Vampires vs Wolves #7 – Hello Stranger

Vampires Vs Wolves

Tittle : Vampires vs Wolves

Subtittle : #7 – Hello Stranger

Author : Nintiyas

Main Cast :

  • Ahreum T-ara as Lee Ahreum
  • Exo-K as Vampires
  • Exo-M as Wolves

Other Cast :

  • Dasom Sistar as Kim Dasom

Genre : Fantasy, School Life, Fluff, Romance

Rating : PG-15, T

Diclaimer : WARNING!! This is my story, my imagine, also my fantasy. BEWARE!! I DO NOT LIKE COPYCAT ^^

A/N : Annyeong~ ^^ cieee, siapa yang nungguin updatenya VAMPIRES VS WOLVES? Mari kita bersorak berasam(?) hahaha. Ah, iya kemarin dikomentar sepertinya ada yang Tanya akun twitter author yah? Coba kunjungi @Nintiyas_ ^^ bisa request pairing mana yang lebih dibanyakin partnya(?) kekekeke~ untuk kamus kecilnya, kata-kata yang sudah ada di kamus kecil sebelumnya enggak author masukin lagi yah ^^ biar gak kebanyakan tempat hahaha. Over all, HAPPY READING❤

List : Teaser ││ Chapter 1 ││ Chapter 2 ││ Chapter 3 ││ Chapter 4 ││ Chapter 5 ││ Chapter 6

Summary : Menjalani kehidupan yang menyenangkan dan bahagia dengan potret keluarga yang harmonis dan utuh. Itulah cita-cita sederhana dari seorang gadis remaja yang terlalu naif untuk mengetahui bahwa kenyataan dan hukum alam lebih pahit dibanding dengan penalarannya dalam hidup. Menjadi putri dan cucu satu-satunya dari keluarga Lee yang notabene adalah keluarga yang berkecukupan dalam hal materi. Tak pernah membuat ahreum merasa semua lebih baik. Bahkan, dirinya hidup dengan latar belakang semua gunjingan dari para warga disekitar rumahnya. Entah itu tentang sang Harabeoji, sang Appa, tentang status sang Eomma, sampai kasus manusia vampire juga manusia serigala yang dekat dengan sang harabeoji dan sang appa.Lanjut Membaca →

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Ahreum-ah~~~~~~”

Lagi-lagi bisikan angin yang memanggil namanya yang terdengar. Ahreum benar-benar ketakutan. Ia menggigit bibir bawahnya teramat keras. Ahreum bahkan mencengkeram buku catatannya tadi.

Dia terpaku dibangkunya. Ia menjadi serba salah, ia ingin keluar dan mencari Kai sekarang juga. Tapi kakinya terlalu kaku untuk digerakan terlebih lagi untuk berjalan menuju pintu yang tertutup dengan kerasnya ketika tidak ada angin sama sekali yang berhembus.

Dentuman jarum jam…

Helaan nafsanya yang berat yang berulang kali terdengar. Suara bisikan itu telah hilang. Tapi ia tetap tak berani untuk beranjak dari bangkunya.

Sampai, tiba-tiba…

Annyeong Nona muda…”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

vampires vs wolves

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dengan sekuat tenaga, Tao menggendong Ahreum menuju ruang UKS.  Tao tak tahu pasti apa yang terjadi pada Ahreum, hingga dia pingsan dan mengeluarkan keringat dingin. Seolah Ahreum baru saja bertemu sosok yang mengerikan. Pikir Tao.

Eottaeyo? Dia belum sadar?” Panik Lay yang baru tiba di ruang UKS. Terlihat Kai dan Sehun mengekor dibelakangnya.

“Belum hyung.” Jawab Tao seadanya.

Dia tak henti-hentinya menggenggam kedua tangan Ahreum -yang teramat dingin. Sesekali Tao juga mengelus pipi kiri Ahreum.

Setelah hampir setengah jam pingsan. Ahreum mengerjapkan matanya, dan membuka kelopak mata yang terkesan berat itu.

“Oh, Ahreum-ah” celetuk Sehun seraya mendekat ketempat tidur Ahreum.

Gwenchana? Apa kamu sakit? Dimana yang sakit? Apa Dasom yang melakukannya?” Panik Lay dengan rentetan pertanyaannya.

“Maafkan aku, harusnya aku tetap bersamamu tadi.” Sesal Kai dengan senyum hambarnya.

“Hyak! Ini bukan salah siapa-siapa, oke? Lagipula mungkin aku sedikit ketakutan pada angin.” Jelas Ahreum mencoba menghibur keempat namja didepannya itu.

Ahreum tahu, kepanikan mereka itu berlebihan. Tapi, tetap saja ia merasa bersalah telah membuat keempatnya panik dan merasa bersalah.

“Memangnya ada apa dengan angin?” Tanya Sehun polos.

“Angin secara tak sengaja menutup pintu kelas dengan kerasnya. Dan itu membuatku berasumsi bahwa hantu yang melakukannya.” Bohong Ahreum.

“Hantu? Apa kamu melihat seseorang?” Timpal Kai curiga.

Anniyo, aku bahkan sudah tidak ingat apa yang kulihat.” Lagi-lagi Ahreum berbohong. Padahal dengan jelas sekali ingatannya beberapa menit yang lalu masih terlintas dipikirannya. Dan, jangan tanya suara yang mengerikan itu. Tentu saja, Ahreum masih mengingatnya dengan amat jelas.

“Yah, memang lebih baik kamu tidak ingat kejadian tadi.” Sahut Lay mengangguk.

“Kumohon, jangan bercerita apapun pada orang-orang dirumah, ne?” Mohon Ahreum.

Wae? Akan lebih baik kalau Suho hyung tahu.” Timpal Sehun bertanya.

“Aku pasti malu jika mereka tahu kalau aku pingsan karena suara angin.”

“Suara?” Bingung keempatnya.

“Ah, maksudku suara angin yang menutup pintu hingga keras. Ah, pokoknya jangan menceritakan sepatah katapun pada Suho, Kris atau yang lainnya.” Protes Ahreum lengkap dengan puppy-eyes-nya.

Keempat namja didepannya benar-benar merasa tersihir dan selalu mengiyakan keinginan Ahreum jika sudah berhubungan dengan puppy-eyes-nya.

Dengan sedikit paksaan dan tipuan dari Ahreum yang meyakinkan dirinya baik-baik saja. Dan masih sangat sehat untuk dapat mengikuti pelajaran selanjutnya. Akhirnya ketiga murid baru itu kembali ke ruang kelas masing-masing. Dan, hanya menyisahkan Kai juga Ahreum didepan ruang uks.

Chom [1]! Son [2]?” Ucap Kai tiba-tiba. Ia mengulurkan telapak tangan kirinya tepat didepan Ahreum.

Ige mwoya?” Sahut Ahreum kikuk.

“Berikan tanganmu, aigooo.” Kesal Kai

Igeot [3]..” timpal Ahreum masih kebingungan. Ia juga mengulurkan telapak tangan kanannya tepat didepan telapak tangan Kai.

Geurom [4]! Cha, Ahreum-ssi kuharap kamu suka dengan dingin.” Oceh Kai tak jelas seraya menggenggam telapak tangan kiri Ahreum dengan lembut dan penuh perlundungan.

“Omo! Kai-ah, kenapa kamu-,” ucapannya terputus tepat ketika Kai melangkahkan kakinya yang otomatis membuat Ahreum ikut bergerak.

Ahreum akhirnya lebih memilih diam. Dia menikmati genggaman tangan Kai -yah, walaupun ini bukannya genggaman hangat. Pikir Ahreum.

Mereka berjalan menyusuri tiap koridor sekolah, lantai demi lantai. Sampai akhirnya sampai di lantai tiga dan tepat didepan kelas mereka.

“Ahreum-aaaah~~”

Lagi!

Tiupan angin yang seolah berbisik tepat ditelinga kirinya itu sukses membuat tengkuknya merinding kengerian.

“Ada apa? Manni appa?” Tanya Kai terlihat khawatir. “Apa kamu kedinginan?” Tambah Kai.

Anniyo, hanya sedikit terkejut dengan angin.” jawab Ahreum polos.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sembilan jam penuh Ahreum melewati hari ini dengan tenang -jika peristiwa ‘angin’ itu tidak terhitung.

Ini sungguh keajaiban bagi Ahreum. Setelah hampir seumur hidupnya, menjalani hari-hari dengan gunjingan hampir seluruh warga Mokpo. Kini dia bisa melangkah tanpa mendengar kata-kata mengejek. Berkeliling sekolah bahkan berkeliling mokpo dia jalani dengan santai dan senyuman yang selalu terkembang.

“Apa Luhan yang menjemput kita?” Ahreum terlihat antusias bahkan saat pulang sekolah.

Nde, Luhan gege yang akan menjemput kita. Tapi, Reum kamu yakinkan sudah baik-baik saja?” Timpal Tao masih dengan raut khawatir.

Gwenchanayo, Tao-ah.” Jawabnya singkat.

‘Beeeeppp beeeepp’

Klakson sebuah mini van terdengar nyaring ditelinga kelimanya.

Benar saja, itu adalah Luhan.

“Apapun yang dia kenakan pasti terlihat tampan.” Omel Sehun tak jelas sebelum akhirnya berjalan kearah Luhan dan mini van-nya diikuti oleh Tao dan lainnya.

“Ahreeeuumm-aah~ nan [5] bogoshipeooo [6] …” rajuk Chen yang entah muncul darimana. Tanpa persetujuan Ahreum, Chen sudah mengelus pipi chubby Ahreum dengan gemasnya.

Terlihat raut wajah cemburu dan pout sekilas dari Tao dan Sehun.

“Hyaaaak!! Mulut ajjhuma [7] , kenapa kamu ikut juga?” Ketus Sehun pada Chen, yang dibantu Tao melepaskan Ahreum dari Chen.

Sehun dan Tao sudah sepakat untuk memanggil Chen dengan sebutan ‘mulut ajjhuma‘ bukan karena bentuk mulut Chen yang seperti ajjhuma. Tetapi, karena mulut Chen yang tak pernah bisa berhenti bicara seperti seorang ajjhuma yang sedang berceramah tak jelas.

” Arraseo [8] arraseo.. jangan begini dong, Tao. Isssh” umpat Chen karena ulah Tao dan Sehun.

“Sudahlah! Jangan bercanda terus. Apa kalian lupa kalau Ahreum butuh istirahat.” Omel Lay seraya menunjuk wajah Sehun dan Tao.

Semuanya menunduk dengan omelan Lay. Akhirnya mereka semua masuk dalam mini van, dan Luhan segera menancapkan gasnya menuju rumah.

“Awas saja kamu, Lee Ahreum!!” Kesal seseorang yang sedari tadi mengawasi tingkah Ahreum dan vampires juga wolves.

Terlihat jelas percik kebencian dikedua matanya.

“Harusnya kamu tak pantas mendapat kebahagian dan senyuman seperti itu. Dasar cucu pemuja setan!!” Kesalnya melancarakan umpatan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setibanya dirumah, Ahreum langsung disambut dengan pelukan hangat oleh Suho dan Chanyeol -meskipun bukan pelukan hangat dalam arti ‘hangat’ yang sesungguhnya.

“Kyaaaa, bogoshipeo Reum.” Rengek Chanyeol tetap dengan pelukannya.

Aigooo, Yeollie nado [9]  bogoshipoeyo.” Balas Ahreum tak kalah manja pada Chanyeol.

Warna merah bersemua kulit pipi yang putih, mencuat dipipi tirus Chanyeol sesaat setelah mendengar ucapan Ahreum tadi.

“Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Suho seraya membantu membawakan tas punggung Ahreum.

Lay, Kai, Sehun, Tao, Luhan juga Chen sudah duluan masuk ke kamar mereka masing-masing.

Tak dipungkiri, hampir 4 hari ini Ahreum merasa hidupnya lebih nyaman dan tenang. Terlebih lagi sentuhan dari para vampires dan wolves yang selalu menjaga Ahreum dari sepucuk duri sekalipun. Semakin membuat Ahreum lebih tenang dan dapat tersenyum lepas.

“Suho-ya, besok bisa antarkan aku untuk pulang kerumah? Aku mau mengunjungi makam haraboeji, appa dan Jung ajjhuma.” Pinta Ahreum tulus.

Suho sempat berhenti sejenak ketika dia mendengar permintaan Ahreum.

“Tentu saja! Kemanapun kamu mau pergi kami siap mengantarmu. Asalakan itu tetap membuatmu tersenyum, kenapa tidak.” Sahut Suho tulus.

“Baiklah, aku mau mandi dulu. Ah, Yeollie kamu jangan pernah mengendap-endap masuk ke kamarku lagi, arraseo?” Gurau Ahreum dengan sedikit mencubit perut Chanyeol.

Arraseo.” Timpal Chanyeol sedatar mungkin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu, di Seoul. Dimana gedung bertingkat dan seluruh kemewahan korea berada. Ada sebuah bangunan kuno, sebuah rumah. Tidak, ini lebih mirip istana kuno. Tapi bukan hanok.

Ini lebih mirip istana abad pertengahan inggris. Aneh, memang jika dipikirkan secara nalar. Bagaimana mungkin ditengah-tengah kota Seoul yang terkenal dengan kemajuannya. Ternyata terdapat bangunan seperti itu.

Bangunan itu didominasi warna merah dan hitam. Entah, karena pemiliknya menyukai warna itu atau untuk sekedar menambah kesan misterius.

Langkah tegap itu berjalan memasukin istana. Bukan memasuki dengan membuka pintu, bukan juga dengan menembus pintu.

Seorang lelaki itu dapat memasuki istana itu hanya dengan mengayunkan kedua tangannya seolah memegangdaun pintu itu untuk terbuka.

Setelah berjalan menuruni hampir dua puluh lima anak tangga. Dia sampai diruang bawah tanah istana itu.

Samar terlihat sebuah siluet seorang wanita. Dia memakai gaun hitam yang terlihat elegan dari belakang. Rambutnya yang berwarna hitam pekat dibiarkan terurai begitu saja.

Wanita itu sedang memandang lurus kearah sebuah tahanan kosong -atau mungkin berpenghuni. Entahlah, tak terlihat sesosok makhluk apapun dalam tahanan itu. Mungkin karena terlalu gelap.

“Bagaimana wajahnya?” Ucap sang wanita pada lelaki dibelakangnya.

Lelaki yang lebih muda -bahkan amat muda itu. Bisa dikatakan lelaki itu seumuran dengan Xiumin. menyunggingkan sudut bibirnya sekilas membentuk seringai yang sempurna sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang wanita.

“Dia sangat cantik seperti ‘yah, kau tahu siapa’ tapi, dia juga penakut. Persis dengan ‘dia’.”

“Apa dia melihatmu?” Tanya sang wanita tetap pada posisinya.

“Tidak, aku juga tidak berniat menemuinya dulu. Cukup mengetahui namanya sudah cukup membuatku tahu bahwa dia memang memiliki kelebihan.” Timpal si lelaki dengan niat sedikit mengejek sang wanita ketika mengatakan ‘memilki kelebihan’

“Diam! Awasi terus Ahreumku yang manis itu. Biarkan dia tersenyum untuk beberapa hari. Biarkan dia merasakan manisnya sebuah senyuman dan hangatnya sebuah kasih sayang yang tulus, sebelum dia meninggal ditanganku.” Sahut sang wanita penuh penegasan ditiap katanya.

“Apapun yang kau perintahkan, Nyonya besar.” Lagi-lagi si lelaki menimpalinya dengan gurauan sebelum akhirnya menghilang begitu saja dari hadapan sang wanita.

“Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Ahreum.” Ucap sang wanita dengan tatapan masih fokus pada tahanan yang gelap itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Tao! Sudah kubilangkan aku mau mandi kenapa kamu sembunyi disana.” kesal Ahreum ketika tirai kamarnya terbuka dengan sendirinya.

Kamar Ahreum mempunyai jendela yang amat besar, yang mengarah kebalkon. Saat itu jendelanya memang sengaja dibuka supaya udara dapat masuk. Pikir Ahreum.

Ahreum mencoba acuh dengan tirai yang terbuka dengan sendirinya. Walaupun ia tahu kalau itu Tao, menurutnya yang penting dia sudah mandi.

Kemudian, Ahreum melanjutkan aktifitasnya menyisir rambut.

‘Krriieeekk’

Kini giliran suara jendela yang terdengar seperti tergeser. Atau mungkin memang ada yang menggesernya.

“Tao hentikan!!” Pekik Ahreum tepat didepan jendela itu.

“Ahreum-ah, ayo turun!! D.O hyung sudah memasakan makan malam untukmu.” Teriak Tao dari bawah.

Tunggu! Tao? Berada dibawah. Lalu siapa yang…

Ahreum menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tak mau berpikir yang tidak-tidak. Cukup mimpi dimana ia melihat seekor serigala raksasa dan Suho, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun juga Sehun bertingkah seperti seorang vampire sampai akhirnya dia terbangun dengan bekas luka yang kembali mengeluarkan darah.

Andwae [10] !! Ahreum-ah, itu hanya angin. Geurom, itu hanya angin.” Yakinnya seraya menepuk pelan kedua pipinya.

Dia mencoba mengacuhkan ‘peristiwa jendelanya’ itu. Ahreum turun kebawah setelah ia selesai dengan menyisir rambutnya dan sedikit polesan BB cream dan lipbalm diwajahnya.

Ahreum memang benar-benar mirip sang haraboeji. Haraboejinya juga tak pernah menunjukan kekayaannya didepan orang lain. Seperti Ahreum sekarang, didepan para vampires dan wolves dia selalu memakai baju yang sederhana. Sekarang saja dia memakai dress selutut berwarna blue tosca kesukaannya.

“Apapun yang kamu pakai, kamu terlihat cantik.” Puji Baekhyun yang pertama kali melihat Ahreum turun dari tangga.

Gomawo” balas Ahreum lengkap dengan simpul disudut bibirnya.

“Reum, sini! Drama kesukaanmu sedang diputar tuh.” Panggil Xiumin penuh antusias. Dia bahkan sudah duduk didepan tv dengan secangkir teh hijau dan pie coklat dipangkuannya.

“Kyaaaa, ini memang drama kesukaanku.” Sambut Ahreum dengan riangnya. Dia bahkan sedikit melompat kegirangan didepan Xiumin dan Chen yang juga duduk disana.

Ahreum langsung saja duduk ditengah-tengah Xiumin dan Chen. Ahreum selalu suka berada diantara Xiumin dan Chen, karena entah mengapa pikir Ahreum, ia selalu merasa hangat jika berada didekat mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Kamu yakin merasakan sesuatu yang aneh?” Tanya Suho memastikan.

“Aku yakin itu adalah Aofes [11] , hyung. Entah apa yang telah Ahreum lihat sampai dia pingsan dikelas tadi.” Jawab Kai dengan mantapnya.

“Sebenarnya, aku juga merasa bahwa Ahreum berkata bohong. Detak jantung dan tatapan matanya tidak sama dengan ucapan mulutnya.” Kini giliran Lay yang menjelaskan.

“Joonma, apa menurutmu mereka sudah tahu?” Khawatir Kris.

Molla [12]. Geundae [13] , kalau mereka sudah tahu. Ahreum pasti tak dibiarkan hidup. Apalagi Kai merasakan Aofes.” Pikir Suho penuh pertimbangan.

“Untuk beberapa waktu kedepan, kalian termasuk juga Sehun dan Tao.” Pesan Kris untuk Lay, Kai, Sehun, dan Tao -meskipun Sehun dan Tao tidak disana. “Kalian harus memperketat pengawasan terhadap Ahreum. Terlebih lagi kamu Kai.” Tambah Kris.

Kai hanya menganggu kecut, dia memang tidak terlalu menghormati Kris. Mungkin karena Kris memang bukan pemimpinnya.

Sementara itu, Baekhyun dan Luhan tengah serius mengawasi kalender dan memandang bulan malam itu.

“Jika aku tidak salah hitung, malam moonsuade [14]  dimulai malam ini hingga dua minggu kedepan, bukan?” Tebak Bakehyun.

“Yah, kamu tidak salah.” Sahut Luhan tetap menatap bulan yang purnama itu.

Sekilas, bulan malam ini seperti bulan purnama biasanya. Bulat sempurna dengan memancarkan sinar kuning keemasan yang tertutup awan gelap dilangit.

Namun, bagi para wolves. Bulan ujian, atau biasa disebut moonsuade oleh para kaum wolves itu. Adalah hari-hari dimana setiap bulan titik kesabaran para wolves menipis dan memungkinkan para wolves berubah menjadi bentuk serigala raksasa jika marah -layaknya bom waktu yang dapat meledak kapapun.

“Usahakan Tao dapat mengendalikan emosinya.” Timpal Baekhyun khawatir.

Tentu saja Baekhyun khawatir, pasalnya Tao sama seperti Kai. Belum sepenuhnya dapat mengontrol emosinya. Berbeda dengan Kai yang akan langsung menghisap siapa saja yang mengeluarkan darah. Tao akan menerkam siapa saja yang membuat emosinya meledak.

“Apa? Kenapa membawa namaku?” Protes sang punya nama.

Tao sedikit menyipitkan matanya untuk menembus kabut malam yang menyelimuti hutan Mokpo untuk sekedar melihat ada apa diluar -lebih tepatnya apa yang dilihat Luhan diluar.

“Ah, moonsuade.” Sahutnya ringan.

“Berhati-hatilah dan kontrol emosimu.” Nasihat Lay yang juga ada dibalkon atas, dekat kamar kosong -yang sekarang lebih sering dibuat ruang rapat bagi para vampires dan wolves.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bulan purnama telah digantikan oleh kesempurnaan pagi dan sinar sang matahari.

Hari berlalu terlalu cepat, hari ini genap ketujuh hari meninggalnya Jung ajjhuma.

Seperti janji Suho kemarin, dia akan mengantar Ahreum untuk berkunjung ke makam Jung ajjhuma.

“Apa sebaiknya aku ikut?” Tanya Chanyeol menawarkan diri. Tentu saja setelah semua vampires dan wolves telah diberitahu bahwa kemungkinan ada Aofes yang mengikuti mereka -Ahreum, Kai, Lay, Sehun dan Tao saat disekolah hingga rumah.

Anni, aku sudah mengajak Luhan dan Kai.” Jawab Suho menenangkan Chanyeol.

“Rumah ini jauh lebih membutuhkan perlindungan. Kamu tahu maksudku kan Chanyeol?” Tambah Suho.

Yah, tentu saja sisa dari vampires dan wolves harus menjaga rumah. Karena bagaimanapun aroma tubuh Ahreum harus dihilangkan. Setidaknya jika aroma itu tak bisa hilang, mereka bisa mengelabuinya dengan aroma mereka.

Tap… tap… tap

Tanpa mereka sadari, Ahreum telah siap dengan gaun hitamnya. Dia memakai gaun panjang dengan lengan berajut benang emas.

Sileut tubuh yang munggil namun terkesan glamour terlukis jelas dilekuk tubuh Ahreum sekarang.

“Hyaaak! Kalian mau melanjutkan bertengkar? Atau kita harus berangkat?” Teriak Ahreum mencari perhatian.

Benar saja, Ahreum selalu sukses mendapat perhatian 12 namja itu.

Kajja, areumdaumie [15] ” goda Kai seraya memberikan lengannya yang berkacak pinggang itu.

Ahreum tersenyum sekilas. Akhir-akhir ini, Kai selalu bisa membuat Ahreum tersenyum.

Ahreum menurunkan tangan Kai, dia lebih memilih menggenggam tangan Kai dengan lembutnya.

Son! Cha, begini lebih nyaman Kai-ssi.” Balas Ahreum.

“Hyak! Lepaskan tangannya, nanti kamu kedinginan.” Protes Chen.

Anniya, jika aku tidak bisa merasa hangat disamping Kai. Setidaknya, biarkan Kai yang merasakan hangat karena berada disampingku. Geucho [16], Kai-ah?” Gurau Ahreum dengan senyum termanisnya.

Dep…

Untuk sesaat, Kai merasa ratusan kupu-kupu menyesakkan dadanya…

Unutuk sesaat saja, Kai merasa senyuman Ahreum hanya tertuju untuknya…

Untuk sesaat saja, Kai merasa dia benar-benar bisa merasakan hangat setelah berabad-abad…

Untuk sesaat, Kai merasa bahwa melindungi Ahreum adalah salah satu hal terindah selain menimun darah rusa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Mereka -Ahreum, Suho, Kai, dan Luhan telah tiba ditaman pemakaman Mokpo.

“Kai, dan Luhan. Kalian duluan saja, aku akan memeriksa sekitar.” Perintah Suho dengan memberi kode.

Semalam, sebelum pergi. Kris dan Suho telah setuju untuk mengajak Luhan dan Kai agar mendampingi Suho. Untuk berjaga-jaga siapa tahu Aofes mengikuti Suho saat mengantar Ahreum ke makam Jung ajjhuma.

Arraseo, hyung” tanggap keduanya.

Kajja.” Sambut Luhan dengan bunga yang ia bawa.

Ne, kajja.” Sahut Ahreum tetap menggenggam tangan Kai.

‘Ahreum-ah~~~’

Sekilas, Kai menyipitkan matanya mengawasi sekitar. Ketika angin berhembus tepat membelai rambut hitam Ahreum yang terurai.

“Kai, kamu merasakannya?” Panik Luhan.

Ahreum dengan bodohnya, menyembunyikan ketakutaknnya pada ‘bisikan angin’ yang sama seperti yang ia dengar disekolah.

Arra, hyung. Jangan panik.” Timpal Kai mencoba tenang supaya Ahreum tidak ketakutan.

“Ehm, waeyo? Wae? Kenapa berhenti?” Tanya Ahreum dengan suara bergetar.

Bodoh! Pekik Ahreum dalam hati. Kenapa suaranya bergetar disaat seperti ini.

Neo [17] gwenchana, manis?” Tanya Kai memastikan.

“Ehm” jawab Ahreum seraya mengangguk.

“Hoshh.. hosh… LUHAN! KAI!!” Teriak Suho dengan nafas tersenggal

Omo, wae geuraeyo Suho-ya?” Panik Ahreum. Baiklah, kini Ahreum benar-benar menunjukan ekspresi ketakutannya.

“Luhan, ikut denganku. Ada yang dengan sengaja menutup pintu masuk kita.” Jelas Suho yang telah berhasil mengatur nafas.

MWOYA? NUGUYA?” Sahut Ahreum melancarkan raut wajah paniknya.

“Mungkin ada orang yang iseng melakukannya, Reum. Kamu jangan khawatir, kami akan memeriksanya.” Timpal Luhan mencoba menenangkan.

“Kamu bisa menjaganyakan?” Tanya Suho memastikan. Kai mengangguk dengan dengan mantapnya.

Sedetik kemudian, Suho dan Luhan turun dari bukit taman pemakaman Mokpo untuk memeriksa apa yang terjadi.

“Kai!! Kai!!” Teriak Suho dari arah kanan Kai. Beberapa menit setelah Luhan pergi.

Suho? Tunggu! Lalu siapa yang bersama Luhan?

Hyung!! Mwoya? HYAK! NEO NUGUYA? Joonma hyung?” Bentak Kai tepat didepan wajah Suho.

Mworago [18]? Nan Suho-ya!!!” Balas Suho dengan memaksakan untuk membentak.

Hyung!! Tolonglah Luhan, dia sedang dalam bahaya!!” Omel Kai tak jelas.

Mwo? Ah, matta. Luhan eoddiseo?” Panik Suho.

Hyung, susulah Luhan kumohon Hyung. Aku akan menghubungi yang lainnya untuk menolong kita.” Jelas Kai seadanya.

Suho langsung menyusul Luhan begitu diberitahu dimana Luhan berada.

Wae geuraeyo, Kai? Ige mwoya?” Oceh Ahreum penuh kepanikan juga.

“Mungkin ini saatnya untuk kamu tahu siapa kami, manis”

Ne?”

Urineun [19]…. urineun neo harabeoji geu [20]  appa-ga vam-,”

Ucapan Kai terputus tepat ketika, suara ranting terinjak terdengar jelas ditelinga Kai dan Ahreum.

Anyeong Haseyo, nona muda Ahreum-ah.” Sapa sang suara misterius itu.

Kai memandang tepat dikedua mata sosok misterius itu. Kai semakin menggenggam erat tangan Ahreum. Dia bahkan membuang bunga yang dia genggam ditangan sebelahnya tadi.

“Kai-ah, dia yang membuatku pingsan.” Bisik Ahreum dengan suara bergetar.

“Apapun yang terjadi, kamu akan selalu berada dibelakangku dan akan selalu aman hingga yang lain datang.” Ucap Kai seraya berbisik tepat ditelinga Ahreum.

-TBC-

 

Kamus Kecil Vampires vs Wolves #7 :

  1. Chom : berikan (bisa diartikan dengan ‘kemarikan’)
  2. Son : tangan
  3. Igeot : Ini
  4. Geurom : Baiklah
  5. Nan : Aku
  6. Bogoshipeo : Rindu (kadang diartikan merindukan)
  7. Ajjhuma : panggilan bibi untuk seorang wanita yang lebih tua.
  8. Arraseo : Aku mengerti
  9. Nado : Aku juga
  10. Andwae : Jangan / tidak boleh.
  11. Aofes : seorang utusan atau bawahan nemora (sebutan jendral bagi para nemora)
  12. Molla : entahlah
  13. Geundae : Tapi/ tunggu dulu (untuk menyela/menyangkal pembicaraan)
  14. Moonsuade : bulan purnama dimana setiap wolves dapat merubah/berubah menjadi serigala raksasa mengerikan, hanya jika mereka tak dapat mengontrol emosinya.
  15. Areumdaumie : sebutan cantik untuk seseorang/sebuah benda/ bahkan pemandangan.
  16. Geucho : iyakan?
  17. Neo : Kamu
  18. Mworago : apa maksudmu/ apa yang kau katakana
  19. Urineun : kami adalah
  20. Geu : dan/ juga

64 thoughts on “Vampires vs Wolves #7 – Hello Stranger

  1. Ping-balik: Vampires vs Wolves #10 –The Journal | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s