[8th Scene] My Marriage Is…

my-marriage-is-poster-by-njei

My Marriage is … [Part 8]

Author Yaumila

 

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Lee Taemin  – Han Soyi (OC) – Choi Sulli – And other’s |

| Genre Shool Life, Marriage Life | Length Main Chapter |

| Rating PG-17 |

Poster by : ©Njei Art

Previous Part 1 | 2 | 3 | 4 5 6 | 7 [Protected]

 

Disclaimer :

Para tokoh yang ada di FF ini milik Tuhan. Cerita ini murni hasil imajinasi saya.

Don’t Plagiat!

Happy Reading~~

.

.

.

Author POV

Tahun berganti dengan begitu cepat. Kini Jiyeon dan Sehun sudah berada di tingkat akhir SMA. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap kenaikan kelas mereka akan di tempatkan pada kelas yang berbeda serta teman yang juga berbeda. Para siswa tampak sedang berkumpul di depan papan pengumuman dimana disana tertera nama-nama mereka. Mereka saling berdesakan ingin mengetahui di kelas mana mereka ditempatkan kali ini.

Kini giliran Jiyeon dan Sehun yang maju untuk melihat nama mereka. Jiyeon mendapatkan namanya yang ternyata berada di kelas III-C. Ia menatap ke arah Sehun seolah bertanya di mana kelasnya. Sehun hanya menunjuk namanya yang ternyata berada tidak jauh dari nama Jiyeon. Mereka berdua saling melempar senyum. Itu tandanya mereka akan berada dalam satu kelas yang sama—lagi.

“Ya Jiyeon-ah, kau masuk kelas mana?” tanya Sulli yang tiba-tiba muncul di belakangnya yang ternyata juga sudah ada Taemin dan Kai.

“Aku di kelas III-C. Bagaimana denganmu?” Jiyeon melihat perubahan pada raut wajah Sulli. Itu cukup menunjukkan bahwa sepertinya mereka tidak berada dalam kelas yang sama.

“Sayang sekali aku tidak sekelas denganmu, aku malah satu kelas dengannya.” Sulli berkata seraya melirikkan matanya ke arah Kai.

“Kita masih bisa makan bersama seperti biasa meskipun tidak di kelas yang sama bukan?” Jiyeon menepuk punggung Sulli sambil tersenyum sementara Sulli mengangguk-anggukkan kepala bahwa yang dikatakan Jiyeon itu benar. Meskipun mereka tidak berada dalam kelas yang sama, bukan berarti mereka tidak bisa bertemu.

“Akhirnya kita berada dalam kelas yang sama Jiyeon-ah.” Taemin tiba-tiba mengeluarkan suaranya.

“Ah, benarkah? Ini bagus sekali, Taemin-ah.” Jiyeon tersenyum senang tanpa sadar ia memegang tangan Taemin sambil menggerakkannya kesana kemari—dihadapan Sehun. Ingat, di hadapan Sehun. Sementara Sehun hanya bisa menggeram pelan melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

“Ehmm, sebaiknya kita segera ke kelas. Sepertinya bel masuk akan berbunyi sebentar lagi.” Sehun langsung menyeret Jiyeon dengan paksa agar mengikutinya. Sementara Taemin hanya tersenyum kecil melihatnya dan berjalan di belakang mereka berdua.

“Sebaiknya kita juga ke kelas.” Sulli berlalu begitu saja setelah mendengar kata-kata Kai. Sementara Kai hanya menggelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu tidak begitu senang bisa satu kelas lagi dengannya. Dan kelihatannya hanya Kai yang merasa senang disini.

Di kelas Jiyeon sedang kebingungan karena Taemin dan Sehun memintanya untuk bisa duduk berdampingan. Disatu sisi ia ingin sekali bisa sebangku dengan Sehun, tapi ia juga tidak tega dengan sahabatnya—Taemin. Alhasil kini mereka berdua masih berdiri dan belum ada yang duduk. Tapi ada seorang gadis yang menghampiri Jiyeon dan mengajaknya untuk duduk bersamanya karena ia juga masih sendiri dan belum mendapatkan teman. Tanpa berpikir dua kali Jiyeon langsung mengiyakan ajakan gadis itu. Dan jadilah Sehun dan Taemin duduk sebangku di belakang Jiyeon dan teman barunya.

Sehun menatap Jiyeon dengan pandangan kesal dan tidak terima. Kesal karena Jiyeon tidak memilih duduk bersamanya. Dan tidak terima karena ia harus duduk dengan orang yang tidak ia sukai dari awal—Taemin. Dan Taemin pun merasakan perasaan yang sama seperti Sehun. Canggung. Sepanjang pelajaran mereka hanya berdiam diri tanpa ada yang berniat untuk berbicara. Mereka berdua berkonsentrasi pada materi yang disampaikan oleh guru dan sesekali memperhatikan Jiyeon yang sedang bercengkrama dengan teman barunya yang bernama Luna.

Waktu istirahat pun tiba, Sulli sudah berdiri di depan kelas Jiyeon dan Taemin. Jiyeon tersenyum melihatnya, biasanya Taemin yang melakukan hal itu. Tapi kini Sulli yang melakukannya dan itu terlihat lucu karena Sulli menekuk wajahnya dalam-dalam. Dan memberi isyarat kepada Jiyeon agar segera keluar menghampirinya.

“Luna-ah, apa kau ingin makan bersama?” tawar Jiyeon.

“Tidak terima kasih, aku akan makan dengan temanku.  Tidak apa?”

“Tentu saja tidak apa-apa, baiklah sampai jumpa lagi nanti.” Setelah mengatakan itu Jiyeon langsung berjalan menghampiri Sulli.

“Ya! Kau lama sekali, aku bosan berdiri disini.” Sulli mengerucutkan bibirnya kesal. Jiyeon hanya tertawa melihatnya.

“Maafkan aku Sulli-ah.” Jiyeon mencubit kedua pipi Sulli yang sedang merengut kesal.

“Kau disini juga Kai,” ucap Taemin saat menghampiri dua sahabatnya itu.

“Ne, aku ingin menemui Sehun. Ah, bagaimana kalau kita ke kantin bersama? Supaya lebih ramai.” Jiyeon dan Sulli mengangguk kompak menyetujui ide Kai. Sementara Sehun dan Taemin hanya terdiam sambil melirik satu sama lain.

Jiyeon dan Sulli berjalan di depan, disusul dengan Kai yang menarik Sehun dengan merangkul pundaknya. Taemin berada paling belakang diantara mereka. Ia menghela napas sebelum akhirnya berjalan mengikuti mereka. Sepertinya waktu bertemunya dengan Sehun semakin bertambah banyak saja. Dan itu membuatnya tidak nyaman karena tidak bisa berbicara dengan Jiyeon secara leluasa seperti biasanya.

Jiyeon POV

Kami semua akhirnya memutuskan untuk berkumpul di meja yang sama. Taemin duduk diantara aku dan Sulli, sementara Sehun dan Kai berhadapan dengan kami. Dan Sehun tepat berada dihadapanku. Kami mulai memakan makanan yang sudah kami pesan tadi sambil sesekali bercengkrama. Sehun hanya terdiam sejak tadi, ia fokus pada makanan yang ada di depannya. Saat aku berbicara padanya ia hanya menjawabnya dengan sangat singkat. Ada apa lagi dengan anak ini? Sikapnya mulai berubah lagi.

Padahal sikapnya mulai lembut padaku setelah ‘kejadian’ pagi itu. Ah, mengingat hal itu membuatku malu. Perlahan wajahku terasa panas, aku yakin pasti wajahku sudah memerah saat ini. Dan bodohnya lagi aku tidak sadar jika masih menatap ke arah Sehun. Ia yang menyadari perubahan pada wajahku hanya menatapku seolah sedang mencari tahu apa yang terjadi. Perlahan ia menunjukkan smirknya ke arahku disertai pandangan yang menggoda. Sepertinya Sehun mengetahui ada yang sedang aku pikirkan. Aku langsung menundukkan kepalaku. Ah, bodoh sekali aku hingga tertangkap basah olehnya.

“Ada apa denganmu Jiyeon-ah?” ucapan Taemin mengagetkanku.

“Aku tidak apa-apa, sungguh.” Ditanya tiba-tiba seperti itu membuatku gelagapan.

“Wajahmu memerah, apa kau sakit?” Taemin meletakkan telapak tangannya di atas dahiku. Aku sedikit terkejut mendapat perlakuan seperti itu darinya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum ke arahnya. Taemin membalas senyumanku dan menurunkan tangannya dari dahiku. Saat aku berniat untuk melanjutkan makanku tanpa sengaja aku melihat ke arah Sehun. Aku mendapatinya tengah menatap tajam ke arahku. Mati kau, Park Jiyeon!

Kini semua murid sudah kembali ke kelasnya masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi. Begitu pula dengan kami. Aku kini sudah duduk dengan manis di atas kursiku. Aku dapat merasakan sesorang sedang menatapku dengan tajam dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Sehun? Ah, sepertinya dia marah lagi. Aku lupa jika dia sudah memperingatiku agar tidak terlalu dekat dengan Taemin. Tapi hubungan kami kan hanya sebatas sahabat, ia tidak harus sampai seperti itu. Bagaimana bisa aku menjauh darinya sementara kami selalu bersama dua tahun terakhir. Sepertinya ia benar-benar marah. Tatapannya sangat menusukku meskipun aku tidak melihatnya. Bahkan punggungku sampai merinding dibuatnya. Menyeramkan. Pasti akan sulit jika dia sudah marah seperti ini. Aku hanya bisa menghela napas panjang.

Ternyata guru yang seharusnya mengajar kami sedang mengikuti rapat dadakan yang diadakan sekolah. Sehingga kelaspun menjadi ribut karena suara riuh para siswa yang merasa senang karena memiliki jam kosong. Aku dan Luna membicarakan banyak hal. Ternyata Luna gadis yang sangat ceria dan menyenangkan. Untung saja aku bisa sebangku dengannya. Tapi aku tidak mendengar suara apapun dari arah belakang. Aku menolehkan kepalaku melihat Sehun dan Taemin sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kulihat Taemin sedang membaca buku, entah buku apa itu. Tetapi Sehun hanya mencoret-coret bukunya sambil merengut. Kekanakan. Tapi ia terlihat menggemaskan saat seperti itu. Jika kami sedang tidak berada di kelas mungkin aku sudah mencubit pipinya.

Ternyata Luna juga mengikutiku menoleh ke belakang. Ia menyernyit heran melihat kelakuan Sehun dan Taemin yang sedang melakukan aksi saling diam.

“Ada apa dengan mereka berdua?” Luna sepertinya juga merasakan keanehan sikap Sehun dan Taemin. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.

Aku mengedarkan pandanganku ke penjuru kelas. Aku memperhatikan seperti apa teman sekelasku. Ada beberapa yang aku kenal meskipun kami tidak satu kelas sebelumnya. Kurasa hanya aku dan Sehun yang berasal dari kelas kami yang dulu disini. Temanku yang lain dipecah dibeberapa kelas. Aku rindu dengan temanku yang dulu, meskipun ada yang baik dan yang jahat.

Bicara soal jahat aku tidak melihat Han Soyi seharian ini. Setelah kejadian dimana ia menghajarku hingga membuatku tak sadarkan diri ia tidak pernah lagi mendatangiku. Aku bahkan tidak melihatnya saat istirahat tadi. Biasanya ia akan langsung menghampiri Sehun tanpa perlu dikomando. Apa dia tidak masuk? Lagipula untuk apa aku memikirkannya?

Kejadian waktu itu masih terbayang jelas dibenakku. Sehun mengatakan bahwa aku tidak perlu mengkhawatirkan tentang Soyi lagi. Memang apa yang sudah ia lakukan? Apa benar Soyi tidak akan pernah menggangguku lagi? Ya, meskipun kejadian itu sudah terjadi beberapa minggu yang lalu. Tapi aku masih belum bisa sepenuhnya percaya pada Soyi. Mungkin saja kan ia bilang seperti itu pada Sehun namun kenyataannya ia akan menyakitiku lagi. Tapi aku tidak boleh berpikiran buruk tentangnya. Aku tahu Soyi hanya terlalu menyukai Sehun hingga ia berbuat seperti itu padaku. Dan rasa sukanya malah berubah menjadi sebuah obsesi menurutku. Hah sudahlah, tidak usah memikirkannya lagi. Itu hanya akan membuatku pusing.

Tidak terasa waktu berlalu begitu saja. Kini waktunya pulang, karena bel jam terakhir sudah mengeluarkan bunyinya yang membuat para siswa senang bukan main—termasuk aku. Aku dan Luna bergegas merapikan meja kami. Aku dan Luna seperti sedang berlomba untuk mengetahui siapa yang lebih cepat diantara kami berdua.

“Hahaha.” Aku dan Luna tertawa bersama akibat ulang kami sendiri. Kami ini seperti orang bodoh saja.

“Cepat, aku menunggumu di depan.” Sehun tiba-tiba muncul di belakangku dan langsung berlalu begitu saja setelah mengatakannya. Aku hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalaku.

“Ya, Jiyeon-ah kalian pacaran eoh?” Pertanyaan Luna yang tidak pernah aku duga sebelumnya membuatku tersentak karena terkejut. Aku hanya mengganggukan kepalaku sambil tersenyum malu. Aku masih belum siap untuk membeberkan hubunganku dengan Sehun yang sesunggunya jika kami sudah menikah. Cukup hanya Sulli, Taemin dan Kai saja yang mengetahuinya.

“Kau beruntung sekali memiliki pacar yang sangat tampan.” Luna tersenyum menggoda ke arahku.

“Ya, dia memang tampan. Tapi dia itu sangat menyebalkan jika kau tidak tahu.” Aku mengerucutkan bibirku sambil melihat keluar dimana Sehun berada.

“Meskipun ia menyebalkan tapi kau tetap saja menyukainya kan?” Tanya Luna kini sambil mencolek daguku. Aku hanya berdehem dan melepas tangannya. Ia malah tertawa melihat reaksiku.

“Yasudah aku duluan, cepat hampiri dia.” Luna berkata seperti itu sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia benar-benar senang menggodaku rupanya. Awas kau nanti.

Saat aku menoleh ke belakang ternyata Taemin masih duduk di tempatnya. Apa ia mendengar pembicaraanku dan Luna? Entah kenapa aku jadi merasa malu.

“Ya! Kenapa kau masih disini?”

“Aku menunggumu.” Taemin menjawabnya sambil tersenyum. Aku hanya mengerutkan keningku. Untuk apa ia menungguku? Bukankah ia tahu jika aku akan pulang bersama Sehun?

“Kenapa menungguku? Aku akan pulang dengan Sehun.”

“Aku tahu itu. Tapi setidaknya kita bisa berjalan menuju tempat parkir bersama bukan?” Aku meremas jari tanganku gusar. Bagaimana ini? Sehun pasti akan bertambah marah jika Taemin bersamaku. Tapi tidak mungkin aku menolaknya, iya hanya ingin bersama ke tempat parkir. Dengan sedikit ragu aku menganggukan kepalaku dan tidak lupa senyumku. Taemin  tersenyum mendapat persetujuan dariku. Kenapa ia terlihat sangat senang? Ini bukan pertama kalinya kami seperti ini. Haruskah ia sesenang itu?

Sehun POV

Aku masih menunggu Jiyeon di depan kelas. Kenapa ia lama sekali? Saat aku berbalik untuk ke kelas aku melihatnya sedang berjalan menghampiriku. Dan apa-apaan ini? Kenapa Taemin juga berjalan ke arahku?

“Sehun-ah, Taemin ingin pergi ke tempat parkir bersama. Tidak apakan?” Jiyeon bertanya dengan agak ragu dan sedikit takut. Aku menatap Jiyeon dengan pandangan tidak suka, ia hanya menggigit bibirnya. Sudah tahu aku pasti akan marah kenapa ia tetap membiarkan Taemin pergi bersama meskipun hanya ke tempat parkir. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Taemin. Kulihat ia hanya memasang wajah bodohnya sambil tersenyum mengejek. Ia benar-benar menyebalkan. Aku ingin sekali memukul wajahnya itu. Tapi tidak mungkin aku lakukan dihadapan Jiyeon.

“Terserah.” Aku langsung membalikkan tubuhku dan mulai berjalan.

“Kajja Taemin-ah.” Kurasakan tangan Jiyeon menarik seragamku dan mensejajarkan langkah kakinya denganku. Taemin juga ikut-ikutan mensejajarkan langkahnya dengan Jiyeon. Alhasil kami bertiga berjalan berdampingan dengan Jiyeon berada diantara aku dan Taemin.

“Ah, kemana Sulli? Kenapa ia tidak menunggu kita di depan kelas?” Dan aku tahu pertanyaan itu pasti ditujukan untuk Taemin.

“Dia pulang bersama Kai, katanya mereka mendapat tugas kelompok dan akan mengerjakannya hari ini. Tadi dia mengirimiku pesan.”

“Kenapa ia hanya bilang padamu, huh? Menyebalkan sekali kau Sulli.” Kulihat Jiyeon menunjukkan raut wajahnya yang kesal. Lucu sekali dia jika sedang seperti ini.

“Sudalah, mungkin ia lupa. Jangan cemberut kau terlihat jelek tahu.” Taemin tertawa sambil mengusap kepala Jiyeon. Ya! Berani sekali dia menyentuh Jiyeon di depan ‘suaminya’. Jiyeon malah membalas Taemin dengan memukul lengannya. Dan itu terlihat sangat manis menurutku. Bisa-bisanya ia bersikap seperti itu pada pria lain bahkan dihadapan ‘suaminya’ sendiri. Bahkan kini mereka tertawa bersama. Kenapa malah aku yang merasa sebagai pengganggu diantara mereka? Aku mempercepat langkahku dan meninggalkan mereka berdua.

“Sehun-ah, tunggu aku.” Suara Jiyeon masih terdengar jelas di telingaku. Tapi aku mengabaikannya dan tetap berjalan dengan cepat. Bermesraanlah sesuka hati kalian.

“Sehun-ah, kau marah padaku?” Jiyeon bertanya sambil menatap ke arahku yang sedang mengemudi. Ya, saat ini kami sedang berada di dalam mobilku.

“Menurutmu?” Aku hanya menjawabnya dengan singkat dan dingin. Tentu saja aku marah, kenapa masih menanyakannya?

“Pasti saat ini kau sedang marah. Maafkan aku, kami sudah bersahabat cukup lama jadi tidak mungkin aku menjauhinya. Dia hanya sebatas sahabat Sehun-ah, tidak lebih.” Ya, aku yakin kau memang tidak memiliki perasaan lebih pada Taemin. Namun Taeminlah yang memiliki perasaan lebih padamu Jiyeon-ah, rutukku. Dan melihat bagaimana sikapnya tadi aku takut kau malah akan menyukainya. Aku ingat betul apa yang diucapkan Taemin malam itu. Ia berkata ingin merebutmu dariku, meskipun itu tidak mungkin tetap saja aku merasa takut.

“Sehun-ah, kau dengar tidak? Kumohon maafkan aku.” Jiyeon mengatakannya dengan nada memohon sambil mengeluarkan aegyo-nya. Jangan berpikir bahwa aku akan luluh begitu saja. Aku mematikan mesin mobilku dan menjulurkan lidahku padanya. Kami sudah tiba di rumah, aku langsung keluar dan meninggalkannya di mobil.

“Aish, menyebalkan.” Masih terdengar geraman Jiyeon di telingaku meskipun agak samar.

Aku berjalan ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Saat Eomma akan memarahiku aku bergegas naik ke kamarku. Pasti Eomma kesal dengan tingkahku yang menurutnya tidak sopan, tapi aku tidak peduli. Setibanya di kamar aku langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku ingin segera mengguyur kepalaku dengan air dingin agar menyegarkan pikiranku.

Author POV

“Aku pulang.” Jiyeon masuk ke dalam rumah dengan lesu. ‘Sehun benar-benar seperti anak kecil’ pikirnya.

“Jiyeon-ah, ada apa dengan Sehun? Apa kalian bertengkar?” Ibu Sehun mengajak Jiyeon untuk duduk lebih dulu di ruang tamu.

“Emm, hanya sedikit salah paham Eommonim.” Jiyeon menjawabnya dengan agak ragu.

“Ah, aku mengerti. Selesaikanlah masalah kalian berdua, aku tidak akan ikut campur. Tapi jika kau membutuhkan bantuan bilang saja.” Ibu Sehun mengatakannya seraya mengelus kepala Jiyeon dengan lembut sambil tersenyum. Jiyeon ikut tersenyum melihatnya. Meskipun ia tidak menjelaskan masalahnya dengan Sehun secara gamblang, namun perasaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Terima kasih Eommonim, aku pasti akan mengatakannya jika membutuhkan bantuanmu.”

“Sudahlah tidak usah seformal itu, sekarang kau sudah menjadi putriku sudah sewajarnya bukan jika aku membantumu?” Jiyeon hanya mengangguk menganggapi perkataan Ibu mertuanya itu.

“Kalau begitu cepat bersihkan tubuhmu, aku akan memanggilmu jika makan malam sudah siap.”

“Baiklah aku ke atas dulu, Eommonim.” Jiyeon beranjak dari duduknya dan membungkukan kepalanya. Setelah itu ia berjalan secara perlahan saat menaiki tangga. Ia terdiam sejenak setelah tiba di depan pintu kamarnya dan Sehun.

Jiyeon membukanya dengan sedikit ragu. Saat pintu terbuka sepenuhnya ia tidak menemukan Sehun disana. Kamana dia? Jiyeon menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Samar-samar ia mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Dan pasti Sehun sedang berada disana. Jiyeon menunggu Sehun yang sedang mandi untuk meminta maaf—lagi padanya. Padahal ia sudah menjelaskan pada Sehun bahwa hubungannya dengan Taemin hanyalah sebatas sahabat. Tapi sepertinya Sehun belum mempercayainya. Tidak disangka ternyata Sehun sangat pencemburu.

CKLEK

Sehun muncul dari balik pintu hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Melihat Sehun dalam keadaan seperti itu membuat pikirannya melayang saat ia dengan beraninya menerobos ke kamar mandi. Jiyeon tidak tahu ia bisa berbuat senekat dan sebodoh itu. Ia langsung menundukkan kepalanya. Berharap Sehun tidak melihat rona merah pada kedua pipinya. Tapi terlambat. Sehun sudah melihatnya lebih dulu sebelum Jiyeon menundukkan kepalanya. Sehun ingin sekali menggoda Jiyeon, namun ia teringat jika saat ini ia sedang merajuk padanya. Akhirnya Sehun mengubur niatnya untuk menggoda Jiyeon yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang mereka.

Pikiran kotor malah masuk menghampiri Sehun. Ia ingin sekali mendorong Jiyeon dari duduknya kemudian mengekangnya di bawah kuasa tubuhnya. Sehun menggelengkan kepalanya dengan kuat. Mengusir pikiran-pikiran kotor yang sedang mengelilingi kepalanya. Bisa-bisanya disaat seperti ini ia membayangkan hal itu.

“Sehun-ah.” Jiyeon berdiri dan melangkah menghampiri Sehun secara perlahan bermaksud untuk meminta maaf.

“Lebih baik kau cepat mandi, sebentar lagi pasti Eomma akan menyuruh kita untuk makan malam.” Sehun berjalan ke arah lemari pakaian setelah mengatakan hal itu.

Ia takut tidak bisa mengontrol diri saat Jiyeon berada didekatnya.  Tapi Jiyeon mengartikan lain sikap Sehun tadi. Ia mengira bahwa Sehun masih marah padanya dan belum memaafkannya. Jiyeon lebih mengikuti perintah Sehun agar segera mandi. Saat Jiyeon masuk kamar mandi Sehun menghembuskan napasnya panjang. Ia menyeka peluh yang entah sejak kapan muncul di sekitar dahinya. Sepertinya efek dari pikiran kotornya tadi cukup besar hingga membuatnya berkeringat. Sehun bergegas memakai pakaiannya dan berjalan keluar. Ia tidak ingin melihat Jiyeon yang habis selesai mandi. Bisa-bisa fantasi liarnya semakin menjadi.

Selang beberapa menit Jiyeon keluar dari dalam kamar mandi. Ia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Ia mengedarkan pandangannya dan tak mendapatkan Sehun dimanapun. Apa ia sudah keluar lebih dulu? Jiyeon melangkah dengan malas menuju lemari pakaiannya. Ia segera memakai pakaiannya setelah memilih yang akan nyaman dikenakannya. Setelah selesai berpakaian Jiyeon keluar untuk menuju meja makan karena sebentar lagi waktunya makan malam.

Jiyeon melangkah perlahan menuruni tangga. Dan benar saja, sesampainya ia di meja makan Sehun sudah bertengger di salah satu kursi yang ada disana. Jiyeon melangkah menghampirinya dan menarik kursi tepat di samping Sehun. Suara decitan kursi yang beradu dengan lantai membuat Sehun agak terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang melakukannya. Dan ia mendapati Jiyeon yang ingin menduduki kursi di sampingnya itu. Sehun mengalihkan kembali pandangannya ke depan dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, menunggu makanan siap dihidangkan.

“Tumben sekali kalian sudah berada disini.” Ibu Sehun mengambil kursi yang ada di hadapan mereka berdua diikuti pula oleh Ayah Sehun. Ya, semua pekerjaan rumah bahkan memasak dikerjakan oleh para pelayan. Jadi jangan heran jika Ibu Sehun pun baru tiba disana.

“Aku sudah sangat lapar,” ujar Sehun. Jiyeon mengangguk menyetujui pernyataan Sehun. Meski itu bukanlah alasan utamanya datang lebih dulu sebelum dipanggil.

“Dasar anak ini tidak sopan sekali.” Ayah Sehun hanya menggelengkan kepalanya melihat perilaku putranya itu. Ia pikir Sehun sudah berubah, nyatanya masih kekanakan seperti dulu.

Mereka langsung menyantap hidangan yang ada dihadapan mereka yang telah disajikan oleh para pelayan. Acara makan malam berjalan dengan suasana hening. Mereka terlalu fokus pada makanan dihadapan mereka, seolah makanan itu akan hilang jika mereka mengalihkan pandangannya.

“Ah, perutku kenyang sekali.” Ayah Sehun mengelus perutnya yang agak membesar setelah diisi makanan. Ibu Sehun hanya mendecakkan lidahnya melihat kelakuan suaminya itu.

“Segeralah ke atas, besok kalian akan sekolah bukan?” Sehun dan Jiyeon pun menuruti perkataan Ibu Sehun dan mulai berjalan meninggalkan meja makan tanpa mengatakan apapun.

Sehun berjalan di depan Jiyeon, sementara wanita itu hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Setibanya mereka di kamar, Sehun langsung merebahkan tubuhnya di salah satu sisi ranjang. Jiyeon mengikuti apa yang dilakukan oleh Sehun.

“Sehun-ah, kau masih marah padaku karena kejadian tadi? Aku benar-benar minta maaf.” Jiyeon menunggu jawaban dari Sehun. Namun pria itu tidak kunjung mengeluarkan suaranya. Jiyeon menoleh ke arah Sehun dan mendapati pria itu sudah memejamkan matanya. Tapi Jiyeon tahu jika Sehun belum benar-benar tertidur. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Sehun lalu memeluknya. Perlakuan Jiyeon sontak membuat Sehun sedikit terkejut. Wanita ini selalu melakukan hal-hal yang tidak pernah diduganya sama sekali.

“Sehun-ah, ayo jawab pertanyaanku. Aku tahu kau belum tidur,” ucap Jiyeon sambil mengguncang tubuh Sehun perlahan. Tapi tidak ada pergerakan sama sekali dari pria itu.

CUP

Jiyeon memberanikan dirinya mencium bibir Sehun. Ia hanya menempelkannya beberapa detik saja.

“Maafkan aku.” Sehun spontan membuka matanya dan ia melihat Jiyeon hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Sehun menarik tengkuk Jiyeon dan menciumnya. Ia melumat bibir Jiyeon dengan lembut namun penuh dengan penekanan. Jiyeon hanya bisa melenguh pelan saat Sehun menciumnya dengan sangat intens. Apalagi mereka berciuman dalam keadaan berbaring. Jiyeon mendorong dada Sehun perlahan dan melepas ciuman mereka. Ia merasa bahwa posisi mereka saat ini sangat berbahaya. Ia tidak ingin ciuman ini berlanjut ke tahap yang lebih intim.

“Aku juga minta maaf jika sikapku terlalu kekanakan. Meskipun kalian sahabat tapi masih ada batasannya, ingat itu.”

“Jadi, kau sudah memaafkanmu?”

“Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.” Jiyeon menyernyit heran, kenapa harus memakai syarat. Sepertinya Sehun ingin mengambil kesempatan disaat seperti ini. Jiyeon menunggu syarat yang akan diajukan oleh Sehun. Tapi tiba-tiba saja Sehun mendorong bahunya cukup kuat hingga tubuhnya terbaring dengan sempurna di atas ranjang. Sehun lalu menindih tubuhnya.

“Mau apa kau?” wajah Jiyeon terlihat mulai panik sepertinya ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Sehun.

“Kau pasti tahu apa yang akan kulakukan.” Sehun menatap Jiyeon dengan jahil disertai seringaian di bibirnya.

“Ya! Jangan gila kau Oh Sehun, kau lupa jika ada orang tuamu? Bagaimana jika mereka tahu jika kau sudah pernah menyen, emmpphhh…” Ucapan Jiyeon tersendat karena bibirnya dibekap oleh Sehun menggunakan bibirnya. Dan pasti kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi diantara mereka.

***

Pagi pun datang. Sehun dan Jiyeon sudah tiba di sekolah mereka. Saat ini mereka berdua sedang berjalan bersama di koridor. Wajah Jiyeon tampak kelelahan, berbeda sekali dengan Sehun. Wajah pria itu terlihat lebih segar, padahal kemarin ia terus-terusan menekuk wajahnya sepanjang hari. Ini semua berkat ‘kegiatan’ mereka berdua semalam. Jiyeon langsung mendudukkan dirinya di kursi begitu sampai di kelas. Taemin sudah duduk di tempatnya, ia menunjukkan senyumnya ke arah Jiyeon. Tapi sepertinya Jiyeon tidak melihatnya dan langsung meletakkan kepalanya di atas meja begitu ia menduduki kursinya. Sehun yang melihat kejadian itu tersenyum senang dalam hati.

Kelas mulai dipenuhi para siswa yang sudah berdatangan. Dan tiba-tiba muncul sosok Han Soyi disana. Jiyeon bahkan menegakkan tubuhnya berusaha memastikan bahwa benar gadis yang baru datang itu adalah Han Soyi. Jiyeon menolehkan kepalanya ke arah Sehun yang juga sedang menatap ke arah gadis itu. Sehun menatap Jiyeon lalu mengangguk. Dan berarti benar, ia Han Soyi. Rasa takut perlahan mulai menghampiri Jiyeon. Kejadian saat di gudang kembali melintas dipikirannya, meskipun itu terjadi sejak beberapa minggu yang lalu. Soyi tidak pernah lagi datang padanya untuk sekedar memberi sebuah ancaman atau bahkan menyiksanya. Tak lama bel masuk pun berbunyi.

Jiyeon merasa hari ini berjalan begitu lambat. Berulang kali ia melihat jam namun seakan mengejeknya, jam itu malah bergerak dengan sangat lambat. Berkali-kali Jiyeon menahan kantuk bahkan mulutnya selalu menguap sejak tadi. ‘Ini semua gara-gara Sehun, aku jagi begadang dibuatnya’ rutuk Jiyeon.

Bel istirahat akhirnya berbunyi. Jiyeon senang bukan main saat mendengarnya. Jiyeon yang entah mengapa merasa sangat lapar langsung berlari keluar setelah merapikan mejanya lebih dulu. Disana sudah ada Sulli yang sedang berdiri di depan kelasnya. Jiyeon langsung menarik tangan Sulli dan menggiringnya ke kantin.

“Ya! Kita harus menunggu Taemin lebih dulu.” Sulli menahan tangan Jiyeon agar ia berhenti berjalan.

“Ia bisa menyusul kita nanti. Ayolah Sulli-ah, perutku sudah sangat lapar aku tidak tahan.” Jiyeon mennjukkan wajahnya yang paling melas kepada Sulli. Karena tidak tega melihat sahabatnya yang sedang sangat kelaparan akhirnya Sulli menyetujui untuk pergi lebih dulu dan meninggalkan Taemin. Ia bisa menyusul mereka nanti.

“Baiklah.”

“Terima kasih Sulli-ah, ayo cepat.” Lagi-lagi Jiyeon menarik tangan Sulli. Sulli hanya pasrah saja diseret oleh Jiyeon.

Jiyeon memakan makanannya dengan sangat lahap. Ia seperti tidak makan dari kemarin saja. Dasar perut karet, pikir Sulli. Ia menatap takjub sekaligus jijik karena Jiyeon mampu menampung seluruh makanan yang ada di meja ke dalam perutnya. Sehun, Taemin dan Kai langsung menghampiri mereka berdua.

“Kenapa meninggalkanku?” Tanya Taemin sambil mendudukkan dirinya di kursi.

“Maaf, ini semua karena dia. Ia mengeluh sangat lapar padaku, aku jadi tidak tega padanya dan akhirnya meninggalkanmu.” Sulli menunjuk-nunjuk Jiyeon yang sedang sibuk mengunyah makanannya.

“Yasudah tidak apa-apa.”

“Sehun-ah, bisa kita bicara sebentar?” Suara Han Soyi tiba-tiba menyeruak diantara mereka. Semua langsung menatap ke arah Sehun dan Soyi secara serempak. Sehun nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui ajakan Soyi. Jiyeon hanya mendelik sebal dan bergumam denga suara yang teramat pelan hingga tidak ada yang bisa mendengarnya.

Soyi mengajak Sehun ke tempat yang tidak terlalu ramai.

“Ada apa?” Sehun langsung bertanya pada intinya.

“Emm, sebenarnya bukan hal yang terlalu penting. Bagaimana hubunganmu dan Jiyeon?” Ekspresi bingung terlihat sangat jelas di wajah Sehun. Ia hanya ingin menanyakan hubungannya dengan Jiyeon? Kenapa harus ke tempat sepi seperti ini?

“Sangat baik. Untuk apa kau menanyakannya?”

“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat menyukaimu.” Soyi dan Sehun sama-sama terdiam setelahnya.

“Kau tahu aku sudah menikah, dan aku juga mencintai Jiyeon.” Sehun berbicara setelah beberapa menit mereka terdiam.

“Ya, aku tahu. Aku tidak mengharapkan balasan darimu. Tapi kuharap kita bisa menjadi teman.” Soyi tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

“Baiklah, mari kita berteman. Dan aku juga ingin mengucapkan terima kasih.” Kini Soyi yang merasa heran. Terima kasih? Untuk apa?

“Kenapa kau berterima kasih padaku?”

“Terima kasih karena tidak mengganggu Jiyeon lagi.” Sehun tersenyum saat mengatakannya. Ah, jadi karena itu. Soyi hanya tersenyum kecut mendengarnya.

“Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan aku pergi.” Soyi mengangguk lemah. Sehun berjalan meninggalkannya dan kembali menuju kantin. Sepertinya gadis itu mulai berubah.

Sesampainya di kantin Sehun langsung memakan makanan yang sudah dipesankan oleh Kai. Ia tahu Jiyeon sedang menatapnya saat ini. Namun ia berpura-pura tidak menyadarinya dan terus makan. Jiyeon pasti ingin bertanya tentang Soyi. Lebih baik Sehun menjelaskannya nanti, saat mereka hanya sedang berdua.

Bel masuk pun berbunyi. Meraka semua sudah berada di kelas dan sedang mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru. Para siswa tampak tidak fokus mendengar karena jika saat jam-jam seperti ini rasa kantuk sedang melanda mereka. Semua sedang berusaha melawan rasa kantuk yang makin hebat menyerang mereka. Tidak terkecuali Jiyeon. Bahkan matanya sempat terpejam beberapa kali. Ia hanya bisa berdoa supaya pelajaran ini segera berakhir dengan cepat.

Mendegar bunyi bel pulang yang sudah bedering malah membuat para siswa menjadi bersemangat. Dan rasa kantuk pun hilang begitu saja entah kemana. Aneh sekali. Sehun langsung menarik tangan Jiyeon begitu ia selesai merapikan alat tulisnya. Sehun tidak ingin Taemin berjalan bersamanya ke tempat parkir seperti kemarin. Jiyeon hanya menurut saja, bisa-bisa Sehun akan marah lagi padanya jika ia menolak.

“Ah, tunggu sebentar aku meninggalkan sesuatu di kelas.” Sehun segera membalikkan tubuhnya untuk menuju kelas ketika mereka akan memasuki area aprkir. Sepertinya ia meninggalkan buku latihannya.

“Ck, dasar.” Jiyeon mendecak karena kelakuan Sehun.

“Jiyeon-ah.” Taemin tiba-tiba muncul dan menepuk pundak Jiyeon. Sontak itu membuatnya terkejut dan tidak melihat kerikil yang ada di depannya.

Jiyeon menutup matanya erat-erat bersiap untuk mendapat rasa sakit saat jatuh nanti. Namun tangan Taemin bergerak lebih gesit dan menopang tubuh Jiyeon yang akan terjatuh. Jiyeon tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Ia malah merasakan hembusan napas seseorang mengenai wajahnya. Perlahan ia membuka matanya. Dan yang ia dapatkan adalah wajah Taemin yang berjarak terlalu dekat dengan wajahnya. Jiyeon berusaha berdiri dan dibantu oleh Taemin. Posisi tadi akan menimbulkan kesalah pahaman jika ada yang melihatnya—terutama Sehun. Mereka baru berbaikan, Jiyeon tidak ingin membuatnya marah lagi.

“Kau tidak apa-apakan?” Taemin sepertinya terlihat khawatir. Ia memegang kedua bahu Jiyeon dan melihatnya kesana-kemari.

“Aku tidak apa-apa, tidak usah berlebihan Taemin-ah.” Jiyeon sepertinya baru sadar akan sikap Taemin yang menjadi lebih perhatian dari biasanya.

“Kenapa? Tidak ada salahnya kan jika aku mengkhawatirkanmu?” Taemin mengontrol dirinya untuk bersikap biasa saja.

“Bukan seperti itu maksudku, sebaiknya jangan bersikap seperti itu padaku. Terutama bila dihadapan Sehun, aku tidak ingin ia salah paham dengan kita. Kita ini kan sahabat.” Jiyeon menatap Taemin dengan tatapan polos tanpa merasa berdosa.

Lagi. Taemin merasakan lagi sakit di hatinya saat Jiyeon memintanya berhenti memberikan perhatian padanya. Bagaimana ia bisa bersikap acuh pada orang yang disukainya itu? Tapi itu belum seberapa. Ia lebih sakit saat Jiyeon mengatakan bahwa mereka hanyalah seorang sahabat. Ya, hanya sebatas sahabat. Kata-kata itu agaknya menampar Taemin. Ia sepertinya sudah melewati batas sikap seorang sahabat pada sahabatnya. Taemin terdiam cukup lama. Ia berusaha menetralkan perasaannya meskipun itu sangatlah sulit.

“Kenapa? Bukankah kita selalu seperti itu? Wajar saja bukan jika aku saat ini mengkhawatirkan orang yang aku sukai?” Taemin menatap Jiyeon dengan sendu.

“A apa?”

“Aku menyukaimu, Jiyeon-ah.”

_My Marriage Is_

TBC

*Hallo, maaf ya updatenya lama. Akhir-akhir ini aku disibukkan

dengan banyak tugas, maklumlah jadwalku ga sama kaya anak sekolah.

Dan ini adalah road to Final, yey… yang artinya FF ini akan segera

tamat. Tapi tenang aku udah nyiapin FF baru sebagai penggantinya hehe

Kritik dan saran ditunggu,

jangan lupa Komentarnya ^^~

221 thoughts on “[8th Scene] My Marriage Is…

  1. thor ini sebernernya udah chapter terakhir belom sih thor? kok udah ada epilog nya ya? ada part 9 nya nggak? o iya thor aku udah kirim email, cepat dibales ya thor gomawo.. semangat

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s