When You Kill My Heart (1)

CHAPTER 1

BEGINNING OF OUR STORY

Author: bluehigh17

Cast: Lee Yoonhee dan Kris

Genre: Romance, drama, school life, angst,

Rating: General

Leght: chaptered

I’m back!! just loving Sehun!! selesai juga hiatusnya. i wish you like this fanfic.

 

—-

  1. I.                  BEGINNING OF OUR STORY

“Yoonmi-ya” teriak Yoonhee.

“Jamkkanman (Tunggu sebentar)  Yoonhee-ya. Sebentar lagi” teriak Yoonmi tanpa menoleh kearah sahabatnya.

“Kau tahu Cheondoong sunbaekan? Ia sangat menyeramkan. Ia tak segan-segan menghukum walau hanya 1 menit. Dan dia tidak menerima segala alasan apapun itu”

“Tenang saja dia sedang bermain baket bersama teman-temannya” balas Yoonmi berteriak.

“Yoon-a..” panggil Yoonhee.

“Kau duluan saja lah!” potongnya.

“KYA!!! BAEKHYUN!!!! KRIS SUNBAE!!! KYA” teriak Yoonmi histeris. Yoonhee hanya menatap sahabatnya malas. Kenapa sahabatnya ini sangat menyukai kelima namja anak basket yang populer itu?

“Ok. Aku duluan. Jika pertandingan basketnya sudah jangan lupa mading!” kata Yoonhee lalu meninggalkan Yoonmi yang masih berteriak histeris.

Ia  berjalan menuju lorong kelas. Ia menuju ruang mading yang tepat disebelah ruang OSIS. Ia bukanlah seseorang yang ramah. Oleh karena tadi hanya beberapa orang yang menyapanya. Ketika ia sampai ia menemukan beberapa sunbaenya.

“Sunbaenim. Ini artikel yang kau minta” kata Yoonhee sembari menyerahkan artikelnya kepada Hanyoung.

“Ya” terima Hanyoung.

“Ada yang harus aku kerjakan lagi?” secara tiba-tiba Jihmin –salah satu sunbaenya- tersenyum licik.

“Kau bisa tanyakan langsung kepada Cheondoong sunbae” kata Jihmin. Yoonhee hanya mengangguk dan pergi meninggalkan mereka. Dan menuju lapangan basket. Ternyata pertandingan sudah selesai. Ia menghampiri Cheondoong sunbae yang sedang meneguk air mineralnya.

“Annyeong sunbaenin” sapanya. Cheondoong melihat kearahnya,

“Misunsuriya (ada apa)?”

“Ada artikel lain yang bisa saya kerjakan?” tanyanya sopan. Ini yang disukai Cheondoong dari Yoonhee. Ia seorang yang menjaga tatakrama. Yeoja lain pasti memanggilnya oppa, padahal mereka tidak salin kenal dan mereka selalu sok akrab dengannya.

“Ya” kata Cheondoong.

“Apa?”

“Wawancarai Kris” kata Cheondoong tersenyum kemenangan.

“Wu Yifan sunbaenim?” tanyanya kaget.

‘Wu Yifan? Yang benar saja’ batinnya.

“Tentu saja”

“Haruskah dia? Jika mewawancarai dia sebaiknya beberapa fansnya saja. Seperti Jihmin sunbaenim, Eunsoo sunbaenim..”

“Aku sudah menyuruh semua anak mading, dan tak semuanya berhasil” potong Cheondoong. Yoonhee hanya menghela nafas berat.

“Bukankah kau yang memintanya?” balas Cheondoong memejokkannya. Ia mengangguk pasrah.

“Ya, aku akan berusaha” katanya.

“Annyeong sunbaenim” lanjutnya dan pergi meninggalkan Cheondoong dengan langkah gontai.

Yoonhee celingak celinguk mencari Kris. Ia menuju ruang seni. Dari kabar yang dia dapat dari beberapa orang –seperti Jihyun, Cheondoong – dia biasanya berada di ruang seni pulang sekolah. Ia sesekali menengok kearah jendela.

“Motornya masih ada” gumamnya.

Dia tahu motor Kris dari beberapa fansnya –Yoonmi, Sera-. Ia terus berjalan sembari sesekali menengok memastikan motor Kris. Mungkin saja dia sudah pulang dan meninggalkan motornya disini bukan? Mungkin saja ia ikut mobil temannya dan meninggalkan motornya disini? Atau sebenarnya dia hanya menipu para fansnya? Ia membuka pelan pintu ruang seni.

 

Dakara ima ai ni yuku So kimetanda

Poketto no kono kyoku wokimi ni kikasetai

Sotto boryu-mu wo agete Tashikamete mitayo

 

Oh Good-bye Days

Ima kawaru ki ga suru Kinou made ni So Long

Kakko yokunai Yasashisa ga soba ni aru kara

La la la la la with you

 

Dekireba kanashii Omoi nante shitaku nai

Demo yattekuru deshou, oh

Sono toki egao de

“Yeah, Hello My Friends” nante sa

Ieta nara ii noni

 

Onaji uta wo Kuchizusamu toki

Soba ni ite I Wish

Kakko yokunai Yasashisa ni aeta yokatta yo

La la la la good-bye days

 

Yoonhee terpana. Yoonhee tahu lagu ini. Ini salah satu lagu kesukaannya. Namun, berbeda dengan penyanyinya yang membawanya dengan suara lembut, alih alih Kris membawakannya dengan  suara berat nan bassnya.

“Eotton pilyo-neun eobs-eo? (ada perlu apa?)” tanya Kris menghentikan permainan gitarnya.

“Aku disuruh Cheondoong sunbaenim untuk mewawancaraimu, sunbaenim” jelas Yoonhee.

“Aku tak mau” tolak Kris mentah mentah.

“Aku akan melakukan apapun”

“Apapun?” tanya Kris licik. Yoonhee mengangguk.

“Jadi yeojachinguku” balas Kris.

“Adakah selain itu? Bahkan jika harus memberimu mobil sport” jelas Yoonhee memohon.

“Ya sudah jika kau tidak mau” kata Kris sambil melewati Yoonhee. Yoonhee menarik tangan Kris. Membuat Kris tersenyum kemenangan dan menghapusnya saat berbalik.

“hm.. keudde (baiklah)” ucap Yoonhee berat hati. membuat Kris tersenyum penuh kemenangan dan menarik tangan Yoonhee.

“Ya, sumbaenim, kau akan membawaku kemana?” tanya Yoonhee.

“Salon” balas Kris.

“Dengan motormu? Pakai mobilku saja”

“Mobil?”

“Aku tahu mobilku hanya mercedes benz SL 500. Dan tak semahal Lamborghi…”

“Aku tak mau pakai mobil sportmu itu” potong Kris cepat. Yoonhee hanya memutar bola matanya jengah. Kris menarik tangan Yoonhee naik dan langsung membawa motor dengan kecepatan yang tinggi.

“HYA!! SUNBAENIM PELANKAN!!! AKU TAKUT!!” teriak Yoonhee ketakutan namun tak diubris Kris. Ia memeluk Kris erat, karena ketakutan. Setelah sampai di salah satu mall terbesar di Seoul mereka masuk dan Kris membawa Yoonhee kesalah satu salon.

“Annyeong tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu petugas disana.

“Urus dia” kata Kris. Dan para petugas salon menarik Yoonhee. Kris duduk menunggu dan setiap wanita yang lewat berbisik.

“Sunbaenim” tak sampai 1 jam Yoonhee sudah keluar. Dengan rambut yang bergelombang sepanjang siku, wajah yang dipoles natural. Ia sedang memasukkan dompetnya kedalam tasnya dengan mendumal.

“Ya, sudah ayo” Kris mengeluarkan dompetnya dan hendak membayar.

“Tak usah, sudah ku bayar”

“Lalu kenapa kau tadi marah marah”

“Jumlahnya 400.000 won. Aku bingung kenapa hampir seluruh yeoja –kerena dia tidak termasuk-  menghabiskan seluruh uangnya hanya untuk berdadan seperti ini? Lebih baik membeli buku untuk masa depan. Itu lebih penting”

“Tak semua perempuan ‘Good Girl’ sepertimu, Yoonhee-ssi” lalu mereka keluar dari salon itu.

“Jadi warna rambut coklat?”

“Aku mewarnai bagian bawah, jadi ketika diikat terlihat hitam”

“Ayo kita makan” ajak Kris.

“Di A’Yuki Restaurant” kata mereka serempak. Yoonhee tampak senang dan berjalan dengan ceria. Berbanding balik dengan Kris yang sendari hanya memasang wajah datar.

“Kau suka kesana sunbaenim?” tanya Yoonhee. Kris hanya mengangguk.

‘Ternyata ia tak sejahat yang aku kira. Ia baik dan perhatian. Walau hanya berbicara sedikit’ komentarnya dalam hati.

Mereka memasuki Restaurant itu dan memilih tempat duduk di pojok. Pelayan menghampiri mereka dan menyerahkan daftar menu.

“Apa yang ingin anda pesan tuan? Nona?” tanya sang waitress sopan.

“Armenian whitefish dan lemon tea” pesan Yoonhee tanpa melihat buku menu.

“Maaf nona, namun kami kehabisan stok whitefish” Yoonhee membelalak kaget. Dan itu sepertinya menurunkan moodnya.

“Japan salad please”

“2 Japan salad, 1 lemontea dan 1 teh herbal” pesan Kris. Tak lama pesanan mereka datang dan mereka makan dengan hening. Setelah selesai Kris membayar makanan mereka. Yoonhee hanya bertopang dagu. Karena ia sudah yakin akan menjadi seperti ini. Ya, hampir semua laki-laki seperti ini dihadapan perempuan.

“Kita pulang sunbaenim?” tanya Yoonhee seraya bangkit.

“Tidak. Kau harus tampil luarbiasa –seperti ini, maksud Kris- selama menjadi yeojachinguku” dan Yoonhee akhirnya hanya pasrah didalam toko aksesoris atau segala perlengkapan wanita.

Sepertinya, Kris sangat tahu tentang perempuan. Ia memasukkan lipgloss berwarna pink soft namun cerah, bedak, dan beberapa aksesoris. Kris hendak mememasukkan sebuah pita berwarna pink kedalam kantung belanjaan yang dipegang Yoonhee, yang menurutnya bagus.

“Jangan pink, please sunbae” mohon Yoonhee.

“Okay” Kris menurunkan pita berwarna pink itu dan melanjutkan pencariannya. Yoonhee yang tepat disebelah Kris juga sedang mencari aksesoris yang sedikit girly.

“Ini bagaimana sunbaenim?” tanya Yoonhee sembari menunjukkan jepit berwarna merah maroon yang sangat simpel. Kris hanya menangagguk. Setelah mereka selesai mereka membayar itu dikasir dan pulang.

Kris menyerahkan helm dan jaketnya kepada Yoonhee. Ia memasangkan helm itu kekepalanya, dan memakai jaket yang kebesaran sekali -untuknya- dengan susah payah. Membuat Kris tertawa kecil.

“Jangan hanya tertawa sunbaenim” sungut Yoonhee.

Kris lalu mendekat membuat Yoonhee menahan nafas. Kris memakaikan jaket itu dengan benar. Mengancingkannya 1 demi satu, dan mengulung lengannya. Lalu ia memasangkan pengaman helm itu. Setelah itu Kris menjauhkan badannya dan tersenyum kecil.

Yoonhee kembali bernafas. Ia berani bersumpah bahwa wangi Kris seperti pinus segar namun dingin yang masih berembun. Rasanya seperti kau terjebak bersamanya di hutan pinus yang baru berembun, rasanya segar dan dingin karena masih pagi.

“Sudah ayo naik” kata Kris yang ternyata sudah memakai helm dan sudah menaiki motornya. Yoonhee menaiki motor Kris dengan ragu ragu.

“Pegangan yang erat” kata Kris. Ia lalu mengendarai motornya dengan kecepatan yang diatas rata-rata. Yoonhee hanya membiarkan itu. Membiarkan angin malam berhembus mengenai dirinya.

Akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah mewah dengan warna putih yang tampak kokoh. Tak terlihat halaman dan hanya terlihat pintu utama rumah karena letaknya tinggi, harus menaiki tangga dahulu dan beberapa pohon yang rindang. Yoonhee baru saja hendak membuka pagar, tapi ayahnya sudah keluar.

“Oh, yoonie sayang, akhirnya kau pulang” kata ayahnya tepat didepan pintu rumah. Lalu ia berhenti melihat seorang namja disebelah anaknya.

“Siapa namja di sebelahmu Yoonie sayang?” tanya sang ayah. Kris melihat kearah Yoonhee dan Yoonhee hanya menganggukkan kepalanya pura-pura tak tahu. Ayah Yoonhee yang sadar tingkahnya, menuruni tangga dan membukakan pagar.

“Annyeong haseyeo ahjusshi, Joneun Wu Yifan imnida. Saya namjachingu Yoonhee” kata Kris sembari membungkukkan badan.

“Masuklah. Makan malam dahulu. Ini belum larut” kata ayah Yoonhee yang mendorong mereka berdua masuk.

“Kim ahjusshi, tolong, masukkan motor yang diluar” kata ayahnya. Dan Yoonhee hanya menghela nafas berat.

—–

Yoonhee keluar dari rumahnya. Dan tepat didepan pagar rumahnya dia menemukan motor sport hitam yang sangat ia kenali milik siapa dan pemiliknya yang menyender ke motor tersebut. Yoonhee membelalakkan matanya. Ini terlalu berlebihan. Menurutnya.

TCB

28 thoughts on “When You Kill My Heart (1)

  1. Ping-balik: When You Kill My Heart (Chapter 3.1) | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s