Posted in Baek Hyun, charismagirl, EXO-K, Romance, Se Hun, Twoshot

You And Him – part 1

PhotoGrid_1388230989327

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Park Minri
  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun

Rating : PG-13

Length : chapter

Genre : romance, friendship, life

Note : Hello!! (abaikan poster) Masih ingat sama aku? Uh sudah lama sekali tak muncul. Dan… I’m really really sorry! Aku beneran stuck sama FF ‘Just Stay With Me’ *sobs*, mungkin nanti kalo ada ide lagi aku sambungin deh U.U/ eh tapi tiba-tiba dapat ide buat FF ini. So… enjoy!! Jangan lupa komen ;3 *hugkiss*

You and Him

“Aku pulaaaang!”

Minri melepaskan sepatunya sembarangan lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen tempat tinggalnya. Tungkainya melangkah menuju ruang tengah. Ada seorang laki-laki disana–sedang duduk di sofa sembari membaca bukunya.

Minri menghempaskan bokongnya ke sofa empuk tepat di samping laki-laki itu membuat sofa berdecit pelan. Dan perhatian laki-laki itu teralih padanya.

Setelah melepaskan tas selempang yang melilit tubuhnya, gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di paha laki-laki itu. Tanpa rasa malu dan canggung. Seolah itu sudah menjadi kebiasaannya, seolah laki-laki itu adalah orang yang dikenalnya sejak lahir. Matanya terpejam. Ia baru saja melepaskan rasa lelahnya setelah pulang dari kegiatan kuliahnya.

Laki-laki itu meletakkan buku bacaannya di atas meja. Lalu mengusak rambut Minri yang agak berkeringat itu, ia juga menyingkirkan beberapa helaian poni yang jatuh menutupi wajahnya yang cantik itu.

“Lelah?” tanya laki-laki itu.

“Hmm.”

Minri hanya menggumam. Ia memposisikan wajahnya menghadap perut laki-laki itu, tanpa rasa malu bernapas disana, menghirup aroma tubuh khas laki-laki yang tinggal satu apartemen dengannya. Seperti sebuah kebiasaan yang sulit dihentikannya, menghirup aroma tubuh laki-laki itu sungguh membuatnya kecanduan.

Minri baru sadar kalau laki-laki itu masih berpakaian yang sama seperti tadi pagi, saat ia terakhir kali melihat laki-laki bersurai coklat itu. Minri mendongak, menatap laki-laki berwajah manis itu.

“Baekhyun tidak kuliah hari ini?” tanya Minri.

Laki-laki bernama Baekhyun itu hanya menggeleng pelan, tanpa berhenti memainkan rambut gadis itu yang terasa seperti sutra di tangannya.

“Kau sudah makan siang?” tanya Baekhyun.

“Belum.”

Minri kembali memejamkan matanya dan memeluk pinggang Baekhyun. Ia merasa sangat nyaman dengan posisi itu. Ia lebih tampak seperti anak kucing yang sedang bermanja-manja dengan majikannya.

“Sebaiknya kau isi perutmu dulu, sebelum kau tertidur disini.”

Baekhyun menegakkan duduknya yang agak merosot. Berusaha sebaik mungkin membuat Minri merasa nyaman.

“Memangnya sekarang jam berapa?” tanya Minri malas, merasa kegiatan bermalas-malasannya terganggu oleh saran Baekhyun.

“Jam setengah 3. Waktu makan siang sudah lewat, kau bisa mengundang gangguan kesehatan pada tubuhmu, tahu.”

“Biarkan begini, 15 menit saja. Sehun akan menjemputku jam 3 nanti. Mungkin nanti aku akan makan siang di luar.”

Baekhyun mendecak sebal. Merasa peringatannya diabaikan. Tapi ia tetap membiarkan gadis itu bermalas-malasan di pangkuannya. Sama sekali tidak merasa keberatan. Minri bahkan menggerakkan kepalanya membuat Baekhyun sedikit merasa geli.

“Harusnya sebelum pulang kau sudah diberi makan oleh pacarmu bernama Sehun itu.”

“Tadi Sehun pulang lebih dulu. Katanya ada hal penting yang ingin dikerjakannya.”

Suara Minri terdengar samar karena teredam oleh perut Baekhyun.

“Memangnya kau tidak penting baginya huh?”

Minri mendongakkan kepalanya, menatap Baekhyun dari bawah dengan pandangan sebal. Baekhyun banyak bicara hari ini, yah walaupun biasanya juga begitu, tapi kali ini Minri sedang tidak mood mendengarkan ceramah panjang Baekhyun.

Baekhyun mencubit hidung Minri gemas, membuat hidung gadis itu mengerucut lucu.

Minri tidak protes saat Baekhyun menyentuh wajahnya. Ia tidak protes saat Baekhyun mengomelinya, mengatakan dirinya idiot atau bahkan masuk ke dalam kamarnya–sekedar berbaring di sampingnya.

Meskipun Baekhyun bukan orang yang memiliki status terikat dengannya. Meskipun Baekhyun bukan siapa-siapa.

***

Ting Tong!

Suara dentingan bel terdengar ke seluruh tempat tinggal Baekhyun. Laki-laki itu mengecilkan volume televisi lantas beranjak dari sofanya.

Ia mengintip di celah kecil pintu yang sengaja dibuat untuk memeriksa siapa yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya. Ia memastikan bahwa ia mengenali orang yang sedang berdiri di depan pintu itu, lantas membukanya.

“Oh Sehun-ssi, silakan masuk.”

Baekhyun membuka pintu lebih lebar. Kemudian laki-laki bernama Sehun itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam setelah sebelumnya membungkukan badannya sedikit. Kemudian Sehun duduk di single sofa.

“Minri sedang mandi. Tunggu saja,” ucap Baekhyun. Lalu ia kembali duduk di sofa dan menonton televisi.

Mereka berdua tidak bicara. Tapi mereka sudah saling kenal. Baekhyun tahu kalau Sehun adalah kekasih Minri. Dan Sehun juga tahu kalau Baekhyun adalah teman yang tinggal satu apartemen dengan Minri. Teman yang memiliki persamaan daerah asal dengan Minri kemudian di pertemukan di Manhattan, tempat asing yang jauh dari Seoul–tempat asal mereka berdua.

Sehun juga bukan orang asli Manhattan. Ia berasal dari pulau yang sama dengan Minri dan Baekhyun hanya bedanya Sehun dari Busan.

Lalu mereka bertiga memiliki persamaan lagi, yaitu sedang menuntut ilmu dengan kuliah di Harvard.

Sehun memang tidak setuju dengan keputusan Minri untuk tinggal bersama Baekhyun yang tidak memiliki hubungan keluarga sedikitpun. Membiarkan gadisnya tinggal satu atap bersama laki-laki seumurannya membuat Sehun kerap kali berfantasi yang tidak-tidak.

Meskipun memprotes keras, Sehun tetap tidak bisa berbuat banyak. Sehun tinggal di Manhattan sendirian. Memang Minri bisa tinggal dengannya tapi Sehun tidak ingin mengambil resiko. Mereka ke USA untuk kuliah bukan untuk berbulan madu atau semacamnya. Menikah saja belum.

Maka dari itu Sehun membiarkan Minri tinggal bersama Baekhyun. Pernah Sehun bertanya apakah Minri tidak takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua, bagaimanapun Baekhyun adalah laki-laki yang bisa saja tiba-tiba melakukan hal yang tidak bermoral padanya. Minri hanya meyakinkan Sehun bahwa ia akan baik-baik saja. Ia bisa menjaga diri. Dan Minri percaya bahwa Baekhyun adalah orang baik.

Minri pikir memilih tinggal bersama laki-laki berperawakan pendek itu keputusan yang benar. Ia lebih merasa aman dari pada harus tinggal sendirian di kota asing yang rata-rata penduduknya berkulit putih pucat. Lagi pula ia sedikit lebih hemat karena biaya apartemen dibagi dua dengan Baekhyun.

Sehun harus sedikit lebih sabar tentang hal ini. Dan kesabaran Sehun sudah teruji selama 3 tahun.

Sebenarnya Sehun mulai merasa takut pada perasaan Minri. Ia takut gadis itu perlahan merubah perasaannya. Mereka memang terikat pada status pasangan kekasih. Tapi intensitas pertemuan Baekhyun dan Minri lebih sering daripada dengannya. Dan karena terbiasa bersama, mungkin saja muncul gejolak cinta antara mereka berdua. Sehun takut hal itu terjadi.

Sehun berencana mengatakan hal penting pada Minri hari ini. Hal penting yang menyangkut masa depan mereka berdua. Hal penting yang akan membuat Minri tidak tinggal bersama Baekhyun lagi.

“Sehun…”

Panggilan Minri membuat Sehun berhenti memikirkan kecemasannya. Ia mendongak dan mendapati gadis itu sudah rapi dengan kemeja bermotif kotak-kotak kecil dan celana jeans hitam. Rambutnya yang panjang ia jalin longgar dan disampirkan ke kanan. Cantik. Dan selalu mempesona.

“Ayo berangkat,” ucap Minri sembari memakai tas selempangnya di bahu kanan.

Sehun berdiri. Ia membenarkan kemejanya yang sedikit kusut karena duduk. Sehun menggenggam tangan gadis itu lantas berjalan beriringan menuju pintu keluar.

“Baekhyun, tidak usah menungguku. Aku makan malam di luar.” Ucap Minri sebelum benar-benar hilang di  balik pintu bersama kekasihnya itu. Menyisakan Baekhyun yang sendirian di dalam apartemen mereka berdua.

Lalu dengusan lelah lolos dari bibirnya.

***

Setelah Minri pergi. Baekhyun memutuskan untuk istirahat dalam kamarnya. Pria bersurai coklat itu berbaring sembari menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih.

Sekelebat bayangan Minri muncul di pikirannya.

Teman. Hanya itu status yang dimiliki Baekhyun terhadap gadis yang tinggal satu apartemen dengannya. Baekhyun tahu kalau Minri sudah punya kekasih, tapi Baekhyun juga bingung mengapa gadis itu lebih memilih tinggal bersamanya ketimbang dengan kekasihnya yang Baekhyun akui memang tampan, berperawakan tinggi dan agak kurus.

Siapa bilang Baekhyun merasa biasa saja tinggal dengan Minri?

Tinggal bersama Minri membawa pengaruh pada kerja otak, hati dan tubuhnya. Ia jadi lebih rajin membersihkan kamarnya, sering memasak dan bahkan menjadi tempat curhat gadis itu.

Baekhyun tidak bisa memungkiri kalau ia merasa cemburu dengan gadis itu. Setiap kali Sehun datang ke apartemen mereka, Baekhyun berusaha mengabaikan mereka berdua, menganggap mereka berdua hanyalah angin lalu. Tapi usahanya sia-sia. Ia tidak bisa mengabaikan apapun yang berkaitan dengan gadis itu.

Sampai sekarang Baekhyun belum memiliki kekasih. Ia lebih menikmati hari-harinya bersama Minri–teman satu apartemennya–ketimbang harus mencari kekasih. Baekhyun hanya merasa nyaman dengan kehadiran gadis itu. Ia tidak memerlukan orang lain lagi.

Baekhyun tahu tentang perasaannya. Ia memang sudah mencintai seseorang hingga hatinya tertutup untuk gadis lain. Ia tahu ia salah, karena menaruh perasaan pada seorang gadis yang memiliki kekasih. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa saat perasaan itu muncul begitu saja tanpa dikehendakinya.

Baekhyun memiringkan tubuhnya ke kanan. Mencari posisi senyaman mungkin. Mencoba mengistirahatkan tubuh, hati dan pikirannya. Terlalu lelah memikirkan rumitnya perasaannya sendiri.

Dan terlalu sulit untuk mengabaikan perasaannya sendiri.

***

Sehun memarkirkan mobilnya di depan salah satu restoran Italia. Sehun tahu kalau Minri sangat suka makan spaghetti. Sehun sangat menyayangi gadis itu. Jadi, mendahulukan keinginan gadis itu adalah kewajiban baginya.

Sehun keluar dari mobilnya lantas berlari kecil memutari bagian depan mobilnya, membukakan pintu untuk gadis itu.

“Silakan Nona,” canda Sehun sembari memegang satu tangan Minri dengan tangannya yang bebas. Sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menutup pintu mobilnya.

Minri hanya menanggapi dengan tertawa pelan. Tapi itu sudah cukup membawa Sehun pada lembah kebahagiaan. Minri jarang tertawa. Sehun tahu kalau Minri bukan gadis yang mudah memberikan senyumnya pada orang lain apalagi tertawa di depan orang banyak. Dan melihat Minri tertawa adalah pemandangan yang langka. Sehun merasa beruntung bisa melihatnya.

Mereka berdua masuk ke dalam restoran itu. Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Suatu kemungkinan kecil jika mereka berdua tidak menarik perhatian. Mereka lebih mirip pasangan selebritis karena wajah mereka yang nyaris sempurna itu.

Sehun. Tubuhnya tinggi dan kurus, tapi ia punya otot lengan yang membuat tubuhnya tampak altelis. Kulitnya putih, lebih putih dari orang Korea kebanyakan. Sementara wajahnya… oh, jangan ditanya. Laki-laki itu begitu tampan. Dan surainya yang keperakan, menambah kesan ketampanannya. Mungkin jika ia mengaku sebagai seleb di negaranya, orang akan percaya.

Minri. Dari wajahnya sangatlah jelas kalau dia adalah orang asia. Hidungnya mancung dan ukuran matanya tampak lebih besar dari penduduk asli daerah asalnya. Ia tidak perlu memakai make up–ia memang tidak suka–ia hanya membubuhkan bedak tipis di wajahnya dan lipgloss pada bibirnya. Bagaimanapun ia tidak ingin membuat Sehun malu jika sedang berjalan berdampingan dengannya.

Minri berperawakan kurus, tubuhnya tidak begitu tinggi, mungkin hanya sebatas mulut Sehun. Dan Minri pikir tubuhnya tidak seindah Megan Fox. Tapi… bersyukur pada perutnya yang selalu rata meskipun ia sering makan banyak.

Mereka berdua mengambil tempat di dekat kaca, sehingga mereka bisa melihat orang yang berlalu lalang. Mereka berdua tidak terlalu banyak bicara, jadi Sehun memilih tempat di samping kaca agar mereka selalu punya topik pembicaraan meskipun itu tidak penting.

Seorang pelayan menghampiri meja mereka, lalu menyodorkan buku menu. Minri tidak memilih menu, karena Minri yakin Sehun sangat hapal dengan makanan kesukaannya. Minri hanya menatap ke luar jendela, memandangi anak kecil yang tersenyum bahagia dalam pelukan orang tuanya.

Minri terkesiap saat Sehun menyentuh punggung tangannya, menyelimuti tangannya yang lebih kecil dari tangan Sehun.

“Kau merindukan keluargamu?” tanya Sehun. Seolah-olah bisa membaca pikiran gadis itu.

“Aku sudah biasa jauh dari mereka. Bukan hal yang patut dijadikan alasan untuk bersedih. Lagi pula disini ada kau dan juga Baekhyun.”

Sehun tersenyum samar.

Ya, memang Sehun selalu ada untuknya. Tapi mengapa nama Baekhyun harus disebut juga? Sehun menjadi sedikit lebih egois. Ia tidak ingin disejajarkan dengan laki-laki yang hanya patut disebut sebagai teman itu.

Minri membalikkan telapak tangannya, balas menggenggam tangan Sehun. Ada perasaan hangat menyelimutinya saat ia melakukan kontak fisik dengan Sehun. Ia merasa dilindungi dan disayang. Namun Minri merasa bersalah karena setiap dirinya memikirkan Sehun, Baekhyun selalu ikut bergelut dalam pikirannya seperti kabut. Samar tapi ada.

“Aku sayang padamu,” ucap Sehun.

“Aku juga,” jawab Minri. “Kau pikir kenapa aku mau bertahan sejauh ini?” raut mukanya berubah kesal, membuat Sehun tertawa. Karena gemas, ia mencubit hidung Minri.

Sehun sudah bisa menebak dengan apa yang akan diucapkan Minri. Sehun pikir Minri tidak akan salah jika mengatakan bahwa ia juga menyayangi Sehun. Tapi arti dari sayang itu sungguh bermacam-macam. Dan Sehun tidak pernah tahu sayang mana yang dimaksud Minri sesungguhnya. Sehun hanya bisa berharap bahwa Minri menyayanginya sebagai kekasih, sebagai pendamping hidupnya kelak.

“Minri-ya, menurutmu diusia berapa idealnya wanita untuk menikah?”

Pertanyaan Sehun sukses membuat Minri mengerutkan keningnya. Sedikit bingung karena Sehun tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. sebuah topik pembicaraan yang sangat–bahkan mungkin tidak pernah–jarang mereka bahas.

“Aku tidak tahu. Usia tidak menentukan kedewasaan seseorang ‘kan?”

“Hmm. Kau benar.”

Sehun tersenyum hangat, membuat Minri ikut tersenyum. Sehun menunda tujuan utamanya tentang: mengatakan hal yang membuat hidup Minri berubah.

Mereka melanjutkan dengan membahas perkembangan akademik masing-masing, berbagi pengetahuan, dan kejadian yang mengesankan. Ketika kehabisan topik pembicaraan, mereka membicarakan hal yang tidak penting, seperti : apa yang kau mimpikan tadi malam? Dan Minri hanya menjawab bahwa ia lupa dengan mimpinya. Sementara Sehun dengan semangatnya menceritakan tentang mimpi tiga ekor rusa. Yang mana salah satu rusa itu adalah betina.

Mereka mengakhiri percakapan saat pesanan mereka sudah datang.

***

Langit berwarna jingga menjadi latar yang romantis bagi pasangan kekasih yang sedang jalan-jalan di tepian sungai. Termasuk Minri dan Sehun.

Angin sore berhembus pelan. Keduanya bungkam. Sepuluh menit berlalu, namun tidak ada yang mereka bicarakan. Sehun hanya menatap kerikil di depannya, sementara Minri memilih menatap beberapa kapal yang melewati sungai itu.

Entahlah. Sehun masih ragu untuk mengatakannya. Ia takut akan penolakan gadis itu terhadapnya.

“Sehun…”

Sehun menoleh pada Minri. Menunggu penasaran dengan apa yang akan dikatakan gadis itu selanjutnya.

“Aku minta maaf.”

“Kenapa?… Setahuku kau tidak melakukan kesalahan apapun.”

Sehun meraih tangan kanan Minri. Mengayunkannya dengan tidak beraturan. Sementara tangannya yang bebas ia masukkan dalam saku celananya.

Minri mempererat pegangan tangannya pada Sehun. Ia merasa bersalah pada Sehun. Karena Sehun memperlakukannya terlalu baik. Sementara ia tidak bisa memperlakukan Sehun seperti yang laki-laki itu lakukan padanya.

Dan Minri merasa bahwa selama ini hatinya tidak sepenuhnya untuk Sehun. Minri tidak bermaksud menyakiti Sehun dengan terus-terusan memberikan harapan untuk selalu bersama.

Minri tidak tahu harus berbuat apa.

“Park Minri…”

Sehun menghentikan langkahnya. Laki-laki itu berlutut menghadap Minri. Sama sekali tidak peduli bahwa ia telah menarik perhatian beberapa orang yang melewati jalan itu.

“A-apa yang kau lakukan?”

Minri mencoba menarik Sehun berdiri, tapi Sehun sama sekali tidak ingin beranjak. Minri lantas pasrah dan membiarkan Sehun melakukan apa yang ingin dilakukannya.

“Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi aku ingin… kita menikah.”

Sehun merogoh saku saku celananya. Mengeluarkan sebuah kotak beludru biru tua. Sehun membuka kotak itu hingga nampaklah kilatan berlian dari dalam sana.

Minri melepaskan pegangan tangan Sehun. Ia menggenggam tangannya di samping tubuhnya.

“Sehun… aku tidak…”

Sehun berdiri lantas tersenyum. Ia meletakkan kotak cincin itu di genggaman tangan Minri.

“Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu jawabanmu sampai kau siap mengatakannya. Simpanlah… ku harap kau akan memberikan jawaban yang aku inginkan.”

***

Minri membuka pintu apartemennya. Tidak ada penerangan. Lampu ruang tengah mati total. Sedikit mencekam, tapi Minri sudah terbiasa akan hal itu. Sudah pukul 9 malam. Mungkin Baekhyun sudah tidur.

Minri menyalakan lampu ruang tengah. Ia melepaskan sepatunya lantas menghempaskan tubuhnya di sofa. Tak lama setelah itu, terdengar suara derit pintu dari kamar Baekhyun membuat Minri menoleh ke arah sumber suara.

Baekhyun keluar kamar dengan wajahnya yang mengantuk. Pria itu mengucek matanya sambil menguap. Betapa manisnya.

Baekhyun membuka mata sepenuhnya ketika menyadari bahwa Minri sedang duduk di sofa, memperhatikannya dengan intens.

“Kau baru saja pulang?” tanya Baekhyun sembari menghampiri Minri.

Minri mengangguk lantas mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Minri menunduk, ia menatap kotak cincin yang masih berada di genggamannya. Apa yang harus dilakukannya dengan benda itu?

“Apa itu?” Baekhyun duduk di samping Minri membuat sofa yang Minri duduki menjadi tergerak. Kulit merekapun bersentuhan, memberikan efek sengatan listrik voltasi rendah.

“Ini… err… Sehun baru saja melamarku.”

Baekhyun mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Ia seperti baru saja mendapat berita bahwa hidupnya tidak lama lagi. Baekhyun harusnya tahu bahwa suatu saat hal ini memang akan terjadi. Suatu hubungan memang mestinya seperti ini kan?

“Benarkah? Bagus sekali.” Hanya itu yang bisa dikatakan Baekhyun sekarang. Ia harusnya sudah mempersiapkan dirinya untuk mendengar berita macam ini. Bagaimanapun, ini rasanya akan sungguh menyakitkan.

Tidak ada tanggapan dari Minri membuat suasana hening.

Baekhyun menoleh ke samping dan mendapati gadis itu melamun. Baekhyun tidak tahu apa yang ada dipikiran Minri sekarang tentang lamaran kekasihnya padanya. Harusnya Minri senang kan? Kalau Sehun berani melamarnya berarti Sehun benar-benar menganggap hubungan mereka serius.

Tapi sayangnya Baekhyun tak dapat mengerti arti lamunan dari wajah cantik itu.

“Lalu apa jawabanmu?” tanya Baekhyun, membuyarkan Minri dari segala pikirannya.

“Aku belum menjawab apapun.”

Minri meletakkan kotak cincin ke atas meja, lantas ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Gusar. Tertekan.

“Baek…”

Minri menatap Baekhyun dengan wajah kalut. Terbaca jelas di mata Baekhyun bahwa gadis itu sedang punya beban pikiran yang cukup berat.

“Hmm?” Baekhyun mengangkat satu alisnya.

“Maukah kau memelukku?”

Baekhyun berkedip dua kali. Ia sempat berpikir bahwa ia akan jatuh lebih sakit lagi kalau memenuhi permintaan gadis itu. Ia pasti akan merasa kehilangan jauh lebih dalam karena Minri mungkin akan meninggalkannya tidak lama lagi. Namun Baekhyun tidak tega menolak. Apalagi Minri sendiri yang memintanya. Hingga pada akhirnya ia mengangguk.

Minri menyelipkan kedua tangannya di pinggang Baekhyun. Kepalanya ia letakkan di dada Baekhyun. Rasanya nyaman.

Dan Baekhyun melingkarkan kedua tangannya di punggung gadis itu dengan canggung. Membelai rambut coklat nan ikal, lembut seperti sutra. Menyatu dengan telapak tangannya.

Aku tidak ingin kehilangan pelukan ini. karena tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan Baekhyun memelukku dengan cara seperti ini.

“TIdak ada salahnya kau menerima Sehun. Dia pria baik, kok. Dan kalian cocok.”

Minri membuka matanya yang baru terpejam dengan nyaman. Suara Baekhyun sedikit mengganggu ketenangannya. Entah suara atau arti ucapannya.

Ya, Minri tahu kalau Sehun memang baik. Tapi mau bagaimana lagi kalau Minri tidak sepenuhnya mencintai Sehun. Karena ada seseorang yang lebih membuat Minri merasakan yang namanya Sebuah cinta. Tapi sayang Minri tidak tahu apa yang dirasakan orang itu pada Minri.

Lain di mulut lain di hati. Itulah yang dilakukan Baekhyun. Salah besar! Ia telah membuat dirinya terluka dengan mulutnya sendiri.

Hening.

Baekhyun mampu bertahan dengan berdiri memeluk gadis itu. Berharap waktu akan mengizinkannya untuk berdua seperti ini lebih lama lagi.

Dan permintaannya dikabulkan. Minri tertidur dalam pelukannya.

***BERSAMBUNG***

Pada penasaran gimana endingnya? Stay tune terus ya(?) ahahaha. Main aide nya udah ada sih, tinggal ngembanginnya. Doain moga cepet. /flykiss bareng byunbaek/

Cr: charismagirl, twit, fb.

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

142 thoughts on “You And Him – part 1

  1. Kupikir dia mo jawab iya,, ternyataaa,, ad baekhyun dihati minri,,ciieeee,,
    Jelas bgt klo baek ga nyaman tinggal ma cewek,,secara di laki normal, ga mngkin klo ga suka,,apa lagi ketemu tiap hari,,jjiiiaaaahh,,

  2. Owalaa.. pijit kening jadinya.. –”
    Errr….. milih siapa yaa ??
    Daebakk thor.. 😄
    Next chap d tggu..
    FIGHTING!!!
    Jangan lama lama ya hihihihi
    #plakreadermaksa

  3. Aduhh gimana ya kalo jadi minri.. gantung diri kali/? Mana si Sehun tulus banget lagi.. sampe terharu *abaikan* daebak dehh buat eonnie

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s