[Free Cast] Someday, on The Bakery

coffee shop

 

 | This story belong to me, shineshen |

| Here it a simple imagine, I wrote it just when I didn’t knew to writing something(?) |

| It’s just a simple ficlet (or vignette?) |

| I’m so sorry if it seems bad |

| Simple Romance, without casts |

:: SOMEDAY, ON THE BAKERY ::

“Pernahkah kau merasakan kehilangan dalam hidupmu?”

Kau menoleh saat mendengar rentetan pertanyaan itu merusak segala konsentrasi membacamu pada satu eksemplar buku yang terpampang di depan wajahmu. Kau melihatnya, yeah. Sahabatmu yang sedang terdiam dengan raut wajah yang terlihat kosong.

 

“Kau bertanya apa? Kau aneh.” Sahutmu datar. “Hey, sudahlah. Aku tahu patah hati itu memang menyakitkan, tapi… Tolong, berhentilah bersikap bodoh seperti ini. Aku khawatir padamu.”

Gadis itu memalingkan wajahnya padamu. “Memangnya kau tahu? Padahal bahkan kau belum pernah berpacaran sampai dengan detik ini.”

Kau merengut. “Yak! Aku memang belum pernah berpacaran, tapi setidaknya aku pernah jatuh cinta,”

“Benarkah?” tanyanya sambil memandangmu selidik. “Pada siapa?”

Bibirmu terkatup rapat. Kau sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaannya itu, sama sekali tidak penting. Bukan seseorang itu, tapi… Kau hanya merasa, kau tak perlu mengungkit masa lalu itu lagi.

 

“Setidaknya aku pernah,” kelitmu dari jawaban yang seharusnya. “Tidak penting bagimu untuk mengetahui siapa orangnya.”

 

 

***

 

 

Bukankah setaip orang memiliki cara tersendiri untuk mencintai?

Setiap hati pasti memiliki cara tersendiri untuk mencintai sesuatu, bukan?

 

Kata itu terus mengalir dalam putaran arus yang sama di kepalamu. Kau bahkan tak bisa berhenti untuk memikirkannya berulang-ulang.

 

Patah hati. Cinta.

Jika cinta memiliki caranya tersendiri untuk melambungkan hati penikmatnya, maka itu berarti patah hati adalah hal yang wajib dirasakan saat cinta itu pergi, bukan?

 

Pergi. Kehilangan.

Dua kata itu serasa menohok hatimu sedikit lebih tajam, memaksa hatimu mengakui juga kalau kau pernah merasakan hal itu.

Merasakannya. Dalam artian secara semu.

Kau merasakannya, namun secara rahasia. Kau lebih memilih menutup itu semua dari dunia, merasakan getirnya sendiri sambil tak lepas memandangi punggung laki-laki yang sudah mengisi hatimu secara penuh selama bertahun-tahun lamanya itu.

Dan ia pergi saat itu.

Meninggalkanmu.

Tanpa pernah mau mengerti tentang kesakitan dalam hati yang sesungguhnya kau rasakan.

 

Oh, miris.

 

 

Kau sedang sendirian berjalan di trotoar. Matamu menelusuri satu-persatu pertokoan yang berjajar di sepanjang jalan. Sebenarnya kau ingin mampir ke salah satunya sebentar, sekedar menghabiskan waktu dan melepas penat selesai waktu ujian. Walau kau sendirian. Yeah, sendiri. Bukankah kau sudah biasa melalui banyak hal dengan sendirian?

 

Langkahmu membawamu masuk ke salah satu kedai roti panggang. Saat kau masuk ke dalam kedai dengan atmosfer hangat itu, kau bisa mencium aroma manis roti kesukaanmu yang baru selesai dipanggang.

Kau menyunggingkan senyum tipis, lalu berjalan menuju counter pemesanan untuk membeli sepotong roti abon kesukaaanmu.

 

Dan disinilah kau sekarang. Duduk sendirian di samping jendela besar yang menghadap ke jalanan. Dengan sepotong besar roti abon yang harum dan hangat, juga secangkir coffee caramel yang masih tersaji utuh diatas meja. Kau begitu menikmati semuanya, meskipun kau sendirian.

 

Bel yang tergantung di daun pintu tiba-tiba bergemerincing kecil. Dua orang terlihat baru saja memasuki kedai roti itu. Mereka sepasang namja dan yeoja. Dan mereka bergandengan tangan.

Rasanya sedikit miris, saat ternyata mereka memilih meja yang berada tepat di sebelahmu. Kau merasa tersinggung, entahlah, mungkin ini hanya sekedar perasaanmu yang konyol.

 

Kau sudah menginjak tahun kedua di High School, tapi kau bahkan belum pernah merasakan pacaran.

 

Sayang, aku menginginkan tempat duduk dekat jendela,” sahut yeoja itu tiba-tiba. Kau meliriknya sedikit, oh yeah, suaranya yang manja itu terdengar seperti dibuat-buat. Tipikal yeoja perajuk.

 

“Kau tidak lihat? Semua meja dekat jendela itu penuh.” Jawab namja itu, dengan sabar mencoba memberi pengertian pada yeoja-nya. Kau tak mendengar yeoja itu merajuk lagi, tapi kau tahu, ia sedang merengut memandangimu kini.

 

Kau sendirian. Tapi kau seenaknya menggunakan meja berfasilitas dua orang dengan posisi yang paling strategis.

Hey, ini bukan salahmu.

Kau datang lebih dulu dari mereka.

 

Selama kurang lebih setengah jam, kau duduk disana. Memakan rotimu dan menyesap caramel cairmu, seolah-olah kau hanya asyik sendiri dan tak peduli dengan pasangan yang ada di sebelahmu itu.

Padahal sesungguhnya, oh, kau amat tidak tahan.

Kau boleh jujur, suara yeoja perajuk yang ada di sebelahmu itu sangat menjengkelkan.

 

Dia banyak mengoceh selama itu. Sedangkan kekasihnya hanya menanggapi seadanya. Matamu lagi-lagi melirik sedikit pada yeoja itu. Oh, penampilan mereka tak berbeda jauh denganmu. Sang yeoja mengenakan almamater seragam, tapi kau tak bisa mengenali almameternya. Logo sekolahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang tergerai. Sedangkan sang namja tidak mengenakan almameternya, ia lebih memilih mengenakan mantel tebalnya. Cukup logis juga, mengingat udara musim dingin yang semakin mengganas akhir-akhir ini.

 

Sayang?” interupsi gadis itu setelah sedari tadi ia terus saja mengoceh tentang hal-hal yang tidak penting.

Hm.” Gumam kekasihnya singkat.

“Apa sejak tadi kau mendengarkan apa yang kubicarakan? Sepertinya kau terus saja sibuk dengan roti itu sedari tadi,” protes gadis itu. Lagi-lagi kau menghela napas saat mendengar nada rajukan dalam kalimatnya.

 

“Ya, tentu saja.” Sahut namja itu singkat. Kau mendengar nada gumaman saat ia menjawab protesan kekasihnya, si gadis itu. Kau bisa menebak, pasti namja itu menjawab kekasihnya sambil melahap rotinya. Kau menahan tawamu.

 

“Tapi kau sepertinya mengacuhkanku,” balas yeoja itu tak mau kalah. “Please. Kekasihmu itu aku, bukan roti abon itu.”

 

Oh, jadi namja itu memesan roti abon juga?

Oh yeah, you see.

Tentu saja menikmati kelezatan roti abon itu jauh lebih menyenangkan daripada mendengar ocehan tak penting gadis itu.

Ups.

 

“Jangan memperpanjang masalah, oke?” sahut namja itu singkat. “Aku sedang tidak mau berdebat denganmu.”

“Tapi aku—“

 

Bla bla bla.

 

Oh, sepertinya pasangan romantis itu akan memulai perdebatan mereka sebentar lagi. Dan kau memutuskan memilih jalan tengah, mengingat pasti menyebalkan bagimu untuk tetap berada disana dan menjadi saksi bisu perdebatan tak penting mereka. Kau memutuskan untuk meninggalkan meja dan sofa empuk itu, bersama cangkir putihmu yang telah kosong diatas meja bercat cokelat jati itu.

 

Selesai.

Ya.

 

Kau menyandang kembali tas ranselmu dan bersiap pergi dari sana, saat ocehan-ocehan tak penting yang mulai memekakkan telinga terdengar dari mulut gadis itu.

 

Kau bahkan sudah meraih handle pintu, saat entah apa yang mempengaruhi pikiranmu, tiba-tiba kau memutuskan berhenti melangkah dan sejenak terdiam. Kau berpaling dan memutuskan untuk melihat pasangan kekasih yang sedang berdebat itu lagi, sebelum kau benar-benar meninggalkan kedai menyenangkan itu.

Sungguh, suasana dalam kedai itu awalnya menyenangkan. Namun instingmu berkata, semuanya berubah semenjak pasangan kekasih itu menginjakkan kakinya bersama-sama dalam lantai kayu di kedai ini, sambil bergandengan tangan.

 

Yeoja itu masih mengoceh, sementara sang namja yang terlihat jengah hanya terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Sebentar,” interupsi namja itu. Ocehan sang yeoja berhenti, lalu kau bisa melihat tatapan bingungnya saat memandang wajah namja-nya.

“Ada apa?”

“Aku akan ke counter sebentar. Latte-ku habis. Aku perlu memesannya lagi. Kuyakin aku masih butuh waktu yang lama untuk mendengar semua ocehanmu.”

 

“Apa?! Apa yang kau katakan?!”

 

Namja itu tak peduli. Ia benar-benar melenggang dari depan kekasihnya. Berjalan dengan tenang menuju counter pemesanan.

 

Saat itulah kau melihat wajahnya yang sedari tadi tak sempat kau perhatikan, membuatmu tiba-tiba tercekat.

Kaget dan sesak terasa dalam sekali saja kau menarik napas.

 

Hey, itu laki-laki yang dulu pernah kau cintai, kan?

 

 

 

 

—END—

 

 

 

Huahahahahaha, apa ini -.-

Aku nulis ini tengah malem, kebiasaan tidur malem gara-gara liburan, aku bosen tapi aku gak tau harus nulis apa -.-

Jadinya aku nulis ini (/-\)

 

Dari awal perasaanku gak enak, aku udah tau ini bakalan aneh, tapi aku tetep nekat nulisnya (/-\)

Abis aku bingung mau ngapain -.-

 

Gimana readers, ngerti gak maksud cerita ini apa?

It’s too weird, so I can understand if you confused about the storyline >.<

 

Buat yang masih bingung ceritanya gimana, tanya aja sama author lewat kolom komentar, boleh koooook ‘-‘)/

Tapi kalo ada yang udah ngerti dan mau sekedar share cuap-cuap tentang cerita aneh ini, komen aja juga gapapa😀

 

Jadi kutunggu komentarmuuuuuu *-*)/

Dan buat yang nungguin fic angst aku, sabar dulu yah😀

I will post it later, so I hope you could wait for it ^^

 

Ehem, hampir lupa ~

Mengenai cast si namja yang lagi berantem sama yeoja-nya, siapa yang ada di benak kalian? ^^

/tapi kok kayaknya susah ya mau ngebayangin itu siapa/

 

49 thoughts on “[Free Cast] Someday, on The Bakery

  1. Hahahaha dhea… Nggg ini semacam sindiran buat aku atau apa ya *eh*
    Hehe nggak deng,, hanya saja, ini mirip aku.. Jd aku mendalami dan ngerti banget yg ini nih *nahloh curcol*
    hihi aku bayangin ini siapa ya.. Aku gak kebayang bias, tp kebayangnya someone sih hehe :3
    tapi spt biasa,, fic km aku sukaaaaaa😀
    aku kasih love sign nih *mmmuuacchh <3<3🙂

    • halo shintia ‘-‘)/

      apa? sindiran apa?
      ini sindiran masa lalu aku loh(?) /dor/😀
      sebenernya ya shin, ini sedikit nyambung ama cerita kita yg waktu itu.. soal namja real itu(?)
      /DOR!/
      huahahahahahaha

      mihihihihi, makasih shintia…. udah suka fic aku🙂
      hap hap! love sign-nya barusan ditangkepin sama chanyeol nih.. hahahahaha😀

      sip, makasih udah baca dan komen ya shin😉
      lempar flying kiss balesan dari chanyeol —> :*

    • halo ^^

      bayangin itu luhan? oke, sip😉

      hehe, sequel?
      huahahahaha, sepertinya kamu udah tau ya aku bakalan bilang apa(?)😀
      hehe, mian ;___;

      tapi makasih ya, udah baca dan komen🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s