Sorry, That’s My Fault (Chapter 1-Destiny or Just Meet?)

Sorry, That's My Fault (Chapter 1-Destiny or Just Meet)

Author                     :  Youngiee

Rating                     :  13+

Length                     : Chaptered

Genre                      : Family-life, Happy

Main Cast                : Wu Yi Fan/Kris (EXO)

                                 Han Hami (OC)

Support Cast           : Shin Hayoung (OC)

                                 Huag Zi Tao (EXO)

                                 Kim Joon Myeon/Suho (EXO)

Author Note            : Annyeong readerdeul.. Author buat FF lagi nih.. Sekarang cast beralih ke EXO^^

Summary                 : Entah karena pertemuan kita yang kebetulan atau memang takdir.. Kurasa aku mulai menyukaimu..

WARNING!!

DON’T COPAS THIS FF! I HATE PLAGIATORS!!

SORRY FOR TYPO..

.:HAPPY READING:.

Author POV

Seorang pria tinggi nan putih baru saja turun dari pesawat bersama adiknya. Pria itu bernama Wu Yi Fan atau biasa dipanggil dengan Kris. Kris adalah pria keturunan Kanada-Cina-Korea. Dan adiknya bernama Wu Zi Tao atau biasa dipanggil dengan Tao. Jadi, tidak asing jika mereka bisa berbicara bahasa Korea.

Ibunya keturunan Korea. Ayahnya keturunan Kanada. Kakek dan neneknya keturunan Cina. Ayah dan ibunya sudah lama bercerai. Tapi, Kris tidak pernah mengungkit-ngungkit tentang masalah itu di depan orang lain. Dan dia pun menjalani hidup seperti biasa, walaupun dalam hatinya ia sangat tersakiti jika mengingat keadaan keluarganya.

Kris dengan keadaan yang mengantuk berjalan dengan sempoyongan ketika di bandara. “Hyung, kau benar-benar sangat mengantuk?” tanya Tao. “Hmm.” Kris hanya meng-iyakan dengan singkat.

BRUKK!

“Aaa..” jerit seorang wanita yang tidak sengaja tersenggol Kris yang sedang mengantuk. “Ow! Jwesunghamnida.. Agassi gwencanhayo?” tanya Kris langsung membantu wanita yang terjatuh tadi berdiri. “Ne.. Gwencasseumnida..” ucap wanita itu sambil menepuk-nepukan baju nya yang sedikit kotor itu. Dan dia pun mendongakan kepalanya menatap ke arah pria tinggi di hadapannya. Wanita itu pun terpaku menatap wajah Kris. Dia terdiam, tidak mengatakan sepatah kata pun yang membuat Kris heran.

“Agasshi? Wae geuraeseyo? Gwencanhaseyo?” tanya Kris sambil menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah wanita itu. Wanita itu pun sadar dari lamunannya. “Ah.. Ne.. Gwencanha.. Geurom..” ucap wanita itu sambil membungkukan badannya dan pergi dari hadapan Kris.

“Eoh, chogi agasshi! Bolehkah aku tahu namamu?” tanya Kris dengan nada sedikit ditinggikan, karena wanita itu sudah lumayan jauh darinya. “Nae ireumi? Han Hami imnida..” ucap Hami –wanita itu- “Eoh, bangapta.. Annyeong..” ucap Kris sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangannya lalu pergi. Hami pun hanya ikut tersenyum lalu pergi.

“Kenapa Hami mirip sekali dengan wanita itu?” gumam Kris, namun masih terdengar oleh Tao. “Ya hyung! Aku juga dari awal melihatnya kaget..” ucap Tao tiba-tiba.

Hami POV

Daebakk! Pria tadi benar-benar tampan! Keundae, sepertinya dia bukan warga asli Korea.. Ah molla! Itu hanya kebetulan, mungkin aku takkan bertemu dengannya lagi. Aku pun langsung keluar dari bandara dan menyetop taksi yang kebetulan lewat. Haah, hidupku benar-benar dipenuhi dengan segala kebetulan.

Setelah kurang lebih 1 jam, aku pun sudah sampai di depan rumahku. Aku pun mengeluarkan koper ku dan masuk ke rumah ku. “Na waseooo..” teriakku. “Eoh? Eonni! Waa, akhirnya kau sudah kembali!” teriak Hayoung sambil berlari memelukku. “Wae? Saeng merindukanku? Haah, sudah kuduga.. Aku memang orang yang mudah dirindukan orang lain..” ucapku percaya diri.

“Ish! Mwoya! Eonni selalu begini..” ucap Hayoung sambil memukul kecil bahuku dan melepaskan pelukannya. “Hehe, aku hanya bercanda.. Hmm, suho oppa eodi?” ucapku sambil berjalan menuju sofa dan merebahkan badanku.

Hayoung adalah adikku. Dan Suho adalah kakakku. Ayah dan ibuku sedang ada di Kanada, dan aku baru saja pulang dari sana. Aku hanya berkujung menemui mereka sekalian berlibur beberapa hari disana.

Tak lama kemudian pintu depan rumaku pun terbuka. “Eo! Itu Suho oppa!” ucap Hayoung langsung berdiri dan berlari ke arah Suho oppa. “Oppaaaa! Oppa dari mana saja? Hami eonni sudah datang..” ucap Hayoung sambil menarik tangan Suho oppa menuju ruang tamu. “Eoh? Uri Hami sudah datang?” ucap Suho bahagia.

“Ne oppa..” ucapku sambil tetap menunjukkan senyumku, walaupun sebenarnya aku benar-benar lelah. “Eyy! Ada apa dengan senyummu itu??” ucap Suho sambi mencubit pipiku pelan. “Aish oppa! Aku bukan anak kecil lagi..” ucapku dengan sedikit meringis. Suho oppa pun hanya terkekeh pelan.

“Oh chakkaman!” ucapku tiba-tiba. “Wae?” tanya Suho oppa dan Hayoung bersamaan. “Jika tadi Suho oppa pergi.. Lalu.. Ya! Hayoung! Kau sendirian tadi di rumah?” tanyaku dengan nada sedikit ditinggikan. “Ne..” ucap Hayoung santai sambil memakan cemilannya.

“Ya oppa! Sudah berapa kali aku bilang! Jangan tinggalkan Hayoung sendirian di rumah! Jika terjadi sesuatu pada Hayoung bagaimana?? Aisshh..” ucapku panjang lebar sambil memukul pelan bahu Suho oppa. “Aish! Ya ya! Arraseo.. Tadi oppa benar-benar terburu-buru..” ucap Suho oppa sambil meringis kesakitan.

“Wae? Melayani yeojachingu oppa lagi?” tanyaku dengan tangan dilipatkan di depan dada. “Aish.. Sebenarnya disini siapa kakaknya..” gumam Suho oppa namun aku masih bisa mendengarnya. “Mwo?!” tanyaku sambil mulai memukul bahunya lagi. “Aishh.. Shikkereoo!” teriak Hayoung sambil menatap kami yang sedang bertengkar.

Kami pun hanya terkekeh pelan. “Keundae oppa.. Tadi saat aku di bandara, aku bertemu seorang pria tinggi dan putih dengan alis tebalnya, daan, ia sangaat tampan! Hahh, aku tidak percaya di Korea ada pria sempurna seperti itu..” ucapku sambil kembali membayangkan wajak pria tadi.

“Jinjja? Tapi di matamu aku kan tetap yang paling baik seperti malaikat?” ucap Suho oppa. “Eeyy.. Jajingnaa (menyebalkan)!” ucapku sambil beranjak dari sofa dan berjalan ke atas untuk ke kamarku. Sedangkan Suho oppa hanya tertawa puas.

“Haahh..” desahku sambil melemparkan tubuhku ke atas kasur. Tiba-tiba pikiranku melayang lagi memikirkan pria tampan yang berada di bandara itu. Tapi, tadi aku lihat pria itu tidak sendiri, ada satu pria lagi disampingnya. Mukanya terlihat misterius dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.

Kris POV

1 jam kemudian aku dan Tao sampai di rumah, setelah kami di jemput oleh supir pribadi kami. “Eomma, na waseoo..” teriakku dan Tao bersamaan. “Eoh uri aedeul waseo? Daengida.. (Hm anakku sudah pulang? Tenangnya..)” ucap eomma sambil berjalan hendak memeluk kami, tapi aku langsung berjalan ke sofa. “Ey, kenapa hyung mu selalu begitu?” ucap eomma sambil memeluk Tao.

Dan Tao terlihat bermanja di pelukan eomma. “Aku bukan anak kecil lagi eomma..” ucapku santai sambil mengeluarkan ponselku yang dari tadi belum ku buka.

“Eomma, kudengar abeoji dan eomoni sebelah sedang ke Kanada?” tanyaku yang masih serius dengan ponselku. “Ya, wae?” ucap eomma kembali duduk di sofa sambil menyalakan TV. “Aniya, hanya bertanya saja.. Keundae, kenapa aku tidak bertemu?” tanyaku polos. “Aigoo pabo.. Kanada tidak sekecil Seoul.. Aigoo..” ucap eomma sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku pun hanya terkekeh.

“Eomma, aku keatas dulu ne..” ucap Tao. “Nado..” ucapku singkat. “Mmm..” ucap eomma yang masih serius dengan berita infotaiment di TV.

 

 

Hami POV

“Eonnii! Aish, cepat buka pintunyaa! Eonni tidak sakit kan?? Eonniii!” teriak seseorang di depan pintu kamarku. “Eonniii!” aish, ternyata Hayoung. Kenapa dia selalu berisik. Dan, astaga.. Kenapa aku bisa ketiduran seperti ini?

“Wae? Kenapa kau berisik sekali??” ucapku sambil membuka pintu kamar. “Igeo bwa! Hami tidak apa-apa.. Kenapa kau sangat ribut seperti itu..” ucap Suho oppa dengan tangan dilipat ke depan dadanya. “Hehe..” kekeh Hayoung. “Puas? Kau mengganggu tidurku..” ucapku kesal. “Ah, mian eonni.. Kalau begitu aku akan pergi..” ucap Hayoung sambil berjalan menjauh.

“Eey anak satu itu benar-benar..” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kalau begitu aku juga akan pergi..” ucap Suho oppa. “Memangnya siapa yang menyuruh oppa tetap tinggal disini?” ucapku berpura-pura polos. “Eish!” teriak Suho oppa. “Aku tau suaramu bagus oppa, tak usah sampai berteriak 100 oktaf seperti itu.. “ ucapku sambil buru-buru masuk kamar dan menutup pintuku. “Aish! Yaaa!” teriak Suho oppa semakin keras. Aku pun hanya terkekeh geli.

Lalu aku kembali duduk di tepi kasurku. Aku pun langsung mengeluarkan semua barang yang masih utuh ke tempat semula. Aku pun merogoh saku jaketku untuk mencari ponselku, tapi yang keluar bukan ponselku, itu sebuah ponsel keluaran terbaru? Milik siapa? Mungkinkah itu milik pria tampan yang kutemui di bandara itu? Tapi kenapa bisa ada di saku jaketku? Lalu ponselku?

Kris POV

Setelah aku sampai di kamarku, aku pun langsung merebahkan tubuhku di kasur. Aku pun baru teringat dengan ponsel yang satu lagi. Itu benar-benar ponsel rahasiaku. Setelah aku merogoh saku jaket tebalku, yang keluar bukan ponsel hitamku, tapi ponsel berwarna pink. Sejak kapan aku merubah warna ponselku menjadi pink? Apa mungkin ini milik Hami? Tapi kenapa bisa ada disaku jaketku?

Ah, mungkin aku harus menghubungi ponselku dan mengambilnya kembali. Bahaya jika Hami melihat-lihat isi ponselku. Tak berapa lama ada yang mengangkat.

“Yeoboseyo?” ucap seorang wanita. Ah, ternyata itu benar kau Hami. “Ne, apa ini Hami?” tanyaku. “Ne, keundae, nuguseyo?” tanyanya. Aigo, dia benar-benar tidak mengingatku. “Choneun Kris imnida.. Aku ingin mengambil kembali ponselku, dimana rumahmu?” tanyaku langsung. “Kris?” gumamnya pelan, namun masih terdengar olehku.

“Ne, yang tidak sengaja menabrakmu di bandara.. Kau ingat?” tanyaku mencoba mengingatkannya. “Aahh.. Ternyata kau.. Ini ponselmu? Tapi, kenapa kau menghubungiku dengan ponselku? Itu nomor ponselku..” ucapnya polos. “Ahh, mungkin saat kita tertabrak ponsel kita tidak sengaja tertukar.. Baiklah, dimana alamat rumahmu? Biar aku saja yang kerumahmu..” ucapku.

“Rumahku? Aku akan mengirimkannya lewat pesan..” ucapnya. “Oh baiklah.. “ ucapku sambil menutup sambungan. Aku pun duduk kembali di tepian kasurku. Menunggu pesan dari Hami.

 

 

Hami POV

Ternyata benar, ponsel ini milik pria itu. Ternyata namanya Kris, sudah bisa kutebak dia bukan orang korea asli. Tiba-tiba saja aku penasaran dengan ponsel ini. Tapi jika aku melihat-lihat isinya, apakah dia akan marah? Tetapi, jika aku tetap melihat isinya tanpa izin, itu tidak sopan.

Namun akhirnya aku tetap melihat-lihat. Dan ada sesuatu yang membuat mataku terbelalak dan hatiku serasa disayat pisau tajam.

Ada sebuah foto wanita, cantik, putih. Sangat serasi jika berpacaran dengan Kris. Lalu di bawah foto itu tertuliskan

’16-11-10. Rachel, berpisah dengan alasan aku terlalu sempurna untuknya.’

Tiba-tiba saja air mataku jatuh membasahi pipiku.

Kris POV

Setelah dia memberikan alamatnya aku pun langsung keluar. Dan tanpa menggunakan mobil atau kendaraan apapun aku sudah sampai di rumah Hami. Tepat di sebelah rumahku. Benar-benar kebetulan.

Setelah sampai di depan pagar rumahnya, aku pun memencet tombol intercom. Tak lama kemudian ada yang berbicara. “Ne.. Nuguseyo?” tanya yang di dalam rumah. Sepertinya aku mengenal suaranya. “Ah, choneun Kris imnida.. Aku ingin menemui Hami..” ucapku. “Kris? Wu Yi Fan?!” ucap yang di dalam.

“Ne..” ucapku. Kenapa orang yang di dalam bisa tahu nama lengkapku? “Oh, masuklah.. Ppali!” ucap yang didalam dengan bersemangat. Setelah masuk kedalam, aku kaget dengan apa yang kulihat.

“Suho hyung?!” teriakku kaget karena sudah lama aku tidak bertemu dengan sunbae satu ini. “Woaa, ini benar-benar kebetulan!” ucap Suho hyung langsung memelukku. Kami pun hanya tertawa satu sama lain.

“Waah, kau semakin tinggi Kris-ssi.. Beraninya kau melebihi tinggi ku, eoh?” ucapnya bercanda. Aku pun hanya tertawa. “Baiklah, kita duduk dulu..” ucap Suho hyung. “Oppa.. Nuguya?” tanya seorang wanita. “Dongsaeng?” bisikku pada Suho hyung. “Mm! Hayoung-ah, ini Kris, hoobae oppa saat oppa masih SMA.. Kris, ini Hayoung, adikku..” ucap Suho hyung saling memperkenalkan aku dengan adiknya.

“Annyeong..” ucapku sambil mengulurkan tangan ku dan menunjukkan senyumku. “E-eoh, a-annyeong..” ucap Hayoung terbata-bata dan menerima uluran tanganku. “Saeng.. Jangan tertipu dengan ketampanannya.. Oppa 100% lebih tampan darinya..” ucap Suho hyung percaya diri. Hayoung yang tadinya berekspresi senyum, langsung cemberut dan melemparkan tatapan tajam pada Suho hyung. Aku pun hanya terkekeh dengan kelakuan mereka.

“Jadi, ada apa kau kemari? Tadi kau bilang ingin bertemu Hami?” tanya Suho hyung. “Ne, tadi di bandara aku dan Hami tidak sengaja bertabrakan, dan ponsel kami tertukar.. Jadi, aku kesini ingin mengembalikan ponselnya dan mengambil ponselku..” jelasku. Suho hyung pun hanya mengangguk mengerti.

“Sebentar, aku panggilkan Hami dulu..” ucap Suho hyung sambil beranjak dari tempat duduknya. “Hyung.. Bisakah aku sendiri yang kesana?” tanyaku dengan ragu. “Hm? Oh, ya boleh.. Kamarnya di atas yang paling kanan..” jelas Suho hyung. “Ah ne, gomawo hyung..” ucapku sambil tersenyum.

Hami POV

Ya Tuhan.. Kenapa air mataku tidak bisa berhenti begini.. Dari tadi aku masih melihat album fotonya. Fotonya bersama Rachel itu, sepertinya ia sangat terpukul sekali. Aku pun kembali melihat foto yang pertama kali kulihat.

“Menyakitkan bukan?” tanya seorang, pria? Aku pun melihat kebelakang, dan.. Oh tidak, dia pasti marah. Kris sudah tiba disini. Aku pun buru-buru menghapus air mataku. “C-chogi.. Mianhe..” ucapku terbata-bata, takut Kris tiba-tiba marah.

“Hm?” tanya Kris dengan senyum terpaksa. “Aku dengan lancang melihat-lihat isi ponselmu.. Mianhe..” ucapku. Kris masih terdiam di posisinya dengan tatapan kosong. Aku pun makin merasa bersalah. “Kris-ssi.. Mianhe.. A-aku..” ucapku masih terbata-bata melihatnya terdiam seperti itu.

“Kau tahu? Kau sangat mirip dengan Rachel..” ucap Kris tiba-tiba. “M-mworago?” ucapku gugup. “Ahh, aku mulai begini lagi.. Lupakan saja perkataanku yang tadi..” ucapnya sambil tersenyum tulus. “Kalau begitu.. Ini ponselmu, sekali lagi maaf.. Karena aku sudah lancang—“. “Sudahlah.. Jika kau terus meminta maaf seperti itu, aku benar-benar marah..” ucap Kris memotong ucapanku.

“Ini.. Ponselmu..” ucap Kris. “Oh ne, kamsahamnida..” ucapku. “Eey.. Tak usah berbicara formal begitu padaku.. Berapa umurmu? Sepertinya kita seumuran..” tanyanya. “Euhh, aku 18 tahun..” ucapku. “Sudah kuduga.. Kita seumuran..” ucapnya dengan ramah. Sejenak kami diam tak berkata apapun, dan tak ada yang memulai pembicaraan.

“Hmm, bagaimana jika kita mengobrolnya di beranda situ? Sepertinya udaranya tidak terlalu dingin hari ini.. Kau tunggu saja dulu disini, aku akan membuatkanmu coklat panas..” ucapku. Dia pun hanya mengangguk sambil tersenyum.

Kris POV

Sudah kuduga.. Dia akan melihat ponselku dan menangis. Untung saja tadi aku menahan Suho hyung untuk ke kamar Hami. Aku pun duduk di kursi beranda itu yang langsung tersorot matahari pagi yang hangat.

Tak lama saat aku sedang sibuk dengan lamunanku, Hami datang. “Maaf membuatmu lama menunggu..” ucapnya sambil tersenyum. Dia benar-benar mirip dengan Rachel, dan aku semakin sulit untuk melupakan kejadian menyakitkan itu. “Jadi, kenapa kau kemari sangat cepat?” tanyanya sambil menyeruput coklat panasnya.

“Itu..” ucapku sambil menunjuk rumah putih tepat di sebelah rumah Hami. “Ohh..” ucapnya sambil mengangguk-angguk. Santai sekali. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya, dan melihat rumah putih itu berkali-kali. “Wae?” tanyaku santai sambil menyeruput coklat panas. “Itu rumahmu?!” tanyanya kaget.

“Ya.. Tapi, kenapa responmu lambat sekali?” tanyaku penasaran. “Ahh, aniyo.. Tidak apa-apa.. Mungkin aku hanya sedang kelelahan..” ucapnya sambil tersenyum.

“Hmm, jadi kau sekolah dimana?” tanyaku. “Di Seoul International High School.. Kau?” tanyanya. “Sama..” ucapku singkat. “Hidupku benar-benar di penuhi dengan kebetulan..” ucapnya ringan. “Oh iya, kau bukan orang korea asli?” tanyanya.

“Ya.. Bisa dibilang begitu.. Ibuku keturunan korea, dan ayahku keturunan Kanada..” jelasku. “Kanada? Aku baru saja pulang dari sana..” ucapnya antusias. “Jinjja? Aku juga..” ucapku. “Lalu, ada keperluan apa kau ke Kanada?” tanyaku.

“Hanya berkunjung melihat orang tuaku dan berlibur beberapa hari disana..” jelasnya sambil menatap coklat panas yang dipegangnya. “Mengapa orang tuamu di Kanada?” tanyaku. Kulihat ekspresinya berubah, dan matanya mulai berkaca-kaca. “Bisakah kita tidak berbicara tentang itu?” ucapnya buru-buru mengusap air matanya. “Ah ne, mianhe..” ucapku kembali diam. “Gwencanha..” ucapnya.

“Kalau begitu, aku pulang saja.. Maaf sudah mengganggumu..” ucapku sambil membungkukan badan. “Ah iya, biar aku antar ke bawah..” ucapnya. Aku pun hanya mengangguk.

“Eoh? Kalian sudah selesai?” tanya Suho hyung yang sedang memakan cemilan di ruang TV. “Ne oppa..” ucap Hami sambil tersenyum. “Kau selalu begitu, jika ada tamu, sifat mu yang pemarah langsung berubah drastis menjadi ramah” ucap Suho hyung. “Aish, ya!” teriak Hami kesal. Aku pun hanya terkekeh.

“Hyung! Aku pulang dulu ya..” ucap Kris. “Ne.. Hati-hati dijalan..” ucap Suho hyung. “Ah iya, rumahmu dimana?” tanya Suho hyung. “Tepat di sebelah rumah hyung..” ucapku. “Jinjja? Tapi aku jarang sekali melihatmu keluar.. Hanya Tao yang sering kulihat..” ucap Suho hyung.

“Bagaimana kalian bisa saling kenal? Lalu Tao itu siapa?” tanyaku. “Dia hoobae ku saat aku masih SMA.. Dan Tao adiknya..” jelas Suho hyung. “Tao? Yang bermuka misterius itu?” tanyanya polos. “Misterius? Haha, dia tidak misterius sama sekali..” ucapku sambil tertawa kecil.

“Baiklah, aku pergi..” ucapku. “Ne..” ucapnya.

“Entah karena pertemuan kita yang kebetulan atau memang takdir.. Kurasa aku mulai menyukaimu..”

-Kris-

-Kkeut!

Hahh, akhirnya selesai.. Gimana FF nya? Jelek ya? Tolong di comment.. Kalo ga di comment, ga akan author lanjutin^^

35 thoughts on “Sorry, That’s My Fault (Chapter 1-Destiny or Just Meet?)

  1. Mian, mnurut q alury’ kcptan, jd feelnya kurng dpt dc,
    tp tetep bagus, tetap smangat ya thor,
    q mau lnjt bca part 2 y’ . . .

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s