot.

NOTE :

 

SAY YES TO READ AND COMENT

SAY NO TO BASHING AND PLAGIARISM

 

Hope you enjoy what I wrote ^^

 

 

Aku memperhatikan detik demi detik pergerakan jarum ketiga dalam jam tanganku. Menunggu, sebenarnya aku tak terlalu suka itu. Yeah, pengecualian untuk beberapa hal. Tapi untuk menunggu kedatangan orang itu?

 

“Aish, lama sekali dia,” keluhku sendirian. Aku melongokkan kepala memeriksa pintu utama café, tapi sosok orang itu belum juga kutemukan.

 

Aku mengalihkan fokus dan mencoba asyik dengan ponselku saja. Tunggu, ada yang mengirimiku e-mail?

 

“Aaaaaa~ Mianhae, Cheonsa eonni… Aku terlambat!” seru suara itu yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku otomatis mendongak dan menemukan wajah orang itu. Orang yang sudah kutunggu sejak tadi.

 

“Astaga, kau mengagetkanku saja, Minhee,” sahutku gemas lalu menyimpan ponselku kembali ke dalam tas. Namun sebelum aku memasukkan benda itu, tangan Minhee tergerak untuk mengambil benda itu dari tanganku.

“Apa itu? E-mail?” Tanya Minhee penasaran. Rautnya membelalak berlebihan saat melihat apa yang ada dalam layar ponselku.

“Apa ini? Baekhyun oppa mengirimi eonni ini? Aigoo, romantis sekali,” oceh Minhee. Sebelum gadis itu berkomentar macam-macam lebih banyak lagi, aku buru-buru merebut kembali ponselku darinya, membuatnya mengeluh keras.

“Aish, eonni pelit sekali,”

“Tidak, Minhee. Kau itu masih dibawah umur,” nasihatku sambil memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Kali ini Minhee tidak bisa merebutnya lagi.

Tapi gadis itu cemberut. “Umurku kan hanya sedikit dibawah eonni.”

 

“Nah, sekarang mana makalah tugasku yang minggu lalu kau pinjam?” aku mengalihkan topik masalah. Ia memutar matanya dan mengambil sesuatu dalam tas selempangnya. Itu makalah tugasku yang pertama saat aku baru saja masuk kuliah.

Igo,” sahutnya sambil menyerahkan makalah itu lagi padaku. Aku tersenyum.

“Sekarang makalahmu sudah beres, kan?”

Ne,” sahutnya singkat. “Oh, ayolah, eonni. Bolehkah aku melihatnya sekali lagi?”

Aku mengangkat alisku dan menatap wajah penasarannya. Aku tertawa. “Oh, Shin Minhee, kau itu keras kepala sekali, ya.”

“Baekhyun oppa kan kakak sepupuku, eonni…” belanya. “Dan sebentar lagi kau juga akan menjadi kakak sepupu iparku. Jadi… Apa salahnya?”

Jinjja?” tanyaku bercanda. “Kenapa kau yakin sekali aku akan jadi kakak sepupu iparmu?”

Ssssttt!” desisnya dengan memasang mimik wajah serius. “Eonni jangan bilang seperti itu. Tidak baik, eonni. Bagaimana jika kau dan Baekhyun oppa benar-benar putus?”

 

 

Gara-gara pertemuanku dengan Minhee tadi sore, aku jadi pulang malam hari ini. Pukul delapan malam aku baru sampai rumah, membuat eomma dan appa yang yang sudah pulang kerja bertanya yang macam-macam padaku. Dalam hati aku mengeluhkan soal adik sepupu Baekhyun itu. Aku tahu ia sengaja mengulur waktuku saat di café tadi hingga membuatku pulang malam seperti ini. Huh, anak nakal!

 

Aku mengeringkan rambut dengan handuk sambil mengecek kembali beberapa tugas kuliah yang sudah kuselesaikan 2 hari sebelumnya. Aku sangat bersyukur sekali, untung saja semuanya sudah kukerjakan.

Tiba-tiba ponselku berbunyi lagi. Aku memeriksanya dan ternyata itu hanya sebuah pesan singkat dari Hyoeun, teman kuliahku. Ia menanyakan soal tugas kuliah dari Dosen Jung. Untung saja aku juga sudah menyelesaikan tugas itu.

 

Selesai membalas pesan Hyoeun, aku kembali tergerak untuk membuka e-mail yang dikirimkan Baekhyun tadi sore. Sederhana sebenarnya. Tapi bagiku itu istimewa. Sangat.

 

Kau pasti tak bisa menebak bagaimana perasaanku saat menerima e-mail seperti itu darinya. Tiga tahun kami menjalani long distance relationship, tiga tahun itu juga kami bahkan tak bisa bertemu sama sekali akibat jadwal kuliahnya yang padat di Seoul sana. Membuat hanya kecanggihan teknologi yang bisa membantu kami menghapus jarak, di hati. Dia di Seoul dan aku di Bucheon.

 

Kupandangi sekali lagi wajahnya yang menampilkan ekspresi lucu sambil memegang sebuah kue tart mungil dengan hiasan sebuah lilin yang membentuk angka 3. Ia bahkan memakai sebuah topi yang kuhadiahkan padanya tiga tahun yang lalu, saat ia berulangtahun di tiga bulan pertama jadinya hubungan kami.

 

Oh, Minhee. Sebenarnya kau kurang teliti. Jika dilihat sekilas, itu memang tampak seperti sebuah foto. Tapi itu bukan sekedar foto. Itu video. Aku bisa melihat wajahnya sekaligus mendengar suaranya. Awalnya aku juga tak menyadari jika itu sebuah video. Aku baru menyadarinya saat aku berada di bus sepulang dari café tadi. Dan sekarang, aku baru saja akan menyetel video itu untuk yang pertama kalinya. Aigoo, kenapa tanganku sedikit gemetaran, eoh?

 

Annyeong, chagiyaaa~” kudengar suara cerianya menyapaku sebagai pembuka. Ia melambaikan tangan pada mata kamera. Aku tersenyum sendiri dan membalas lambaian tangannya.

Ah, mianhae, aku jarang menghubungimu seminggu ini. Kampusku sedang sibuk. Kami semua sedang mempersiapkan pentas seni penyambutan musim dingin,” jelasnya sambil memasang raut menyesal. “Aku ditunjuk sebagai salah satu anggota panitia inti, dan… Hei! Aku juga ditunjuk untuk menampilkan permainan pianoku dalam acara itu,”

 

Aku kembali tersenyum kecil mendengar cara bicaranya. Sama sekali tak berubah dari masa lalu. Aku masih melihat ia sebagai sosok yang sama dengan seorang namja tiga tahun yang lalu, yang dengan konyolnya malah menyatakan cinta padaku tepat di pesta kelulusan. Padahal ia sudah diterima kuliah di Seoul.

 

Namun ada berita bagus, chagiyaaaa~” sahutnya ceria lagi, kali ini disusul dengan senyum cerahnya. “Aku berhasil mendapatkan cuti kuliah yang lebih lama saat liburan musim dingin nanti. Kau tahu apa artinya, hm?”

 

Aku menggelengkan kepalaku sambil menahan senyumku.

 

Aku akan pulang ke Bucheon dan menghabiskan tiga minggu penuh bersamamu~!”

 

Aku nyaris berteriak senang saat aku mendengar berita itu darinya. Tiga minggu penuh bersamanya? Setelah perpisahan kami selama tiga tahun ini?

Sejujurnya hal itu memang, uhm, tidak terlalu adil. Tapi itu lebih baik daripada yang aku bayangkan. Biasanya ia mengatakan hanya memiliki liburan singkat di setiap musim, sekitar seminggu. Oh, aku tahu kampusnya memang kampus favorit dengan segudang kegiatan menyibukkan. Dan, ia memiliki tambahan dua minggu untuk liburan itu? Oh, Byun Baekhyun, terima kasih! Kau sungguh tahu apa yang aku inginkan!

 

Kau melihat ini?” tanyanya sambil mengacungkan sebuah DVD polos. “Ini adalah DVD dengan memori yang masih kosong. Tapi tidak setelah aku tiba di Bucheon nanti. Aku akan mengisi DVD ini dengan rekaman saat aku memainkan piano di pentas seni,”

 

Aku tersenyum lagi. Entah sudah keberapa kalinya semenjak aku memutar video ini dan menyaksikan betapa semangatnya ia saat menyampaikan pesannya untukku lewat mata kamera.

Dan lagu itu ciptaanku sendiri,” bisiknya sambil memasang senyumnya padaku. “Lagu ciptaanku, untukmu.”

 

 

Pagi ini aku mengawali hariku dengan semangat yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Pesan Baekhyun terus saja terngiang-ngiang dalam kepalaku. Teringat suara manisnya saja sudah membuatku mati-matian menahan senyumku saat kelas dari Dosen Jung tadi. Oh, aku akui Byun Baekhyun memang jenis racun yang ampuh melumpuhkan semua kerja syaraf dalam kepalaku. Lihat buktinya sekarang, dengan cara menjanjikan liburan panjang bersamanya serta lagu yang ia buat khusus untukku saja, sudah sanggup membuat hariku berantakan seperti ini. Materi kuliah sama sekali tak ada yang masuk ke kepalaku, hanya bayangan pesan Baekhyun saja yang terus kuingat tanpa cela. Padahal sebentar lagi kutahu aku akan menghadapi ujian.

Aish, jinjja!

 

“Cheonsa-ya, gwenchanayo? Kau mencurigakan sekali hari ini,” sahut Hyoeun cemas saat kembali menemukan aku tersenyum sendiri sambil menatap layar ponselku. Ia sudah asyik memakan kimbab pesanannya sedari tadi, namun aku hanya diam saja dan sama sekali tak tergoda melihat betapa nikmatnya kimbab itu.

Aku tak menjawab. Hyoeun ikut menatap layar ponselku dan akhirnya mengerti mengapa sikapku sangat aneh hari ini.

“Baekhyun, eoh? Apa yang ia lakukan padamu sampai kau seperti ini?” tanyanya sambil berdecak-decak.

Hyoeun tentu saja mengenal Baekhyun juga. Kami semua memang lulus dari SMA yang sama tiga tahun lalu. Bahkan bisa dibilang, Hyoeun lebih banyak mengenal Baekhyun sebelumnya dibanding aku. Hyoeun selalu sekelas dengan Baekhyun setiap tahun, sedangkan aku hanya sekelas dengannya di tahun terakhir. Tapi semenjak aku dan Hyoeun satu kampus, bahkan satu kelas di kuliah kami, aku dan Hyoeun menjadi dekat.

 

“Dia akan menghabiskan liburan musim dinginnya disini! Tiga minggu, Hyoeun-ah! Bisa kau bayangkan?” seruku senang.

Hyoeun membuang napas. “Astaga, Park Cheonsa. Jadi hanya itu?”

Aku memasang wajah derp padanya. “Kau bilang ‘hanya’? Aigoo, Lee Hyoeun, jangan samakan aku denganmu, oke? Kau bisa seenaknya bertemu dengan Sunwoo kapan saja. Tapi aku dan Baekhyun, mungkin saja bisa andai aku dan dia tidak kuliah di kota yang berbeda.”

“Siapa suruh kau menerima cinta Baekhyun, padahal kau tahu sendiri ia sudah diterima kuliah di Seoul.” Sahut Hyoeun sambil mehrong padaku.

“Aku mencintainya, Hyoeun-ah.” Balasku polos. Kulihat Hyoeun tertawa. Aku juga tak tahu alasan mengapa ia menertawakan ucapanku. Aku hanya bisa memandangnya bingung.

“Kau terlalu polos, Cheonsa-ya,”

Aku menatap Hyoeun tak mengerti, tak mengerti kenapa ia mengatakan hal itu padaku.

“Seoul lebih penuh dengan gadis-gadis cantik daripada Bucheon,” sahutnya yang membuat hatiku mencelos seketika. “Ayo kita lihat, apakah Baekhyun sudah berubah sepulang dari sana?”

 

 

Sejujurnya aku mencoba tidak memikirkan kata-kata Hyoeun tempo hari. Tapi sialnya tidak bisa. Kata-kata itu terus melayang-layang dalam kepalaku, seakan bersahut-sahutan dengan suara manis Baekhyun. Aku menjadi lebih lekas pusing. Tugas-tugasku juga lebih banyak yang terbengkalai. Energiku habis hanya untuk memikirkan kata-kata itu.

Appa dan eomma juga sedikit protes melihat indeks prestasi bayanganku yang menunjukkan angka penurunan. Membuatku lebih banyak menghabiskan waktu melamun di perpustakaan daripada untuk membaca atau mencari bahan tugas kuliah.

 

“Maafkan aku,” Hyoeun tiba-tiba datang saat aku sedang meletakkan kepalaku diatas meja perpustakaan. Satu eksemplar buku untuk bahan mengerjakan tugas kuliah masih teronggok dengan utuh di depanku, belum aku buka satu halamanpun semenjak 10 menit yang lalu aku mengambilnya.

Aku melemparkan senyum tipis dan menyambut uluran tangannya. “Tidak apa-apa, Hyoeun-ah.”

“Tapi aku tak seharusnya mengatakan hal buruk itu padamu,” sahut Hyoeun menyesal. “Aku membuatmu curiga yang tidak-tidak pada Baekhyun. Padahal kecurigaan tanpa alasan jelas adalah faktor yang jahat untuk hubungan jarak jauh kalian.”

Aku tersenyum tipis lagi.

“Hei, kapan Baekhyun sampai?” Tanya Hyoeun mengalihkan pembicaraan kami ke topik yang lebih menyenangkan.

Aku mengecek kalender dalam ponselku dan melihat tanggal yang sudah aku tandai disana.

“Dua hari lagi.”

“Dia sudah menghubungimu?” Tanya Hyoeun bersemangat lagi.

Aku menggeliat pelan. “Uhm, ne. Dia menghubungiku semalam. Ia memintaku menjemputnya di stasiun.”

“Ah, andai Bucheon punya bandara, ya,” sahut Hyoeun. “Dia pasti bisa lebih cepat bertemu denganmu,”

Ne,” balasku singkat. Hyoeun menatapku dengan pandangan memelas.

“Oh, Cheonsa-ya… Apa kau masih marah padaku? Kenapa reaksimu datar sekali, eoh?” keluhnya memelas.

“Tidak, Hyoeun-ah. Aku hanya sedang pusing. Gwenchana,” sahutku pelan.

“Kau mau obat sakit kepala? Aku membawanya,” tawar Hyoeun.

Aku menggeleng.

“Kalau begitu kuantar kau pulang saja, ya?” tawar Hyoeun lagi. Kali ini aku tak menjawab, membuatnya tersenyum tipis.

Ne… Kau harus banyak istirahat untuk memulihkan tubuhmu lagi, Cheonsa-ya… Ingat, sebentar lagi kau harus menyambut kedatangan Baekhyun. Kau tidak mau membuatnya kecewa melihat kedaaanmu yang seperti ini, kan?” ujarnya panjang lebar.

Aku tersenyum membalasnya. “Ne. Kau benar, Hyoeun.”

 

 

Kemarin setelah aku diantar pulang oleh Hyoeun, eomma langsung membantuku beristirahat di kamar. Wajah eomma terlihat khawatir, sebab ia bilang wajahku terlihat pucat. Menjelang malam, bukan saja eomma yang khawatir. Tapi juga appa dan Yeonsa, adikku.

Suhu tubuhku meningkat seiring malam yang semakin larut. Untung saja appa segera minta tolong pada Choi ahjussi, rekannya yang berprofesi sebagai dokter. Choi ahjussi menyanggupi untuk datang ke rumah dan memeriksa keadaanku. Dan ternyata aku dinyatakan demam. Choi ahjussi meninggalkan resep obat dan berpesan agar aku banyak beristirahat. Termasuk untuk tidak meninggalkan rumah dalam seminggu ke depan, setidaknya sampai keadaanku mulai pulih.

 

Walau aku diam saja, tapi tentu saja aku tak bisa menerima pesan itu. Aku tak boleh meninggalkan rumah dalam seminggu ke depan?

Lalu siapa yang akan menjemput Baekhyun besok, eoh?

 

Tanpa menunggu minta izin pada appa dan eomma, aku nekat menjemput Baekhyun esok sorenya. Beruntunglah appa dan eomma sedang tidak di rumah. Ini akhir pekan dan mereka sedang menghadiri salah satu acara di rumah kerabat kami.

Awalnya semuanya berjalan mulus. Tapi tiba-tiba Yeonsa memergokiku.

 

“Cheonsa eonni mau kemana?” Tanya Yeonsa saat ia melihatku keluar dari pintu kamarku. Ia curiga melihatku berpakaian rapat. Mulai dari celana panjang, mantel, syal, sarung tangan, sampai beanie.

Aku tak menjawab pertanyaan Yeonsa dan malah mematung di depan pintu kamarku. Yeonsa semakin curiga dan berjalan mendekatiku.

Eonni mau kemana? Bukankah eonni masih sakit? Lagipula nanti malam dipredikiskan akan turun salju. Eonni mau pergi ditengah cuaca seperti itu?” berondong Yeonsa.

Aku membalikkan tubuh dan menghadap Yeonsa. Untunglah tadi aku sempat memoleskan beberapa bahan make-up sehingga bisa sedikit menyamarkan kulit pucatku dari Yeonsa.

 

Eonni mau ke rumah Hyoeun eonni sebentar,” bohongku. “Ada tugas yang belum kami selesaikan. Jadi harus diselesaikan sekarang,”

“Tapi eonni masih sakit, kan?” Tanya Yeonsa lagi. “Jangan pikirkan tugas dulu, eonni. Pulihkan saja dulu keadaan eonni.”

Aku menggeleng sambil melangkah pergi. “Tidak bisa, Yeonsa-ya.”

 

“Ini bukan karena eonni mau menjemput Baekhyun oppa ke stasiun, kan?” pertanyaan Yeonsa membuat langkahku terhenti. Darimana anak ini bisa tahu kalau Baekhyun mau datang hari ini, eoh?

“Hyoeun eonni menelepon ke telepon rumah semalam,” jelas Yeonsa tanpa aku tanya. “Ia sangat cemas saat mendengar kabar kalau eonni sakit. Jadi dia minta tolong padaku agar membiarkan eonni istirahat terus di kamar. Termasuk jangan membiarkan eonni keluar untuk menjemput Baekhyun oppa di stasiun. Hyoeun eonni bilang, ia akan menyampaikan pesan pada Baekhyun oppa kalau eonni tidak bisa menjemput di stasiun karena eonni sedang sakit.”

Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka suaraku lagi. “Uhm, jangan bilang siapa-siapa ya, Yeonsa,”

Mwoya?!” Yeonsa membelalak heboh. “Jadi benar kalau eonni mau menjemput Baekhyun oppa ke stasiun?! Aniya, aku tak akan membiarkan eonni pergi!”

Selanjutnya adalah Yeonsa menahan lenganku erat sekali, membuat aku kesulitan beranjak. Walau tubuhku lebih besar dari anak itu, kedaaanku yang kurang sehat menjadikan tenagaku melepaskan diri darinya sia-sia. Yeonsa tetap menahan lenganku dengan tegas.

 

“Park Yeonsa, kumohon…” pintaku memelas. “Aku harus pergi. Aku harus bertemu Baekhyun,”

“Tapi tidak harus sekarang, eonni,” balasnya. “Biarkan Baekhyun oppa pulang sendiri ke rumahnya. Kujamin besok ia akan datang, eonni. Besok Baekhyun oppa pasti akan menjenguk eonni, pasti.”

“Tapi aku ingin bertemu dengannya sekarang. Jebal, Yeonsa-ya…”

 

Aku tak tahu apakah kata-kata memelasku itu cukup membuat Yeonsa terenyuh atau tidak. Yang jelas kurasakan penahanannya terhadap lenganku mulai merenggang, ia menatapku iba.

“Tapi, eonni…”

“Aku berjanji akan pulang secepatnya begitu aku selesai bertemu dengan Baekhyun,” janjiku. “Oh, ayolah, Park Yeonsa… Kau percaya padaku, kan?”

Yeonsa terdiam sejenak sambil memandangku. Ada setengah ragu yang terlihat disana, namun beberapa detik setelah itu ia malah benar-benar melepaskan lenganku.

 

“Janji?” Yeonsa meminta janjiku.

Aku mengangguk dengan senyum. “Ne, aku janji.”

Arasseo, eonni,” Yeonsa menyerah menahanku. “Eonni boleh pergi. Tapi, berjanjilah cepat pulang. Appa dan eomma tiba di rumah pukul 7 malam. Jadi usahakan agar eonni sudah sampai di rumah sebelum appa dan eomma. Arra?”

Aku mengangguk sambil mengacak pelan rambut Yeonsa. “Ne. Gumawo, Yeonsa-ya,”

Yeonsa menyentuh keningku sesaat lalu mengembangkan senyumnya. “Suhu tubuh eonni juga sudah mulai menurun. Hati-hati ya, eonni…”

Aku mengangguk padanya lalu kami berjalan bersama menuju pintu. Yeonsa menuntun tanganku sedikit. Rautnya masih tampak cemas dan tak rela melihatku pergi sendirian, namun ia juga bimbang karena melihat betapa aku bersikeras untuk pergi.

 

Yeonsa memberhentikan sebuah taksi untukku, ia juga membantuku sampai naik ke dalam taksi. Ia menyunggingkan senyumnya lagi saat menatap wajahku.

“Hati-hati ya, eonni…”

Kudengar nada ragu dalam kalimatnya.

 

 

Rupanya aku tiba di stasiun terlalu cepat dari yang seharusnya. Kereta Baekhyun baru tiba seperempat jam lagi, jadi mau tak mau aku harus menunggunya.

Aku memasuki peron dengan langkah gontai. Beberapa kali aku memegang kepalaku saat aku merasa pusing, seperti diputar-putar dan membuat kepalaku terasa berat. Aku sedikit cemas karena setelah kusentuh dahiku dengan punggung tangan, ternyata suhu tubuhku naik lagi. Lebih hangat dari saat aku masih di taksi tadi.

 

Beberapa orang yang berpapasan denganku memandangku prihatin. Mereka kira siapa yang tega membiarkan orang sakit sepertiku berkeliaran sendirian di stasiun?

Namun aku mencoba acuh saja. Setidaknya terlihat kuat walau wajah dan keadaan fisikku ini tak mendukung sikap acuhku. Aku memilih duduk di salah satu kursi tunggu terdekat yang ada di sekitar peron. Aku melirik jam tanganku gelisah dan sedikit tidak sabar. Kereta Baekhyun masih jauh. Masih tersisa waktu sepuluh menit untuk tiba di stasiun ini.

 

Aku mengecek ponsel dan seketika itu juga mengeluh keras. Ponselku mati, baterainya habis. Aku bahkan lupa membawa power bank. Bagaimana jika nanti keluargaku meneleponku? Appa dan eomma bisa memarahi Yeonsa karena membiarkan aku pergi, padahal aku yang memaksa anak itu.

 

Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba didera pusing hebat. Aku menunduk dan mencoba menahan rasa sakit itu, agar orang-orang yang ada di sekitarku tidak menyadari jika aku sedang kesakitan. Kurasakan suhu tubuhku juga semakin panas. Aku baru ingat, sebelum pergi tadi aku lupa meminum obatku.

 

Aku mencoba bangkit dengan bantuan memegang senderan kursi itu. Aku melangkah pelan menuju toilet terdekat. Aku memutuskan untuk membasahi saputangan yang kubawa untuk kujadikan kompres. Setidaknya itu bisa jadi pertolongan pertama.

 

Toilet terlihat kosong saat aku memasukinya. Dalam hati aku merasa beruntung karena dengan itu maka tak akan ada yang tahu kalau aku sakit dan mencoba membawaku ke petugas kesehatan.

Aku tak boleh pergi. Sebentar lagi Baekhyun sampai, dan aku tak boleh sampai terlambat bertemu dengannya. Aku ingin, aku menjadi orang yang bertemu dengannya di Bucheon.

 

Aku menatap wajah pucatku di cermin dekat washtafel. Aku mengeluh keras lalu membasuh wajahku sedikit dengan cipratan air, berharap panasku sedikit turun dengan cipratan air itu. Tapi aku malah semakin merasa pusing. Aku mengeluh lagi dan cepat-cepat membasahi saputanganku. Aku memerasnya sampai cukup kering dan segera menempelkan saputangan itu ke leher dan dahiku.

 

Setelah merasa jauh lebih baik, aku segera keluar dari toilet. Kudengar suara-suara yang lebih riuh daripada tadi sebelum aku masuk ke toilet. Banyak orang yang berseliweran di sekitarku, namun aku menundukkan wajahku dan tak memperhatikan mereka. Aku melangkah pelan menuju peron tempatku menunggu tadi. Perlahan aku mengangkat kepalaku, lalu terkejut saat melihat sudah ada beberapa gerbong kereta yang berhenti di lajur peron itu. Kereta itu tampak lebih bagus dari kereta lokal yang biasa, pasti kereta ini untuk tujuan jarak jauh.

Satu kesimpulan bisa kutarik dari sini, terlebih setelah aku memeriksa kembali jam tanganku.

Ini adalah kereta yang ditumpangi Baekhyun.

 

Aku mengulas senyum tipis tanpa sadar. Semua rasa sakit yang tadi sempat kurasa seakan sirna, begitu aku membayangkan sebentar lagi aku bisa bertemu lagi dengan Baekhyun. Namja yang sangat aku cintai.

 

Dengan otomatis aku menoleh ke sekelilingku, mencoba mencari dimana keberadaan Baekhyun. Seharusnya ia tak berada jauh dari tempat ini. Tapi rasa kecewa sedikit menyelimuti hatiku saat aku tak berhasil menemukan Baekhyun di sekitar sini.

Oh, mungkinkah ia sudah pulang sendiri?

Mungkinkah ia menganggap aku masih sakit dan tak jadi menjemputnya?

 

Aku melangkah menyusuri beberapa arah dalam stasiun ini, mencoba mencari dimana Baekhyun. Harapanku sangat besar untuk bertemu dengannya, menghapuskan rasa sakit yang kurasa dan menggantinya dengan semangat. Semangat yang bahkan tak mampu menghentikan langkah kakiku meskipun aku sudah cukup lelah berputar-putar di stasiun ini.

Namun setelah sekian lama berputar-putar di area ini, akhirnya aku menghentikan langkahku juga. Keringat dingin membasahi tubuhku. Aku terlalu kelelahan hari ini. Aku nyaris ambruk, jika saja tak ada bayangan Baekhyun yang terus menari dalam benakku. Dia semangatku. Aku harus bisa bertemu dengannya hari ini.

 

Byun Baekhyun!”

Hatiku terasa mencelos saat kudengar nama itu dengan jelas. Aku kembali menegakkan tubuhku dan dengan sedikit panik menoleh ke segala arah, mencoba mencari dimana suara itu berasal.

Byun Baekhyun, tunggu aku!”

 

Kulihat di ujung sana seorang namja bertopi cokelat sedang menarik kopernya dengan langkah cepat.

Byun Baekhyun! Kubilang, tunggu aku!”

 

Seorang gadis tampak menyusul kepayahan di belakangnya. Gadis dengan dress santai berwarna merah. Ia memanggil namja yang ada di depannya itu dengan sedikit kesal. Semakin kepayahan karena ia juga menarik kopernya yang tampak berat.

Byun Baekhyun, tunggu!”

 

Namja itu menghentikan langkahnya dengan kesal dan berbalik menghadapi gadis itu. Gadis itu terbelalak dengan gerakan tiba-tiba namja itu sehingga ia bahkan nyaris menubruknya.

 

Jangan ikuti aku lagi, Kim Yura!”

 

Aku hanya bisa terdiam selama beberapa saat. Walau jarakku berdiri dengan mereka cukup jauh sekarang, namun setidaknya aku masih bisa melihat dan mendengar semua percakapan mereka dengan jelas.

 

Tapi aku mencintaimu, Byun Baekhyun… Jangan tinggalkan aku hanya karena kau ada di Bucheon sekarang. Jangan kau kira aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau kembali kesini demi bertemu lagi dengan dia, kan?” cerocos gadis itu. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia memeluk namja itu. Membuat namja itu terbelalak menerima perlakuan gadis itu dan otomatis mendorong tubuh gadis itu menjauh.

Apa maksudmu berkata seperti itu, eoh?! Lepaskan aku, Kim Yura! Kau tidak berhak memelukku seperti itu! Kau kira kau siapa?!” omel namja itu. Lalu tanpa menunggu balasan ucap dari gadis itu, namja itu berbalik pergi. Menarik kopernya dengan ekspresi kesal yang tak bisa ia tutupi.

 

Langkah namja itu semakin sejajar dengan posisiku berdiri. Ia melangkah semakin cepat dan cepat. Tak memedulikan gadis yang masih memanggil-manggil namanya dengan sebutan Byun Baekhyun itu.

Langkah namja itu semakin cepat, namun entah apa yang menyebabkan langkahnya justru semakin melambat saat posisinya semakin sejajar denganku. Hingga akhirnya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.

 

Airmataku mengalir begitu saja. Terlambat. Mungkin jatuhnya airmata ini terlambat bila dibandingkan dengan rasa sakit dan sesak dalam hati yang telah kurasakan sejak tadi.

Sejak pertama kali aku mendengar namanya disebut oleh seorang gadis.

Sejak gadis itu memeluk kekasihku di depan mataku sendiri.

 

Tanganku meremas ujung mantel kebesaran yang memang sengaja kupakai. Melihat dan mengulang lagi rekaman kejadian itu dalam kepalaku seakan ingin menghancurkan kepalaku saat itu juga. Rasa sakit dari seluruh tubuh akibat penyakit yang sedang kuderita bercampur dengan rasa sakit yang menyerang bagian terdalam dari hatiku.

Rasanya sakit.

Sakit…

 

Aku telah menunggunya selama tiga tahun ini tanpa henti, aku tak pernah kecewa saat ia tak pernah bisa menghabiskan liburan sebelum ini bersamaku, aku juga tak pernah kecewa saat ia tak membalas pesan atau menjawab teleponku. Karena aku tahu ia sibuk. Kuliahnya di Seoul adalah segala yang telah ia perjuangkan sejak bertahun-tahun. Kutahu ia telah berjuang demi kartu mahasiswanya atas nama universitas favorit itu. Maka dari itu aku tak pernah mengeluh saat ia sibuk dengan kuliahnya.

Tiga tahun aku mencoba bertahan dengan itu. Bertahan bagaimana aku melihat teman-temanku yang lain dengan mudahnya bertemu dengan kekasih mereka. Tapi tidak dengan aku yang hanya bisa menyambung kata dengannya lewat kecanggihan teknologi dan menghabiskan seluruh waktu luangku dengan menyelesaikan tugas-tugas kuliahku di perpustakaan. Bukan dengan kekasihku. Aku berbeda dengan teman-temanku yang lain. Aku dan dia adalah pasangan yang aneh.

Aku bahkan memperjuangkan hari ini hanya untuknya. Mengabaikan segala sakit yang kurasa, memaksa Yeonsa agar membiarkanku pergi, bahkan melanggar semua pesan dari dokter, keluargaku, serta Hyoeun. Aku mengabaikan semua itu hanya demi harapanku untuk bisa menjadi orang pertama yang bertemu dengannya sesampainya ia di Bucheon. Tapi tidak lagi sekarang. Aku menyesal. Semua harapanku itu semu, orang yang aku cintai dan kuperjuangkan atas rasa sakitku malah memberikanku serentetan rasa sakit yang baru.

 

Rasa sakit itu jauh lebih menyesakkan dan membuatku muak. Menghancurkan hatiku hanya dalam hitungan detik. Sebegitu mudahnya kah ia melakukan itu padaku, gadis yang telah memperjuangkan waktu tiga tahun bersamanya?

 

Inikah pamrihku atas semua kesabaran dan kesetiaanku atas hubungan kami selama tiga tahun ini? Atas semua jarak diantara kami yang telah kami coba leburkan dan berakhir sia-sia?

 

Hyoeun… Hyoeun… Aku tiba-tiba teringat dengan sahabatku yang satu itu. Ingatanku berputar otomatis mengingat kalimat yang kira-kira dua minggu lalu terucap darinya. Kalimat yang membuat aku memikirkannya keras. Aku membenci kata-kata itu, tapi aku juga tak bisa mengabaikannya begitu saja karena bisa jadi itu adalah sebuah realitas.

Realitas yang bisa saja terjadi di belakangku selama ini.

 

Mungkin saja Hyoeun benar, Baekhyun tak mencintaiku lagi dengan utuh seperti dulu…

 

 

Rasa hangat yang memeluk sekujur tubuhku membuatku membuka mata. Rasa ini begitu asing… Tak seperti yang kurasakan saat terakhir kali aku bisa mengingat sebelum kegelapan membiaskan semua ingatanku.

Dingin. Dingin yang menusuk.

 

“Cheonsa-ya, syukurlah kau sudah bangun,” suara lembut eomma membuat kepalaku menoleh sedikit padanya. Betapa leganya aku saat menemukan senyum itu. Membuatku juga ingin menangis mengingat pelanggaran terbesarku pada nasihatnya yang kini justru membuatku merasa hancur berkeping-keping.

 

“Jangan banyak bergerak dulu, sayang…” sahut eomma lembut sambil membelai rambutku. Aku tak kuat lagi menahan airmata. Aku menangis sambil memegang tangan eomma.

 

Mianhaeyo, eomma… Aku salah… Aku menyesal… Tak seharusnya aku melanggar pesan eomma…” isakku.

Eomma membelai rambutku dengan tangannya yang lain. Ia tersenyum lembut padaku, sama sekali tak ada raut marah dalam wajahnya.

“Lain kali jangan seperti itu, ya… Eomma sangat khawatir padamu. Kau membuat seisi rumah khawatir padamu… Bahkan bukan saja semua yang ada di rumah ini,” sahut eomma. Aku mengangkat wajah dan melihat senyum hangatnya.

“Hyoeun dan Baekhyun juga khawatir. Hyoeun menjagamu semalaman, dan Baekhyun… Tadi pagi ia datang kesini, dan ia membawakan itu untukmu,”

 

Mataku teralih menatap sebuket bunga segar yang ada diatas nakas milikku. Eomma menunjuk benda itu saat ia menyelesaikan kalimatnya tadi. Ingatanku memutar kembali kejadian saat aku melihat namja itu dipeluk oleh seorang gadis yang bahkan tak kukenal sama sekali. Apalagi mengingat betapa menyakitkannya kata-kata yang diucapkan gadis itu.

 

“Buang buket itu, eomma,” sahutku tertahan. Aku memalingkan wajah dari buket itu, membuat eomma mengerutkan kening heran sekaligus khawatir.

“Tapi itu dari Baekhyun, sayang… Kau tidak senang?”

“Buang buket itu, eomma. Kubilang, buang!” teriakku mulai terbawa emosi. Aku meremas bed cover-ku dengan erat, pelampiasan emosi atas rasa sakit yang kembali menusuk jantungku.

“Tapi sayang…”

“KUBILANG, BUANG, EOMMA!” teriakku histeris. Tangisku kembali tumpah tanpa bisa aku kendalikan. Semua kebencian yang sesaat tadi lenyap kembali muncul dalam hatiku. Eomma menatapku cemas sambil berusaha meredakan emosiku. Tapi tak bisa semudah itu. Aku masih berteriak-teriak histeris meminta eomma membuang buket bunga itu sekarang juga. Aku tak ingin melihat benda itu lagi. Yeonsa akhirnya datang dan eomma langsung menyuruhnya untuk membuang buket bunga itu, sesuai apa yang juga ia dengar dari mulutku.

 

Arra, aku akan membuangnya sekarang, eonni,” sahut Yeonsa sambil membawa buket bunga itu keluar dari kamarku. Emosiku mulai mereda, walau tangis ini belum. Aku masih menatap sosok Yeonsa yang berdiri di ambang pintu kamarku sambil memegang buket bunga itu, memandangku dengan pandangan sedih.

“Aku akan membuangnya, eonni,” sahut Yeonsa lagi. Kali ini kudengar juga nada suaranya yang terdengar sedih. “Aku akan membuangnya sekarang jika eonni tak menginginkannya lagi.”

 

 

Esok sorenya, Hyoeun menjengukku lagi. Ia mengatakan sepulang kuliah ia langsung mampir ke rumahku. Bahkan bisa kulihat dengan jelas saat ia membawa sebuah buku tebal. Sungguh bukan kebiasaannya.

 

“Apa itu, eoh?” kekehku sambil menunjuk buku itu. Hyoeun mengerucutkan bibirnya.

“Ini buku untuk bahan tugas dari Dosen Son.” Jawabnya singkat sambil menjatuhkan benda itu asal ke tepi tempat tidurku. Aku mengeluh keras.

Yak! Kenapa kau jatuhkan disini?!”

“Itu buku untukmu, Park Cheonsa.” Sahut Hyoeun sambil menjitak kepalaku. Aku mengeluh lagi.

“Hyoeun-ah, hentikan! Kau membuat kepalaku pusing lagi.”

 

Aku meraih buku tebal yang dijatuhkan Hyoeun. Meneliti sampul buku tebal itu.

“Hei, materi di buku ini sama sekali tak ada hubungannya dengan materi Dosen Son.” Protesku setelah melihat-lihat daftar isi buku itu sebentar.

Hyoeun membelalakan matanya. “Jinjja? Apa aku salah mengambil buku?”

Aku memutar mataku. “Ne, Lee Hyoeun. Kau salah mengambil buku.”

Aigoo, mianhae. Akan kukembalikan besok,” sahut Hyoeun.

Aku mengangkat alis. “Besok?”

Ne. Sekarang aku titip dulu di rumahmu, ya?” Hyoeun memelas. “Aku malas kalau harus membawa-bawanya lagi ke rumah. Berat.”

Yak! Tapi—“

“Ayolah, Park Cheonsa… Kau anak pintar, kan? Kau pasti senang bisa membaca-baca buku itu dulu, jebal…” Hyoeun memelas lagi.

Aku menghembuskan napas. Oh, baiklah. Terserah dia saja.

 

Arra, terserah kau saja, Lee Hyoeun.” Sahutku mengalah.

Hyoeun langsung tersenyum lebar dan memelukku kecil. “Ah, Cheonsa-ya… Kau sahabatku yang paling baik,”

“Jangan merayu, Lee Hyoeun,” keluhku. Hyoeun melepaskan pelukannya dan menatapku dengan cemberutnya. Aku terkekeh kecil.

 

Hyoeun rupanya tak lama menjengukku. Ia mengatakan ia harus menyelesaikan tugas kuliah yang menjadi deadline besok. Aku tertawa melihat betapa kebingungannya ia saat teringat jika itu adalah tugas dari Dosen Lee, dosen yang paling galak di kampus kami. Dengan muka pias ia buru-buru pulang dari rumahku.

Aku hanya bisa tertawa saat kebiasaannya itu lagi-lagi terulang. Bukannya aku teman yang jahat, atau apapun itu. Aku hanya geli sendiri melihat betapa temanku itu tak berubah dari masa lalu. Selalu saja terlambat mengerjakan tugas. Tidak seperti aku yang terlalu rajin ini. Atau… Baekhyun.

 

Aku mengeluh saat lagi-lagi pikiranku tertuju padanya, pada namja itu, namja yang telah membuatku kecewa dan patah hati. Semenjak kejadian itu, aku sengaja menonaktifkan ponselku. Aku sengaja supaya ia tak bisa menghubungiku. Entah. Aku rasa kali ini aku sedang tak mau mengingatnya lagi.

 

Aku mencoba menghilangkan semua bayanganku tentang Baekhyun dengan cara membaca buku yang tadi dibawakan oleh Hyoeun. Keningku mengernyit sedikit saat membaca judul yang tertera di sampul buku itu.

Ugh, Hyoeun keterlaluan membawakanku buku dengan materi seperti ini. Mimpi apa pula ia bisa mengambil buku ini dari lemari perpustakaan, meskipun secara acak? Aku saja yang rajin membaca buku tak terpikirkan untuk mengambil buku seperti ini, bagaimana bisa seorang Lee Hyoeun yang paling malas membaca malah tergerak mengambil buku seperti ini?

Aish, yang benar saja!

Ini bahkan materi untuk mahasiswa dengan jenjang diatas semester kami.

 

Aku membalikkan halaman demi halaman. Aku tak membaca dengan benar-benar. Aku hanya membacanya sekilas. Lagipula aku memang tak mengerti soal materi yang diuraikan di buku ini. Aku hanya iseng membolak-balik halamannya, dengan harapan aku bisa melupakan namja itu.

 

Aku tertegun saat menemukan sebuah DVD polos yang terselip di antara dua lembar halaman. Tepat di halaman 60 dengan halaman 61.

 

 

 

“Aish, jinjja! Apa yang kau lakukan dengan buku kesayanganku, Byun Baekhyun?!”

 

“Aku menekuk halamannya.”

 

“Kenapa kau menekuknya? Kau ‘kan tahu sendiri, aku paling tidak suka ada halaman dalam bukuku yang ditekuk secara sengaja!”

 

“Aigoo, jangan marah chagiyaaaa~ Bbuing-bbuing~”

 

“Tidak mempan. Aku tetap marah padamu.”

 

“Oh, ayolah, aku hanya ingin menandai angka istimewa untuk kita,  supaya kau selalu mengingat itu,”

 

“Mworago?”

 

“Kau tidak lihat angka halaman ini? Halaman  60 dan 61,”

 

“Ada apa dengan angka itu?”

 

“Angka 60, jika dibalik menjadi 06. Kau tahu angka apa itu?”

 

“Apa? Tanggal ulangtahunmu…?”

 

“Ah, kau pintar, chagiya… Lalu angka 61. Jika dibalik akan jadi?”

 

“16.”

 

“Dan itu?”

 

“Umm… Tanggal ulangtahunku…?”

 

 

 

Aku mengigit bibirku saat ingatan itu kembali terputar ulang dalam kepalaku. Kurasakan ada air yang mengalir melewati pipiku saat rasa sesak itu kembali terasa seiring ingatanku yang memutar semua kenangan masa laluku bersama Baekhyun. Airmata itu mengalir satu persatu, melewati pipiku, bermuara di daguku, dan berakhir dengan tetesan di halaman buku itu.

Halaman 60 dan halaman 61.

Angka itu adalah angka yang istimewa untuk kami.

 

Airmataku mengalir semakin deras. Namun aku sengaja tak menghapusnya. Menghapus airmata malah semakin membuatku memperderas tangisanku.

 

Perlahan aku meraih DVD polos itu. Itu DVD yang sama dengan DVD yang Baekhyun tunjukkan padaku dalam video yang ia kirimkan lewat e-mail kira-kira dua minggu yang lalu. DVD yang ia janjikan akan ia isi dengan rekaman permainan pianonya saat di pentas seni musim dingin di kampusnya.

Permainan pianonya untukku, ia bilang. Lagu yang ia mainkan juga untukku, ia bilang. Lagu itu ciptaannya sendiri. Untukku, ia bilang.

 

 

Maafkan aku karena aku harus memberikannya padamu dengan cara seperti ini. Yeonsa melarangku menemuimu. Hanya Hyoeun satu-satunya yang bisa kumintai tolong, meskipun pada awalnya ia juga sama sekali tak mau bertemu denganku. Ada apa denganmu, chagiya? Mengapa aku sulit sekali untuk menemuimu?

 

06-60

 

 

Airmataku meleleh membasahi kertas yang Baekhyun jadikan sebagai penerus pesan padaku. Aku bisa membaca tulisan tangannya dengan jelas. Aku begitu mengingatnya. Tulisan tangannya sama sekali tak berubah dari masa lalu. Itu masih tetap tulisan Byun Baekhyun, namja yang sebenarnya tetap kucintai tanpa ada yang berubah.

Setidaknya, sebelum ia menghancurkan hatiku dalam hitungan detik. Tepat tempo hari.

 

Aku membaca tulisan tangan yang sama tergores diatas piringan putih DVD polos itu.

 

A song for my 16-61, Park Cheonsa.

“December 16th

 

 

 

 

Sudah seminggu aku mulai menjalani aktifitasku di kampus seperti biasa. Aku sudah sembuh dan pada nyatanya toh aku juga yang mengembalikan buku itu ke perpustakaan. Hyoeun sempat memandangku lama saat ia menemaniku mengembalikan buku itu, tepatnya saat aku menyerahkan buku itu pada petugas perpustakaan untuk didata. Mungkin ia bertanya-tanya mengapa reaksiku biasa saja, padahal harusnya sudah ada suatu reaksi yang kutunjukan mengingat aku sudah menerima DVD rekaman titipan Baekhyun. Namun aku diam saja dan sama sekali tak mengungkit tentang DVD itu padanya, seolah-olah aku tak menemukan DVD rekaman itu. Kulihat ada raut kecewa yang berusaha Hyoeun tutupi.

 

Sore ini aku sendirian menunggu bus di halte. Aku tak bersama Hyoeun karena memang rumah kami tak searah. Aku merasakan ada perubahan yang kubuat semenjak kejadian itu. Aku tak terlalu banyak lagi mengobrol dengan Hyoeun, apalagi soal Baekhyun. Pernah sekali Hyoeun menanyakan apakah aku sudah bertemu dengan namja itu, namun aku sengaja menyibukkan diri sehingga pertanyaannya itu terabaikan. Padahal dulu walaupun rumah kami tak searah, Hyoeun selalu menungguku sampai aku mendapat bus. Tapi tidak semenjak kejadian itu. Saat bus-nya sudah tiba, ia hanya pamit padaku dan menaiki bus, tak lagi menungguku seperti dulu.

Banyak yang berubah tentang hubunganku dengan orang-orang yang ada disekitarku semenjak kejadian itu.

 

Aku menunduk dan memandangi ujung sepatuku yang terlihat sedikit kotor terkena lumpur sisa hujan dua jam yang lalu. Aku menendang-nendang kecil beberapa kerikil yang berserakan secara acak di bawah kakiku, berharap menghilangkan rasa bosan. Sekarang aku menyesal, kenapa sebelum pulang tadi aku tak meminjam buku terlebih dahulu ke perpustakaan.

 

Gerakan kakiku berhenti saat salah satu kerikil yang kutendang mendarat beberapa meter diatas aspal sana. Tepat di depan sepasang sepatu yang menunjukkan kalau pemiliknya adalah seorang namja. Aku memandangi sepatu itu cukup lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk menatap wajah pemiliknya.

 

Hatiku agaknya mati rasa saat kutemukan wajah cemasnya menghadap tepat pada wajah datarku. Rasanya sama sekali tak ada yang bisa kurasakan. Hatiku kosong dan hambar. Aku hanya bisa menatap refleksi diriku dengan jiwa yang datar di kedua matanya.

 

“Cheonsa-ya,” panggilnya pelan. Aku tak merespon apapun, aku hanya diam. Menatapnya dengan tatapan tanpa arti.

“Cheonsa-ya… Kenapa kau berubah?”

 

Aku masih tak menjawab pertanyaan namja itu. Sebenarnya sulit. Tak ada yang bisa menebak bagaimana perasaanku sekarang. Mulai timbul rasa rindu yang samar untuk membalas kata-katanya, kata-kata yang betapa selama ini kurindukan untuk kudengar secara langsung. Kata-katanya saat menyebut namaku dan melantunkan kata yang memang tertuju hanya untukku.

Tapi sebelah rasa lain menghantam keras-keras keinginan dari rasa rindu itu. Kebencian yang kutanam secara paksa menghancurkan rasa rindu itu. Menang diatas nuraniku sendiri.

 

 

Kata-kata yang tertuju hanya padaku, eoh?

Benarkah?

Apakah aku masih harus meyakini itu saat aku bahkan sudah jelas-jelas melihat gadis lain bisa memeluk kekasihku seenaknya di tempat umum?!

 

 

“Kau tanya kenapa aku berubah?” sinisku pelan. Aku bahkan tak merencanakan ada nada sinis yang terselip disana saat aku membalas kata-kata yang telah ia ucapkan sebelumnya. Aku baru tersadar betapa sinisnya nada bicaraku saat kulihat raut wajahnya berubah semakin sendu. Ia menatapku dengan sedih.

 

“Cheonsa-ya, aku tak mengerti apa yang sudah terjadi padamu…”

 

“Harusnya aku yang bilang seperti itu, Byun Baekhyun.” Sahutku dingin. Aku menyelesaikan ucapanku dengan berdiri dari posisi dudukku sebelumnya. Aku menatap matanya sinis, membuat pandangan matanya semakin sedih saat menemukan tatapan seperti itu dariku.

 

“Apa salahku?”

 

Pertanyaannya yang satu itu seakan menyulut kesabaranku lebih luas lagi. Ia menatapku dengan pandangan sedihnya yang bercampur dengan tatapan yang menyiratkan betapa bingungnya ia melihat sikapku.

“Kau masih tanya apa salahmu?”

 

Samar kudengar suara deru mesin taksi mendekat ke arah halte ini.

“Tanyakan saja pada dirimu sendiri, Byun Baekhyun. Kenapa bisa gadis bernama Kim Yura itu memelukmu di depan mataku sendiri.”

 

Baekhyun mematung setelah mendengar kalimatku. Tepat saat itu aku dengan cepat memberhentikan taksi kosong itu dan membuka pintunya.

 

“Cheonsa-ya, kau harus dengar penjelasanku. Itu tak seperti yang kau pikirkan… Kau salah paham,” Baekhyun mencoba menyusulku dan menarik tanganku agar tak jadi menaiki taksi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, aku menghempaskan tangannya dan langsung masuk ke dalam taksi tersebut sebelum ia berhasil mencegahku lagi.

 

“Cheonsa-ya, kau harus dengan penjelasanku dulu! Cheonsa-ya!”

Masih kudengar suara Baekhyun saat taksi yang kutumpangi mulai melaju atas perintahku. Baekhyun ikut berlari di samping pintu taksi tepat di sebelahku, tapi tak sedikitpun mata dan hatiku tergerak untuk melihatnya. Tanpa melihat bagaimana susah payahnya ia mengejar taksi yang melaju semakin cepat ini saja aku merasa hatiku sudah sakit. Melihat bagaimana upayanya malah akan membuatku semakin sakit.

Aku benci karena aku pada akhirnya kembali menangis. Menangis karena dia. Meratapi mengapa aku sebodoh ini karena telah terjebak dalam cinta yang semu bahagia selama tiga tahun.

Cinta semu, karena kami tetaplah pasangan yang aneh. Aku dan dia adalah pasangan yang aneh. Akan selamanya terus seperti itu.

 

Pasangan, eoh?

Memangnya kami masih bisa disebut sebagai pasangan sekarang?

 

 

Aku mengaduk susu coklatku dalam putaran terakhir. Tanganku terhenti, membiarkan pusaran air itu menghilang sebelum meletakkan sendok yang kupakai tadi ke dalam bak cuci piring.

Aku menggenggam gelas itu, merasakan betapa hangatnya permukaan gelas itu. Kontras dengan hatiku yang masih saja diselimuti rasa dingin yang asing, terlebih lagi karena hatiku masih terpengaruh akibat pertemuanku dengan Baekhyun tadi sore. Aku mencoba tak memikirkannya, tapi ternyata tetap saja tak bisa. Baekhyun selalu saja hadir dan menempati bagian dalam pikiranku, meskipun itu hanyalah bagian terkecil tempat dimana beberapa memori sederhana biasa aku lupakan.

 

Aku berjalan keluar dari ruangan dapur, menuju kamarku yang terletak di lantai atas. Samar kudengar suara eomma yang sedang berbicara serius dengan Yeonsa di dalam ruang perpustakaan mini milik kami.

Ketika aku melewati pintunya yang sedikit terkuak, benar saja, aku melihat eomma dan Yeonsa sedang duduk disana berdua. Pembicaraan mereka tampak serius karena tak kudengar tawa sedikitpun disela pembicaraan mereka.

 

“Jadi eonni-mu itu sudah putus hubungan dengan kekasihnya?” kudengar eomma bertanya lirih pada Yeonsa. Aku menghela napas ketika kulihat Yeonsa hanya mengangguk lemah.

Ne, sepertinya begitu, eomma. Aku tak pernah lagi mendengar Cheonsa eonni mengungkit nama Baekhyun oppa,” jawab Yeonsa pelan. “Aku sedih, eomma. Padahal aku sudah berharap sekali Baekhyun oppa yang akan menjadi kakak iparku.”

 

Aku terhenyak mendengar perkataan Yeonsa. Hatiku sesak saat memutar ulang perkataan Yeonsa itu lagi dalam kepalaku. Entah kenapa pikiranku terlempar lagi, teringat akan perkataan Minhee saat di café saat itu.

 

“Sudahlah, Yeonsa-ya… Kita tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara mereka. Mungkin berpisah adalah pilihan terbaik bagi mereka,” sahut eomma bijak, berusaha menghibur Yeonsa yang tampak murung setelah membicarakan keinginannya soal kakak ipar tadi.

Aku menghela napasku yang entah kenapa menjadi terasa berat dengan tiba-tiba. Hatiku kembali bersedih. Rasanya aku ingin menangis lagi, apalagi jika teringat wajah sedih Baekhyun saat bertemu denganku tadi sore.

 

Aku melanjutkan langkahku menuju kamarku. Setelah tiba, aku langsung mengunci pintu kamarku dan meletakkan gelas diatas meja. Aku melangkah pelan menuju lemari yang menjadi tempatku menyimpan beberapa benda sederhana milikku. Aku membuka laci teratas. DVD rekaman Baekhyun menjadi benda pertama yang kulihat saat laci itu terbuka. Airmataku jatuh menitik membasahi plastik bening yang melapisi DVD itu.

 

 

“Kau harus move on, Cheonsa-ya,” sahut Hyoeun saat aku masih saja duduk mematung di kursi kantin sambil mengaduk lemon tea pesananku dengan sedotan. Aku mengalihkan pandanganku yang tadinya kosong menuju padanya, dan aku menemukan raut cemas itu dalam matanya.

Aku menghela napas. “Entahlah, Hyoeun-ah. Aku sedang tidak bersemangat melakukan apapun sekarang.”

“Termasuk ujian?” Tanya Hyoeun sambil membulatkan matanya. “Astaga, Park Cheonsa. Kuliah kita tinggal 3 semester lagi, ingat? Kau itu anak pintar, jangan hancurkan harapan orangtuamu ketika melihat hasil indeks prestasimu nanti jika kau terus-terusan seperti ini.”

Aku hanya terdiam tak merespon kata-kata Hyoeun yang selanjutnya. Hyoeun hanya bisa menghela napas melihat kelakuanku.

 

“Memangnya kau sudah resmi berpisah dengan Baekhyun?”

Pertanyaan Hyoeun yang satu itu membuat pikiranku mengosong kembali. Hatiku terketuk memintaku menjawab pertanyaan itu, mengingat apa yang sudah terjadi antara aku dan Baekhyun beberapa hari belakangan ini.

Beberapa hari, eoh?

 

“Kau sudah hampir dua minggu mendiamkan Baekhyun seperti ini. Tidak jelas.” Sahut Hyoeun lagi.

Aku menggeleng pelan tanpa sadar. “Aku tak tahu, Hyoeun-ah.”

 

Mwoya?! Dua minggu?!” seruku heboh saat kata-kata Hyoeun baru tersambung ke nalarku.

“Aku? Baekhyun? Dua minggu?!”

 

Ne.” jawab Hyoeun singkat. “Kau tak sadar, ya? Ini sudah hampir dua minggu semenjak hubungan kalian menjadi tidak jelas seperti ini.”

 

Apa? Dua minggu?

 

 

“Yeonsa-yaaa!” seruku memanggil adik perempuanku satu-satunya itu. Kubuka pintu kamarnya dan aku terdiam sejurus kemudian saat melihat kamarnya kosong. Aku melirik jam dinding berwarna merah muda yag tergantung di salah satu sisi dinding kamarnya, melihat jika jarum pendek yang ada disana berhenti di angka satu.

“Ah, jadi dia belum pulang,” sahutku pada diriku sendiri. Aku menelusuri jengkal demi jengkal setiap sisi kamar adikku itu. Mataku terhenti pada meja belajarnya, aku menyunggingkan senyum tipis dan melangkah ke arah sana.

Kulihat beberapa buku tertumpuk rapi di salah satu sudut meja itu. Aku memilah eksemplar buku-buku itu, membaca judul bukunya satu-persatu, berharap buku novel milikku yang minggu lalu dipinjamnya ada disana. Anak itu memang kebiasaan, selalu saja lupa mengembalikan barang milik eonni-nya sendiri.

 

“Ah, ini dia,” sahutku lega saat akhirnya menemukan buku yang kucari. Aku langsung menarik buku itu dari tumpukkan dan buru-buru memeriksa halamannya, takut-takut menemukan ada halaman yang sengaja ditekuk oleh Yeonsa.

Aku menghembuskan napas lega lagi saat ternyata halaman-halaman itu masih utuh tanpa ada tekukan.

 

Aku baru saja akan beranjak meninggalkan meja itu saat sebuah amplop polos berwarna salem yang tergeletak di lantai menahan langkahku. Aku mengerutkan kening sesaat, seingatku tidak ada amplop itu sebelumnya. Pasti amplop itu ikut tertarik saat aku menarik bukuku tadi.

Aku mengambil amplop itu, bermaksud mengembalikan amplop itu dalam tumpukkan buku. Namun aku malah tertegun saat membaca goresan tinta yang membentuk namaku di muka amplop. Menunjukkan bahwa amplop itu seharusnya untukku. Namun agaknya Yeonsa lupa menyampaikannya padaku.

Atau… Malah sengaja tak menyampaikannya?

 

Naluri penasaranku akhirnya membuatku membuka amplop itu, menemukan sepucuk surat yang terlindung di dalamnya. Tanganku sedikit bergetar saat membuka lipatan surat itu. Hatiku mencelos saat mataku dengan asal menemukan sebaris nama pengirim yang tertulis di bagian kanan bawah.

 

Nama itu.

 

Byun Baekhyun.

 

 

Angin musim dingin semakin terasa menusuk kulitku saat aku berlari diatas trotoar. Aku tak peduli berapa jarak yang harus kutempuh dengan cara berlari seperti ini. Pikiranku blank dan aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.

Menunggu dan terlambat sedikit saja, mungkin aku akan kehilangan Baekhyun. Mungkin aku juga tak akan bisa bertemu lagi dengannya. Selamanya.

 

Beberapa kali orang-orang yang bahunya kutubruk menoleh ke arahku, mereka memandangku kesal sekaligus bingung. Kesal karena aku menubruk bahu mereka dan berlari begitu saja, tanpa sempat mengucap kata maaf. Bingung karena melihat penampilanku yang hanya mengenakan piyama ini berlari tanpa sehelai mantel pun di tengah salju yang turun perlahan dari langit menuju bumi.

Apakah aku tidak kedinginan?

Astaga, tentu saja aku kedinginan. Namun lagi-lagi kata yang berputar dalam benakku adalah : Aku tak bisa menunggu waktu hanya untuk sekedar mengambil mantel. Aku tak peduli aku kedinginan. Aku tak peduli tubuhku membeku. Aku tak peduli selepas ini mungkin saja aku akan sakit, bahkan bisa saja jatuh pingsan di tempat. Aku hanya ingin bisa memeluk Baekhyun lagi dengan kata maaf yang entah harus kuucapkan berapa banyak. Aku tak mau terlambat. Aku tak mau menyesal.

 

Napasku mulai menipis. Namun kupaksakan untuk terus berlari. Jantungku menghitung detik angka yang lain saat ini. Detik angka yang semakin memburuku. Rasanya aku ingin ambruk diatas trotoar saat ini juga. Namun aku tak bisa berhenti saat ini. Dan aku tak boleh berhenti.

Senyumku tersungging tipis melihat bangunan stasiun yang mulai terlihat di ujung jalan sana. Aku mencoba berlari lebih cepat lagi. Namun aku tak sanggup. Napasku yang semakin menipis dan wajahku yang perlahan semakin memucat menahan kecepatan lariku.

 

Detik demi detik rasanya lambat sekali. Aku hanya bisa berlari sebisanya saat memasuki pintu utama stasiun. Aku memasuki peron dengan lari yang kupaksakan. Namun langkahku terhenti seketika saat melihat rangkaian gerbong berjalan menjauh dari jalur yang ternaungi atap stasiun. Wajahku pias melihat gerbong-gerbong itu. Melihatnya aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Seluruh semangatku terasa tertarik dengan paksa, seiring dengan rangkaian gerbong itu menjauh dari stasiun tempatku berpijak.

Airmata menggenang di pelupuk mataku. Membentuk gumpalan bening yang akhirnya terjatuh bergulir diatas pipiku. Pandanganku memburam, hatiku terasa tertusuk penyesalan yang amat menyakitkan.

 

“Baekhyun-ah, chankkanman!!” teriakku frustasi. Langkahku mencoba menyusul rangkaian gerbong terakhir. Aku bertingkah sangat konyol sekarang, namun aku mengabaikan seluruh tatapan aneh orang-orang yang ada di sekitar stasiun itu. Aku mencoba menghabiskan sisa energiku untuk mengejar kereta itu, walau kutahu itu sia-sia.

 

Kedua kakiku tak bisa bertahan lagi membawaku berlari lebih jauh. Aku terjatuh kelelahan. Aku jatuh terduduk. Aku menangis, tak memedulikan beberapa orang yang mulai mengerubungiku dengan membawa tatapan iba mereka. Wajahku basah oleh airmata, rambutku berantakan tak karuan.

Aku meruntuki dalam hati, mengapa aku selalu saja datang ke stasiun ini dengan keadaan yang memalukan.

 

“Permisi tuan, apa kereta jurusan Seoul baru saja berangkat?” kudengan samar suara seorang namja yang bertanya pada salah satu orang yang mengerumuniku.

Ne, baru saja berangkat beberapa menit yang lalu,” kudengar suara seorang ahjussi menjawab pertanyaan namja itu.

“Astaga, aku terlambat.” Keluh namja itu. “Hei, ada apa dengan gadis ini?”

 

Sepertinya perhatian namja itu kini beralih padaku juga. Semakin lama semakin banyak saja yang datang mengerumuniku. Beberapa orang saling bertanya ketika melihat keadaanku. Beberapa lagi bertanya apakah ada salah satu diatara mereka yang mengenalku.

 

“Nona, apa kau perlu bantuan?” Tanya seorang ahjumma yang mengambil posisi di depanku dan mensejajarkan tingginya denganku yang masih terduduk. Ia tampak khawatir melihat keadaanku, atau malah mungkin… Tingkah lakuku.

“Rumah Nona dimana? Mau diantarkan?” tawar ahjumma itu lagi dengan senyum tulusnya.

Aku menggeleng. “Tidak perlu, ahjumma. Terimakasih. Aku akan pulang sendiri saja.”

 

Perlahan aku menghapus airmataku. Mungkin mataku tampak sembab parah sekarang. Tapi aku memutuskan untuk tak peduli. Hatiku benar-benar hancur sekarang. Sepertinya tak ada lagi harapanku untuk bisa bertemu dengan Baekhyun. Seperti yang tertulis di suratnya, jika aku tak datang untuk yang terakhir kali ke stasiun, maka kami benar-benar akan berpisah. Ia tak akan kembali lagi ke Bucheon sampai ia benar-benar lulus kuliah. Kami harus saling melupakan. Aku harus melupakan dia, dan dia juga harus melupakanku.

 

“Cheonsa-ya?”

Aku mendongak saat suara itu memanggil namaku. Menemukan wajah pemiliknya. Wajah itu tampak cemas ketika melihatku. Mataku membulat menemukan wajah itu. Wajah itu terlihat jauh lebih cemas sekarang, melebihi dari apa yang kulihat beberapa hari yang lalu.

 

“Cheonsa-ya, apa yang terjadi padamu?” Tanya namja itu cemas.

Aku sesenggukan lebih keras. Aku langsung memeluknya. Ia terpaku ketika aku memeluknya dalam kedaan menangis. Begitupun dengan orang-orang yang berkerumun di sekitar kami, mereka melihat kami dengan pandangan yang semakin bingung.

Aku mengabaikan semua itu. Aku menangis lebih kencang. Aku memeluk Baekhyun semakin erat.

 

“Aku mencintaimu, Byun Baekhyun. Kumohon jangan pergi sekarang.” Ucapku disela tangis. Kurasakan Baekhyun membalas pelukanku. Walau tak melihatnya, aku bisa merasakan saat ia tersenyum di balik punggungku.

“Aku tak akan pergi kemana-mana, Park Cheonsa.” Sahutnya tenang. “Lagipula, aku sudah ketinggalan kereta, kan?”

 

“Tidak lucu, Byun Baekhyun.” Sahutku sambil melepaskan pelukan darinya. Aku merengut di tengah banjir airmata yang kembali membasahi wajahku. Ia tersenyum padaku dan menghapus semua airmata di wajahku dengan tangannya.

“Aku tidak sedang melucu. Aku serius.” Balasnya sambil tersenyum padaku. “Maafkan aku ya, Park Cheonsa?”

Aku mencoba tersenyum. Kukatakan sekali lagi, mencoba. Nyatanya aku rasanya hanya bisa menangis terus-menerus sekarang. Apalagi saat menyadari jika menit ini adalah menit-menit yang kuimpikan saat bertemu dengan Baekhyun. Menit-menit dimana aku bisa berada sedekat ini dengannya. Menit-menit dimana tak ada rasa sakit hati yang perlu kuingat lagi.

 

“Sudahlah, jangan menangis,” sahutnya saat melihat airmataku mengalir lagi. “Apa permintaan maafku belum cukup?”

Aku menggelengkan kepala. “Tidak, Baekhyun. Bukan itu,”

“Lalu kenapa kau menagis lagi? Lihat, padahal aku tak jadi pergi, kan?”

“Kau tahu, Baek?” sahutku pelan. “Ini adalah menit-menit yang kuimpikan ketika bisa bertemu denganmu. Menit-menit yang harusnya terjadi kemarin. Aku bahagia karena pada akhirnya aku benar-benar bisa merasakannya. Aku merindukanmu, Baek…”

“Aku juga merindukanmu, Cheonsa,” sahutnya sambil memelukku lagi. Aku balas memeluknya. Aku memejamkan mataku di bahunya. Merasakan betapa tenangnya hatiku sekarang.

“Sebaiknya aku tak perlu mengingat tentang Yura lagi,” sahutku iseng di balik punggung Baekhyun. Baekhyun melepasakan pelukan dan memandangku dengan cemberut di wajahnya.

“Kau sengaja ingin menyakiti hatimu sendiri, ya?” Tanya Baekhyun sambil cemberut. Aku tertawa kecil melihatnya.

“Bukankah sudah kujelaskan padamu lewat surat tentang semuanya? Ayolah, Park Cheonsa, jangan bilang kau tak membaca surat itu.”

 

“Aku membacanya, tapi percayalah, aku sangat terlambat.” Sahutku ringan, membuat Baekhyun membulatkan matanya.

“Aku tadi tak sengaja menemukan surat itu di kamar Yeonsa. Padahal sebelumnya ia tak pernah bilang apapun padaku tentang suratmu. Dia tidak menyampaikan apapun padaku. Andai saja aku tak penasaran membuka surat itu, mungkin aku tak akan pernah tahu tentang yang kau tulis dalam surat itu.” jelasku panjang lebar. “Dan kita tidak akan pernah berbaikan seperti ini,”

“Kau serius?” Tanya Baekhyun terkejut. “Aish, anak itu benar-benar. Adikmu itu sangat nakal, Cheonsa.”

 

“Tiga tahun kita bertahan, meleburkan jarak antara Seoul-Bucheon. Tapi saat itu, dengan mudahnya kau menghancurkan hatiku dalam waktu hitungan detik. Teganya kau, Baek,” sahutku pelan.

“Tapi itu bukan akhir dari cerita ini, kan?” Baekhyun balik bertanya. Aku hanya mengangkat bahuku, membuat Baekhyun cemberut lagi, dan aku tertawa lagi melihatnya.

“Hei, kemana orang-orang?” tanyaku saat menyadari jika ternyata sedari tadi kami kehilangan orang-orang yang tadinya berkerumun di sekitar kami. Suasana di sekitar kami tampak sudah kembali normal, mereka belalu-lalang tanpa peduli melihat drama antara aku dan Baekhyun.

“Baguslah kalau begitu,” sahut Baekhyun. Aku mengerutkan kening mendengar jawabannya. Namun saat aku berbalik menatapnya, aku dikejutkan dengan sebuah benda mungil berbentuk lingkaran yang ia tujukan padaku.

 

“Aku bersyukur karena dengan begitu, aku tak akan malu ketika akan memberikan benda ini padamu,” sahutnya sambil tersenyum salah tingkah. “Aku juga bersyukur karena tadi tak jadi menitipkan benda ini juga pada Yeonsa. Harusnya aku tahu, anak itu adalah biang keladi mengapa kau terlambat membaca surat dariku.”

Aku hanya mematung mendengar ia bicara banyak padaku. Ia tersenyum melihatku yang hanya bisa terdiam. Ia tahu, saat ini benar-benar tak ada sepatah katapun yang mampu aku ucapkan.

 

“Kau sudah menonton rekaman permainan pianoku?” Tanya Baekhyun lagi. Aku masih tak mampu menjawab. Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam. Ia tersenyum melihatku.

“Kalau sudah, pasti kau tahu kenapa aku memberikan benda ini padamu,” sahutnya dengan senyum lebar yang terkembang. “Tapi maaf, sepertinya itu agak meleset dari perkiraanku. Ulangtahunmu masih tiga hari lagi, ya? Harusnya aku memberikan benda ini tepat saat kau ulangtahun, tapi melihat bagaimana keadaannya sekarang… Uhm, kurasa aku harus memajukan tanggalnya sedikit,”

 

Aku masih terdiam. Kurasa tanganku sudah berkeringat dingin sekarang.

 

“Maukah kau menikah denganku, Park Cheonsa?”

 

Pertanyaan Baekhyun sukses membuat tubuhku lemas seketika. Mataku membulat menatapnya, menatap senyum tulusnya yang sepertinya menyiratkan sebuah kesungguhan.

 

Oh tidak, kharap namja ini hanya bercanda!

 

“A… Apa? Menikah?” tanyaku tergagap.

“Eh?” sahutnya, merasa ada yang salah dalam permintaannya barusan. “Oh tidak, apakah itu terlalu cepat?”

Aku menganggukkan kepalaku dengan canggung. “Ne, kurasa begitu, Baek. Kau lupa berapa usia kita? Dua puluh satu tahun…?”

 

Baekhyun ikut terdiam saat mendengar aku menyebutkan berapa usia kami.

“Oh ya, kau benar. Kurasa… Terlalu cepat jika kita ingin menikah sekarang,”

 

Aku menganggukkan kepalaku lagi. “Jadi…?”

 

“Tunda saja dulu jawabanmu, oke?” Baekhyun kembali ke nada bicaranya yang riang. “Tapi kau tetap harus menerima cincin ini. Ini adalah tanda jika kau adalah milikku,”

Tanpa menunggu persetujuanku, Baekhyun memasangkan cincin itu pada jari manisku. Ia tersenyum lagi dan memelukku.

“Aku mencintaimu, Park Cheonsa,” sahut Baekhyun. Aku tersenyum mendengarnya. Aku memejamkan mata diatas bahunya, berharap waktu akan berhenti berputar untuk saat ini, supaya aku dapat terus bertahan dalam pelukannya. Kuharap tak akan ada yang berubah lagi.

Aku berharap tak ada rasa sakit lagi diatara kami. Aku akan menantikan saat dimana suatu hari nanti aku dan Baekhyun bisa menjadi pasangan yang normal, pasangan yang tidak lagi aneh, gara-gara status long distance relationship dan jarak antara Seoul-Bucheon yang memisahkan kami.

 

“Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi.”

 

 

 

 

 

—END—

 

 

 

 

Halo readers! ^^

Oneshot ini beneran panjang kan, ya?😀

 

Dan gimana sama endingnya? Hoho😀

Happy ending nih😀

Tapi mian ya kalo happy ending-nya terasa aneh… Aku jarang bikin fic yang happy ending… Jadi, ya gini deh hasilnya(?) ._.

Gimana pendapat kalian? Aneh gak ending nya? ‘-‘)/

 

Fic ini aku buatin buat Kak Tessa, hohoho😀

Mian kak, kalo publish nya ngaret… Kemaren bentrok ujian soalnya L

Rencana aku, aku mau publish ini bertepatan sama 21st birthday-nya Kak Tessa kemaren, tapi gagal lagi pas kakak ngabarin kalo kakak lagi UAS L

Jadinya sekarang deh, padahal intinya tetep aja ngaret sehari (/-\)

 

Padahal ini fic jadinya udah lama😀 #digetokKakTessa

(Jadi maklum kalo ada yang merasa diksinya berbeda dari fic yang baru aku publish belum lama ini😀 )

Tapi ada tentang tanggal lahir tuh kak😀

Baru nyadar kalo tanggal lahir kakak sama Baek unyu gitu, bisa dibalik-balik :3

 

Oiya, aku mau minta maaf sama readers yang waktu itu pernah mesen biasnya dibikinin fic kayak gini, mian karena gak sempet dibuatin sama aku >.<

Ini adalah fic terakhirku sebelum aku hijrah(?) ke ide sama konsep yang lain😀

 

Tentang fic ini, kutunggu komentarmuuuuuuu yaaaaaaaa *-*)/

 

88 thoughts on “After Three Years

  1. ya ampun thorr..
    aku kasih km jempol 10, 4 jempol ku sisanya pinjam tetangga😀
    summmppaahh demi apa thorr tangis gua pecah gegara baca ni FF
    asli thoor daebakk banget🙂
    cuman tekadang ada bagian yang kurang di sebutkan aja, tenang itu tidak membuatku jadi menghentikan air mata😀
    di tunggu ya thor karya2nya🙂

  2. Bgs thor
    Tp ada satu yg kurang
    Knpa isi suratnya gak di kasi tau
    Mksdnya biar jelas
    Kan jd gak tau gmna hub baek sm hyura or hyuna itu

  3. babo cheonsa. huwahh wkwk andai aja dia mau dngerin baek kan 2mggu gak bkal sia2. awal2 ngira bkal sad end dan asli gk iklas wkwk feel dpt bgt smpe2 pngen getok cheonsa sma adk nya kkk good fiction wkwk sukses bkin greget :p keep write

    • hai😀

      aduh mian.. uljima ne ._.)/
      Baek gak pergi beneran kok, dia balik lagi😀
      happy ending holaaa ~~~

      mihihi… makasih ya kamu sudah berkunjung dan menyumbang komentar🙂

    • halo isty😀
      maaf banget duh, aku baru bales komen kamu😦

      aduh, sequel?
      aku biasanya paling gak tahan bikin sequel.. serius deh ._.v
      maaf banget yaaa😦

      tapi ngomong-ngomong, makasih sudah berkunjung dan menyumbang komentar yaa🙂

  4. Ya ampun thorrr~~ mimpi apa aku semalemmmm…
    aku geregetan bacanya wehhh
    daebakk!!! *O*
    suka sukaaa ahhh ><

    dtunggu ffnya yg laen ya thor

    • halo, oh hyun ra😀
      maaf juga ya aku baru bales komen kamu, telat banget ini.. huhuhu

      mihihi.. gumawo udah suka sama ceritanya yaa ><
      sip deh, ff lain akan segera posting😉

      makasih udah baca dan kasih komen🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s