Diposkan pada Family, jellokey, Lu Han, MULTICHAPTER, Romance, SCHOOL LIFE

I Love You, My Little Girl (Chapter 3)

luhan

I Love You, My Little Girl

                           

Tittle                           :  I Love You, My Little Girl (Chapter 3)

Author                       : Jellokey

Main Cast                  :

Luhan (Lu Han of EXO)

Shin Min Young (OC)

Support Cast            :

Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)

Kim Jong-in (Kai of EXO)

Kim Hyun-il (Ray of C-CLOWN)

Lee Jae-joon (Maru of C-CLOWN)

and others

Length                        : Chaptered

Genre                         : Romance, Family, School Life

Rating                         : PG17+

Disclaimer                 : Cerita ini milik saya. Dilarang plagiat dan copy paste. Don’t bash!

 Liat rating. Ada adegan sedikit dewasa.

Chapter 1  Chapter 2 Chapter 3

 

“Maaf, aku terlambat.” Lu Han duduk di samping Min Young yang sama sekali tidak menanggapinya. Ia sudah menunggu Lu Han dua puluh menit di taman kota.

“I’m so sorry, my little girl.” Lu Han memelas. Ia tahu Min Young tidak suka menunggu. Ini semua karena Sehun, satu-satunya orang yang tidak mengizinkan Lu Han pergi kencan. Namja berparas cute itu harus menyogok Sehun dengan mobil, dan tentu saja berhasil. Membuat Lu Han harus ke taman kota menggunakan kendaraan umum.

“Aku bukan anak kecil.” Min Young makin kesal karena panggilan Lu Han.

“You’re my little girl. Mianhae.” Lu Han menyodorkan es krim di depan Min Young. Ia membeli itu di kedai yang tak jauh dari taman kota. Raut wajah Min Young berubah, tidak sekesal tadi.

“Aku dimaafkan?” Tanya Lu Han begitu Min Young menerima es krim cokelatnya.

“Tidak.” Kata Min Young setelah menjilat es krimnya. Setidaknya itu bisa mendinginkan Min Young.

“Kenapa?” Lu Han mendongak. Ia menatap bingung Min Young yang berdiri di bangku.

“Aku akan memaafkan oppa setelah oppa menggendongku mengelilingi taman kota.” Mata Lu Han membulat. Taman kota sangat luas. Apa gadis kecilnya jadi gila karena menunggu selama dua puluh menit?

“Geurae.” Lu Han berdiri. Ia menyanggupi permintaan Min Min Young. Min Young melingkarkan tangan kirinya di leher Lu Han. Ia tersenyum, tidak menyangka Lu Han menyanggupi permintaannya.

“Kau berat.” Lu Han menempatkan kedua tangannya di masing-masing lekukan kaki Min Young.

“Geuraeyo?” Min Young menikmati es krimnya.

“Tahan sebentar, oppa. Aku tidak serius kok.” Lu Han terkekeh.

“Aku juga tidak serius.” Min Young menyodorkan es krimnya ke mulut Lu Han.

“Supaya oppa tidak lelah.” Lu Han menerimanya dengan senang hati. Mereka sudah berjalan cukup jauh dari bangku yang mereka duduki.

“Oppa, kenapa aku menyayangimu?” Min Young melingkarkan tangan kanannya di leher Lu Han karena es krimnya sudah dihabiskan Lu Han.

“Karena kau menyukaiku.”

“Kenapa aku menyukai oppa?”

“Karena aku cute dan tampan?” Nada Lu Han terdengar bertanya. Min Young terkikik. Ia mengeratkan lingkaran tangannya di leher Lu Han.

“Aku sayang oppa.” Ucap Min Young lalu mencium pipi Lu Han.

“Aku juga menyayangimu.” Balas Lu Han.

“Oppa, turunkan aku di bangku itu.” Min Young menunjuk bangku yang tidak jauh dari mereka.

“Temani aku beli high heels, oppa.” Kata Min Young setelah berdiri di bangku.

“High heels? Buat apa? Kau cantik tanpa high heels.” Lu Han jujur.

“Aku mau lebih tinggi.”

“Tidak ada yang salah dengan tinggimu, chagi.” Min Young mengerucutkan bibirnya.

“Tinggiku hanya sedada oppa.” Lu Han mengerti. Min Young tidak mau dipanggil anak kecil.

“Sebentar lagi tinggimu pasti bertambah. Kau tidak butuh high heels.” Namja itu berusaha mengubah pikiran Min Young.

“Aku pendek, oppa.” Lu Han menghela nafas.

“Hanya lima senti.”

“Aku mau lima belas. Mungkin tinggi kita bisa sama, oppa.” Ucap Min Young antusias.

“Young, kau tidak akan bisa memakai high heels setinggi itu. Lagipula, aku tidak suka tinggi kita sama atau kau lebih tinggi dariku.” Lu Han menatap Min Young penuh pengertian. Sepertinya dia marah karena Lu Han tidak setuju.

“Ayo.” Lu Han mengulurkan tangannya. Lama Lu Han menunggu. Min Young tak kunjung menggenggam tangannya.

“Atau kau mau kugendong sampai toko?” Min Young masih diam.

“Ini sudah sore. Aku yakin kau butuh waktu yang lama untuk memilih high heels.” Lu Han menggenggam kedua tangan Min Young. Ibu jarinya mengelus punggung tangan Min Young. Lu Han tersenyum. Entah kenapa ia sangat sabar menghadapi Min Young. Yeoja ini sedikit keras kepala dan manja.

“Sebelum hujan, chagi.” Langit sudah gelap, mendung.

“Aku tidak bawa mobil.” Tambah Lu Han.

“Geurae. Kau boleh beli yang tingginya lima belas senti.” Ucap Lu Han agar Min Young senang. Ia menunggu reaksi Min Young. Akhirnya Min Young turun dari bangku.

“Apa oppa tidak bosan menghadapiku?” Lu Han menatap Min Young bingung.

“Temanku bilang, aku kekanakan.”

“Kau bertingkah sesuai umurmu kok.” Ada saat di mana orang akan bertingkah seperti anak-anak, Young. Karena kau masih tiga belas tahun, sifat itu masih pantas melekat padamu. Sambung Lu Han dalam hati.

“Kajja.” Lu Han merangkul Min Young.

—————–

Lu Han menarik Min Young ke dalam pelukannya. Menghangatkan gadis kecilnya yang menggigil walau ia tidak yakin cara itu berhasil atau tidak. Mereka sama-sama basah. Hujan turun saat mereka berada di toko sepatu, memilih high heels untuk Min Young. Mereka berada di toko selama tiga jam. Dua jam dihabiskan untuk memilih high heels Min Young. Ia membeli lima pasang high heels. Satu jam mereka gunakan untuk menunggu hujan reda. Tapi hujan tak kunjung berhenti. Min Young tidak boleh sampai di rumah larut malam. Karena pemikiran itu, Lu Han memutuskan membeli payung dan mengantar Min Young pulang padahal hujan lebat. Mereka basah karena menunggu taksi lama. Bahkan payung yang mereka pakai terbang dibawa angin. Seharusnya Lu Han melihat ramalan cuaca sebelum mengajak Min Young kencan.

“Kita ke apartemenku.” Ucap Lu Han terdengar seperti keharusan. Apartemennya lebih cepat dicapai daripada rumah Min Young. Min Young menggigil di pelukan Lu Han.

“Young?” Lu Han menepuk pelan pipi Min Young.

“Oppa..” Min Young membuka matanya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau tidak bisa kena hujan?” Suara Lu Han cemas. Ia seperti ibu yang mengkhawatirkan anaknya.

“Eomma selalu melarangku main hujan dulu. Tadi itu kebetulan sekali.” Lu Han tidak percaya. Bisa-bisanya Min Young berkata seperti itu disaat tubuhnya menggigil.

“Sebentar lagi kita sampai.” Lu Han meniup-niupkan nafasnya di tangan Min Young.

“Oppa baik sekali.” Min Young tersenyum. Lu Han mencubit pipi Min Young gemas.

“Aissh.. Kau ini. Kau membuatku khawatir, Young.” Aku tidak mau terjadi apa pun padamu.

——————–

“Oppa.” Min Young keluar dari kamar mandi tepat setelah Lu Han memakai kaosnya. Lu Han tidak berkedip melihat Min Young. Yeoja itu terlihat berbeda dengan kaos miliknya. Dia, err.. sexy.

“Oppa?”

“Eo?” Lu Han tersadar. Ia mendapati Min Young di depannya.

“Pakaianku—“

“Sini, aku keringkan.” Potong Lu Han. Ia mengambil pakaian Min Young.

“Kau sudah lebih baik?” Min Young mengangguk.

“Aku saja yang mengeringkan.” Ucap Min Young.

“Kau tahu cara mengeringkan pakaian?”

“Pakai mesin cuci kan?” Lu Han mengangguk.

“Aku saja. Aku membuatkanmu teh hangat. Minum ya?”

“Gomawo, oppa.” Lu Han mengacak rambut Min Young sebelum keluar kamar. Bukannya meminum teh buatan Lu Han, Min Young malah melihat-lihat heelsnya. Ia hanya beli satu heels dengan tinggi lima sentimeter, dan empat lainnya lima belas sentimeter. Min Young mencoba heels yang tingginya lima senti terlebih dahulu, dia bisa memakainya. Lalu ia memakai heels berwarna cokelat yang tingginya lima belas senti. Min Young tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin. Dia akan terlihat cocok dengan Lu Han.

“Chagi.” Min Young berbalik begitu mendengar suara Lu Han.

“Oppa, di situ saja. Aku akan ke sana.” Lu Han berhenti setelah menutup pintu kamar. Ia memperhatikan Min Young yang berjalan pelan ke arahnya. Dia yakin Min Young kesulitan dengan benda itu.

“Young, berhenti. Lepaskan heelsmu.” Dari cara berjalan Min Young, dia pasti baru pertama kali memakai high heels.

“Aku bisa, oppa.” Min Young berjalan dengan normal.

“Lihat. Bi, akkh!”

“Young!” Lu Han menghampiri Min Young yang terduduk di lantai. Ia menggendong gadis kecilnya menuju tempat tidur dan mendudukkan Min Young di tepi tempat tidur. Lu Han berjongkok. Ia melepas heels Min Young. Tangannya menggerakkan pelan pergelangan kaki Min Young.

“Sakit.” Min Young merintih.

“Kakimu terkilir. Masih mau pakai high heels?” Bibir Min Young bergetar karena ucapan tajam Lu Han. Matanya berkaca-kaca melihat Lu Han yang masih memegang pergelangan kakinya.

“Aakkh!” Rintihan itu keluar setelah bunyi krek karena Lu Han menarik kaki kiri Min Young. Cara yang ekstrim, Lu Han.

“Gerakkan pergelangan kakimu.” Ucap Lu Han setelah duduk di samping Min Young.

“Tidak sakit.” Suara Min Young pelan. Dengan ragu Min Young menoleh ke samping kiri. Ia tidak tahu ekspresi apa yang dipasang Lu Han sekarang.

“Jangan pakai high heels lagi.” Lu Han tidak pernah berucap sedatar itu pada Min Young.

“Tapi—“

“Jangan pakai.” Lu Han menatap Min Young serius.

“Ne.” Min Young menunduk. Lu Han tidak pernah marah padanya. Air mata Min Young mengalir.

“Young.” Panggil Lu Han karena melihat tubuh Min Young bergetar.

“Hei.” Lu Han menangkupkan tangannya di wajah Min Young. Membuat yeoja itu menatapnya.

“Aku tidak marah padamu.” Lu Han menghapus air mata Min Young dengan ibu jarinya. Ia mencium mata Min Young yang masih mengeluarkan air mata.

“Aku menyayangimu. Aku hanya tidak mau kau melukai dirimu seperti tadi.” Lu Han menatap Min Young lembut.

“Kau boleh pakai high heels, tapi tidak sekarang. Kalaupun kau mau pakai, tidak setinggi itu. Kau mengerti maksudku, kan?” Min Young mengangguk.

“Smile for me.” Min Young tersenyum. Membuat Lu Han jatuh cinta untuk kesekian kali padanya. Ia mengelus pipi Min Young lembut. Perlahan Lu Han mendekatkan wajahnya ke wajah Min Young. Min Young diam, ia tahu apa yang akan Lu Han lakukan. Namja itu sudah sering gagal mencium bibir Min Young. Tapi, kenapa kali ini ia tidak menghindar? Entahlah. Matanya membulat begitu bibir Lu Han menempel di bibirnya. Hanya sebentar. Lu Han menatap Min Young, masih dengan hidung mereka yang bersentuhan. Ia menempelkan lagi bibirnya di bibir Min Young. Matanya terpejam, menikmati manisnya bibir Min Young. Ia melumat bibir bawah Min Young lembut. Tangannya bergerak turun ke pinggang Min Young. Dia tidak pernah merasa seperti melayang saat berciuman. Min Young menyentuh bibirnya begitu Lu Han melepas ciumannya. Itu ciuman pertama Min Young. Rasanya, Min Young tidak tahu. Ia masih terkejut.

“Young.” Lu Han melingkarkan tangan Min Young di lehernya. Min Young menatap bingung Lu Han yang memejamkan matanya.

“Pukul aku kalau kau keberatan dengan apa yang kulakukan.” Lu Han gila. Dia tidak pernah mempunyai hasrat yang besar untuk menyentuh perempuan. Baru Min Young. Tapi, Min Young masih tiga belas tahun! Lu Han mencium Min Young lagi. Ia sangat menikmati saat bibirnya menempel di bibir Min Young. Lu Han melumat bibir bawah dan atas Min Young bergantian. Min Young memejamkan matanya. Mengikuti Lu Han. Lu Han tersenyum disela ciumannya karena balasan Min Young. Aku akan ‘mengajarimu’ lagi nanti. Batinnya. Ia mendorong tubuh Min Young ke tempat tidur. Tangan Lu Han sudah masuk ke kaos Min Young.

“Ngghh..” Suara itu membuat sesuatu di dalam diri Lu Han bangkit. Ciuman Lu Han semakin ganas.

“Hyung!!” Waktu terasa berhenti saat Lu Han mendengar teriakan itu.

“Siapa yeoja itu?” Ini suara si cadel.

“Apa yang hyung lakukan dengannya? Kami boleh bergabung?” Lu Han tahu siapa ini. Si hitam yang selalu tertarik dengan ‘kegiatan’ Lu Han. Lu Han menarik selimut menutupi Min Young sebelum dua pengganggu itu mendekat.

“Pegang erat selimutnya, chagi.” Ucap Lu Han sebelum menghampiri Sehun dan Kai. Mereka tidak boleh melihat Min Young. Bahaya.

“Hyung mau ML?” Tanya Kai jahil.

“Tidak.” Jawab Lu Han cepat. Dia hampir melupakan nasehat yang ia berikan pada dua sepupunya yang masih labil. Mereka pasti bertindak kalau Lu Han sudah ‘mulai’.

“Siapa yeoja itu?” Sehun masih penasaran.

“Yeojachingu-ku.”

“Yeojachingu apa yeojachingu?” Goda Kai.

“Yeojachinguku.” Lu Han mendorong dua sepupunya keluar kamar.

“Hyung sudah sering itu kan?” Kai yakin sekali Lu Han sudah pernah tidur dengan wanita jika melihat koleksi keramat namja cute itu.

“Tidak Kai. Kalian pulanglah. Jangan ganggu aku hari ini.”

“Hyung mengusir kami?” Sehun merajuk.

“Tidak. Ingat, kalian masih pelajar. Jadi lebih baik kalian belajar di rumah. Besok hyung traktir kalian bubble tea.” Sogokan itu selalu ampuh untuk mereka.

“Baiklah. Kami pulang.” Lu Han membuang nafasnya kasar. Hampir saja. Lu Han mengambil pakaian Min Young di ruang pakaian sebelum kembali ke kamar. Ia mendapati Min Young duduk di tempat tidur.

“Maafkan yang tadi.” Walaupun kesal, Lu Han berterima kasih pada Sehun dan Kai. Dia tidak jadi menodai gadis kecilnya. Yeoja itu harus dijaga ‘sampai waktunya’.

“Oppa, aku menyayangimu.”

“Aku tahu.” Lu Han tersenyum.

“Aku yang ke berapa?”

“Mwo?” Lu Han tidak mengerti.

“Oppa pasti sudah pernah pacaran sebelumnya.”

“Ya, kau benar.”

“Aku yang ke berapa?” Ulang Min Young.

“Aku tidak ingat sudah berapa yeoja yang kukencani.” Min Young menunduk. Ia takut Lu Han meninggalkannya. Alasannya sudah jelas. Min Young hanya anak-anak.

“Tapi aku mau kau yang terakhir.” Min Young mengangkat wajahnya. Mendapati Lu Han tersenyum padanya.

“Kau mau terus bersamaku kan?”

“Aku mau.” Min Young memeluk Lu Han. Lu Han mengelus rambut Min Young lembut.

“Pakai bajumu. Aku akan mengantarmu pulang.”

—————–

“Mana kare yang kau buat?” Tanya Lu Han saat Min Young duduk di sebelahnya. Ia membiarkan Min Young bereksperimen sendirian di dapurnya. Bukan kemauan Lu Han, tapi Min Young tidak mau Lu Han melihatnya memasak.

“Gagal.” Jawab Min Young lesu.

“Aku belum coba.”

“Rasanya aneh, oppa. Aku tidak mau oppa mati karena makan kareku.”

“Kau berlebihan, chagi. Jangan menyerah, eo?” Lu Han menyemangati Min Young.

“Ne. Oppa akan segera memakan masakanku yang enak.” Lu Han mengacak rambut Min Young sebelum beranjak dari duduknya. Min Young mengambil remote tv, mengganti siaran yang tadi ditonton Lu Han. Ia mencari drama.

“Oppa banyak kerjaan?” Ucap Min Young yang melihat Lu Han mengeluarkan berkas dari tas kerjanya setelah duduk di karpet.

“Hanya sedikit.” Mulut Min Young membulat. Ia kini fokus pada drama. Bosan dengan dramanya, Min Young beranjak menuju lemari tv, melihat kotak CD Lu Han yang berisi CD tanpa cover. Karena penasaran, Min Young memutar satu CD. Awalnya ia serius melihat film itu. Tak lama ia gelisah melihat dua pemeran utama saling melucuti pakaian masing-masih.

“Oppa, ini film apa?”

“Uhuk!” Lu Han tersedak liurnya sendiri saat melihat film kesukaan Kai diputar oleh Min Young.

“Chagi, cepat matikan.” Min Young pasti terus memikirkan apa yang ia tonton hari ini. Lu Han yakin itu.

“Tadi itu apa?”

“Itu.. aa.. bukan apa-apa.” Lu Han tersenyum kaku. Tiga orang sudah ternodai kepolosannya karena kecerobohan Lu Han.

“Aku penasaran.” Mungkin kita bisa mempraktekkan ‘itu’ kalau umurmu sudah tujuh belas tahun. Batin Lu Han menyahut.

“Lupakan, chagi. Kau suka drama kan?” Min Young mengangguk.

“Nanti aku belikan CD drama yang banyak untukmu.”

“Jinjja?” Lu Han mengangguk. Sogokan memang ampuh untuk anak belasan tahun.

“Oppa sedang apa?” Min Young menghampiri Lu Han yang kembali fokus pada pekerjaannya. Ia duduk di samping Lu Han.

“Menandatangani beberapa berkas.” Min Young memperhatikan Lu Han, lebih tepatnya tangan Lu Han. Ia mengambil kertas kosong, berniat meniru tanda tangan Lu Han.

“Oppa, pinjam pena.” Lu Han menutup berkas terakhir yang ia tanda tangani.

“Buat apa?” Lu Han menyerahkan penanya karena sudah tidak ia gunakan.

“Apa mirip?” Min Young menunjukkan kertasnya.

“Tidak.” Lu Han meraih tangan kanan Min Young. Ia merapatkan dirinya dengan Min Young. Tangan Lu Han menggerakkan tangan Min Young.

“Begitu caranya.” Min Young mengangguk. Ia mencoba lagi. Disaat Min Young fokus, Lu Han melingkarkan tangan kirinya di pinggang Min Young.

“Apa seperti ini?” Min Young mendapati wajah Lu Han yang dekat begitu menoleh. Namja itu meletakkan dagunya di bahu Min Young.

“Coba lagi.” Kalian tahu apa yang Lu Han lakukan saat Min Young serius? Benar-benar ajjushi mesum.

“Mirip?” Lu Han menghentikan kegiatannya menciumi leher Min Young. Ia melihat kertas.

“Belum, chagi.” Min Young mendengus. Lu Han kembali menciumi leher Min Young. Ia akan menjawab saat Min Young bertanya.

“Oppa, geli. Tanda tangan yang kubuat tidak mirip karena oppa menggangguku.”

“Hampir mirip. Itu karena energi cinta dariku.” Lu Han kembali pada kegiataannya begitu Min Young membuat tanda tangan lagi. Ia pasti sudah membuat satu kissmark di leher Min Young kalau saja tidak ada suara yang mengganggunya.

“Oh my God, Deer!” Suara berat itu refleks membuat Lu Han menutup wajah Min Young dengan kedua tangannya.

“Oppa!!” Teriak Min Young kesal. Ia tidak bisa melihat.

“Oh.. Jadi ini yang kau lakukan di Korea, Lu Han?” Ucap namja berlesung pipi, sangat manis, sepupu Lu Han yang bernama Lay.

“Sepertinya menyenangkan.” Sambung namja yang memakai topi panda.

“Anak siapa yang kau culik, Lu Han?” Lu Han menatap kesal sepupunya yang baru memakan bakpao mini, Xiumin.

“Lepaskan tanganmu. Kau bisa membunuhnya seperti kau membunuh anak bebekku!” Suara Chen. Sepupunya yang sukses dengan peternakan bebek.

“Jangan jatuh cinta padanya.” Gertak Lu Han.

“Hei! Kami semua sudah punya tunangan!” Sahut semua sepupu Lu Han yang menetap di Cina kompak. Lu Han menurunkan tangannya perlahan, membuat Min Young berhenti meronta dan langsung melihat lima namja asing berdiri tidak jauh darinya.

“Dia lebih manis dari bakpao-ku.” Xiumin menjatuhkan bungkus bakpao mininya. Kebetulan habis.

“Jangan mengotori apartemenku, Xiumin.” Lu Han menggeram.

“Dia cantik seperti bebekku yang baru menetas.” Lu Han menggelengkan kepalanya. Dua komentar konyol sudah keluar.

“Panda atau—“

“Siapa namamu?” Tao menatap tajam Kris yang memotong ucapannya. Min Young berdiri.

“Annyeonghaseyo, Shin Min Young imnida.”

“Dia yeojachinguku.” Tambah Lu Han.

“Lu Han—“

No comment.” Dua kata itu membuat EXO-M diam. Sebelumnya mereka ingin mengolok-olok Lu Han. Pasalnya, Lu Han selalu mendapatkan yeoja bertubuh sempurna. Sedangan Min Young, belum terbentuk.

“Buat apa kalian kemari?” Ada nada tidak suka di ucapan Lu Han. Kedatangan mereka tidak tepat.

“Mengunjungimu.” Jawab Kris singkat.

“Oppa, mereka siapa?” Tanya Min Young.

“Annyeong—“

“Mereka sepupu-sepupuku.” Lu Han menghentikan Xiumin yang hendak memperkenalkan diri.

“Perhatikan mereka dari kiri ke kanan, chagi. Yang paling kiri namanya Kim Min-seok, biasa dipanggil Xiumin. Lalu Wu Yi Fan, biasa dipanggil Kris. Yang memakai topi panda namanya Huang Zi Tao. Yang berkalung bebek namanya Kim Jong-dae, biasa dipanggil Chen. Terakhir Zhang Yixing, dipanggil Lay.” Lu Han menghirup nafas rakus setelah mengatakan itu.

“Mereka semua tinggal di Cina.” Min Young mengamati wajah mereka. Berusaha mengingat wajah sepupu-sepupu Lu Han.

“Silahkan kalian menghancurkan apartemenku.” Lu Han berdiri. Ia juga menarik Min Young berdiri.

“Kau mau ke mana, ge?” Tanya Tao.

“Kencan. Jangan ganggu aku.” Kata Lu Han menyadari gerak-gerik EXO-M.

“Sudah lama kami tidak ke Seoul. Kami ingin jalan-jalan.” Ucap Chen.

“Aku juga sudah lupa nama jalan di Seoul.” Ujar Lay.

“Aku ingin berburu bakpao.” Sambung Xiumin.

“Kris ge, kita belanja.” Kata Tao.

“Min Young, tidak apa kan kami bergabung dengan kalian?” Lu Han melotot pada Kris. Namja itu malah tidak peduli.

“Ne. Pasti seru jalan-jalan dengan oppadeul.”

“Chagi..” Lu Han protes.

“Kajja.” Chen menarik Min Young dari Lu Han lalu memakaikan kalung bebeknya yang terbuat dari berlian pada Min Young. Tao juga ikut-ikutan memakaikan topi pandanya pada Min Young.

“Aissh..” Lu Han kesal karena sepupunya merebut Min Young.

“Kenapa kalian harus datang hari ini?” Erang Lu Han frustasi.

——————-

Kesibukan Lu Han sebagai pengusaha muda, membuat waktunya bersama Min Young sedikit. Dia sudah tidak bertemu dengan yeojanya selama satu bulan. Dan itu benar-benar membuat Lu Han sangat merindukan Min Young.

“Sun-hee.” Lu Han terkejut mendapati yeoja yang ia putuskan tiga minggu yang lalu begitu membuka pintu apartemennya.

“Bogoshipo.” Sun-hee langsung memeluk Lu Han. Tidak peduli hubungan mereka sudah berakhir.

“Buat apa kau kemari?” Lu Han melepas paksa pelukan Sun-hee. Padahal Lu Han ingin segera bertemu Min Young. Ia ingin ke rumah yeoja itu.

“I miss you, honey.” Sun-hee memeluk Lu Han lagi.

“Lepas.”

“Wae? Kau tidak merindukanku?” Sun-hee mengerucutkan bibirnya. Lu Han mematung. Dari semua mantannya, ia menyukai yeoja ini sungguh-sungguh. Tapi itu dulu.

“Hubungan kita sudah berakhir.”

“Belum berakhir, Lu Han.” Sun-hee melengos masuk ke apartemen Lu Han. Lu Han mendesah berat. Ia tidak mau berhubungan dengan mantannya lagi. Lu Han tidak mau menyakiti hati gadis kecilnya.

“Pulanglah. Aku sibuk.” Usir Lu Han halus. Sun-hee mengabaikan Lu Han.

“Sun-hee.” Lu Han duduk di samping yeoja itu.

“Hubungan kita sudah berakhir.” Mungkin Sun-hee tidak terima karena Lu Han memutuskannya via telepon.

“Aku tidak mau.” Sun-hee melepas jaketnya. Menampakkan tubuhnya yang terbalut dress sexy.

“Aku akan berikan apa yang kau minta padaku dulu.”

“Waktu itu aku hanya mengujimu. Ternyata, kau sama.” Lu Han tersenyum miris, mengejek dirinya. Kenapa mantannya murahan semua?

“Aku tidak peduli.” Sun-hee menarik kerah kemeja Lu Han dan mencium namja itu. Lu Han terkejut. Yeoja ini menyerangnya tiba-tiba. Ciuman ganas yeoja itu membuat Lu Han tertidur di sofa. Damn! Aku tidak tahan kalau digoda seperti ini. Batin Lu Han gusar. Hei, dia namja normal. Sangat normal.

Ting nong!

Suara bel menyadarkan Lu Han yang hampir terhanyut dalam permainan Sun-hee. Ia mendorong yeoja itu. Sun-hee melihat kesal Lu Han yang berlalu untuk membuka pintu.

“Min Young..” Mata Lu Han membulat mendapati Min Young setelah membuka pintu.

“Oppa!” Min Young memeluk Lu Han, melepas rindunya.

“Kau basah.” Lu Han merasakan pakaian Min Young yang basah.

“Aku sudah kebal. Aku ingin oppa mencoba masakanku. Kali ini berhasil. Mungkin.” Ucap Min Young senang.

“Kau bisa memintaku datang ke rumahmu.” Lu Han mengikuti Min Young yang masuk ke apartemennya. Di dalam hati ia gelisah. Apa reaksi Min Young saat melihat Sun-hee nanti? Lu Han memejamkan matanya. Tidak mau melihat ekspresi Min Young.

“Oppa, dia siapa?” Min Young melihat bingung yeoja sexy yang lebih tua darinya.

“Apa dia yeodongsaengmu, honey?” Lu Han merutuk dalam hati karena panggilan sayang Sun-hee.

“Oppa.” Min Young menoleh pada Lu Han, menuntut penjelasan.

“Bukan siapa-siapa, chagi.” Min Young menatap penuh selidik pada Lu Han.

“Sumpah.” Jari Lu Han membentuk V-sign.

“Kau memutuskanku karena dia?” Ucap Sun-hee sinis.

“Dia masih kecil, Lu Han. Aku yakin dia belum tahu apa-apa.” Sun-hee menyeringai. Tangan Min Young terkepal kuat. Ia menggigit bibir bawahnya, mencegah tangisnya pecah.

“Keluar dari apartemenku! Hubungan kita sudah berakhir!” Bentak Lu Han.

“Chagi, jangan dengarkan dia.” Sun-hee tertawa kecil melihat Lu Han yang memelas pada Min Young.

“Apa yang kau lakukan? Cepat keluar!” Lu Han menatap Sun-hee marah.

“Aku akan pergi setelah kita menyelesaikan yang tadi.” Tangan Sun-hee menarik turun resleting dressnya yang ada di depan.

“Min Young!” Dengan sigap Lu Han menangkap plastik yang Min Young lempar padanya. Ia meletakkannya di meja lalu mengejar Min Young yang pergi tanpa mengatakan apa pun.

“Min Young, tunggu!” Lu Han berusaha menggapai tangan Min Young yang berjalan cepat di depannya, tapi tidak bisa karena sekarang Min Young berlari. Lu Han mengejar yeoja itu.

“Min Young!” Lu Han menarik tangan Min Young dan memeluknya.

“Lepas.” Suara Min Young bergetar.

“Dengarkan aku dulu. Dia—“

“Oppa urusi saja yeoja itu. Jangan buang waktu oppa dengan mengurus anak kecil yang tidak tahu apa-apa sepertiku.” Min Young menangis. Dia sadar kalau dia tidak bisa mengimbangi Lu Han yang lebih tua dan lebih pengalaman darinya.

“Kau bukan anak-anak. Kau gadis kecilku.” Lu Han memeluk Min Young erat. Merasa bersalah karena membuat gadis kecilnya menangis. Seharusnya dia langsung mengusir Sun-hee tadi, bukan membiarkan yeoja itu masuk ke apartemennya.

“Chagi..” Lu Han menangkupkan tangannya di wajah Min Young.

“Dengarkan aku. Aku tidak punya hubungan apa pun dengannya. Hubungan kami sudah berakhir.” Min Young melepas tangan Lu Han yang menangkup wajahnya.

“Min Young..”

“Yeoja itu menunggu oppa. Lebih baik oppa pulang.” Lu Han tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Apa Min Young memutuskan hubungan mereka?

TBC…

Komen juseyo ^^

Penulis:

Simple. I'm SHAWOL,94 line.SMtown lover. https://yosephinalina.wordpress.com/

80 tanggapan untuk “I Love You, My Little Girl (Chapter 3)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s